<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>sejutakatanana</title>
	<atom:link href="http://nanaharmanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nanaharmanto.wordpress.com</link>
	<description>menulis dengan hati</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Dec 2011 06:01:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nanaharmanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>sejutakatanana</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nanaharmanto.wordpress.com/osd.xml" title="sejutakatanana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nanaharmanto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Blog update: Pemenang</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/11/22/blog-update-pemenang/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/11/22/blog-update-pemenang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 07:56:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[ceremai]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[pemenang]]></category>
		<category><![CDATA[pindahan]]></category>
		<category><![CDATA[Sayonara]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1327</guid>
		<description><![CDATA[Cukup lama juga ya blog ini terabaikan&#8230; Ada beberapa hal yang tak bisa ditunda yang membuatku sedikit melupakannya. Well, posting kali ini, tak perlu rasanya untuk berpanjang lebar. Ada tiga hal yang ingin kusampaikan di sini. &#160; 1. Mainan Bocah Contest Puji Tuhan&#8230; tulisanku berjudul Ceremai dan Mainan Masa Kecilku, terpilih sebagai salah satu dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1327&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cukup lama juga ya blog ini terabaikan&#8230;</p>
<p>Ada beberapa hal yang tak bisa ditunda yang membuatku sedikit melupakannya.</p>
<p><em>Well</em>, posting kali ini, tak perlu rasanya untuk berpanjang lebar. Ada tiga hal yang ingin kusampaikan di sini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>1. Mainan Bocah Contest</strong></span></p>
<p>Puji Tuhan&#8230; tulisanku berjudul <a href="http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/30/ceremai-dan-mainan-masa-kecilku/"><strong>Ceremai dan Mainan Masa Kecilku</strong></a>, terpilih sebagai salah satu dari 5 pemenang dalam <em>blog contest</em> yang bertemakan <strong><a href="http://mainanbocah.com./">Mainan Bocah</a> </strong>yang diselenggarakan oleh UdaVizon, salah satu blogger senior yang kukagumi. Terima kasih ya Uda, sudah menyelenggarakan kontes ini dan membuatku bernostalgia dengan indahnya masa kanak-kanakku.</p>
<p><span id="more-1327"></span></p>
<p><em>What a happy kid I was&#8230;</em> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Beribu terima kasih kepada team juri: <a href="http://unicha.wordpress.com/">Uni Icha,</a> <a href="http://hardivizon.com/">Uda Vizon</a>, dan <a href="http://septarius.wordpress.com/">Ata</a> yang telah membaca, menilai dan akhirnya memutuskan tulisanku layak menjadi salah satu <strong>pemenang.</strong> Hal ini sungguh sangat berarti bagiku untuk tetap terus semangat menulis lagi berjuta-juta kata..</p>
<p>Kepada para pembaca dan komentator, terima kasih sudah memperkaya tulisanku tersebut, maafkan bila aku lambat membalas komentar Anda semua.</p>
<p align="center">****</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>2. Garuda Muda!</strong></span></p>
<p>Ya, semua orang orang mengharapkan timnas Garuda Muda meraih medali emas dalam laga final sepakbola SEA GAMES ke 26 melawan tim Malaysia tadi malam. Walaupun hanya mampu meraih medali perak di posisi <em>runner up</em>,  tapi aku pribadi tetap bangga pada Titus Bonai dkk. Perjuangan mereka sungguh luar biasa! Mereka mengakui kemenangan lawan dengan lapang dada, dan itulah jiwa juara sejati.</p>
<p>Ada memang rasa kecewa, tapi kalau berlarut-larut pun toh nggak ada gunanya. Rasanya tak ada gunanya pula menulis status di media sosial mencela atau mengkritik kekalahan timnas kita.</p>
<p>Sebagai pendukung dan penonton kita juga harus belajar bahwa menjadi <strong>pemenang</strong> tak harus menjadi jumawa, kalah pun harus tetap bisa menerima kekalahan dengan sportif.  Masih akan ada banyak kesempatan laga untuk membuktikan kemampuan tim Garuda Muda memang layak disegani.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>AYO! KITA BISA!!</strong></span></p>
<p align="center">****</p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em><strong>3. Sayonara</strong></em></span></p>
<p>Selama 2.5 tahun aku  tinggal di salah satu kota kecil di propinsi Sulawesi Selatan untuk menemani suamiku dalam tugasnya. Banyak suka duka yang kurasakan di kota ini.</p>
<p>Jujur, sebagai pendatang, beberapa kali aku merasa mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan yang membuatku harus mengelus dada, geleng-gelang kepala ataupun tertawa masgyul&#8230; Ya Tuhan, kuatkan aku dan buatku menjadi lebih sabar&#8230;.</p>
<p>Tidak semua hal yang kualami bisa kuceritakan di sini, bahkan pada suamiku sendiri, semata karena tak ingin membebaninya dengan perasaan bahwa aku tidak terlalu enjoy di tempat itu.</p>
<p>Bertahun-tahun tinggal di kota-kota besar dengan segala fasilitas bagus, pilihan kuliner tak terbatas, dan dengan segala dinamikanya, -aku menyadari bahwa tinggal di sebuah kota kecil tanpa sarana hiburan bioskop, toko buku dan <em>mall</em>, ternyata memerlukan perjuangan tersendiri.</p>
<p>Untunglah aku menemukan suasana baru sekaligus teman dan sahabat baru didunia maya ini, sehingga aku tak harus tenggelam dalam rasa frustrasi.</p>
<p>Dan aku terus berdoa:<em> Tuhan, aku ingin keluar dari sini&#8230;.</em></p>
<p>Kupikir Tuhan sedang tidur&#8230; kupikir Dia terlalu sibuk dengan milyaran doa dari   seluruh penjuru bumi.</p>
<p>Jawaban atas doa itu datang tiba-tiba tanpa kuduga: Suamiku pindah tugas! Kembali ke Jawa!</p>
<p>Tak terkira rasa senang hatiku, rasanya mau meledak saking gembiranya. Tiba-tiba hilang semua kenangan pahit dan duka selama tinggal di kota itu. Kalian pasti tahu rasanya merindu kampung halaman dan orangtua yang jauh, berikut rasa kesepian sendirian saat ditinggal suami keluar kota. Semua itu tak lagi terlalu mengganggu.</p>
<p>Tuhan Maha-mendengar!</p>
<p>Dan sejak hari itu, aku mulai bersiap-siap mengepak barang-barangku, menghubungi dan mengatur jadwal dengan pihak ekspedisi yang akan membantu pengangkutan barang-barang kami. Mengatur kapan akan berpamitan pada para tetangga, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Kupikir aku toh sudah punya pengalaman pindahan sebelumnya, maka kuhadapi kepindahan ini dengan cukup <em>cool</em> dan kepala dingin&#8230; <em>*tsaahhh&#8230;</em></p>
<p>Ternyata, se-<em>cool</em> dan sesiap apapun, -bahkan dengan bantuan jasa ekspedisi profesional, pindahan itu benar-benar menguras tenaga. Belum lagi jadwal pindahan yang terus berubah-ubah karena berbenturan dengan jadwal suami <em>meeting</em> kantor dan tugas keluar kota.</p>
<p>Karena alasan ini jugalah blog ini agak terabaikan dan tak sempat <em>blogwalking</em>..</p>
<p>Setelah melalui pembicaraan dan diskusi panjang dengan suami dan pihak ekspedisi, akhirnya ditentukan hari terbaik untuk kepindahan kami.</p>
<p>Kami keluar sebagai <strong>pemenang</strong>, mengalahkan kerapuhan hati dan tantangan hidup edisi kota kecil ini, bersiap menghadapi tantangan-tantangan baru di tempat yang baru. Mohon doanya ya&#8230;</p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><em>Sayonara</em>, Celebes! Terima kasih untuk segalanya!</strong></span></p>
<div id="attachment_1330" class="wp-caption aligncenter" style="width: 469px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/11/peta_sulawesi.jpg"><img class="size-full wp-image-1330" title="peta_sulawesi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/11/peta_sulawesi.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">so long.... till we meet again!</p></div>
<p>Note:  gambar kupinjam dari <a href="http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://thomaspm.files.wordpress.com/2010/01/peta_sulawesi.jpg&amp;imgrefurl=http://thomaspm.wordpress.com/2010/01/04/pilolahunga-bridge-north-sulawesi/&amp;h=600&amp;w=459&amp;sz=80&amp;tbnid=e1-2CIhJzlKKTM:&amp;tbnh=90&amp;tbnw=69&amp;prev=/search%3Fq%3Dpeta%2BSulawesi%26tbm%3Disch%26tbo%3Du&amp;zoom=1&amp;q=peta+Sulawesi&amp;docid=mC7dXUqRkHCekM&amp;sa=X&amp;ei=GzvLTr_cF87qmAXfi-2iDQ&amp;ved=0CDsQ9QEwBw&amp;dur=3630">sini.</a></p>
<p align="center">****</p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/baru/'>baru</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/ceremai/'>ceremai</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/jawa/'>Jawa</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/pemenang/'>pemenang</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/pindahan/'>pindahan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/sayonara/'>Sayonara</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/sulawesi/'>Sulawesi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1327&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/11/22/blog-update-pemenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/11/peta_sulawesi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">peta_sulawesi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ceremai dan Mainan Masa Kecilku&#8230;</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/30/ceremai-dan-mainan-masa-kecilku/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/30/ceremai-dan-mainan-masa-kecilku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 17:22:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Golden Moments]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[badung]]></category>
		<category><![CDATA[betengan]]></category>
		<category><![CDATA[bluluk]]></category>
		<category><![CDATA[ceremai]]></category>
		<category><![CDATA[gobak sodor]]></category>
		<category><![CDATA[jamuran]]></category>
		<category><![CDATA[jarik]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[Mainan Bocah Contest]]></category>
		<category><![CDATA[permainan]]></category>
		<category><![CDATA[sawah]]></category>
		<category><![CDATA[tawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini, seringkali kulihat anak-anak yang sibuk “uplek” bermain dengan komputer, kecanduan nonton TV , PS dan game-game elektronik lainnya. Tak jarang kubaca keluhan teman-teman di facebook tentang anak-anak mereka yang seakan terbius pada permainan dan game di tablet-tablet dan gadget mahal&#8230; Bukan hanya dua-tiga kali kulihat di tempat makan, anak-anak yang tenggelam dalam mainan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1317&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, seringkali kulihat anak-anak yang sibuk “uplek” bermain dengan komputer, kecanduan nonton TV , PS dan game-game elektronik lainnya. Tak jarang kubaca keluhan teman-teman di <em>facebook</em> tentang anak-anak mereka yang seakan terbius pada <a href="http://mainanbocah.com./">permainan</a> dan game di tablet-tablet dan gadget mahal&#8230;</p>
<p>Bukan hanya dua-tiga kali kulihat di tempat makan, anak-anak yang tenggelam dalam mainan eletroniknya, mengabaikan makanan di depannya, dan tak peduli pada orang-orang di sekitarnya. <em>Helow?</em> Kasian sekali anak-anak itu&#8230;</p>
<p><span id="more-1317"></span></p>
<p>Anganku melayang ke masa silam. Aku tak  ingat, apakah aku pernah punya mainan yang amat sangat kusayangi. Aku dan kakakku hanya selisih satu tahun, dan mainan yang kami punyai, kebanyakan adalah mainan milik bersama, jadi ya harus rela berbagi.</p>
<p><a href="http://mainanbocah.com./">Mainan</a> yang dibelikan oleh orangtuaku atau nenekku, kebanyakan adalah mainan yang membutuhkan kreatifitas seperti menyusun dan  menggabungkan balok-balok lego menjadi aneka bentuk, dan berkreasi dengan <em>malam,</em> (lilin lembek beraneka warna), lalu masih ada boneka-boneka.</p>
<p>Tapi, aku mudah sekali bosan. Mainan di rumah menjadi tak terlalu menarik lagi manakala kudengar teriakan dan tawa ceria teman-teman di luar pagar rumahku. Menggoda sungguh menggoda!</p>
<p><em>Well</em>, di masa kecilku, aku lumayan badung. Segera, aku tahu bahwa ternyata  memang lebih asyik terjun ke sawah, berburu capung, <em>nyemplung</em> di kali atau memanjat pohon waru di halaman SD di desa kami.</p>
<p>Bersama teman-temanku, aku <em>nyolong</em> ceremai, buah kuning-hijau mungil yang rasanya benar-benar masam tapi tetap saja memikat untuk dirontokkan. Kami sengaja membawa kain jarik simbah, membentangkannya di bawah pohon ceremai, supaya buahnya tak jatuh ke tanah.</p>
<p>Kadang kami membawa sedikit gula pasir dalam plastik, mencocolkan ceremai dan mengulumnya sambil mengerenyit saking masamnya buah itu.. tak kuingat riwayat sakit perut karena terlalu banyak makan ceremai &#8230; yang ada hanya rasa gembira ria!</p>
<div id="attachment_1318" class="wp-caption aligncenter" style="width: 420px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/ceremai.jpg"><img class="size-full wp-image-1318" title="ceremai" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/ceremai.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">ceremai, si imut yang asam rasanya...</p></div>
<p>Gambar kupinjam dari <a href="http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com/_noYQMKsV4jA/S9T2IUzkvfI/AAAAAAAAASU/XJgLIvPvEg8/s1600/ceremai.JPG&amp;imgrefurl=http://cozyeslife.blogspot.com/2010/04/bermanfaatkah-ceremai-itu.html&amp;usg=__kGJu0TZVNAjEtduYZETxj9sMXmc=&amp;h=260&amp;w=410&amp;sz=28&amp;hl=id&amp;start=3&amp;zoom=1&amp;tbnid=nZqUHiuI4BXDGM:&amp;tbnh=79&amp;tbnw=125&amp;ei=MiSsTs7tJovjmAXJ67DpDg&amp;prev=/search%3Fq%3Dceremai%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26hs%3DDlr%26sa%3DX%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26channel%3Dnp%26tbm%3Disch%26prmd%3Dimvns&amp;itbs=1">situs web ini. </a></p>
<p>Hampir setiap siang, aku pergi bermain dengan teman-teman di kampung.</p>
<p>Asyik sekali bermain dengan mereka, semua bisa jadi bahan permainan. Mulai dari pohon tumbang, batu besar, timbunan pasir, perang ceremai, memanjat pohon, hingga membuat gasing dari <em>bluluk</em> (bakal kelapa) yang diikat dengan karet dan lidi menjadi gasing.</p>
<p><em>See?</em> Semua memanfaatkan apa yang ada di alam. Sepeserpun tak perlu keluar uang..</p>
<p>Lupakan pula alas kaki! Hahah&#8230;.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Ada juga permainan yang tak membutuhkan alat apapun. Misalnya gobak sodor. Tinggal membuat lapangan dengan menyeret kaki di tanah. Kalau garisnya bengkok, dihapus lagi dengan kaki, lalu dibuatlah garis baru.</p>
<p>Ada pula betengan, tinggal memilih dua batang pohon sebagai <em>pool</em> masing-masing kelompok. Atau <em>ingkling,</em> (congklang) meloncat dengan satu kaki di bidang permainan sambil melempar pecahan genting. Atau sekedar kejar-kejaran bak maling dan polisi.</p>
<p>Ada beberapa lagu dolanan kanak-kanak yang kalau kuingat-ingat liriknya membuatku tersenyum-senyum sekarang, karena liriknya yang aneh, <em>nyleneh</em>, dan agak <em>nggak nyambung</em> seperti <em>cingciripit</em>, dan<em> jamuran</em> (Jawa).</p>
<p>Sungguh, bermain di luar rumah bersama teman-teman sekampung tak pernah membosankan. Musim mainan selalu berganti, -sekarang musim layangan, bulan depan musim main kelereng, bulan depannya lagi sudah ada lagi berpuluh permainan baru.</p>
<p>Kelompok bermain pun terus berganti. Minggu lalu aku bermain dengan teman-teman di belakang rumah, lain hari dengan teman-teman di depan rumah, minggu depan bisa jadi bermain dengan mereka yang rumahnya agak jauh di ujung kampung. Rasanya temanku ada sejuta&#8230;</p>
<p>Menentukan anggota kelompok bermain pun bukan semata karena pilih kasih. Semua ditentukan dengan terbuka, dengan cara <em>hompipah</em> atau <em>pingsut</em> (suit), dan setelah terbagi, akan terlihat kelompok mana yang terlalu dominan dengan jago-jago permainan, lalu si jago akan ditukar dengan anggota dari kelompok lain, semata agar permainan berjalan imbang.</p>
<p>Tergelak riang bersama mereka sungguh demikian menyenangkan. Lapar tak lagi kurasa. Waktu berlalu tanpa kusadari. Tiba-tiba saja hari meredup, lantang kumandang adzan maghrib dari masjid kampung terdengar, disusul teriakan ibu-ibu memanggil anaknya pulang untuk mandi dan beristirahat di rumah, dan berakhirlah saat-saat menyenangkan sore itu. Kami terpaksa pulang, sambil saling berteriak.</p>
<p><em>“Sesok meneh yoooo&#8230;.!!”</em></p>
<p>(Besok main lagi ya..)</p>
<p>Aku selalu berharap agar malam segera berakhir, lalu  besok selepas sekolah aku bisa bermain lagi dengan mereka.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Dahulu, aku tak mengerti apa kata yang tepat untuk situasi ini.</p>
<p>Begini.</p>
<p>Kadangkala, menjadi kebiasan kami untuk <em>ampir-ampiran</em> (<em>ngampiri</em>, menjemput teman di rumah). Dari satu orang, dua orang, tiga&#8230; terus bertambah dari rumah ke rumah sambil memanggil dengan nada khas.</p>
<p>“Na&#8230;naaa&#8230;”</p>
<p>“Daniikk”..</p>
<p>Berombongan  kami bermain bersama. Bagaimana bisa curang? Semua aturan disepakati bersama, semua menjadi pemain sekaligus wasit juru adil. Siapa mencoba curang, dia akan diprotes, atau diomelin. Dengan demikian, <a href="http://mainanbocah.com./">permainan </a>tetap berjalan <em>fair.</em></p>
<p>Siapalah yang berani <em>urik </em>atau curang, kalau resikonya adalah dikeluarkan dari permainan dan tidak akan diajak main lagi?</p>
<p>Kalaupun ada yang membandel dan tetap curang, aturannya jelas. Permainan bubar.</p>
<p>Ohhoo&#8230; jelas tak ada yang ingin begitu.</p>
<p>Nah, kan&#8230; dalam permainan kampung pun, satu hal bisa dipelajari: sportif.</p>
<p>Selama permainan, kalau ada teman yang menangis atau cedera cukup serius, dia akan diantarkan pulang beramai-ramai&#8230;. <em>so sweet&#8230;.</em></p>
<p><em><strong>Setia kawan</strong></em>-kah kata yang dulu tak kumengerti itu?</p>
<p>Begitulah tak terkatakan, tapi sesama teman saling menyayangi.</p>
<p>Bertengkar dan adu pendapat hingga bermusuhan dalam permainan pun wajar-wajar saja terjadi, tapi selalu saja ada teman yang mendamaikan atau mengajak bermain bersama lagi. Lucu yaa&#8230;</p>
<p align="center">****</p>
<p>Aku masih ingat, dolanan bisa berlanjut saat terang bulan&#8230;</p>
<p><a href="http://mainanbocah.com./">permainan</a> favorit adalah petak umpet. Seru! Disepakati, arena permainan dibatasi tak terlalu luas seperti saat siang hari.</p>
<p>Kami bebas bersembunyi di balik pohon-pohon, atau di balik tanaman pagar.</p>
<p>Jelas bermain di luar rumah saat malam begitu tidaklah menggembirakan bagi para orang tua&#8230; hehehe&#8230;.</p>
<p>Mengecewakan memang, tengah asyiknya bermain petak umpet, terdengar suara para ayah atau ibu memanggil anaknya pulang. Terpaksa, setengah hati, permainan pun bubar.</p>
<p>Kini, setelah dewasa, teman-teman sepermainanku telah berpencar-pencar menjalani kehidupan masing-masing. Setiap kali bertemu kami tetap saling tersenyum dan menyapa.</p>
<p>Tapi wajah kanak-kanak mereka dulu, masih terbayang: si ini yang dulu sering berantem, itu yang cengeng,<em> ingusan</em>, yang tukang <em>ngambek</em>, yang paling nakal, dan yang paling sering curang, sampai si tukang mengadu.</p>
<p>Kini, anak-anak mereka lah yang tengah menikmati masa dolanan bareng dengan teman sepermainan.</p>
<p>Ah, terjebakkah mereka pada mainan modern yang mengurung kesadaran akan sekeliling mereka?</p>
<p>Masih adakah yang “bekerjasama” merontokkan ceremai?</p>
<p>Masih adakah yang memanfaatkan apapun yang tersedia di alam untuk <a href="http://mainanbocah.com./">permainan</a> mereka?  <em>&#8211;Haregeneeee&#8230;&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
</em></p>
<p>Tentu akan subyektif sekali membandingkan jamanku dulu dengan anak-anak jaman sekarang.</p>
<p>Bagaimanapun kondisi mereka sekarang, semoga semua anak merdeka berbahagia!</p>
<p>&#8220;Artikel ini diikutsertakan pada <a href="http://hardivizon.com/2011/10/18/mainan-bocah-contest/"><span style="color:#0000ff;"><strong>Mainan Bocah Contest</strong></span></a> di Surau Inyiak&#8221;.</p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/consideration/golden-moments/'>Golden Moments</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/anak-anak/'>anak-anak</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/badung/'>badung</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/betengan/'>betengan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/bluluk/'>bluluk</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/ceremai/'>ceremai</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/gobak-sodor/'>gobak sodor</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/jamuran/'>jamuran</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/jarik/'>jarik</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/mainan/'>mainan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/mainan-bocah-contest/'>Mainan Bocah Contest</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/permainan/'>permainan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/sawah/'>sawah</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tawa/'>tawa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1317&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/30/ceremai-dan-mainan-masa-kecilku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/ceremai.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ceremai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Unik Khas Toraja</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/22/yang-unik-khas-toraja/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/22/yang-unik-khas-toraja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 08:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Pelosok Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[asma]]></category>
		<category><![CDATA[babi]]></category>
		<category><![CDATA[belang]]></category>
		<category><![CDATA[daun miana]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[lada katokkon]]></category>
		<category><![CDATA[maag]]></category>
		<category><![CDATA[mapasilaga tedong]]></category>
		<category><![CDATA[pa'piong]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[sambal]]></category>
		<category><![CDATA[sarung hitam]]></category>
		<category><![CDATA[Tana Toraja]]></category>
		<category><![CDATA[tedong bonga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1281</guid>
		<description><![CDATA[Di tulisan kali ini, aku mencoba berbagi beberapa hal yang menurutku unik dari Tana Toraja. Catatan: posting ini memuat foto-foto berukuran besar, pastikan koneksi internet Anda mendukung. 1. lada katokkon Dalam bahasa Toraja, lada berarti cabe. Cabe khas Toraja ini bentuknya  seperti paprika, hanya dalam ukuran mini. Lada katokkon ini mempunyai  aroma wangi yang khas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1281&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tulisan kali ini, aku mencoba berbagi beberapa hal yang menurutku unik dari Tana Toraja.</p>
<p>Catatan: posting ini memuat foto-foto berukuran besar, pastikan koneksi internet Anda mendukung.</p>
<p>1. <strong><em>lada katokkon</em></strong></p>
<p>Dalam bahasa Toraja, lada berarti cabe.</p>
<p>Cabe khas Toraja ini bentuknya  seperti paprika, hanya dalam ukuran mini. <strong><em>Lada katokkon</em></strong> ini mempunyai  aroma wangi yang khas dan menggugah selera.</p>
<p>Berwarna hijau saat mentah dan menjadi merah segar saat matangnya, cabe ini menjadi primadona untuk  masakan Toraja. Rasanya?? <em>Hoooosshhhh&#8230;.</em> pedeeees luar biasa!</p>
<p>Mungkin satu <strong><em>lada katokkon</em></strong> sebanding dengan belasan cabe rawit. <em>Huuuff&#8230;.</em> pedesnya terasa hingga ke kuping! Suamiku menyebutnya lombok “biadab” hehehehe&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebagai sambal mentah, cabe ini cukup diulek bersama bawang putih dan garam. Sederhana, tapi sungguh sedap, apalagi bagi mereka, penyuka makanan pedas&#8230;</p>
<p><span id="more-1281"></span></p>
<div id="attachment_1284" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lada-katokkon.jpg"><img class="size-full wp-image-1284" title="lada katokkon" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lada-katokkon.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">lada katokkon, mirip paprika seukuran tomat kecil, pedessss luar biasa...</p></div>
<p><em><strong>2. </strong></em><strong>Daun</strong><em><strong> Miana</strong></em></p>
<p>Konon hanya jamak dijumpai di Toraja, digunakan sebagai bumbu masakan Toraja. Daun ini beramoma dan bercitarasa khas. Dapat juga digunakan sebagai obat. Menurut orang setempat, orang-orang Toraja jarang sekali mengidap asma dan maag karena rajin mengkonsumsi daun ini.</p>
<div id="attachment_1286" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/daun-miana.jpg"><img class="size-full wp-image-1286" title="daun miana" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/daun-miana.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">daun miana</p></div>
<p><strong><em>3. Pa’piong</em></strong></p>
<p>Salah satu masakan khas Toraja adalah pa’piong. Bahannya yang utama adalah daging babi atau kerbau. Daging dipotong kecil-kecil, lalu dicampur bersama bumbu khusus dan daun miana. Daging dibungkus dengan daun pisang lalu dimasukkan dalam batang bambu muda kemudian bambu dibakar hingga gosong dan daging didalamnya matang. Rasanya? <em>Hhmmm</em>&#8230;. enak banget!</p>
<p>Catatan: babi pa’piong tidak untuk dikonsumsi saudara-saudara yang Muslim ya&#8230;</p>
<div id="attachment_1287" class="wp-caption aligncenter" style="width: 366px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/papiong.jpg"><img class="size-full wp-image-1287" title="papiong" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/papiong.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">pa&#039;piong, dalam batang bambu yang dibakar hingga gosong.. bambu dibelah untuk mengeluarkan isinya.</p></div>
<p><strong>4. Sarung Hitam Khas Toraja</strong></p>
<p>Sarung ini terbuat dari kain tenun dan berwarna hitam. Ada yang benar-benar polos, ada pula yang ditambah sedikit corak etnis. Sarung hitam ini dipakai oleh kaum lelaki pada upacara-upacara adat dan acara-acara resmi.</p>
<p>Pertama kali melihatnya, aku langsung kepengen sekali untuk memilikinya. Ternyata agak susah untuk menemukannya di toko-toko souvenir, karena konon harus pesan dulu baru barang tersedia. Harganya juga agak mahal, sekitar 250 ribu. Tapi namanya benar-benar kepengen, aku beli juga sarung hitam ini&#8230;  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_1288" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/sarung-hitam.jpg"><img class="size-full wp-image-1288" title="sarung hitam" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/sarung-hitam.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">sarung hitam, dipakai untuk upacara adat dan acara resmi</p></div>
<p><strong>5. <em>Tedong bonga</em></strong></p>
<p><em>Tedong</em> dalam bahasa Toraja berarti kerbau. <em>Bonga </em>berarti belang&#8230;</p>
<p>Konon, saat melihat tedong bonga, kita bisa <em>make a wish</em> dan akan terkabul lah keinginan kita. Boleh percaya boleh tidak&#8230;</p>
<p>Lucunya, kulit kerbau ini belang-belang hitam dan pink&#8230;</p>
<p>Kerbau  dalam masyarakat Toraja memiliki peranan penting. Kerbau adalah hewan utama dalam upacara <em>Rambu Solo’</em> (upacara adat pemakaman), dan dipercayai sebagai kendaraan bagi almarhum yang dipestakan menuju <em>puya </em>(nirwana, surga).</p>
<p>Jadi kerbau cantik ini akan dikurbankan dalam upacara rambu solok. Dikuatirkan, <em>tedong bonga</em> yang populasinya hanya ditemukan di Toraja ini akan terancam kelestariannya kalau jumlahnya yang tidak banyak itu terus berkurang, -karena semakin banyak <em>tedong bonga</em> yang dikurbankan, semakin tinggi prestise yang didapatkan keluarga almarhum.</p>
<p>Wah, sayang ya&#8230;</p>
<p>Kerbau unik ini harganya sangat mahal, hingga ratusan juta rupiah. Kerbau “raja” ini sangat dimanjakan oleh pemiliknya. Ia akan dipiara dengan cermat, diberi makanan terbaik dan sekali pun tak boleh menarik bajak di sawah.. benar-benar seperti raja ya&#8230;</p>
<div id="attachment_1289" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/tedong-bonga.jpg"><img class="size-full wp-image-1289" title="tedong bonga" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/tedong-bonga.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">tedong bonga, si kerbau bak raja... corak dan warna belangnya menentukan tingginya harga tedong ini...</p></div>
<p><strong>6. Padi</strong></p>
<p>Kebetulan perjalanan kali ini bertepatan dengan musim kemarau panjang. Kami mendapati hampir semua lahan sawah terlihat kering. Kuning kecoklatan di mana-mana. Rupanya masa panen raya baru saja lewat.</p>
<p>Apa istimewanya ya? kan padi mudah didapat di mana-mana&#8230;</p>
<p>Kami banyak melihat padi yang dijemur di pinggir jalan dalam puluhan ikatan. Jujur saja, hal seperti ini jarang kudapati di Jawa. Di desaku dan kebanyakan daerah lainnya, begitu panen, padi langsung dirontokkan dari jeraminya  dengan mesin khusus menjadi gabah  lalu dijemur.</p>
<p>Nah, di sinilah uniknya cara menjemur dan penyimpanan padi di Toraja. Padi diikat dalam berkas-berkas, dan diangkut menggunakan bilah kayu. Padi yang telah dijemur dan kering disimpan dalam lumbung.</p>
<p>Sepertinya orang Toraja  mengambil seperlunya dari lumbung untuk ditumbuk atau digiling menjadi beras.</p>
<p>Atau ada info lainnya?</p>
<p><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/berkas-padi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1290" title="berkas padi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/berkas-padi.jpg?w=500&#038;h=375" alt="berkas padi...." width="500" height="375" /></a></p>
<div id="attachment_1291" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/mengangkut-padi.jpg"><img class="size-full wp-image-1291" title="mengangkut padi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/mengangkut-padi.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">mengangkut padi ke lumbung</p></div>
<div id="attachment_1295" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lumbung-padi3.jpg"><img class="size-full wp-image-1295" title="lumbung padi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lumbung-padi3.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">lumbung padi beratap bambu begini mahal pembuatannya. Sekarang, demi kepraktisan, atap bambu diganti dengan seng... *rather eye-sore, though...*</p></div>
<p align="center">****</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong><em>Dibuang sayang&#8230;</em></strong></span></p>
<p>Kulihat-lihat lagi file foto tentang trip ke Toraja dan merasa sayang kalau hanya teronggok tak terkisahkan&#8230;</p>
<p>Berikut adalah foto-foto di Toraja yang rasanya sayang kalau hanya dibuang&#8230;. enjoy them!..</p>
<div id="attachment_1298" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/babi-sumbangan1.jpg"><img class="size-full wp-image-1298" title="babi sumbangan" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/babi-sumbangan1.jpg?w=500&#038;h=299" alt="" width="500" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">babi sumbangan.. sumbangan begini berarti &quot;hutang&quot; yang harus dibayar keluarga yang berpesta pada saat si penyumbang kelak mengadakan pesta rambu solo&#039;</p></div>
<div id="attachment_1300" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/mengikat-babi.jpg"><img class="size-full wp-image-1300" title="mengikat babi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/mengikat-babi.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">diperlukan setidaknya empat lelaki untuk mengikat seekor babi</p></div>
<div id="attachment_1301" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/adu-kerbau-babi.jpg"><img class="size-full wp-image-1301" title="adu kerbau-babi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/adu-kerbau-babi.jpg?w=500&#038;h=398" alt="" width="500" height="398" /></a><p class="wp-caption-text">adu kerbau lawan babi... penonton benar-benar tergelak-gelak menonton polah babi murka ini yang nekat menantang kerbau yang lebih besar..</p></div>
<div id="attachment_1303" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p10204981.jpg"><img class="size-full wp-image-1303" title="P1020498" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p10204981.jpg?w=500&#038;h=324" alt="" width="500" height="324" /></a><p class="wp-caption-text">mapasilaga tedong ... adu kerbau. Siapa melarikan diri duluan, dia kalah...</p></div>
<p><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/jalan-arena-aduan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1304" title="jalan-arena aduan" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/jalan-arena-aduan.jpg?w=500&#038;h=374" alt="namanya kerbau ya, nggak tahu batasan arena aduan.. saling dorong sampai naik ke jalan dan terus bertarung" width="500" height="374" /></a></p>
<p>yah, namanya kebo ya&#8230; nggak tahu batasan arena aduan.. saling dorong hingga naik ke jalan dan melanjutkan pertarungan di jalan..</p>
<div id="attachment_1305" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/berkubang.jpg"><img class="size-full wp-image-1305" title="berkubang" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/berkubang.jpg?w=500&#038;h=296" alt="" width="500" height="296" /></a><p class="wp-caption-text">yah.... dasar kebo... disuruh tanding malah berkubang girang... penonton udah nggak sabar nih...</p></div>
<div id="attachment_1306" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/seruduk-modil-tim-sukses.jpg"><img class="size-full wp-image-1306" title="seruduk modil tim sukses" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/seruduk-modil-tim-sukses.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">babi ini belum puas melampiaskan amarahnya, dia naik ke jalan dengan beringas, penonton panik dan bergegas berlindung di balik sebuah mobil tim sukses pilkada. Si babi pun menyeruduk mobil itu  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />   bener-bener pas deh  istilah membabi buta..</p></div>
<div id="attachment_1307" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p1020485.jpg"><img class="size-full wp-image-1307" title="P1020485" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p1020485.jpg?w=500&#038;h=368" alt="" width="500" height="368" /></a><p class="wp-caption-text">mungkin karena panik atau takut mobil rusak diseruduk babi, pengemudi mobil pun kabur.... si babi mengejar pula...  tarraaaa!!! orang-orang yang sembunyi di balik mobil mobil pun lari semburat kocar kacir. Si baju biru terjun ke sawah hingga berlepotan lumpur... hihihihi..</p></div>
<p>Ohoo&#8230;  tapi aku kualat menertawakan orang-orang ini&#8230;  waktu kami berjalan pulang, juga tepat di jalan ini, kami dikejar kerbau yang lari dari sawah  arena aduan&#8230; aku dan suamiku ikut lari panik kocar kacir&#8230;. walau setelah itu benar-benar ngakak, antara lega dan geli dan sedikit mangkel&#8230; <em>huahahaha&#8230;</em></p>
<p><em>Hmm</em>&#8230; Toraja&#8230;. We will miss you, then&#8230;. Sayonara!</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>NOTE: Foto-foto koleksi pribadi.</strong></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/dari-pelosok-negeri/'>Dari Pelosok Negeri</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/asma/'>asma</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/babi/'>babi</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/belang/'>belang</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/daun-miana/'>daun miana</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kerbau/'>kerbau</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/lada-katokkon/'>lada katokkon</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/maag/'>maag</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/mapasilaga-tedong/'>mapasilaga tedong</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/papiong/'>pa'piong</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/padi/'>padi</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/sambal/'>sambal</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/sarung-hitam/'>sarung hitam</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tana-toraja/'>Tana Toraja</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tedong-bonga/'>tedong bonga</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1281/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1281&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/22/yang-unik-khas-toraja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lada-katokkon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lada katokkon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/daun-miana.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daun miana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/papiong.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">papiong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/sarung-hitam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sarung hitam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/tedong-bonga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tedong bonga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/berkas-padi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">berkas padi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/mengangkut-padi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mengangkut padi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lumbung-padi3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lumbung padi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/babi-sumbangan1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">babi sumbangan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/mengikat-babi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mengikat babi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/adu-kerbau-babi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">adu kerbau-babi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p10204981.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">P1020498</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/jalan-arena-aduan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jalan-arena aduan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/berkubang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">berkubang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/seruduk-modil-tim-sukses.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">seruduk modil tim sukses</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p1020485.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">P1020485</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batu Tarik, Megalith dari Toraja</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/01/batu-tarik-baru-megalith-dari-toraja/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/01/batu-tarik-baru-megalith-dari-toraja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 05:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Pelosok Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[babi]]></category>
		<category><![CDATA[balakkayan]]></category>
		<category><![CDATA[batu tarik]]></category>
		<category><![CDATA[Bori]]></category>
		<category><![CDATA[kalimbuang]]></category>
		<category><![CDATA[Karasik]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[langi]]></category>
		<category><![CDATA[megalith]]></category>
		<category><![CDATA[menhir]]></category>
		<category><![CDATA[Toraja]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu situs purbakala yang menjadi obyek wisata di Toraja adalah Simbuang Batu -atau Simbuan Datu dalam bahasa setempat- yang berarti batu tarik (batu yang ditarik). Batu-batu megalith ini berbentuk menhir dengan besar dan tinggi bervariasi. Sebenarnya ada banyak tempat di Toraja yang memiliki sekumpulan batu menhir ini, yang dipercaya telah mulai didirikan sejak ratusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1260&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu situs purbakala yang menjadi obyek wisata di Toraja adalah <em><strong>Simbuang Batu</strong> -</em>atau <strong><em>Simbuan Datu</em></strong> dalam bahasa setempat- yang berarti batu tarik (batu yang ditarik).</p>
<p>Batu-batu megalith ini berbentuk menhir dengan besar dan tinggi bervariasi. Sebenarnya ada banyak tempat di Toraja yang memiliki sekumpulan batu menhir ini, yang dipercaya telah mulai didirikan sejak ratusan tahun silam.</p>
<p>Berasal dari kata <em>mega </em>(besar) dan <em>lithos </em>(batu) , megalith secara harafiah berarti batu besar. Umumnya, batu-batu megalitik ini berkaitan erat dengan pemujaan dan penghormatan pada leluhur.</p>
<p><span id="more-1260"></span></p>
<p>Nah, salah satu situs megalith yang kami kunjungi adalah <span style="color:#0000ff;"><strong>Bori  Kalimbuang</strong></span>. Lokasinya berada di sebelah Utara kota Rantepao, Tana Toraja.</p>
<p>Konon ada 102 batu menhir di lokasi ini, terdiri dari 54 menhir kecil, 24 sedang dan 24 batu berukuran besar.</p>
<p>Setiap batu megalith yang didirikan, ditujukan untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Menhir ini hanya boleh didirikan pada upacara tingkat <span style="color:#0000ff;"><strong><em>Rapasan Sapurandanan</em></strong></span> yang berarti kerbau yang dikurbankan setidaknya 24 ekor.</p>
<div id="attachment_1261" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/situs-megalith-kalimbuang-bori.jpg"><img class="size-full wp-image-1261" title="situs megalith Kalimbuang Bori" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/situs-megalith-kalimbuang-bori.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">Kalimbuang Bori, tampak depan</p></div>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Darimana ya batu-batu sebesar ini?</p>
<p>Batu ini diambil dari gunung, ataupun dari batu-batu besar yang banyak bertebaran di Toraja. Besar kecilnya batu ini dipahat sesuai keinginan keluarga yang mengadakan upacara. Sebenarnya ukuran tidak terlalu penting karena sama saja  nilai prestisenya. Tetapi banyak orang yang menganggap semakin tinggi dan besar menhir yang didirikan, maka  semakin tinggi derajat kebangsawanannya.</p>
<p>Diawali dengan pemotongan seekor kerbau, dimulailah proses penggalian dan pemahatan batu. Pemahatan bisa berlangsung hingga berhari-hari hingga 2 bulan. Beberapa babi pun dipotong untuk keperluan ini.</p>
<p>Setelah batu menhir ini selesai dipahat, batu ini kemudian ditarik oleh beratus-ratus orang dengan cara tradisional. Batu ditarik (digulirkan) menggunakan batang-batang pohon dan tali-temali dari bambu. Proses penarikan ini melibatkan penduduk dan siapapun yang berkenan menyumbangkan tenaganya. Proses penarikan batu dari tempat asalnya dipahat hingga ke lokasi pendirian menhir memakan waktu behati-hari bahkan berminggu-minggu.</p>
<p>Di sinilah babi-babi dikorbankan, yaitu untuk memberi makan para penarik batu.</p>
<div id="attachment_1262" class="wp-caption aligncenter" style="width: 394px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/menhir-tertinggi.jpg"><img class="size-full wp-image-1262" title="menhir tertinggi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/menhir-tertinggi.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">menhir tertinggi, ujungnya patah saat didirikan. Seharusnya masih ada ujung setinggi satu meter..</p></div>
<p align="center">****</p>
<div id="attachment_1265" class="wp-caption aligncenter" style="width: 366px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/batu-tarik-dgn-daun1.jpg"><img class="size-full wp-image-1265" title="batu tarik dgn daun" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/batu-tarik-dgn-daun1.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">dedauanan dan ranting penanda pemilik menhir ini masih bergelar bangsawan, dedaunan diganti yang baru pada saat diadakan upacara</p></div>
<div id="attachment_1277" class="wp-caption aligncenter" style="width: 394px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p1030223.jpg"><img class="size-full wp-image-1277" title="P1030223" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p1030223.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">menhir-menhir berukuran kecil merupakan menhir tertua berusia ratusantahun.  Mungkin orang-orang dulu lebih simple ya?</p></div>
<p>Di tengah-tengah lokasi, terdapat sebuah panggung tertinggi di antara yang lainnya. Tempat ini disebut <em>Lakkian,</em> tempat jenasah disemayamkan selama upacara berlangsung.</p>
<div id="attachment_1266" class="wp-caption aligncenter" style="width: 394px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lakkian.jpg"><img class="size-full wp-image-1266" title="lakkian" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lakkian.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">lakkian, di bagian atas tempat peti jenasah disemayamkan, bagian bawah tempat duduk keluarga yang berduka</p></div>
<p>Ada pula rumah panggung tinggi <em>(balakkayan</em>) yang digunakan sebagai tempat untuk membagi-bagikan daging hewan yang disembelih. Di sinilah para pembagi daging (To Mantawa) meneriakkan nama-nama perima daging yang dipanggil sesuai tingkat dan kedudukan sosialnya.</p>
<div id="attachment_1269" class="wp-caption aligncenter" style="width: 394px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/balakkayan.jpg"><img class="size-full wp-image-1269" title="balakkayan" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/balakkayan.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">balakkayan, panggung tempat pembagian daging kurban</p></div>
<p><em>Mantunnu</em> adalah hari khusus untuk pemotongan hewan kurban dalam tata upacara pemakaman adat di Toraja. Sedangkan pembagian daging disebut dengan <em>Saroan.</em></p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p style="text-align:left;">Di Bori ini, bisa kita lihat beberapa tongkonan yang berfungsi sebagai tempat duduk para tamu undangan.</p>
<div id="attachment_1267" class="wp-caption aligncenter" style="width: 394px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/pnggung-tamu.jpg"><img class="size-full wp-image-1267" title="panggung tamu" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/pnggung-tamu.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">salah satu panggung untuk tamu undangan, tengkorak kerbau dipajang di sini</p></div>
<p><em><br />
</em><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Di sini kita jumpai beberapa <em>Langi’,</em> yaitu usungan jenasah yang berbentuk tongkonan<em>.</em> <em>Langi</em> dihiasi dengan berbagai macam pernik-pernik khas Toraja hingga terlihat mewah dan megah.</p>
<div id="attachment_1268" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/langi.jpg"><img class="size-full wp-image-1268" title="langi" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/langi.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">langi, hiasan penutup peti, hanya bisa dipakai sekali saja.</p></div>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Nah, bagaimana cara mendirikan batu sebesar ini ya?</p>
<p>Ada 2 versi yang kudapat. Yang petama memang didirikan dengan cara manual dan tradisional, dengan tenaga beratus-ratus orang lelaki.</p>
<p>Versi kedua mengatakan, untuk jaman modern seperti sekarang, pendirian batu menhir dilakukan dengan bantuan traktor. Nah, mana yang benar, terserah kepada para wisatawan mau percaya yang mana.</p>
<p>Kurang lebih sepertiga tinggi batu ini ditanam di dalam tanah, menyisakan dua pertiganya menjulang di atas tanah.</p>
<p>Di lokasi Bori Parinding ini, tak hanya situs megalith yang bisa dilihat, di sekitarnya banyak terdapat makam-makan yang terbuat dari batu yang dipahat, disebut dengan<em> liang</em> (pernah kutuliskan <a href="http://nanaharmanto.wordpress.com/2010/10/01/burial-sites-of-toraja/">di sini)</a>.</p>
<p>Kalau kita berjalan kaki mengikuti anak tangga ke area di belakangnya, ternyata kita akan memasuki perkampungan penduduk.</p>
<div id="attachment_1272" class="wp-caption aligncenter" style="width: 366px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/anak-tangga-bori.jpg"><img class="size-full wp-image-1272" title="anak tangga Bori" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/anak-tangga-bori.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">menaiki anak tangga ini, untuk memasuki perkampungan penduduk.</p></div>
<p>Kita bisa melihat sebuah <em>pohon tarra,</em> yang digunakan untuk menyimpan mayat bayi atau kanak-kanak yang belum tumbuh gigi dewasa. Kutuliskan di <a href="http://nanaharmanto.wordpress.com/2010/10/04/dalam-pelukan-pohon-tarra/">posting ini. </a></p>
<p>Situs megalith seperti ini, dan juga situs-situs lainnya, memang hanya akan membisu. Mereka tak bisa banyak bercerita. Sebagai pengunjung, wajar jika kita menjadi bertanya-tanya dan penasaran akan sejarah atau cerita di balik setiap situs. Nah, bagaimana situs “sunyi” ini akan bercerita?</p>
<p>Bertanyalah!</p>
<p>Bertanyalah pada penduduk sekitar. Orang-orang Toraja benar-benar sangat ramah dan baik. Mereka menerima setiap tamu dengan hangat dan bersahabat. Mereka pasti akan dengan senang hati menjelaskan dan bercerita pada Anda.</p>
<p><em>Sstt&#8230; sebenarnya beberapa kali aku juga mencuri dengar cerita dari para guide yang menemani turis-turis asing. Kadang nekat bertanya (tanpa bayar) Hihihi&#8230;   tapi mereka benar-benar ramah kok&#8230;</em></p>
<p align="center">****</p>
<p>Situs megalitik lain yang kami kunjungi adalah Rante Karassik. Di sini, lokasinya lebih hijau dan situs pemakaman tak terlalu terlihat dari lokasi ini.</p>
<p>Sayangnya, di sini tak kami jumpai banyak penduduk yang bisa kami tanyai. Seseorang yang kami temui hanya bisa menuturkan, sejak neneknya masih kecil, batu-batu ini telah berdiri di tempatnya seperti itu.</p>
<div id="attachment_1270" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/karassik.jpg"><img class="size-full wp-image-1270" title="Karassik" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/karassik.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">Rante Karassik</p></div>
<div id="attachment_1271" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/karassik-2.jpg"><img class="size-full wp-image-1271" title="Karassik 2" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/karassik-2.jpg?w=500&#038;h=302" alt="" width="500" height="302" /></a><p class="wp-caption-text">Karassik, berumput hijau... awas hati-hati banyak &quot;ranjau darat&quot; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>Yuk? Ke sana?</p>
<p>Note: beberapa informasi kusarikan dari <a href="http://gegentraveloflife.blogspot.com/2011/07/102-menhir-di-bori-kalimbuang.html">sini</a> dan <a href="http://kristo86.blogspot.com/2009/01/bori-kalimbuang.html">sini.</a></p>
<p>foto-foto: koleksi pribadi</p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/dari-pelosok-negeri/'>Dari Pelosok Negeri</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/babi/'>babi</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/balakkayan/'>balakkayan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/batu-tarik/'>batu tarik</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/bori/'>Bori</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kalimbuang/'>kalimbuang</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/karasik/'>Karasik</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kerbau/'>kerbau</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/langi/'>langi</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/megalith/'>megalith</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/menhir/'>menhir</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/toraja/'>Toraja</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/upacara/'>upacara</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1260&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/10/01/batu-tarik-baru-megalith-dari-toraja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/situs-megalith-kalimbuang-bori.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">situs megalith Kalimbuang Bori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/menhir-tertinggi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">menhir tertinggi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/batu-tarik-dgn-daun1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">batu tarik dgn daun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/p1030223.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">P1030223</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/lakkian.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lakkian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/balakkayan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">balakkayan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/pnggung-tamu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">panggung tamu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/langi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">langi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/anak-tangga-bori.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">anak tangga Bori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/karassik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Karassik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/10/karassik-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Karassik 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Papa&#8217; Batu, Tongkonan Beratap Batu</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/09/07/papa-batu-tongkonan-beratap-batu/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/09/07/papa-batu-tongkonan-beratap-batu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 15:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Pelosok Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Banga]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[mengetuk]]></category>
		<category><![CDATA[Papa' Batu]]></category>
		<category><![CDATA[papan batu]]></category>
		<category><![CDATA[permisi]]></category>
		<category><![CDATA[Rembon]]></category>
		<category><![CDATA[rotan]]></category>
		<category><![CDATA[tongkonan]]></category>
		<category><![CDATA[Toraja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1245</guid>
		<description><![CDATA[Tongkonan, adalah rumah adat penduduk Toraja, Sulawesi Selatan. Bagiku pribadi melihat tongkonan yang megah menjulang di tengan hamparan alam yang indah di Toraja, selalu menimbulkan perasaan kagum. Kagum pada aneka budaya masyarakat Indonesia, juga kagum pada rancangan dan (para) pembuatnya. Liburan Lebaran yang baru lalu, kami mengunjungi sebuah tongkonan yang sangat unik, karena tongkonan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1245&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tongkonan, adalah rumah adat penduduk Toraja, Sulawesi Selatan. Bagiku pribadi melihat tongkonan yang megah menjulang di tengan hamparan alam yang indah di Toraja, selalu menimbulkan perasaan kagum. Kagum pada aneka budaya masyarakat Indonesia, juga kagum pada rancangan dan (para) pembuatnya.</p>
<p>Liburan Lebaran yang baru lalu, kami mengunjungi sebuah tongkonan yang sangat unik, karena tongkonan ini mempunyai ciri khas yang tak dimiliki tongkonan lain di Toraja.Ya,  tongkonan ini terkenal karena atapnya yang terbuat dari batu.</p>
<p><span id="more-1245"></span></p>
<p>Oke, kita lihat dulu gambarnya.</p>
<div id="attachment_1247" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tongkonan-batu.jpg"><img class="size-full wp-image-1247" title="Tongkonan Batu" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tongkonan-batu.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Papa&#039; Batu, dengan puluhan tanduk kerbau. Satu rancang tanduk menandakan setidaknya satu kali pesta adat Rambu Solo&#039; diadakan oleh keluarga ini.</p></div>
<p>Tongkonan batu ini, -terkenal dengan <em>papa&#8217; batu</em> oleh masyarakat setempat-, berada di desa Banga’ , kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja.</p>
<p><em>Papa&#8217; batu</em> ini adalah satu-satunya tongkonan yang memiliki atap dari batu. Rumah adat yang dipercaya telah berumur 700 tahun ini, diwariskan turun temurun kepada keturunan pemiliknya.</p>
<p>Badan dan rangka atap, ditopang oleh 55 buah tiang kayu pilihan.</p>
<p>Atapnya yang unik, terbuat dari batu pahatan berbetuk segiempat, dengan dua lubang kecil di sisi atas, yang berfungsi untuk mengikatkan papan batu tersebut pada rangka atap. Untuk mengikatnya, “hanya” diperlukan rotan yang kuat.</p>
<p>Orang-orang tua dahulu tidak mengenal alat ukur yang jelas seperti penggaris. Jadi mereka memahat batu itu selebar kira-kira tiga jengkal orang dewasa, dengan tebal sekitar 5cm. Konon,  setiap atap batu itu berbobot 10 kilogram.  Jumlah atap batu ini sekitar 1000 keping. Jadi kira-kira, beratnya 10 ton&#8230;</p>
<p><em>(jujur, saat mendengarnya aku ragu-ragu, apa benar ya rotan bisa kuat menopang beban batu-batu tersebut? 10 ton kan beraaaaattt banget <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  )</em></p>
<div id="attachment_1254" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tali-rotan-dan-papan-batu.jpg"><img class="size-full wp-image-1254" title="tali rotan dan papan batu" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tali-rotan-dan-papan-batu.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">dari dalam rumah, terlihat papan batu dan rotan yang mengikatnya..</p></div>
<p>Di bagian atas atap, tempat pertemuan atap dari kedua sisi, ditutup dengan bambu dan daun nipah, supaya air hujan tidak merembes masuk. Dinding tongkonan ini terbuat dari dinding berukir khas Toraja dan berlantaikan papan kayu.</p>
<p>Tongkonan batu ini disakralkan oleh masyarakat sekitarnya. Artinya, tidak boleh orang masuk tongkonan ini secara sembarangan. Selain keluarga dan kerabat, orang lain (tamu/pengunjung) harus mengetuk dinding di sisi pintu tongkonan ini sebanyak tiga kali sebelum memasukinya.</p>
<p>Ah, lumrahnya orang bertamu kan mengetuk pintu?</p>
<p>Ooo&#8230; inilah uniknya. Rupanya, pengunjung boleh memasuki tongkonan kuno ini dengan mengetukkan kepala pada bingkai pintu. <strong>Hanya dengan kepala</strong>, bukan dengan tangan. Tiga kali kepala harus diketukkan, tidak perlu terlalu keras, asal menimbulkan bunyi.</p>
<p>Mudah ya?</p>
<p><em>Hhmmm&#8230;</em> tetap saja untuk memasuki tongkonan ini harus seijin pemilik atau keluarganya. Jadi si pemilik atau kerabatnya akan mendahului masuk ke tongkonan dan mengucapkan ijin pada “penghuni” rumah tua ini, setelah mendapatkan ijin, barulah para tamu dipersilakan naik ke dalam rumah dengan mengetukkan kepalanya.</p>
<p>Jika ada orang yang nekat masuk tanpa ijin, tanpa mengetukkan kepalanya, orang tersebut bisa tiba-tiba jatuh sakit, dan untuk sembuh harus datang kembali ke rumah itu untuk meminta maaf didampingi oleh kerabat pemilik rumah..  Obatnya adalah air yang  dikucurkan di atas tengkorak kerbau di dalam rumah. Si sakit harus menadahkan tangannya, menampung air yang mengalir dari tengkorak itu dan meminumnya.</p>
<p>Aku sendiri awalnya ragu-ragu untuk meminta ijin memasuki tongkonan ini. Aku takut keingintahuanku yang terlalu besar dan kecerewetanku bertanya-tanya akan mencemari warisan budaya kuno ini.</p>
<p>Tapi salah satu cucu pemilik tongkonan ini menawarkan pada kami untuk masuk. Namanya bapak Korang. Dia sangat ramah melayani pertanyaan-pertanyaan kami. Pak Korang mendahului masuk tongkonan, minta ijin, lalu mempersilakan kami mengikutinya.</p>
<p>Dung&#8230;dung..dung&#8230; 3 kali kuketukkan dahiku yang nong-nong ini pada ambang pintu.</p>
<p>“Naah&#8230; sudah berbunyi..!” Sambut pak Korang tertawa.</p>
<p>Sambil berbisik permisi, aku melangkah masuk. Karena tak terbiasa, cukup susah bagiku untuk masuk dari pintu sekecil itu sambil menaiki anak tangga.</p>
<div id="attachment_1249" class="wp-caption aligncenter" style="width: 379px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tangga-tongkonan-batu1.jpg"><img class="size-full wp-image-1249" title="tangga tongkonan batu" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tangga-tongkonan-batu1.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">kaki menapak di anak tangga kedua, sedangkan kepala diketukkan pada jenang pintu..</p></div>
<p>Sesampai di dalam tongkonan, aku diijinkan untuk memotret apa saja di dalam rumah.</p>
<p>Rumah tua ini terdiri atas 4 ruang, dan hanya ruang utama saja yang boleh kami masuki.</p>
<p>Penghuni tongkonan ini, seorang janda bernama Ne’ Toyang berusia 110 tahun. Saat kami mengunjungi tongkonan ini, dia sedang sakit sehingga tidak keluar dari kamarnya. Pak Korang tidak mengijinkan kami menemui Ne&#8217;  Toyang supaya tidak mengganggu istirahatnya. Hanya sesekali kudengar suara batuknya dan suara alat penumbuk sirih. Ne’ Toyang hanya sanggup berbaring atau bersandar sambil masih terus menumbuk sirih.</p>
<div id="attachment_1250" class="wp-caption aligncenter" style="width: 379px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/sesaji-bertuah.jpg"><img class="size-full wp-image-1250" title="sesaji bertuah" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/sesaji-bertuah.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">keranjang, bambu (dulunya berisi papiong -masakan Toraja-), keranjang gantung (berisi nasi), padi, daun bambu dan kepala kerbau</p></div>
<p style="text-align:left;" align="center">Semua sesaji ini hanya bisa diganti dengan yang baru saat pesta rambu solo&#8217; diadakan.</p>
<div id="attachment_1252" class="wp-caption aligncenter" style="width: 379px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tengkorak-kerbau.jpg"><img class="size-full wp-image-1252" title="tengkorak kerbau" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tengkorak-kerbau.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">tengkorak kerbau yang sudah sangat tua, disakralkan oleh seluruh penghuni rumah. Air dikucurkan di atas tengkorak ini sebagai obat.</p></div>
<p align="center">****</p>
<p>Apa lagi ya keunikan tongkonan ini?</p>
<p>Nah, ada sebuah tiang, yang terbesar diantara tiang-tiang penopang lainnya. Tiang ini berada di tengah, diikat dengan sebuah tali yang juga terlihat tua.</p>
<div id="attachment_1253" class="wp-caption aligncenter" style="width: 379px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tiang-utama.jpg"><img class="size-full wp-image-1253" title="tiang utama" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tiang-utama.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">tiang utama, yang terbesar, berfungsi untuk mengikat kerbau hitam</p></div>
<p>Tiang ini tidak boleh disentuh, bahkan keluarga pun tidak boleh sembarangan memyentuhnya karena tiang ini keramat bagi pemilik dan kerabatnya. Tiang ini memiliki fungsi utama untuk penopang tongkonan dan untuk mengikatkan kerbau hitam (tanda dukacita) di bawah rumah saat ada penghuni tongkonan yang meninggal.</p>
<p>Kerbau itu dimasukkan dari sisi selatan, diikat pada tiang ini hingga saat pesta <em>rambu solo’</em> diadakan (pesta mengantarkan jenasah ke peristirahatanya yang terakhir). Kerbau itu bisa bertahun-tahun diikat di bawah tongkonan, hingga pesta diadakan.</p>
<p>Para pengunjung tidak diperkenankan memasuki area di bawah tongkonan ini, karena bagian ini pun disakralkan. Untuk memotretnya pun harus dari luar, tangan pun sepertinya tidak boleh masuk&#8230;</p>
<p>Pak Korang berkisah, pernah ada kerabat pemilik rumah yang ditawari beberapa puluh ribu rupiah untuk berpose memeluk tiang ini, demi sebuah shooting film dokumenter. Hasilnya orang tersebut mengalami sakit aneh yang tiba-tiba. Dadanya terasa dingin seperti es tembus hingga ke punggung. Sakit berat yang aneh itu, -konon menurut dokter,- adalah sakit malaria tropika. Tetapi obat dari dokter tak menyembuhkannya. Akhirnya, diadakan sebuah ritual adat untuk menyembuhkan penyakitnya. Ajaib, sembuh penyakitnya.</p>
<div id="attachment_1255" class="wp-caption aligncenter" style="width: 379px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/pintu-selatan.jpg"><img class="size-full wp-image-1255" title="pintu selatan" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/pintu-selatan.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">pintu selatan, bagian belakang dari rumah. Pasak kayu digeser, untuk pintu memasukkan kerbau di bawah tongkonan</p></div>
<p>Tertarik untuk melihat tongkonan unik ini?</p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Note: beberapa informasi kusarikan dari <a href="http://www.ikat-toraja.com/pariwisata/wisata-situs-kuno/85-tongkonan-papa-batu-rumah-adat-yang-berusia-700-tahun.html">sini,</a> dengan penambahan berdasarkan hasil mengobrol dengan Pak Korang.</p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/dari-pelosok-negeri/'>Dari Pelosok Negeri</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/desa-banga/'>Desa Banga</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kerbau/'>kerbau</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/mengetuk/'>mengetuk</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/papa-batu/'>Papa' Batu</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/papan-batu/'>papan batu</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/permisi/'>permisi</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/rembon/'>Rembon</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/rotan/'>rotan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tongkonan/'>tongkonan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/toraja/'>Toraja</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1245&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/09/07/papa-batu-tongkonan-beratap-batu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tongkonan-batu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tongkonan Batu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tali-rotan-dan-papan-batu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tali rotan dan papan batu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tangga-tongkonan-batu1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tangga tongkonan batu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/sesaji-bertuah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sesaji bertuah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tengkorak-kerbau.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tengkorak kerbau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/tiang-utama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tiang utama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/09/pintu-selatan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pintu selatan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesan dan SMS berantai</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/08/26/pesan-dan-sms-berantai/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/08/26/pesan-dan-sms-berantai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 03:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consideration]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[gosip]]></category>
		<category><![CDATA[HP]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pertemanan]]></category>
		<category><![CDATA[SMS]]></category>
		<category><![CDATA[surat berantai]]></category>
		<category><![CDATA[tahkyul]]></category>
		<category><![CDATA[text]]></category>
		<category><![CDATA[weden-weden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1239</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, saat aku masih SD, orangtua dan nenekku selalu mendorongku untuk mencari sahabat di sekolah dan di sekitar rumah. Termasuk juga sahabat pena yang alamat mereka bisa kudapatkan di majalah Bobo langganan kami. Caranya, ya dengan mulai mengirimi mereka surat. 3-4kali aku mengirim surat, ada yang tak dibalas, ada juga yang dibalas. Suatu hari, aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1239&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, saat aku masih SD, orangtua dan nenekku selalu mendorongku untuk mencari sahabat di sekolah dan di sekitar rumah. Termasuk juga sahabat pena yang alamat mereka bisa kudapatkan di majalah Bobo langganan kami. Caranya, ya dengan mulai mengirimi mereka surat.</p>
<p>3-4kali aku mengirim surat, ada yang tak dibalas, ada juga yang dibalas.</p>
<p>Suatu hari, aku menerima surat balasan. Aku senang sekali.</p>
<p>Tapi aku harus kecewa, sebab tak sedikitpun ia membalas suratku. Tak ada sepotong pun kata yang ditulisnya kecuali pada nama dan alamatku di amplop. Isinya hanya sebuah kertas fotokopian yang hampir tak terbaca.</p>
<p>Aku baru tau istilahnya saat itu. Surat berantai. Intinya, aku harus memfotokopi/mengetik ulang surat itu minimal 20 lembar dan mengirimkannya sebanyak mungkin pada sahabat atau teman koresponden..</p>
<p>Aku lupa isi surat berantai itu. Aku kira isi surat itu beneran lho&#8230; aku harus mengirimkan surat itu kurang dari 4 hari. Kalau tidak, aku bisa sakit/celaka. Bingung dan panik doang, namanya anak kecil&#8230;</p>
<p>Tapi ternyata papaku bilang dengan santai, abaikan saja surat itu, bakar saja nggak apa-apa. Nenekku pun menyarankan hal yang sama: buang saja.</p>
<p><span id="more-1239"></span></p>
<p>Belasan tahun kemudian&#8230;</p>
<p>Telepon genggamku berdering. Muncul gambar amplop di layarnya. Berarti sebuah pesan masuk ke nomorku. Kubuka text message dari seorang kawan yang sebenarnya tak terlalu dekat denganku. Ternyata isinya pesan berantai.</p>
<p><em>Hhhmmm</em>&#8230;. kubaca sekali, lalu langsung kuhapus begitu saja. Bagiku tak ada gunanya.</p>
<div id="attachment_1240" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/08/hp.jpg"><img class="size-full wp-image-1240" title="HP" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/08/hp.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">..mudahnya menyebarkan informasi melalui gadget..</p></div>
<p>Note: ilustrasi gambar, kupinjam dari <a href="http://jambi.tribunnews.com/2011/07/16/pesan-berantai-nisfu-syaban-beredar-di-jambi">sini.</a></p>
<p>Ada beberapa jenis SMS /pesan berantai yang kerap kuterima.</p>
<p><strong>1. Pertemanan/keluarga</strong></p>
<p>aku pernah mendapat SMS yang isinya kurang lebih begini.</p>
<p><strong><em>Sahabat adalah orang yang mengerti segala suka dukamu, ia rela meluangkan waktunya untuk mendengarkan cerita indahmu, bahkan cerita sedihmu. Ia menawarkan bahunya untuk kita bersandar dan menangis. Dan ia mengulurkan tangan saat kita terjatuh. </em></strong></p>
<p><strong><em>Sahabat adalah malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untuk kita&#8230; sayangilah sahabatmu, seperti aku menyayangimu.</em></strong></p>
<p><strong><em> -kirimkan pesan sebanyak mungkin ke semua orang yang kauanggap sahabatmu termasuk aku. Lihat dalam beberapa waktu, kalau pesan ini kembali kepadamu setidaknya dari 7 orang, berarti kamu adalah sahabat yang menyenangkan dan mereka itu sayang dan peduli kepadamu.</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Aku punya banyak teman dan sahabat, dengan berbagai kualitas pertemanan yang berbeda-beda, mulai dari dekat sekali, karib, akrab, hingga biasa-biasa saja. menurutku sih, sejauh tidak ada yang menggganggu pertemanan kami, selamanya mereka adalah teman bahkan seperti saudara sendiri. Tapi, aku tak pernah mensyaratkan bahwa pertemanan kami harus dibuktikan dengan kata-kata verbal “aku sayang kamu”, karena kami tahu, tanpa dikatakan pun, kami sayang satu sama lain. Aku tidak merasa harus membuktikan perhatian dan sayangku pada sahabatku dengan mengirimkan pesan berantai seperti ini. Bagiku, persahabatan sejati tidaklah bersyarat aneh begini&#8230;.</p>
<p>Atau juga pesan begini.</p>
<p><strong><em>Ibu adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Selama 9 bulan ia mengandung kita, melahirkan kita dengan taruhan nyawa, menyusui kita, mengganti popok kita di tengah malam buta. Ia adalah pelita, ia adalah pahlawan sejati. Ibu kita membela kita dari semua orang yang ingin menyakiti kita. Sudahkah kita ingat untuk membalas segala kebaikannya? Mari kita doakan untuk kesehatan dan kebahagiaan beliau&#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em>Kalau Anda sayang dan mencintai Ibu Anda, kirimkan pesan ini ke orang-orang yang Anda kenal dan sayangi. </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Helooowwhhh&#8230;.??</em> aku cinta dan sayang mamaku banget. Dan banget. Tak terbantahkan.</p>
<p>Untuk membuktikan aku sayang mamaku, ya aku akan ngomong langsung ke mamaku dong&#8230; tepat sasaran, ada keterlibatan emosi mendalam,  <em>nggak</em> ribet&#8230; <em>as simple as that</em>&#8230; kayaknya mamaku juga <em>nggak</em> akan mensyaratkan agar anak-anaknya mengirim pesan begini untuk membuktikan kami sayang padanya deh&#8230;</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Cinta yang tulus itu tak bersyarat. Titik.</strong></span></span></p>
<p align="center">****</p>
<p><strong><em> </em>2. Doa</strong></p>
<p>beberapa kali akau menerima text message tentang  doa. Bermacam-macam isinya.</p>
<p>Misalnya seperti ini.</p>
<p><strong><em>Tuhan itu maha pengasih. Ia mengetahui setiap isi hati kita. Apapun masalah atau penyakit yang kamu hadapi, berserahlah hanya kepada Tuhan, dan mengucaplah: Tuhan, aku rela, aku ikhlas menerima semua penderitaan /sakitku ini..selamatkan pula mereka yang menderita sakit&#8230; dst..dst&#8230;<br />
</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>&#8211;doa ini sangat kuat, sebarkan sebanyak mungkin doa ini dalam waktu kurang dari 20 menit. Jangan putus di tanganmu. Percaya atau tidak, keberuntungan akan datang padamu dalam waktu 48 jam. Kalau kamu tidak mau meneruskan/menyebarkan pesan ini, kamu akan mendapat kesialan dalam dua hari ini. Percayalah!</em></strong><strong> Kamu sungguh2 anak Tuhan!</strong></p>
<p><strong><em>97% orang yang menerima pesan ini akan mengabaikannya. Jadilah 3% orang yang mau menyebarkan pesan ini, agar semakin banyak orang berdoa&#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Well</em>, aku bukanlah pendoa yang baik. Aku pun bukan orang yang terlalu religius. Satu yang kuyakin benar, Tuhan yang aku sembah maha mendengarkan. Dalam kesunyian aku berdoa, tanpa perlu berteriak atau pamer bahwa aku sedang berdoa. Di pasti mendengarkan. Doaku pun kuucapkan sejujur hatiku. Kalau aku sedang kecewa, aku bilang dalam doaku bahwa aku sedang kecewa dan gundah, kalau aku sedang sedih dan memohon, kuucapkan doaku dengan sederhana saja. Saat sedang bersukacita, kuucapkan syukur sejujurnya. Tak berlebihan. Sangat biasa bahkan.</p>
<p>Begitulah aku berdoa, singkat padat, tak berbelit. Tuhan pasti mendengarkan. Dan DIA takkan menuntut aku harus berdoa dengan cara-cara atau ucapan saklek.</p>
<p>Doa harus tulus dari hati kan, apalagi kita berkomunikasi secara langsung dengan Sang Pemilik Hidup&#8230;</p>
<p>Pesan doa berantai ini murni bikinan manusia. Aku yakin, doa seperti ini awalnya dulu diucapkan dengan tulus sepenuh hati oleh orang yang terkenal akan doa tertentu. Tapi dengan buntut embel-embel ancaman dan menakuti-nakuti begitu, aku <em>nggak</em> yakin itu disyaratkan mutlak oleh pendoa perdananya dulu.</p>
<p>Lucu aja, bagus sih, mengajak orang berdoa, tapi kalau disertai <em>weden-weden</em> (Jawa, unsur menakut-nakuti), apa gunanya ya? apalagi text <em>weden-weden</em>nya lebih panjang dari doanya sendiri&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>3. Kalimat motivasi/ ungkapan bijaksana.</strong></p>
<p>Pernah juga aku mendapat kalimat motivasi kurang lebih sebagai berikut.</p>
<p><strong><em>Anda pasti tahu, semua orang hidup dan normal, PASTI memerlukan UANG. Dengan uang, segalanya bisa dibeli: rumah dan mobil mewah, jam bermerek terkenal, buku, emas permata, tiket wisata ke luar negeri, fasilitas kesehatan paling mutakhir dsb&#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em>Tapi ingatlah: uang tidak bisa membeli Kehidupan,  waktu, pengetahuan, nyawa, cinta dan kehormatan.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Uang memang memungkinkan Anda membeli semua barang yang Anda inginkan, tapi ingatlah bahwa</em></strong></p>
<p><strong><em>barang fana itu hanya pinjaman sementara. Ketika Anda mati Anda takkan mungkin membawanya ke liang lahat, ataupun ke surga.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Di negara China, Taiwan, Belanda dsb&#8230; ungkapan ini  membawa keberuntungan. Sekarang giliran Anda untuk mendapatkan keberuntungan tersebut. Sebarkan pesan ini sebanyak mungkin, maka niscaya Anda akan mendapatkan keberuntungan dalam dua hai ini. Jika Anda mengabaikannya, kesialan akan membayangi Anda.</em></strong></p>
<p><strong><em> (kadang-kadang diikuti dengan “bukti” orang yang meneruskan pesan ini dan menerima anugerah besar, sedangkan yang tidak peduli dengan mencampakkan pesan ini mendapatkan kesialan bertubi-tubi.)</em></strong></p>
<p>Banyak cerita -terkenal atau tidak- dengan pesan moral yang kuat dan mendalam. Setiap orang bisa mudah mendapatkan pelajaran dengan sendirinya dengan <em>ati wening.</em> Dengan kondisi yang pas dengan cerita yang tepat, pembaca pasti akan mendapatkan sesuatu.</p>
<p>Pesan yang bagus, tapi tak baik penyampaiannya (diikuti dengan syarat dan kalimat menakut-nakuti), pasti hasilnya juga tak selalu bagus.</p>
<p><strong>4. Hal takhyul/ gosip</strong></p>
<p><strong><em>Kita mengetahui bahwa bumi kita ini bergolak setiap waktu, dan bahkan kiamat dunia ini telah diramalkan oleh para ahli. Dengan semaqkin banykanya peristiwa bencana alam yang dahsyat di seluruh muka bumi seperti gunung  meletus, gempa bumi, banjir bandang, tsunami, kita tahu bahwa bumi semakin mendekati titik akhirnya. </em></strong></p>
<p><strong><em>Bencana gempa dahsyat di Jogja tahun 2006, lumpur Lapindo, dan disusul kemudian dengan meletusnya Gunung Merapi dan Bromo, diikuti dengan amblasnya beberapa ruas jalan di jawa barat, semakin meyakinkan bahwa tanah di pulau Jawa ini telah “keropos”. Kita hidup di atas tanah rapuh! Diperkirakan tanggal 11 bulan 11 tahun 2011 ini, pulau Jawa akan terpecah-pecah dan sebagian wilayahnya akan amblas hilang ditelan lautan. </em></strong></p>
<p><strong><em>Sebarkan info penting ini, agar semakin banyak orang bersiap dan menyelamatkan diri&#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Untuk SMS semacam ini, kadang aku merelakan sedikit pulsa untuk membalas si pengirim pesan ini. Terima kasih untuk pesannya. Maaf tidak akan saya teruskan kepada siapapun. Pesan ini akn berhenti di tangan saya.</p>
<p>Sejujurnya, aku paling tidak suka menerima SMS semacam ini. Yah,  pesan seperti ini penuh dengan teror dengan bukti dan alasan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Aku tak mau meneruskan teror ini kepada siapapun juga.  Bayangkan jika pesan seperti ini diterima oleh orang-orang yang <del>lebay</del> mudah panik, pesan ini justru akan membuat banyak orang merasa ketakutan dong&#8230;</p>
<p><strong>5. Fitnah.</strong></p>
<p>Nah, aku juga beberapa kali menerima pesan yang isinya lebih bersifat fitnah. Misalnya kekecewaan pada salah satu produk terkenal, seperti donat, susu dan obat untuk anak-anak karena diduga mengandung zat pewarna, perasa,  pengawet dan bakteri berbahaya. Atau termasuk juga pelayanan buruk dari sebuah hotel atau Rumah Sakit tertentu. Setelah menjabarkan ceritanya, si pengirim pesan (entah dimulai dari siapa, akan memberi “buntut” sebarkan pesan ini sebanyak mungkin agar orang lain tidak mengkonsumsi produk A, B, C&#8230; bantulah orang lain supaya tidak menjadi korban, mungkin pesan Anda akan bisa menyelamatkan satu nyawa.</p>
<p>Sampai kapan pun aku tidak akan pernah jadi bagian dari penyebar pesan berantai seperti ini. Siapa tau itu ulah beberapa pihak yang ingin menyabotase produk kopetitornya. Cara yang kotor untuk menjatuhkan saingan. Begitu kuterima pesan seperti ini aku akan langsung menghapusnya dari HP-ku. Menurutku, pesan seperti ini sudah termasuk fitnah karena kebenarannya masih harus dibuktikan. Lucu banget kalau aku ikut menyebarkannya, padahal jadi korban pun <em>enggak,</em> kenal dengan korban pun <em>enggak&#8230;   </em>apa kata duniaaaa??  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sudah puluhan pesan berantai ini aku dapatkan, kadang 4-5 kali kudapat pesan yang sama dari teman-teman yang berbeda. Semua kuperlakukan sama. Berhenti di tanganku, tidak akan pernah kuteruskan pada siapapun juga.</p>
<p>Berkaca pada diri sendiri, aku sendiri sering merasa sebel menerima pesan seperti ini; kalau aku meneruskannya pada 10 teman lain, bisa jadi 7 diantaranya juga akan sebel padaku karena mengirimi pesan berantai itu.</p>
<p>Nyatanya sampai sekarang aku merasa baik-baik saja, tidak ada kesialan atau malapetaka yang merugikan atau mencelakakan aku<em> tuh.</em>..</p>
<p>Yakin <em>aja</em>, akan terus selamat. Kalau pun mendapat kesulitan atau halangan, ya pas apesku aja, <strong>bukan</strong> karena aku mengabaikan pesan-pesan itu.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Bagaimana dengan Anda, pernah mendapatkan pesan seperti ini?</p>
<p>Apa yang Anda lakukan?</p>
<p>Note: isi pesan-pesan diatas kusarikan dari berbagai teks yang pernah kuterima, dengan pengurangan dan penambahan secara bebas. Tidak ditujukan untuk menyerang siapapun.</p>
<p><del>Gimana mau nulis sumbernya ya kalau serba nggak jelas asal muasalnya?</del> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/consideration/'>Consideration</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/fitnah/'>fitnah</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/gosip/'>gosip</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/hp/'>HP</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/ibu/'>ibu</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/motivasi/'>motivasi</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/pertemanan/'>pertemanan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/sms/'>SMS</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/surat-berantai/'>surat berantai</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tahkyul/'>tahkyul</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/text/'>text</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/weden-weden/'>weden-weden</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1239&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/08/26/pesan-dan-sms-berantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/08/hp.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">HP</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak beralas kaki&#8230;</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/08/11/tak-beralas-kaki/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/08/11/tak-beralas-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 07:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consideration]]></category>
		<category><![CDATA[alas kaki]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[ingkling]]></category>
		<category><![CDATA[jengkeng]]></category>
		<category><![CDATA[kaki]]></category>
		<category><![CDATA[meloncat]]></category>
		<category><![CDATA[tukang parkir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore, kira-kira dua tahun yang lalu&#8230;aku dan suamiku memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati suasana sore di kota kecil ini, kota yang kutinggali sampai tulisan ini kubuat.. Sesampainya di pusat kota, aku melihat seorang pemuda yang tingginya mungkin hanya selisih beberapa senti dari pinggangku. Lalu kusadari, ternyata salah satu kakinya tidak sempurna. Kaki kanannya begitu kecilnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1232&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu sore, kira-kira dua tahun yang lalu&#8230;aku dan suamiku memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati suasana sore di kota kecil ini, kota yang kutinggali sampai tulisan ini kubuat..</p>
<p>Sesampainya di pusat kota, aku melihat seorang pemuda yang tingginya mungkin hanya selisih beberapa senti dari pinggangku. Lalu kusadari, ternyata salah satu kakinya tidak sempurna. Kaki kanannya begitu kecilnya. Kaki kiri pemuda itu harus ditekuk untuk mengimbangi supaya kaki kanannya bisa ikut menapak tanah&#8230;</p>
<p>Saat  berjalan, kaki kirinya yang normal dan sehat berfungsi untuk bergerak, sedangkan kaki kanannya setengah diseret. Sekilas kita akan melihatnya seperti berjalan sambil berlutut<em> (jengkeng, Bahasa Jawa).</em></p>
<p><span id="more-1232"></span></p>
<p align="center">****</p>
<p>Awal melihatnya aku benar-benar iba. Lalu teringat olehku, nasehat mendiang nenekku dulu. Ketika kita melihat orang yang cacat, jangan melihat pada bagian fisiknya yang tak sempurna, karena itu akan melukai perasaannya..</p>
<p>Jadi cepat kualihkan perhatianku dari ketidaksempurnaannya, dan mengamati apa yang dilakukannya. Dengan rompi orange menyala, dan peluit di tergantung di lehernya, sadarlah aku, pemuda itu sedang bekerja sebagai tukang parkir. Dalam keterbatasannya, dia tetap bersemangat bekerja. Lalu hup! Dia bergerak lincah meloncat-loncat dengan kaki kirinya yang sehat. <em>Ingkling</em> istilah Jawanya. Ada yang tahu istilah dalam Bahasa Indonesianya ?</p>
<p><em>hmm, well</em>, begitulah caranya untuk berjalan cepat.</p>
<p>Saat ia berdiri dengan kaki kirinya, ternyata ia sama tingginya dengan pemuda kebanyakan.</p>
<p>Aku sungguh salut pada pemuda itu. Dia tetap bekerja, dan tidak menggunakan ketidaksempurnaannya untuk mengemis dan mengiba perhatian orang.. seorang yang berjiwa besar kurasa&#8230;</p>
<p align="center">****</p>
<p>Lalu kulihat dia di gereja. Kupikir, pemuda itu bertugas sebagai tukang parkir di gereja. Ternyata, kulihat dia di dalam gereja mengikuti misa bersama umat yang lain.</p>
<p>Kulihat lagi ia minggu-minggu berikutnya. Dia selalu duduk di bangku paling belakang. Ketika aku keluar gereja, dia tengah membantu petugas parkir memungut iuran parkir sukarela dari umat.</p>
<p>Jujur, aku semakin salut padanya. Dia meluangkan waktu untuk berdoa dan menghadiri misa, mungkin dengan kesulitan-kesulitan tersendiri untuk mencapai gereja dari rumahnya.</p>
<p>Aku merasa malu&#8230;</p>
<p>Aku malu karena aku orang normal yang membiarkan diri tertindih setan malas. Beberapa kali,dengan berbagai alasan sepele, aku membolos ke gereja.</p>
<p>Aku didukung kemudahan adanya kendaraan, hingga tak perlu berjalan jauh untuk mencapai gereja. Jasa taksi pun tersedia 24 jam dan siap melayani sewaktu-waktu hanya dengan menghubungi <em>pool</em> taksi.</p>
<p>Sepatutnya aku merasa sangat malu. Aku sering lupa bersyukur. Aku diberi-Nya dua kaki sempurna untuk berjalan ke manapun aku mau, untuk berlari bebas sesukaku. Dan aku bisa memakai berbagai sepatu dan sandal yang kumau. Sedangkan pemuda itu, dia tak beralas kaki&#8230;.</p>
<p>Beberapa kali sempat terselip keinginanku untuk membantu pemuda itu tanpa bermaksud mengasihaninya secara berlebihan. Bagaimana caranya? Mungkin nggak ya, mendaftarkannya sebagai penerima kaki palsu -yang diprakarsai sebuah talk show di salah satu TV swasta itu? Bagaimana pula caranya?</p>
<p><em>Anyone? </em></p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/consideration/'>Consideration</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/alas-kaki/'>alas kaki</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/gereja/'>gereja</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/ingkling/'>ingkling</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/jengkeng/'>jengkeng</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kaki/'>kaki</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/meloncat/'>meloncat</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tukang-parkir/'>tukang parkir</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1232&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/08/11/tak-beralas-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah kota dengan sepuluh taksi (Part 2)</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/07/19/sebuah-kota-dengan-sepuluh-taksi-part-2/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/07/19/sebuah-kota-dengan-sepuluh-taksi-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 07:15:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat tak penting]]></category>
		<category><![CDATA[lampu merah]]></category>
		<category><![CDATA[parkir]]></category>
		<category><![CDATA[potong jalan]]></category>
		<category><![CDATA[taksi]]></category>
		<category><![CDATA[TV kabel]]></category>
		<category><![CDATA[TV lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1222</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan kali ini masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya di sini. Ini tentang perilaku berkendara di sebuah kota dengan sepuluh taksi. Seringkali kami lihat, mobil-mobil mewah dan mentereng dengan semua jendela terbuka. Akan terlihat jelas siapa si pengemudi dan para penumpangnya lengkap dengan segala aksesorisnya. Sayang banget mobilnya ya. Berfasilitas AC begitu, bisa cepet rusak kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1222&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan kali ini masih berhubungan dengan <a href="http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/07/06/sebuah-kota-dengan-sepuluh-taksi-part-1/">tulisan sebelumnya di sini.</a></p>
<p>Ini tentang perilaku berkendara di sebuah <em>kota dengan sepuluh taksi. </em></p>
<p>Seringkali kami lihat, mobil-mobil mewah dan mentereng dengan semua jendela terbuka. Akan terlihat jelas siapa si pengemudi dan para penumpangnya lengkap dengan segala aksesorisnya. Sayang banget mobilnya ya. Berfasilitas AC begitu, bisa cepet rusak kalau semua jendela dibuka <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sudah begitu, mereka memarkir mobilnya kadang membuat orang lain mengelus dada. Bayangkan di jalan sempit, bisa-bisanya satu orang memarkir di sisi kiri, lalu orang lain lagi memarkir mobil tepat di sisi sebelah kanan. Catet ya, itu jalan sempit dua arah, bisa diduga kan sempitnya dan macetnya jalan karena cara parkir yang tidak bijaksana begitu?<span id="more-1222"></span></p>
<p>Di sini dengan mudahnya orang langsung berbelok kanan, baru menyalakan lampu <em>sign</em>.. eaaa&#8230;!! ya bakal mencak-mencak lah orang yang tepat di belakang mobil itu. <em>Nggak abis mikir deehh&#8230;.</em></p>
<p>Seringkali kami jumpai pengendara motor tanpa lampu di malam hari. Sudah tanpa lampu, <em>nyelonong</em> lagi!  Kelemahan kami adalah kami ini berkacamata, dengan pandangan terbatas terutama di malam hari, dengan kaca kendaraan gelap pula. Jadi kadang kami baru sadar sudah terlalu dekat dengan motor tanpa lampu, sehingga kami terpaksa mengerem mendadak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seringkali pengendara motor <em>nyelonong</em> sedemikian mepet. Atau mereka tiba-tiba memotong jalan jalan tanpa <em>sign</em>. Kok <em>nggak</em> terpikir ya, dengan kecepatan sama, motor itu bakal terseruduk mobil yang dipotong jalurnya dong&#8230; kalau sudah begitu dengan gemas kami mengklakson pengendara motor yang ngawur itu. Sebenarnya, kami benci harus mengklakson orang lain, sebagaimana kami pun tak suka diklakson.</p>
<p><em>Tiba-tiba saja aku teringat dan kangen Balikpapan, di mana kedisplinan pengendara mobil sangat tinggi. Nyaris tak pernah kami mendengar bunyi klakson mobil sewaktu tinggal di sana</em>.</p>
<div id="attachment_1223" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/lampu-merah.jpg"><img class="size-full wp-image-1223" title="lampu merah" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/lampu-merah.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">kiri-kanan jalan untuk parkir....truk besar lagi...</p></div>
<div id="attachment_1224" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/perempatan.jpg"><img class="size-full wp-image-1224" title="perempatan" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/perempatan.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">diliat dari pergerakan ketiga motor dan sebuah mobil itu, jelas dari ketiga arah bergerak bersamaan. Seharusnya 3 sisi berhenti. kami termasuk tertib berhenti pas lampu merah. Si kaos putih melaju dari arah kami (seharusnya berhenti)</p></div>
<div id="attachment_1226" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/p10301341.jpg"><img class="size-full wp-image-1226" title="P1030134" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/p10301341.jpg?w=500&#038;h=331" alt="" width="500" height="331" /></a><p class="wp-caption-text">mobil paling belakang parkir dengan benar... mobil depannya... wedew...</p></div>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Ini masih tentang sebuah <em>kota dengan sepuluh taksi</em>. Di mana untuk menonton TV, harus berlangganan TV kabel. Cukup 20 ribu perbulan.   Programnya?<em> Well,</em> program TV nasional dan beberapa TV yang tak kumengerti bahasanya. TV berbahasa Arab, India, China dan entah apa lagi. Tak ada yang menarik. Karena aku tak suka sinetron-sinetron maha lebay itu, otomatis si TV pun lebih banyak kumatikan. Masih kutonton 2 channel yang berlomba-lomba kritis dengan siaran dan program-program beritanya. Tapi lama-lama keduanya pun lebih banyak menyumbangkan kejengkelan daripada hiburan dan info.</p>
<p>Ada channel TV lokal, produksi sendiri dari <em>kota dengan sepuluh taksi ini</em>. Isinya lagu-lagu daerah, <em>electone</em>, dan pemutaran video clip karaoke, dengan teks yang berubah warnanya saat tiba waktunya suku kata yang berubah warna itu dinyanyikan. Dan, video rekaman resepsi sepasang pengantin. Nama pengantin ditulis besar-besar, berikut hari, tanggal dan tempat resepsi. <em>Can you imagine your video wedding broadcasted in local TV?  Eeaaa&#8230;.  </em></p>
<p>Akhirnya kami berlangganan TV berbayar, yang tak ada perwakilannya di kota ini, jadi kami harus menempuh jarak 155km untuk mendaftar sebagai pelanggan.</p>
<p>Selamat tinggal TV lokal&#8230;</p>
<p>Aku berharap pemuka <em>kota dengan sepuluh taksi ini</em> suatu saat membaca tulisan ini, dan memikirkan sebuah program yang jauh lebih mendidik dan mencerdaskan masyarakatnya, misalnya, bagaimana memilah sampah organik dan organik, bagaimana memulai kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Dan ini harapan terbesarku: <em>Mbok ya</em>, bikin tayangan tentang cara berkendara yang sopan dan aman, tidak membahayakan pengguna jalan lain. Lengkapi pula dengan simulasi akibat dari <em>nyelonong</em> memotong jalur, dan cara parkir mobil yang tepat. Sepertinya bahayanya berkendara tanpa lampu di malam hari juga <strong>PENTING </strong> deh untuk masyarakat kota ini.</p>
<p><em>Hellooww?? Pemerintah daerah?!?</em></p>
<div id="attachment_1227" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/potong-jalan.jpg"><img class="size-full wp-image-1227" title="potong jalan" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/potong-jalan.jpg?w=500&#038;h=374" alt="" width="500" height="374" /></a><p class="wp-caption-text">sreeeettt!! potong jalan tanpa sedikitpun memberi tanda... see? parkirnya di dua sisi dua arah... *tepok jidat*</p></div>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Masih tentang <em>kota kecil dengan sepuluh taksi ini</em>. Di sini, ada sebuah universitas swasta dan beberapa akademi. Sayangnya, dengan jumlah mahasiswa yang lumayan, tak ada toko buku yang mendukung.. jangan tanya bagaimana para mahasisiwa ini melengkapi referensi bahan kuliah mereka, karena aku tak punya jawabnya.</p>
<p>Aku tak pandai membahasakannya, tapi ada yang janggal pada <em>kota dengan sepuluh taksi ini</em>. Terasa ada yang “hilang”,  <em>nggak </em>cocok. Terasa suasana waktu aku masih anak-anak dan remaja sepuluh – lima belas tahun lalu di kampung halaman}.</p>
<p>Didukung dengan selera musik dan lagu masyarakat sini yang sukaaa sekali dengan lagu-lagu lawas di tahun 80an dan awal 90an.. lalu kemana lagu-lagu band anak muda sekarang? Sepertinya tak sempat bertahan lama. Padahal TV dan Radio ada lho&#8230; kedua media massa ini kan membawa apapun <em>trend</em> dari ibukota khususnya. Atau barangkali, sepuluh tahun mendatang, lagu-lagu Nidj*, Lett*, Sevent**n dll itu bakal terkenal di sini..  *terlalu berlebihan ya&#8230;.*</p>
<p>Well, sulit membahasakan kondisi ini, kau harus datang, hidup dan tinggal di sini untuk bisa merasakan suasana yang aku maksudkan.</p>
<p>Ah, aku terlalu berbelit-belit ya? KESENJANGAN. Mungkin inilah kata yang paling mendekati tepat untuk <em>kota dengan sepuluh taksi ini,</em> dengan kota-kota di pulau Jawa sana. Apa yang menyebabkan kesenjangan ini? Ke mana waktu sepuluh hingga limabelas tahun itu bersembunyi? Di mana ia terserak? Ke mana ia pergi? Atau berhenti? Aku tak pernah habis mengerti.</p>
<p>Masih banyak hal yang ingin kutuliskan tentang <em>kota dengan sepuluh taksi ini. </em>Aku tak bisa menemukan untaian kalimat yang tepat untuk menuliskannya.</p>
<p>Sebagai penutup, kawanku pernah bercerita. Di tempatnya bekerja ada 2 orang yang berasal dari <em>kota dengan sepuluh taksi </em>ini. Salah satunya telah lulus S2, sedangkan yang lain masih kuliah S2. Keduanya mengaku tak ingin kembali ke <em>kota dengan sepuluh taksi</em> ini, dan lebih memilih untuk tetap bekerja dan berkeluarga di Jawa. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab bahwa mustahil memajukan dan merubah pola pikir masyarakatnya. Ilmu yang diraihnya dengan susah payah tak akan ada hasilnya di <em>kota dengan sepuluh taksi ini</em>. Terkesan pesimis ya? Tapi ya begitulah jawaban mereka.</p>
<p>Mungkin terdengar sinis, tapi begitulah pengakuan orang-orang yang pernah merantau keluar dari <em>kota dengan sepuluh taksi</em> ini: bahwa mereka.-para perantau di kota-kota besar itu,  akan lebih terbuka pikirannya dan (maaf) bisa menertawakan masyarakatnya.</p>
<p align="center">****</p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/curhat-tak-penting/'>Curhat tak penting</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/lampu-merah/'>lampu merah</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/parkir/'>parkir</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/potong-jalan/'>potong jalan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/taksi/'>taksi</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tv-kabel/'>TV kabel</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/tv-lokal/'>TV lokal</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1222&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/07/19/sebuah-kota-dengan-sepuluh-taksi-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/lampu-merah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lampu merah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/perempatan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">perempatan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/p10301341.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">P1030134</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/07/potong-jalan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">potong jalan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah kota dengan sepuluh taksi (Part 1)</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/07/06/sebuah-kota-dengan-sepuluh-taksi-part-1/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/07/06/sebuah-kota-dengan-sepuluh-taksi-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 06:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat tak penting]]></category>
		<category><![CDATA[emas kuning]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[ikan bakar]]></category>
		<category><![CDATA[kota transit]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[ngejreng]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[sambal]]></category>
		<category><![CDATA[selera]]></category>
		<category><![CDATA[taksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1214</guid>
		<description><![CDATA[Ini cerita tentang sebuah kota dengan sepuluh taksi. Kota kecil ini, berkembang karena inilah penghubung ibukota propinsi Sulawesi Selatan, dengan kota-kota lainnya. Kota transit istilah kerennya ya.. Mengapa sepuluh taksi? Memang baru ada satu perusahaan taksi di kota ini, mungkin baru beroperasi kurang lebih satu tahun, dengan armada sepuluh taksi saja. Itupun, -menurut dua orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1214&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita tentang <em>sebuah</em> <em>kota dengan sepuluh taksi.</em> Kota kecil ini, berkembang karena inilah penghubung ibukota propinsi Sulawesi Selatan, dengan kota-kota lainnya. Kota transit istilah kerennya ya..</p>
<p>Mengapa sepuluh taksi?</p>
<p>Memang baru ada satu perusahaan taksi di kota ini, mungkin baru beroperasi kurang lebih satu tahun, dengan armada sepuluh taksi saja. Itupun, -menurut dua orang sopirnya, para sopir taksi ini masih lebih banyak <em>nganggur-</em>nya, karena tak ada atau jarang ada panggilan dari calon penumpang.</p>
<p>Mungkin memang mobilitas orang-orang di kota ini termasuk rendah. <em>Lha,</em> coba, mau ke mana lagi ber-taksi? Tak ada bioskop di sini, tak ada mall&#8230;</p>
<p><span id="more-1214"></span></p>
<p>Tiga-empat kali aku menggunakan jasa taksi ini. Dan selalu jendela dalam keadaan terbuka.</p>
<p>“Ibu mau pakai AC atau tidak?” tanya sopir taksi.</p>
<p>“Iya Pak, pakai AC, terimakasih”.</p>
<p>“Kalau begitu, tolong Ibu tutup kacanya”. Rupanya mobil ini masih harus membuka dan menutup jendela kacanya secara manual.</p>
<p>“Saya tanya begitu Bu&#8230; karena beberapa penumpang orang sini marah-marah kalau pakai AC, karena jendela tertutup. Jadi jendela harus dibuka karena mereka takut mabok&#8230;”.</p>
<p>Aku mengangguk maklum.</p>
<p style="text-align:center;"> ****</p>
<p>Ini kisah tentang <em>sebuah kota dengan sepuluh taksi.</em></p>
<p>Di mana penduduknya sangat bangga dengan kota ini. Dibandingkan daerah-daerah penyokong di sekitar kota ini, bisa dibilang <em>kota dengan sepuluh taksi</em> ini memang lebih maju dan modern.</p>
<p><em>Kota dengan sepuluh taksi</em> ini baru saja  meriah setelah memperoleh kembali penghargaan Adipura ke 7 kalinya dengan penuh kebanggaan.</p>
<p>Seandainya para pemberi penghargaan itu juga menilai daerah di luar pusat kota, aku yakin, maaf saja, penghargaan itu takkan diberikan. Penduduk di sekitarku masih gemar membuang sampah sembarangan. Rumah kontrakan kami pernah 2 kali kebanjiran parah gara-gara got yang tersumbat. Penyebabnya? Sampah yang menghambat saluran got!</p>
<p>Ini memang sungguh terjadi di <em>kota dengan sepuluh taksi</em>. Di mana kita akan mudah jumpai para bapak di warung kopi lengkap dengan seragam PNS-nya, pada jam kerja! Duduk santai, <em>klepas-klepus</em> dengan asap rokok mereka, sambil <em>ngobrol</em> <em>ngalor ngidul</em>.</p>
<p>Beberapa ibu PNS bisa pulang ke rumah, memasak dan mencuci baju, sempat pula tidur siang. Lalu jam 2 siang, kembali lagi ke kantor sampai dengan jam kantor usai.</p>
<p align="center">****</p>
<p><em>Kota dengan sepuluh taksi</em> ini terhitung “paling metropolis” dibandingkan daerah-daerah lain. Di mana para remajanya berdandan <em>gaul abis</em> seperti yang dipamerkan remaja ibukota, hanya saja, tetap saja, maaf, menggelikan, karena pilihan warna yang sangat <em>ngejreng</em> dan mencolok: kaus pink dipadukan dengan hijau terang, atau orange dengan merah. Beberapa kali aku dan suami terpaksa terkekeh melihat gaya dan selera mereka&#8230; hehehehe&#8230;</p>
<p>Di <em>kota dengan sepuluh taksi ini</em>, penampilan di atas segalanya. Hemat dan cenderung <span style="color:#000000;"><del>pelit</del></span> <em>sangaaaat</em> irit untuk urusan makanan sehari-hari, tapi harus mewah dan wah untuk penampilan.</p>
<p>Yang dilihat di sini adalah emas kuning sebagai “ukuran”, -berapa biji cincin yang dikenakan, kalung besar dan mencolok, gelang di kiri kanan&#8230; anting atau giwang yang tak kalah mencoloknya.</p>
<p>Sedangkan emas putih&#8230; tak ada tempat baginya&#8230; Wah, padahal di pasaran emas putih lebih mahal ya?.</p>
<p>Banyak rumah yang dibangun sangat besar, bertingkat dan berpagar tinggi. Tentu orang dengan mudah akan menduga pemiliknya pasti kaya raya. Biasanya dinding rumah mereka aduhai <em>ngejreng</em>nya. Warna favorit tampaknya di kota ini, pink dipadu dengan cat hijau atau biru.</p>
<p><em>Well,</em> kesan mewahnya jadi&#8230;.. *isi sendiri ya*&#8230;</p>
<p>Beberapa kali kulihat, beberapa ibu memiliki 2- 3 buah HP yang dibawa kemanapun mereka pergi. HP ini dibawa dalam tas kecil serupa dompet. Kadang mereka membuka dompet HP ini dengan gaya yang sangat ekspresif..</p>
<p>Kudengar dari seorang kawan, rupanya mereka bangga sekali kalau sudah memakai HP besar dengan simbol buah hitam itu. Satu ibu memilikinya, di kemudian hari ibu-ibu lain dalam kelompok yang sama berlomba-lomba mengikuti.  Sayang disayang, dengan <em>gadget</em> mahal begitu tp hanya bisa mereka pakai untuk SMS, telfon dan <em>group chatting</em> antar sesama pemilik <em>gadget</em> yang sama. Internet dan segala aplikasi media sosial lainnya bisa jadi tidak digunakan, yang penting bisa <em>group chatting</em>&#8230; *eeaaaa&#8230;!!</p>
<p align="center">****</p>
<p>Di <em>kota dengan sepuluh taksi ini</em>, usaha kuliner rupanya kurang bisa berkembang. Beberapa kali kulihat, warung-warung makan terpaksa berhenti beroperasi karena pasar lesu.</p>
<p>Ikan adalah makanan pokok pendamping nasi di sini. Tak ada sayur tak masalah, yang penting ada ikan. Maka usaha kuliner yang paling laku dan bisa bertahan lama adalah kuliner dengan menu utama: <span style="color:#000000;"><strong>ikan laut</strong></span>.</p>
<p>Rumah makan waralaba yang biasanya ramai pengunjung di kota-kota di Jawa, di sini sepi pembeli, karena harga yang dirasa terlalu tinggi atau <em>simply</em> karena memang selera masyarakat sini yang berbeda.</p>
<p>Awal aku tinggal di sini, aku tercengang-cengang dengan menu ikan bakar di sini. Di kota-kota lain yang pernah kutinggali, ikan bakar adalah ikan yang sebenarnya sudah matang (dibumbui dan digoreng), kemudian disempurnakan dengan cara dibakar. Tujuan utama pembakaran ini adalah untuk memunculkan aroma bakar. Jadi lebih tepatnya, bumbu atau kecapnya yang dibakar untuk menggugah selera.</p>
<p>Nah, di sini, menu ikan bakar adalah ikan mentah yang dibakar di atas arang bara. Tanpa bumbu. Kalaupun ada, bumbu hanya sekedar dioleskan saat akan dihidangkan. Jadi bumbu tidak ikut meresap masuk dalam daging ikan.</p>
<p>Dulu, aku tak berselera makan ikan bakar model begini. Ikan terkesan masih mentah, dengan aroma ikan masih kuat dan dagingnya tak berasa. Asin tidak, apalagi bumbu <em>spicy</em> lainnya. Penolong rasa di lidah adalah sambal! Beraneka sambal ada di sini, sambal bumbu kacang, sambal mangga, sambal jambu (jambu khusus) dan sambal tomat. Sekarang pun masih relatif jarang aku makan ikan bakar begini.</p>
<p>Bagi kami pendatang dari luar daerah, urusan selera memang menjadi masalah tersendiri. Dari beberapa pilihan kuliner yang ada, sedikit sekali yang benar-benar sesuai dengan lidah kami yang terbiasa makan makanan kaya rasa yang berempah.</p>
<p>Jadi kalau ingin makan makanan yang sesuai selera kami ya harus masak sendiri di rumah. Sulit sekali mendapatkan brokoli hijau di sini, tak ada juga di pasar. Rupanya brokoli hijau tidak laku di sini.</p>
<p>Para tukang sayur keliling ini, hanya membawa sayur yang banyak diminati masyarakat. Jadi setiap hari itu-itu saja yang dibawa. Pernah juga kebingunagan mau masak apa karena dari hari ke hari, itu lagi-itu lagi yang dibawa tukang sayur  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Yah, sisi baiknya, aku jadi bisa mencoba-coba masakan baru. Bahan apa yang ada itu yang kugunakan&#8230; beruntungnya aku, suamiku <em>nggak </em>pernah rewel soal makanan. Apa yang yang kumasak dan kuhidangkan, suamiku makan tanpa protes hehehe&#8230;.</p>
<p>(bersambung)</p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/curhat-tak-penting/'>Curhat tak penting</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/emas-kuning/'>emas kuning</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/gadget/'>gadget</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/ikan-bakar/'>ikan bakar</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kota-transit/'>kota transit</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kuliner/'>kuliner</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/ngejreng/'>ngejreng</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/penghargaan/'>penghargaan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/sambal/'>sambal</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/selera/'>selera</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/taksi/'>taksi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1214&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/07/06/sebuah-kota-dengan-sepuluh-taksi-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lilin</title>
		<link>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/06/20/lilin/</link>
		<comments>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/06/20/lilin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 15:16:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nanaharmanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat tak penting]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Hati]]></category>
		<category><![CDATA[api]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[Chrisye]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kecil]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplatif]]></category>
		<category><![CDATA[korek api]]></category>
		<category><![CDATA[lilin]]></category>
		<category><![CDATA[menyala]]></category>
		<category><![CDATA[minggu]]></category>
		<category><![CDATA[misa]]></category>
		<category><![CDATA[patung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nanaharmanto.wordpress.com/?p=1204</guid>
		<description><![CDATA[Selama dua tahun tinggal di kota kecil ini, setiap Minggu kami pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus.. oh, sebentar, tampaknya harus kuralat&#8230; aku tak bisa membohongi diri sendiri. Beberapa kali kami melewatkan misa Mingguan ini karena berbagai sebab. Karena sakit, sedang pergi keluar kota atau simply hanya karena malas atau terlambat bangun. Kemalasan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1204&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama dua tahun tinggal di kota kecil ini, setiap Minggu kami pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus.. oh, sebentar, tampaknya harus kuralat&#8230; aku tak bisa membohongi diri sendiri. Beberapa kali kami melewatkan misa Mingguan ini karena berbagai sebab. Karena sakit, sedang pergi keluar kota atau <em>simply</em> hanya karena malas atau terlambat bangun. Kemalasan ini pun dipicu oleh berbagai hal yang kalau kurinci dengan detil  di sini, hanya akan membuatku lebih malu, malu pada diri sendiri dan pada Tuhanku.</p>
<p><span id="more-1204"></span></p>
<p>Di saat-saat aku ke gereja itu, seringkali aku menyempatkan diri untuk berdoa secara pribadi setelah misa selesai. Ada sebuah tempat khusus bagi mereka yang ingin berdoa secara pribadi. Di situ disediakan tempat untuk menyalakan lilin di dekat patung orang kudus.</p>
<p>Ah ya, banyak saudara-saudariku yang menganggap bahwa kami menyembah patung. Sebenarnya tidak. Patung itu digunakan untuk lebih memusatkan perhatian agar doa kami lebih terfokus (kontemplatif).</p>
<p>Coba bayangkan kalau kita berdoa tapi pikiran kita ke mana-mana, malah membayangkan yang tidak-tidak, tentunya kita jadi <em>nggak</em> fokus kan?</p>
<p>Tapi sudahlah, aku tak ingin memperdebatkan hal ini. Toh tidak ada gunanya berdebat dengan mereka yang tidak memahami sepenuhnya. Biarlah orang menganggap kami penyembah patung, tak perlu diambil pusing. Imanku itu&#8230;. sepenuhnya urusanku dengan Tuhanku dan kelak akan kupertanggungjawabkan hanya kepada Tuhanku.</p>
<p style="text-align:center;"> ****</p>
<p>Sayangnya, seringkali pula aku kecewa karena tak menemukan sebatang pun lilin yang baru. Tak jarang, umat yang lain pun terpaksa gigit jari  karena tak ada lilin yang tersedia di sana. Di keranjang kecil di bawah tempat pembakaran lilin, tertulis: lilin @ Rp 1000,-</p>
<p><em>hmmm&#8230;</em></p>
<p>Kupikir, setiap umat yang menghendaki menyalakan lilin akan membayar uang serelanya, entah seribu atau dua ribu rupiah bahkan lebih. Tapi karena tidak ada lilin yang tersedia, maka kotak iuran sularela itu pun akan kosong&#8230; tak ada lilin, maka tak ada uang&#8230; karena tak ada uang, lilin pun tak terbeli&#8230;  begitulah akan terus  terjadi kaitan sebab dan akibat ini. Aku tak begitu paham, apakah di gereja ini ada yang memperhatikan masalah ini secara serius atau tidak.</p>
<p>Memang jika dibandingkan di gereja-gereja di Jawa yang pernah kukunjungi, jumlah lilin yang menyala di tempat khusus di gerejaku ini sangat sedikit, artinya  hanya 4-5 orang yang meluangkan waktu untuk berdoa secara pribadi begitu. Jarang sekali kulihat lebih dari 10 batang lilin menyala. Betapa lain dengan gereja-gereja yang pernah kukunjungi.. puluhan lilin menyala meriah, kadang orang bahkan harus antri dan rela berdesakan supaya bisa menyalakan berdoa secara khusus di sekitar tempat itu.</p>
<p>Beberapa kali memang sempat terucap olehku pada suamiku, “Kok di sini jarang sekali ya umat berdoa khusus begini, <em>nggak</em> ada persediaan lilin lagi&#8230;”.</p>
<p>Tapi lantas aku teringat sebuah ungkapan bijak.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><strong><em>Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada terus menggerutu dan merutuk  pada kegelapan&#8230;  </em></strong></span></p></blockquote>
<div id="attachment_1205" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/lilin-biru.jpg"><img class="size-full wp-image-1205" title="lilin biru" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/lilin-biru.jpg?w=500&#038;h=439" alt="" width="500" height="439" /></a><p class="wp-caption-text">lilin... perwakilan hati yang terus menyala...</p></div>
<p><strong>Note: foto koleksi pribadi</strong></p>
<p>Lalu, kami mulai membawa lilin sendiri dari rumah. Kami merasa lebih baik begitu, berbuat sesuatu daripada hanya mengeluh.</p>
<p>Oh..oh.. hampir terlupa&#8230; seringkali tak ada lilin, bahkan korek api pun tak ada&#8230; jadi kami harus menyalakan lilin dengan mengambil api dari lilin altar yang masih menyala. Kemudian, aku mulai membawa korek api sendiri di dalam tasku.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selalu, kami membawa sebungkus lilin berisi 8 batang lilin. 2 batang lilin kunyalakan sebagai lambang diri kami, -aku dan suami, lalu sisanya, kutinggalkan di dalam keranjang kecil tempat lilin itu. Beberapa kali aku mendapati umat yang lain pun ikut mengambil lilin yang kubawa, dan mereka memasukkan uang sumbangan lilin ke kotak.</p>
<p><em>Well,</em> syukurlah lilin kami bisa digunakan orang lain. Jadi begitulah, setiap kali misa di gereja itu, kami selalu membawa sebungkus lilin, meninggalkan sisanya agar bisa dipakai mereka yang membutuhkan. Beberapa kali aku mendapati bungkus-bungkus kosong dari lilin yang kubawa minggu-minggu sebelumnya masih teronggok di keranjang tempat lilin. Bungkus-bungkus kosong itu kuambil dan kubuang ke tempat sampah. Aku yang menaruhnya di situ dan akulah yang harus membuangnya.</p>
<p style="text-align:center;"> ****</p>
<p>Kami berniat akan terus membawa setidaknya sebungkus lilin setiap kali kami misa di gereja ini. Setidaknya 6 orang umat-entah-siapa-mereka, akan terbantu. Entah mereka meyumbang atau tidak, kurasa itu bukan urusanku. Semoga saja uang sumbangan lilin yang terkumpul akan cukup bagi pihak gereja untuk membeli lilin.</p>
<p>Tidak menutup kemungkinan kami akan membawa lebih dari sebungkus lilin untuk minggu-minggu ke depan&#8230;  Tidak lebih dari empat ribu rupiah saja setiap bungkusnya, bagi kami itu lebih berarti daripada kami hanya menyumbang seribu rupiah untuk setiap lilin. (Kadang batal karena lilin tidak tersedia <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />    )</p>
<p>Semoga saja hal ini bisa berguna untuk lebih banyak umat yang lain.. Syukur-syukur ada yang tergerak untuk mengikuti hal sederhana yang kami lakukan..</p>
<div id="attachment_1207" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/stok-lilin.jpg"><img class="size-full wp-image-1207" title="stok lilin" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/stok-lilin.jpg?w=500&#038;h=379" alt="" width="500" height="379" /></a><p class="wp-caption-text">persediaan lilin di rumah... tampaknya harus belanja lagi nih..,</p></div>
<p><strong>Note: foto koleksi pribadi</strong></p>
<p>Aku suka berlama-lama memandang lilin-lilin itu, api kecilnya kadang meliuk-liuk terkena angin. Meleleh perlahan, ia merelakan tubuhnya rusak dan habis agar apinya terus menyala. Mengabdi dalam kesenyapan, ia tak pernah meratapi wujudnya yang tak lagi indah ketika padam apinya dan usai tugasnya.</p>
<p>Indah sekali rasanya memandang lilin yang menyala, sebagai perwakilan dari setiap pribadi yang berdoa.. semakin banyak lilin yang menyala, semakin banyak pula orang berdoa dan didoakan.. ah ya, <strong>semoga semua orang menemukan kebahagiaan&#8230;.</strong></p>
<div id="attachment_1206" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/lilin-2.jpg"><img class="size-full wp-image-1206" title="lilin 2" src="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/lilin-2.jpg?w=500&#038;h=423" alt="" width="500" height="423" /></a><p class="wp-caption-text">...cahaya dalam kegelapan...</p></div>
<p><strong>Note: foto koleksi pribadi</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;">Lilin-lilin Kecil</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;">(Chrisye)</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;">Oh&#8230;Manakala mentari tua</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;">lelah berpijar</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> oh&#8230; Manakala bulan nan genit</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> enggan tersenyum</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;"> Berkerut-kerut tiada berseri</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Tersendat-sendat melayang dalam kegelapan</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Hitam kini hitam nanti</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Gelap kini akankah berganti</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;"> Dan kau lilin-lilin kecil</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Sanggupkah kau mengganti</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Sanggupkah kau memberi</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Seberkas cahaya</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Dan kau lilin-lilin kecil</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Sanggupkah kau berpijar</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Sanggupkah kau menyengat</span></strong><br />
<strong><span style="color:#0000ff;"> Seisi dunia</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"> ****</p>
<br />Filed under: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/curhat-tak-penting/'>Curhat tak penting</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/category/dari-hati/'>Dari Hati</a> Tagged: <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/api/'>api</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/berdoa/'>berdoa</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/chrisye/'>Chrisye</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/gereja/'>gereja</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kebahagiaan/'>kebahagiaan</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kecil/'>kecil</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/kontemplatif/'>kontemplatif</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/korek-api/'>korek api</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/lilin/'>lilin</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/menyala/'>menyala</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/minggu/'>minggu</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/misa/'>misa</a>, <a href='http://nanaharmanto.wordpress.com/tag/patung/'>patung</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nanaharmanto.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nanaharmanto.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nanaharmanto.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nanaharmanto.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nanaharmanto.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nanaharmanto.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nanaharmanto.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nanaharmanto.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nanaharmanto.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nanaharmanto.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nanaharmanto.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nanaharmanto.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nanaharmanto.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nanaharmanto.wordpress.com/1204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nanaharmanto.wordpress.com&amp;blog=8267319&amp;post=1204&amp;subd=nanaharmanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nanaharmanto.wordpress.com/2011/06/20/lilin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cd0f2b59725f32680b821122529dc77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nanaharmanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/lilin-biru.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lilin biru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/stok-lilin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">stok lilin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nanaharmanto.files.wordpress.com/2011/06/lilin-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lilin 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
