Kontrak Lagi

Saat pindah ke suatu tempat baru, pasti kita disibukkan dengan acara mencari rumah tempat tinggal. Nah, ada empat hal yang paling berkesan untukku saat mencari rumah kontrakan di salah satu kota di Sulawesi Selatan ini, beberapa bulan yang lalu.

Rumah Pertama

Rumah ini terletak di tengah kota. Berdempetan dengan rumah warga lainnya. Kami mendapatkan info tentang rumah ini dari seorang kenalan. Saat kami datangi, rumah ini sangat terbengkalai. Maklum, rumah ini tengah direnovasi. Jujur saja, aku tak melihat keindahan rumah ini. Bahkan membayangkannya dalam keadaan bersih dan rapi layak huni pun sangat sulit.

Sang pemilik rumah menjanjikan dalam 2 minggu rumah ini akan selesai renovasi. Aku menyangsikan rumah itu akan selesai dalam kurun waktu itu. Kami nggak mau dong terlalu gegabah gambling dengan menyerahkan uang muka begitu saja meskipun sang pemilik rumah meyakinkan kami bahwa rumah tersebut akan segera diselesaikan tepat waktu…

Sekian bulan berlalu, sekitar 2 minggu lalu kami lewat depan rumah itu. Aku dan suami tak bisa berkata banyak. Rumah itu masih berantakan. Renovasi tampaknya terhenti. Kami tak tahu sebabnya.

****

Rumah Kedua

Secara kebetulan, aku  iseng masuk ke sebuah butik. Lalu ngobrol ngalor ngidul dengan pemilik butik. Hmmm… kenalan pertama-ku di kota ini.

Senang rasanya mendapat teman baru. Sambil lalu, aku menanyakan barangkali ada info mengenai rumah yang akan dikontrakkan.

Kebetulan! Sangat kebetulan! Pemilik butik ini, tengah berusaha mengontrakkan rumahnya. Kami bertukar nomor HP.

Hari Minggu, kami menjemput Bu Op*nk untuk melihat rumahnya.

Rumah itu mungil, bersih dan terawat. Aku suka pada rumah ini. Singkatnya, setelah tawar menawar, kesepakatan pun jadi. Harga OK, syarat OK. Tinggal kami membayar uang muka tanda sepakat. Leganya hatiku. Tak henti-hentinya aku bersyukur. Betapa mudahnya Tuhan memberi kami jalan.

Tak lupa kukabari orang-orang di rumah, papa mama, dan ibu mertua bahwa kami telah mendapat kontrakan yang cocok. Mereka pun lega, mengetahui bahwa kami takkan terkatung-katung di rantau.

Sesuai kesepakatan, pada tanggal yang telah kami tentukan bersama, aku dan suami harus membayar 30% dari harga sewa selama setahun.

Sehari sebelum hari H, Bu Op*nk menelponku.

“Aduh, Bu Nana, saya minta maaf, saya tidak jadi mengontrakkan rumah saya…”.

“….????….”

Jelas dong aku kaget. Agak marah. Betapa alotnya menawar rumah tersebut. Kesepakatan pun telah disetujui. Ini kok mendadak banget sih membatalkannya? Jatah kami tinggal di hotel tinggal beberapa hari…doohhh puyeng deehhh…

“Kalau boleh, tau, kenapa Bu?”, tanyaku.

Eee…begini, Bu Nana, saya baru tau tadi pagi kalau saya hamil. Menurut orang tua, tak boleh ibu hamil pindah rumah…”.

Aku tak jadi marah.

“Oh ya sudah, Bu Op*nk, saya bisa ngerti kok. Selamat ya Bu?”.

“Saya benar-benar minta maaf, Bu Nana..nanti coba saya cari info dari teman-teman saya…”.

“OK. Terima kasih ya Bu Op*nk”.

****

Rumah Ketiga

Iseng aku bertanya pada petugas hotel tempat kami menginap tentang rumah kontrakan. Sekali lagi, aku bersyukur. Mudahnya kali ini mencari rumah. Semoga kali ini benar-benar cocok.

Suatu hari, kami diantar mendatangi rumah itu. Rumah yang manis, minimalis modern. Taman kecil di depannya pun tampak memikat. Rumah ini terletak di komplek baru, dengan para tetangga  yang tampaknya cukup ramah.

Aku menyukai rumah ini. Cukup untuk bisa kuurus sendiri tanpa asisten rumah tangga.

Komplek ini, terletak dekat pantai. Keluar dari komplek, menoleh ke kiri, hamparan pantai indah terbentang. Jarak pantai dari komplek ini, bahkan kurang dari 100meter. Aku terpesona. Tak ada penghalang apapun dari komplek ke pantai yang tenang itu… Indaaah….

Duluuu….aku pernah bermimpi tinggal di tepi pantai. Sekarangkah mimpi itu terwujud?

Sayang seribu sayang, setelah kami pertimbangkan lagi, jarak rumah ini ke kantor suamiku relatif jauh. Hampir setengah jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Pulang-pergi hampir 1 jam. Kami menginginkan rumah yang dekat dengan kantor, agar suamiku mudah pulang makan siang di rumah.

OK, jadikan rumah ini pilihan kedua. Padahal pilihan pertama belum ada!

****

Rumah Keempat

Info mengenai rumah ini kami dapat dari rekan kantor suamiku. Terletak di perumahan yang rapi dan nyaman. Rumah-rumah mungil itu berderet rapi sekali.

Pada hari yang telah disepakati bersama pemilik rumah, kami pun segera mendatangi rumah tujuan.

Sayang, pemilik rumah belum datang. Kebetulan beliau tinggal di rumahnya yang lain agak jauh di pinggir kota.

Seorang tetangga persis di sebelah kanan rumah yang akan dikontrakkan itu, -Bu Haji yang baik hati- mengajak kami masuk ke rumahnya. Mungkin dia kasihan melihat kami kepanasan.

Kami pun masuk ke rumahnya. Kami menunggu, sambil mengobrol dan minum. Mataku jelalatan melihat rumah ini. Aku suka…..terbayang sudah, aku akan tinggal di rumah sebelah. Aku sibuk mengira-ngira menata isi rumah.

Dari ibu Haji ini, kami mendapat info bahwa rumah sebelah itu disewakan karena penghuninya tak mau lagi tinggal disitu dan lebih memilih tinggal bersama orang tuanya. Rumah itu kosong selama sebulan. Tapi si pemilik rumah setiap minggu datang membersihkan rumah. Bahkan, baru seminggu yang lalu, usai diadakan arisan di situ.

Dari Bu Haji itu pula, kami tahu rumah itu baru akan mulai disewakan per tanggal 5 Mei 2009 karena sang pemilik menggunakan hitungan hari baik.

Sebenarnya itu kelamaan karena jatah hotel kami berakhir 23 April. Mau nunggu 5 Mei berarti kami harus tinggal hampir 2 minggu lagi di hotel dengan biaya sendiri. waaaah……

Ternyata, pemilik rumah tengah mendapat tamu penting dan tak bisa menemui kami. Dia menjanjikan bisa bertemu di rumah kontrakan itu, selepas Isya.

Bagda Isya, kami pun kesana. Kami bertemu bapak pemilik rumah. Kami dipersilakan masuk dan melihat-lihat isi rumah. Aku terkesan pada kerapian dan kebersihan rumah ini. Hmmm….boleh nih jadi pilihan pertama, pikirku.

Nyonya rumah tampaknya menyukai perabotan minimalis, simpel dan bermutu.

Cucu Bu Haji yang tadi siang kudatangi, ikut kluyuran keluar masuk rumah itu. Bludhusan, sambil tertawa-tawa menirukan hantu-hantu di TV,

“ihihih….ihihihih…ihihihhh….”. Gigi ompong bocah 5 tahun itu menyeringai iseng, melirik-lirik padaku.

Tampaknya anak ini mencari perhatian. Aku tak menggubris anak itu. Kembali aku mengagumi seisi rumah itu. Hanya kamar depan saja yang agak berantakan. Ada seonggok kasur yang agak kumal di lantai. Aku tak sempat memperhatikan lagi. Malas melihatnya.

Puas melihat-lihat rumah, kami pun duduk mengobrol dengan pemilik rumah. Dia bercerita, bahwa rumah itu disewakan seisinya, bahkan sekalian dengan semua perlengkapan dapur dan alat-alat makanpun boleh dipakai. SEMUA. Lengkap kap kap! Jujur, aku heran. Belum pernah ada yang begini.

Lalu, mengalirlah cerita dari mulut pak pemilik rumah. Kami harus menajamkan telinga karena agak susah mengerti sepenuhnya bahasa campuran Bugis dengan dialek yang asing bagi telingaku itu.

“……iya, jadi anak saya tidak mau lagi tinggal di sini…eee….anak saya menikah sekian bulan to, eee…istrinya hamil………….

……….sudah sembilan bulan itu…….baru ketahuan ……

menantu saya itu ada kelainan ginjal…..

……dokter bilang harus dirawat to?……

…..pendarahan…………..ke rumah sakit….

…… harus caesar secepatnya….

………belum sempat caesar, …..menantu saya meninggal…..

cepat-cepat………

sempat di caesar juga,     hmmm….bayinya selamat…..laki-laki….

…………….kami yang merawatnya….”.

Cukup!! Aku ingin menjerit menghentikan cerita memilukan itu. Aku tak mengerti sepenuhnya, tapi aku paham garis besarnya. Sang suami tak sanggup lagi tinggal di rumah itu dengan kenangan pedih akan istrinya.

Aku begitu kaget mendengar cerita bapak itu. Aku jadi berdebar-debar tak karuan.

Bapak itu masih terus berkisah.

”Jadi, kalau mau sewa ini rumah, bisa masuk tanggal 9 Mei…..saya bersihkan,  pasti…

………

………

….baru seminggu lalu peringatan empatpuluh harinya……”.

DHUG!

Ciut nyaliku. No…no…no…!! aku mending cari rumah lain!

Aku yang  akan menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah sendirian.Belum lagi kalau suamiku harus keluar kota berhari-hari…

Gimana kalau nyonya rumah niliki aku, hayoo?? Ciluk baa!

Ogahhhh……….

Kami berpamitan (secepat mungkin). Pamitan pula pada Bu Haji.

Hmmmm….pantesan Bu Haji tak cerita macem-macem. Pantesan pakai itungan hari baik…pantesan si ompong itu iseng terkikik-kikik nakal….whuuaaaa…….

Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami banyak berdiam. Pilu. Sedih. Ikut pula remuk redam. Rasanya aku bisa merasakan duka sang suami itu.

Kami tak pernah kembali ke rumah itu.

Info terakhir yang kami dapat, rumah itu belum laku dikontrakkan.

****

Rumah kesekian, rumah terakhir.

Entah ini rumah keberapa yang kami survey. Lumayan mudah juga, dan tak jauh-jauh dari unsur kebetulan. Singkatnya, kami merasa cocok pada rumah ini, dan disinilah sekarang kami tinggal. Tak terlalu besar. Lingkungan sekitar juga lumayan lah.  Sejauh ini, aku nyaman dan kerasan di rumah ini…sampai kapan kami akan tinggal di rumah ini, tak ada yang tahu….

P1110400

komplek kecil, hanya ada 12 rumah....

 

P1110401

di rumah ini kami tinggal, entah sampai kapan...

 

Hanya sekedar pertanyaan iseng, kalau Anda, mau tinggal di rumah keempat itu? Hhmm??

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

42 Responses to Kontrak Lagi

  1. ikkyu_san says:

    ihihihi….
    tapi Nana sendiri ngga ngerasa apa-apa kan waktu masuk?
    Hmmm kalau tidak kepepet aku juga ngga mau tinggal di rumah ke 4.

    Emangnya ada yang kebudayaan ngga boleh pindah rumah waktu hamil? Bisa dimengerti sih karena memang berat untuk pindahan sehingga lebih baik jangan. Tapi kalau di Jepang banyak perusahaan moving sehingga bisa minta mereka semua yang urus. Jadi cukup banyak orang pindahan waktu hamil. Tetangga sebelahku dia baru pindah waktu sedang hamil anak kembar.

    Ngomong^ngomong aku udah tinggal 10 tahun loh di apartemen ini. Pengen pindahhhhhh….

    EM

    • nanaharmanto says:

      Memang ada Mbak kepercayaan seperti ini di beberapa daerah. Di masyarakat Tionghoa ada yang percaya, kalau pindahan rumah pasti membereskan pisau dan alat dapur. konon, ibu hamil nggak boleh beres2 dapur utk pindahan. Di Jawa aku juga pernah dengar. nah di sini ternyata ada juga. Tapi kalau pakai logika memang dikawatirkan ibu hamil akan kecapekan..

      Aku waktu pindahan juga pakai jasa perusahaan moving. jadi mereka yang packing dan unpacking di tempat tujuan..

  2. nh18 says:

    Di Rumah ke Empat ?
    Mmmmmmm … mmmm … gimana yah …

    Kalo ada yang lain saya akan pilih yang lain …
    hehehe

    kenapa ???
    Soalnya saya kan mau pake perabot sendiri … (sebuah alasan yang dicari-cari …)

  3. nh18 says:

    BTW …
    Perjuangan mencari rumah kontrakan memang sulit ya Na …
    Aku jadi ingat waktu pertama kali menikah dulu … dan mesti mencari rumah di Surabaya
    Ya persis seperti itu …
    Dari mulit ke mulut …
    juga dari koran …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Hehehe…persis Om, alasan mau pakai perabot sendiri itu yang kami pakai untuk tidak memilih rumah keempat itu.

      Dan memang benar, mencari rumah kontrakan yang benar-benar sesuai keinginan kita memang sulit..
      Ada yang rumahnya bagus, akses transportasinya susah. yang lainnya, transport OK, rumahnya kegedean…Hmmm…yang jelas sih, mencari rumah kontrakan memang harus meluangkan waktu khusus supaya tidak menyesal dengan keputusan yang kita ambil… *hihi…curcol…

  4. hiiiii…hiiiiii….hiiiiii…..halo….aku datangggg….wk wk wk….pertanyaan iseng yang membuat kita berpikir dua tiga empat kali kan?

    • nanaharmanto says:

      Whaaa….Pak Kikis datang terkikik-kikik…
      Kujadikan pertanyaan iseng karena udah lama lewat.. kalau baru mau memutuskan, aku nggak akan tanya-tanya orang lain hehe…langsung aja kuputuskan: wes, pokok-e mboten mawon… :)

  5. AFDHAL says:

    rumah ke.4?? hmm pasti mbak nana sudah “tau” ada “Sesuatu” disitu kan hehehhehe
    kalo saya suruh kerumah ke.4..hmmmm MAKACIHHHHHH…

    ahhh jadi pengen mampir ke rumah ke sekian untuk makan siang :)

    • nanaharmanto says:

      ayoookkk..kapan ke rumah? kamu dari Makassar pagi, makan siang di rumahku, trus balik Makassar lagi…sampai sana udah laper lagi hihi…
      *usul yang anehhh….

  6. edratna says:

    Mencari rumah katanya seperti mencari suami….hehehe..susah2 gampang…

    Saat mencari rumah kontrakan di awal perkawinan kami, berapa puluh rumah didatangi, dan akhirnya saya memilih rumah mungil, dekat pasar, dekat terminal, namun jalannya agak masuk sehingga lumayan tenang. Ternyata di rumah ini ada perasaan seperti yang Nana ceritakan, belakangan baru tahu kalau dulu isteri pertama pemilik rumah meninggal di rumah itu. Untungnya ada adik suami yang ikut tinggal di rumah sehingga tak terlalu kawatir, apalagi setelah beberapa bulan ternyata aman2 aja.

    Kemudian saya pindah ke rumah dinas sampai 23 tahun 5 bulan, anak kedua lahir di rumah dinas, dan baru pindah ke rumah sendiri. Cari rumah sendiri ini juga sulit karena syara yang banyak: 1) dekat dengan pasar agar si mbak belanja mudah, 2) mudah cari kendaraan umum, maklum saya tak berani nyopir, 3) rumah mudah dicari karena tempat perhentian ponakan2 jika ke Jakarta. Karena uangnya pas2an, cari rumahnya sampai lebih dari 50 rumah baru cocok, walau akhirnya direnovasi semua.

    • nanaharmanto says:

      wah…perjuangan Bu Enny ini dalam mencari rumah hebat betul…saya ternyata kalah jauh hehehe…
      Lebih dari 50 rumah baru cocok ck..ck..ck…nggak bisa ngebayangin ssya…udah lemes duluan hehehe..

      Maaf, saya kok jadi usil pengen tau, kalau Ibu tahu bahwa nyonya rumah meninggal di situ waktu sedang survey, apa Ibu tetap memutuskan tinggal di situ ya?

  7. DV says:

    Bwakakakakakakkakakaka…
    Sewaktu muda dulu aku slalu berprinsip, mending berkelahi dengan preman ketimbang ditampaki hantu :)

    Aku paling takut kalau soal urusan2 hantu gitu mending pergi deh.
    Aku pernah punya pengalaman kayak kamu, Na tapi bedanya itu rumah ortuku sendiri..:) Waktu ortuku bangun rumah ngga diceritain soal cerita lalu tanah itu dan akhirnya ketika kami tinggali.. wah, kalau orang jawa bilang suasananya “panas”. Beberapa kali kami ditampaki juga sampai akhirnya kami memutuskan menjual rumah itu.

    Serem euy.. :)

    • nanaharmanto says:

      haaa? ditampaki hantu? kayak apa tuh?
      Kalau di Jawa, orang bangun rumah pasti pakai slametan kan? ada uba rampenya yang macem-macem itu, salah satunya supaya nggak berhantu. jangan-jangan syaratnya nggak lengkap hihi…

  8. aurora says:

    waduhh.. kacian kakakku ini… cari rumah begitu susahnya….

    namun yang jelas, kakak dah dapat tempat menetap yang pasti khan???

    aku tertarik tuh, sama rumah ke 4… aku suka misteri soalnya…

    • nanaharmanto says:

      hayyyaa…..Arif….kamu ke sini deh kalau pengen lihat rumah itu. tapi aku nggak imut masuk ya? hihihi…

  9. albertobroneo says:

    wah… seru yach cari rumah.. tp emang harus bener2 cocok, krn emang setiap hari akan disitu..

    • nanaharmanto says:

      seru…heboh…hihi…
      aku memang agak rewel soal rumah, kan aku lebih sering di rumah…so, rumah itu harus aman dan nyaman untukku…

  10. dyah suminar says:

    mbak…rumah itu pulung….
    artinya…walau kondisinya seperti itu… di pojok lagi…he.he..mungkin ini membawa hikmah yang lain bagi keluarga mbak Nana..
    nggak apa2 mbak…kalau bunda…Bismillah…niat baik,semua kan lebih baik…

    • nanaharmanto says:

      iya Bunda, sebenarnya kalau niat kita baik mungkin memang nggak akan terjadi apa-apa… tapi dasar saya yang ciut nyali duluan hihi…mending cari rumah lain deh …

  11. Riris E says:

    di rumah ke empat? Aku akan pikir beberapa kali untuk meninggalinya.

    btw, di rumah yang sekarang semua baik-baik saja to?

    • nanaharmanto says:

      Dalam nama Tuhan, semua aman terkendali mbak, hehe..
      Aku sih untuk rumah keempat itu nggak pakai mikir untuk kedua kalinya. langsung kuputuskan: mboten mawon lah…hehehe…

  12. Weeh mbak perjuanganmu!
    Tapi ya memang harus gitu, masalahnya kan mau ditinggali ya harus cocok bener tho?

    Eh si anak kecil itu yg ompong itu kabarnya skr gimana mbak? :P xixixiixixi
    (godain mbak Nana biar ngeri dikit :P huahhahaha)

    • nanaharmanto says:

      Bener, Ka… bagiku, mencari rumah itu selain pakai pertimbangan logis: lokasi, akses transport, keamanan, lingkungan bersih dan sehat,- juga harus pakai perasaan. kalau dari awal aku udah nggak nyaman disitu, mending aku cari yang lain…
      So far, aku sangat percaya pada perasaannku deh…

  13. septarius says:


    Rumah ke-4 padahal mbak Nana udah terpikat tuh dengan perabot minimalisnya hehe..
    Kalo saya mah gak masalah kalo yg pernah meninggal disitu cuman 1 orang..
    Lah saya dulu waktu pertama kuliah di malang dapet kontrakan pas disebelah kuburan…
    Orang mati sekampung ada disitu, apalagi kalau ada yg baru dikubur wuih bau wangi dan aneh2 semerbak sampek rumah..
    Pertimbangan ambil tempat itu cuman satu, murah. Maklum waktu kuliah keuangan cekak.

    Mbak kalau malem dirumah sendirian hati-hati ya, dibalik pintu belakang sama di kamar mandi
    Ada hiiiii….

    • nanaharmanto says:

      Di balik pintu belakang ada garasi, di kamar mandi ada bak mandi doooongg…hehe…
      Eh, kamu berani bgt ya, kos di sebelah kuburan…kalau aku ogaahhh ahh….hihi..

  14. tutinonka says:

    Rumah ke empat? Hmm. Sepanjang pengalaman saya, rumah memang sering ada penghuni lain yang ikut tinggal. Rumah orang tua saya, tempat saya lahir sampai besar, ada ‘penghuni’nya. Rumah kakak saya, juga ada. Rumah yang saya tempati sekarang, juga ada ‘si Mbak’. Untungnya saya nggak punya bakat melihat ‘mereka’, jadi meskipun rada takut, lama-lama terbisa juga. Lagi pula terpaksa, lha wong punya rumah cuma itu, mau pindah kemana?

    Rumah Nana cantik, mungil dan bersih. Sekedar usul nih … pasti akan lebih segar kalau ada tanaman hijau-hijaunya. Di pot aja, sehingga kalau suatu saat pindah, tanaman-tanaman dalam pot itu bisa ikut dibawa pindah …

    • nanaharmanto says:

      Wah, usul Bu Tuti memang bener tuh, akan lebih asri kalau ada tanaman hijau biar nggak telihat gersang. Terima kasih usulnya ya Bu?
      segera hunting tanaman nih…

  15. Wempi says:

    Mantap dah dapat, wempi lagi nyari nih, hueheu…

  16. krismariana says:

    Jujur saja, rumah yg kutempati saat ini sama sekali bukan rumah yg kuidamkan. Tapi yah, kuanggap saja ini semacam “tenda darurat”. “Darurat” karena rumah ini cukup strategis jika dilihat dari akses ke kampus suamiku. Dia kalau pulang kuliah sampai malam, soalnya. Untung ada teman dekatku yg tinggal tak jauh dari sini, tetangga depan rumah cukup baik, dekat pasar, dan transport mudah. Dulu waktu cari rumah kontrakan cuma suamiku yg cari. Aku masih di Jogja dan manut kemawon. Coba kalau ikut, pasti aku banyak maunya hahaha!

    • nanaharmanto says:

      Bener Nik, biasanya perempuan memang lebih banayk pertimbangan untuk nyari rumah yg strategis: dekat pasar, rumah sakit, jalan raya, dsb..dsb…

  17. arman says:

    hi salam kenal ya…
    ceritanya menarik juga… hehe. jadi inget2 pas kita baru pindah kemari dan hunting apt… :)

    btw yang rumah keempat itu, yang punya rumah anehjuga ya.. ngapain dicerita2in… ya jelas gak ada yang berani nyewa dah. hahaha.

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga ya…
      aku juga nggak tahu kenapa harus diceritakan kisah itu…tapi aku sih jujur aja, malah jadi yakin utk nggak ambil rumah itu hehe..

  18. Ade says:

    Aku juga ga berani deh kayaknya mba.. sereeem..

  19. untuk bunda sih nggak masalah seandainya tinggal di rumah yg ke-4 , bismillah sajalah.
    dulu sehabis menikah, bunda pindah kerumah BTN yg jauh dr mana2, belum ada kendaraan umum,blm ada telepon masuk, pokoknya mau kemana2 jauh.
    lalu, akhirnya ada rezeki, pindah kerumah yg sekarang, dan alhamdulillah betah, tetangga juga baik2 sudah seperti saudara sendiri.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      Saya salut sama Bunda…
      saya memang ciut nyali dalam hal ini, jadi memilih untuk mencari rumah lain..juga ada kekuatiran kalau saya bakal teringat terus cerita yang pedih itu.

      Menyenangkan ya Bunda, kalau para tetangga baik-baik..apalagi untuk para perantau, tetangga memang jadi saudara terdekat ya, Bunda… :)

  20. Ria says:

    haduhhh mbak aku ndak mau deh…nanti di jambangin yg punya perabotan lagi…hehehehe…

    ohya berarti skr di makassar ya? jadi kangen pulang kampung diriku kangen sama isang epe :(

    • nanaharmanto says:

      Aku juga emoh di sana hihi…mending nyari rumah lain aja deh…

      Kalau pulang kampung bilang2 ya, kita kopdar…pisang epe? yuk mareee…

  21. kawanlama95 says:

    bahkan di daerahku ada beberapa rumah yang ditingal oleh sang pemilik karena membeli rumah tersebut hanya buat investasi katanya. sehinga kadang rumah tersebut di pinjamkan saja alias ngontrak gratis . yang penting terawat dengan baik. dan banyak rumah yang tidak di tempati namun akhirnya rumah tersebut hancur di makan rayap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s