Tokek

Tok…tok…otokkk…tokeekk!!

Tokek!

Tokek!!

Suara itu terdengar jauh. Bukan dari dalam rumahku. Sumprit, nggak ada tokek dalam rumahku! Tokek itu hidup di alam raya dengan bebasnya. Jadi aku tak pernah melihat wujud aslinya. Kuduga dia hidup berumah tangga di  pohon kelapa di belakang rumah.

Aku hanya sering mendengar suaranya. Tak masalah sih saat siang. Tapi, kalau tokek itu berteriak di tengah malam di kampung yang sepi, suaranya seakan bergema dan hiy…mengerikan! aku pasti  ketakutan dan cepat-cepat merapat pada mama…

Hoho…itu dulu…saat aku masih kecil.

Aku ingat pertama kali melihat wujud tokek asli waktu kelas 5 atau 6 SD. Waktu itu aku ikut berdoa di rumah tetangga, bersama keluarga-keluarga lain di lingkunganku. Tengah khusyuk berdoa, seekor tokek menjerit kencang. Aku terperanjat, sementara yang lain menahan tawa. Jiaah…ada tokek di dalam rumah itu!!

Akhirnya, aku melihat mahluk itu. Astagaaa…cicak raksasa segede gaban!! Dia merayap-rayap di dinding. Matanya melotot.

Tokek Rumah

foto kupinjam dari sini.

****

Di rumah orangtuaku sekarang malah ada tokek. Mungkin keturunan ketujuh dari mbah Toki di pohon kelapa itu, yang semakin kreatif merambah rumah manusia. Suaranya itu lho…seringkali mengagetkan!

Konon, makanan tokek adalah kadal. Eh, nggak ding, cicak, tikus kecil..dan serangga.

Nah, waktu aku tinggal di asrama Syantikara, ternyata lumayan banyak tuh tokek yang ikut hidup bersama cewek-cewek cakep dari seluruh Nusantara itu. Mulailah guyonan kere itu.

Tokek!

Mlarat!

Tokek!

Sugih!

Tokek!

Kere!

Kami terpingkal-pingkal saat tokek berhenti di seruan kere… dagelan ndeso dan konyol, tapi tetap saja menghibur.

Di asrama itu juga aku baru melihat dari dekat, tokek ternyata berkulit abu-abu pucat dengan totol-totol merah dan hijau.

Hmmmm….sedekat apa sih?

Well, suatu ketika aku menempati unit asrama yang ber-WC kecil. Sumprit ..kecil  sekali. Sampai muncul kelakar, saking kecilnya, begitu masuk WC, keluarnya pun harus mundur dalam posisi yang sama saat masuk…

Nah, karena WC-nya kecil, begitu masuk, pintu harus segera ditutup.

Waaaaaa!!!

Tokek itu sudah menunggu dengan manisnya di balik pintu. Bisa diduga kan? Sedekat itu, nggak sampai satu setengah meter mungkin. Para cewek yang kebelet itu akan spontan berteriak dan ngibrit keluar. Tertunda deh keperluan mendesak itu….

Memang sangat menyebalkan tokek itu. Lebih menyebalkan lagi saat mendengar jeritan histeris teman seunit yang bertemu si ganteng itu di tengah malam buta.

Akhirnya, disepakati, tokek itu harus disingkirkan, bagaimanapun caranya. Tak ada yang berani menangkap tokek itu. Jijay, dan takut, sebab, konon, kalau tokek itu melompat ke rambutmu, dia tak akan mudah lepas lagi. Lebih parah lagi, kalau sampai dia menggigit…Hiiiy….susah sekali dilepas. Hingga muncul pemeo, (mitos?) gigitan tokek nggak akan bisa terlepas, kecuali si tokek mati a.k.a dibunuh.

Eksekusi pun dilaksanakan dengan alat seadanya. Tongkat pel, dan sapu. Biasalah para cewek, belum juga mulai, jejeritannya sudah mengalahkan suporter sepakbola.

Karena tokek itu luar biasa bandel, akhirnya, diusulkan, tokek itu akan disiram air panas.

Eksekutor pun ditunjuk. Dengan langkah mantap membawa segayung air panas, si eksekutor mulai mengguyur ke arah tokek.

Mendadak, si eksekutor jiper…dia mengguyurkan air panas ke tokek itu, sambil setengah berlari menjauh.

pyyookk!!!

Meleset dengan sempurna.


Kami sakit perut tertawa terbahak-bahak, paduan tegang dan geli melihat aksi si eksekutor yang ajaib.

Ok, guyuran kedua.

Byurrr!!

Tepat sasaran!! Rasain!! Uhuyy…Kami girang tak kepalang.

Ketika ditengok, tokek itu masih sehat segar bugar. Yaelaahhh….Ternyata kami terlalu lama terpingkal-pingkal, hingga air tak lagi panas. Jadi tokek itu hanya berasa dimandikan air hangat.

*Kwew….kwew..kwew…kweewwwww….*


Malam sudah larut. Kami sudah terlalu lelah berjam-jam berperang melawan seekor tokek. Kami tak punya minat lagi menjerang air, ditambah, tertawa keras terlalu lama ternyata capek booo….

Akhirnya, tokek itu hanya diguyur air biasa berkali-kali, hingga dia kepayahan merayap di dinding yang licin.

Pok!! Dia terjatuh. Yeah, eksekusi finalnya cukup mengerikan. Jadi nggak perlu kubahas di sini…singkatnya, tamat riwayatnya, dood.

Ketika bangkai tokek itu diangkat dengan pengki, kami semua heran…kulit tokek itu berubah menjadi hitam legam…totol hijau merahnya lenyap.

****

Aku pernah mendengar, tokek ini diperjual belikan sebgai obat tradisional Cina sebagai obat asma dan penyakit kulit. Tokek yang sudah dibersihkan, dikeringkan hingga serupa keripik. Menurut beberapa orang, tokek kering itu direndam dulu dengan arak khusus, baru siap diolah menjadi obat. Ada yang tahu mengenai hal ini?

Menurut desas-desus, harga tokek ini mahal sekali, hmm..jutaan? seberapa banyak tuh ya? Ada beritanya di sini nih.

****

Ada hal yang menjengkelkan bagiku. Ada seekor bayi tokek di rumah kontrakan kami. Meskipun namanya bayi, besarnya melebihi seekor cicak dewasa yang obesitas. Dan tetap saja kami nggak suka dia nimbrung di rumah kami. Suaranya jelekkk sekali.

Akhir tahun lalu aku mudik selama sebulan. Waktu aku kembali ke rumah ini, ya ampuun…dia sudah berubah menjadi remaja tokek segede gaban yang bersuara nyaring. Hadohhhh.

Tokek  ini semakin hobi bersuara untuk pamer ke mahluk lain bahwa dia yang berkuasa di wilayah teritorialnya itu. Nah, nggak tau diri banget kan? Lha wong kami yang bayar sewa rumah ini je, lunas, nggak pake utang, lha kok tokek ini koar-koar dia yang punya kuasa! Weh…

Berkali-kali aku mencoba mengusirnya dengan menyemprotkan obat serangga aerosol. Tetap saja dia kembali. Kerasan betul sih, Kek?

Tak jarang aku guyon dengan suami, dengan guyonan kere itu.

Tokek!

Sugih!

Tokek!

Sugih banget!

Tokek!!

Sugiiihhh….bianget ra baen-baen….!!

Tokek!!

Jutawan!

Tokk….

“milyader!!”

Si tokek berhenti tiba-tiba…nanggung…

Yeeee……

****

Kalau aku bikin lomba nangkep tokek di rumahku ada yang berminat nggak ya? :)

Tokek itu dijual, nah uangnya sebagai hadiah deh… ada yang mau? Tiket pesawat PP ditanggung tokek…hihihi…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

32 Responses to Tokek

  1. edratna says:

    Ternyata teman-teman asramamu berani juga ya…walau sambil takut-takut.
    Asrama di Bogor, karena dekat pohon-pohon besar, suara tokek sudah menjadi musik sehari-hari…tapi belum pernah ketemu tokek yang “mbegegek” di asrama. Mungkin dia tahu, diasrama ada pak Sukidi, yang jaga malam, merangkap tukang masak nasi.

    Pak Kidi ini terbiasa mendengar jeritan cewek…dan cewek asrama putri mudah sekali menjerit….ada apa saja, udah njerit duluan….dan bayangkan, hanya pak Kidi yang bisa masuk ke dalam asrama dengan cewek2 no bra dan hanya pake daster…akibatnya pak Kidi anaknya bererot…hehehe, dan dia dapat satu kamar dibelakang asrama untuk keluarganya. Namun diantara berbagai jeritan tadi, rasanya belum pernah dengar jeritan karena tokek masuk asrama…atau tokeknya takut duluan ya?

    • nh18 says:

      Saya ngakak lagi membaca komentar Ibu EDRatna ini …
      Kehidupan di Asrama (putri) nggak di Yogya … nggak di Bogor … sama saja … !!!

      memang penuh romantika …

    • nanaharmanto says:

      hahaha…saya baca kata “mbegegek” malah ngakak…istilah Indonesia-nya apa ya? hihihi..
      bererot? hahaha…ini bikin saya ngakak juga…
      memang seru ya pengalaman hidup di asrama putri? kadang saya kangen lho suasana itu…

  2. aurora says:

    disini mah ga ada tokek kak…. untung juga sih, ama cicak aja aku takut… apalagi ama tokek, yang mirip engkongnya cicak itu…

    lomba?? boleh tuh… *langsung beli tiket pesawat.*

    • nanaharmanto says:

      wah, di Padang nggak ada tokek? masak sih? aku sih nggak takut sama cicak Rif… ya udah kamu ke sini, tangkepo tuh tokek dan dibudidayakan di Padang, gimana, Rif? hmm?

  3. DV says:

    Waktu aku tinggal di Kebumen (1984 – 1993) dulu, yang namanya Tokek jadi hiburan tiap malam, Na.

    Menyebalkan tapi sekaligus kalau ngeliat kulitnya yang totol-totol itu ya menggelikan.

    Cara mbunuh tokek itu sebenarnya gampang-gampang susah… Yang paling gampang, kamu kasi tembakau (mbako) aja karena dia bisa mabok dan lemas, selanjutnya ya terserah deh.. mau dieksekusi dengan cara apa.

    Papaku dulu memilih menghabisinya dengan cara memasukkannya ke dalam plastik lalu dibuang ke sungai depan rumah supaya nggak mbonjrot darahnya di lantai…

  4. krismariana says:

    yuhhuuu, aku ngerti kowe ndisik neng unit endi sing WC-ne sempit kuwi. hihihi. rasanya aku beruntung, tiap kali dapet unit baru, WC-nya lumayan gede… :)

    di rumahku Jogja juga ada tokek Na. awalnya aku gilo melihatnya. nah, suatu kali pas lagi rame2nya ada berita bahwa harga tokek sampe jutaan, aku usul sama kakakku supaya dijual aja tokek itu. yah, iseng2 aja sih usul itu. tapi kakakku bilangnya, “jangan, itu kan kaya peliharaan kita. kalau kita baru pulang, dia suka nongol. seakan2 menyambut kita.” dan si tokek itu memang suka muncul kalau kami baru pulang dr bepergian. hehe

  5. arman says:

    pertama kali (dan cuma sekali2nya sih) gua ngeliat tokek tuh pas kelas 1 smp. waktu itu lagi retret di daerah prigen. gara2 jendela kamar terbuka, tau2 pas sore pas balik kamar, di tembok udah ada tokek gede banget. gila jijik banget ngeliatnya. hahaha.

    tapi kita gak berani ngapa2in juga sih. akhirnya ya dibiarin aja dan untungnya pas malem kita balik kamar buat tidur, si tokek udah ilang. udah keluar sendiri kaykanya. langsung cepet2 tutup jendela dah. hahaha.

    trus pas taun depannya udah pindah jakarta, kita ke anyer nginep di cottage yang modelnya tradisional banget gitu. cuma dari kayu2 gitu. sepanjang malem kedengeran bunyi tokek terus. serem banget rasanya. tapi gak keliatan tokeknya dimana. hahaha.

  6. Riris E says:

    Sewaktu aku masih kuliah, tokek jadi ganti wekerku. Jam2 belajar pagi tuh tokek muncul di atas kepalaku..trus menjerit..tokeek..tokeek..

    Seingatku tokek itu jg tidak biasa. Yang suka mbangunin aku itu tokek albino, jadi gak totol2.

    Beneran nich..tiket ke sana ditanggung PP??
    kalau iya..rasanya aku tinggal minta acc suamiku..hihihhii…

    • nanaharmanto says:

      Tokekmu kok disiplin berbunyi di jam-jam belajar pagi to Mbak? hehehe…ada macam-macam tokek emang, ada yang albino, ada yang pucet kayak cicak…tp yg mahal katanya sih tokek rumah yg totol-totol itu..

      ayo..jadi ke sini nggak? :)

  7. darahbiroe says:

    wah tokek juga naik daun nuy ya mabk harganya selangit ckckckkck

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih
    salam blogger :D

  8. nh18 says:

    HUahahahaha …
    Cekaklaan Koprol ndak keruan …
    penggambaran histeria tokek di asrama putri yang sempurna …

    (I wish saya ada disana …)
    (bisa jadi sasaran pelukan jijay penghuni asrama deh …)(duar …)

    Yang jelas …
    Saya juga kaget na ..
    Katanya ada Tokek yang laku dijual 100 juta lebih … (geleng-geleng kepala …)

    Salam saya

    • edratna says:

      Om..dulu pernah diundang pesta asrama putri nggak? Atau jangan2 pernah punya pacar Apipb atau penghuni asrama Cikuray?

      • nh18 says:

        Hahaha …
        Ndak bu …
        saya ndak berani macam-macam sama anak-anak asrama Putri …

        Takut ndak bisa pulang utuh saya nanti …
        :) :)

    • nanaharmanto says:

      hahahaha…Om di asrama? jadi sasaran pelukan penghuni asrama? ow..ow..ow…kalah cepet deh dengan “yang rajin ke asrama dulu”…hihi…

      Iya tuh, Om…kupikir harganya terlalu mengada-ada, eh, ternyata bener…kapan-kapan bikin usaha sampingan ternak tokek aja Om… *dezig!

  9. monda says:

    baru bulan lalu kuliat wajah asli tokek,dikandangin,
    katanya harganya mahal, ternyata sekarang ada trend miara tokek, nggak tau yg dinilai apanya

  10. adelays says:

    Weleh mbak.. itu tokek nyeremin bang3t ya warnanya?

    Apa itu tokek yang akhirnya dihabisi dengan air panas (yang terus dingin) itukah ???

    Ceritanya menghibur sekali, hehehehe…

    • nanaharmanto says:

      Tokek emang warnanya nyeremin gitu, mungkin untuk nakutin musuhnya juga kali ya?
      Itu foto tokek minjem kok mas, ada alamatnya tuh di bawah fotonya. Dulu belum punya kamera waktu eksekusi itu terjadi. Kalau pun ada kamera, sangsi deh apakah bakal terpikir untuk memotretnya hehe :)

  11. Bro Neo says:

    Sepakat dengan Om Trainer… penggambaran histeria asrama putri yg OK banget!!

    tokeknya pasti jantan tuh.. suka melongok penghuni asrama yg sdg mandi :-)

    *jiah… cemburu kok sama tokek*

  12. isnuansa says:

    Sayang tokeknya kalo disiram air panas. Mendingan ditangkep trus dijual, muahal banget katanya sekarang harganya. Tapi dulu belom berharga kali ya…

  13. takut enggak, cuma jijik dan geli sama si tokek ini, walaupun warnanya bagus banget seperti yg di gambar diatas, teuteup………….. kalau nangkep tokek, no way …..
    salam.

  14. aku lebih takut sama TAUKE daripada sama TOKEK hihihi

    EM

    • peoxs says:

      Mau albino mau polkadot, tetep aja nggilani, kalo aku yg ada didalem WC itu mati berdiri deh kayanya, pengalamaku tentang tokek banyak bgt, aku suka (˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ) kalo liat bentuknya, phobia, pengalaman pernah ditemplokin tokek watku masih kecil bgt kelas TK tokek yg segede bagong nemplok dadaku, yg masih unyil menjeritlah aku, nempel gak bisa lepas.. Kalo inget itu rasanya pengen matiin tokek, eh skrg udah tuwir juga masih gilo dan phobia, lagi tidur kebagun liat bingkai foto belakangnya ada ndas tekek ngintip gede bgt langsung ngejeeeerit, huaaaa heboh, suami aja binggung, sampe gak tidur pindah kamar,, aduh jijik bgt kirain cm saya yg jijik dan ngeri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s