Superdad (part 2)

(Catatan: sebaiknya baca dulu Superdad Part 1)

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu

Patuhi perintahmu, jauhkan godaan

Yang mungkin kulakukan

Dalam waktu ku beranjak dewasa

Jangan sampai membuatku

Terbelenggu,  jatuh dan terinjak.

(Yang Terbaik Bagimu by Ada Band, 2004)

Papa tidak pernah mengijinkan kami bolos sekolah. Flu sedikit atau pusing sedikit, hmmm…jangan harap bisa dijadikan alasan untuk tidak masuk sekolah. Bila kami demam tinggi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur, kami boleh saja tidak masuk sekolah, dengan syarat harus tetap di tempat tidur. Kadang-kadang aku tergoda untuk bolos sekolah hanya karena sedikit pusing. Tapi membayangkan bahwa di rumah pun aku harus tetap berada di tempat tidur dan tidak bisa bebas bermain…biuh!! membuatku segera berubah pikiran dan tetap berangkat sekolah.

Ketika aku masuk TK untuk pertama kalinya, papa mengantarku ke sekolah. Hari pertama, papa menungguiku di luar kelas hingga usai sekolah jam 10 pagi. Beberapa temanku menangis karena takut. Tak sedikit teman-teman baruku yang harus ditemani ibu atau ayah mereka hingga di dalam kelas. Kau tahu? Papa cukup menungguiku di luar kelas.

Berkali -kali aku menoleh ke luar jendela kelas, papa masih setia menungguiku. Lega deh rasanya. Papa selalu ada. Takkan ada yang berani nakal padaku. Usai sekolah, papa mengantarkan aku pulang, kemudian barulah papa ke kantor.

Hari kedua, tetap sama. Papa menungguiku hingga usai sekolah. Hanya saja, saat aku menoleh keluar jendela, aku melihat papa duduk terkantuk-kantuk. Papa berusaha keras untuk tetap terjaga, tapi berkali-kali pula mata papa terpejam hingga kepalanya tertunduk-tunduk. Aduh, kasihan sekali papa..

Iba hatiku melihat papa. Kutahan air mataku, tapi toh akhirnya aku menangis juga. Ibu guru bertanya padaku apakah aku sakit? Apakah aku pengen pipis? Aku menggeleng. Apakah ada teman baruku yang nakal? Aku tetap menggeleng. Lalu dituntunnya aku menuju pintu.

Oh, rupanya papa sudah menyambutku disana. Papa setengah berlutut memegang bahuku. Aku maluu… sekali sekaligus takut-takut. Papa kan tidak suka anaknya cengeng? Ketika papa bertanya ada apa, sekali lagi aku hanya menggeleng. Diantara isakanku aku tak bisa mengatakan betapa aku iba pada papa yang sangat ngantuk karena menungguiku.

Papa menyeka airmataku dengan saputangannya. Lalu dibimbingnya aku agar masuk kelas. Sekali lagi, papa tidak memasuki kelasku. Bu guru menggandeng tanganku dan mengantarku ke tempat dudukku. Papa tetap setia menungguku hingga pulang.

Sorenya, papa memanggilku, diberinya aku pengertian, bahwa besok papa hanya akan menungguiku sebentar saja, karena papa harus bekerja. Tapi papa berjanji bahwa papa akan menjemputku pulang sekolah. Pasti papa jemput. Aku mengangguk.

Hari ketiga. Papa mengantarku sekolah. Beberapa kali aku menoleh ke jendela, aku masih melihat papa. Aku kembali asyik dengan kegiatan mewarnai di dalam kelas.

Aku menoleh lagi ke arah jendela…..

Ups! papa hilang! Aduh! Gimana ini? Aku panik.

Tapi segera aku ingat kata-kata papa kemarin: papa harus kerja, papa akan menjemput. Aku batal menangis, tapi aku gelisah sekali. Pulang sekolah, uuufff….papa sudah ada di depan kelas. Ah, sungguh legaaa…rasanya.

Hari keempat dan kelima, sama dengan hari ketiga. Papa menjemputku pada waktu istirahat kantor jam 10.

Hari keenam. Usai sekolah, tak kulihat papa di luar kelas. Wack! Aku hampir panik. Lupakah papa? Aduh, papa di mana? Aku celingukan mencari-cari papa.

Ooohh…itu dia! Ternyata, papa menungguku di luar gerbang sekolah.

Hari-hari selanjutnya, papa mengantar dan menjemput di depan sekolah. Hal ini terus berlangsung hingga aku kelas 1 SD, papa menjemputku di sekolah dan mengantar aku pulang sampai di rumah.

Kemudian, papa mulai menurunkanku di depan SD Inpres di kampung kami, dan dari situ aku berjalan kaki sendiri sampai ke rumah kira-kira 50 meter jaraknya. Papa mengawasiku sambil duduk di atas sepedanya hingga aku benar-benar telah masuk ke rumah.

Berminggu-minggu berikutnya, papa mengantar pulang hanya sampai di tugu kembar. Tugu itu adalah tanda perbatasan kampung dengan jalan raya. Setelah aku aman dan jauh dari jalan raya, barulah papa berbalik mengayuh sepedanya kembali ke kantor.

Kelas 2 SD aku sudah berani berangkat dan pulang tanpa diantar papa.

Belasan tahun kemudian, barulah aku menyadari bahwa sebenarnya, papa melatihku untuk berani setahap demi setahap. Dipupuknya kepercayaan diriku sedikit demi sedikit, hingga aku benar-benar berani dan mandiri.

Papa juga mengajari agar kami rajin menabung. Coba tebak, bagaimana bentuk celengan kami? Bukan berbentuk mainan lucu. Bukan pula dari tanah liat.

Lalu apa dong?

Sekali lagi, kawan, papa mengandalkan kaleng bekas susu Dancow.

Celengan itu sungguh awet luar biasa, kuat, tahan banting, bisa dipakai kembali, dan anti congkel, sebab papa merekatkan tutupnya dengan tenol patri dan solder! Nggak mungkin kami bisa nyongkel tutupnya dan mengambil isinya! Jangan tanya suaranya. Memekakkan telinga saat diguncang. Breng….brengg..breng!

GOMBREENG!!

Iiih, celenganku jatuh! Aku kaget setengah mati. Wow, hebat nian celenganku. Setelah terjun begitu, dia cuma penyok dikiiiit…..

Setelah setahun penuh, papa membantu kami membuka celengan kami. Dibongkarnya rekatan tenol itu dengan obeng dan palu. Kami akan mengeluarkan semua isinya, lalu mulai menghitungnya. Disuruhnya aku menumpuk masing-masing pecahan rupiah menjadi 10 tumpukan.

Saat itu, aku belum paham nilai nominal tabungan kami. Dari hasil tabungan itu kami boleh membeli apapun yang kami perlukan, sepatu atau tas. Kalau uang kami kurang, papa menutup kekurangan itu. Nah, kalau uang kami lebih, maka kelebihan itu masuk lagi ke dalam celengan, menunggu setahun lagi untuk dibongkar lagi. Yaaaah…..

Padahal, aku pengeen… sekali bisa menghabiskan sisa tabunganku untuk jajan seperti teman-temanku. Kan enak bisa beli es lilin atau rengginang di warung Lik Pon?

Tapi, papa selalu melarang kami jajan sembarangan. Menurut papa, lebih baik uangnya ditabung. Cck…orang dewasa memang nggak asyik!

Kadang-kadang, dengan sembunyi-sembunyi, aku minta uang pada mama untuk jajan. Wah, nakalnya….

Papa selalu mendorong kami agar kami rajin ke gereja. Papa memboncengkan aku dan kakakku setiap hari Minggu pagi. Tak pernah papa membiarkan kami mbolos ke gereja. Ketika anak-anak yang lain membawa sangu makanan kecil dan minuman, kami tidak akan pernah bisa merasakan hal yang sama. Papa sangat disiplin dalam hal ini, sama sekali tidak boleh makan dan minum di dalam gereja.

Bagiku yang masih sangat kecil, ritual liturgis gereja sangat membosankan. Apalagi duduk berlama-lama dengan kaki menggantung. Tanpa kusadari aku mulai menoleh-noleh ke belakang atau menggoyang-goyangkan kaki. Papa menyentuh bahuku dengan lembut, lalu cepat-cepat aku duduk manis lagi.

Papa sayang, sentuhanmu indah tak terperi………

(bersambung ke Superdad part 3)

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Special Ones and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Superdad (part 2)

  1. Ikkyu_san says:

    Papa sangat disiplin dalam hal ini, sama sekali tidak boleh makan dan minum di dalam gereja.

    Aduuuh mbak ini bener banget, aku suka benci lihat anak-anak diberi makan di gereja oleh baby sitternya. Kalau masih bayi ok deh. Tapi kalau sudah umur 4-5 tahun kan bisa diatur makannya?

    Aku juga dididik disiplin banget kalau dalam gereja, ngga boleh noleh-noleh. cuma boleh duduk, berlutut, berdiri, berdoa, mata ke depan terus. Kalau melanggar pasti dicubit ibuku hihihi (dan tidak berani nangis, semakin nangis, semakin dicubit…sakit euy)

    EM

    • nanaharmanto says:

      setuju bgt mbak, saya juga suka gemes sendiri kalau liat anak-anak makan di gereja..

      hihihi..saya juga kalo ke gereja dgn papa merasa “tersiksa”. bener tuh mbak, cuma boleh duduk, berdiri, berlutut, berdoa, kepala lurus ke depan.

      dgn mama saya masih bisa nakal curi2 waktu keluar dari gereja. kalo papa liat, pasti saya langsung ngibrit masuk ke dalam gereja lagi..hihihi

      nana

  2. albertobroneo says:

    wouuwww indah sekali papa mbak mengajari mandiri dan rajin menabung…

    dulu seingatku hanya ditunggui ibu hari pertama, setelah itu antar jemput saja🙂

    • nanaharmanto says:

      betul mas, saya baru menyadarinya setelah saya besar.
      saya betul2 menyadari bahwa semua itu benar2 indah, ketika saya menuliskannya. saya terus berkaca-kaca menuliskan kisah ttg papa…

      nana

      • Ikkyu_san says:

        Itulah Na, salah satu keuntungan blogging,
        kita menggali kenangan dan baru sadar ternyata pengalaman kita banyaaaaak sekali dan cukup bahkan amat berharga untuk dikenang.
        so mari sama-sama
        keep blogging ya

  3. nanaharmanto says:

    OK mbak, iya, bener…semakin banyak kita nulis, semakin banyak ide bermunculan. ga bisa dibendung..

    nana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s