Dongeng

Sedari kecil, bahkan sebelum aku bisa membaca sendiri, aku suka dongeng. Dari dongeng 1001 malam sampai dongeng rakyat Indonesia. Dari cerita Walt Disney hingga segala dongeng yang dikarang sendiri oleh mama atau nenekku yang nyentrik yang  biasa kupanggil  Bu Sum. Sering sekali Bu Sum membaca buku dongeng yang luar biasa tebal. Saat aku mencoba membacanya, tak satupun kata yang kumengerti. Ow..ow..ow…  buku tebal bergambar cantik itu ternyata berbahasa Belanda.

Bu Sum menceritakan dongeng itu dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Biasanya, setelah makan malam, kami duduk di kamar Bu Sum mendengarkan cerita. Tak lupa disampaikannya nasehat dari cerita-cerita itu.

Tak jarang kami disuruh untuk menirukan suara tokoh binatang dalam cerita itu. Kami ribut berkukuruyuk, berkotek, menggeram, mengaum, menguik-nguik, menggonggong, mengeong dan melenguh. Kami juga sering diminta menirukan tingkah binatang. Hebohlah kami meloncat bagai kelinci, merangkak menirukan sapi, atau mendengus-dengus seperti anjing. Bu Sum pun terbahak-bahak melihat tingkah kami.

Kadang-kadang sambil kami kruntelan dikelonin mama sebelum tidur, mama juga mendongeng. Dongeng dalam bahasa Jawa. Ceritanya bisa bermacam-macam, mulai dari Ande-ande lumut, hingga Cinderella.

****

Hmm…dari kedua pendongeng hebat itulah, imaginasiku berkembang. Aku suka gaya cerita mereka. Sederhana, dengan bahasa lembut, kadang kekanakan, penuh ekspresi. Suara mereka pun bisa berubah menirukan suara putri jelita nan mendayu. Lalu sesaat kemudian suara mereka bisa berubah menjadi suara nenek-nenek yang serak, atau suara berat raksasa jahat.

Suara mama dan Bu Sum, mampu menghanyutkan kami dalam alur cerita. Kami ikut berdebar-debar saat tokoh jahat dan tokoh baik hati bertemu. Atau merasa sedih dan iba pada pengemis renta yang kelaparan.

Sukaria pesta dansa di kerajaan, -penuh dengan putri-putri raja bergaun mengembang indah dan para pangeran gagah rupawan- sedemikian indah menakjubkan seolah kami sendiri ikut hadir dalam pesta megah itu. Pendongeng ulung itu menggambarkan kerajaan dengan begitu detil. Para raja, ratu, berikut pangeran dan putri kerajaan diceritakan begitu indah dan sempurna. Tokoh buruk rupa dan miskin pun menjelma dalam imajinasiku sedemikian nyata dan hidup.

Lebih hebat lagi, mereka sabar menghadapi celoteh dan kecerewetan kami. Kenapa begitu? Kenapa begitu? Terus? Terus? Terus?

Ah, betapa sering kami tak sabar mendengar kelanjutan dongeng itu. Nah, kalau cerita itu sangat panjang, maka dongeng akan berlanjut malam berikutnya.

Tanpa kusadari, aku merekam gaya mendongeng mama dan Bu Sum. Ketika aku mengajar anak-anak jalanan di kali Code dulu, mereka juga kadang-kadang memaksaku untuk bercerita atau mendongeng. Hanya saja, aku tak sesabar mama dan Bu Sum. Aku mudah merasa bete kala ceritaku diserobot, atau ditimpalin, atau justru dihina oleh anak-anak kaum marginal itu. Mereka kadang-kadang memang sok tau dengan gaya yang menyebalkan hehe…

Untuk mengantisipasi hal itu, aku mengarang sendiri dongeng yang kuceritakan. Asal ngomong, asal comot, ada ide apa di kepala, itu yang terceritakan. Susahnya, kalau di hari lain, mereka menuntut aku menceritakan ulang dongeng yang mereka anggap bagus. Nah loh….aku kadang lupa ceritanya. Sehingga, kadang-kadang aku harus ngibul sana sini.  Ini pun jadi masalah tersendiri. Mereka ingat apa yang pernah kuceritakan, sehingga protes kalau kali ini ceritaku melenceng dari cerita sebelumnya. Mati kutu deh…..jadi,  sebelum benar-benar mati gaya, aku suruh mereka menceritakan sisa cerita itu bergantian. Lalu, aku jadi ingat lagi dongeng hasil kibulanku itu hihi…. (waduh, otak calon guru emang nggak boleh beku!)

Tapi di balik semua itu, rasanya senang sekali melihat wajah-wajah mereka yang tertarik dan penasaran mendengarkan mengikuti ceritaku. Kadang-kadang, aku geli melihat ekspresi mereka, mata mendelik lebar, menahan napas lalu melongo dan akhirnya tertawa berderai-derai….

(Dalam hati bersorak yipppiii…kena kibul dah lu!…)

****

Beberapa waktu yang  lalu, aku menemani keponakanku yang menangis karena terbangun tengah malam. Nah, untuk menenangkannya, aku mencoba mendongeng. (Hmmm…dongeng yang payah deh) Pasalnya, keponakanku kurang lancar berbahasa Indonesia, sedangkan bagiku, bahasa Jerman, duh, meneketehe dah….

Jadilah, bermodalkan buku cerita favorit keponakanku itu sejak dia berumur 2 tahun,-semua kata dalam bahasa Jerman yang dibacakan hampir setiap malam oleh mamanya hingga khatam berkali-kali-, aku mulai ngibul. Buku kesayangan ini dibawa ke mana pun dia pergi, dan hasilnya, beberapa halamannya pun rusak…

Buku cerita kesayangan...

Astaga! Pusing deh! Aku nekat bercerita menunjuk-nunjuk gambar, ngoceh dalam bahasa Indonesia, kadang-kadang kuselipkan dua tiga kata dalam bahasa Jerman yang kutahu.

Entah mengerti atau tidak, yang jelas keponakanku terdiam dari tangisnya. Tampak mendengarkan suaraku.

Kuceritakan sebisaku, mengandalkan segala ingatan akan dongeng yang dulu dikisahkan oleh mama dan Bu Sum. Heran, kenapa justru yang nyantol di kepalaku cerita dari masa kanak-kanakku ya, dan bukannya jalan cerita yang sama yang bisa kubaca sendiri?

Oh, well, satu cerita berlalu. Keponakanku menunjuk cerita berikutnya. Dan berikutnya. Si Kucing Bersepatu Lars, Si Tudung Merah, lalu Putri Salju. Lalu….mata beningnya mengerjap, lalu terlelap…..

Wah, dalam hal ini, aku bukan pendongeng yang baik. Tapi mungkin, ini analisis super ngawurku, anak-anak kadang cukup mendengarkan suara yang membuatnya tenang. Mungkin cerita dalam kata-kata asing tak penting lagi. Toh sebenarnya mereka sudah tahu persis dan hafal luar kepala dongeng tersebut. Mereka hanya perlu suara yang membuainya, mengantarnya ke alam mimpi.  Ah, analisis sok tau ini….

****

Kucing bersepatu lars

Si Tudung Merah

Putri Salju

Anda suka dongeng? Punya pengalaman mendongeng?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments, Intermezo and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to Dongeng

  1. arman says:

    gua juga suka ama dongeng2!!!
    pas kecil sih bokap nyokap gua bukan orang yang suka mendongeng. tapi mereka sangat suka ngebeliin kita buku2 dongeng. kalo kita minta beli buku cerita pasti dikasih. jadilah buku dongeng kita tuh banyak banget. ya disney ya hand christian anderson, dll. dongeng2 tradisional juga banyak.

    gua suka sekali baca2 buku dongeng. bisa baca berulang2 lho. ya itu dulu ya pas kecil, sebelum mengenal yang namanya novel. hahaha.

    sekarang giliran udah punya anak, mulai berusaha untuk mengenalkan sebanyak mungkin dongeng ke andrew. kita juga rajin beli tuh kumpulan dongeng2nya disney dan buku2 lainnya. si andrew suka juga sih diceritain. tapi ternyata… susah lho ya ngedongeng, apalagi kalo gak sambil baca bukunya. hahaha. ribet! :P

    pengennya cepet2 anaknya bisa baca biar bisa baca sendiri aja dah… hahaha

    • nanaharmanto says:

      Sampai sekarang aku kadang juga masih suka baca dongeng lho… nebeng baca di toko buku hihihi…

      Asyik dong ngedongeng buat Andrew…kalau dia besar nanti dia pasti inget sering didongengin sama papanya…
      nikmati bener-bener waktu buat dongengin Andrew sekarang,.. mana tahu kan suatu saat kau kangen ngedongeng buat dia, sementara dia udah gede dan seleranya udah berubah… :)

  2. DV says:

    Aku sering sepertimu, mendongeng tapi lantas diimprove sendiri…

    Menurutku, untuk mendongeng ke anak kecil, kita emang perlu belajar setidaknya menghafal tokoh-tokoh yang mereka sedang gemari dan ini ngga gampang karena kita yang semakin menua dan cerita-cerita yang semakin terus berkembang.

    Untuk mendongeng ke orang2 tua utamanya dalam membawakan renungan firman, sesekali nih, aku pake parable yang apapun dan siapapun tokohnya yang penting nilai-nilai ceritanya menancap ke otak mereka.

    Dan itupun juga ngga gampang … :)

    • nanaharmanto says:

      wew….ampuh kowe Don, bawain renungan firman? haduh, nek aku nggak pede…cuma sekali doang mimpin ibadat sabda…itupun kubuat jadi semacam sharing aja…hihi…
      Tapi bener Don… “mendongeng” untuk irang tua itu sulit, soalnya mereka udh bisa mikir, nggak bisa lagi dikibulin :)

  3. ikkyu_san says:

    dongeng suka banget!!! TAPI aku tidak pernah bermimpi jadi tokoh dalam dongeng seperti cerita-cerita princess di Disney hihihi.
    Kalau aku pintar membacakan dongeng tentang hantu tuh! Riku dan Kai pasti ketakutan kalau aku yang baca…hihihihi

    aku pernah posting ttg mendongeng ini di http://imelda.coutrier.com/2008/07/26/memorabilia-2/

    EM

    • nanaharmanto says:

      hihihi….ngebayangin Riku dan Kai yang ketakutan tapi penasaran dibacain cerita hantu…
      Takutnya kenapa tuh, Mbak? karena ceritanya, atau karena cara bacanya? :)

      Nanti kalau mereka udah gede pasti deh inget pernah ketakutan waktu diceritain tentang hantu…mungkin malah bisa ngetawain diri sendiri kali ya? hihihi…

  4. zee says:

    Kalau aku sekarang sering mendongeng untuk anakku tapi ya karangan sendiri. Anakku belum bisa diajak mendongeng sambil baca, krn nanti dia bakal ancur2in majalahnya malahan.

    Tapi aku jadi ingat waktu kecil suka sekali baca kisah Tudung Merah itu :).

    • nanaharmanto says:

      Jadi kreatif ngarang dongeng untuk Vay ya? :)
      iya sih umur segitu masih hobi ngancurin buku hihihi…
      Tudung Merah juga jadi salah satu cerita favoritku tuh…

  5. Riris E says:

    wah..anakku blum sampai di tahap suka dongeng..mereka baru senang kalau dinyanyiin sambil diusap2 punggungnya :D

    tentang dongeng..aku dulu jg suka didongengi sama Ibuku dan Eyangku. Yang paling berkesan dan sampai masuk ke imajinasiku adalah dongeng Momotaro (bener gak nulisnya ya?)

    • nanaharmanto says:

      Kau ibu yang hebat, Mbak… mau nyanyiin sambil ngusap-usap punggung. dua-duanya sekaligus ya, :)
      inget postingmu tentang anak-anakmu yang suka rebutan mamanya… hihi…

  6. septarius says:

    ..
    Yang kuinget dari dongeng masa kecil cuman si kancil sama cerita buto ijo dan mbok rondho..
    Dikit-dikit masih inget jalan ceritanya.. :-)
    ..

    • nanaharmanto says:

      Aku masih ingat, nenekku pernah cerita…
      dulu waktu mamaku masih kecil, mamaku didongengin sama nenekku tentang buto ijo itu.
      mamaku tanya: kenapa disebut buto ijo? nenekku bilang karena semuanya ijo, rambut, kulit, gigi, mata, semua ijooo…
      trus mamaku tanya lagi: kent*tnya juga ijo?
      hahaha….ada-ada aja… :)

  7. nh18 says:

    Dongeng ??
    mmm … dalam bentuk bacaan … dulu saya suka …
    Tetapi lama kelamaan saya tidak suka … saya lebih suka yang realistis …

    Mendongeng ?
    mmm suka-suka nggak sih …
    Seingat saya … saya hanya beberapa kali saja mendongeng …
    ini terjadi waktu KKN …
    sebetulnya bukan mendongeng … lebih tepat menceritakan kembali … ceritanya mengenai Rasul atau Nabi …
    Dan … dalam bahasa Sunda …
    Karena tempat kkn saya ini di Rural yang jauh dari Kota dan bahasa yang dipakai adalah bahasa Sunda …

    Kitu tah …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Mungkin semakin gede semakin ngerti kalau dongeng itu nggak nyata ya Om, jadi menjelang remaja dan dewasa akhirnya ninggalin dongeng dan beralih ke bacaan yang lebih realistis…cerpen atau novel…
      Aku dulu juga sempet tak menjamah dongeng waktu remaja. Tapi karena terlanjur suka dan perlu,(utk lomba mendongeng) akhirnya ya baca-baca lagi dongeng-dongeng itu :)
      Mendongeng dalam bahasa Sunda? kayaknya seru tuh… kalau aku yang mendengarkan pasti nggak mudeng hihihi… :)

  8. aurora says:

    wah… aku suka banget dongeng kak… dari keil malah… mungkin itu yang bikin aku pinter berimajinasi… namun sekarang tidak lagi… dongeng bagiku terasa amat sederhana.. sekarang lebih suka novel dan cerpen… hheeh

    • nanaharmanto says:

      Mungkin selera tentang cerita pun mengalami metamorfosa (haiyah, bahasaku) dari alam pikiran kanak-kanak yang memandang dongeng itu indah dan menarik, ke alam pikiran remaja yang cenderung suka pada kisah-kisah heroik, lalu berkembang terus dan terus…hingga sampai pada kematangan “selera” tertentu… :)

  9. syaiful says:

    wah bagus sekali kalau dibiasakan dengan anak sebelum bobo mendongeng dulu, saya biasa juga sebelum bobo anak saya dulu saya biasakan mendongeng, hanya dongeng kampung yang sudah biasa seperti dongeng si kancil ayam jago, ikan emas dan lain-lain, salam kenal saja.

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga, Pak Syaiful…
      terima kasih sudah berkunjung ke sini ya…
      Saya sekarang malah selalu penasaran dengan dongeng kampung yang diceritakn turun temurun, yang bahkan ada beberapa yang tak sempat dituliskan…
      mendongeng jadi sarana membina hubungan akrab antara orang tua dan anak ya Pak…
      salam hangat, selalu…

  10. edratna says:

    Saat anak-anak masih kecil, saya selalu mendongeng dan rasanya bahagia melihat mereka memelukku di kanan kiri dengan mata terpaku, ikut sedih, gembira sesuai alur ceritanya….

    Saat mendongeng seperti ini keakraban hubungan ibu dan anak-anak terbina….dan kita bisa memasukkan pesan moral pada mereka.

    Sekarang? Setelah anak-anak besar, kebiasaan kruntelan, mengobrol, cerita bersama antara ortu dan anak-anak tetap terbina…ahh Nana, setelah mereka jauh, saya hanya bisa mendengar suaranya lewat telepon…atau terkadang YM an.

    • nanaharmanto says:

      Wah, Bu Enny ini benar-benar super mom, di tengah segala kesibukan masih sempat mendongeng untuk anak-anak…hmmm sungguh beruntunglah mereka…
      Kelak saya juga ingin mendongeng untuk anak-anak sendiri.. :)

      Mungkin kebiasaan mendongeng itu menjadikan anak lebih terbuka ya Bu, benar nggak ya?
      Memang sekarang ada telepon yang memudahkan komunikasi jarak jauh, tapi kok tetep saja lebih asyik ngobrol langsung ya Bu, bisa melihat ekspresi masing-masing..
      salam hangat, Bu…

  11. krismariana says:

    sampai sekarang aku suka dongeng. dan sekarang aku mengoleksi buku dongeng cerita anak-anak.hihihi. biar aja wlpn udah setua ini dan belum punya anak, aku tetep menikmati dongeng. biar utk anak2, nilai2 yg dimasukkan di dlm dongeng itu cukup dalam lo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s