Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Ah, tawuran lagi… prihatin dan miris  mendengar berita tentang tawuran lagi. Dilakukan pelajar SMA lagi. Ada korban jiwa pula.

Lalu.. tawuran lagi..  2 jiwa melayang sia-sia di Makassar dalam perkelahian brutal antar mahasiswa.

Waduh, seharusnya predikat “mahasiswa”  merujuk pada calon intelek yang diharapkan lebih menggunakan akal sehat, logika  dan  nurani,  dan bukan malah mengumbar emosi, kekerasan dan kebrutalan, kan? Lha ini mahasiswa apa sih yang mudah banget tersulut emosinya seperti mahluk zonder etika dan akal budi?

Sudah banyak talk show dan diskusi mengenai tawuran, pencegahan dan penanggulangannya, dengan pembicara berbagai elit serta tokoh-tokoh agama, pendidikan, hukum dan pemerhati masalah sosial. Ujung-ujungnya nih, (biasanya) toh jadi urusan kepolisian. Lalu dilupakan orang.

Dari pihak sekolah atau kampus, biasanya berbuntut tindakan pinalti berupa pemberian poin pelanggaran hingga jumlah tertentu, skorsing, pengurangan nilai akademik, dikeluarkan dari sekolah/kampus dan diserahkan ke kepolisian untuk selanjutnya diproses secara hukum bila menyangkut kriminal berat. Tapii… ya masih saja tawuran pecah lagi.

Ini sih pemikiranku pribadi, sebagai wong cilik, yang hanya punya blog pribadi, bagaimana mencegah tawuran.

1. Memanusiakan Manusia Muda

Istilah ini aku pinjam dari tokoh pendidikan, almarhum Profesor Driyarkara.

Intinya mereka, manusia muda (remaja) haruslah dididik dan dibekali untuk menjadi manusia dewasa yang intelek dan berbudaya, untuk kemudian siap bertanggung jawab penuh atas pilihan-pilihan hidupnya. Siapa yang bertanggung jawab? Ya Manusia yang lebih dewasa, yaitu orang tua dan guru/dosen.

Aduh… itu kan filsuf bangett…

Ya, ambil sederhananya saja. Setiap anak hendaknya dimanusiakan, di-uwongke,dan  dianggep (Jawa) sedari kecil. Beri dia penghargaan, beri dia pengertian bahwa dia sungguh berharga. Bahwa dia sangatlah berarti dan dicintai. Jangan pernah memarahi anak tanpa alasan jelas, jangan asal ngamuk dan memaki-maki anak.

Penghargaan kecil pada anak kecil, akan berbuah besar saat ia besar nanti.

Anak melakukan kesalahan itu wajar, koreksilah.. beri contoh yang baik.

Orangtua juga perlu meminta maaf bila melakukan kesalahan atau berlaku tidak adil pada anak. Anak akan belajar bahwa melakukan kesalahan itu wajar. Dia juga akan belajar meminta maaf atas kesalahannya. Hargai usahanya dalam meminta maaf tersebut.  Manusia-manusia muda ini akan belajar merasakan rasa bersalah dan penyesalan, tapi mereka akan mengerti kedua hal itu tidak akan merubah kasih sayang orangtua mereka.

2.  This is where I feel at home

Menjadi remaja itu “tugas” yang nggak mudah. Dia masih beradaptasi pada perubahan tubuhnya. Ia penuh kekuatiran tidak diterima oleh teman-temannya. Dari dalam dirinya sendiripun dia kebingungan mengapa emosinya mudah tersulut, mengapa dia begitu ingin berontak dan membangkang pada orangtua.

Kembali lagi ke poin pertama, kalau dia merasa dihargai sejak kecil, dia juga akan menghargai orangtuanya. Menghargai dirinya sendiri.

Orangtua juga hendaknya mau meluangkan waktu, mau menjadi sahabat anaknya, dan bersedia mendengarkan anak-anak remaja mereka. Kupikir, rumah yang nyaman adalah rumah yang hangat karena orangtua ada dan peduli pada anak.

Nah, kalau rumah nyaman, harapanku, semoga para remaja itu lebih kerasan di rumah daripada keluyuran di jalan nggak jelas.

Perilaku seseorang, mencerminkan apa yang dilaluinya di rumah.


3. Guruku, idolaku!

Guru yang bertugas mendidik di sekolah, hendaknya menjadi tokoh yang disegani bukan ditakuti siswa karena “galak”. Apa sih yang dibanggakan dari kegalakan ini?

Guru yang galak dan bermulut tajam (maaf) tidak akan mendapat respek dari murid-murid. Guru semacam ini justru dibenci.

Lantas, apa yang membuat guru ini galak atau gampang marah? Yah, alasannya macam-macam. Mungkin karena masalah rumah tangga, masalah kesejahteraan guru *ups! Dan lain-lain.  Apapun alasannya, para siswa itu nggak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi gurunya.

Bayangkan betapa mengerikan andai terjadi seperti ini. Anak yang dipenuhi amarah di rumah, mencari rasa aman di sekolah, tetapi justru di sekolah dia mendapatkan guru yang juga sama menyebalkan dengan kondisi di rumah…

Menjadi remaja itu sudah berat, Pak, Bu Guru, jangan ditambahin dengan antipati terhadap oknum guru tertentu….

Siswa lebih suka mempunyai guru yang berwibawa, tegas sekaligus lembut, yang mengerti dan memahami mereka. Guru seperti ini diharapkan mampu merangkul para siswa dan mengarahkan mereka pada hal-hal yang positif.

4. Stop degrading and humiliating

Hentikan segala tindakan dan ucapan yang merendahkan dan mempermalukan martabat anak!

Ada orangtua yang karena alasan ekonomi atau alasan emosional lain yang tak tertanggungkan di masa lalunya, lantas melampiaskan frustasinya pada anak-anak sendiri. Memukul, menampar dan memaki-maki dengan kata-kata kasar dan merendahkan dengan segala nama binatang dan kata-kata buruk yang tabu dan melukakan hati seperti “tol*l” dan “gobl*k”.

STOP IT NOW!

Mereka manusia muda. Bukan binatang, bukan pula karung tinju.

Kekerasan yang dialami anak-anak di rumah dalam bentuk verbal ataupun kekerasan fisik, meninggalkan amarah dan frustasi tersendiri, padahal mereka pun tengah berjuang dengan “tugas” perubahannya.

Akibatnya, mereka menumpahkan frustrasi mereka, melampiaskan ketidakbahagiaan mereka di luar rumah, dalam lingkup sosial terdekat mereka ,  yaitu teman-teman sekolah. Mereka jadi gemar mengganggu teman, merendahkan, melecehkan dan mempermalukan teman. Sebagian besar pelaku bullying pasti berawal dari ketidakberesan emosi di dalam rumah.

Belum terlambat untuk meminta maaf pada anak atas kekhilafan. Peluk dan cintai mereka.

Seringkali, tawuran terjadi hanya karena masalah sepele. Saling ejek, saling melotot, saling menantang, atau saling mengacungkan jari bisa berujung ribut dan adu jotos.

Coba lihat lagi, tindakan -provokatif-bahkan -dari-jarak-jauh-yang-sepele begitu, artinya apa sih?  Maksudnya hanya mau merendahkan dan merendahkan ego lawan, kan?

STOP IT RIGHT NOW!

Aku rasa tindakan provokatif konyol begitu muncul dari anak yang justru tidak percaya diri, kurang bahagia, dan kurang menghargi dirinya sendiri. Masih ada kesempatan untuk membina dan merangkul manusia-manusia muda ini.

5. Stop memuja simbol

Seragam khas sekolah, kaos olahraga sekolah, jaket almamater dan segala macam simbol dan atribut sekolah/kampus yang berpotensi menjadi alasan tawuran, sebaiknya tidak dipakai di luar sekolah/kampus. Motor dan mobil harus bersih dari stiker berbau identitas sekolah/kampus.

Ini berlaku pula untuk para suporter bola. Barangkali tidak tepat menyamakan para pelajar dan mahasiswa dengan supporter bola. Tapi begini. Mereka sama-sama mencintai sekolah/kampus/klub masing-masing, memuja simbolnya, bangga menjadi bagian dari komunitas mereka dan memakai atribut kebesarannya.

Mari berpikir begini. Kefanatikan mereka sebenarnya kan “hanya” memuja simbol? Lha wong tim klub bola itu terus berganti-ganti dari musim ke musim, dari tahun ke tahun komposisi pemain berubah terus. Juga anggota komunitas sekolah dan fakultas kampus. Tiap tahun berganti. Lantas di mana letak balas dendam “yang harus diwariskan” itu? Kenal pun enggak, kok bisa dendam?

Yah, dikenal karena simbol itu tadi.

Jadi, untuk siswa, nggak ada salahnya sangu kaos. Seragam khas sekolah hanya dipakai di dalam lingkungan sekolah. Begitu sekolah bubar, lepas seragam, masukkan ke dalam tas.

Untuk supporter bola, di luar lapangan, ya sedapat mungkin nggak usahlah menonjolkan atribut klub masing-masing.

6. Cekel babone

Well, menurutku, ceramah umum tidak akan efektif.

Menceramahi remaja-remaja ini, kurang efektif. Mereka merasa kuat, merasa berani, pethitha pethithi, karena mereka berkelompok. Mereka akan cuek, bisik-bisik, SMS-an, pringisan dan lebih asyik dengan kelompok mereka sendiri.

Cekel babone! Tangkap dan kendalikan induk/pemimpin mereka.

Induk ayam kan beringas karena instingnya melindungi anak-anaknya. Nah, begitu juga di sekolah, siswa yang tampak beringas menonjol dan berpotensi menjadi pemimpin kelompok teror, harus diperhatikan khusus. Ajak dia bicara empat mata. Tanpa amarah. Serius tapi santai dengan wibawa tetap ada pada guru wali kelas atau guru BP. Tanyakan apa maunya, apa aspirasinya, apa kegundahannya.

Jangan dimarahin apalagi dibentak. Pasti mental dan lebih memmbuatnya marah. Hadapi “babon” ini dengan kepala dingin, dengan lembut dan tegas.

Kemudian, beri dia kepercayaan untuk memimpin anggotanya melakukan suatu kegiatan yang positif. Beri dia dan kelompoknya penghargaan kalau mereka berhasil membuktikan kegiatan mereka positif.

Aku mengutip pendapat almarhum Romo Mangunwijaya: The essence of education is not only to teach, but also to touch..

Intisari pendidikan tak hanya mendidik tapi juga menyentuh (sisi humanis mereka-).

7. Anger Room

Di sekolah atau kampus, alangkah baiknya disediakan satu ruang khusus, bernama anger room. Di ruang ini, setiap siswa/mahasiswa boleh bebas melampiaskan amarah dan frustasinya.

Di ruang ini disediakan kantung beban  (nggak usahlah sansak tinju, mahaall.. )  atau boneka karet, tempat mereka bebas memukul keduanya sepuas-puasnya.

Anggap boneka atau karung tinju itu perwakilan dari orang yang mereka benci. Mereka bebas memaki boneka itu, memukul sampai jebol atau sampai mereka kelelahan kehabisan energi. Berteriak sepuasnya, bahkan menangis pun sah-sah saja di ruang ini. Mereka bebas menulis dan mencoret-coret dinding dengan nama orang yang dibenci. Boleh-boleh saja menulis nama guru/dosen  yang dibenci.

Syarat utama: mereka yang pergi ke anger room ini, memang benar-benar membutuhkan pelepasan. Jangan iseng masuk hanya untuk mencari “nama gue ditulis siapa nih?” hanya untuk membalas dendam.

Syarat kedua: tidak boleh melukai orang lain di dalam ruang ini.

Tapi ruang ini juga harus tetap diawasi. Jangan sampai malah siswa mengurung diri di situ untuk melakukan hal-hal negatif seperti membolos, merokok atau malah nge-drugs di situ. Atau barangkali ruang ini didesain semi terbuka?

Fasilitas ini kan pakai duit?

Paling mudah memang memungut iuran dari tiap siswa/mahasiswa. Tapi banyak pula yang tak berkenan, pasti. Bisa juga diadakan acara bakti sekolah.Tiap siswa/mahasiswa diwajibkan mengumpulkan koran bekas atau botol plastik setiap Sabtu. Koran dan botol plastik yang terkumpul, dijual, hasilnya digunakan khusus untuk pemeliharaan anger room ini.

Atau, tantang para siswa/mahasiswa menemukan ide dan cara positif dan kreatif untuk mencari dana.

Nah, kalau amarah dan frustrasi sudah terlampiaskan di sini, semoga saja mereka tidak lagi mencari-cari alasan dan masalah di luar sekolah/kampus.

Kemudian, menjelang bulan puasa atau bisa juga dalam suasana Lebaran, saat yang paling bagus untuk memperbaharui lagi anger room ini.

Boneka atau kantung beban/karung tinju yang rusak babak belur dihajar, diganti. Dinding yang penuh coretan dan umpatan dicat ulang dengan cat putih. Kembali bersih, siap menerima pelampiasan amarah siswa/mahasiswa  untuk rentang waktu berikutnya.

8. Jangan menonton orang berantem!

Ketujuh poin di atas hanya menekankan pada pencegahan tawuran antar pelajar, mahasiswa dan kelompok suporter bola. Untuk tawuran antar kampung, aduh… jujur aku belum bisa memikirkan solusi terbaik…

Ini yang terpikirkan olehku. Sebaiknya menyingkir saja jauh-jauh dari tempat terjadinya perkelahian. Salah-salah bisa ikut tertangkap polisi. Lebih apes, kena lemparan batu atau senjata tajam.

Biasanya nih, di mana terjadi perkelahian atau pertengkaran, malah ramai orang berkumpul untuk nonton. Nah, hentikan kebiasaan nonton orang berantem!

Untuk daerah/kampung yang sering tawuran, aku kira pertemuan damai antara pengurus dan pemuka kampung mungkin sudah sering dilakukan, bahkan mungkin sudah pula melibatkan tokoh-tokoh agama di kampung-kampung yang saling bersengketa.

Atau buat saja kesepakatan, siapapun yang terlibat sengketa, biar berantem saja sendiri. Yang lainnya, entah suami, istri, anak, menantu, saudara dan tetangga jangan ikut terlibat berantem. Melerai boleh, tapi jangan ikut menyerang. Kalau perlu aparat keamanan kampung atau polisi dipanggil untuk melerai.

Yang lainnya jangan mau ikut terlibat, artinya benar-benar menyingkir jauh-jauh dari tempat sengketa, tinggal saja di rumah nggak usah nonton orang berantem, apa untungnya sih? Toh beritanya akan sampai juga ke kupingmu!

Semakin banyak orang berkumpul apalagi dalam suasana panas, semakin mudah pula emosi tersulut!

Nah, apakah semua poin di atas menjadi pilihan dan solusi terbaik mencegah dan menanggulangi tawuran? Nggak juga.

Semua pendapat pasti menuai tanggapan yang berbeda kan? Barangkali tulisan ini malah menjadi ide bagi orang lain untuk menulis cara yang lebih hebat, lebih taktis dan cespleng untuk mencegah terjadinya tawuran. Siapa tahu?

 ****

 Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Arman says:

    good luck buat kontesnya ya na…
    dan moga2 gak ada tawuran2 lagi dah di indonesia… sungguh ironis dan menyedihkan kalo denger berita pelajar pada tawuran…

  3. Hmm… artikel yang menarik..

    *belagak*
    *sok jutek*
    *pura-pura gak kenal*

  4. nh18 says:

    ” …kata-kata buruk yang tabu dan melukakan hati seperti “tol*l” dan “gobl*k”…”

    Saya setuju banget … this is inline with cerita saya di supermarket itu …
    (cerita tentang ibu muda … didepan anaknya yang usia 2 tahun dengan ringannya melontarkan kata-kata itu ke pegawai supermarket)

    “…cekel babone …”
    Ini juga bener …
    Dan biasanya babone itu sudah tidak sekolah lagi di sekolah tersebut … entah DO … atau alumni …
    Ini harus betul-betul dipegang … mereka seringkali menjadi masalah utama …

    Salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      Saya pernah nonton sebuah talk show di TV, si “babone” itu ternyata seperti yang Om bilang, udah lulus atau DO, dan suka nongkrong2 di sekitar sekolah untuk cari “massa’ yang bisa diatur seperti kemanuannya… lha celaka deh kalau babone ini malah ngajarin yang enggak-enggak…

  5. cumakatakata says:

    Semoga untuk kedepannya masalah tawuran bisa di Di Atasai dengan Baik..

  6. J.u.n_P.M says:

    wah miris liat banyaknya dampak negatif akibat terjadinya tawuran ini apalagi sampai kehilangan nyawa. Semoga tawuran bisa berhenti.

    oh ya,
    saya ngadain kontes menulis berhadiah kecil2an nih, infonya bisa dilihat diblog saya.
    Ditunggu partisipasinya ya. :)

    thanks
    carameninggikanbadancepatalami.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s