Keluarga kami bukanlah keluarga kaya raya. Sederhana saja. Tapi memang yang terjadi, kami tak bisa hidup bermewah-mewah.
Papaku seorang pegawai swasta, sedangkan mama seorang guru swasta merangkap PNS. Pastilah berat untuk menghidupi dan menyekolahkan empat orang anak. Setiap bulan, mama harus pandai memutar dan mengolah uang agar kami bisa makan cukup bergizi dan uang sekolah terbayar pada waktunya.
Kedua orang tuaku pun berinisiatif untuk mencari penghasilan tambahan. Saat aku kelas 4 SD, awalnya, mama membuat puding agar-agar, lalu menjualnya di kantin sekolah tempat mama mengajar.
Lama-kelamaan, aku dan kakakku juga kebagian jatah membawa puding untuk dititip jualkan di kantin sekolah. Setiap hari, aku dan kakakku bergantian membawa puding dan membawa uang hasil penjualan ke rumah. Kami senang sekali setiap kali pulang sekolah dan melihat baki plastik tempat puding sudah kosong. Lalu kami menemui ibu guru pengelola kantin untuk menerima hasil penjualan hari itu.
Aku pernah lupa membawa baki pudingku pulang. sampai di rumah, baru teringat olehku. Aku kembali ke sekolah mencari baki dan uang hasil penjualan. NOL. Nihil. Tak ada bakiku di tempat biasanya. Aku bingung sekali dan merutuk karena kealpaanku.
Paginya, aku ditegur oleh Bu Y*tno, seorang ibu yang juga menitipkan dagangannya di kantin sekolah. Bu Y*tno ternyata membantu menyimpankan bakiku beserta uangnya, karena dilihatnya sekolah sudah sepi dan tak dilihatnya aku atau adikku. Dinasehatinya aku agar lebih berhati-hati lagi lain kali. Waduh, matur nuwun, Bu Y*tno…
Seingatku, saat kakakku lulus SD dan masuk SMP, akhirnya aku bergiliran dengan adikku membawa puding ke sekolah. Adikku bercerita, suatu ketika, uang hasil jualan puding hari itu hilang. Baki ada, tapi uangnya hilang diambil orang.. duh…sedihnya….
Seingatku, saat pertama kali membawa puding ke sekolah, aku hanya membawa mencoba membawa 15 potong. Karena berhasil habis dalam waktu singkat, hari berikutnya, aku membawa 20 potong puding. Hari-hari berikutnya, meningkat lagi. Pernah aku membawa hingga 40 potong dan terjual habis. Senangnyaa…
Harga puding itu Rp 20,- untuk dijual Rp 25,- di kantin. Jadi Rp 5,- dikalikan jumlah puding itulah harga yang harus kubayar sebagai biaya menitipkan di kantin.
Jika aku membawa 40 potong puding, artinya aku mendapat Rp 800,-. Jumlah yang lumayan untuk saat itu. Mungkin sekarang tak ada artinya nomimal sejumlah itu ya…
****
Yang agak sulit dari proses membuat puding adalah, saat pemotongan. Meski sudah berhati-hati, tetap saja ada bagian yang mleyot-mleyot …
Padahal, puding itu harus berukuran seragam agar layak jual. Papa membantu mama dalam hal ini. Awalnya, papa memakai penggaris untuk mengukur puding agar bisa terpotong rapi.
Kemudian, Papa menciptakan semacam cetakan dari pelat-pelat aluminium tipis yang didesain saling menyokong dan “mengikat” hingga terbentuk bilik-bilik persegi berukuran seragam. Bilik-bilik kotak pelat aluminium ini diletakkan dalam baki cetakan puding sebelum adonan agar-agar cair yang baru saja mendidih dituang.
Pelat aluminium ini, saat diangkat dari puding yang telah mengeras, akan meninggalkan potongan-potongan puding yang sempurna tanpa bantuan pisau. Hasilnya, potongan puding yang rapi dan cantik pun tercipta. Ukurannya pun seragam. Tak ada yang terlalu besar atau terlalu kecil. Setelah itu, masing-masing puding dibungkus dengan plastik ukuran kecil.
Lama-lama, rasa puding buatan papa dan mama semakin bervariasi. Yang awalnya benar-benar polos, lalu berkembang dengan tambahan kelapa muda, tape ketan, nanas, nangka, atau kolang-kaling. Kadang-kadang, ditambah dengan santan atau susu. Hasilnya pun semakin indah. Puding itu menjadi dua lapis dengan warna berlainan. Cantik sekali.
Aku sering membantu mama dan papa mengatur isi varian puding dalam bilik-bilik pelat aluminium itu agar sama rata setiap kotak puding nantinya benar-benar berisi dan tak kosong. Ada keasyikan tersendiri melakukan hal itu…
Teman-temanku seringkali penasaran, variasi apa puding yang kubawa hari ini.
“Na, pudingmu rasa apa? Wah, pengen cepet istirahat ke kantin nih…”.
“Besok rasa apa lagi, Na?”.
Kadang-kadang, mereka memberi usul macam-macam, mulai dari yang serius hingga ngawur.
Ada saatnya, satu atau dua puding tak laku dijual karena rusak, tergencet teman-teman puding lainnya karena letaknya di bagian bawah. Rasanya sayang sekali….
Mama dan papa membuat puding setelah makan malam. Aku boleh membantu kalau aku sudah selesai belajar dan mengerjakan PR.
Puding itu dibiarkan mendingin dengan sendirinya. Saat itu kami tak punya kulkas. Jadi supaya cepat dingin sekaligus mencegahnya dari serbuan semut-semut nakal, baki cetakan agar-agar di letakkan di dalam baki lebar dan digenangi air.
Malam hari, saat puding itu telah dingin dan mengeras, papa membungkusnya dengan plastik. Kadang-kadang aku bangun dan membantu papa dan mama membungkus puding. Seringkali papa menyuruhku kembali tidur sebab papa bisa melakukannya sendiri.
Aku ingat betul, papa dan mama tak pernah menggunakan gula buatan hanya demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
Papa dan mama selalu menekankan, agar kami selalu jujur. Kalau kami hanya membawa 30 potong puding, jangan mengaku bawa 40 puding.
Pernah suatu kali, dua puding tak laku karena rusak. Aku memakannya, dan meletakkan uang sakuku bersama hasil penjualan puding. Sebenarnya, aku tak perlu melakukan itu. Papa dan mamaku tak akan memarahiku hanya karena ada beberapa yang tak laku.
Papa dan mama telah mengajariku banyak hal. Bukan melulu masalah mencari uang, tetapi juga, kegigihan dan keuletan. Sebab, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Keuntungannya mungkin tak seberapa, tapi hal terbesar yang kupelajari adalah betapa keluarga kami saling membantu. Aku bisa menghargai setiap nilai uang. Saat teman-temanku bebas berhura-hura dengan uang lebih mereka, aku tak ingin menghamburkan uang demi hal yang kurang perlu.
Aku bersyukur memiliki orang tua yang hebat, yang sanggup bekerja keras, demi kami, anak-anaknya, mengantarkan kami hingga kami dewasa dan berdiri sendiri. Aku berharap, suatu saat nanti aku bisa meniru mereka…
****
Dedicated to my beloved superheroes in my life… Papa Harmanto and Mama Dewi Lestari,
// Papa dan Mama tercinta, Selamat Ulang Tahun Pernikahan…
hari ini, tepat 35 tahun yang lalu kalian berseri-seri menghadap altar suci… semoga seri itu akan selalu bersinar gemerlap, hingga tahun-tahun mendatang nanti…
Cinta dan kasih sayang yang tulus pada kami semua selalu cemerlang dalam hati dan kenangan kami.
Terima kasih, Papa dan Mama, tak akan kulupakan semua pengalaman berharga itu…
I love you… I do…. I trully do…//
10 Agustus 2010

Puding agar, makanan favorit anak2 saya
Saya masih standar bikinnya bubuk agar2 ditambah air dan gula, kapan2 dishare resep andalan keluarga Mbak Nana, apalagi yg kolang kaling tuh.
Happy wedding aniversary buat Mama dan Papa mbak Nana
Sebenernya sih gampang banget Mbak… variasi isinya dimasukin sesaat sebelum diangkat dari kompor, baru dituang ke cetakan, tapi kekurangannya, hasilnya jadi kurang rapi. Bagusan variasi isinya diatur dulu di loyang/ cetakan, baru pelan-pelan dituangin agar-agar yang sudah mendidih.. tinggal tunggu dingin dan mengeras, jadi deh…
hidup harus disyukuri…
Hidup kita hampir sama..
Tapi di saya yang kerja cuma ayah, saya tiga bersaudara, sekarang saya dan adik kuliah, bungsu masih smp.
Ndak bisa dibayangkan..
Betapa repotnya cari biaya..
Heheh
salam..
Setuju Mas Adi.. hidup harus disyukuri..
Hmm… ya betul, repotnya cari uang untuk biaya pendidikan, keperluan sehari-hari dan jaga-jaga kalau sakit (jgn sampai deh ya..)
Sebagai anak, paling kita bisa bantu dengan hidup hemat dan secukupnya saja…
ahhhhh aku terharu baca bagian terakhirnya.
Memang cerita ini adalah tentang kerjasama papa dan mama ya. really touchy.
Selamat ulang tahun pernikahan yang 35 untuk papa dan mamanya Nana. Kami bisa melihat hasil didikan papa dan mama melalui Nana.
EM
Terima kasih ya Mbak Imel…
Terkunci otak saya utk memberikan koment. karena terharu. Salam kenal
Terima kasih ya… salam kenal juga…
Heemmmm…
Ceriya nya menarik
Nice blog
Salam
Terima kasih ya…
salam kenal juga….
Wah, selamat ulang tahun pernikahan buat Papan dan Mama Mba Nana yaa.. benar-benar masa kecil yang manis untuk diingat..
Thanks a lot ya Clara….
yup…masa-masa yang manis untuk dikenang sekarang dan nanti…
Selamat Ulang Tahun Perkawinan utk Mama dan Papanya Mbak Nana.
Semoga kebahagiaan lahir dan bathin selalu melingkupi beliau berdua.
Beliau berdua benar2 ortu teladan ya Mbak Nana.
Salam sungkem utk beliau berdua.
semoga selalu sehat.
salam
Amin..amin… Terima kasih ya Bunda…
saya sampaikan salam Bunda untuk mereka…
HAPPY ANNIVERSARY buat papa dan mama…
papa dan mama memang superhero buat kita!
tak tertandingi!
berjuang dengan penuh cinta kasih dan ketulusan bagi kita..
Semoga Tuhan selalu memberkati mereka…
jadi kangen ni……
hik, hik.. terharu mode:ON
speechless…
two thumbs up sist! (it needs more than two actually) for this beautiful, amazing writing… GBU
Thanks a lot Sist!
no one else could replace them, our superheroes…
May God bless them abundantly…
Good Writing…. sampe gk iso komen…. Apik Apik Apik
Nuwun…nuwun..nuwun…
very nice story na…
happy anniversary ya buat papa mamanya…
Thanks and many thanks ya Man…
Ah ini …
Lagi …
Sebetulnya ini cerita sederhana saja …
Tidak bombastis … tidak mendayu-dayu …
namun di tangan nana …
Tulisan ini menjadi sedemikian manis dan memiliki bobot kecintaan yang sangat kental …
saya terharu membacanya Na …
Sungguh …
Saya pernah membaca salah satu komentar dari Blogger bahwa … Sudah saatnya Nana membuat Buku …
Saya Mengiyakannya …
Saya lah salah satu orang pertama yang akan membawa buku itu bergegas menuju kasir …
Tulisan kamu itu “kuat sekali” karakternya …
Salam saya Na
Aku kehilangan kata-kata membaca komentar Om ini…
…
…
untuk kesekian kalinya, aku benar-benar tersanjung atas pujian Om yang tulus ini…
Beribu terima kasih Om…
And Happy anniversary untuk Papa Harmanto dan Ibu Dewi Lestari
salam saya
Pasti kusampaikan Om… terima kasih ya Om…
pasangan yang kompakdan seia sekata,
kirim salam buat beliau berdua,
selamat ulang tahun perkawinan
Terima kasih banyak ya Kak Monda…
Mengingat apa yang dilakukan orang tua kita untuk kita saat kecil dulu memang mengharukan ya mbak. Saat kita sudah seumur ini baru sadar betapa kasih sayang orang tua itu tak terukur…
Betul Zee… sering mengingat-ingat kenangan masa kecil dulu lalu menuliskannya kembali, eh, ternyata kadang-kadang malah dapat pelajaran yang dulu belum kupahami, mengapa orang tua begitu atau begini…setelah dewasa baru “ngeh” deh…
Mengamini komentarmu ini Zee… kasih sayang orang tua itu tak terukur… dan tak ada barang apapun yang sanggup menggantikan itu semua…
selamat ulangtahun pernikahan…semoga tetap awet dan tambah mesra..hehe
salam
Terima kasih banyak ya…
Kasih sayang mereka tak kan pernah tergantikan..
salam hangat buat mama papamu na.. dan tentunya
selamat merayakan ulang tahun pernikahan buat mereka..semoga Tuhan selalu memberkati..
Yup… setuju… kasih orang tua tak akan pernah tergantikan dengan apapun…
Terimakasih ya Jeng…
kebahagiaan hidup tak diukur dari kemewahan harta benda, mbak nana, tapi dari hati. sungguh salut dan hormat dalam usia perkawinan yang ke-35, ortu mbak nana sanggup menghadapi tantangan dan cobaan hidup berumah tangga. ikut mengucapkan selamat ultah perkawinan ortu mbak nana, semoga makin damai dan bahagia. salam.
Saya jadi merenung membaca komentar Pak Sawali ini… mungkin kalau orang tua saya kaya raya, barangkali saya bukanlah saya yang sekarang…
Terima kasih banyak Pak Sawali…
salam hangat selalu..
35 tahun membina keluarha tuk menjadikan anak-anaknya seperti sekarang bukan pekerjan yang mudah. Suatu keberhasilan yang membanggakan anggota keluarga. Slamat ulang tahun perkawainan tuk papa Harmanto dan mama Dewi Lestari.
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Usia perkawinan 35 tahun itu udah dewasa banget ya Pak…
saya dan suami belum ada apa-apnya tuh..
Matur nuwun Pak Sugeng…
salam hangat selalu..
hi..na kisae kaya sinetron ya perjuangan sebuah keluarga untuk hidup sehari-hari..bagus na tuk pembelajaran jg soale anak2 skr taunya minta tanpa tau keadaan orang tua..sip
Hmmm… iya nih, aku sering liat anak-anak yang tinggal minta ini itu pada orangtua (bahkan ngancam) tanpa peduli orang tuanya kesusahan…
Thanks ya Lin…
TFS Nana…
Cerita yang sungguh mengharukan!
Hm.. akuk ini penggemar berat puding
Terima kasih apresiasinya ya…
wah, penggermar berat puding? punya resep puding favorit? bagi-bagi ya…
Salam Kenal dariku, artikel menarik
Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin
Terima kasih apresiasinya ya…
salam hangat selalu..
selamat ulang tahun pernikahan untuk mama dan papanya..
semoga dikaruniai kesehatan lahir dan batin, diberikan perlindungan oleh Tuhan sampe akhir hayat..
begitu juga untuk seluruh keturunannya..
*termasuk mbak Nana dong…*
amin…
Amin….amin….amin….
terima kasih ya….
maaf nich ya, kalo di tempat saya PNS aja udah kebanggaan,, apalagi merangkap swasta…..
Ya… bagi banyak orang, jadi PNS memang jadi kebanggaan…
owh ya, met ultah dech buat mama dan papanya.. moga tetep langgeng…
Terima kasih ya Mas… salam kenal ya…
indah sekali mbak….aku sampai hampir menitikkan air mata baca ceritamu ini
aku jadi teringat papa mamaku waktu kami masih kecil-kecil, kalau mbak nana ber 4 kami itu ber 5…makanya heboh…dan ternyata mama papa kita sama berjualan kue…
jadi kangen mereka euy…
beruntung banget kita ya mbak, di didik oleh orang tua yang bisa mendidik anaknya untuk mengenal hidup sejak dini.
Wah…. 5 bersaudara? heboh banget tuh…. hehe…
Ya Ria… kita sangat beruntung, kusadari setelah gede, orang tuaku adalah orang-orang tangguh yang memberikan pengalaman sekaligus pelajaran yang indah untuk dikenang..
like your story sis. waktu kecil gue gak dididk kayak elu.
Thanks ya…
hmm…. mungkin karena latar belakang kita berbeda, Mas….
tapi aku nggak pernah menyesali semua itu, bahkan bersyukur karenanya..
memang perbedaan latar dan budaya keluarga amat memengaruhi cara pandang seseorang. justru gue baru mendapatkan pengalaman tsb ketika menjelang dewasa. coba kalu dari kecil kaya nana
Selamat merayakan ulang tahun pernikahan buat mama dan papanya Nana. Semoga langgeng dan penuh kasih. Kalau merenungkan perjuangan orangtua, rasanya aku jg tak henti2nya bersyukur. Dan beruntung kita2 punya ortu yg bisa memberi teladan
Matur nuwun yo Nik…
setelah gede baru bisa menyadari perjuangan orang tua tuh nggak main-main untuk kesejahteraan anak-anaknya ya…
dulu justru waktu masih ngalamin sehari-hari, malah belum sadar… nglakoni dengan asyik-asyik aja..
..
Jadi terharu sekaligus kagum..
Terharu sama kegigihan Mbak Nana kecil dan kagum sama kedua orangtua Mbak, Yang mendidik dengan kasih sayang sekaligus disiplin..
..
Happy anniversary buat Papa mama Mbak Nana..
Semoga sehat dan berbahagia selalu..
Nitip salam buat beliau..
..
Terima kasih ya Ata…
wah, dulu aku belum pantes kalau dibilang gigih… kata ini lebih tepat ditujukan untuk orang tuaku deh…
Papa mamamu hebat Nana….beliau mendidik putra putrinya untuk menjadi anak tangguh.
Sampaikan sungkemku buat beliau ya
Terima kasih Bu Enny…
ya..mereka memang hebat dan tangguh…
Salam Ibu saya sampaikan pasti… matur nuwun, Bu..
selamat ulang tahun kepada papa dan mama mbak…
kunjungan perdana nih
salam akrab dari burung hantu
http://blog.beswandjarum.com/denus
ditunggu kedatangannya ke sarang
o ya…
link mbak udah saya pasang di sarang nih…
Terima kasih ya… salam kenal juga…
OK.. nantikan kunjunganku di sarang burung hantu …
Sedikit telat gpp ya mbak na..
Happy Wedding Anniversary untuk papa & mama mbak Na
Cinta mereka terbukti kuat membentuk dan mendidik karakter mbak Na
salam saya..
PS> pengen nyobain pudingnya deh
puding agar ??? … saat siang2 puasa gini mikirin puding agar …
aaaahh… tidaaaaak …..
hehehe …