Nana Onyet

Anna namaku. Nama yang cantik bukan?

Nama lengkapku cukup merepotkan untuk diisikan dalam lembar kerja komputer, soalnya, lumayan panjang: Anna Maria Irmarini Harmanto. Begitulah tercatat dalam akte kelahiranku. Tak lebih, tak kurang. Benar-benar indah…… (biarin narsis!)

Tapi, aku lebih suka dipanggil Nana. Simpel, sederhana, akrab.

Aku kurang suka dipanggil Anna. Masih mau noleh, sih, kalau dipanggil. Lha wong nama pemberian orangtuaku gitu loh…

Ada cerita mengapa “Nana” lebih kusukai.

Begini, di rumah, panggilan “Na” atau “mbak Na” sudah cukup. Aku pasti menyahut, atau datang bila dipanggil.

Dari lahir, simbah buyutku yang membantu mama merawatku. Karena sudah tua dan geliginya habis, atau karena tidak biasa menyebut nama yang asing bagi telinga Jawa tulen, simbah tidak bisa menyebut nama kami dengan benar. Maka kami akrab dipanggil dengan pengucapan kesayangan ala simbah. Jadilah aku Nana. Alasan pertama.

Aku punya teman sepermainan bernama Ana. Anaknya judes sekali. Aku ogah main dengannya. Teman-teman yang lain, untuk membedakan kami, menjulukinya Ana sing galak. Aku tetap Anna. Akibatnya, aku semakin males memakai nama Anna. Takut kesangkut embel-embel “sing galak”. Alasan kedua.

Oh ya, papaku orang yang pendiam, jarang ngobral pembicaraan. Biasanya, papa cukup memanggilku “Na” saja. Dulu, kalau sudah keasyikan membaca, aku sering lupa sekelilingku, terjebak dalam cerita yang kubaca.

Akibatnya kerap kali aku tak mendengar papa memanggilku.

“Na..”    Aku tak mendengar.

“Na!”     Aku tetap tak mendengar.

“ANNA!”

Suara papa mengeras. Gelagapan aku mendengar seruan papa. Tergopoh-gopoh aku mendatangi papa.

“Kalau dipanggil, jawab, Na”. Papa tak memarahiku sih, tapi hatiku kebat-kebit duluan. Nah, kalau sampai papa memanggilku begitu, artinya, papa gusar, atau  papa sangat serius. Alasan ketiga.

***

Ketika SMA, di asramaku ada dua Anna. Untuk membedakan, kupakai nama Nana. Alasan keempat.

Sudah biasa kan, para guru mengecek nama para siswa? Apalagi masih siswa baru. Nah, suatu hari di awal aku masuk SMA, guru kimia kami, Pak Sand*y0, mengecek kehadiran kami. Berurutan dibacanya daftar presensi kelas. Dilewatinya nama dan wajah yang telah dihafalnya. Aku tak sadar, nomor presensiku semakin dekat.

“Harmanto”, panggil Pak Sand*yo. Tak ada reaksi.

“Harmanto”, ulang guru senior itu. Kelas hening, teman-temanku mulai celingukan penasaran,  siapa sih, yang punya nama itu? Kok, budheg ya, begitu mungkin pikir mereka.

Dari atas kacamatanya, Pak Sand*yo memandang seisi kelas. Semua bangku terisi penuh, artinya semua hadir. Jadi siapa pemilik nama itu??

“HAR….MAN…TOOO!!”

Menggelegar suara Pak Sand*yo. Aku kaget. Aku baru sadar, lho, lhoo….lhoooo… itu kan bagian belakang namaku? Buru-buru aku mengacungkan telunjukku tinggi-tinggi. Lurus sekali seperti mau menghardik langit.

“Hahahahaha……hihihi…”, seisi kelas terpingkal-pingkal. Aku heran sekali. Ada apa, sih? Cepat aku memandang seisi kelas.

Hah?!?

Ada dua tangan ngacung. Cowok pemilik tangan yang lain itu sama terperanjatnya denganku. Wajahnya bengong, matanya membundar.

Sett!

Cepat-cepat dia menurunkan tangannya. Wajahnya memerah.

Masih kaget, aku latah mengikuti gerakannya. Sett!! Tak kalah cepat, kutarik tanganku. Seisi kelas semakin riuh melihat reaksi kami.

Bisa kubayangkan, wajahku saat itu pasti do’ol banget….

Ternyata, memang ada dua “Harmanto” di kelasku. Aku yang tidak terbiasa dipanggil dengan nama belakangku, tidak merasa bahwa aku lah oknum yang dimaksud. Temanku itu, bernama Suharmanto. Dia pun merasa tidak dipanggil tanpa “Su”.

Akhirnya, kami sempat dinobatkan sebagai saudara kembar. Waisyahhh…. maksa banget deh….

Ah, bagaimana kabar kembaranku itu sekarang ya?

FYI, rata-rata murid di sekolah kami beragam Katolik, sehingga banyak yang memiliki nama baptis yang sama. Untuk menghindari memanggil nama depan yang sama, beberapa guru memanggil nama paling belakang. Nah, namaku paling belakang itulah yang disebut hingga menggelegar… 🙂🙂

****

Saat aku remaja, pemuda-pemuda di kampungku banyak yang menggodaku. Mereka sengaja menyanyi keras-keras di depan rumah atau ketika aku lewat dekat mereka.

“Nona Anna, nona Annaaaa….Anda membuat semua priaaaaa……”

Ih, norak sekali kan? Sebeeeeeellll…..!!! Aku semakin tak suka nama Anna. Alasan kelima.

Sewaktu kuliah, banyak pula teman seangkatan bernama Anna. Ada Anna Betty. Ana Yanti. Ana Triana.

Banyak pula yang dipanggil Nana. Dibedakan pula panggilan kami. Nana Betty, Nana Gonel, lalu aku, Nana Irma.

Yang lebih unik lagi, di asrama tempatku tinggal selama kuliah, banyak Anna. Alhasil, nama mereka pun dilabeli dengan angkatan, marga, asal daerah atau fakultas jurusan mereka: Ana’93, Ana’97, Anna Marp*ung, Anna D*sy, Ana Solo, Anna Akun, Anna ASMI.    Wewwh…nama pasaraaaan..

Akhirnya, aku mantap berlabel Nana. Satu-satunya di asrama.

Nah, nah, alasan ke berapa ini ya?

Ketika mengajar, aku semakin muantap pol memakai (Miss) Nana Harmanto sebagai nama tenar (haiyah!) untuk membedakan mana Hana, atau Bu Ana Sejarah, atau Miss Anna yang juga mengajar Bahasa Inggris. Kini kugunakan juga di hampir semua Id di dunia maya.

Banyak lho, yang suka meledekku dengan nama pelawak Nana Krip. Atau plesetan “celana”, jadilah nana panjang, nana pendek, nana ca**t,  nana jeans, nana bolong, nana kolor…

Meski kadang dongkol, aku tahu, sebenarnya, mereka sayang padaku. *dikemplang pembaca*.

****

Kebanyakan teman-teman yang menemukanku di Facebook protes.

“Susah banget sih kamu dicariin… ternyata ganti nama ya?”

“Harmanto nama suamimu ya? salam ya untuk Mas Harmanto?”

“Akhirnya ketemu juga, Non…. Kenapa sih ganti nama segala?”

…..

…..

…..

Bling!

Seorang kawan SMP mengajakku chatting di Facebook-ku.

Ijat       : halo, Nana?

Nana    : haloo….

Ijat       : piye kbr? Sehat, to?

Nana    : apik, sehat..

Ijat       : eh, bener kan, ini Nana sekelas dulu?

Nana    : yup…

Bling!

Ijat       : Nana dalem!

Nana    : Kamu pakai, kan?

Ijat       : haha..Nana onyet!

Nana    : mirip kamu!

Ijat       : hahaha, sialan!

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Nana Onyet

  1. Bro Neo says:

    na na na..
    du du du…
    na na na…
    du bi dam na na du du..

    (*kalo anna susah di nyanyikan, tp kalo nana mudah he..he.. pissssss….*)

  2. Emak Bawel says:

    Huhahahahhahahahhahahaha….nek lebih akrab meneh: Nanol… (Sebutane Bu Sum).
    hihihi..isih ngakak sisa maca ceritamu karo ‘saudara kembar’ ´Suharmanto. Wkakakakkakaka..

  3. Kartiko says:

    Iseng-iseng masuk eh dapet tulisan yang menyegarkan pagi ini. Tararengkyu Mbak Na.

  4. nh18 says:

    Kalau yang ini judulnya …

    Nana-o-logy …
    or
    Annarology …

    Kalo namaku di kelas ndak ada saingan … pasti satu-satunya …

    Baru kalo di komunitas tukang ojek, penjahit, tukang bengkel, tukang ikan dan tukang kredit …

    naaa baruuuu aku banyak saingan …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      hahaha…ternyata nama Pak NH masuk irisan himpunan “tersebut di atas ya” hihihi………..
      Pissssss………

  5. ha..haa..aku baru tahu long story dibalik namamu, na…

    Hanny
    http://marriage-solution.blogspot.com/

    • nanaharmanto says:

      hehehe…emang nggak setiap orang tau riwayatku itu..

      yg penting sih kita nyaman dgn panggilan kita, setuju?

  6. AFDHAL says:

    mbak nana….
    boleh tau gak? tuh pemuda yang nyanyi didepan rumahmu termasuk bojo’mu gak? hehehe
    piss

    *ngelirik si bro*

  7. nanaharmanto says:

    weitssss…
    gak je, aku ketemu bojoku kan wis lumayan tuwir hihihhi…

  8. Ade says:

    Nana ada hubungan sama Ibu Ning Harmanto kah? hehehe.. penasaran dot com:mrgreen:

    • nanaharmanto says:

      halo, selamat datang uni ato mbak Ade neh?
      ibu Ning Harmanto siapa ya? penasaran dot com jg hahahaha….

  9. Ikkyu_san says:

    Hahahah Nana….
    (dalam bahasa Jepang Nana = 7)

    lucu cara kamu menceritakan kenapa ngga suka dengan Anna. Kok aku merasa semua sama aja, sama bagusnya ya Anna dan Nana… Cuman untuk lagu … “Nona Anna …engkau membuat semua pria….” itu emang nyebelin hihihi

    Tapi kok guru itu panggil nama keluarga sih? kan di indonesia tidak semua orang punya nama keluarga. dan dulu nama keluarga biasanya dipakai untuk ejek-mengejek.

    Kalau di Jepang saya memang selalu panggil dengan nama keluarga, karena urutannya berbeda. misalnya Maria Ozawa, jadi Ozawa Maria… gitu. Jadi saya selalu panggil Ozawa, kecuali kalau ada org yang nama keluarganya sama baru pakai nama kecil juga.

    EM

  10. nanaharmanto says:

    oh itu mbak, kebetulan aja aku sekolah di SMA Katolik. mayoritas nama depan pasti nama baptis, dan banyak pula yg mirip, misalnya aja Yohanes ada dua. ato multi nama Maria. jadi guruku memanggil dgn nama yg tertulis paling belakang.

    sebetulnya sih, guruku itu jg bengong waktu aku ngacung. dia nggak liat nama depanku yg nama cewek abiss. pasti dikiranya cowok-lah yg bakal ngacung…lha ini kok ada cewek ikut ngacung? akhirnya beliau jg tertawa brg kami hehehehe…

    nana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s