Telur Paskah

Dalam keluargaku, setiap hari Paskah selalu ditunggu. Menjelang Paskah, hari Sabtu, mama menyiapkan beberapa telur ayam yang telah direbus. Lalu kami, -anak-anak- bersama mama dan Bu Sum (nenekku) mulai menghias telur. Seru loh… kami bebas menghias telur-telur itu. Boleh dilukis dengan spidol, atau ditempel dengan kertas krep atau manik-manik. Macam-macam kreasi kami.

warnanya cerah ya....

telur Paskah yang cantik-cantik...

Gambar kupinjam dari sini dan sini.

Yang paling mudah memang membuat kepala orang, tempel dengan kapas putih, jadilah jenggot. Tempel dengan benang wol, jadilah rambut. Tempel dengan mata buatan, lukis bibir dan hidungnya, lalu, buat topinya. Topi kerucut yang paling mudah, atau topi dari kainperca dan renda untuk topi gadis….dan..menjelmalah sebuah kepala.

****

Aku selalu kagum pada hasil karya mama. Sesimpel apapun, selalu menjadi yang terindah di antara telur hias kami. Aku ingat, mama pernah menghias sebuah telur dengan kertas krep yang dibentuk sedemikian rupa dengan kerut-kerut menggunakan lidi. Huh….rasanya ribet melihat mama membuat helai-demi helai kertas krep itu. Setelah terkumpul, mama merekatkan kertas krep berbentuk serupa kelopak itu, satu persatu dengan teliti, selapis demi selapis.

Hmmmm….aku mulai tertarik melihat keasyikan mama. Belum jadi pun sudah membuatku kagum. Setelah selesai…hupla! mama menciptakan sebuah bunga berwarna orange cerah…. menurutku sih, lebih terlihat seperti nanas..hihi…tapi apapun itu, indah sekali, aku terkagum-kagum pada kreatifitas mama.

Kupandangi telurku sendiri..hmm..menyedihkan…ancur….jauh dari indah hihihi….

Pernah juga mama melukis sebuah telur dengan spidol berwarna-warni. Tangan mama memang lihai sih, semua coretannya begitu yakin dan percaya diri, dan hasilnya, corak abstrak atau batik yang indah..

Aku kadang mencoba meniru lukisan mama, tapi hasilnya mengecewakan.

Mama dan Bu Sum sendiri tak pernah mencela karya kami, se-amburadul apapun, mereka tetap memuji usaha kami. Lalu telur yang telah selesai kami hias akan dipajang hingga hari Minggu Paskah. Hari Senin sore, telur-telur itu terpaksa harus dikupas dan dimasak karena telur rebus tak bertahan lama. Kadang rasanya sayang sekali telur-telur hias itu harus dikupas, mengingat usaha yang lumayan lama untuk menghiasnya. Tapi lebih baik begitu, supaya tak menjadi mubazir…

Seingatku, mama hanya menghias satu atau dua telur, lalu diberinya kesempatan kepada anak-anaknya untuk berkreasi sebebas kami dengan belasan telur yang lain. Sedangkan mama sendiri melanjutkan aktivitasnya memasak atau beberes rumah. Sesekali mama bergabung lagi, melihat kesibukan kami, sambil tak lupa memuji karya kami.

Satu pelajaran yang bisa kupetik sekarang: sibukkan anakmu dengan kegiatan positif, dan lanjutkan pekerjaanmu tanpa terganggu… :)

****

Selama beberapa tahun, rumahku dijadikan tempat untuk Sekolah Minggu, sebuah kegiatan rohani untuk anak-anak. Sekarang Sekolah Minggu ini dipusatkan di gereja. Dalam kegiatan itu kami diajari menyanyi, berdoa dan mendengarkan cerita dari alkitab, lalu sang pembimbing akan memberikan nasehat atau intisari dari cerita tersebut.

Nah, suatu kali, dalam rangka Paskah, diadakan lomba menghias telur untuk anak-anak Sekolah Minggu. Mama telah menyediakan puluhan telur rebus untuk kami hias. Segera saja kami sibuk berkreasi sambil berceloteh dan saling melihat pekerjaan teman.

Tiba-tiba seorang dari kami terkekeh-kekeh…ternyata, seorang anak berumur 4 tahun tengah sibuk mengupas telurnya, kulitnya berceceran di kursi dan separuh telurnya telah masuk dalam perut gembulnya. Teman-teman yang lain pun segera melihat ulah anak itu. Sadar dirinya menjadi perhatian, anak itu menjadi malu dan akhirnya menangis keras sekali.

Seorang frater pembimbing menenangkannya dan menggendongnya. Mama juga bilang, tak apa-apa telur itu dimakan, karena dia masih kecil dan belum mengerti.

****

Setelah itu, kami digiring ke halaman belakang rumahku. Disitu kami mengadakan permainan Samson, Delilah dan Singa. Permainan ini diadaptasi dari cerita alkitab, di mana si Jagoan tak terkalahkan, Samson, hanya bisa dikalahan oleh seorang jelita Delilah. Sedangkan Delilah kalah oleh singa. Singa sendiri kalah di tangan Samson.

Setelah permainan seru itu berakhir, diadakan lomba mencari telur paskah. Kami harus berusaha mencari telur-telur itu. Siapa yang mendapat telur terbanyak, dialah pemenangnya. Wajah-wajah temanku begitu berbinar bersemangat.

Begini petunjuknya.

  1. Carilah di  dalam kebun depan dan belakang.
  2. Tak perlu mencari di dalam rumah karena takkan ada telur tersembunyi di situ!
  3. Tidak boleh mencari di luar tembok pembatas halaman rumah kami.

Begitu aba-aba diberikan, kami segera berpencar dan bersaing mencari telur-telur yang telah disembunyikan papaku.

Dua orang teman bertanya padaku, di mana telur-telur itu disembunyikan. Hidih…mana kutahu? Sepanjang waktu aku bersama mereka!

Hahaha…papa memang pintar! Rupanya, waktu kami sibuk menghias telur di depan rumah, papa bergerilya menyembunyikan telur-telur di halaman belakang. Saat kami bermain Samson di belakang, papa menyembunyikan telur di halaman depan!

Kehebohan dan bahana gelak tawa pun terjadi.

Seorang anak nyemplung ke kolam dan segera diperintahkan untuk naik. Mama terbahak-bahak saat seorang anak nyelonong masuk dapur dan mulai uprek di situ; diusirnya temanku itu sambil terkekeh. “Lho..lho?? hush! Nggak ada di sini! Sana! Semua di tengah kebun!”

Seorang temanku, segera mengobrak abrik sampah di pojok kebun. Dengan tangan kosong! Bu Sum tergelak-gelak melihat tingkah anak itu. “Hohohoho….Tidak ada di situ! Nggak mungkin di tempat sampah!” seru Bu Sum. Aku tersenyum geli mengenang saat itu. Anak yang ngeker-eker tempat sampah itu, sekarang menjadi seorang Pastor.  masih ingat nggak ya dia? Hihi…(halow, Romo Pur!) :)

****

“Aku dapat!”

“Horree!! Aku entuk!!”

Seruan beberapa temanku girang bersahutan dari beberapa sudut kebun. Yang lain pun semakin bernafsu separuh iri melihat kesuksesan mereka.

Aku bertekad harus bisa, aku harus dapat!

Dari balik sebuah kuali bekas, aku menemukan sebuah telur. Yuhhuuu….!! dan hanya itu satu-satunya telur yang kudapat.

Kulihat temanku bersemangat membalikkan sebuah pot tua. Tiba-tiba dia terlonjak njondhil sambil misuh-misuh dan menghempaskan pot itu. Alih-alih telur, dia justru menemukan seekor pangeran kodok  hitam legam! Hahaha…

Seorang kawan yang lain tak kalah unik juga. Dia menemukan sebutir telur, tapi  tak seorang pun merasa menyembunyikannya di tempat tersebut. Usut punya usut, telur itu ternyata masih mentah. Hihihi…nggak sengaja, telur si Burik yang ditemukannya!

Beberapa saat kemudian, setelah tak lagi terdengar seruan atas penemuan telur, acara mencari telur dihentikan meskipun beberapa dari kami masih penasaran karena masih bertangan hampa. Susah sekali mengumpulkan anak-anak yang tengah bersemangat begitu.

Seorang anak tergopoh memegang ujung kaosnya di depan perut. Di dalamnya entah lima atau enam telur berhasil ditemukannya. Hebat ya?

Setelah telur itu dihitung…masih ada beberapa yang masih tersembunyi. Kami penasaran sungguh. Belasan anak ngubek-ubek seantero penjuru kebun dan tetap ada juga yang masih tersembuyi? Tak masuk akal…

“Huu…Pasti di dalam rumah!” tuduh seorang anak.

“Jangan-jangan di dalam kolam!”

Lalu papa menunjukkan rahasianya. Papa merogoh sebuah ceruk di bagian bawah sebatang pohon kelapa yang (ternyata) berongga. Lalu tangan papa mengangkat sebutir telur dari dalamnya. Kami berseru-seru heboh. Pantas saja tak ketemu, blas tak terduga…

Lalu rahasia yang lain. Papa mengulurkan tangan pada serumpun tanaman sejenis pandan. Dari dalam tangkupan daun pupus pandan itu, sebutir telur muncul. Kami semakin ramai berseru. Kagum, gemas, penasaran…

“Hhuah….tau gitu, aku nyari di situh!”

“Lhaa…padahal aku nemu telur di akar  di bawahnya je, kok nggak terpikir di pupusnya ya?”

Macam-macam seruan mereka, gemas, sok tau, sesal, well, khas anak-anak….

Lalu papa memetik semacam buah. Aku heran, sejak kapan pohon itu berbuah ya?

Cemerlang sungguh! Papa membungkus telur-telur dengan kertas krep warna hijau, lalu menggantungkannya di pohon dengan benang. Hihihi…kami benar-benar terkecoh. Mana terpikir kalau telur bisa tergantung dan dikamuflase bungkus serupa warna daun?

Papa masih menunjukkan beberapa tempat rahasia lagi, tapi yang kuingat jelas sampai sekarang hanya tiga itu;  kuanggap ide paling jenius yang pernah kujumpai.

****

Sekarang kegiatan mencari harta karun telur Paskah masih ada nggak ya?

About these ads

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to Telur Paskah

  1. ikkyu_san says:

    aduh Na, aku juga kangen kegiatan mencari telur. Tapi kalau kami bukan di halaman, soalnya halaman rumah terlalu luas…bisa-bisa yang ngumpetin lupa sendiri hihihi. Papa dan mama biasanya sembunyikan di dalam rumah. Dan pasti dihitung dulu sebelumnya ada berapa butir, karena kalau lupa bisa berbau telur busuk tuh.

    Kalau ada anak yang tidak dapat biasanya nanti akan diberikan hints seperti, “dingin” kalau jauh, “hangat” kalau dekat, dan “panas” kalau dekat sekali.

    Kalau di jkt mustinya keluarga kami masih mengadakan kebiasaan ini.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Egg hunting memang selalu menyenangkan ya Mbak? apalagi untuk anak-anak… yang tua sih serunya merancang tempat untuk menyembunyikan…

      Aku udah lama banget nggak terlibat dalam egg hunting… jadi kepengen lagi deh…

  2. arman says:

    sampe sekarang masih ada kok acara egg hunting ini. gua baru tulis tuh di blog… :)

    tapi telornya sekarang rata2 pake telor plastik yang dalemnya diisi permen2…

    happy easter ya!!

    • nanaharmanto says:

      aku pernah dulu dapat telur plastik yang murah banget itu…dan susah banget menghiasnya..lebih afdol deh menghias telur asli hihi…

      Kalau sekarang sih ada telur buatan berwarna-warni yang bisa dibuka dan di dalamnya diisi permen dan coklat seperti yang kamu ceritain…

      tapi untukku pribadi, menghias telur asli tetap tak tergantikan deh.. :)

      • Syafrina says:

        halo mba, boleh bantu info dong nyari telur plastik buat paskah dimana ya? susah banget nyarinya.. thx ~

      • nanaharmanto says:

        Halo Mbak Syafrina…
        saya taunya cuma di pasar pagi mangga dua dan asemka deket glodok. Banyak banget warnanya… di tempat lain saya nggak tau Mbak… smoga bs membantu…

  3. DV says:

    Wah, tulisanmu ini menghiburku sekaligus membuatku kelingan masa kecil jhe…

    Seingatku cuma dua kali aku ikut kegiatan cari telor paskah. Pertama di TK, kedua di Sekolah Minggu saat kelas 1 SD :)

    Sekarang, cari telor Paskah di mall aja! :)

    Selamat Paskah!

  4. riris e says:

    masih ada, Na. Bukan hanya mencari telur, tapi juga menghias telur. Untuk alasan ekonomis, sekarang telur2 itu digantikan dengan telur plastik.

  5. nh18 says:

    Saya masih ingat …
    perayaan paskah memang selalu disertai dengan permainan mencari telur itu …
    seingat saya …
    teman sahabat yang katholik selalu berlomba menceritakan pengalaman mereka mencari telur paskah di halaman gereja masing-masing

    Salam saya

  6. edratna says:

    Kegiatan yang menyenangkan ya Nana….
    Walau tak ikut Paskah, saat SD saya diajari menghias telur….lucu2 gambarnya.

    Btw, Nana pernah nggak, akhirnya tak bisa mendapatkan satu telurpun? Pasti akan mengesalkan sekali….

    • nanaharmanto says:

      Wah, menghias telur paskah memang mengasyikkan ya Bu… seingat saya sih, saya pernah nggak dapat, rasanya mau nangis hihi…. sedih dan kecewa… sekarang kalau diingat-ingat menggelikan ternyata… :)

  7. septarius says:


    Ceritanya fun banget mbak, apalagi pas njondhil itu.. :-)

  8. eldo jones surbakti says:

    Seru baget mencari telur bersama anak-anak ya
    perlombaan paskah yang sangat menarik

  9. David says:

    Wao…… selamat ya menyongsong hari raya Paska, harus nya kalau uda mendekati hari ini seperti ini kita harusnya buat lomba seperti Ibu Nana, biar tamba ramai kalau boleh sekali buat karnaval telur Paska…. sukses ya ibu nanan
    GBU

  10. yuul says:

    hem..telur paskah ya…dak terasa besok dah paskah ya.jadi ingat waktu tk dulu…dapat telur paskah warna/i 2 buah ditaruh di keranjang kecil…hahaha……
    masa kecil yg seru^_+

  11. intan says:

    cara menghias telur plastik dengan cara membatik?

  12. Pingback: tanaman hias zee zee | Share Free

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s