Tulisan kali ini, bisa dibilang merupakan kolaborasi antara aku dengan seseorang yang sangat spesial. Memang beliau tidak/belum mempunyai blog sendiri, tetapi beliau setia membaca blogku ini sebagai silent reader.
Ide tulisan ini berasal dari pasangan kolaborasi-ku kali ini… Papa Harmanto, papaku tercinta, seseorang yang telah begitu banyak menciptakan kenangan istimewa dalam ribuan keping peristiwa yang tersimpan dalam sel-sel otakku, dan aku bertekad sedapat mungkin mengabadikannya sebelum semua mengabur terkikis waktu yang terus bergerak.
Berawal dari SMS papa kepadaku.
Papa menceritakan tentang hasil memetik melinjo dari pohon di kebun sendiri, dan menanyakanku, apakah aku masih ingat dulu kami seringkali membuat emping gepuk sendiri, dan barangkali saja bisa dijadikan ide tulisan baru…
…
Begitu saja ingatanku meloncat-loncat ke masa lalu, saat aku masih kanak-kanak. Pohon melinjo yang tumbuh di lahan tanah di belakang rumah kami berbuah lebat, lalu hasil panen itu dibagi rata antara orangtuaku dan tetangga. Aku tak tahu persis bagaimana sistem pembagiannya. Yang jelas sih yang kami dapat banyak sekali. Lalu beramai-ramai kami mengulitinya dan membuat emping melinjo.
Lalu, teringat aku pada pohon melinjo di belakang rumah. Pohon yang masih kecil, dan terus tumbuh menjulang, kemudian berbunga, tapi tak pernah menghasilkan buah. Kata nenekku, pohon melinjo itu pohon “lanang”, (jantan) jadi tak pernah sukses berbuah. Waktu itu aku mencibir: nenekku ada-ada aja ya?
Yaelah… pu’un dikate laki segale… pan kagak pake rok, kagak diekor kude… kagak pake sarung ![]()
Akhirnya, pohon itu hanya dimanfaatkan daun pupusnya, -orang Jawa menyebutnya so,- untuk campuran sayur asam dan oseng-oseng pepaya muda…
Bunganya, yang masih lunak, disebut kroto, enak juga dibuat sayur…
Kemudian hari, tumbuh pula pohon melinjo yang lain. Seingatku, ada 4 pohon yang berhasil berbuah, semuanya tumbuh di halaman depan. Sayang, sebatang terpaksa ditebang agar lahannya bisa dipakai untuk garasi. Sepasang lagi, terpaksa dikorbankan menjelang aku menikah, satu dipangkas, satu lagi terpaksa ditebang habis karena tempat tumbuhnya persis di depan rumah dan tempat itu dipasangi tenda hajatan..
Nah, saat melinjo dari keempat pohon ini berbuah dan berubah warna menjadi merah, kami memetiknya dengan sebatang galah. Setiap pagi dan sore, kami memungut melinjo yang jatuh ke tanah, kami kumpulkan dalam wadah, dan ternyata lumayan jumlahnya.
Eh, coba kita intip yuk apa kata Mbah Wiki.. aku share dikit ya Mbah, biar cucu-cucumu ini jadi ngerti, sukur-sukur bisa sepinter Embah hehe….
Melinjo, buah atau biji ya?
Melinjo ternyata punya banyak nama di berbagai daerah.
Mlinjo/ belinjo >> Bahasa Jawa
Tangkil >> Bahasa Sunda
Bago >> Bahasa Melayu dan Tagalog
Khalet >> Bahasa Kamboja
Gnetum gnemon Linn >> Bahasa Latin.
Pohon melinjo bisa berumur hingga 100 tahun dengan ketinggian mencapai lebih dari 25m. Konon, satu pohon normal dan sehat mampu menghasilkan 80-100kg melinjo dalam sekali panen… wow!!
Tanaman ini bisa dibiakkan dengan cara generatif (biji) dan vegetatif (cangkok, okulasi, stek dan penyambungan). Tanaman ini termasuk bandel, karena bisa tumbuh di tanah yang sedikit nutrisi dan air, pada tanah liat/lempung, berpasir dan berkapur. Melinjo tak dapat hidup di tanah bergaram tinggi (pantai) dan tak tahan pada tanah yang tergenang air. Karena berasal dari daerah tropis, melinjo ini harus tumbuh di lahan terbuka dan banyak terkena sinar matahari.
Tanaman melinjo termasuk spesies tanaman berbiji terbuka (Gymnospermae) yang berasal dari Asia tropik, Pasifik Barat dan Melanesia. Melinjo termasuk tumbuhan tahunan yang berumah dua (dioecious: ada individu jantan dan betina).
Sebenarnya, melinjo tidak pernah bisa berbuah! Catat ya… melinjo bukan termasuk tumbuhan berbunga, sehingga tidak menghasilkan bunga dan buah sejati. Nah, yang kita anggap sebagai bunga itu (kroto), ternyata adalah bakal biji… sedangkan yang kita kira buah itu, sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh kulit yang disebut aril. Kulit ini “berdaging”, berwarna hijau mulanya, semakin tua berubah semburat kuning jingga, dan waktu matang berwarna merah cantik…
Tabik dulu ah, sama Mbah Wiki… pinter banget Mbah satu ini. Coba bandingkan dengan tulisanku yang bercetak hijau di atas… betapa kekanakan….dan berapa kali aku menggunakan kata “buah”? Ow..ow…ternyata salah kaprah… Wah, nenekku pun canggih saat itu, bisa tahu ada pohon jantan dan betina segala…
****
Emping gepuk van de Hars.
Bagaimana mungkin aku bisa lupa pada pengalaman membuat emping gepuk melinjo?
Mula-mula, biji melinjo ini harus dikuliti. Caranya dengan mengerat kulit/aril-nya setengah melingkar dari ujung ke ujung yang satunya, sehingga kulit terbuka tapi bentuknya masih tetap utuh. Aku cukup mahir dalam bidang ini hehe…
Si mas aril ini bisa digoreng hingga kering untuk camilan, atau bisa juga sebagai campuran sayur.
Lalu biji melinjo yang berkulit keras itu harus disangrai dulu hingga mengeluarkan aroma yang khas. Saat biji melinjo ini mulai matang, biji melinjo dipukul dengan palu yang sudah bersih.
Kalau biji melinjo terlanjur dingin, biji itu harus disangrai lagi. Kalau tidak, isi bijinya akan menjadi liat dan susah jadi gepeng. Aku ingat dulu papa punya ganden, alat pemukul serupa palu hanya saja dalam ukuran lebih besar dan terbuat dari kayu. Karena aku masih kecil, ganden ini terasa berat, sehingga aku lebih suka menggepuk biji melinjo dengan palu kecil. Pernah juga, karena saking bersemangat dan belum berpengalaman, aku memukul sekuatku, dan dueeenngg…jariku sendiri yang kupukul hahaha….
Untuk membuat emping pipih dibutuhkan beberapa butir melinjo dan harus berkali-kali dipukul hingga gepeng. Aku tak pernah sukses membuat emping gepeng ini, sebab daging melinjo harus pas lunaknya dan dipukul dengan cara khas. Pernah juga aku mencoba, hasilnya malah kotor dan dekil sekali…ih….
Well, bagi kami, keluarga Harmanto, emping gepuk lebih digemari. Melinjo cukup digepuk sekali atau dua kali, jadi masih tetep “agak endut” jadi nggak sempat gepeng pipih seperti emping. Membuat emping pipih lebih makan waktu juga sih…
Setelah itu, emping gepuk ini harus dijemur hingga kering. Setelah itu baru deh digoreng. Lebih sedap sih dibumbui bawang putih dan garam dulu.
Seru aja sih, beramai-ramai memukuli melinjo yang tak bersalah itu menjadi camilan murah meriah….
Emping gepuk ini bisa juga dibuat dengan rasa asli, -agak pahit dari rasa khas kulit ari melinjo-, langsung digoreng tanpa ditambahi bumbu apapun.
Rasa asin, begitu diangkat dari dari penggorengan, langsung ditaburi garam halus.
Rasa bawang, sebelum dijemur, emping gepuk direndam dalam bumbu bawang putih dan garam yang dihaluskan.
Rasa manis. Emping gepuk rasa asli yang digongso dengan gula merah/gula jawa, hasilnya lengket-lengket di tangan hehe… tapi enak…
Rasa manis pedas: tambahkan cabe sesuai selera.. jadi deh…
Sejauh ini, kami belum pernah sampai pada taraf emping gepuk manis… semua ludes sebelum sempat dibumbuin hihihi…
Tapi sekarang harus lebih hati-hati karena melinjo kan berbahaya untuk penderita darah tinggi dan asam urat.
Nah… ini mitos apa beneran ya? Tanya Mbah Wiki lagi ah…
Mbah… aku sarikan singkat aja ya… lha, cucu-cucu Embah ini kan pada males baca yang terlalu serius… *dikemplang…
- Fakta dan benar, bahwa melinjo mengandung purin yang dapat menyebabkan peningkatan asam urat (Hiperurisemia) yang signifikan.
- Kenaikan asam urat terjadi karena gangguan metabolisme purin: konsumsi makanan dengan purin tinggi secara berlebihan, asupan gula dan lemak berlebihan, kegemukan, penggunaan obat diuretik, dan diet penurunan berat badan.
- Asam urat terjadi karena gangguan pengeluaran asam urat oleh ginjal, yang dapat disebabkan oleh faktor genetik dan dapat diturunkan.
- Konsumsi berlebihan dan minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng emping olahan melinjo itulah yang menyebabkan kadar asam uratnya meningkat. Jadi, jangan salahkan melinjo, dia nggak salah kan…karena bukan melinjo itu sendiri yang menyebabkan asam urat. Sumbangan minyak goreng dan konsumsi melinjo berlebihan lah yang mengakibatkan/memicu kenaikan asam urat, namun bukan penyebab asam urat. Tahu bedanya ya….
Oke, tulisan kali ini ditutup dengan foto emping gepuk van de Hars…
Terima kasih Papa, untuk ide tulisan dan kiriman foto-fotonya ya….
Catatan: foto-foto dokumen pribadi.
****
Anda penyuka emping? punya pengalaman membuat emping mungkin?











saya suka banget emping melinjooo…
kalo boleh? bisakan dikirim ke palembang?
salam akrab dari burung hantu
Hehe…. penyuka emping jga nih… burung hantu suka emping? baru denger kali ini… nggak keselek tuh? Hihi..
Aku juga nggak sempet ngicipin emping ini, nggak dikirimin dari Jawa
heeemmmmm….. enak lo empingnya…. ( aku udah ngicipin….:p)
I was there when pa took the last picture
hebat!!!
again, (more than) two thumbs up! for the “silent reader” and the writer…
beberapa waktu yg lalu, temenku jg cerita kl orangtuanya jg sedang panen melinjo, dan hebatnya, ayahnya sendiri yg memanen melinjo2 tsb (pdhl pohonnya ckp banyak, dgn hasil kiloan). sama juga, hasilnya dibuat emping, cm bedanya kl ini empingnya tidak dibuat sendiri tp “didandake” di tetangganya yg spesialis pembuat emping.. hehehe….
membaca yg satu ini ternyata menambah pengetahuan juga… emang kl tidak diimbuhi pengetahuan itu pada males ngecek sendiri…(aku maksudnya.red).
aku suka yg bagian: “karena bukan melinjo itu sendiri yang menyebabkan asam urat. Sumbangan minyak goreng dan konsumsi melinjo berlebihan lah yang mengakibatkan/memicu kenaikan asam urat, namun bukan penyebab asam urat.”
maap, melinjo…sudah menuduhmu yg bukan2.. hehe…
Waaa….aku nggak kebagian empingnya… secara kalau dikirimin pun lebih mahal ongkirnya…
Ndandakke emping? weh, ono to? baru denger ini…
Yup..selama ini melinjo dianggap sebagai penyebab asam urat, padahal ternyata itu pendapat yang nggak bener…
And I laughed so hard when I knew the secret… hahahaha…
Nana …
Aku ngilu ngeliat Toples berisi penuh Emping Gepuk itu …
Why ?
You know lah …
ekeh kan pake gigi palsu weiceh … (what else coba ?)
Bisa koprol saya … kalau nekat ngunyah kripik nan lezat ini …
(mati-matian menahan rasa … demi gigi palsu)
hahaha
Salam saya Na
hehehe…. padahl enak lho Om… diemut aja Om… biar kayak permen hihi… belum ada kan permen rasa melinjo?
wah gua jadi inget bokap gua juga jadinya na.
soalnya bokap gua itu sukaaaaaa banget ama emping melinjo!!!
dia suka banget emping gepuk yang kecil2 ini (gua baru tau lho kalo istilahnya emping gepuk, biasa kita bilangnya ya melinjo aja tapi yang kecil2 hehe) dan juga emping melinjo yang gede2 lebar dan lebih tipis tuh…
sukanya yang manis.
setiap ke supermarket (dulu ya pas gua masih kecil), bokap gua pasti beli emping melinjo ini! pasti itu! sekarang kayaknya sih udah dikurangi. hehehe.
dan akhirnya… gua juga jadi suka!!! gua juga demen banget makan emping melinjo. tapi pas udah gede juga membatasi diri juga, abis kalo udah makan gak bisa brenti!!! gawat kan.. hahaha.
Sebenernya aku juga nggak ngerti apa nama tenarnya emping model begini…
lha wong ini nama beken di keluargaku karena bikin empingnya digepuk sekali atau dua kali hehehe…
Ada guyonan di keluargaku, emping melinjo emang pahit…. maksudnya lidah berasa pahit kalau brenti makan, jadi supaya nggak pahit, makan emping terus aja hehehe..
Hmm.. Mlinjo.. Nyammy..!!!
Kulitnya di goreng cabe puedheess, bijinya dibikin emping.. Enak enak enak.. (pa lagi klo pake Tape Ketan-e muntilan) mpe sakit perut jg msh lahap aja tuh.. Hehehe
Beberapa minggu yg lalu Nyak-Babe juga panen mlinjo di kebon, ngupas ndiri.. Ntar bijinya di “modding” di tetangga..
Siapa yg mau.. Yuk Marii…!!!
Walah… semakin ngiming-ngimingi aja nih…
aku lupa dulu siapa yang ngajari makan emping mlinjo (tipis) dengan tape ketan… dulu kupikir, apaan tuh? kombinasi yang aneh!! tapi setelah ngerasain sendiri, jadi ketagihan hehehe…
Wah, ndandakke emping bisa to? aku baru denger ini… emang Djack tinggal di Jogjanya di mana?
mBanthul City je Mbak… Hehehe… agak-agak nGGunung Puncit Gitu….
Mo tak kirim po Empingnya..? Via Mail or SmS.. hehehehehe…. Kidding Kidding…….
Nana…
Saya suka emping mlinjo…tapi sekarang nggak berani banyak-banyak..sesekali aja..maklum takut asam urat naik….
Kapan buat fotonya….apa kiriman Papa? Wahh seneng sekali membayangkan Nana kecil, kita dulu kayaknya model dekat orangtua nggak seperti anak sekarang ya. Dulu, kita bikin kue bersama-sama, atau malah mengapur rumah rame-rame..kebersamaan dalam melakukan pekerjaan, seperti Nana membuat emping mlinjo ini. Dan orangtua tetap tersenyum di saat anaknya melakukan kekonyolan….dan kesalahan ini merupakan kenangan manis buat anak.
Kadang saya berpikir, apakah anak-anakku juga merasakan kenangan yang manis ya masa kecilnya?
Banyak juga ya penggemar emping mlinjo ini? walau harus hati-hati, terutama bagi penderita sam urat dan darah tinggi..
Foto-fotonya dibuat akhir Juli-awal Agustus ini, dikirim papa saya via e-mail…
Hmm… iya bener Bu… keluarga saya termasuk kompak, termasuk nggepukin mlinjo ini, awalnya sih karena sayang kalau melinjo itu tak dimanfaatkan. Dijual kurang banyak, dibuang sayang karena nggak bisa dibilang sedikit juga. jadi deh dimanfaatkan dengan cara yang paling sederhana, tapi seluruh keluarga saya suka. Dan akhirnya malah jadi tulisan di kemudian hari…
Kalau saya baca dari posting Ibu, saya kira putra-putri Bu Enny pasti punya kenangan indah/ istimewa di masa kecilnya tentang Bapak dan Ibu yang hebat ini…
salam hangat selalu, Bu…
Emping blinjo manis pedas itu adalah kesukaanku, meskipun aku pilih jangan yang terlalu keras (aku belum pake gigi palsu seperti om NH sih hihihi). Wah aku lupa beli waktu mudik ini. biarlah next time.
Kalau sudah buka satu kantong, ngga akan berenti kalau belum habis. Gawat deh…
Di jepang ada yang namanya ginnan, seperti mlinjo juga, dan harum jika dibakar. Merupakan makan mewah karena mahal.
Senang sekali bisa berkolaborasi dengan papa menulis ini ya…. Aku mau berkolaborasi dengan papa susah, abis papa tukang minyak, aku tukang obat (cuap-cuap) hihihihi.
posting yang bagus dengan referensi yang lengkap. Jempol.
EM
Satu lagi penggemar emping melinjo…. sama Mbak… aku juga ogah brenti kalau udah makan emping mlinjo… hehe… beli emping mentah dibawa pulang ke Jepang Mbak, mumpung masih di tanah air…
ginnan di Jepang itu sama dengan ginko biloba nggak ya Mbak?
terima kasih pujiannya ya Mbak…
Di rumah saya dulu ada pohon melinjo.. karena berbuah eh berbiji lebat, kita simpulkan saja itu mungkin melinjo cewe ya Mba.. Hehe..
Dulu saya dan adik hobinya manjat pohon melinjo sampai ke atap rumah.. pernah suatu hari, sedang pake rok, mau pergi jalan2, kami sempat2kan manjat.. dan pas turun di rok adik saya ada ulat bulunya.. besaarrrrrrr sekali.. hahaha…
Mama saya langsung ngamuk2..
Waktu bijinya banyak mama dan bapak pernah iseng2 bikin melinjo sendiri.. kami pukul biji melinjonya ramai2.. sampai pipih.. rasanya sih mirip emping yang biasa dijual di pasar, tapi lebih keras.. xixixixi…
Mama sepertinya menganggap keluarga kami ga pandai membuat emping dan akhirnya ga pernah bikin emping lagi sampai sekarang
Aaahh…ulat?…. hiyaa…. langsung bergidik mrinding aku.. hiiiiiyyy….. badung juga ya cewek hobi manjat-manjat pohon? hehe…
Wah, rupanya Clara punya pengalaman bikin emping juga ya? ayo tulis….
Kalau panen melinjo lagi, bijinya diapain dong sekarang? Masih ada kan pohonnya?
mbak Nana,
keakraban mbak Nana dengan papa malah bikin aku kangen dengan almarhum papaku,
btw, emping gepuk pedas kesukaan kami juga lho
pernah nyoba buat emping hail beli melinjo di tukang sayur,
malahan jadi geli ngeliatnya…kotor banget…, siapa yang tega makannya
Satu lagi penggemar emping… hehe…
Nah ini juga alasan kami nggak bikin emping pipih.. soalnya selain makan waktu, amatir kayak kami malah bikin emping jadi dekil dan kotor hehe… jauh lebih simpel membuat temping gepuk ini, sekali atau dua kali pukul, jadi deh… nggsk sempet jadi dekil hehehe…
entah kenapa gak suka sama yang satu ini mbak
salam kenal
Well…. selera orang memang lain-lain ya…
salam kenal juga ya…
aku suka emping. Suka bangettt. Apalagi kalo lebaran. Mama selalu masak sayur godok yang terdiri dari santan, kacang panjang, ada potongan tempe, dan juga di kasih petai, biar sedap
Temannya ada rendang daging, dan juga sambel goreng kentang.
Makanan ini nantinya akan di guyurkan pada ketupat yang sudah di potong. Dan hasil akhirnya di berikan remukan emping di atasnya…Mak nyusssss
Mbak, aku jadi laper…
HUSH! Puasa juga
Walah…walah… puasa nih, puasa…
hehe…. tapi emang bener sh, emping itu enaaakk….. *hus, ngomongin makanan lagi…
Wah, aku tiba-tiba jadi kangen makan sayur oseng2 mlinjo.
Di sini emping lumayan mudah didapat soalnya
Ntar mudik, puas2in makan makanan Jawa… eh, kapan mudik Don?
Emping payu juga ya di Australi? yang beli orang2 Indonesia juga kali ya…
huaaaaaaaa…aku suka banget sama emping mbak…
kalau kerumah makan dan makan soto biasanya aku minta empingnya double huhehehehe…atau makan karedok biasanya aku minta juga tuh tambahan empingnya
aril yg udah di keluarin bijinya? huhahahahaha aku kok jadi mikir aril yg lain ya mbak *ampun dah aku kan puasa! huhahahahaha*
hehehe… emping emang enak sih… rasanya khas dan unik..
Hayoloooohhh…. puasa….puasa… jauhin pikiran yang enggak-enggak… *sok bijak
melinjo kulit dalamnya keras, jadi susah makan. padahal enak. tapi aku suka kripiknya..:)
Cangkangnya emang keras, bikin males makan… tapi kalau udah jadi emping, nggak pake males lagi deh..
..
Olahan melinjo aku doyan semua mbak, kebetulan dibelakang rumah ada beberapa pohon melinjo juga..
..
aha…. satu lagi penggemar em[ing melinjo…
kalau panen melinjo trus diapain Ta?
melinjo itu banyak fungsinya juga yah..
daunnya juga bisa menjadi bahan pelengkap sayur asam..
hmmm…sedapnya emping gepuk, bisa untuk sajian lebaran nih..hehehe
salam kenal
Salam kenal juga ya…
emping kayaknya banyak jadi sajian pas Lebaran deh…menjelang Lebaran biasanya emping jadi mahal hehe…
harusnya kemarin nganggur di palu buat emping mbak
lumayan kan buat peserta meeting untuk buka puasa
Cocok mi…
di Palu thuthuk-thuthuk nggo palu…
Aku pernah nggoreng Aril mbak

hihihih gosooong.. ora enak!
tapi kalo nggorengnya pas, gurih keren
Mbak Na, udh dua kali posting soal makanan, jd pengen dimasakin hehehe
Hehe… iya nggoreng aril gampang-gampang susah… kalau kurang kering rasanya “mlempem” kalau terlalu kering/gosong, nggak enak hehe…
Emping sudah bukan makanan murah meriah kalau menjelang lebaran gini,Na. Harganya bisa saingan sama daging sapi.
Aku ingat dulu sewaktu awal-awal tinggal di perkampungan betawi, aku suka nimbrung bikin emping. Seru!! Batu yang dipakai buat memipihkan melinjo itu sampai hitam keliiiing, baguuus banget, padahal batunya itu besar dan lebar lho.
Aku doyan Melinjo, tapi bukan penggemar berat. Ada dimakan, ga ada ya gak nyari..hehehe..
Tulisanmu Mantabs !!
Thanks ya Mbak..
Iya bener Mbak… emping jadi muahalll polll menjelang lebaran…
Aku jadi penasaran tentang bikin emping di perkampungan Betawi itu… lebih tepatnya penasaran pengen liat batu yang jadi hitam keling itu
Mau tanya mba, apakah emping juga menyebabkan DARAH TINGGI coz saya penggemar berat emping, sarapan bubur ayam setiap hari harus pake emping, makan soto mesti ada emping. Tapi waktu saya beli bubur ayam dan bilang sama penjualnya supaya tidak pake kecap asin karena saya darah tinggi; dia lalu tambahin, lho…pak, sama saja kalau bapak pake emping karena emping juga penyebab darah tinggi. sipenjual bilang seperti itu karena dia tahu kalau saya suka banget sama emping. Thanks & salam kenal. Ramli
Wah, maaf ya Mas Ramli… saya tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan Anda ini… silakan bertanya pada ahli medis, pasti jawabannya lebih memuaskan…
salam kenal ya…