Kenduri

Di kampungku, tradisi kenduren –kenduri-, masih terus dilakukan. Entah sejak kapan tradisi ini bermula. Aku hanya tahu satu makna: syukuran, atau  slametan dalam bahasa Jawa yang berarti memohon keselamatan bagi orang yang dislameti, atau demi kelancaran suatu acara. Slametan biasanya dilakukan di malam hari, seusai Isya.

Para bapak atau anak laki-laki tertua dalam keluarga -yang sudah dianggap dewasa-,  berkumpul di rumah si empunya hajat. Dipimpin oleh pak Kaum (pemuka agama yang dituakan), mereka duduk mengelilingi nasi kenduri untuk berdoa bersama. Nasi berkat itu akan dibagikan kepada para tamu untuk dibawa pulang.

Hebatnya, mereka juga tetap menerima dan mengundang orang yang beragama lain dengan mereka.

Setelah doa selesai, dilanjutkan dengan hidangan teh hangat manis dan makanan ringan berupa tempe, tahu atau pisang goreng. Para bapak ini duduk-duduk di tikar sambil berbincang akrab, sambil saling menyapa. Kadangkala tuan rumah menyediakan rokok.

See? Sederhana saja untuk bersatu. Berkumpul dalam damai, saling menyapa hangat akrab… hmm.. indahnya.. tak ada permusuhan…tak ada perselisihan…

Setelah itu, para bapak pulang sambil membawa besek (anyaman bilah bambu) yang berisi nasi putih, sayur oseng buncis, mie goreng, sambal goreng kentang, capcay ndeso, (dilafalkan sebagai capjae oleh orang desa) , sepotong telur dan tempe bacem.

Sambal goreng kentang ini, bagi yang mampu, ditambah dengan hati dan ampela ayam. Tapi bagi yang kurang mampu, sambal goreng kentang ini hanya berisi kentang yang dipotong dadu kecil, digoreng dan dimasak dengan santan hingga agak kering. Masing-masing masakan ini diletakkan dalam wadah yang disebut sudi dan takir, semua terbuat dari daun pisang.

****

(Kini, menuliskan tentang besekan kenduri ini membuatku mengorek keterangan dari papa via SMS… :)

Papa pun dengan rela mewawancarai seorang tetangga yang dituakan di desaku yang memahami betul arti setiap makanan dalam kenduri, lalu menuliskan kembali dan mengirimkannya padaku via e-mail…. Terima kasih, banyak , Papa… )

Kusarikan di sini ya… Besek itu dilengkapi dengan berbagai makanan sebagai syarat pelengkap sesuai dengan tujuan kenduri.

* sekitar kelahiran bayi

- hari lahir (brokohan) : sego kluban (nasi urap)

- sepasaran (5 hari): nasi urap, jenang abang-putih,   peyek kacang, krupuk, entho-entho, dan lauk pauk sederhana.

- selapanan (35 hari) : Nasi urap

* Khitan/sunat: nasi urap, jenang abang-putih, peyek kacang, jajan pasar, dan pisang raja. *maksudnya biar hasilnya kayak pisang raja?* –eeaaa!!–  :)

* Pengantin: nasi urap, jenang abang-putih, peyek kacang, krupuk, entho-entho, ingkung/daging ayam, dan jajan pasar.

* Sepasaran pengantin: nasi urap dan telur, dan bubur sumsum

* Mitoni (7 bulanan): Nasi urap, jenang abang putih, peyek kacang, entho-entho, jajan pasar, dawet, waluh, clorot, jenang jongkong, inthil, klepon dll.

* Sekitar kematian

-          hari pertama (surtanah) : nasi kluban (sejenis urap), peyek kacang, peyek kedelai hitam, peyek keper (ikan asin), krupuk, entho-entho, rempah segitiga, dan lauk sederhana.

-          Hari ke 40- hari 100: idem…

- 1000 hari: sama dengan kenduri surtanah, ditambah apem, ketan dan kolak ubi dan pisang kepok. Setelah kenduri, melepas sepasang merpati.

Sebenarnya masing-masing makanan itu mengandung makna mendalam lho…

Peyek keper/gereh (ikan asin kecil): supaya keluarga yang ditinggalkan bisa meper atine, -mengikhlaskan kepergian almarhum)

Peyek kedelai hitam: semasa hidupnya, semua orang pasti punya salah, dosa, tidak bersih, ada noda-noda “hitam” selama hidupnya, pengingat bahwa manusia tidak boleh sombong.

Entho-entho: bunder, bulat, gilig, lambang kebulatan hati berserah pada Tuhan.

Rempah segi telu: selama hidup manusia tak luput dari tiga hal ini: ina, apes, lali. (kehinaan, kesialan, dan kealpaan) karena itu, janganlah suka merasa lebih tinggi/lebih benar dari  orang lain.

Dawet: supaya bayi jangan sampai kedhuwet/ruwet di dalam kandungan dan segera lahir pada masanya.

Sayangnya, aku, dan generasi seangkatanku tak lagi memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Orang-orang hanya melanjutkan tradisi, yang diwariskan secara lisan, dan resep pun diturunkan dari tukang masak senior kepada yang lebih muda melalui praktek langsung saat rewang, tak sempat tercatat!

(Rewang: dari kata ngrewangi= membantu. Dalam konteks ini, rewang berarti ibu-ibu berkumpul secara sukarela di rumah si empunya hajat untuk membantu memasak)

****

Dan ini yang kusuka: peyek kedelai hitam dan entho-entho sejujurnya agak susah mendeskripsikan makanan satu ini.

Entho-entho ini terbuat dari parutan kelapa muda dan tepung beras, dibumbui garam dan rempah-rempah. Supaya tidak terlalu keras, adonan ditambah dengan telur. Tapi supaya irit, beberapa adonan tidak menggunakan telur.

Adonan ini dibentuk bulat-bulat sebesar kelereng,  lalu digoreng kering. Rasanya gurih dan enak sekali. Makanan lain yang kusuka adalah peyek kedelai hitam, orang-orang desa menyebutnya peyek “tholo”. Rasanya gurih sekali.

Dalam sebuah plastik kecil, “paket” peyek kacang, peyek gereh (ikan asin) peyek kedelai hitam dan entho-entho ini disatukan.

****

Nah ini serunya…

Begitu papa sampai di rumah dari acara kenduren, kami segera bergegas mengerubungi papa. Besekan dataaannngg!!  Aku ingat, kadang kami sudah naik ke tempat tidur saat papa pulang membawa besekan kenduren. Girang kami meloncat dari tempat tidur menyerbu besekan itu.

Yang pertama kami serbu adalah entho-entho itu… hihihi… padahal, tau nggak, dalam satu besekan hanya ada 3-4 butir entho-entho! Artinya, kami berempat, hanya mendapat satu butir entho-entho. Begitupun, satu entho-entho tak masalah, tetap enak dan seru!

Rasa makanan dalam besekan kenduren ini memang khas. Entah apa yang membuatnya beroma dan berasa khas. Mungkin karena dimasak diatas tungku kayu bakar, aroma asap dan kayu terbakar ikut menyumbang “taste” yang khas pedesaan.

Mungkin suatu saat kelak, peran tungku kayu atau anglo arang akan tergantikan oleh kompor gas demi sebuah alasan: lebih praktis… aduh… betapa sayang sebenarnya…

Waktu aku masih kecil, aku pernah menyerbu besekan yang dibawa papa dari selamatan, dan seperti biasa yang kucari adalah entho-entho.. hihihi…  :)

Oww… betapa kecewanya aku karena tak ada entho-entho dalam besekan itu.

Oh, well…. segala kesederhanaan itu membuatku rindu pada kampung halaman..

****

Di Jakarta, besekan kenduri seperti ini disebut nasi berkat. Sewaktu aku tinggal di ibukota dulu, aku pernah mendapat nasi berkat ini.

Well, lain daerah memang lain pula tradisinya ya.. aku lupa apa saja isinya, yang jelas, nasi itu benar-benar menjadi berkat untuk anak kost sepertiku saat itu..

Dan…..setengah mati…

Aku kangen kampung halamanku…

Kangen keluargaku…

Kangen besekan dan entho-enthonya!!

****

Bagaimana tradisi kenduri di daerah Anda? Boleh berbagi?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Kenduri

  1. monda says:

    Papa top deh. Wawancara untuk mendukung artikel ini. Salam buat beliau. Masih penasaran dgn entho2 itu, biarpun sudah diterangkan. Sptnya belum pernah liat mbak.

  2. arman says:

    baru tau gua kalo makanan yang disajikan beda2 tergantung acaranya.
    gua taunya kalo mau selametan ya pake tumpeng aja. hehehe.

    • nanaharmanto says:

      hehehe…. biasanya tumpengan untuk acara2 tertentu ya, yang bisa dimakan rame-rame di tempat itu… kalau kenduri/besekan/nasi berkat kan untuk dibawa pulang, jadi yang di rumah pun kecipratan hehehe… :)

  3. edratna says:

    Nana, entho-entho ini ditempatku namanya rempah…si mbak yang asli Muntilan suka bikin ini. Rasanya enak, dimakan sama nasi hangat.

    Saya kangen dengan suasana kampung, acara slametan, kenduri tanpa membedakan suku, ras maupun agama. Indah sekali kebersamaan tersebut. Kenduri memang membuat antar tetangga akrab, biasanya dilakukan oleh orang yang cukup mampu….dan rasanya seneng banget dapat berkat ya.

    • nanaharmanto says:

      Wah,… Mbak yang asli Muntilan pasti tau cara membuat entho2/rempah ini… kapan2 saya minta tolong contekan resepnya ya Bu?
      Suami saya juga belum pernah melihat entho2 ini…

      iya bener Bu Enny, suasana keakraban di kampung yang sederhana itu memang ngangeni… sampai saya besar begini, masih seneng dapat besekan kenduri.. untung mudik yang cuma sesaat kemarin saya sempat merasakan besekan kenduri lagi….
      Saya nggak tau persisnya bagaimana mengenai biayanya , tapi setiap keluarga yg berduka atau punya hajat pasti mengadakan kenduri.. dan para ibu datang untuk rewang, biasanya para bapak bergotong royong utk pekerjaan yg lebih berat, misal pasang tenda dan mengatur kursi.. pokoknya kerjasama tanpa pamrih..

  4. Ikkyu_san says:

    Gini-gini di Jepang juga ada loh kenduri gini, tapi bukan berbentuk nasi. Biasanya kue mochi/pao manis berwarna merah (pink) dan putih, warna “festival”.

    EM

  5. zee says:

    Aku belum pernah bikin kenduri mbak. Entah juga kenapa. Waktu di Biak acara arisan saja, itu bisa ga disebut kenduri? Waktu hamil juga tdk ada perayaan apa-apa. Tapi kalau ikutan acara selamatan di rumah sodara sih pernah lah :).

    • nanaharmanto says:

      Di rumahku pernah bikin kenduri, waktu nenekku meninggal, waktu adik bungsuku lahir dan waktu aku merit… jujur aku dulu nggak terlalu ngeh, serahkan aja pada orang-orang/tetangga yang ngerti, mamaku tinggal belanja aja sesuai keperluan hehehe…

  6. exty says:

    sama mba aku juga pasti nyari pertamanya entho-entho dan sego gurih, bahan dan bentuknya sederhana tapi ngangeni he………
    dan aku baru tahu makna tiap makanan setelah baca ini thanks infonya mba,
    kalo waktu dikampung ikut rewang ya tahunya kalo kenduren pelengkapnya harus ada makanan seperti diatas itu tanpa tahu maknanya he….

    • nanaharmanto says:

      hahaha…. penggemar entho-entho juga rupanya… padahal dalam setiap “paket” kenduri, entho-entho itu cuma beberapa butir doang, nggak sampai 10 butir deh, tapi ya tetep itu yang dicari duluan hihi…

      Aku tahu maknanya juga dari hasil obrolan dengan papaku itu… hihi…
      Sayang ya generasi kita kayaknya bener2 nggak mudheng pernak pernik kenduri begini…

  7. nh18 says:

    Wah ini manis sekali …
    nostalgia jaman dulu …
    jaman ketika besekan menjadi tradisi masyarakat kita

    Yang jelas …
    sekarang sudah tergantikan dengan Nasi Bungkus …
    dan kalau di tempat saya menunya standart …
    Ayam Goreng – Sambal Goreng Ati – Lalaban – Telor Balado
    – plus Pisang …

    Begitu biasanya Na …

    Apa khabar Na
    lama saya tidak dolan kesini

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Wah, sayang banget kalau tradisi besekan/kenduri diganti nasi bungkus, Om…

      Semoga tradisi kenduri di kampung saya nggak akan punah atau pun tergantikan… kesederhanaannya itu lah yang sarat makna…

      salam hangat selalu, Om..

  8. DV says:

    Aku menikmati tradisi kenduri itu di Kebumen….
    Di sana nyaris malam jumat slalu saja ada kenduri…. dan makanannya memang menyenangkan..

    Aku paling suka serundeng :)

    • nanaharmanto says:

      Tiap malam Jumat ada kenduri? waahhh…mantep tenan… kalau aku jadi mamamu, aku pilih nggak masak tiap malam Jumat hihihi…. *njagakke endhoge si blorok* :)

      Wah, aku udah lama nggak makan serundeng…. papaku jago bikin serundeng lho… enaaakkk… :)

  9. Clara Croft says:

    tradisi selametan.. di Batak banyak sekali.. tiap ucapan syukur atau kemalangan biasanya ada selametannya juga.. wujudnya biasanya dengan potong ternak sih Mba Na.. kalo makanan2 spesial aku kurang mengerti.. tapi kupikir2 kalo orang Batak mah dikasi makan apa aja tetep bisa masuk, hehe..

    • nanaharmanto says:

      hmmm… beda suku, pasti beda budaya ya.. termasuk ragam kulinernya… kayaknya aku tau deh yang kau maksud dengan “ternak” itu hihihihi….

      Tapi pasti ada makna tertentu di balik makanan-makanan itu, hanya saja generasi kita udah nggak kenal makna2 adiluhung itu… :)

  10. Suke says:

    semakin lama di sini semakin nggak jelas tradisinya, seakan nggak punya ruh deh kota ini, tapi semoga usahanya lancar… :)

  11. vizon says:

    Kerjasama yang bagus nih antara Nana dan Papa untuk artikel ini, TOP… :)

    Aku tidak paham mengenai tatacara dan aturan kenduri ini, yang pasti aku sangat menikmatinya, karena sering mendapatkan dari tetangga yang kenduri. Sayangnya, aku belum pernah ngundang tetangga untuk kenduri, soalnya belum ada yang mau diselametin, hehehe.. :)

    Apa kabar, Na? Sehat selalu kan?

  12. Di kampungku juga masih ada acara begini

  13. septarius says:

    ..
    sebagai wong ndeso kenduri gak asing bagiku Mbak..
    sering banget..
    ada kenduri yg unik, namanya methik..
    di lakuin pas mau panen padi, kendurinya di pinggir sawah..
    makan ayam ingkung rame2, seruu..
    ..

  14. giewahyudi says:

    di kampung saya namanya kondangan, saya biasanya tukang ngundang-undang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s