Radio Kesayangan

(Saat chatting dengan Kris beberapa waktu lalu, dia memberiku link sebuah blog dengan artikel tentang masa kejayaan sandiwara serial di radio era 80-an di sini), lalu aku ingat punya tulisan di fileku tentang nostalgia bersama radio)


Teringat aku pada masa-masa saat aku SD. Beberapa kali aku mampir ke rumah temanku langsung dari sekolah. Karena belum pulang untuk pamit, orang-orang di rumah pasti was-was menungguku pulang.

Aku dinasehati, diwanti-wanti dan diperingatkan. Aku boleh bermain ke rumah teman, asal pulang dulu, ganti baju, makan siang, pamitan,  baru boleh main. Sering aku bandel, toh nggak akan sampai sore gitu loh…

Tapi, sejak keranjingan drama serial di radio, aku tak pernah lagi mampir-mampir kemana-mana. Pulang sekolah, pasti langsung pulang ke rumah.

Jam 1 siang, diputar siaran drama radio Saur Sepuh dengan tokohnya Brahma Kumbara, Mantili, Laksmini, dan lain-lain.

Drama radio itu benar-benar telah membiusku. Meracuni. Membuatku ketagihan. Selalu sedikit kecewa saat durasi 30 menit itu berakhir dengan narasi yang membuat penasaran.

“Sanggupkah Brahma menaklukkan bla..bla..bla..? lalu ajakan narator untuk mendengarkan kembali kelanjutannya di radio “kesayangan Anda” esok hari pada jam yang sama.

Aku gemas penasaran. Benar-benar teracuni!

****

Daya imajinasiku liar berkembang. Brahma pastilah tokoh pendekar ksatria sekaligus raja ganteng rupawan hingga dicintai 2 istri cantik dan digoda terus menerus oleh pendekar perempuan sakti nan genit, Laksmini. Mantili pastilah langsing cantik, lincah gesit, berambut panjang dan digelung ringkas dengan hiasan logam emas serupa mahkota untuk para putri kerajaan.

Belum lagi efek suara yang ditimbulkan. Derap kaki kuda berlari, ringkikan kuda dan  denting pedang bertumbukan. Teriakan Ciatttttt! Ciaaat!! itu juga seru loh,  mampu membuat bola mataku membundar membayangkan pertempuran sengit antara beberapa pendekar.

Belum lagi jeritan para tokoh yang terluka di medan pertempuran. Lalu dentuman-dentuman dahsyat saat ajian-ajian sakti itu saling bertubrukan, membuat para petarung itu tersengal mengerahkan segenap tenaga…

Dahsyat! Tegang!! Cemas….penasaran….

Tengah-tengahnya pertarungan seru begitu, iklan muncul. Dengan jingle yang kadang menyebalkan. Jam segitu itu pas waktu makan siang, jadi kami mendengarkan sambil makan siang. Sewotlah nenekku yang terganggu dengan iklan obat diare. Hihi…

Kadang kami berkerumun di depan radio tua itu. Aku, kakakku dan seorang asisten rumah tangga. Keranjingan betul. Saking seriusnya mendengarkan radio, hingga sesama pendengar tak boleh berisik. Bersin pun akan dipelototin. Jangan harap bisa mengomentari jalan cerita. Semua akan serempak menghardik dengan gemas”, SSSSSSTTTT…!!!!”.

Hadoohh, segitunya…

Kalau terlewat satu episode saja, woooh…”gelo”-nya nggak ketulungan. Aku biasanya akan ngejar-ngejar yang lain untuk retell the story. Hihi…yang ini nggak pake iklan! :)

****

Wah, jaman itu. Radio adalah harta tak ternilai, terlebih untuk anak-anak seperti kami yang tinggal di kampung. TV baru akan siaran sore hari, Sodara! Lain betul dengan sekarang. Siaran TV  24 jam pun ada.

Bener banget tuh ungkapan “Radio kesayangan Anda” itu… Eh, sebentar, radio kesayangan artinya apa sih? Stasiun radionya atau pesawat radionya ya?

Saat itu, sebuah radio transistor besar berwarna hitam selalu setia menghibur kami. Tak tanggung-tanggung, 6 batere besar harus tersedia untuk si radio tua itu. Lalu, papa mengutak-atiknya hingga dengan bantuan adaptor khusus, radio itu bisa mendapatkan tenaga dari listrik. Saat listrik padam pun, radio itu tetap berjasa menghibur dengan tenaga batere.

Ada kisah lucu juga mengenai radio ini. Saat siang, dia jadi “milik” kami. Saat malam, dia akan pindah ke kamar papa, menemani papa dengan siaran wayang. Menjelang pagi, siaran radio luar negeri yang dipasang. Seringnya sih,  tak termatikan hingga pagi dan suara kresek-kresek yang terdengar.

Saat pulang sekolah, radio itu akan kembali ke ruang tengah, tempat kami mendengarkan bersama. Sebelum Saur Sepuh dimulai, radio sudah dinyalakan, memastikannya pada frekuensi yang tepat agar mendapatkan suara paling jernih dan bening. Nyebelin kan, saat radio itu tiba-tiba kemrosok atau hilang timbul gara-gara pita merah penunjuknya itu tak pas. Aku hafal betul dimana pita merah itu harus tepat berada. Utak-atik sedikit dengan perasaan…lalu..yeah!!! Posisi top markotop siap!!

****

Lain lagi dengan serial drama misteri. Yang sedang kami gandrungi saat itu adalah Serial Misteri Gunung Berapi. Dengan tokoh super duper juahat. Yap, betul! Mak Lampir. Nenek sakti separuh iblis. Dengan tawa melengking serak membahana, dan hardikan-hardikannya. Kemunculannya selalu diiringai lolongan serigala plus musik horor.

Lalu imajinasiku yang lebih liar, membayangkan, si peot itu pasti tengah merapal mantra komat-komat, tangannya gemetaran..

Imajinasiku begitu jelas menggambarkan tokoh ini sangat renta, separuh bungkuk, bertongkat tengkorak, dengan rambut kelabu kotor dekil acak-acakan, gimbal semrawut, berwajah kurus,  dingin bengis dan keriput. Geliginya hitam geripis, nyaris ompong dan matanya cekung mengecil, memerah penuh kelicikan. Bajunya berupa jubah panjang berlapis-lapis kumuh penuh tambalan, robek sana sini, berbau busuk. Kubayangkan dia akan terseok-seok dengan raga reyotnya, melangkah diseret-seret keberatan jubah. (Bukankah umurnya sekian ratus tahun?)

Lalu aku termehek-mehek pada tokoh utama serial ini. Sembara. Kubayangkan, tokoh ini berambut gondrong dengan ikat kepala, berwajah ganteng dan kalem dengan gurat-gurat pekerja keras. Tokoh ini pasti berbadan tegap, gagah, jantan, berdada lebar, dimana aku bisa nyaman di pelukannya. (holoh….kok?? isin aku, umur segituh udah ngebayangin dipeluk laki-laki yang guanteng dan gagah begitu).

Ada lagi Farida, kekasih Sembara. Kubayangkan dia gadis desa berparas lembut, cantik segar, selalu dalam bahaya saking moleknya. Bertutur halus dan tak banyak cakap. Tokoh ini selalu ketakutan karena polos tak punya ilmu pembela diri. Untuk itulah Sembara ada untuk melindunginya. (widiih…..kalau mereka tengah memadu kasih, hohoho…aku ikut mabuk kepayang! *isin meneh). Dan begonya, sempet juga aku cemburu pada Farida ini..halah!! *blushing*

Jangan tanya reaksi kami saat mendengarkan serial ini yang diputar jam setengah delapan malam. Saat tawa Mak Lampir membahana, kami pasti diam tak bergerak. Kadang pula, saat kekehannya licik melengking-lengking, segera kami berebutan ndhesel-ndhesel pada mama. Biasanya mama terkikik geli juga melihat polah kami. Kata mama,

“Lha wong, aneh, katanya menakutkan, kok ya tetep didengerin…”.

Adikku yang masih kecil tak paham apa yang asyik dari mendengarkan radio begitu. Tampaknya dia sangat menikmati saat semua kakak-kakaknya kruntelan mengerubuti mama. Mungkin dipikirnya kami sedang asyik bermain…hihi..

Pernah, suatu malam, listrik padam. Dasar sudah ketagihan, kami tetap mendengarkan radio dalam kegelapan. Saat itu serial favorit itu bercerita tentang seorang perempuan jahat berambut api, kemunculannya selalu didahului dengan suara-suara genta ritmis, horor menegangkan!

Kami untel-untelan dalam keremangan hanya diterangi lampu petromax.

Saat mama menertawakan kami, kami segera protes”, Sssst…!!” hoho…lebih galak kami daripada perempuan berambut api itu!

****

Hebatnya drama radio saat itu. Meraja di telinga penggemarnya. Mencuri hati.

Ferry Fadli dan  Elly Ermawati menjadi idola dan pujaan. Dielu-elukan penggemarnya. Belum tokoh-tokoh pengisi suara yang lain.

Jangan lupa,efek suaranya itu lho…..dahsyat nian!

Sabetan pedang, Wuut….wuuut….whhuut.. dan adu pedang Trrang!! triiinnngg!! bisa membuat adrenalin kami melonjak. Dentuman ajian-ajian sakti bisa membuat kami menahan napas. Jegeeeer! Blam!! Duerrrr!!!!!!

Derit pintu ngiiieeeettt.….sanggup menghentikan gerakan kami, hingga melotot lupa berkedip.

Lolongan  serigala, Aaauuuuu…….aaaaaa…..uuuuw…. bisa membuat kami merinding dan ciut nyali.

Raungan harimau siluman,  GGGRRRHHHHH…..RUUUAAAARHHHRH!!

bisa membuat kami melompat menubruk mama. hihihi…

Semua efek audio itu, sakti nian merepotkan mama. Sebab, setelah itu, kami tak berani ke kamar mandi sendiri. Hihihi…mama harus menemani kami tuh…

****

Ada juga sandiwara radio lokal berbahasa Jawa yang diputar sore hari. Aku dan kakakku kadang-kadang mendengarkan serial ini di rumah teman di belakang rumah. Hanya ikut-ikutan saja, tak mengikuti penuh. Sebab, sepertinya orang dewasa di rumah kami agak tak berkenan pada sandiwara ini.

Ceritanya kurang lebih, tentang seorang perempuan yang membunuh ibunya, lalu menyembunyikan tubuh ibunya di bawah tempat tidurnya, sementara kepalanya dibuang jauh untuk menutupi perbuatannya. Kepala sang ibu ini sering datang menghantui Trinil, sang tokoh. Diiringi dengan efek suara mencekam horor, diceritakan kepala pruthul tak berbadan ini kerap muncul, selalu menagih. Dengan nada yang begitu-begitu terus.

“Triniiiil…….balekno gembungku yo, Nduk yooo? Triniiiil…….”.

(Kembalikan ragaku, ya Nak?).

Wuah, kalau sudah adegan ini, kami merinding ketakutan! Tak mau jauh dari teman-teman deh…. :)

****

Saking gandrungnya pada serial Misteri Gunung Berapi, aku kepengeeeeeennn sekali melihat tokoh-tokoh ini dalam bentuk visualnya. Aku berharap akan ada filmnya.

Tapi, saat kesampaian, aku agak kecewa. Aku “mencuri” nonton di bioskop dengan teman-temanku. (Saat itu papa tak pernah mengajak dan mengijinkan kami nonton di bioskop).

Gambaranku tentang para tokoh itu tampil menghakimi. Kok gitu sih? Kurang ini nih, kurang itu tuh, seharusnya begeneh, harusnya begonoh…


Well, Sembara hanya “sedikit” melenceng dari Sembara-ku (idih…) Farida, ah sayang, kenapa berwajah indo? Mak Lampir kurang mengerikan!

Waktu tayang versi sinetronnya, aku jauh lebih kecewa lagi. Sembara tak segagah dan sejantan Sembara-ku. Malah, berbedak, halus, seperti priyayi pesolek. Tak meyakinkan sebagai pendekar petarung sejati.

Farida kurang lembut, bawel banyak omong, orang akan tega meninggalkannya tak terjaga.

Basri, sahabat karib Sembara, di radio diceritakan sebagai pendekar petarung meski tak sesakti Sembara. Di sinetron, Basri digambarkan sebagai pemuda bertubuh gempal, agak bloon dan melulu menjadi the looser… Aaaah….

Mak Lampir bukannya mengundang ketakutan. Celanya lebih banyak deh. Wajahnya halus, hanya dicat ijo…rambutnya pun wig putih yang halus tersisir rapi. Matanya melotot melulu. Badannya masih lincah dan bajunya pun tak menggambarkan nenek ini berumur ratusan tahun…

(Oh, OK…bagaimanapun, imajinasi pendengar radio pastilah berbeda-beda. Dan, kubayangkan pula tak sedikit yang akhirnya harus kecewa karena visual di film dan sinetronnya menghancurkan indahnya, megahnya, dan hebatnya tokoh dalam bayangan mereka).


****

Sayangnya, radio dengan frekuensi AM lambat laun tertinggal, “kalah” oleh FM. Stasiun radio FM mulai marak bermunculan menyuguhkan sesuatu yang lebih ceria, lebih memanjakan pendengar muda dan remaja. Program-program musik dan sederet hiburan lainnya lalu ikut menenggelamkan radio AM.

Tak kusangkal, aku kadang bernostalgia dengan masa-masa ketika hiburan masih minim, dan radio menjadi harta yang disayangi, dan menjadi “nyawa” di setiap rumah.

Radio tua hitam berusia puluhan tahun itu entah di mana sekarang. Sudah rusakkah? Masih tersimpan di gudangkah, atau sudah hilang, atau sudah dihibahkan pada orang lain. Tak jelas nasibnya. Dia telah setia menghibur kami, sempat pula membuatku pulang tepat waktu dan tak mampir-mampir lagi.

Dia berjasa membangun imaji khayalku tentang suatu tempat dan tokoh-tokohnya yang tak pernah nyata ada.

Pun begitu, radio dengan sandiwara andalannya masing-masing sewaktu itu, telah melukis kisah dan masa indah yang tak terlupakan bagi penggemarnya.

Masa itu, melekat erat, kerap kukangeni….

Aku tak pernah kecanduan seperti itu pada saudara canggihnya, Televisi.

****

Anda, penggemar sandiwara radio jaman itu juga?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

46 Responses to Radio Kesayangan

  1. ikkyu_san says:

    bangeeeeeeet
    aku fans Maria Oentoe dan Fery Fadli hihihi
    (makanya aku pengen kerja di Radio kan ;) )

    EM

    • nanaharmanto says:

      hmm…suara mereka benar-benar dahsyat ya…aku dulu juga mengidolakan mereka…
      Sayang ya, TV kills the radio stars…
      Mbak Imel pasti juga diidolakan pendengar nih….

  2. krismariana says:

    na, sampai sekarang aku masih penggemar radio lo! kalau sekarang sih menggemari acara dan penyiar tertentu. dan beberapa kali aku “nge-date” sama penyiar lo hahaha! untuk cari2 info off the record. asyik juga ;)

    • nanaharmanto says:

      Radio memang hiburan murah meriah, bisa didengerin sambil mengerjakan yang lain..
      di tempatku sekarang nggak ada radio bagus, yang ada siaran lokal berbahasa Bugis…hehehe…nggak mudeng blas…

      Wah, kayaknya asyik tuh nge-date dgn penyiar radio…. :)

  3. arman says:

    hahaha.. kakak gua dulu kecanduan banget ama drama seri radio. kalo gua sih enggak ikutan.. :D

    • nanaharmanto says:

      yaah…berarti nggak punya kenangan seru dgn radio saat itu dong?

      • arman says:

        kalo kenangan sih punya banyak secara gua juga penggemar radio. :) di mobil selalu pasang radio. bahkan kalo mau tidur malem pun selalu punya acara kesayangan buat didenger dari radio. acara yang diikutin sih beda2 dari jaman ke jaman. huahaha. apa coba. :P

        tapi mostly ya yang acara ngobrol2 gitu aja plus puter2 lagu… bukan yang drama2 seri radio… :D

        bahkan dulu saking senengnya denger radio (pas jaman smp) sampe pernah berasa pengeeeennnn banget jadi penyiar radio lho! hehehe.

  4. septarius says:


    Saur sepuh dah lupa critanya, tapi sembara dan cambuk api angin masih ingat..
    Kalo favoritku tutur tinular tentang kerajaan majapahit dan arya kamandanu..
    Trus yg agak horror nyai dasimah, keren tuh..
    ..
    Jd pengen punya rekamannya..
    ..

    • nanaharmanto says:

      Oh ya…Tutur Tinular juga jadi favorit waktu itu, tapi aku nggak ngikutin tuh…
      Nyai Dasimah juga gak pernah dengerin…bagus ya?

  5. nh18 says:

    “Radio is a theater of mind …”

    Radio memberikan keleluasaan bagi pendengarnya untuk memvisualkan pemeran berdasarkan suara yang diperdengarkan …

    Dan ini lah kekuatan radio …

    Mengenai sandiwara radio ???
    mmm saya tak mengikutinya … tetapi yang dulu terkenal adalah sandiwara radio … “Bulir Bulir Pasir di Laut …” … RRI punya … tune nya khas sekali …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Jadi Om ngikutin Bulir-bulir Pasir di Laut waktu itu?

      Hebat ya kekuatan radio ini?
      aku juga lebih suka mendengarkan radio karena bisa disambi melakukan kegiatan yang lain..beda dengan TV…yang membuat penonton “beku” di depan TV…

  6. Riris E says:

    tulisan dan imajinasi yang hidup.

  7. edratna says:

    Nana…saya dulu juga suka mendengarkan Saur Sepuh dan biasanya berdebat dengan adik-adik, kan gambaran imaginasi kita beda pada tokohnya. Terus masih ingat sandiwara “Butir-butir pasir di laut”…saat itu sedang kuliah di Bogor dan sayangnya terputus-putus mengikutinya, karena terkadang masih di ruang kuliah pas siaran drama tsb.

    Saur sepuh pernah dibuat filmnya, sayang tak lengkap, saya cuma nonton yang pertama, dan karena hanya ditayangkan di bioskop kelas pinggiran, saat itu beserta suami dan anak-anak menonton di bioskop pasar Blok A (sekarang bioskopnya udah mati, kalah dengan bioskop 21)

    Sekarang saya masih suka mendengarkan radio terutama di malam hari, menemani kerja dan jika tak bisa tidur. Acaranya bagus-bagus, dari ceramah, motivasi…sampai lagu2…yang akan mengantarkan tidur nyenyak. Sayang tak pernah lagi mengikuti sandiwara radio…masih ada nggak ya sekarang?

    • nanaharmanto says:

      Saya malah nggak nonton film Saur Sepuh, saat itu bioskop lumayan “terlarang” bagi kami hihi…
      saya nontonnya setelah sekian lama di TV hehe…

      di tempat tinggal saya sekarang, nggak ada radio yg asyik…rata-rata berbahasa Bugis dan nyetelnya lagu2 Bugis, semacam campursarinya gitu…nggak mudeng saya hehe…

  8. soyjoy76 says:

    Hahaha…. saya suka dengerin Misteri Gunung Merapi alias Mak Lampir dulu… Parahnya, dikotaku disarkannya agak malam…jadi kalo kebetulan mendengarkannya seorang diri..jadi rada gimana gituh… :-P

    Oiya… Catatan Si Boy yang happening banget diawal tahun 90an itu juga awalnya adalah sandiwara radio, bukan?

    • nanaharmanto says:

      hehehe…kayaknya Mak Lampir banyak penggemarnya nih…

      Aku nggak pernah denger Cabo itu…mungkin waktu itu di magelang diputernya malam jadi kami nggak bisa dengerin..

  9. bee says:

    Radio mania…

  10. DV says:

    Wah.. iya!
    Aku paling suka ndengerin Trinil!
    Aku ingat, kalau backsoundnya sudah angin berdesis itu pertanda Trinil mau muncul :)

    Dulu aku sampe takut ndengerin Trinil meski ia diputar siang hari..

    Tapi tetep nggak ada yang ngalahin Sahur Sepuh. Bagiku, drama itu menarik dan hebat karena bisa jadi semacam batu loncatan banyak serial radio lainnya malah sampai jadi film beberapa seri tho…

    Sayangnya nggak ada kelanjutan inovasi dari Ferry Fadli dalam menggarap Saur Sepuh selain repetisi2 yang membosankan dan akhirnya orang pun ogah lagi mengikutinya.

    Skarang masih ada nggak?

    • nanaharmanto says:

      Eh, bener lho…Trinil itu bikin takut! sumprit…

      aku pernah baca, sih Saur Sepuh mau diproduksi ulang..kalau gak salah para “bidan”-nya saling komentar di blog era 80-an itu…
      Tapi jujur aja, aku sangsi apakah akan se-booming dulu…

      dulu hampir setiap rumah nyetel sandiwara radio yang sama…nganti tanggane krungu kabeh hihi…

  11. Ade says:

    Sama Na.. Aku juga seneng banget tuh dengerin sandiwara radio saur seouh dan rahasia gunung merapi dan satu lagi nih yang juga ditunggu2 yang judulnya Ibuku malang, Ibuku sayang *masih apal nada lagunya mpe sekarang, walpoun liriknya banyak yang lupa :-P *

    • nanaharmanto says:

      wah, hebat masih inget lagunya..aku dulj nggak ngikutin sandiwara Ibuku malang Ibuku sayang itu…
      giliran sandiwsra radio banyak yang inget sampai sekarang, nah, kalau pelajaran walah…kok udah lupa ya… :)

  12. ngefans banget sama Maria Oentoe dan Ferry fadly.
    rasanya kecewa banget begitu ada tayangan Mak Lampir di TV, hanya sempat nonton 2 episode saja, lalu menyerah, ogah nonton lagi.
    ada satu lagi kecanduan saya dulu itu, baca komik Kho Ping Hoo yg berjilid2 itu, cerita silat cina dgn berbagai jurus yg seru2.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      Wah, suara Maria Oentoe dan Ferry Fadly memang dahsyat ya…sampai bikin penggemarnya klepek-klepek hehe…

      Tayangan versi sinetron TV memang payah sekali…hmmm…saya juga malas nonton…habis malah jadi kepengen mengkritik terus deh hehehe…

      Saya juga sempat baca komik Kho Ping Hoo itu, Bunda…seru banget ya.. ciaatt.. :)

  13. thepenks says:

    saur sepuh… wueh.. jadi ingat masa jadul indo..

  14. Sugeng says:

    jadi inget tentang tergila-gila nya dengan si brahma dan mantili :lol: . tapi aku juga pernah tergila-gila dan kecanduan dengan buku komik silat asmaraman koh ping ho. ciattttttttt…………. :mrgreen:

    • nanaharmanto says:

      Tergila-gila pada Brahma dan Mantili? koleksi posternya juga nggak? hihihi…jaman 80an kan poster juga sangat diminati tuh…hihi..

      Kho Ping Hoo…wuih banyak juga penggemarnya..ciaaatt!! :)
      Terima kasih sudah mampir ke sini ya?

  15. JR says:

    selamat malam teman…JR kembali hadir disini untuk absen malam ini, bagaimana kabarnya teman…..

    met weekend ya

  16. Ria says:

    aku dulu betah loh berlama2 di depan radio mendengarkan saur sepuh dan kamandanu….hihihihihi….

    aduhhh mbak jadi nostalgia nih :D

  17. zee says:

    Saya mulai kenal siaran radio waktu pindah ke Medan saat kelas 6 SD dulu. Tp belum begitu tertarik krn saya lebih suka dengar acara minta lagu dan kirim salam hahahaa…
    Lalu pas smp, sma baru saya suka dengar cerita2 di radio, rasanya kok kayak beneran terbawa ke suasana itu ya. Well, sebenarnya penyiar itu punya bakat hipnotis juga…

    • nanaharmanto says:

      Bakat hipnotis? wah…yang jelas sih, para penyiar dan pengisi suara sandiwara radio itu punya kharisma khas dalam suaranya, sampai mampu membuat pendengarnya terbawa dalam cerita itu..

  18. frozzy says:

    mbak jangan lupa sandiwara radio yang juga happening “ibuku malang ibuku sayang” hihihihi…. klo saur sepuh mah sudah termask trademarknya 80-an yah mbak….
    sampe sekarang sih aku masih dengerin radio, apalagi kalo sore2 udah mulai butek sama kerjaan.

  19. technomizer says:

    ah jadi inget jaman dulu selalu dengarkan radio. Hehehe.

  20. boyin says:

    itu tanteku suka banget ama siaran “butir2 pasir di laut” ama mantili dan sejenisnya itu ..heeeee..kalo aku suka ngebayangin tuh siaran radio “catatan si boy”keren dan gaul banget…pas liat pemerannya ongki..wah dia ganteng banget…

  21. Ongki says:

    haha,, jadi ingat mbak, dulu senang bgt ndengerin cerita eMak Lampir di radio, radio apa lupa namanya, masih kecil bgt,, dengernya bikin merinding kala itu.. Hahaha…

  22. tutinonka says:

    Saya dengerin sandiwara radio waktu masih kecil, sandiwara berbahasa Jawa dari RRI. Pelakonnya antara lain Hastin atas Asih, Habib Bari, dll. Kalau era Saur Sepuh, Tutur Tinular, dll, cuma tahu aja, tapi nggak pernah dengerin. Wah, jadi heran juga, kemana ya saya waktu itu? Kayaknya asyik dengan hal-hal lain … :)

  23. Hmm saur sepuh :)
    haha dulu siy seneng dengerinnya mbak
    Ah era itu memang seru ya..
    msh inget deg2an krn ceritanya hehehe

  24. Eko says:

    Radio Republik Indonesia dengan warta berita dibacakan oleh hatipah bahrun, sari berita penting….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s