Superdad (part 1)

Teringat masa kecilku

Kaupeluk dan kaumanja

Indahnya saat itu, buatku melambung

Di sisimu terngiang: hangat nafas segar harum tubuhmu

Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

(Yang Terbaik  Bagimu by Ada Band, 2004)


Hmmm…papa yang wangi. Aku masih ingat. Papa harum sekali setiap hendak pergi keluar rumah. Sebelum berangkat kerja atau untuk urusan gereja, papa sangat rapi. Wanginya sangat khas. Wangi deodoran Odor*no dan krim rambut Br*lcream.


Papa punya cara unik setiap kali memakai krim itu. Dibukanya tutup kemasan krim itu, dicoleknya sedikit krim berwarna biru itu dengan jari telunjuknya, lalu dioleskannya di telapak tangan kiri. Sedetik kemudian, ditutupnya kemasan itu hingga berbunyi klok! Lalu diusapkannya krim itu merata dengan kedua telapak tangannya dengan gerakan memutar sebanyak tiga kali, lalu ditepuknya telapaknya dua kali plok! Plok!

Lalu papa mengusapkan tangannya ke rambut. Kemudian disisirnya rambutnya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri mengikuti arah gerakan sisir memastikan bahwa rambut yang tersisir benar-benar sudah rapi. Aiih..gaya sekali.

Seringkali, aku menirukan gaya papa berkaca. Papa yang berbadan tinggi besar harus menekuk lututnya, merendahkan tubuhnya agar wajahnya bisa terlihat di cermin. Sebab, cermin yang menempel di lemari besar itu tak cukup tinggi untuk memantulkan seluruh bayangan papa. Biasanya, papa tersenyum melihat ulahku.

Nah, inilah yang kutunggu. Sebelum papa pergi, dia berpamitan padaku dan kakakku. Papa berjongkok, memegang bahu kami lalu kami di “sayang”. Sayang adalah istilah untuk mencium gaya kami. Pertama pipi papa dan pipi kami bertemu, kanan dan kiri. Lalu dahi bertemu dahi, hidung dengan hidung, dan akhirnya dagu dengan dagu. Kakakku mengarang bunyi untuk mengiringi ritual itu.

Thing.. thung.. thing.. dung.. ngok!

Masing-masing suara untuk setiap sentuhan sayang itu.

Ah, lucu juga mengenang hal itu….

Setelah itu papa mengelus rambut kami, lalu beranjak menuju sepeda onthel kesayangannya. Kemudian kami mengantarkan papa pergi dengan lambaian tangan, berdadah-dadah dengan hebohnya.

“Daah…! daaah papa!”

Sebelum tidur, papa selalu membuat tanda salib kecil di dahi kami dengan ibu jarinya. Dengan berkat itu, kami merasa aman dan nyaman, karena papa selalu ada untuk kami, anak-anaknya. Kalau papa lupa, kami-lah yang datang menagihnya..nggak afdol kalau belum dapat salib papa, rasanya ada yang ketinggalan deh.

Sudah pasti papa sangat mencintai mama. Dibuatnya sendiri kompor gas berbahan bakar minyak tanah untuk mama memasak. Papa membuatnya dari rangka besi yang dilas. Tangki minyaknya pun sangat spesial. Papa memanfaatkan kaleng bekas susu Dancow yang berukuran besar. Kaleng ini harus dikerek hampir setinggi atap dapur, sehingga minyak tanah cukup tinggi agar terdorong turun mengalir melalui selang kecil. Papa merancang semuanya sendiri. Hebat kan?

Papa memang sangat kreatif. Adaaa…aja idenya. Apapun masalah yang ada, pasti beres di tangan papa. Terlebih, perhatian untuk keluarga benar-benar tak tertandingi.

Papa membuatkan kami sebuah gerobak kecil beroda empat. Gerobak itu dicat hijau, warna kesukaanku. Kami senang sekali pada gerobak itu. Bergantian aku menaiki gerobak itu dan kakakku yang mendorong, begitu juga sebaliknya. Eeeh…boneka-boneka kami juga menjadi penumpang gerobak itu. Tapi boneka-boneka itu curang, mereka hanya mau numpang, untuk mendorong mereka nggak mampu!

Papa-lah yang menjadi penengah saat gerobak itu menjadi rebutan antara aku dan kakakku. Dinasehatinya kami berdua untuk berbagi mainan dan betapa lebih menyenangkan bila kami bermain bersama.

Papa sering membuatkan kami kapal-kapalan dan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Diberinya tali agar bisa ditarik. Kami sukaaa sekali akan hasil karya papa. Sayang, mainan itu hanya bisa bertahan hingga tiga hari. Sebab, setelah dua hari, kulit jeruk itu mulai keriput, menipis dan mengeras. Kalau sudah begitu, rodanya tidak mau muter lagi.

Jika rodanya terlepas, sulit untuk memasangnya kembali. Selepas hari ketiga, kami harus merelakan mainan itu untuk dibuang.

Papa juga mengajari kami melipat kertas lipat atau origami sederhana. Rapiii…sekali hasil lipatan papa.

Hasil lipatanku? Kacau deh, sumpah! Lipatannya nggak pas, melenceng sana-sini. Sering aku gemas dengan kertasku, bandel banget sih, nggak mau nurut seperti kemauanku?

Nasib kertas itu sungguh tragis, remuk kuremas dengan sebal. Papa-lah yang mengajariku lebih bersabar melipat kertas itu.

“Salah lipat nggak apa-apa, kok…”’ begitu katanya.

Ketika anak-anak seusia kami dilarang memegang gunting, papa justru membelikan kami masing-masing sebuah gunting berwarna orange.

Papa menekankan bahwa gunting itu hanya boleh dipergunakan untuk menggunting kertas lipat, lain tidak. Dengan gunting itu kami berekspresi. Kami membuat kincir angin, wadah garam dan kapal layar.

Senangnya tak terkatakan saat kami boleh melayarkan kapal kertas itu di kolam. Kami ciptakan gelombang dengan tangan kami agar kapal itu terdorong ke tengah kolam.

Perlahan-lahan, kapal itu bergerak, kemudian, pelan-pelan, air akan meresap pada badan kapal. Kapal itu mulai oleng, mengembang, akhirnya terurai dan tenggelam…

(bersambung ke Superdad part2)

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Special Ones and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Superdad (part 1)

  1. Ikkyu_san says:

    Ahhh manis sekali cerita ini Nana….
    aku suka

    salib di dahi… aku tidak punya kebiasaan itu, tapi mama selalu mengecup dahi kami kalau akan ujian.

    dan benar kreatif sekali ya sampai membuatkan kompor segala.

    Jadi sekarang sudah bisa origami belum? belajar sama-sama yuuuk hihihi.
    waktu itu aku bikin 100 origami udang sampe teleeerrr.

    EM

    • nanaharmanto says:

      hai mbak,
      terimakasih untuk pujian Mbak…
      saya suka origami, tapi kalo belajar dari instruksi buku, sering ga jadi hehehe..bingung sendiri..
      lebih mudah kalo diajarin langusung.
      mau dong mbak, diajarin origami..hehe..

      wah, hebat!! 100 udang? bisa dibikin sate udang dong? hihihi…

      salam,
      nana

  2. albertobroneo says:

    hmmm… kayaknya banyak banget kenangan dg papa ya?

    • nanaharmanto says:

      iya mas, nostalgia bersama papa saya memang indah…saya nggak akan pernah lupakan itu semua..

      salam,
      nana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s