Hexe

Aku tak pernah menyukai rumah itu. Tak ada yang terlalu istimewa pada rumah itu,  biasa aja, terletak di daerah jalan Wonosari. Rumah itulah yang dikontrak kakakku selama tinggal di Yogya. Aku tak tahu dengan pasti, mengapa aku begitu enggan nginep di rumah itu.

Kalau aku pulang ke Yogya, aku lebih milih nginep di rumah adikku di Kalasan daripada di rumah kakakku. Aku merasa lebih nyaman di rumah adikku itu. Kecuali kalau memang aku sedang kangen dengan Suryo, keponakanku, aku rela tidur disana. Kadang-kadang, kakakku minta bantuanku untuk menjaga keponakanku yang lucu itu.

Ketika berumur 1.5 tahun, Suryo sering kali terbangun malam-malam, menangis menjerit-jerit, sambil menunjuk ke arah pojok kamarnya. Tak ada yang bisa memahaminya.

Kenapa sih, anak ini?

Biasanya, dia tertidur lagi setelah nyaman bersama mama-nya. Kadang-kadang dia tertidur setelah ditemani tante-tantenya, mungkin karena terlalu capek dan ngantuk.

Suatu ketika, aku nginep di rumah kakakku. Aku menemani Suryo bermain. Kala itu, si indo Jerman itu berumur 2 tahunan. Setelah makan malam, kakakku mandi. Kemudian aku asyik membaca buku. Suryo pun bermain sendirian di ruang bermainnya.

Buk…buk…buk…buk….

Kudengar langkah-langkah Suryo yang lari terbirit-birit dari kamar bermainnya. Langsung dia menubrukku, lalu meloncat ke pangkuanku. Nemplok dengan erat. Disembunyikannya wajahnya di dadaku.

Aku kebingungan dengan polahnya ini. Tapi segera aku tahu, anak ini jelas ketakutan. Aku memeluknya, mengelus-elus punggungnya, menenangkannya, sebisa mungkin aku ingin membuatnya merasa aman. Tenaaaang…tenaaaang…ada tante nih disini…

Lalu Suryo menyelipkan wajahnya ke leherku.

Aku ingat, dua kali dia mencuri lihat ke arah kamar bermainnya, lalu cepat-cepat dia nyungsep lagi ke dadaku.

Mata coklat bening menggemaskan itu menatapku, lalu dia berbisik. Penuh rahasia.

“Dande…., hece.…”.

Nah, kaannn….

Aku tambah bingung. Untuk menyebut “tante” saja masih belum jelas. Ngomongnya masih cadel, sudah begitu, ngomongnya pake bahasa Jerman pula! Aduh, meneketehe…..Oyo….!

Mungkin, anak ini melihat sesuatu.

Tiba-tiba, aku merinding. Aku merasa tak nyaman di ruangan itu. Seperti ada yang menonton kami.

Aku cepat membuat salib kecil di dahi Suryo, sedapat mungkin aku mengucapkan doa yang terlintas di otakku.

Aku pun bisa merasakan ketakutan Suryo. Lalu kugendong Suryo ke kamar tidurnya. Awalnya, dia menolak turun dari gendonganku, dia tetap ngetapel, nempel dengan kuat seperti bayi koala memeluk induknya. Tapi ketika aku menutup pintu dan ikut naik ke tempat tidurnya, barulah Suryo merasa aman dan mau lepas dari pelukanku.

Hece…wes..wes…ewes…hece…”, celotehnya. Aku yang tak mengerti bahasa Jerman, pura-pura paham maksudnya, mengangguk-angguk mengiyakan ucapannya.

“Ooo..ya, ya…ya..tante tau, hece ya?”

Suryo mengangguk puas, merasa telah sukses menyampaikan informasinya.

Setelah itu, si bule kecil full energi itu pun meloncat-loncat dengan girang di tempat tidur, lupa pada ketakutannya barusan.

Kakakku yang baru selesai mandi, heran melihat kami di dalam kamar dengan pintu tertutup. Masih jam delapan kurang, artinya, belum waktunya Suryo tidur.

Aku tanya kakakku, “Mbak, hece ki opo sih?”

“Hece? Mbuh, nggak tau”.

“Tanya Suryo deh, soalnya dari tadi dia nyebut-nyebut hece”.

Bertanyalah kakakku pada anak semata wayangnya itu. Suryo menjawab sambil tangannya mengibas-ngibas menekankan maksudnya. Hmm…ekspresif sekali.

“Ooooo…..hexe, toh?” kata kakakku paham.

“Apa sih, hexe?”, tanyaku penasaran.

Santai sekali kakakku menjawab. Tapi aku mendengarnya seperti tesengat listrik.

“Itu lho, hexe tuh nenek sihir, ya kayak Mak Lampir lah…

WHUUAAA!!! Jadiiii…..apa yang dilihat Suryo tadi?!?

Jreeeng…jreeeng…….!!!

Aku emoh bobok sendiri!!

***

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Hexe

  1. AFDHAL says:

    huaaaaaaa…takuttttt
    btw waktu diborneo sering liat hece gak??

    (dan gak usah dijawabbbbb..plisss)🙂

  2. nh18 says:

    Hexe … Hiiiiiii …
    Aaattuuuttt …

    (jah … trainer kok takut sih …)
    (ndak wibawa babar blas iki …)

  3. krismariana says:

    na, untung aku nggak pernah kamu ajak ke kontrakannya mbak siska. hihihi (loh, kok ngguyuku koyo hexe yo? huaaaa….)

  4. domin says:

    kan di asrama dulu juga banyak “hece”nyaa????

  5. Ikkyu_san says:

    Hai Nana… salam kenal.
    bertandang pertama kali disuguhi cerita serem hihihi.

    baru tahu bahasa Jerman hexe itu nenek sihir hehe.. waktu belajar dulu ngga sampe ke situ sih.
    (nah sekarang jadi pengen tahu bahsa belandanya apa, soalnya biasanya dekat dgn bhs jerman)

    Ya memang anak-anak lebih peka dan bisa melihat. Karenanya saya selalu percaya kalau anak ketakutan atau menangis malam-malam tanpa sebab, pasti ada sesuatu.

    Keponakan saya laki-laki pernah berkata, “Ma itu om di kamar tamu situ kok ngga pergi-pergi ya?”. Brrr ngga ada om atau orang di situ padahal. Tapi menurut teman saya yang “bisa” melihat memang ada seorang nenek yang kerap tinggal di kamat tamu itu. Nah loh, mungkin si om dan nenek lagi namu ya hihihi.

    Pernah suatu kali Riku wkt kecil belum bisa bicara menangis dan menunjuk ke arah pintu (di jepang), dan saat itu saya juga berasa berinding. Jadi keras-keras saya bilang, “Jangan ganggu ya…”

    Saya sendiri ngga bisa lihat, tapi….. kadang bisa dengar. Dan ini juga tidak enak. Bayangin pas ngga ada papanya Riku, tengah malam saya terbangun dan mendengar bunyi dengkur laki-laki berat. dekat (bukan dari rumah sebelah). Tapi untung saat itu saya ngga jadi takut, dan berusaha tidur saja. (Nah loh berarti saya ditemenin dong hihihi)

    EM

    • nanaharmanto says:

      halo mbak,
      makasih ya udah mau baca tulisan saya..dulu waktu saya kecil, saya bisa “mendengar”. saya ketakutan tiap kali harus ke wc sendirian. saya pasti minta ditemenin. sedih lho, tidak ada yang bisa mengerti saya.
      hhhm…suatu saat saya akan tuliskan pengalaman saya itu.
      terima kasih sekali lagi, saya malah jadi dpt ide untuk nulis lagi.

      salam,
      nana

  6. bro neo says:

    Nah loh….
    eh btw, mbak bisa merasakan yg gituan ya? maksudku yg berbau bau dunia lain gitu..

    rumah yg skr ditingali aman aman saja kan mbak?

  7. nanaharmanto says:

    kalo sengaja mau/ pengen liat mah gak bisa….
    tapi kalo ngerasain kadang2 bisa. atau dari ekor mata sekelebat gitu. makanya aku gak yakin…is it true? or is it just my imagination?

    di rumah sekarang?
    hhmmm gimana jawabnya ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s