Sudah agak lama aku ingin menulis tentang Muntilan, tapi selalu saja tertunda-tunda. Rasanya setiap kali mau upload tulisan tentang daerah kelahiranku ini, mood-ku sedang nggak pas…
Sepertinya memang banyak orang yang belum mengenal Muntilan, terutama yang berada di luar Jawa Tengah, apalagi luar Jawa
Muntilan ini adalah kota kecil yang menjadi poros utama arus lalu lintas dari arah Jogja menuju Magelang, dan sebaliknya.
Acapkali ketika kujawab aku berasal dari Muntilan, nah, banyak orang akan bertanya lebih lanjut, di manakah Muntilan itu?
Untuk sederhananya, kujawab begini. Ini kota kecil, dekat Borobudur, kalau Anda dari Yogyakarta menuju Candi Borobudur, nah, Anda pasti melewati Muntilan. Biasanya jawabanku ini akan disusul dengan “Ooooooo……”.
Moment ini tiba-tiba saja hadir tanpa diundang, moment di mana aku ingin berbagi tentang Muntilan, justru di saat ia berselimut abu…

Baru kali ini dalam seumur hidupku, Merapi murka sedemikian dahsyat, menjadikan Muntilan dan wilayah sekitaran ring Merapi tertutup abu vulkanik.
Muntilan, yang biasanya tenang dan asri, tertutup kelabu kusam, memberi kesan “gloomy”.
Muntilan, sebuah kota kecil di kaki Merapi sana. Daerah subur menghijau dan asri. Udaranya sejuk dengan suasana yang tenang.
Ketika Merapi meletus, mendadak Muntilan naik daun. Banyak diberitakan di koran dan televisi, bahwa Muntilan bagai kota mati akibat diguyur hujan abu vulkanik dari Gunung Merapi yang meletus sejak tanggal 26 Oktober 2010. Memang pasar dan pertokoan sempat lumpuh. Pun begitu juga dengan pemukiman penduduk. Ketiadaan listrik akibat putusnya jaringan listrik membuat Muntilan gelap gulita selama berhari-hari, sehingga sebagian besar memilih untuk mengungsi sementara ke rumah kerabat di kota lain yang lebih aman.
Banyak kawan-kawan blogger dan sahabat sedari SMA dan kuliah yang mengirimiku SMS, menanyakan kabar keluargaku di Muntilan. Terima kasih atas atensi kalian semua… mengharukan, perhatian kalian semua sungguh sangat berarti…
Sepertinya tak banyak kata yang ingin kutulis kali ini.
Dengan seijin Saudara Aryo Wiboyono, aku meminjam foto-foto di Facebook hasil bidikan kameranya untuk kupasang di sini.
Terima kasih banyak ya, Saudara Aryo… nice to meet you.. foto-foto Anda luar biasa!
Foto #1 kupinjam dari sini.
Foto #2 kupinjam dari sini.
Foto #3 kupinjam dari sini.
Foto #4 kupinjam dari sini.
Foto #5 kupinjam dari sini.
- .
Foto #6 kupinjam dari sini.
Foto #7 kupinjam dari sini.
Foto #8 kupinjam dari sini.
Foto #9 kupinjam dari sini.
Foto #10 kupinjam dari sini.
Foto # 11 kupinjam dari sini.
Kini, Muntilan dan daerah lainnya di lereng Merapi tengah berbenah, sibuk membersihkan rumah-rumah dan jalan. Meski beberapa tempat porak poranda, menyanyikan lagu ini membuatku terharu… siapa ya penciptanya? Ada yang mau memberitahu?
Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai
****
Semoga beberapa waktu lagi, desaku dan desa-desa di lereng Merapi sana kembali subur makmur, sejuk menghijau permai.
Simbah Merapi sedang menabur pupuknya, semoga banyak abu, banyak berkah! Amin…Amin… Amin!
****
Note:
1. Sekali lagi, terima kasih sebesar-besarnya untuk SAUDARA ARYO WIBOYONO yang telah mengabadikan Muntilan tercinta dan sekitarnya, serta mengijinkan sebagian foto-fotonya untuk kupasang di sini. Foto-foto Anda sungguh luar biasa dan akan tetap dinikmati jutaan orang hingga bertahun-tahun mendatang.. Tuhan memberkati..
2. Foto-foto di atas kupinjam dengan menyertakan sumbernya, di Facebook Saudara Aryo. Silakan klik untuk melihat foto-foto amazing lainnya.












terharu melihat poto-poto ini…
semoga masyarakat Muntilan bisa sabar dan bisa cepat bangkit kembali selepas bencana ini … Amin
Salam BURUNG HANTU
Thanks ya Denuzz….
iya semoga semua warga lereng Merapi segera bangkit untuk maju dan terus semangat melanjutkan hidup..
Sering ke Muntilan, krn ada saudara suami, yg dituakan, tinggal di sana.
Sedih sekali waktu tahu Muntilan, turut jadi daerah korban. Semoga cepat pulih kembali.
Amin…. ya, kita semua berdoa dan berharap semoga keadaan lekas pulih kembali.. saudara suami tinggal di Muntilannya daerah mana?
Ada Tiga Hal Na …
1. Foto
Foto-foto diatas sungguh dramatis Na …
Fotografernya berhasil mengabadikan moment tersebut dengan sangat baik …
2. Desaku
Ini lagu ciptaan Ibu Soed Na
http://theordinarytrainer.wordpress.com/2010/05/01/lagu-untuk-anak/
3. Merapi
Saya tidak putus-putus berdoa
Semoga semua bisa kembali normal seperti semula
Salam saya Na
1. Ya bener Om… aku sampai bingung mau pilih foto yang mana. abis ada ratusan dan bagus-bagus semua… fotografer handal tuh..
2. Trima kasih ya Om.. tadinya ragu-ragu, sekarang udah mantap tau, bahwa lagu ini ciptaan Ibu Soed.. ini lagu kesayangan waktu kecilku, Om… menyanyikannya sekarang hadiuhhh… trenyuh deh Om…
3. Amin…amin… semoga bencana ini segera berlalu, dan keadaan segera pulih kembali…
blog yang sangat menarik untuk disimak.bukan hanya ttg kota Muntilan dan Merapi saja,tetapi yang lainnya juga. Keep Blogging…..
Aha! Sang fotografer sendiri membaca dan memberi komentar… Beribu terima kasih ya…
what a happiness…
Kemarin di MetroTV yang kurelay melalui parabola, ada quote menarik dari Surono, ahli vulkanologi.. dia bilang bahwa merapi sedang menabur kemakmuran dan rejeki baru berupa pasir dan batu vulkanik yang bisa digunakan untuk menghidupi rakyat tapi nanti, setelah kita semua bersabar
Turut prihatin dengan Muntilan, Na…
Dulu, sebelum pindah kemari, setiap sebulan sekali aku pasti lewat sini untuk berziarah ke Sendangsono.. tak kusangka sekarang jadi seperti itu ya…
Lalu kemana para penjual makanan disekitar klentheng yang enak2 itu ya?
Turut berduka!
Aku nonton juga acara itu… dan aku sepakat dengan Pak Surono itu.. salah satu “janji” Merapi adalah kesuburan tanah dan rejeki berupa pasir dan batu vulkaniknya…
Aku semakin salut pada Pak Surono, beliau selalu memberi penjelasan yang ilmiah dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti masyarakat awam, dan bukannya menebar horor seperti para reporter payah itu..
Para penjual makanan enak itu tampaknya sempat istirahat juga Don… lha di tengah guyuran abu, siapa yang mau jajan di tempat terbuka gitu ya…
Bagaimana pun juga, Muntilan masih lebih beruntung dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lebih dekat ke puncak Merapi. Luluh lantak di sana, Don… miris…
Merapi indah namun menyeramkan…
Berita si mbak hari ini, Muntilan mulai bebanah kembali..masih ada abu menyembur namun tak separah seperti letusan tanggal 4-5 Nopember 2010.
Si mbak juga bersiap kembali ke Jakarta…pasar mulai ada yang jualan Nana.
Semoga Muntilan kembali asri dan tenang ya
Ya… Merapi memang indah, mengagumkan dan menakutkan saat meletus begitu.
Si Mbak tinggal di daerah mana ya Bu?
Saya juga selalu menanyakan kabar pada keluarga. Para pengungsi sudah direlokasi ke Magelang setelah mengungsi di sekolah-sekolah dan kantor-kantor sehingga kegiatan perkantoran dan KBM pun ikut terhenti.
Sekarang pasar sudah buka kembali dengan mendatangkan sayuran dari daerah Ambarawa. Katanya harganya menjadi lebih mahal…
Semoga Muntilan dan daerah di kawasan lereng Merapi segera bangkit dan kembali berseri…
Aku terpana melihat photo2 itu. Terselip sedih dalam doaku, semoga Muntilan kembali bangkit seperti sedia kala.
Semoga, semua bisa bersabar menantikan kesuburan yg dijanjikan melalui letusan gunung Merapi ini (mengutip DV). AMIN
Amin Mbak…
Semua perlu proses untuk menjadi indah kembali… Semoga masyarakat korban letusan Merapi dan juga korban bencana alam lainnya tetap bersemangat dan bangkit lagi.
Maturnuwun, Mbak..
fotonya bagus, tapi aslinya ngeri..
anginnya banyak ke barat daya & selatan..
Muntilan abunya parah…
Iya bener… fotonya bagus-bagus, original banget… sampai bingung mau pilih yang mana
Seumur hidupku, baru kali ini Merapi meletus begitu hebat. dulu-dulunya “hanya” abu, nggak sampai 1mm tebalnya. sekarang 3-15 cm… begitupun Muntilan masih terbilang lebih beruntung dibandingkan daerah-daerah di atasnya yang lebih dekat ke Merapi..
wow 2 foto yang pertama itu dahsyat banget… hebat nih fotografernya!!
ikutan sedih ngeliat foto2 muntilan.. moga2 kondisi bisa segera pulih ya disana…
lagu desaku itu kalo gak salah yang ngarang ibu sud deh na…
muntilan ohh muntilan , saya pernah singgah disana kota yang sejuk itu sekarang tertutup abu vulkanik hu hu.
belajar bersabarlagi saya. salam hangat
Begidik liatnya
sedih…
Berdoa, agar bencana ini segera selesai.
Dan semua kembali normal….
foto2nya keren2 walaupun miris menatapnya
benar sekali Mbak, Merapi sedang menaburkan benih kesuburan utk tanah disekitarnya , agar nanti kembali hijau dan indah .
salam
Trims udah membagi foto2 itu di sini. Salut pd mas aryo yg buat foto2 ini, pasti nggak mudah untuk membuatnya dan udah mengijinkan utk sharing di sini. Smg semua ini cepat berlalu
Proses pembersihan pasti memakan waktu lama. Mudah2an pemerintah memberi apresiasi yang cukup utk mereka yang jadi relawan…
Nana… aku merasakan sekali apa yang dirimu rasakan. Aku melihat langsung Muntilan bersama rekan-rekan relawan lainnya. Sedih sekali melihatnya…
Jujur, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Muntilan, yang terbayang adalah Nana. Betapa gundahnya perasaan kita yang berada jauh di perantauan dan mengetahui kampung kita porak poranda…
Nana… aku sangat yakin, suatu saat Muntilan akan kembali berseri seperti sedia kala, atau bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya, seperti yang dikatakan Pak Surono.
Satu lagi Na… aku kok bergemuruh membaca tulisan ini, terutama pada bagian lagu “Desaku”, ada getaran hebat di sana, dan butiran hangat menetes dari sudut mataku, sungguh…
mbak Nana.. semoa muntilan segera bangkit ya Mbak..
memang, Muntilan jauh lebih parah dibanding Kota Jogja. Angin yang selalu ke barat menyebabkan abu dan pasir jatuhnya ke Muntilan.
walopun bukan tanah kelahiran saya,
Muntilan juga ada arti penting buat saya. Pernah KKN di sana (Ngablak).. dan keluarga yg dulu saya ikutin saat itu pun juga harus mengungsi. saya lost contact degnan mereka.
sodara yang tinggal di sana pun, (Pabelan) ngungsi ke Jogja.
Muntilan Bangkit.
Nana, aku kenal banget Muntilan. Ya pastilah, karena selalu melewati kota ini kalau ke Magelang dan Semarang. Bagiku, yang sangat menarik dari Muntilan adalah kerajinan batu ukirnya. Aku beberapa kali blusukan ke pengrajin-pengrajin batu untuk memesan ornamen, pot, dan lain-lain. Untuk yang terbuat dari batu asli, harganya cukup mahal juga. Pot setinggi 1 meter dengan diameter 40 cm, harganya di atas 1 juta … Tapi memang cantiik …. apalagi jika dipadu dengan desain taman yang sesuai.
Semoga Muntilan segera bangkit kembali. Sawah segera bisa ditanami kembali, dan para pengrajin batu segera berkarya kembali …
4-21-2011
muntilan telh bangikt kembali,,, hanya saja terkendala oleh jembatan2 yang terputus,,, tapi,, macan menunggu waktunya untuk keluar itu saja,,,u
Hebat benar ciptaan Tuhanku