Sayur Nangka

Seorang tetanggaku di Muntilan,  Bu BS, bercerita. Suatu hari, dia membeli sepotong gori (nangka muda), kira-kira ¼ bagian buah bergetah lengket itu, lalu dimasaknya menjadi sayur nangka yang lezat.

“Dua hari lalu, aku beli sepotong gori, besarnya segini”, katanya sambil menunjukkan ukurannya dengan mengacungkan tangannya sebatas siku.

“Lumayan, Rp 750,-. Karena aku masih punya bumbu-bumbu di dapur, jadi hanya kubeli gori itu thok. Sampai di rumah, kumasak gori itu menjadi sepanci sayur gori yang cukup untuk kami berdua selama 3 hari. Rasanya enaaaaakkk sekali. Sampai suamiku nambah nasi lagi”. Dia tersenyum.

Bu BS melanjutkan ceritanya.

“Nah, kemarin itu, aku memanaskan sayur gori itu, masih lumayan banyak, bahkan  bisa cukup untuk makan hari ini… lalu aku ingat, harus beli tempe atau tahu untuk lauk. Jadilah aku belanja di warung depan rumah. Ndilalah, aku kelalen, sampai di rumah, tercium bau gosong! Waaah….cepat-cepat aku ke dapur. Di situ sudah penuh asap. Dan…..sayur nangka yang enak itu sudah gosong,  hitam seperti arang! Kering melekat berkerak di dasar panci, nggak mungkin lagi bisa dimakan….”.

“Duh, aku gelo (menyesal) sekali. Lha wong tadinya enak banget, cukup untuk makan sampai malam ini je… wah,Gusti… aku gelo tenan menghilangkan rejeki hari ini….” Bu BS tersenyum sendu.

Sampai di situ, tenggorokanku tercekat. Rasanya aku bisa merasakan kecewanya Bu BS pada sayur gosongnya.

Pernahkah terbayangkan olehmu, tujuh ratus lima puluh rupiah untuk makan tiga hari? Hari giniiii…..Mungkin, jumlah yang tak ada artinya bagi kita. Tapi bagi Bu BS jumlah itu sangat bermakna hingga ia menyebut Sang Pemberi rejeki dalam penyesalannya.

****

Kebetulan, aku tahu persis, untuk biaya hidup sehari-hari, mereka harus benar-benar berhemat. Pak BS hanyalah pensiunan swasta. Tak mungkin hidup bermewah-mewah, sementara biaya pendidikan putra semata wayang mereka tentulah tak sedikit. Mereka memang mengutamakan pendidikan yang terbaik untuk si anak, hingga dengan jerih payah mereka dan hidup prihatin juga, si anak bisa bersekolah di SMA favorit khusus cowok di Jogja.

Berhari-hari, aku masih memikirkan cerita itu.

Sayur kelam berasap itu seakan bisa menjadi cermin untukku. Aku yang kadang sembrono membuang makanan yang tak termakan. Atau membuang bahan makanan yang sudah rusak dan kadaluarsa dari kulkas. Betapa mudahnya aku membuang makanan, mentang-mentang aku sanggup membeli makanan baru. Betapa entengnya aku kalap lapar mata membeli bahan makanan sebanyak-banyaknya, untuk kusimpan di kulkas, tapi hanya akan terbuang beberapa hari kemudian sebelum sempat kumasak. Betapa borosnya kadang-kadang aku makan di restoran atau rumah makan dengan harga selangit porsi seiprit…

Apa yang kurasakan ini, campur aduk. Kasihan pada Bu BS, terlebih pada orang-orang di luar sana yang bahkan untuk makan layak pun tak mampu.

Aku pernah mrebes mili, saat menonton TV. Di layar kaca itu, terlihat para pengungsi yang kelaparan. Untuk urusan perut, mereka berebut makanan sumbangan hingga saling menginjak-injak. Di beberapa pelosok dunia, anak-anak kurus kering menatap hampa. Tulang-tulang mereka bertonjolan sebagai bukti betapa parah dan memprihatinkan kekurangan pangan dan gizi yang mereka alami.

Dan, aku tak bisa tutup mata, di Nusantara ini, ternyata masih banyak kasus anak kelaparan dan gizi buruk! Duh…

****

Di saat yang lain.

Kulihat seseorang dengan santainya berkeliling buffet di lounge hotel berbintang untuk sarapan. Diambilnya semua yang menarik matanya. Dijejerkannya piring-piring beraneka rupa yang telah diambilnya. Lalu mulai dimakannya. Satu piring belum habis, telah disingkirkannya. Dia mengambil piring kedua. Digesernya pula tanpa dihabiskan isinya. Piring ketiga, hanya diicipin sedikit, lalu ditinggalkannya untuk menghadapi piring yang lain. Piring keempat dimakannya beberapa suap, lalu diletakkannya garpunya, kemudian dia berdiri lagi, berkeliling lagi mencari makanan yang lebih menarik.

Please!!

Rasanya ingin kutegur orang itu. Betapa sayang makanan yang telah disia-siakannya  itu. Mubazir…

Seandainya dia sedikit peduli pada orang-orang seperti Bu BS, atau seperti anak-anak muram di Ethiopia sana, tentunya dia akan berpikir setidaknya dua kali pada kelakuannya. Makanan itu, -yang telah diambilnya dengan tangannya sendiri, dengan penuh kesadaran orang waras-, telah dibuatnya menjadi sisa mubazir, bisa jadi akan menjadi rejeki bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya.

Oh ya, tentu dia punya dalih, dia berhak melakukannya, karena dia telah membayar fasilitas hotel berikut sarapannya. Hmmm…jangan lupa, kawan…orang lain di tempat sama itu pun, sama berhaknya mengambil apapun yang diinginkannya, tapi toh mereka tahu diri dengan mengambil secukupnya saja.

Aku gregetan: aku ingin, setidaknya, dia peduli pada mereka yang bahkan tak bertemu makanan berhari-hari…setidaknya, terpikirkan dalam benaknya, betapa mirisnya andai mereka melihat makanan di mejanya yang “hanya” diacak-acaknya menjadi sisa tak berarti…

****

Sedapat mungkin, kini aku belajar untuk belanja secukupnya, dan memasak secukupnya. Aku kini bersyukur, pernah dekat dengan kehidupan masyarakat sangat sederhana yang berjuang keras untuk mendapat makanan layak. Dari situ aku belajar menghargai makanan yang kumakan, dan terlebih, menghargai keringat mereka yang telah menghasilkan bahan pangan: para petani, nelayan, dan peternak. Juga jasa pedagang yang mengantarkannya ke depan rumahku. Ah, keringat dan jerih payah yang mungkin hanya bisa kutukar dengan rupiah…

****

Terima kasih Bu BS atas ceritanya. Mugi Gusti tansah paring linubering berkah, Bu….

Terima kasih untuk Mbak Imelda yang telah berbagi tulisan menyentuh ini, jadi semakin meyakinkanku untuk menuliskan kisah ini, Mbak… dan juga, terima kasih untuk Om NH yang telah iseng mengenalkan istilah ini.

Semoga semakin banyak sahabat blogger yang tergerak untuk peduli dalam hal ini.

Bagaimana denganmu sahabat? Punya kisah serupa?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration, Dari Hati and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Sayur Nangka

  1. Kalau cerita yg seperti Bu BS gak pernah ngalami sendiri, Mbak.
    tapi, kalau lihat orang yg membuang2 makanan dgn tidak menghabiskan, itu sering sekali, apalagi kalau di undangan di gedung atau hotel mewah, dgn makanan mewah pula, mereka mengambil banyak, namun tdk bertanggung jawab utk menghabiskannya, melihatnya memang kesal sekali, rasanya pingin menegur, seolah mereka tdk mensyukuri apa yg diperoleh, padahal masih banyak orang2 yg utk makan sesuap nasi saja setengah mati.
    itulah ironi kehidupan di depan mata kita Mbak.
    semoga dgn cerita ini bisa menyadarkan kita agar lebih banyak bersyukur atas apa yg telah diberikanNYA.
    maaf Mbak Nana, komennya kepanjangan ya :oops:
    salam.

    • nanaharmanto says:

      1. Memang jadi gregetan, ya Bunda, melihat orang yang serakah mengambil makanan sebanyak-banyaknya tapi nggak bertanggungjawab untuk menghabiskannya.

      2. Saya seneng kok dengan komentar yang panjang, menurut saya sih, itu jadi bukti bahwa Bunda /pemberi komentar lainnya sungguh-sungguh menaruh perhatian pada tulisan saya. Beribu terima kasih ya Bunda… :)

  2. vizon says:

    aku punya pengalaman makan di restoran mewah yang “all you can eat” itu. kita yang baru sekali masuk ke sana tentu berasa ada di surga makanan. dan pemandangan mubazir itupun aku lihat. miris rasanya, tapi hanya itu yang kumampu, selebihnya hanya bisa diam.

    dari pengalaman melihat kemewahan tadi dan sekaligus keprihatinan yang merajalela di sekitar, maka kami di rumah berusaha untuk meminimalisir pemubaziran makanan di rumah. salah satu caranya adalah belanja dengan terencana untuk dapur (isi kulkas). caranya, membuat menu. meski masih ada juga yang mubazir, tapi cukup lumayan, tingkat kemubazirannya sudah tidak sebanyak yang dulu-dulu… :)

    • nanaharmanto says:

      Kalau nggak salah, restoran All you can eat itu menerapkan sistem harus bayar untuk makanan yang sudah diambil tapi nggak dihabiskan. tapi aku nggak tahu bagaimana sekarang, lha wong sudah lama sekali aku nggak pernah lagi makan di resto sejenis itu. Rugi ngajak aku ke sana, aku sering merasa kenyang duluan melihat makanan yang terlalu banyak, dan akhirnya malah hilang selera dan hanya makan sedikit…wah, ndeso ya aku ini … :)

  3. edratna says:

    Yang sulit adalah mendidik anak-anak kita untuk bisa menghabiskan nasi dan makanan yang sudah kita taruh di piring. Karena mereka tak pernah mengalami masa kepahitan hilangnya bahan pokok.

    Bagi saya, yang dibesarkan pada era semua dijatah (tahun 62-65), beras sulit dicari, mesti makan tiwul, nasi jagung…maka saat kuliah yang terpikir adalah bagaimana bisa berusaha agar bisa makan tanpa berhutang. Sangat sederhana….dan jangan membuang makanan.

    Dan saat bisa membeli makanan di hotel, badanpun tetap menyesuaikan, agar kolesterol tak naik…..maklum saya bekerja di perusahaan yang tiap dua tahun sekali harus general check up…jadinya tahu terus riwayat penyakitnya…mau tak mau jadi terpengaruh dalam pola makannya

    • nanaharmanto says:

      Hmmm…Saya rasa, orangtua tua saya juga pasti mengalami jaman “pait” waktu beras/ makanan susah dicari. nenek saya pernah cerita begitu. Ada banyak tetangga nenek yang terpaksa makan hanya dengan nasi dan daun pepaya rebus yg pahit, makanya disebut jaman pahit. Makanya nasehat mereka sangat kuat menekankan agar kami anak-anak selalu menghabiskan nasi kami dan menghargai setiap makanan..

  4. nakjaDimande says:

    mba nanaaa, disekitarku juga banyak yang hidup sangat pas-pasan. aku pernah ngga sengaja melihat anak tetangga makan hanya pake rebusan daun singkong dan kerupuk, ibunya tukang cuci. aku kepikiran gizi mereka..

    • nanaharmanto says:

      Wah, Bundo…saya prihatin sekali terhadap anak tetangga Bundo itu… sepertinya masih banyak kisah serupa deh di daerah lain…
      mungkin, kalau tetangga Bundo itu diekspos media, baru deh pejabat daerah geger…

      (Kapan ya, ada yang mengundang para pejabat yang mobilnya milyaran itu, ke daerah-daerah miskin, jangan nginep di hotel gitu, biar mereka lihat, rakyat jauh dari sejahtera kok mereka ribut soal mobil…) :(

  5. nh18 says:

    IYA
    Betul sekali Na …
    Memang sih ndak ada hubungannya antara Makan Sekeh-sekeh di Hotel berbintang atau Kondangan …

    dengan nasib bu BS …

    Namun demikian …
    Dari sana sebetulnya kita bisa menarik pelajaran … paling tidak untuk diri kita sendiri …
    Bahwa …
    Bersyukurlah … dan berperilaku patut lah … dalam hal makanan …
    Jangan berlebihan …
    Kalaupun mau mengambil banyak … please tolong dimakan semua … atau paling tidak minta dibungkus … untuk nantinya diberikan kepada yang mungkin membutuhkan …

    Salam saya NA

    • nanaharmanto says:

      Aku suka ini, Om…
      [...] Bersyukurlah…
      berperilaku patut lah…dalam hal makanan
      jangan berlebihan…

      cespleng!!
      sebenarnya, hanya itulah inti dari dua posting saya terakhir…

      Meskipun aku muter-muter dulu nulisnya, aha….you got it all, Om…

      *Blogger senior gitu loh…seng ada lawan… hehe..
      salam saya, Om… :)

  6. sauskecap says:

    busyet 750 untuk tiga hari….

  7. 69.69FM says:

    Posting ini bagus sekali, saya terharu agak tersindir lalu bercermin. Terimakasih

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih apresiasinya ya…
      maaf kalau sempat tersindir ya… saya hanya ingin berbagi, semoga semakin banyak orang yang juga menjadi peduli (bercermin) dalam hal ini…

      Terimakasih sudah membaca dan peduli, salam kenal ya…

  8. arman says:

    nice sharing…
    emang kita perlu diingetin yang kayak begini. biar jangan selalu memandang ke atas. perlu juga memandang kebawah. supaya bisa lebih bersyukur atas yang kita udah punya ya… dan gak menyia2kan yang kita udah dapet…

    • nanaharmanto says:

      Many thanks, bro…
      wah, adem rasanya membaca komentarmu…

      Btw, aku pernah liat serial TV, para homeless di Amrik dapat jatah makan dari Dinas Sosial? tulis dong… :)

  9. jeunglala says:

    Dear Mbak Na,
    Setiap hal yang dilihat oleh manusia pasti akan memberikan impact yang berbeda. Orang yang berhati lembut dan tulus seperti Mbak Na akan menangkap makna yang lain dan berusaha untuk menarik pelajaran dari situ, dan orang yang berbeda mungkin malah tidak akan menarik pelajaran yang sama.

    Yang terpenting adalah memulai dari diri sendiri dan kalau bisa menularkannya untuk orang lain seperti yang Mbak Na lakukan sekarang ini.

    Aku punya pengalaman yang sama seperti Mbak Na, dan InsyaAllah, akan terus berusaha untuk menghargai setiap bulir rejeki yang diberikan Tuhan. Amin.

    Makasih ya, Mbak Na, buat berbagi cerita ini…

    • nanaharmanto says:

      Thanks ya La untuk apresiasinya….
      baru sebatas ini aku bisa berbagi…

      Aku setuju untuk terus berusaha menghargai setiap rejeki dari Tuhan… :)

  10. septarius says:


    750 untuk 3 hr sementara di hotel 5star caviar dr telur sturgion fish satu sendok bisa 500ribu..
    Kalo mikirin gap itu bisa botak kepala.. :-)

    Aku sih cuman bisa bersyukur mbak dan berusaha tidak mubazir..
    Meski kadang emang susah.. :-)
    ..

    • nanaharmanto says:

      Haaa?! 500ribu “hanya” untuk sesendok caviar? *glek… kayaknya aku bakal susah nelen nih…haih, nggak tega! duit segituh?

      itu jatah belanja sebulan!! gubrak! kwew…kwew…kwew..kweewweeeewwwww…..
      *musik pengiring aku pingsan*

  11. DV says:

    Sek.. sek..
    aku paling seneng bagian ini:

    si anak bisa bersekolah di SMA favorit khusus cowok di Jogja.

    Go JB! Go JB Go Go Go! :)))

    • nanaharmanto says:

      Aseemmm…. ming ngono thok to, tanggapane alumni skul kuwi? *geleng-geleng…

      Sekolah kuwi apik po Don? :) :)

  12. marshmallow says:

    tulisan ini masih senyawa dengan tulisan tentang nasi ya, mbak?

    hm… sudah banyak diskusi soal mubazir makanan, dan selalu saja bikin miris. saya sedapat mungkin berusaha untuk tidak membuang makanan dengan mengambil secukupnya saja. tapi soal belanja dan isi kulkas yang kepenuhan sampai harus dibuang karena kadaluwarsa, duh, saya masih melakukannya juga sesekali. hiks…

    makasih udah diingatkan kembali, mbak nana.

    • nanaharmanto says:

      Iya Uni… tadinya akan jadi satu posting, tapi ternyata terlalu panjang…nasi udah, sayur udah, naaah…tinggal lauknya! hehe..

      Aku juga masih terus berusaha membatasi diri supaya nggak terlalu lapar mata saat belanja, Uni…hmmm…agak susah memang…

  13. Ria says:

    aku juga sebel tuh mbak sama temen2ku yang terkadang makan tapi ndak dihabiskan, padahal sisanya cuman 2 sendok idichhhh…apalagi paling sebel kalo ternyata dia masih nyomot makanan orang lain padahal makanannya gak diabizin…aku biasanya langsung negur, tau apa jawabnnya aku gak kuat lagi makannya! duh rasanya pengen marah2 aja padahal 2 menit sesuah ngomong kenyang dia nyomot tempe di piringku…huaaaa kesel banget!

  14. darahbiroe says:

    tulisan yang menarikk,,,

    jika kita terus melihat keatas tidak akan ada habisna, sesekali bolehlah menengok kebawah mash banyak yg kekurangan

    jadi syukurin ajah,,, akan lbh baikk

    berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya makasih

  15. julianusginting says:

    sayur nangka…mmhh…lumayan enak yack…hehee…
    salam kenal.. :-P

  16. ikkyu_san says:

    Dulu waktu masih mahasiswa, aku sering pergi ke Restoran All you can eat. Maklum pergi dengan teman-teman laki-laki yang masih dalam masa pertumbuhan hihihi. Pertama masih mengambil setiap jenis, sedikit-sedikit. Meskipun tidak pernah menyisakan, rasanya kok “Maksa makan”. Kelamaan jadi bosen sendiri, dan kalau ke resto macam itu hanya karena tersedia banyak jenis, dan bisa cicip macam-macam. Itu saja, dan sering berhenti di satu piring saja. Sampai rasanya “ngga balik modal”.

    Aku juga sebel kalau liat tamu di pesta perkawinan yang sering mengambil makanan sampai munjung seakan takut kehabisan makanan. (Aku selalu ambil puding dulu soalnya hihihi). Iya kalau dimakan semua, betapa banyak tuh sisa makanan selesai pesta kawinan?

    Mari kita mulai dari keluarga sendiri. Aku sering mengolah makanan sisa menjadi jenis makanan baru, karena biasanya orang “malas” makan yang sama dua hari berturut-turut. Kadang aku sampai “nyuci” daging/ayam untuk kemudian dipotong-potong dan dimasukkan ke nasi goreng atau sup ;)

    Terima kasih ya untuk postingan ini, dan juga link ke tulisanku. Semoga kita lebih peka lagi terhadap sesama.

    EM

  17. hilda says:

    Ide belanja secukupnya dan makan secukupnya sangat bagus utk diterapkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s