Lonceng Gereja

Semua orang pasti sudah tahu, apa itu lonceng, bagaimana bentuknya dan bagaimana cara kerjanya.

Lonceng biasanya terbuat dari  perunggu atau kuningan atau campuran keduanya. Di negara Cina, mudah dijumpai lonceng dan genta kecil terbuat dari porselen.

Badan lonceng dibuat berongga dengan bandul pemukul terpisah. Untuk membunyikannya, pemukul dibenturkan pada badan lonceng (sama seperti gong).

Bentuk lainnya, bandul menggantung di tengah-tengah badan lonceng. Untuk membunyikannya, cukup sederhana. Goyangkan loncengnya hingga bandul berayun memukul dinding lonceng dan menimbulkan bunyi yang akan bergema karena rongga di dalamnya.

Lonceng dibuat dengan berbagai macam ukuran untuk suara yang dihasilkannya. Semakin kecil sebuah lonceng, makin kecil pula suara yang ditimbulkannya.

Ada pula lonceng yang diukir untuk kepentingan estetika dan hiasan.

Dahulu, lonceng digunakan untuk menarik perhatian masyarakat akan adanya pengumuman dan sebagai penanda waktu.

Penggunaan lonceng untuk keperluan religius sudah dimulai sejak lama. Genta dan lonceng kecil digunakan dalam ritual agama Katolik dan Buddha pada waktu-waktu tertentu.

Menurut Om Wiki, lonceng digunakan pertama kali dalam gereja Katolik pada tahun 400 Masehi. Penggunaan lonceng dalam gereja ini pertama kali diperkenalkan oleh Paulinus, Uskup Nola, -sebuah kota di Campania, Italia. Penggunaan lonceng segera populer untuk mengumpulkaan jemaat sebagai penanda waktunya beribadah.

Sama fungsinya dengan bedug di Mesjid ya…

tertulis: SOERABAJA 1920… hampir seabad ya…

****

Note: gambar lonceng gereja kupinjam dari web ini.

Kenapa tiba-tiba aku menulis tentang lonceng gereja?

Aku menjalani masa kecilku di sebuah kota kecil yang sejuk, Muntilan, Jawa Tengah.

Setiap Minggu aku pergi ke gereja terbesar di kotaku ini. Adalah hal biasa mendengar lonceng gereja berdentang.

Sekolahku pun berada di lokasi yang sangat dekat dengan gereja sehingga lonceng gereja siang hari sangat jelas terdengar.

Begitu lonceng berbunyi jam 12 siang, aku jadi senang, artinya satu jam lagi sekolah usai… :D

Biasanya lonceng gereja dibunyikan tiga kali setiap jam 6 pagi, jam 12 siang dan jam 6 sore. Konon, lonceng dibunyikan untuk mengingatkan orang saat untuk berdoa;  setidaknya doa syukur pagi hari untuk memulai hari, berdoa siang saat berisitirahat dan makan (menikmati hasil kerja), dan doa sore untuk bersyukur melewati hari itu dengan selamat sekaligus menutup kegiatan hari itu untuk beristirahat hingga esok hari.

Setahuku, lonceng gereja dibunyikan dengan cara khusus. Panjang 1 kali, diikuti 2 kali pendek-pendek.

Teeeennng….! teng.. teng…

Teeeennng….! teng..teng…

Teeeennng….! teng..teng…

Aku tak tahu persis berapa kali pengulangannya.

*Adakah yang bisa menambahkan info?

Bunyinya berakhir dengan dibiarkannya dentang semakin melemah dan diam sunyi dengan sendirinya.

Aku dulu biasa mendengar bunyi lonceng gerejaku dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, bukan sesuatu yang istimewa. Dentangnya kadang sayup terdengar dari rumahku.

Tapi ada hal yang menurutku lucu. Ada suatu masa ketika setiap kali lonceng gereja berbunyi, anjing penjaga di pastoran juga ikut melolong panjang. Dan lolongannya benar-benar panjang dan bising :D . Begitu lonceng gereja berhenti, lolongannya pun berhenti.

Entah mengapa bisa begitu.

****

Sampai sekarang ini, dari beberapa lonceng gereja yang kudengar, bunyi lonceng gereja paling mantap dan lantang tetap hanya di gereja Muntilan.

Lonceng besar di menara gereja Muntilan itu buatan Belanda dan sudah sangat  tua umurnya.

Waktu kecil aku pernah melihat pak koster, -pengurus gereja yang membunyikan lonceng itu dengan menarik tambang besar hingga hampir bergayut seperti Tarzan.

Biasanya saat Natal dan Paskah aku menyempatkan diri pulang untuk merayakannya di Muntilan.

Saat misa malam Natal dan Paskah, lonceng dibunyikan selama Madah Kemuliaan dinyanyikan. Sering aku sampai merinding mendengarnya.

Waktu kecil, aku pernah naik ke loteng gereja dan mengintip ke tempat lonceng itu berada. Seingatku, lonceng itu berwarna logam abu kehitaman, besar sekali dan harus ditarik dengan tambang dari bawah. Bunyinya agak mengerikan dari tempat sedekat itu, sampai aku agak ketakutan saat itu dan menutup kuping hihihi…

Nah, di gereja-gereja lain, loncengnya terdengar kurang mantap dan bahkan beberapa “asal bunyi”.

Di gereja tempat tinggalku sekarang, loncengnya kecil, terletak di dalam gereja dan bandul ditarik dengan tali untuk dipukulkan pada dinding lonceng hingga menimbulkan bunyi monoton.

Teng..!  (diam)

teng.. !  (diam)

teng.. !  (diam)

(dengan jarak antar bunyi nggak beraturan karena si penarik lonceng ragu-ragu…)

Pendek-pendek tanpa gaung.. aneh deh…

Tiba-tiba aku jadi merindukan dentang lonceng gereja Muntilan. Aku tak bisa menjelaskan dengan persis, tapi rasanya mendengar lonceng yang kudengar sejak kecil itu jauh lebih indah dan mantap :)   .

Dentangnya benar-benar lantang..

Sayang, aku tak tahu pula, apakah lonceng besar itu sudah diganti atau belum. Akhir-akhir ini bunyinya tak selantang dulu.

Terlalu tuakah lonceng itu?

Ataukah kota kecil kami yang semakin bising?

****

Ketika SMA, aku harus pergi dari kotaku untuk tinggal di asrama. Aku jadi jarang mendengar lonceng gereja berdentang. Tapi, bunyi lonceng gereja segera digantikan bunyi lonceng lainnya.

Segera, belum juga genap dua hari aku tinggal di asrama, aku menyadari, di asrama putri yang dikelola para suster itu, setiap hari aku akan mendengar bunyi kerincing lonceng tangan. Seeeeetiap hari….

Lonceng  tangan berbandul ganda itu digoyangkan untuk memanggil seluruh penghuni asrama untuk berkumpul.

Setidaknya ada tiga maksud. Pertama, lonceng penanda waktu makan. Kedua, waktu untuk berdoa khususnya ibadat penutup (Completarium).

Terakhir, untuk sidang.

Beeuuhhh… aku paling benci hal yang ketiga ini. Biasanya kami dikumpulkan saat terjadi kasus atau kenakalan kami ketauan suster. Lalu suster pembina akan menegur dan menasehati kami poaaaaanjaaang dan leeeebaaaaar hihihi… Bagi yang berkasus ataupun tidak, waktu seperti itu benar-benar menyebalkan. Tau kan rasanya, enggak salah tapi ikut kena getahnya?

Sudah diomelin begitu, tetap saja kami harus mengucapkan terima kasih pada suster… atas omelannya hmmm…

Kami jadi hafal, di luar waktu makan dan berdoa, kerincing lonceng artinya: duduk dengan muka manyun setidaknya setengah jam :D . Halooo… sweet CPA… remember that moment? :D

 

lonceng tangan

 

Note: gambar lonceng tangan kupinjam dari web ini.

 

 

– Well, lonceng gerejaku, lonceng klentengmu, bedug masjidmu, genta viharamu, apapun itu, suatu saat, pasti akan bersimfoni bersama…  Semoga…  :)  –

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Lonceng Gereja

  1. krismariana says:

    Aku dulu penasaran siapa yang membunyikan lonceng di gerejaku di Madiun. Lonceng itu letaknya di menara gereja yang tinggi. Aku penasaran, bagaimana membunyikannya ya? Ternyata memang ada tangga khusus untuk naik. Sekarang kupikir-pikir membunyikan lonceng di jam-jam khusus itu butuh kesetiaan tersendiri. Bayangkan kalau sampai lupa atau terlambat? ;)

    • nanaharmanto says:

      Sama Nik, dulu aku juga gitu. Ternyata di gereja Muntilan dipasangi tali tambang jadi bisa ditarik/dibunyikan dari bawah. Repot juga sih kalo setiap saat waktu membunyikan harus naik ke loteng yang tinggi begitu..

      Bener juga ya Nik… pak koster kalau lupa gimana ya? Lantas siapa yang membunyikan lonceng ya?

  2. nh18 says:

    Paragraf terakhir itu begitu menyejukkan …
    seraya ikut beharap … Semoga !

    Memang bunyi-bunyian khas akan selalu terngiang di telinga …
    membawa memori ke suasana tertentu … di masa yang lalu …

    Untuk case saya …
    mungkin boleh saya sebut … Suara Suling Pabrik …
    Ini sangat mengingatkan saya ketika saya sekolah dulu …

    Salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      [...] Memang bunyi-bunyian khas akan selalu terngiang di telinga …
      membawa memori ke suasana tertentu … di masa yang lalu …

      bener banget Om… seperti otomatis aja inget ke suasana tertentu..seperti lagu juga…

      Salam hangat juga Om… :)

  3. nh18 says:

    (wah komen pertama saya hilang …)
    saya ulang lagi ya Na ….

    Paragraf terakhir itu begitu menyejukkan …
    seraya ikut beharap … Semoga !

    Memang bunyi-bunyian khas akan selalu terngiang di telinga …
    membawa memori ke suasana tertentu … di masa yang lalu …

    Untuk case saya …
    mungkin boleh saya sebut … Suara Suling Pabrik …
    Ini sangat mengingatkan saya ketika saya sekolah dulu …

    Salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      Wahh… beberapa kali komen dari para sahabat juga nyangkut dulu di moderasi nih Om… kenapa ya? Padahal mereka selalu rajin ninggalin komen…

      salam (lebih) hangat, Om… :D

  4. Arman says:

    gereja2 yang baru sekarang rasanya gak ada loncengnya ya na?

    btw ngomongin lonceng, gua jadi inget pas sd dulu. di sekolah gua pake lonceng lho kalo buat tanda masuk sekolah, ganti jam pelajaran, dll. kalo sekolah2 lain kan biasanya pake bell listrik ya. kalo di sd gua dulu beneran pake lonceng, manual ada petugas yang gerakin. hehehe.

    • nanaharmanto says:

      Aku juga baru tau beberapa waktu lalu, ternyata nggak semua gereja punya lonceng gereja.

      Oh iya… di SD-ku dulu juga pake lonceng pukul, bahkan bentuknya gak kayak lonceng, cuma kayak lempeng besi digantung, tapi bunyinya ampun deh kenceng bener..

      Di SMP ada dua macem, lonceng pukul dan bel listrik. Seingatku sih lebih sering pake lonceng pukul..

  5. monda says:

    sama seperti si oom, suling pabrik sekitar jam 3 jadi suara yang khas dan teringat,
    kalau bunyi bel, waktu pulang reuni ke sekolah di Balikpapan kami rebutan membunyikan bel,
    rupanya banyak yang sedari dulu punya keinginan terpendam membunyikan lonceng sekolah
    lonceng itu dari logam tebal sepertinya bekas potongan pipa, dengan pemukul di bagian tengah yang diayunkan
    Suara yang mantap jedum2 selalu ditunggu untuk keluar main

    selain suara, aku juga suka rindu bau getah karet yang dulu sering kami buat menjadi bola kecil

    • nanaharmanto says:

      Sekolahku dulu juga pake lonceng pukul, Kak… waktu SMP ada dua macam bel. bel listrik dan lonceng pukul…dua-duanya sama-sama ditunggu bunyinya, apalagi kalau udah jenuh dan capek di kelas hehehe…

  6. Imelda says:

    gereja Blok B, gerejaku di Jkt masih memakai lonceng setiap pukul 6 pagi dan 12 siang (terutama yg terdengar jam 12 siang untuk doa angelus). Tentu otomatis tidak dengan menggoyangkan lonceng, tapi tinggal pencet tombol.

    Tapi justru aku merasa “home” di jkt setiap aku mendengar azan subuh. Karena tidak ada azan di Jepang selama aku tinggal 20 tahun ini :)

    • nanaharmanto says:

      Aku sempet tanya beberapa temen, mereka juga bilang, di gereja mereka sekarang tinggal pencet satu tombol untuk membunyikannya, gak perlu menggoyangkan loncengnya…

      Rumah Mbak Imel deket masjid kalau gitu ya?

  7. clararch02 says:

    Dulu waktu kecil juga suka menyelundup ke lantai atas untuk melihat lonceng Mba, hahaha,, tapi pas lagi ga bunyi jadi ga tau suaranya. Memang suara lonceng itu mistis banget. Kalo hari Minggu, lonceng mulai misa berdentang rasanya gimanaaa gitu… damai dan tenang :)

    • nanaharmanto says:

      Nah…. ada satu lagi istilah yang kudapat dari komenmu ini Cla… suara yg mistis… iya juga ya…rasanya gimanaaa gitu..

      Bagi anak-anak, mungkin lonceng di tempat tinggi gitu emang membuat penasaran ya.. hehehe… jadi pengen naik lagi ke loteng gereja Muntilan :D

  8. Riris E says:

    Di Gerejaku yang di Jatim Loncengnya hanya dari pipa besi besar dan panjang. Aku sendiri tidak terlalu mengingat kapan lonceng itu dibunyikan, sangat jarang sepertinya. Kecuali yang dekat rumah, setiap hari Minggu pagi-pagi sekali dibunyikan. Terasa sendu dan syahdu.

    Sepakat dengan Om NH, alinea terakhir menyejukkan sekali. Semoga..ya semoga.. damai di bumi kita damai di hati. Karena berbeda itu indah :)

    • nanaharmanto says:

      Kayak lonceng di SD-ku dulu juga gitu Mbak… harus dipukul kuat-kuat untuk membunyikannya..

      Di gereja Jatim itu loncengnya digoyang atau dipukul Mbak?
      Makasih ya Mbak udah komen… :)

  9. Nuryanto Heribertus says:

    jam 6 pagi, jam 12, jam 18, itu doa Angelus, dulu kala, lonceng gereja St Antonius muntilan terdengan sampai arah ke Gunung sari kampung ku, tapi skr sudah terlalu rame jadi, hamya radius 500meteran. sungguh membuat hati bergetar bagi yang sdg berdoa di greja. kangen misa di sini

  10. simbolon says:

    saya pengen tau, apakah ada perbedaan ritme bunyi lonceng antara jam 6, jam 12, jam 18, acara keagamaan seperti natal, tahun baru, dan paskah, atau juga orang yg meninggal dunia yg di bawa ke gereja??? mohon bantuannya ya. saya lagi nyusun skripsi yang judulnya lonceng gereja otomatis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s