Superdad (part 4)

(Catatan: sebaiknya baca dulu Superdad Part 1, Part 2, dan Part 3)

 

Desember 2004, aku pulang untuk Natalan di rumah. Di akhir tahun yang suasananya selalu sendu dengan mendungnya itu, aku meminta ijin kepada papa dan mama, bahwa aku telah memantapkan hati memilih kekasihku, kepadanya aku akan berbagi hidup.

 

Tidak ada derai airmata yang mengharu biru, tidak ada isak tangis seperti di sinetron-sinetron payah itu. Kami justru bercanda dan tertawa. Tapi, dalam hatiku, menyelinap sebuah perasaan yang tak pernah kumiliki sebelumnya…aku tak bisa menuliskannya, sebab, yah...memang nggak bisa ditulis.

 

 

Setahun kemudian, tibalah hari yang bersejarah itu. Aku berdiri di depan gereja bersama pria belahan jiwaku.

 

Sekali lagi aku menoleh pada papa. Papaku gagah sekali dalam jas-nya. Wajahnya sumringah bagai mentari. Mungkin papa berbahagia untukku, bersukacita karena aku telah memenuhi pintanya, menjaga kepercayaannya.

 

Aku semakin mantap melangkah menuju altar diiringi dentang lonceng gereja, iringan organ dan megahnya paduan suara, didampingi seluruh kerabat dan sahabatku.

 

Aku meneteskan air mata saat sungkem pada papa dan mama. Terharu tak terkira.

 

Papa membuat tanda salib di dahiku dan suamiku, memberikan restunya, mempercayakan aku, anaknya, kepada pria pilihanku.

 

Ketika aku berpaling memandang ke arah umat di belakangku, aku sungguh-sungguh terharu, hingga aku bergetar. Aku merinding dalam kebahagiaan tak terkira.

Tak kusangka, umat yang hadir pada hari pernikahanku luar biasa banyaknya. Gereja penuh.

 

Mereka hadir dengan tulus untuk memberikan restu dan menjadi saksi janji suci kami. Biasanya, umat yang hadir pada banyak upacara pernikahan yang pernah kuhadiri, tak pernah sampai sebanyak itu.

 

Aku serasa melayang, bahagia…ya, sangaaat bahagia.

Lalu terpikir olehku, sik..sik…lha sopo to aku iki? siapa sih aku? Apakah aku begitu istimewa hingga sepenuh itu umat mendukungku?

 

Begitu saja jawaban itu ada dalam kepalaku. Orang yang paling istimewa di dalam gereja itu bukanlah aku, si ratu sehari yang sedari subuh telah berdandan paling cantik bagai bidadari.

 

Tetapi, aku yakin, tentu orang itu adalah papa. (Mama juga tentunya). Papa yang selalu aktif di gereja, papa yang berjiwa sosial tinggi dan selalu siap menolong, Papa yang penuh ide-ide cerdas nan bermutu untuk turut memajukan gereja kami.

 

Kebetulan, kali inilah pertama kalinya papa dan mama mengadakan pesta pernikahan. Kakakku menikah satu tahun sebelumnya di Jerman. Tidak ada perayaan besar di rumah saat itu. Hanya syukuran kecil-kecilan.

 

Maka, pernikahanku adalah “hajatan” istimewa bagi papa dan mama. Sudah sepantasnya-lah papa mendapat kehormatan itu dari rekan-rekan dan relasinya.

Aku tak akan kulupa betapa indahnya hari itu, berhiaskan senyum kebahagiaan superdad-ku.

****

 

 

Andaikan detik itu

kan bergulir kembali

kurindukan suasana

basuh jiwaku, membahagiakan aku

yang haus akan kasih dan sayangmu

tuk wujudkan

segala sesuatu yang pernah terlewati.

(Yang Terbaik Bagimu by Ada Band, 2004)


 

Papa………

Aku selalu ingin menyanyikan lagu ini untuk papa.

Aku mencintai papa sepenuh hati, sebagaimana aku pun mencintai masa kanak-kanakku.

 

Aku tak ingin mengubah sedetikpun dari masa-masa indah itu.

Itu semua menjadi hartaku, kekayaan terindah yang tak tergantikan.

Terlalu berlimpah kasih sayang papa hingga aku tak sempat haus lagi.

Terima kasih untuk semua yang telah papa lakukan untukku. Selalu yang terbaiklah yang papa lakukan.

Aku pun ingin memberikan yang terbaik untuk papa…. Sungguh…

 

 

(with the deepest love for my beloved papa)

 

-The End of Superdad Series

 

 

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Special Ones and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Superdad (part 4)

  1. AFDHAL says:

    wuihhh..kenapa kalo postingan tentang orang tua selalu bikin merinding…
    don’t worry papa’mu mempercayakanmu kepada pria yang tepat..🙂

    selamat nge’blog mbak…
    main donk ke “rumahku”😛

  2. Ikkyu_san says:

    waduuuh sungkeman pas hari perkawinan pasti membuat banjir ya…

    tapi selamat… karena papa dan mamamu pasti setuju sekali dengan pilihan kamu. terbukti tidak ada pertanyaan atau syarat apapun kan?

    Nana, tulisan kamu indah, renyah dan enak dibaca. Keep blogging ya. aku akan berkunjung terus dan menantikan tulisan yang lain.

    EM

  3. albertobroneo says:

    jujur, air mataku luruh ketika membaca tulisan ini.

    smoga keinginan mbak utk membahagiakan ortu dapat tercapai

    • Ikkyu_san says:

      Na, apa sudah pernah cetak dan kirim ini kepada papa
      mungkin sebagai hadiah hari ultahnya
      pasti dia bahagia sekali

      waktu papaku ultah, aku sempat posting kenangan bersama dia
      di blog, dan aku suruh baca
      dia bilang, “Bagus mel, nanti ini jadi pengantar buat biografi aku ya” hahahaha

      EM

      • nanaharmanto says:

        waaaah…ide yg bagus tuh mbak…
        soalnya, buanyaaakkk banget kenangan dan nostalgia saya bersama papa..
        ultah papa udah lewat sih, tapi jadi ultah perkawinan kali ya…
        makasih idenya, mbak..

        nana

  4. hik..hikss..aku jadi terharuu..

    • nanaharmanto says:

      thx ya Hanny…
      for sure, my dad is the one who always gives me inspiration to write..
      there are lots of true moments of happiness relating to him..
      some of those are really touching…
      someday I’ll write it..

      warm hugs,
      nana

  5. Melania Setyorini says:

    waaaaahhhhh…he’s a real super dad…ayo..nulis lagi Mbak…Superdad 5 dst..aku tunggu ya…seru membaca tulisanmu…..sepertinya cerita ttg Super dad kita akan menjadi never ending story….

    • albertobroneo says:

      wo… melania setyorini ra nyimak.. lha wong udah ditulisin “the end of superdad series” kok masih minta tambah
      he..he..he..

      • Cik Lan says:

        hahahaha…….”no absen berapa kamu Lan? tidak menyimak minus 10″..hahaha…..(guru banget..)

  6. ayh-kbr says:

    wah kupluké dadi sesak!!!
    aku terharu!!!

    • nanaharmanto says:

      waaaaaa……….papa!! surprise!! akhirnya papa ngenet juga….horee…ketemu semua…ajakin mama juga biar seru…hehe…

      I love you, Papa..

      nana

  7. Cik Lan says:

    okay…. nanti Mama diajak juga…lha semalam wis nyemplung selokan sik..hahahaha….
    Nek wis nyemplung parit wis ra iso tangi meneh mpe esuk…hehehe…..

  8. sister_3rd says:

    hiks… hiks… buah jatuh gak jauh dari pohonnya. ayah yang hebat, anaknya yg nulis jg hebat…. two thumbs up for both of you!! sory ya, le comment telat. paling gaptek je aku…

  9. dedet says:

    Mbak Nana, anda adiknya Si*** (F. Ir******) ya?
    Top markotop tulisan2 Mbak Nana. Dua jam lebih saya baca2 di sini. Kalau gak krn sudah larut malam bisa lebih dari 2 jam.
    Bahasanya ringan n sederhana, tapi isi & pesannya kuat & dalam.

    • nanaharmanto says:

      Halo Mas Dedet… iya benar saya adiknya.. hehehe….
      Terima kasih sudah baca-baca tulisan saya ya? Dapat link ini dari mana Mas? eh, Mas Dedet masih ngantor di Kembaran nggak sih? atau sudah pindah?

      Terima kasih sudah berkomentar ya… silakan meninggalkan komentar-komentar di tulisan yang lain (kalau berkenan) untuk memperkaya isi tulisan saya…

      Salam, ya Mas Dedet…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s