Miss Gaby

Tulisan ini bukanlah tentang seorang tokoh dalam sebuah lagu yang beberapa waktu yang lalu sempat menggemparkan para pecinta dunia maya dan infotainment lengkap dengan segala bumbu-bumbu mistisnya. Tokoh ini sungguh nyata pernah ada, bahkan sangat berarti dalam hidupku. Selalu ada tempat untuknya dalam hatiku.

Nama sesungguhnya adalah Raden Rara Gabriel Sumartiyah Poncowidagdo. Sebenarnya, dia adalah adik bungsu eyangku, jadi, tante mamaku. Tetapi dia lebih suka dipanggil Bu Sum. Begitu saja. So simple. Tidak ada panggilan “tante” atau “eyang”. Dia sangat tidak menyukai gelar Rr-nya. Entah mengapa. Oh ya, Bu Sum tidak suka di “beliau-beliau”-kan. Maka, aku menuturkan beliau, eh, dia- ya dengan dia saja. Bu Sum sangat keras, tegas, disiplin, blak-blakan, aneh bin ajaib. Sangat tidak “njawani”. Artinya, tidak selayaknya atau selumrahnya perempuan Jawa pada umumnya yang selalu dituntut untuk selalu bertindak santun, bertutur halus, lemah lembut dan malu-malu kucing. Justru sebaliknya. Bu Sum ini pendobrak, spontan, penuh ide-ide gila, malah sangat percaya diri dengan tawanya yang terbahak-bahak membahana. Sangat jauh dari sosok perempuan Jawa ideal, apalagi berdarah ningrat. Hhmmm… melenceng jauuuh dari memenuhi syarat paling minimal.

Bu Sum tidak pernah menikah dan tidak pernah mempunyai anak. Semasa mudanya, Bu Sum bercita-cita untuk menjadi suster biara. Seperti diceritakannya padaku, sejak kecil, Bu Sum menempuh pendidikan keras yang diawali di sekolah berasrama di Mendut di bawah asuhan suster-suster Belanda.

Mungkin ada di antara Anda yang pernah membaca buku karya Romo Mangunwijaya berjudul Balada Dara-dara Mendut. Tersebutlah dalam buku itu seorang tokoh yang dijuluki “Singkek”. Nah, Bu Sum-lah si Singkek ini. Namanya awet melekat abadi diantara teman-temannya hingga tua. Teman-temannya setia meneriakkan panggilan Mbak Singkek ini dalam reuni 2 tahunan mereka.

Ketika Bu Sum Singkek ini lulus dari sekolah Mendut, dia melanjutkan pendidikan di sekolah berasrama juga, lalu melanjutkan pendidikan di biara untuk mewujudkan impiannya menjadi biarawati. Sayangnya, tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa setiap kali Bu Sum hendak mengucapkan kaul kekal-nya sebagai biarawati dengan bersumpah tidak menikah, hidup sederhana, dan taat pada aturan gereja dan biara seumur hidupnya, dia selalu jatuh sakit. Sakitnya selalu parah, panas tinggi, demam hingga tak bisa bangun dari tempat tidur. Kaul-nya terpaksa ditunda. Bukan hanya sebulan atau dua bulan, melainkan 1 tahun. Demikian berulang hingga 3-4 kali. Konon, menjelang pengucapan kaul, penyakit misterius ini selalu datang. Hingga akhirnya Bu Sum dipanggil menghadap pimpinan biara. Suster Pimpinan mengatakan bahwa Bu Sum akan jauh lebih berkembang dan menemukan kebahagiaannya di luar biara.

Maka Bu Sum melanjutkan karyanya sebagai guru Bahasa Inggris dan tetap tinggal di asrama guru. Murid-muridnya memanggilnya Miss Gaby. Terakhir, Bu Sum menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Cor Jesu Malang hingga dia pensiun tahun 1970-an. Bisa dikatakan bahwa sejak umur 6 tahun hingga pensiun, dia tinggal di asrama, di mana urusan memasak menjadi tanggung jawab pengelola asrama. Bu Sum sama sekali tidak bisa memasak, bahkan sangat membenci masak memasak. Tetapi untuk urusan menjahit, menyulam, bersih-bersih rumah, Bu Sum sangat ahli dan cekatan, karena memang ketrampilan itulah yang diajarkan di sekolah putri berasramanya dulu.

Suatu saat, Bu Sum mendapat beasiswa untuk kuliah di New Zealand. Di sana, Bu Sum berpacaran dengan seorang bule kaya dari Australia. Tetapi ketika pria itu melamar Bu Sum, jawabannya adalah, “No. If I marry you, it’s obviously clean that I will live prosperously and produce welfare children. I’d prefer to go home to my country and educate my people”.

(Tidak. Jika aku menikahimu, sudah jelas aku akan hidup makmur dan menghasilkan anak-anak sejahtera. Lebih baik aku pulang ke negeriku dan mendidik bangsaku).

Jawaban yang gila bukan?

Pun begitu ketika banyak pemuda lokal hendak melamarnya, Bu Sum tegas-tegas menolak. Bahkan, ada seorang pemuda gagah yang sebetulnya masih mempunyai hubungan famili, dengan gigihnya berusaha melamar dan tak lelah merayu Bu Sum. Namun, Bu Sum menolaknya mentah-mentah, berkali –kali, hingga penolakan pamungkasnya meruntuhkan nyali pemuda itu. Inilah yang dikatakan Bu Sum, “ Wis to. Aja teka meneh. Kowe golek-a calon bojo liyane. Aku ora bakal gelem kawin karo kowe. Aku wegah masak, opo meneh ngresiki angus manci-mancimu. Aku emoh ngurusi umbel karo ompol-e anak-anakmu.”

(Sudahlah. Jangan datang lagi. Kamu cari saja calon istri yang lain. Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu. Aku tidak mau memasak untukmu, apalagi membersihkan jelaga dari panci-pancimu. Aku tidak mau mengurus lendir dan ompol anak-anakmu).

Astaga!! Jawaban apa lagi ini??

Pastilah orang akan terperangah mendengar jawaban ini. Sangat tidak sopan. Menyakitkan hati bagi pemuda yang tengah mabuk cinta dan sudah pasti menghancurleburkan ego pemuda itu hingga tak pernah datang lagi. Tapi begitulah jawaban Bu Sum. Sangat tidak lumrah, tapi tak bisa dibantah lagi. Tak sedikit orang mencemoohnya sebagai perempuan tak laku kawin, perawan tua, cantik tapi galak, setengah edan dan segala macam gunjingan jahat yang kelak akan disesali si penggunjing dalam pengakuannya di akhirat nanti. Bu Sum tidak ambil pusing.

Memang gila Bu Sum ini. Dalam banyak hal dia menolak dijajah laki-laki. Dia mau seperti laki-laki. Ide-idenya gila, eksentrik, tidak waras, tak terduga. Ketika dikisahkannya cerita itu, aku masih SMP. Aku juga tak mengerti alasan ketidakpuasannya pada dominasi laki-laki terhadap perempuan. Aku tak memahami mengapa Bu Sum begitu uring-uringan melihat laki-laki yang merasa boleh menguasai perempuan. Aku bingung, ada apa sih di balik kegilaannya? Bertahun-tahun kemudian, barulah kudapatkan dan kupahami apa itu istilah “emansipasi wanita”. Hanya sayang, Bu Sum hidup di zaman yang salah, ketika peran perempuan masih dikecilkan dan dianggap enteng, ketika posisi perempuan selalu menjadi sub-ordinat laki-laki, ketika perempuan yang tidak menikah dianggap aneh dan digunjingkan. Tapi Bu Sum benar-benar tidak peduli. Dia bahagia dengan kemandiriannya. Dia menikmati segala sesuatu dalam hidupnya dengan positif. Pendiriannya tegak tak tergoyahkan walau tak banyak yang bisa memahaminya.

Satu hal yang masih kuingat dengan jelas betapa tidak Jawa-nya Miss Gaby ini. Dia suka sekali berjingkrak-jingkrak dan bertepuk tangan saat meluapkan kegembiraannya. Misalnya saja ketika kami pulang membawa rapor dengan nilai bagus dan menjadi juara kelas atau ketika mendengar musik yang disukainya, Bu Sum bisa menari-nari dengan gerakan aneh dan lucu. (Bayangkan saja sudah nenek-nenek tapi masih lincah, melonjak-lonjak semampu tubuh rentanya masih bisa diperlakukan demikian). Begitulah Bu Sum, sangat jujur dengan ekspresi perasaannya. Bicara tentang musik, wah, jangan pernah membahas dangdut dengannya. Bu Sum sangat membenci dangdut. Baginya, dangdut musik tak berkelas yang selalu membuatnya marah dan sebel. Maka akan sengsaralah ia sepanjang malam saat tetangga di kampung kami sedang “nanggap” dangdut untuk hajatan. Biasanya setelah ngomel tentang betapa jengkelnya dia pada musik yang membunuh seleranya itu, dia akan menutup kamarnya, menyetel musik klasik favoritnya dan membaca buku.

Aku mengagumi hobinya membaca dan mengoleksi buku. Koleksi bukunya banyak sekali. Kebanyakan berbahasa Belanda dan Inggris. Meskipun sudah tua dan mengalami gangguan penglihatan, Bu Sum tetap rajin membaca. Dibuatnya catatan-catatan penting, kutipan-kutipan dan sebagainya.

Nasehat Bu Sum yang tidak akan kulupa, salah satunya adalah ini.

“Besok kalau kamu jadi guru, dan muridmu ribut sendiri, bandel dan kurang ajar, jangan ladeni dia dengan emosi. Tegur dia sekali atau dua kali. Tidak perlu membentak, kamu akan buang energi percuma. Ingat, nada tinggi cenderung membuat kita mudah lepas kontrol. Teguran ketiga ini penting. Kamu datangi dia pelan-pelan. Syukur kalau dia mau tenang. Tapi kalau anak itu tetap saja bandel, kamu pegang kepalanya. Pegang saja. Arahkan kepalanya ke arah depan kelas. Pasti dia nurut. Dia akan merasa mendapat perhatianmu dan itu cukup untuk membuatnya gentar untuk mengulang kebandelannya. Dia akan sadar bahwa kamu serius dan tidak main-main. Tapi kalau muridmu sudah SMA, pegang bahunya. Beri tekanan cukup maka dia akan tahu bahwa kamu lah yang memegang kendali di kelas.”

Bertahun-tahun kemudian ketika aku menjadi guru, kupraktekkan nasehat itu. Hasilnya? Sukses gilang gemilang.

Bu Sum turut berperan dalam biaya pendidikanku. Didukungnya aku untuk memilih program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih kecil, aku belum menyadari bahwa Bu Sum selalu mendorong agar aku belajar Bahasa Inggris dengan cara yang sederhana tapi unik. Ditempelinya barang-barang di rumah kami dengan kertas dan selotip. Aku melihat pintu, kamar, jendela, meja, kursi, dan ruang tamu bertuliskan door, room, window, table, chair, living room, dan masih banyak lagi. Karena sering melihat tulisan-tulisan itu, aku jadi hafal luar kepala. Sering, Bu Sum mengujiku apakah bahasa Inggris dari suatu benda. Jika pengucapanku masih kurang tepat, Bu Sum akan meralatku hingga betul-betul tepat. Aneh dan menggelikan ketika mengucapkan bunyi-bunyi yang janggal sambil rela mecucu, lidah terlipat-lipat, mendesis-desis atau bahkan hingga ludah menyembur. Begitulah pengucapan Bahasa Inggris yang benar. Aku tak pernah lupa semua itu.

Bu Sum bersahabat erat dengan Romo Mangun. Beberapa kali beliau datang berkunjung ke rumah kami, ngobrol akrab bersama Bu Sum menggunakan campuran Bahasa Indonesia, Belanda dan Jawa. Tak jarang mereka terkekeh-kekeh geli. Takkusangka, ketika akhirnya aku kuliah di Yogya, aku terjun menjadi volunteer untuk mengajar anak-anak jalanan di Kali Code, daerah binaan Romo Mangun.

Suatu kali, aku mendengar mereka guyon, berkelakar ringan. “Ayo, Bu Gabi, kita balapan. Siapa nanti yang lebih dulu dipundhut (diambil) Gusti..” Tawa mereka pun berderai-derai. Indah sekali persahabatan mereka.

Minggu kedua Februari 1999, Bu Sum mengeluh dadanya sakit dan sesak nafas. Kami bawa Bu Sum ke dokter. Diagnosa dokter, Bu Sum mengalami gangguan jantung, masih dianggap wajar untuk seusia Bu Sum. Kami merawat Bu Sum semampu kami di rumah, sebab Bu Sum menolak dirawat di Rumah Sakit.

10 Februari 1999 malam, Romo Mangun dipanggil Tuhan. Aku berencana untuk melayat bersama rekan-rekan volunteer Code lainnya. Kami sepakat untuk berkumpul jam 9 pagi keesokan harinya. Sebelum rencana itu terlaksana, berita itu datang.

Bu Sum meninggal pagi itu, 11 Februari 1999, pukul delapan. Miss Gaby telah pergi. Aku terpukul. Aku belum sempat membuktikan cas cis cus bahasa Inggrisku.

Buru-buru aku pulang, langsung menuju kamarnya. Bu Sum telah selesai didandani, mengenakan baju kesayangannya, terbaring bagai terlelap dalam tidur. Aku begitu menyesal tak menungguinya di saat terakhirnya. Wajahnya tersenyum bersih dan cantik sekali. Keluarga yang menunggui bercerita bahwa Bu Sum pergi dengan damai.

Cukup lama aku menangis. Aku belum sempat membalas semua jasa-jasanya mewarnai masa kecilku, ataupun berterimakasih telah memperkaya aku di masa remajaku. Amarah dan nasehatnya telah banyak membantu membentuk pribadiku. Banyak sekali kenangan yang ditinggalkannya.

Aku hanya bisa termenung di samping Bu Sum. Teringat pula guyonan Romo Mangun tentang balapan itu. Mbak Singkek itu telah pergi menemui sahabatnya. Janji sepasang sahabat itu terpenuhi sudah, meninggalkan dua kehilangan akan sosok mahaguru besar itu bagiku. Dengan pedih aku mencium pipi Bu Sum dengan haru yang mendalam, lalu kupersilakan keluarga untuk membaringkannya di dalam peti, tempat tidur abadinya.

Do sleep well, Miss Gaby…..I love you so much..

In loving memory of Rr. Gabriel Sumartijah Poncowidagdo

March 18, 1916- February 11, 1999.

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Special Ones and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Miss Gaby

  1. trainz says:

    wah trainz ra mudeng?

  2. bro neo says:

    knowing u better from this posting
    write again, and let me know u better and better

  3. Extenze says:

    Nice post! GA is also my biggest earning. However, it’s not a much.

  4. Pingback: Sarang Merpati « sejutakatanana

  5. Clara says:

    Hiks sedih.. teman yang sehidup semati ternyata..

    Dan Mba Nana ternyata pernah kenal Romo Mangun? Alangkah senangnya.. saya cuma kenal beliau dari buku kuliah, dan mengagumi beliau tanpa pernah ketemu orangnya..

    • nanaharmanto says:

      Ya, aku sempet kenal Alm. Romo Mangun, karena beberapa kali beliau datang ke rumah kami.
      Karena mengagumi semangat beliau, waktu kuliah aku ikut kegiatan mengajar di Code yang digagas beliau…

      thanks for reading, Clara…

  6. Quick Facts says:

    Best you could change the blog title Miss Gaby sejutakatanana to more generic for your webpage you write. I loved the the writing however.

  7. Ikkyu_san says:

    ahhhhhhh nanaaaaaa
    bener-bener mirip ceritanya dengan Oma Poel (http://imelda.coutrier.com/2010/09/06/bukan-siapa-siapa/)
    aku jadi teringat oma poel lagi😦

    Quote:
    Suster Pimpinan mengatakan bahwa Bu Sum akan jauh lebih berkembang dan menemukan kebahagiaannya di luar biara.

    kok aku jadi inget Sound of Music ya… seorang pimpinan biara menasehati Maria.

    senang sekali bis amembaca cerita ini Nana.
    Persahabtan antara Mbak Singkek dan Romo Mangun benar-benar mengharukan. Sampai bisa meninggal balapan gitu .

    EM

    • nanaharmanto says:

      Thanks ya Mbak..
      How lucky we are.. Kita didukung oleh orang hebat dalam hidup kita..

      Tentang hidupnya di luar biara, well, itu jadi anugerah utk kami..🙂

      Semoga mereka semua bahagia di surga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s