Buta Cakil

Suatu kali, aku curhat pada mama tentang suasana kerja yang nggak enak, karena si bos yang sangat narsis dan “bossy”, padahal orang ini samasekali tidak berkualitas sebagai bos.

Ditambah lagi dengan rekan kerja yang luar biasa menyebalkan karena pandai memanfaatkan kelemahan bos dan tega menginjak kepala orang lain guna menjilat bos untuk kepentingannya sendiri. Mereka memasang tampang manis tak berdosa di depan kita. Tapi di belakang kita, mereka menusuk kita dengan bilah belati nan tajam. Dengan cara pengecut pula. Betul kan, menyebalkan sekali orang-orang seperti mereka ini.

Dengan berapi-api aku mengungkapkan kekesalanku. Segala macam ekspresi kekesalanku berhamburan dalam rentetan kata-kata panjang. Tak ketinggalan keluh kesah ini dipertegas pula dengan wajahku yang bersungut-sungut.

Lalu mama berpesan seperti berikut.

Ya, begitulah dunia kerja. Dimana pun itu, bagaikan sekotak wayang. Dalam sekotak wayang pastilah ada buta cakil-nya. Kita takkan pernah tahu kapan si cakil ini akan keluar dari kotak dan dimainkan si dalang..

Hmmm…

Cespleng!

Aku tertegun. Benar juga kata mama. Sepanjang hari itu aku merenungkan kata-kata mama. Mama menyampaikan dengan cara yang ringan, tidak menggurui, tapi maknanya dalam sekali.

Buta cakil dalam wayang Jawa, -setauku hanya ada di wayang Jawa-, adalah sosok raksasa bertingkah polah “pethakilan” dan “pecicilan”. Buta cakil ini berwajah buruk, rahang bawahnya mencuat maju melebihi proporsi normal, hingga giginya menusuk rahang atasnya.

Buta Cakil versi wayang orang

foto kupinjam dari sini

Buta Cakil versi wayang kulit

gambar kupinjam dari sini

Pernah digambarkan karena bentuk rahangnya ini, buta cakil tidak bisa meludah sehingga air liurnya berleleran setiap kali dia bicara dan bertingkah pethakilan. Selain wajahnya yang tidak enak dilihat, dia pun berwatak buruk. Dia suka sekali mengadu domba dan menguji kesabaran orang dengan tingkahnya yang menjengkelkan. Lalu dia akan terbahak-bahak kegirangan jika dia berhasil mencederai ketentraman dengan keonarannya.

Dalam cerita wayang, buto cakil ini selalu muncul menghadang langkah perjalanan para ksatria dan pandhita. Tujuannya jelas, menghalang-halangi orang supaya gagal menemui kebenaran dan kebaikan. Tak pernah diceritakan ras raksasa ini menang dalam petempuran. Tokoh ini selalu mati karena tertusuk kerisnya sendiri. Mungkin ini menggambarkan bahwa manusia bisa binasa karena polahnya sendiri. Buta cakil juga selalu hidup lagi dan muncul dalam cerita lain; barangkali ini untuk mengingatkan, sifat jelek manusia yang bisa muncul kapan saja.

Nah, dengan gambaran yang tidak indah tentang si buta cakil ini, wajarlah jika ia tak pernah disukai. Ia selalu dijauhi, dicuekin, diabaikan dan dimusuhi.
Ia didekati hanya oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan keahliannya mengadu domba dan membuat huru hara.

Dalam dunia nyata buta cakil ini memang tidak ada. Tetapi sifat-sifat buruknya memang ada di sekitar kita, tersembunyi dalam diri masing-masing orang. Nah, semua pribadi ini pasti punya “topeng” untuk menutupi keburukannya.

Jadi sekarang tinggal kita yang harus pinter mencari dan memilih teman. Mau berteman dengan kawan sejati atau si cakil ini.

Aku jadi berpikir, memang lebih baik tidak usah berurusan dengan orang-orang yang menjadi sekutu buta cakil ini. Biar saja mereka yang dikucilkan, biar saja mereka yang dijauhi. Amankan periuk nasi kita, kerja dengan bener. Cuekin aja orang-orang seperti itu.

Setuju?
Pernah ketemu “buta cakil” dalam keseharian Anda?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

45 Responses to Buta Cakil

  1. aurora says:

    buta cakil dalam sebuah penampilan wayang kan kak?? hmmm… jika itu juga berfungsi sama pada dunia nyata, tonton saja, nikmati… hingga dia masuk kembali ke kotak dalang…

    • nanaharmanto says:

      Buta cakil memang “hanya” sebuah tokoh antagonis dalam wayang (Jawa). Dunia wayang dan tokoh-tokohnya yang sarat filsafat hidup menggambarkan dunia manusia dengan ragam sifatnya, jadi diharapkan penonton dapat mengambil pesan moral dari pagelaran wayang.
      Aku sendiri suka menikmati polah buto cakil yang gesit dan atraktif.
      tapi kalau di dunia nyata, hmm,,,nggak perlu nonton deh…cuekin aja hehe…

  2. arman says:

    setuju banget ama nyokap lu.
    buta cakil di dunia kerja itu ada dimana2. kerja dimanapun, pasti ada aja ketemu orang yang begitu… :D

    • nanaharmanto says:

      yup…bener tuh, di mana-mana pasti ada tuh tokoh yang baik dan jahat, protagonis dan antagonis.. Tapi kalau nggak ada buta cakil ini, mungkin kurang seru juga ya… :)

  3. DV says:

    Apa yang diomongkan Mamamu sama dengan apa yang pernah diomongkan Papaku.
    Bedanya, kamu menangkap personifikasi ‘setan’ di tubuh Buta Cakil, aku menangkapnya di sosok Burisrawa..:)

    Meh podho hahah!

    • nanaharmanto says:

      hehehe..iyo meh podho (antagonisnya)…kalau aku “lebih mengenal” Burisrowo di sisi tamak, serakah dan sombongnya. Menurutku sosok ini kurang istimewa karena yeah…mirip-miriplah sifatnya dengan para tokoh lainnya di pihak Kurawa..hehehe..

  4. ya ya ya…memang benar bhw selalu ada “setan” dalam lingkungan kita.
    cuma aku suka kasihan pada teman yang “kebetulan” mirip si buto cakil ini, alias rahang bawahnya lebih maju, padahal orangnya baiiiiik banget.

    EM

    • nanaharmanto says:

      sayangnya “setan” ini bisa berwujud apa aja ya Mbak, cantik jelita atau ganteng..dan penampilan mereka memang sangat menipu..

      Tentang teman yang kebetulan mirip buta cakil itu…hmmm…no commment deh… :)

  5. zee says:

    Ya mbak. Ini mirip dengan perempuan belagu yg saya bahas di postingan saya bbrp waktu lalu. Mereka ini punya sifat buruk walaupun sebenarnya bs dibilang mereka gak dikucilkan juga, krn kemampuannya menjilat itu kadang membuatnya menjadi org yg dipercaya, padahal culasnya bukan main.
    Tapi betul mbak, orang2 kayak gt memang pasti ada terus, minta digetok! Kekekeke…

    • hilda says:

      setuju dengan mbak Zee, saya menjumpai buta cakil di tempat kerja saya. Buta cakil adalah orang yang suka culas dan pintar menjilat

    • nanaharmanto says:

      Yeah, mereka ada di mana-mana…menurutku sih, kalau sampai seseorang sudah digunjingkan hampir tiap hari, diomongin banyak orang itu sudah merupakan bukti bahwa orang tersebut sedang dikucilkan. hehe…nggak usah dianggep deh orang kayak gitu…

  6. septarius says:


    gimanapun jahatnya si cakil perannya cukup penting untuk menguji para satria sejati..
    kalo nggak ada yang buruk, jadi nggak ada pembanding mbak..
    hi..hi.. :)
    ..

    • Ehm…..

      Biarpun rasanya teteup pengen menjadikan sansak mereka yg berjiwa penjilat ini, tapi in the end aku jadi cape sendiri ngurusinnya. Setuju sama, Septa, akhirnya kuambil sisi baiknya aja : meningkatkan level diri sendiri ;)

      Plus, latihan sabar yang ternyata emang SUSAH BANGET :(

      Eniwei, tema postingan terakhir kita ini podho yo, Mbak. Ah, jangan2 kita sehati :mrgreen:

    • nanaharmanto says:

      yup bener Ta…
      aku sendiri suka menikmati tarian dan polah buto cakil wayang orang. juga gerakan cakil wayang kulit. setauku, hanya buta cakil yang kedua lengannya bisa digerakkan. Wayang buto lainnya hanya lengan kiri saja yang bisa digerakkan.
      Konon, di adegan atraksi cakil wayang kulit ini juga membuktikan salah satu kepawaian si dalang lho…(tuh kan, si cakil ada gunanya juga!)
      Kalau adegan buta cakil udah kelar, dia udah dood, hihi…jujur aja, adegan selanjutnya kurang menarik lagi buatku…hehe…

  7. krismariana says:

    wah, salut dengan pengetahuanmu akan karakter wayang si buto cakil itu. aku cuma tahu tampangnya. tapi aku nggak tahu karakter persisnya. cuma jahat doang. wis kui tok sing aku ngerti. kalau soal buto cakil yang ileran (hihihi), aku nggak tahu. kalau di dunia nyata kita bisa mengenali buto cakil dengan mudah lewat “cakil” dan kebiasaannya yang ileran itu, mungkin lebih enak ya?

    tapi aku kok kadang berpikir, jangan2 kita sendirilah si buto cakil itu? walaupun kadang aku pikir aku orang yg baik2 saja, tapi kita kan tidak tahu persis apa pendapat teman2 kita soal diri kita kan? mungkin lebih baik kita juga mawas diri, selalu mengevaluasi diri sehingga kita tidak menjadi buto cakil itu sendiri.

    • nanaharmanto says:

      Aku “kenal” si buto cakil ini dari cerita-cerita dan komentar simbah buyutku dulu waktu aku masih kecil. Dulu aku suka nonton wayang orang dan wayang kulit di TV lho…tapi adegan keluarnya si cakil ini aja, seruuu…
      adegan lainnya enggak kutonton hihi..

      Mungkin banget kita pun menjadi buto cakil, sandungan, atau musuh bagi orang-orang tertentu…jadi setuju denganmu kita perlu mawas diri jangan sampai menjadi buta cakil…
      *jangan-jangan aku jadi buta cakil bagi beberapa orang ya?* :)

  8. bukan hanya di dunia kerja, disekitar kehidupan sehari2pun ada buta cakil diantara kita.
    tinggal bagaimana pintar2 kita menyikapinya saja ya Mbak Nana.
    Hebatnya Mbak Nana bisa detil menceritakan ttg si buta cakil. :)
    semoga kita bukanlah si buta cakil dlm kehidupan ini,amin.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      Ya, semoga kita bukan buto cakil bagi orang-orang di sekitar kita, Bunda…

      Terima kasih Bunda, saya hanya menyampaikan kembali deskripsi tentang buta cakil ini yang saya tonton di TV dulu, dan juga hasil mendengar cerita dari simbah buyut saya dulu, plus ditambah juga dengan baca-baca artikel wayang…

  9. edratna says:

    Mamamu sungguh hebat…
    Dan wayang ini sebetulnya memang melambangkan sifat manusia. Bahkan dalam wayang yang berwatak ksatria, selalu ada kelemahannya, seperti juga kita yang tak sempurna.

    Dan di dunia ini banyak buto cakil, tinggal kita memilih, apakah kita mau dihasut, diadu domba atau tidak…

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih pujiannya, Bu…

      Setuju Bu Enny, wayang memang sarat dengan ajaran dan pesan moral tentang kehidupan manusia, yang disampaikan dengan apik oleh para dalang dan pelakon wayang…

      Pilihan ada di tangan kita masing-masing ya Bu, mau termakan hasutan si cakil ini atau tidak…

  10. septarius says:


    Pendapate mbak Kris kok manteb tenan yo..
    ..
    Buto diterjemahno buta kok rasane gak sreg to mbak..
    Hi..hi.. :-)
    ..

  11. lina says:

    yoi bener bgt jangan sampai kita terpengaruh sama orang seperti ga ada untungnya banyak ruginya he..he..,jauh-jauh deh..

  12. Kika says:

    Buto Cakil. Sebuah pelengkap yang menggambarkan kelengkapan dunia dalam kehidupan ini. Tak ada dia tak ada pula kebaikan.

  13. vizon says:

    waduh Na… tulisan ini kok pas banget dengan yang barusan aku alami? aku tengah berhadapan dengan seorang “buta cakil”, yang benar-benar membuatku sulit bernapas dengan nyaman, jantung berdegup kencang, dan membuat hati ini bergemuruh…

    tapi, itulah kenyataannya, dunia ini selalu ada hitam dan putih. jadi, hadapi saja dengan santai… :)

    • nanaharmanto says:

      Buta cakil di dunia nyata? aha! barangkali Uda termasuk ksatria atau pandhita-nya nih…hihihi…

      Meskipun aku nggak tau apa permasalahan yang sedang Uda hadapi, dan nggak tau siapa oknum tersebut, aku berharap semoga Uda tetap sabar ngadepin orang tersebut deh… bener, santai aja Uda… perlu bantuan? hihihi…*mulai pethakilan, rahang mulai maju, menjelma jadi buta cakil….

  14. anfit says:

    Halo mba Nana…
    wuih..tulisannya manteb tenan… :)
    ngomong-ngomong, mampir ya ke tempatku, ada kado special buat mba Nana.. :)
    http://anyanfit.wordpress.com/2010/03/11/my-first-award/

  15. soyjoy76 says:

    *lirik kiri kanan, nyari buta cakil*
    Loh…kalo gak cuma satu orang yang berkelakuan kayak gitu piye Mbak? Buta Cakils kah? hehehe…

    Ta’ pikir-pikir, barangkali hikmah adanya Buta Cakil itu kita jadi belajar lebih sabar sambil tetap waspada sama kelakuan orang-orang di lingkungan kita.. Iya tho, Mbak?

    • nanaharmanto says:

      *yeee…nggak nyadar sedang ninggalin komentar di sarang buta cakil? hihihi….
      Kalo banyak cakilnya namanya gerombolan cakil hehehe…

      Hmmm….bener juga tuh, ada buta cakil berarti ada “warna lain”. seperti pagelaran wayang, tanpa adegan buta cakil tanding, nggak seru!!
      Kita hanya perlu berkaca, kalau kelakuan kita kayak si cakil ini, jangan-jangan malah kita yang menjadi public enemy :)

  16. nh18 says:

    Filosofi dalam wayang itu memang luar biasa ya Na …

    Potret kehidupan manusia itu sendiri …

    Yang jelas “Buta Cakil” dialam nyata … seringkali berwajah Guanteng dan Cuantik lho Na …
    Suka ndak ketauan secara fisik …
    Jadi susah membedakannya …

    Hehehehe

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Iya Om, wayang memang sarat dengan filosofi dan pesan moral yang dalam maknanya.

      “Buta cakil” di alam nyata memang punya banyak topeng rupawan Om…manis bertutur pula…sering kita terkecoh ya…jadi, waspadalah! waspadalah!! gitu pesan Bang napi. hehehe… :)

  17. adelays says:

    Awal saya membaca judul posting ini, saya pikir dalamnya akan membahas salahsatu jenis kebutaan, ternyata saya salah.. heheheh..

    Betul mbak.. Malas sekali bergaul dengan orang yang merugikan banyak orang macam buta cakil ini.

  18. tikno says:

    Hal-hal yang “baik” dan yang “jelek” selalu saja ada untuk menemani kehidupan kita, agar kita tahu mana yang baik dan yang jahat.

    Begitulah yang pernah saya baca dari sebuah buku.

    • nanaharmanto says:

      Hmmm…buku apa ya itu Mas/Pak?
      saya jadi kepengen baaca juga deh…

      salam kenal ya, terima kasih sudah berkunjung ya…

      • tikno says:

        Saya lupa judulnya karena sudah lama sekali saya membacanya sewaktu masih kuliah. Yang jelas buku tersebut membahas tentang filosofi hidup dan hanya kalimat di atas yang paling saya ingat. :)

  19. pethakilan says:

    hehehehehe.. jujur mbak saya nyasar di sini, nyasar pas pethakilan kesana kemari nyari gambar buto cakil.

    walo karakternya ampun2an jeleknya tapi dari semua karakter wayang, saya malah paling suka sama si cakil ini. buat saya dia jujur, jujur nunjukin jeleknya, munafik yg jujur. makanya saya suka kagum sama org2 yg bisa mirip cakil di dalam kehidupan nyata. hhehehhehe..

    btw salam kenal ya mbak.. :)

  20. sajotoprima says:

    wah saya juga nyasar ni, mencari watak2 buto malah ketemu disini,
    terima kasih menjadikan referensi bagi saya

  21. gundoel says:

    cakil : setia ( istrinya satu ),jujur apa adanya ( pethakilan n pecicilan ) menjadi pelindung ( helm cakil ). Next Arjuna : playboy ( istrinya bnyak ) memberikan tempat untuk berbuat mesum n maksiat ( hotel arjuna ) dan bkan pelindung ( gk ada helm arjuna )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s