Sekitar 3 minggu lalu, tetanggaku mengadakan hajatan Haji, yaitu sebuah syukuran untuk mohon doa restu, meminta maaf dan sekaligus berpamitan dengan kerabat, sahabat dan tetangga, karena mereka, -suami istri-, hendak menunaikan ibadah Haji ke tanah suci.
Kerabat mereka sibuk memasak menyiapkan hidangan terbaik untuk para tamu. Nah, karena tak ada lagi ruang yang lebih luas di rumah mereka, ibu calon haji itu meminta ijin pada kami unutk memakai tempat di belakang rumah kontrakan kami sebagai tempat untuk rewang, menyiapkan bahan makanan dan meletakkan alat-alat makan.
Sebenarnya, dulu bagian belakang rumah ini hanya berupa sepetak tanah kosong berumput subur dan bersemak rapat. Lalu di sudut, ada tumpukan batu-batu. Lalu aku dan suami bernegosiasi dengan pemilik rumah untuk memperbaiki lahan ini, agar dibuat semacam garasi terbuka. Kan lumayan tuh, bisa digunakan untuk melindungi kendaraan dari panas dan hujan.
Keinginan untuk memperbaiki lahan ini juga semakin kuat karena aku takut ada ular atau binatang yang bersembunyi di antara semak itu, yang tiba-tiba nylonong masuk dapur..beberapa kali aku mendengar suara-suara mencurigakan di antara tumpukan bongkahan batu-batu itu…hiiii..
OK, kami mengijinkan mereka memakai tempat kami. Nggak mungkin juga aku tak melibatkan diri. Jadi aku ikut membantu rewang. Sekedar mengelap piring atau menyiapkan bahan masakan.
Garasi terbuka di belakang rumah kami itu akhirnya menjadi base camp para rewangers…
Tak ada yang terlalu istimewa sebenarnya pada hajatan kali ini. Mereka berceloteh dengan bahasa lokal, aku samasekali nggak ngerti artinya. Aku juga nggak ngeh ketika salah seorang dari mereka mengajakku ngobrol. Hihi…aku baru sadar ketika mereka terbahak menertawakan orang yang mengajakku ngobrol itu.
“Mak, pakai Bahasa Indonesia…Mbak ini dari Jakarta, tidak bisa bahasa Bugis..”.
Ibu itu ikut terkekeh, “Eee..pantas diajak omong tidak menjawab..”.
Anak ibu itu menterjemahkan untukku.
”Mamak saya ini tadi sempat ngomel, kok Mbak tidak mau menjawab waktu mamak tanya Mbak..katanya Mbak ini sombong betul”.
Kami terbahak bersama. Hehehe…
Yang unik, cara mereka membakar ikan, hidangan khas di daerahku ini. Ikan dibakar di tengah kebun singkong hehe…

Tenang...tenaaang...Bune sayang, aku di sini...asik yo Bune, bakar ikan mesra begini...kalo gosong, salahin mbak-e sing motret kae...ketoke isih amatiran kae, Bu...halah, kok grogi to Bune? duh, senyummu, mak nyesss atikuu...
****
Sebenarnya, aku sempat SMS temanku, Mbak Lusi, menyakan apa yang harus diucapkan pada orang yang hendak berangkat Haji. Apakah perlu memberi salam tempel? Mbak Lusi menjawab SMS-ku. Intinya, selamat jalan ke tanah suci, semoga kembali dengan selamat ke tanah air, dan ibadahnya dilancarkan..Untuk salam tempel, lebih baik berikan saja minuman instan jahe hangat, karena di sana dingin sekali. Atau lotion karena siang hari sangat panas…
Wah, info yang sangat berharga nih…
Kuajak suamiku untuk memberi ucapan selamat jalan. Tapi hari-hari itu benar-benar sangat sibuk, jadi belum sempat lagi ke rumah bapak/ibu calon haji itu, mereka keburu berangkat ke Makassar.
Wah, jadi kami putuskan, untuk memberi ucapan selamat datang kembali setelah mereka sampai kembali ke rumah kelak.
Bagi para sahabat yang merayakannya, kuucapkan
SELAMAT IDUL ADHA 1430 H
Semoga kurban Anda semua bermanfaat bagi sesama…
Doa dan harapan kami, tetanggaku dan jutaan jemaah haji lainnya di tanah suci itu dilancarkan ibadah mereka dan kembali dengan selamat ke tanah air.
****
Berhubung aku tak tahu ritual sekembali dari tanah suci bagi para jemaah Haji, aku sangat membutuhkan informasi kapan kami bisa memberi ucapan selamat kepada tetanggaku itu. Apakah mereka menjalani masa “dipingit” terlebih dahulu?
Para sahabat semua, bersediakah Anda memberiku info penting ini? Terima kasih ya…


27 November 2009 at 11:51 am
..
Wah ku juga kurang faham mbak, taunya makan2 doang hehe…
…
Kok masih ada Rewanger mbak, tinggalnya masih di kampung ya hihi…
Owh indahnya hidup gotong royong.. Owh…
…
28 November 2009 at 3:36 am
Iya nih, kebetulan kami dapet kontrakan di komplek yang berbatasan dengan kampung asli, jadi penghuni komplek dan orang-orang asli di situ berbaur biasa aja tuh…
Setuju, gotong royong itu indah…
27 November 2009 at 12:16 pm
Nana, sungguh terpuji Nana mau memijamkan tempat kepada para rewangers tetangga Nana.
Tentang kebiasaan menyambut kepulangan orang yang pergi haji, memang berbeda di setiap tempat. Tapi umumnya mereka tidak menjalani masa pingitan. Cukup memberi waktu sejenak bagi mereka untuk melepaskan lelah. Seringkali, mereka bahkan tidak sempat beristirhat sama sekali, karena begitu pulang langsung didatangi para kerabat dan handai taulan yang ingin mengucapkan selamat datang. Nana tinggal lhat saja, kalau rumahnya ramai, ya gabung aja bersama yang lain-lain.
Apa yang bisa diucapkan kepada orang yang pulang haji? Ucapan paling baik adalah “Semoga menjadi haji mabrur”. Mabrur artinya terus terjaga iman dan ibadahnya. Percakapan yang lain, biasanya seputar kesehatan selama haji, pemondokan, transport, makanan. Tapi kalau Nana kurang yakin, ya mendengarkan saja percakapan orang-orang lain.
Wah, maaf … kok jadi ‘menggurui’ … hehehe …
28 November 2009 at 3:41 am
wah, Bu Tuti nggak menggurui kok…saya malah berterima kasih, info Ibu ini penting sekali, saya jadi yakin, supaya nggak salah “waktu” kalau mau berkunjung ke rumah tetangga itu.
Matur nuwun sanget, Bu…
27 November 2009 at 2:10 pm
Nana …
Setau saya Tidak ada ritual khusus untuk itu …
Saya pikir …
Cukup Nana dan Suami datang ke Rumah tersebut dan mengucapkan selamat …
Selamat datang kembali …
Seraya mendoakan semoga tetap sehat terus …
Tidak ada masa pingitan atau yang semacamnya …
Yang ada mungkin …
beri kesempatan satu dua hari untuk beristirahat … (yang biasanya mereka tidak akan sempat … karena para kerabat akan datang kesana … sekalian syukuran … sekalian … kalau-kalau ada buah tangan dari Tanah Suci …)
Begitu Na …
Yang Jelas …
Entah mengapa …
Hati saya terasa adem sekali membaca postingan ini … wujud toleransi … sederhana … tanpa ba bi bu … tetapi menyentuh …
Salam saya
28 November 2009 at 3:58 am
Wah, banyak terima kasih infonya ya Om…
Pinjam istilah Om NH, “this is the beauty of blogging”
Dari blogging jadi dapat banyak info-info baru nih…
Hanya hal kecil begitu yang bisa kami lakukan Om…
Terima kasih apresiasinya ya Om?
27 November 2009 at 2:10 pm
Wah, aku malah ngguyu ngeliat caption foto.. maksaaaaa.. lha wong orang bugis kok captionnya pake bahasa mount island aka muntilan
)
Slamat Idul Adha…. Semoga para kambing dan sapi juga berhak merasakan surga
28 November 2009 at 4:02 am
hehehe…. soalnya kan aku jawir, Don… disuruh nulis bahasa Bugis nggak bisa hihi…
*tenanan, aku gak mudeng bahasa lokal sini…
27 November 2009 at 8:19 pm
selamat idul adha juga ya, wakh potonya keren kek romio and juliet
28 November 2009 at 4:04 am
Next drama: Romeo dan Juliet bakar ikan bersama…
*wah, Shakespeare bisa bangkit dari kubur nih…hihi..
27 November 2009 at 9:03 pm
halah… setuju karo DC…. caption-e kok lhe jawir banget!!
bukan begitu mi!! (eh akhiran ‘mi’nya bener gak ya??)
28 November 2009 at 4:07 am
hidup jawir!!
itu udah pake terjemahan bebas ala gugeltranslet yang nggak ada di komputer manapun… hihihi…
27 November 2009 at 11:19 pm
mantab…
28 November 2009 at 4:08 am
matur nuwun…
28 November 2009 at 6:51 am
Saya membaca cerita-ceritamu, terlihat Nana makin akrab dengan kehidupan di sekelilingmu.
Saya salut Nana, dan itu membuat Nana punya cerita yang bisa di share ke kita-kita.
Kalau hajatan haji, kita hanya ikut mendoakan, tak ada salam tempel.
Btw, kayaknya Nana berbakat masak ya…boleh dong cerita mencoba masakan lain, yang sederhana, maksudnya biar saya bisa ikutan nyoba…hehehe…maklum jenis masakan yang aku bisa cuma 6 (enam), itupun hasil hidup di asrama berama teman sekamar orang Minang.
28 November 2009 at 9:54 pm
wah, terima kasih ya Bu, sudah mau membaca cerita-cerita saya..
matur sembah nuwun…
Tentang bakat masak, sebenarnya saya lebih bakat dan lebih ahli melahap makanan hehehe…
Di sini, saya dan suami belum terbiasa dengan selera setempat, maklum lidah Jawa..Jadi, mau nggak mau ya harus masak sendiri, enak atau enggaknya jadi urusan kedua…hehehe..
oh ya, kebetulan saya punya beberapa resep sederhana hasil coba-coba dan hasil nekat
kapan-kapan saya posting ya…
28 November 2009 at 10:45 am
hahahahhaha
melu ngguyu sek..kok nganggo boso jowo to? kalo butuh translater boso bugis..siappp *angkat tangan* hihihi, (tp blm mahir juga euy)
setahuku kalo orang bugis pulang haji kita tidak perlu siapin apa-apa…mbak nana datang aja untuk “setor muka” ke pemilik hajatan bagi mereka sudah merupakan penghargaan. n bener2 jadi penghargaan saat mbak nana sudah pulang n si pemilik hajatan menjadikan mbak nana sebagai objek pembicaraan
“wah makannja tongang bali bolae, angka lomai ma tudang sipulung”
seng artine “wah apikan tenan tonggoku, teko rene melu njagong”
DOn’t worry mbak, gak usah pusing mikirin salam tempel, yang pusing tuh si pemilik hajat nyiapin oleh2 :p
:: wah dowo tenan comment’ku (Java Version)
:: Lampe ladda paukku (Bugis Version)
28 November 2009 at 10:00 pm
Hehehe…soale kan aku jawir, Dhal…
aku mau nulis pakai bahasa Bugis nggak mudeng blas je…kapan-kapan kalau ada bahasa Bugisnya aku SMS kamu dulu deh …hehehe..
30 November 2009 at 3:39 pm
masing2 daerah mungkin punya adat kebiasaan sendiri2 utk menyambut haji sepulang dr tanah suci,
namun, setahu bunda nggak ada acara dipingit, justru mereka ingin segera bertemu krn ingin menularkan berkah dr hajinya pd para kerabat dan kenalan.
Semoga info yg hanya sekedarnya ini berguna ya Mbak Nana.
salam.
1 December 2009 at 9:59 am
Rasa cinta pasti ada
Pada makhluk yang bernyawa
Sejak dulu hinggi kini
Tetap suci dan abadi
Tak kan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa
(Lagu Renungkanlah, ciptaan dan dinyanyikan siapa ya,lupa…)
——–
Apakah anda mempunya rasa cinta ? Jika ada tuangkanlah dalam puisi dan daftarkan pada acara PARADE PUISI CINTA di http://abdulcholik.com/acara-unggulan/acara-unggulan-parade-puisi-cinta
Sahabat yang lain sudah disana semua,tinggal menunggu puisi anda. Hadiahnya menarik lho, maka segera ikuti acara unggulan ini.
Salam hangat dari Surabaya
1 December 2009 at 10:25 am
soal tradisi sepulang haji, aku idem dengan para komentator di atas… intinya, kita hanya memberinya ucapan selamat atas kepulangannya kembali ke tanah air…
seperti Om NH, aku juga merasakan kesejukan postingan ini… sungguh… aku salut
8 December 2009 at 9:51 am
jadi inget kalo tante2ku di Bugis itu lagi mau bberangkat haji…wedewww,,,yg nganter sekampung
apalagi kalau jemput…yg jemput juga sekampung…hahahahaha…
adat disana memang begitu mbak na
Udah bisa bahasa bugis, mau ria ajarin gak hehehehehe…