Harta Karun

Ketika aku masih kecil dan belum sekolah, aku suka sekali berburu harta karun di halaman belakang rumah kami yang luas. Harta karun itu adalah telur ayam.

Yipiiii……Senaang sekali rasanya berhasil menemukan sebutir atau bahkan dua butir telur ayam di balik pohon, atau di tempat-tempat yang agak tersembunyi. Dengan sok-sok detektif, aku mengincar telur-telur ayam itu.

Nyonya-nyonya ayam itu memang sering mencari tempat yang dirasanya aman untuk bertelur, karena mereka ogah bertelur di petarangan (sarang) yang sudah disiapkan untuk mereka. Sebabnya jelas, sarang itu sudah terlalu sering diobok-obok disambangi manusia.

Kubawa telur yang kutemukan itu kepada nenekku. (Aku biasa memanggilnya Bu Sum). Dia pasti bersorak kegirangan dan memujiku betapa pandainya aku yang bisa  menemukan telur-telur itu, sebab petarangan ayam seringkali kosong.

Wuih..bangga deh, mendengar pujian itu.

Mudah kok, untuk berburu telur ayam. Awalnya sih, nggak sengaja. Aku memperhatikan tempat-tempat di mana ayam-ayam betina suka sembunyi.

Ketika ayam-ayam itu pergi, aku mengambil telur–telur yang ditinggalkannya. Kadang-kadang bahkan telur itu masih terasa hangat setelah sesaat yang lalu berhasil sukses keluar melewati lorong gelap prosesornya itu.

Ssst…jangan bilang siapa-siapa! Ini rahasiaku. Tak seorang pun kuberitahu mengenai rahasia dahsyat ini.

Tapi sesungguhnya,  Bu Sum hafal betul dimana ayam-ayamnya suka ngumpet dan bertelur. Tapi, dibiarkannya aku asyik berimajinasi dan berpetualang mencari harta karun itu.

Kalau mudah mencari telur ayam, lain halnya dengan berburu telur bebek di luar kandang. Konon, bebek bertelur di pagi hari menjelang subuh. Saat bebek-bebek itu dikeluarkan dari kandang, akan terlihat telur-telur mereka tergeletak begitu saja.

Aku tahu dari Bu Sum bahwa bebek suka mengabaikan telurnya. Unggas super tolol ini tak bisa mengerami telurnya sendiri. Salah satu bukti ketololan mereka adalah, mereka dengan toloolll dan begonya ikut berkonvoi mengikuti bebek yang berada paling depan. Kemana pun tujuan sang cucuk lampah ini geyal- geyol, kesanalah mereka mengekor.

Ah, bodoh lah pokoknya.

Coba kau kacaukan barisan bebek, mereka akan ribut berhamburan tapi sesaat kemudian hanya jalan di tempat dengan panik karena terlalu bingung mau kemana. Lehernya menjulur toleh sana toleh sini dengan gelisah.

Suaranya cerewet kwek! Kwek! Kwek! Beuhh…bising sekali.

Tapi sekali saja sang pemimpin berjalan, maka rombongan yang lain akan ikut kabur ke arah yang sama. Dasar nggak punya inisiatif!

Mirip dengan peribahasa tong kosong nyaring bunyinya, ya kira-kira begitulah si bebek ini. Cerewet sekali, tapi bodoh dan kosong! Nah, kalau ada orang yang cueeerewet-nya minta ampun, banyak omong, tinggal ikut saja, gak punya inisiatif,  mungkin saja yang bersangkutan itu memang b***h!

Yuk mari, balik lagi ke ceritaku.

Beberapa kali Bu Sum menitipkan telur bebek ke dalam sarang ayam, agar si induk ayam mengerami telur-telur-bebek itu hingga menetas. Ayam-ayam itu, syukurlah, cukup  bodoh juga untuk dikibulin. Hihihi..

Entah teori ini benar atau tidak, seingatku Bu Sum pernah mengatakan bahwa ayam biasanya bertelur  sekitar jam sepuluh pagi. Mungkin juga teori ngawur ini diciptakan Bu Sum untuk sekedar menjawab semua pertanyaan kekanakanku. Waktu itu aku belum bisa membaca jam. Jadi ketika ayam-ayam mulai ribut berkotek-kotek mewartakan kelegaannya setelah berhajat, itulah jam sepuluh pagi untukku. Waktu untuk berburu telur ayam.

Asyikk…hajaaaarr….

Berbeda dengan jam sepuluh-nya ayam, bebek-bebek kami sangat tidak terjadwal. Tiba-tiba saja mereka terbahak-bahak ngagetin. Atau tiba-tiba mereka nyemplung ke kolam dan pruttt...begitu saja mereka mengeluarkan telur mereka di tengah kolam! Di mana saja, kapan pun mereka kebelet, disitulah  mereka bertelur. Betul-betul gak disiplin!

Lain sekali kan, dengan ayam yang selalu mencari tempat  yang aman untuk meletakkan telurnya?

Hhmmm….mungkin benar bahwa naluri keibu-bebek-an mahluk ini payah sekali…

Brekele tenan, to?


Ketika aku bermain di pinggir kolam, mataku terbelalak. Dag dig dug dadaku.

Horeee…!! Aku menemukan harta karun!

Luar biasa! Samar-samar kulihat di dasar kolam, sebentuk telur berwarna biru pucat.

Ha! Pasti telur bebek si ibu bebek durhaka itu!

Aku bersorak girang, lari melapor pada Bu Sum. Lalu Bu Sum bergegas menuju kolam. Sama antusiasnya denganku. Kutunjukkan telur di dasar kolam itu. Bu Sum bertepuk tangan gembira.

Tapi… ow..ow..ow…gimana cara mengambil telur itu? Nyemplung jelas tidak mungkin. Aku kan masih kecil. Bu Sum yang nyemplung? Oh no..Bu Sum tidak bisa berenang.

Bu Sum memutar otak. Lalu wajahnya berseri-seri. Diambilnya sendok nasi aluminium bekas yang tak terpakai karena patah. Diikatnya sendok itu pada sebilah gagang sapu bekas dengan tali.

Lihat deh, jadilah sebuah sendok besar dan panjang. Waaah…huebat!! Ini dia yang disebut teknologi  tepat guna yang menjawab kebutuhan di saat yang benar-benar tepat. Luar biasa akal Bu Sum.

Hati-hati, Bu Sum mulai menyendok telur itu. Aku berdebar-debar.

Astaga!! Telur itu kurang ajar betul. Dia malah menggelinding semakin jauh ke tengah!

Setelah diupayakan dengan berbagai teknik, diogrok-ogrok, didorong, dijangkau dan diomelin, edun! akhirnya, telur itu berhasil Bu Sum dapatkan. Di dalam sendok hebat itu, sebutir telur biru bersih teronggok. Hati-hati kuambil telur itu, lalu kami menari-nari kegirangan di pinggir kolam. Serasa nenek-cucu paling kaya di seluruh dunia deeeeh..

Bisa ditebak kaaan…

Yups..Malam itu, menu untuk makan bersama adalah telur bebek dadar. Tak lupa Bu Sum menceritakan betapa hebatnya aku sekecil itu telah begitu jeli menemukan telur di dasar kolam.

Sederhana memang jika kukenang lagi saat itu. Untuk hal-hal sekecil dan seremeh apapun, Bu Sum selalu menghargai kami. Dibawanya dirinya ikut masuk ke dalam “alam” kami, berbaur akrab dengan dunia kanak-kanak kami. Dan aku bahagia sekali bahwa aku dianggap hebat dalam keluargaku.

Setuju nggak setuju, pokoknya kau harus setuju. Perhatian kecil pada anak kecil, akan berbuah besar saat ia besar nanti..

Camkan itu!!

Holoh….lebay deuww….

Sejak saat itu, arena perburuan harta karunku bertambah. Sayang, tidak setiap hari aku menemukan telur bebek di dasar kolam. Mungkin telur-telur itu tergelincir dan tersembunyi di dasar yang lebih gelap. Ah, dasar bebek!  Gak pernah sekolah siih…bodoh teyuuuss….

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

35 Responses to Harta Karun

  1. bro neo says:

    wuih… indah sekali pengalamannya
    pengamatan yang luar biasa atas kebiasaan ayam & bebek

    btw ayam tidak kalah oon juga lho, sehingga sering terlindas kendaraan di jalan, hayo knapa hayo??

    lha wong sudah 3/4 nyebrang, kok kalo ada kendaraan lewat, dengan oon-nya dia balik badan, mbok ya terus aja, kurang 1/4 jalan aja kok mesti balik badan, kembali menyeberangi 3/4 jalan yg td sdh dilalui… kena deh loe.. tergilas kendaraan😦

    salam,

    • nanaharmanto says:

      hahaha….wah, itu pasti pengamatan selama melintas jalanan di borneo dan celebes…sensus jumlah kasus lalin dgn korban ayam ya?
      statistiknya gimana tuh? berapa yg ayam oon betul, sedikit oon, ayam jantan, betina, ayam remaja dan ayam tua?
      kalo di intersection, irisan himpunannya gmn tuh?

      hehehe….

  2. bro neo says:

    yeesss!!!

    hattrik….

  3. AFDHAL says:

    Hattrickkkkk…..

    Jiahhh, gak gelem kalah karo bojomu🙂

  4. AFDHAL says:

    oke…jam 10 pagi..
    *besok jam 10 pagi, mengendap2 ke rumah tetangga*

    btw ini comment yang ke.4 ya?

    • nanaharmanto says:

      @ broneo & Afdhal: ya ampyuuuunnn…..bapak2 ini pada ngapain siy….(dgn sok polos) tp yo wes tak terima dgn hati lapang…pisan meneh entuk hadiah 1 piring cantik….hihihi…

      nana

  5. Emak Bawel says:

    Super!!! (Pujian kalau Suryo berhasil melakukan sesuatu, memperlihatkan hasil karyanya menggambar atau prakarya).
    Bu Sum ki cen hebat!
    Siapa nyana bahwa dirinya telah menjadi bagian dari kenangan indah tak terhapuskan, hingga tertuliskan di sini.
    Aku dulu kayaknya nggak ikut2an cari harta karun, deh… ikut makannya doang.
    Harta karun lebih kuciptakan dalam imajinasi, seperti baju berkantung banyak yang disimpan di atas atap dan ditunggui tikus2!! 8Dan ada yang percaya, lhooo….). Seperti percayanya ketika kuceritakan bahwa dalam rak sepatu dan kolong tempat tidur yang gelap, bersembunyi makhluk aneh nan mengerikan bernama Kinjeng! (Terlintas begitu saja di kepala, karena terdengar aneh, meskipun waktu itu aku sama sekali tidak tahu bahwa maklhuk itu benar2 ada, berwarna putih dan sering berterbangan di atas kolam, mungil, bahkan lebih kecil dari seekor semprang!)

  6. masa kanak-kanak yang menyenangkan…tiap hari hanya fun..fun..masa-masa yang indah untuk dikenang..

    Hanny
    http://fun-eating.blogspot.com/

  7. masa-masa yang indah..tiap hari hanya fun..fun..masa yang indah untuk dikenang..

    Hanny
    http://fun-eating.blogspot.com/

    • nanaharmanto says:

      thanks bgt ya Hanny…..
      memang masa kanak-kanak nggak terlupakan. yg lucu unik dan juga menggemparkan..dari situ sepertinya ide terus berloncatan keluar….

  8. Kartiko says:

    luar biasa bu … luar biasa ceritanya, luar biasa pesannya. ditunggu cerita berikutnya ya. GBU

    • nanaharmanto says:

      halo pak, terimakasih sudah mau berkunjung ke blog saya…
      matur nuwun…

      nana

      • Kartiko says:

        maaf, belum tahu etiket dalam dunia per-blog an. jadi klo ada jejak yang “tidak terendhus” mohon dimaklumi ya bu. sebenarnya bagaimana sih etiketnya?

  9. masa kanak-kanak..inspiring story.

    Hanny
    http://fun-eating.blogspot.com/

  10. nanaharmanto says:

    yg penting ada nama dan alamt email aja cukup kok. atau ikutan ngeblog aja…yuk…

  11. krismariana says:

    masa kecil yg menyenangkan ya na🙂

    kadang aku suka iri dengan suamiku yang tinggal di kampung. kata dia sih, dia bisa main macem2. mulai dari main di sungai, main di kebun duren, main di pantai, sampai main badminton tiap hari di halaman rumah tetangganya. mungkin karena lahan di sana masih luas dan bener-bener masih “ndeso”, jadi mainannya malah macam2.

    tadi pagi aku dengar radio dan ada sedikit wawancara dg anak sekolah. kamu tahu, mereka sekolah dari pagi sampai sore, lalu sore sampai malam ikut bimbel. kapan mainnya ya? nilai di raport memang jadi bagus-bagus tp kok rasanya aku nggak mau ya sekolah kaya mereka. emang nggak capek ya sekolah terus? lagian biar nggak sekolah dari pagi sampai sore dan ikut bimbel, aku merasa nggak bodo2 amat, hahaha (sok pinter yo ben!)

  12. nanaharmanto says:

    ya, di desa permainan anak2 emang lebih seru dan macem2. mgkn karena hrs manfaatin apa yg ada mereka mlh jd kreatif.
    biasanya mainnya pun berkelompok. mau nggak mau kalo mau urik udah malu duluan. jadi, maen sama2, rule-nya dibuat dan disepakati bersama, kalo ada kecurangan jg diadili bersama.
    pasti malu kalo curang, soale mesti diolok2 kalo curang/ nggak sportif.
    lain dgn mereka yg difasilitasi mainan serba tombol dan dgn monitor. dunia mrk ya terpaku disitu, nggak belajar main bersama…

    • Emak Bawel says:

      Makanya…hidup di Mbaran memang indah… Desaku yang kucinta, dehh… Rasanya juga lebih nyaman membiarkan Suryo main disana. Pernah lihat, nggak, sore2 pas Suryo di rumah maen sama anak2 tetangga? Seruuuu…halaman rumah sampai penuh. Jadi ingat jaman kita kecil dan suka ‘mengumpulkan massa’ di halaman rumah.

  13. irma suryani says:

    mb’ nana hebat banget ceritanya seperti cerita novel ,bagus tuh dibikin karya :))

  14. hola saya mampir mbak🙂

    pengalamannya seruuuu
    aiiih koq dulu walopun ada ayam (untungnya tanpa bebek) koq gak nemu pengalaman begini yaaah

    • nanaharmanto says:

      halo mbak Eka,
      pengalaman masa kecil mbak hihi..hmpr terlupa. tp ternyata ga ilang dr ingatan..mgkn karena saya nggak sebodoh bebek hehehe…

  15. nh18 says:

    Ini judulnya …
    “Betelurology”

    or simply ..
    “Bunga Rampai Perteluran”

    (sepanjang tulisan saya ngguyu ndak keruan … macam orang ndak nggenah saja)

  16. nanaharmanto says:

    saya tersenyum membaca “betelurology”
    saya ngakak membaca “Bunga Rampai Perteluran”

    hahaha..Pa NH emang bisa aja, kreatif sangaaat….

  17. Ikkyu_san says:

    hihihi
    aku dulu juga pelihara ayam na di jakarta.
    dia selalu bertelur di atas daun pandan… padahal pandan besar itu berduri…
    wah perjuangan banget utk ngambilnya🙂

    EM

    • nanaharmanto says:

      wah mbak bisa dijadikan cerita tuh…kebayang deh, pandan yg berduri gitu. dulu di rumah pernah ada tp akhirnya dibabat abis karena hmpr nggak ada fungsinya. aku sebel bgt kalo tertusuk durinya…

      nana

  18. narpen says:

    Hihihi. Kasian si bebek, dibodoh2i..
    Mbak nana ceritanya asik deh, mengalir. Aku jadi ngerasa ngalamin sendiri (padahal.. mana mungkin :D). Asik ya masih bisa main bersama bebek, berburu harta karun. Dan Bu Sum-nya suportif sekali🙂 Senang membacanya..

    • nanaharmanto says:

      hihi…kenangan masa kecil yg gak bisa ilang begitu aja, Narpen…ide-ide terus aja bermunculan dari situ… seneng deh ada yang mau menikmati tulisan-tulisanku…
      thx ya Narpen…

      salam,
      nana

  19. Pingback: Sarang Merpati « sejutakatanana

  20. Pingback: Penghuni Kolam Kenangan « sejutakatanana

  21. Pingback: THE TENDER WHISPERS BY THE LADIES « The Ordinary Trainer writes …

  22. gw jadi kangen pengen kembalai kemasa dimna gw masih lucu imut n gemesin(boonk jangn pecaya…)
    pake pintu ajib doraemon aja kali ya buat kemabali kemasa lalu hehehe..

    cerita yang bagus bro… oya gw juga punya cerita yang gak kalah.. bodoh seh (bodoh aja bangga) ya setidaknya bisa bikin kalian semua ketawa-ketawa gak jelas sambil guling-gulingan kejalan dah hihihi..
    mohon mampir bentar ya bro ..http://lanover.wordpress.com/ 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s