Melinjo dan Emping Gepuk

Tulisan kali ini, bisa dibilang merupakan kolaborasi antara aku dengan seseorang yang sangat spesial. Memang beliau tidak/belum mempunyai blog sendiri, tetapi beliau setia membaca blogku ini sebagai silent reader.

Ide tulisan ini berasal dari pasangan kolaborasi-ku kali ini… Papa Harmanto, papaku tercinta, seseorang yang telah begitu banyak menciptakan kenangan istimewa dalam ribuan keping peristiwa yang tersimpan dalam sel-sel otakku, dan aku bertekad sedapat mungkin mengabadikannya sebelum semua mengabur terkikis waktu yang terus bergerak.

Berawal dari SMS papa kepadaku.

Papa menceritakan tentang hasil memetik melinjo dari pohon di kebun sendiri, dan menanyakanku, apakah aku masih ingat dulu kami seringkali membuat emping gepuk sendiri, dan barangkali saja bisa dijadikan ide tulisan baru…

Begitu saja ingatanku meloncat-loncat ke masa lalu, saat aku masih kanak-kanak. Pohon melinjo yang tumbuh di lahan tanah di belakang rumah kami berbuah lebat, lalu hasil panen itu dibagi rata antara orangtuaku dan tetangga. Aku tak tahu persis bagaimana sistem pembagiannya. Yang jelas sih yang kami dapat banyak sekali. Lalu beramai-ramai kami mengulitinya dan membuat emping melinjo.

Lalu, teringat aku pada pohon melinjo di belakang rumah. Pohon yang masih kecil, dan terus tumbuh menjulang, kemudian berbunga, tapi tak pernah menghasilkan buah. Kata nenekku, pohon melinjo itu pohon “lanang”, (jantan) jadi tak pernah sukses berbuah. Waktu itu aku mencibir: nenekku ada-ada aja ya?

Yaelah… pu’un dikate laki segale… pan kagak pake rok, kagak diekor kude… kagak pake sarung :)

Akhirnya, pohon itu hanya dimanfaatkan daun pupusnya, -orang Jawa menyebutnya so,- untuk campuran sayur asam  dan oseng-oseng pepaya muda…

so.... daun muda, enak, seger, ijo, meling-meling.... hayo...siapa suka daun muda??

Bunganya, yang masih lunak, disebut kroto, enak juga dibuat sayur…

Kemudian hari, tumbuh pula pohon melinjo yang lain. Seingatku, ada 4 pohon yang berhasil berbuah, semuanya tumbuh di halaman depan. Sayang, sebatang terpaksa ditebang agar lahannya bisa dipakai untuk garasi. Sepasang lagi, terpaksa dikorbankan menjelang aku menikah, satu dipangkas, satu lagi terpaksa ditebang habis  karena tempat tumbuhnya persis di depan rumah dan tempat itu dipasangi tenda hajatan.. :(

yang dulu sempat dipangkas, gondrong lagi dan berbuah lagi...



Nah, saat melinjo dari keempat  pohon ini berbuah dan berubah warna menjadi merah, kami memetiknya dengan sebatang galah. Setiap pagi dan sore, kami memungut melinjo yang jatuh ke tanah, kami kumpulkan dalam wadah, dan ternyata lumayan jumlahnya.

Eh, coba kita intip yuk apa kata Mbah Wiki.. aku share dikit ya Mbah, biar cucu-cucumu ini jadi ngerti, sukur-sukur bisa sepinter Embah hehe….


Melinjo, buah atau biji ya?

Melinjo ternyata punya banyak nama di berbagai daerah.

Mlinjo/ belinjo >> Bahasa Jawa

Tangkil >> Bahasa Sunda

Bago >> Bahasa Melayu dan Tagalog

Khalet >> Bahasa Kamboja

Gnetum gnemon Linn >> Bahasa Latin.

Pohon melinjo bisa berumur hingga 100 tahun dengan ketinggian mencapai lebih dari 25m. Konon, satu pohon normal dan sehat mampu menghasilkan 80-100kg melinjo dalam sekali panen… wow!!

Tanaman ini bisa dibiakkan dengan cara generatif (biji) dan vegetatif (cangkok, okulasi, stek dan penyambungan). Tanaman ini termasuk bandel, karena bisa tumbuh di tanah yang sedikit nutrisi dan air, pada tanah liat/lempung, berpasir dan berkapur. Melinjo tak dapat hidup di tanah bergaram tinggi (pantai) dan tak tahan pada tanah yang tergenang air. Karena berasal dari daerah tropis, melinjo ini harus tumbuh di lahan terbuka dan banyak terkena sinar matahari.

Tanaman melinjo termasuk spesies tanaman berbiji terbuka (Gymnospermae) yang berasal dari Asia tropik, Pasifik Barat dan Melanesia. Melinjo termasuk tumbuhan tahunan yang berumah dua (dioecious: ada individu jantan dan betina).

Sebenarnya, melinjo tidak pernah bisa berbuah! Catat ya… melinjo bukan termasuk tumbuhan berbunga, sehingga tidak menghasilkan bunga dan buah sejati. Nah, yang kita anggap sebagai bunga itu (kroto), ternyata adalah bakal biji… sedangkan yang kita kira buah itu, sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh kulit yang disebut aril. Kulit ini “berdaging”, berwarna hijau mulanya, semakin tua berubah semburat kuning jingga, dan waktu matang berwarna merah cantik…

Melinjo merah, sudah matang dan siap dipetik. Bila tak dipetik akan gugur

Tabik dulu ah, sama Mbah Wiki… pinter banget Mbah satu ini. Coba bandingkan dengan tulisanku yang bercetak hijau di atas… betapa kekanakan….dan berapa kali aku menggunakan kata “buah”?   Ow..ow…ternyata salah kaprah… Wah, nenekku pun canggih saat itu, bisa tahu ada pohon jantan dan betina segala… :)

****

Emping gepuk van de Hars.

Bagaimana mungkin aku bisa lupa pada pengalaman membuat emping gepuk melinjo?

Mula-mula, biji melinjo ini harus dikuliti. Caranya dengan mengerat kulit/aril-nya setengah melingkar dari ujung ke ujung yang satunya, sehingga kulit terbuka tapi bentuknya masih tetap utuh.  Aku cukup mahir dalam bidang ini hehe…

mengupas kulit melinjo cukup unik, dikerat setengah melingkar dari ujung satu ke ujung yang lain

Si mas aril ini bisa digoreng hingga kering untuk camilan, atau bisa juga sebagai campuran sayur.

sayur mas aril

...baju mas aril dibuka, nampak bijinya... (^^,)

Lalu biji melinjo yang berkulit keras itu harus disangrai dulu hingga mengeluarkan aroma yang khas. Saat biji melinjo ini mulai matang, biji melinjo dipukul dengan palu yang sudah bersih.

Kalau biji melinjo terlanjur dingin, biji itu harus disangrai lagi. Kalau tidak, isi bijinya akan menjadi liat dan susah jadi gepeng. Aku ingat dulu papa punya ganden, alat pemukul serupa palu hanya saja dalam ukuran lebih besar dan terbuat dari kayu. Karena aku masih kecil, ganden ini terasa berat, sehingga aku lebih suka menggepuk biji melinjo dengan palu kecil. Pernah juga, karena saking bersemangat dan belum berpengalaman, aku memukul sekuatku, dan dueeenngg…jariku sendiri yang kupukul hahaha….

tanpa minyak, biji melinjo disangan atau disangrai sampai harum dan matang

Untuk membuat emping pipih dibutuhkan beberapa butir melinjo dan harus berkali-kali dipukul hingga gepeng. Aku tak pernah sukses membuat emping gepeng ini, sebab daging melinjo harus pas lunaknya dan dipukul dengan cara khas. Pernah juga aku mencoba, hasilnya malah kotor dan dekil sekali…ih….

setelah digepuk, kulit keras yang pecah masih harus dipisahkan hingga bersih

Well, bagi kami, keluarga Harmanto, emping gepuk lebih digemari. Melinjo cukup digepuk sekali atau dua kali, jadi masih tetep “agak endut” jadi nggak sempat gepeng pipih seperti emping. Membuat emping pipih lebih makan waktu juga sih…

Setelah itu, emping gepuk ini harus dijemur hingga kering. Setelah itu baru deh digoreng. Lebih sedap sih dibumbui bawang putih dan garam dulu.

setelah dijemur, siap digoreng

Seru aja sih, beramai-ramai memukuli melinjo yang tak bersalah itu menjadi camilan murah meriah….

Emping gepuk ini bisa juga dibuat dengan rasa asli, -agak pahit dari rasa khas kulit ari melinjo-, langsung digoreng tanpa ditambahi bumbu apapun.

Rasa asin, begitu diangkat dari dari penggorengan, langsung ditaburi garam halus.

Rasa bawang, sebelum dijemur, emping gepuk direndam dalam bumbu bawang putih dan garam yang dihaluskan.

Rasa manis. Emping gepuk rasa asli yang digongso dengan gula merah/gula jawa, hasilnya lengket-lengket di tangan hehe… tapi enak…

Rasa manis pedas: tambahkan cabe sesuai selera.. jadi deh…

Sejauh ini, kami belum pernah sampai pada taraf emping gepuk manis… semua ludes sebelum sempat dibumbuin hihihi…

Tapi sekarang harus lebih hati-hati karena melinjo kan berbahaya untuk penderita darah tinggi dan asam urat.

Nah… ini mitos apa beneran ya? Tanya Mbah Wiki lagi ah…

Mbah… aku sarikan singkat aja ya… lha, cucu-cucu Embah ini kan pada males baca yang terlalu serius… *dikemplang…

  1. Fakta dan benar, bahwa melinjo mengandung purin yang dapat menyebabkan peningkatan asam urat (Hiperurisemia) yang signifikan.
  2. Kenaikan asam urat terjadi karena gangguan metabolisme purin: konsumsi makanan dengan purin tinggi secara berlebihan, asupan gula dan lemak berlebihan, kegemukan, penggunaan obat diuretik, dan diet penurunan berat badan.
  3. Asam urat terjadi karena gangguan pengeluaran asam urat oleh ginjal, yang dapat disebabkan oleh faktor genetik dan dapat diturunkan.
  4. Konsumsi berlebihan dan minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng emping olahan melinjo itulah yang menyebabkan kadar asam uratnya meningkat. Jadi, jangan salahkan melinjo, dia nggak salah kan…karena bukan melinjo itu sendiri yang menyebabkan asam urat. Sumbangan minyak goreng dan konsumsi melinjo berlebihan lah yang mengakibatkan/memicu kenaikan asam urat, namun bukan penyebab asam urat.  Tahu bedanya ya….

Oke, tulisan kali ini ditutup dengan foto emping gepuk van de Hars…

...emping gepuk van de Hars... dijamin asli!

Terima kasih Papa,  untuk ide tulisan dan kiriman foto-fotonya ya….

Catatan: foto-foto dokumen pribadi.

****

Anda penyuka emping? punya pengalaman membuat emping mungkin?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments, Pengetahuan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

46 Responses to Melinjo dan Emping Gepuk

  1. saya suka banget emping melinjooo…
    kalo boleh? bisakan dikirim ke palembang? :)

    salam akrab dari burung hantu

    • nanaharmanto says:

      Hehe…. penyuka emping jga nih… burung hantu suka emping? baru denger kali ini… nggak keselek tuh? Hihi.. :)

      Aku juga nggak sempet ngicipin emping ini, nggak dikirimin dari Jawa :)

  2. nelemima says:

    heeemmmmm….. enak lo empingnya…. ( aku udah ngicipin….:p)

    I was there when pa took the last picture ;)

    hebat!!!
    again, (more than) two thumbs up! for the “silent reader” and the writer…

    beberapa waktu yg lalu, temenku jg cerita kl orangtuanya jg sedang panen melinjo, dan hebatnya, ayahnya sendiri yg memanen melinjo2 tsb (pdhl pohonnya ckp banyak, dgn hasil kiloan). sama juga, hasilnya dibuat emping, cm bedanya kl ini empingnya tidak dibuat sendiri tp “didandake” di tetangganya yg spesialis pembuat emping.. hehehe….

    membaca yg satu ini ternyata menambah pengetahuan juga… emang kl tidak diimbuhi pengetahuan itu pada males ngecek sendiri…(aku maksudnya.red).
    aku suka yg bagian: “karena bukan melinjo itu sendiri yang menyebabkan asam urat. Sumbangan minyak goreng dan konsumsi melinjo berlebihan lah yang mengakibatkan/memicu kenaikan asam urat, namun bukan penyebab asam urat.”
    maap, melinjo…sudah menuduhmu yg bukan2.. hehe…

    • nanaharmanto says:

      Waaa….aku nggak kebagian empingnya… secara kalau dikirimin pun lebih mahal ongkirnya…

      Ndandakke emping? weh, ono to? baru denger ini…
      Yup..selama ini melinjo dianggap sebagai penyebab asam urat, padahal ternyata itu pendapat yang nggak bener…

      And I laughed so hard when I knew the secret… hahahaha…

  3. nh18 says:

    Nana …
    Aku ngilu ngeliat Toples berisi penuh Emping Gepuk itu …

    Why ?
    You know lah …
    ekeh kan pake gigi palsu weiceh … (what else coba ?)

    Bisa koprol saya … kalau nekat ngunyah kripik nan lezat ini …

    (mati-matian menahan rasa … demi gigi palsu)

    hahaha

    Salam saya Na

  4. arman says:

    wah gua jadi inget bokap gua juga jadinya na.
    soalnya bokap gua itu sukaaaaaa banget ama emping melinjo!!!
    dia suka banget emping gepuk yang kecil2 ini (gua baru tau lho kalo istilahnya emping gepuk, biasa kita bilangnya ya melinjo aja tapi yang kecil2 hehe) dan juga emping melinjo yang gede2 lebar dan lebih tipis tuh…
    sukanya yang manis.

    setiap ke supermarket (dulu ya pas gua masih kecil), bokap gua pasti beli emping melinjo ini! pasti itu! sekarang kayaknya sih udah dikurangi. hehehe.

    dan akhirnya… gua juga jadi suka!!! gua juga demen banget makan emping melinjo. tapi pas udah gede juga membatasi diri juga, abis kalo udah makan gak bisa brenti!!! gawat kan.. hahaha.

    • nanaharmanto says:

      Sebenernya aku juga nggak ngerti apa nama tenarnya emping model begini… :)

      lha wong ini nama beken di keluargaku karena bikin empingnya digepuk sekali atau dua kali hehehe…
      Ada guyonan di keluargaku, emping melinjo emang pahit…. maksudnya lidah berasa pahit kalau brenti makan, jadi supaya nggak pahit, makan emping terus aja hehehe..

  5. Hmm.. Mlinjo.. Nyammy..!!!
    Kulitnya di goreng cabe puedheess, bijinya dibikin emping.. Enak enak enak.. (pa lagi klo pake Tape Ketan-e muntilan) mpe sakit perut jg msh lahap aja tuh.. Hehehe
    Beberapa minggu yg lalu Nyak-Babe juga panen mlinjo di kebon, ngupas ndiri.. Ntar bijinya di “modding” di tetangga..
    Siapa yg mau.. Yuk Marii…!!!

    • nanaharmanto says:

      Walah… semakin ngiming-ngimingi aja nih…
      aku lupa dulu siapa yang ngajari makan emping mlinjo (tipis) dengan tape ketan… dulu kupikir, apaan tuh? kombinasi yang aneh!! tapi setelah ngerasain sendiri, jadi ketagihan hehehe…

      Wah, ndandakke emping bisa to? aku baru denger ini… emang Djack tinggal di Jogjanya di mana?

      • djackalope says:

        mBanthul City je Mbak… Hehehe… agak-agak nGGunung Puncit Gitu…. :D

        Mo tak kirim po Empingnya..? Via Mail or SmS.. hehehehehe…. Kidding Kidding…….

  6. edratna says:

    Nana…
    Saya suka emping mlinjo…tapi sekarang nggak berani banyak-banyak..sesekali aja..maklum takut asam urat naik….
    Kapan buat fotonya….apa kiriman Papa? Wahh seneng sekali membayangkan Nana kecil, kita dulu kayaknya model dekat orangtua nggak seperti anak sekarang ya. Dulu, kita bikin kue bersama-sama, atau malah mengapur rumah rame-rame..kebersamaan dalam melakukan pekerjaan, seperti Nana membuat emping mlinjo ini. Dan orangtua tetap tersenyum di saat anaknya melakukan kekonyolan….dan kesalahan ini merupakan kenangan manis buat anak.

    Kadang saya berpikir, apakah anak-anakku juga merasakan kenangan yang manis ya masa kecilnya?

    • nanaharmanto says:

      Banyak juga ya penggemar emping mlinjo ini? walau harus hati-hati, terutama bagi penderita sam urat dan darah tinggi..

      Foto-fotonya dibuat akhir Juli-awal Agustus ini, dikirim papa saya via e-mail…
      Hmm… iya bener Bu… keluarga saya termasuk kompak, termasuk nggepukin mlinjo ini, awalnya sih karena sayang kalau melinjo itu tak dimanfaatkan. Dijual kurang banyak, dibuang sayang karena nggak bisa dibilang sedikit juga. jadi deh dimanfaatkan dengan cara yang paling sederhana, tapi seluruh keluarga saya suka. Dan akhirnya malah jadi tulisan di kemudian hari… :)

      Kalau saya baca dari posting Ibu, saya kira putra-putri Bu Enny pasti punya kenangan indah/ istimewa di masa kecilnya tentang Bapak dan Ibu yang hebat ini…

      salam hangat selalu, Bu…

  7. ikkyu_san says:

    Emping blinjo manis pedas itu adalah kesukaanku, meskipun aku pilih jangan yang terlalu keras (aku belum pake gigi palsu seperti om NH sih hihihi). Wah aku lupa beli waktu mudik ini. biarlah next time.

    Kalau sudah buka satu kantong, ngga akan berenti kalau belum habis. Gawat deh…

    Di jepang ada yang namanya ginnan, seperti mlinjo juga, dan harum jika dibakar. Merupakan makan mewah karena mahal.

    Senang sekali bisa berkolaborasi dengan papa menulis ini ya…. Aku mau berkolaborasi dengan papa susah, abis papa tukang minyak, aku tukang obat (cuap-cuap) hihihihi.

    posting yang bagus dengan referensi yang lengkap. Jempol.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Satu lagi penggemar emping melinjo…. sama Mbak… aku juga ogah brenti kalau udah makan emping mlinjo… hehe… beli emping mentah dibawa pulang ke Jepang Mbak, mumpung masih di tanah air… :)

      ginnan di Jepang itu sama dengan ginko biloba nggak ya Mbak?

      terima kasih pujiannya ya Mbak… :)

  8. Clara Croft says:

    Di rumah saya dulu ada pohon melinjo.. karena berbuah eh berbiji lebat, kita simpulkan saja itu mungkin melinjo cewe ya Mba.. Hehe..

    Dulu saya dan adik hobinya manjat pohon melinjo sampai ke atap rumah.. pernah suatu hari, sedang pake rok, mau pergi jalan2, kami sempat2kan manjat.. dan pas turun di rok adik saya ada ulat bulunya.. besaarrrrrrr sekali.. hahaha…

    Mama saya langsung ngamuk2..

    Waktu bijinya banyak mama dan bapak pernah iseng2 bikin melinjo sendiri.. kami pukul biji melinjonya ramai2.. sampai pipih.. rasanya sih mirip emping yang biasa dijual di pasar, tapi lebih keras.. xixixixi…

    Mama sepertinya menganggap keluarga kami ga pandai membuat emping dan akhirnya ga pernah bikin emping lagi sampai sekarang :D

    • nanaharmanto says:

      Aaahh…ulat?…. hiyaa…. langsung bergidik mrinding aku.. hiiiiiyyy….. badung juga ya cewek hobi manjat-manjat pohon? hehe…

      Wah, rupanya Clara punya pengalaman bikin emping juga ya? ayo tulis…. :)

      Kalau panen melinjo lagi, bijinya diapain dong sekarang? Masih ada kan pohonnya?

  9. monda says:

    mbak Nana,
    keakraban mbak Nana dengan papa malah bikin aku kangen dengan almarhum papaku,

    btw, emping gepuk pedas kesukaan kami juga lho
    pernah nyoba buat emping hail beli melinjo di tukang sayur,
    malahan jadi geli ngeliatnya…kotor banget…, siapa yang tega makannya

    • nanaharmanto says:

      Satu lagi penggemar emping… hehe…

      Nah ini juga alasan kami nggak bikin emping pipih.. soalnya selain makan waktu, amatir kayak kami malah bikin emping jadi dekil dan kotor hehe… jauh lebih simpel membuat temping gepuk ini, sekali atau dua kali pukul, jadi deh… nggsk sempet jadi dekil hehehe… :)

  10. FiiYaa says:

    entah kenapa gak suka sama yang satu ini mbak :(

    salam kenal

  11. yessymuchtar says:

    aku suka emping. Suka bangettt. Apalagi kalo lebaran. Mama selalu masak sayur godok yang terdiri dari santan, kacang panjang, ada potongan tempe, dan juga di kasih petai, biar sedap :)

    Temannya ada rendang daging, dan juga sambel goreng kentang.

    Makanan ini nantinya akan di guyurkan pada ketupat yang sudah di potong. Dan hasil akhirnya di berikan remukan emping di atasnya…Mak nyusssss :)

    Mbak, aku jadi laper…
    HUSH! Puasa juga :P

  12. DV says:

    Wah, aku tiba-tiba jadi kangen makan sayur oseng2 mlinjo.
    Di sini emping lumayan mudah didapat soalnya :)

  13. Ria says:

    huaaaaaaaa…aku suka banget sama emping mbak…
    kalau kerumah makan dan makan soto biasanya aku minta empingnya double huhehehehe…atau makan karedok biasanya aku minta juga tuh tambahan empingnya :P

    aril yg udah di keluarin bijinya? huhahahahaha aku kok jadi mikir aril yg lain ya mbak *ampun dah aku kan puasa! huhahahahaha*

  14. melinjo kulit dalamnya keras, jadi susah makan. padahal enak. tapi aku suka kripiknya..:)

  15. septarius says:

    ..
    Olahan melinjo aku doyan semua mbak, kebetulan dibelakang rumah ada beberapa pohon melinjo juga..
    ..

  16. muamdisini says:

    melinjo itu banyak fungsinya juga yah..
    daunnya juga bisa menjadi bahan pelengkap sayur asam..

    hmmm…sedapnya emping gepuk, bisa untuk sajian lebaran nih..hehehe

    salam kenal

  17. Daenk Afdhal says:

    harusnya kemarin nganggur di palu buat emping mbak
    lumayan kan buat peserta meeting untuk buka puasa

  18. Ceritaeka says:

    Aku pernah nggoreng Aril mbak :D
    hihihih gosooong.. ora enak! :D
    tapi kalo nggorengnya pas, gurih keren ;)

    Mbak Na, udh dua kali posting soal makanan, jd pengen dimasakin hehehe

  19. riris e says:

    Emping sudah bukan makanan murah meriah kalau menjelang lebaran gini,Na. Harganya bisa saingan sama daging sapi.

    Aku ingat dulu sewaktu awal-awal tinggal di perkampungan betawi, aku suka nimbrung bikin emping. Seru!! Batu yang dipakai buat memipihkan melinjo itu sampai hitam keliiiing, baguuus banget, padahal batunya itu besar dan lebar lho.

    Aku doyan Melinjo, tapi bukan penggemar berat. Ada dimakan, ga ada ya gak nyari..hehehe..

    Tulisanmu Mantabs !!

    • nanaharmanto says:

      Thanks ya Mbak..
      Iya bener Mbak… emping jadi muahalll polll menjelang lebaran…

      Aku jadi penasaran tentang bikin emping di perkampungan Betawi itu… lebih tepatnya penasaran pengen liat batu yang jadi hitam keling itu :)

  20. Ramli says:

    Mau tanya mba, apakah emping juga menyebabkan DARAH TINGGI coz saya penggemar berat emping, sarapan bubur ayam setiap hari harus pake emping, makan soto mesti ada emping. Tapi waktu saya beli bubur ayam dan bilang sama penjualnya supaya tidak pake kecap asin karena saya darah tinggi; dia lalu tambahin, lho…pak, sama saja kalau bapak pake emping karena emping juga penyebab darah tinggi. sipenjual bilang seperti itu karena dia tahu kalau saya suka banget sama emping. Thanks & salam kenal. Ramli

    • nanaharmanto says:

      Wah, maaf ya Mas Ramli… saya tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan Anda ini… silakan bertanya pada ahli medis, pasti jawabannya lebih memuaskan…
      salam kenal ya…

  21. wah aku punya pohon melinjo ya umur nya kurang lebih 160 tahun tetapi bingung menjual buah nya………..

  22. Tri Handayanyani - CPA says:

    Hebat banget dirimu nulis Jeng Nana…
    Maap… Aku baru liat web kamu,
    Asli…. aku sampe terpesona kie….
    Dr semua tulisanmu, ini yg pertama kali aku buka lengkap Jeng,
    Marakke terinspirasi memperbaiki pola didikan buat anak ku n anak2 didikku.
    Kebersamaan, melibatkan ‘n pengertian…. Hmmmmmmmmmm seru Jeng Nana
    Lebih dari sekedar Emping Melinjo nan Lezat.
    Emang dirimu gak berubah Jeng, pinter & pinter nulis.
    Kalo tulisan2 itu dibukukan Jeng hehehhhhh (uwis yo????)
    Kui keno ge ngurus sertifikasi dll….. Hehehehehheehhhhhhh
    Thanks yaw, buat inspirasinya,
    Semoga liburan semesteran tahun ini kita bisa ketemu buat share banyak hal.
    Rencananya aku bulan Juni sampe Juli nanti aku pulang ke Magelang.

    • nanaharmanto says:

      matur nuwun apresiasinya ya Jeng Tri…
      blog ini memang jadi sarana untuk menyalurkan hobi dan juga biar nggak bosen juga sih…
      untuk dibukukan…. ada ngak ya penerbit yang mau melirik? hihihi…
      smoga liburan nanti kita bisa ketemu yaa.. kangen jee…

  23. jengipee says:

    mbak, salam kenal dan sekalian ijin u/ share di ON AIR, cerita how to make emping gepuknya. thanks ;)

    • nanaharmanto says:

      Saam kenal juga Mbak…
      cara bikin emping gepuk sangat mudah kok. Melinjo yang sudah dikupas kulit luarnya disangrai sampai keluar harumnya. lalu ambil dengan sendok panjang, taruh di talenan/alas dari kayu, gepuk dengan palu besi/ kayu yang sudah bersih. cukup sekali pukul, sampai kulit yang keras pecah, dagingnya setengah gepeng. bersihka dari pecahan kulit keras. dinginkan sebentar, bisa langsung digoreng, bisa juga dijemur dahulu.
      Saat selesai digoreng, taburi sedikit garam.. biasanya di rumahku, emping gepuk nggak sempat masuk toples udah ludes hehehe…

      salam,
      nana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s