Minyak dan Air!!

Tiba-tiba saja, seseorang dari masa laluku  muncul di Facebook. Mantan pacarku di SMA. Ups! Haruskah aku add dia? Sementara aku belum sepenuhnya bisa memaafkannya? Gimana pula reaksiku jika dia yang menghubungiku duluan?

Dilematis. Walau sebenarnya sangat mudah dimanjakan teknologi ini. Tak perlu tatap muka, bahkan. Tinggal dua “klik” maka aku dan dia bisa terhubung. Klik pertama, add. Kedua, confirm. Sedetik, atau dua detik, jalan akan terbuka.

So simple, isn’t it? Nah, tinggal siapa yang akan meng-“klik” duluan.

Satu “klik” mungkin akan jadi usaha satu pihak saja. Jika di sisi yang lain menolak menyentuhkan persetujuannya  pada icon “confirm”-nya, yo wis, ya sudah, jembatan nggak jadi nyambung.

Pintu maaf tinggal seujung jari.


Sederhana kan?

So, what?


Hhmmmfff….


Empat belas tahun!

Yeah, sekian lama telah berlalu, sejak kami putus.

Aku jadian dengan HR secara diam-diam. Gimana aku mau mendeklarasikan hubungan kami jika di dalam asrama kutahu ada orang lain yang juga suka pada cowok yang sama? Gimana aku bisa berterus terang pada sahabatku sendiri bahwa hubungan dua orang diantara kami bertiga telah berubah status? Aku merasa menjadi sahabat yang sangat buruk. Aku bisa mengerti jika hubunganku dengan S*** menjadi renggang.

Aduh, S***, maafin aku…

Tapi serapat apapun kami menyembunyikan status kami, toh akhirnya semua orang tahu kami jadian. Bahkan sebelum aku sempat memberitahu sahabat terdekatku. (Bertahun-tahun pula aku mencarinya, untuk meminta maaf padanya).

Sayangnya, HR terpengaruh teman-temannya. Apalah arti seorang Nana yang tinggal di asrama. Aku tak bisa menemuinya kapan pun aku mau. Aku hanya bisa memintanya menjauh dari hal-hal yang bisa merugikannya. Selebihnya, tergantung usahanya sendiri.

Suatu hari ibunya datang dari Jakarta dan menemuiku. Menurut cerita HR kepada ibunya, dia jadi “nggak macem-macem” karena aku. Beliau sempat “berterima kasih” padaku karenanya. Aku tak merasa sehebat itu. Sebab pilihan ada pada HR: mau terseret arus, melawan arus atau sekedar bertahan.

Ibunya memintaku untuk membantu memegang uang saku HR. Ibunya cukup kuatir uang HR dihabiskan untuk hal-hal yang nggak penting, misalnya drugs. Awalnya aku sempat menolak. Dari ibunya aku tahu, bahwa ternyata HR kadang-kadang dipalakin temannya. Jadi akhirnya, aku bersedia membantu menyimpan uang HR. Untuk itu, aku harus menyalahi aturan asrama. Dilarang menyimpan uang cash lebih dari dua ratus ribu. Yah, demi keamanan bersama,  -karena ada banyak orang tinggal di asrama-, jumlah uang yang boleh kami pegang pun dibatasi. Selebihnya, harus dititipkan pada suster pembina. Nobody knew, aku berhasil menyimpan uang dalam jumlah besar itu dengan aman. (Aku bahkan belum pernah punya uang sebanyak itu!)

Aku diperbolehkan memakai uang itu untuk keperluanku sendiri. Tapi, namanya menjaga kepercayaan, aku tak pernah tergoda untuk melakukannya. Sepeser pun tidak.

***

Satu setengah tahun lebih kami pacaran, tiba-tiba HR mutusin aku. Kaget?! Ya, iyalaaah….sangaaat..

Tak ada masalah saat itu. Katanya, ibunya tak setuju pada hubungan kami.

How could I believe it?

Alasan yang terlalu konyol kan?

Mengingat betapa ibunya sangat baik dan percaya padaku?

Oh, well, aku tahu begitu saja. Hatiku tak pernah bohong padaku. Dia berpaling pergi karena cewek lain.

Kenapa dia tak bilang aja padaku? Aku nggak akan memaksanya untuk terus sayang padaku. Aku toh nggak bisa dan nggak akan memenjarakan perasaan orang lain, kan?

Tak lama, tiba-tiba saja, HR menghilang. “kabur” balik ke Jakarta. Saat itu, sekitar sekolah sempat “gempar” gara-gara insiden yang dibuatnya. Konon, dia sempat  pergi dengan cewek itu. Menurut  desas desus sih, (sehari?), (semalam?). Tak tau lah..

HR pun dicari-cari karena dianggap “mengotori” nama baik area kost-kost-an di sekitar sekolah.

Aku nggak (mau) tahu dengan pasti. Urusan kami sudah selesai. Jadi, nggak ada hubungannya lagi denganku dong?


Ibunya datang, mengurus segala syarat perpindahan, lalu berpamitan padaku secara pribadi. Diceritakannya padaku, versi HR bahwa HR dijebak cewek itu. (Alasan klise yang tak bisa kupercaya!) Disesalkannya pula, bahwa hubungan kami berakhir padahal beliau telah begitu percaya padaku. Ibu HR memintaku untuk tak memberikan nomor telepon dan alamat rumah pada sembarang orang. Kalau ada apa-apa, aku boleh telepon beliau sewaktu-waktu. Aku jaga kepercayaan itu. Kulenyapkan nomor teleponnya atau menghitamkannya.

Oke, cerita asmara itu boleh berlalu. Tapi “buntut” kisah itulah yang lebih membuatku sakit hati.

Kau tahu nggak?

Aku dihadang preman! Dua motor! Yups, aku nggak bohong. Suatu sore, dalam perjalanan kembali ke asrama, aku dihadang tiga orang preman kampung. Badan mereka gede dan sangar abiss! Mereka menuduhku ngumpetin HR. Haaa?!? Mana bisaa?! Ngumpetin dimana? Di rumahku? Di asrama? Ya nggak mungkin laah…preman do’ooool!

Yah, pokoknya, mereka menginterogasiku atas nama “reputasi area tempat kost” cewek itu.  Tanya macam-macam. Sebetulnya, aku ketakutan. Bayangin aja, aku cewek, seorang diri, jalan kaki pula. Mereka, cowok, bertiga, badan gede dan sangar,  mungkin juga separo teler, naik motor  pula. Sekali mereka nabrak aku, mungkin habis lah riwayatku. Apapun bisa dilakukan saat setengah atau bahkan seperempat sadar kan?

Dengan emosional mereka mengancamku. Aku mual ngebayangin mereka. Hughh…

Sampai sekarang, aku selalu mual setiap kali melihat preman. Gaya sok-nya, gaya keroyoknya. Kupikir-pikir, aku bahkan lebih “gentle” daripada “mereka yang ngaku cowok “ itu.

Saat itu aku benar-benar sendirian, ngadepin preman sinting.

Suer! Gue adepin langsung, man!! Sendirian!! Gue  gak kabur sejengkal pun!! Gue  bahkan gak nangis terbirit-birit!! Cataaat…!!!

***

Aku sempat telepon ke Jakarta untuk bicara dengan ibu HR. Ada urusan apa hingga aku diseret-seret dalam masalahnya hingga harus berhadapan dengan preman itu? Aku menolak bicara dengan HR. Apa gunanya? Dia sudah terlanjur lari. Dan tak bisa kubilang jantan.

Setelah itu, tiga-empat kali aku dipanggil guru BP sekolah sehubungan dengan ngilangnya HR. Aku jenuh, aku malu, aku sakit hati, aku marah. Sebutan apa yang paling tepat untuk seorang cowok yang membiarkan dua perempuan- ibunya dan aku- yang nyatanya (pernah) dekat dengannya, untuk membereskan semua kekacauan yang dibuatnya?

Hoho…urusan belum selesai, kawan. Seolah semua itu belum cukup! Aku diteror beberapa orang. Mereka menginginkan alamat dan nomor telepon rumah HR. Aku tak pernah mau memberikannya. Dihadang preman sekalipun! Meskipun HR telah menyakitiku, aku tak mau keluarganya ikut menanggung akibatnya jika kuberikan alamat dan nomor telepon rumahnya. Aku kasihan pada ibunya. Aku bisa memahaminya, hatinya mungkin penuh kekecewaan dan penuh kekuatiran. Aku tak sanggup menambah bebannya.

Orang-orang itu, ealaaah…punya berbagai cara agar aku mau memberikan nomor telepon HR. Termasuk si cewek itu. Disuruhnya teman se-kost-nya untuk mencecar menanyaiku. Gayanya, beuh…!! sombong sekali. Sang kurir itu terpana saat aku melibas kesombongannya dengan sangat anggun sekaligus menyumpal mulut besarnya tanpa harus kuumbar emosiku. Sesaat kemudian, dia memohon-mohon supaya aku “berbaik hati” memberikan apa yang dia minta.

Belahlah otakku. Kau tetap takkan mendapatkan apapun.

Tak pernah sekalipun aku menghubungi HR. Tapi yang membuatku pedih, aku “memutuskan” hubungan dengan ibu HR. Padahal kan ibunya nggak salah apa pun padaku? Beliau bahkan tak pernah memusuhiku.

****

Kini, beberapa kawanku bertanya-tanya, udah add HR belum? Udah nemu HR belum?

Ah, mungkin mereka gemas padaku. Kenapa sih, nggak mau maafin HR? Setidaknya kembali berteman apa salahnya? Mungkin juga mereka penasaran, kapan mereka akan melihat berita di statusku: Nana and HR are now friends.(?)

Tak juga kuhubungi HR. Temanku pun menulis: Seperti minyak dan air!

Ya, seperti itulah aku dan HR kini. Bagai minyak dan air. Kami sama-sama cairan (baca: manusia). Kami kini ada di dalam wadah (baca: Facebook) yang sama. Tapi tak pernah menyatu. Selalu terpisah. Karena keangkuhanku.

***

Tak kuduga, suatu kali aku  “tertampar” ketika tanpa sengaja nonton Oprah Winfrey Show. Kalau nggak salah sih, episode tentang seseorang yang membunuh anggota keluarganya sendiri. Aku telat nonton, tapi di akhir acara aku masih sempat mendapat kalimat ini. (Nggak persis plek sih, namanya juga telat nonton..) tapi intinya:

“Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi yang terpenting adalah memaafkan dirimu, lalu mengampuni dirimu sendiri karena telah membiarkan kebencian meracuni jiwamu sekian lama”.


Plak!! Tamparan telak. Aku termenung. Sungguh, ungkapan ini benar-benar menohokku dengan telak. Eh, aku jadi ingin nonton lagi episode ini dari awal dan mengambil hikmahnya deh!


Kali kedua, aku nonton Karate Kid 3. Di dalam film ini, aku “tertampar” lagi oleh ungkapan si tokoh tua bijaksana, Mr. Miyagi.

“Sesungguhnya orang yang hidup tapi tak punya pengampunan dalam hatinya, hidupnya bahkan lebih buruk daripada seseorang yang menghabiskan hidupnya selama bertahun-tahun di penjara karena pembunuhan.”

Gubrakk…!!

Hiks…Seburuk itukah hidupku belasan tahun terakhir ini??

Tapi, sahabatku,

Well, tahukah kau, siapa dan apa yang menjungkalkanku dari singgasana keangkuhan dan kekerasan hatiku?

Lihatlah namaku.

Ya, ayo, bacalah! Oh, bukan Nana, bukan! Abaikan saja pendosa itu!

Bacalah nama belakangku. Harmanto. Ya, nama itulah yang menyadarkanku kini. Nama yang teduh, yang selalu kubanggakan, yang selalu takgendong kemana-mana ituu…

Aku terdiam ingat akan pemilik nama ini. Papaku. Lelaki yang tak pernah mengumbar kedengkian. Seumur hidupku tak pernah aku mendengar sepotong pun kata umpatan, makian atau hujatan ataupun kutukan dari bibirnya. Papa tak pernah mengajarkan dendam amarah dan kebencian. Tak pernah mengobarkan permusuhan dengan siapapun. Sementara aku? Aku berkubang dalam dendam dan kebencian selama belasan tahun!

Kenapa aku tak mewarisi kehangatan hatinya? Kenapa ketulusan hatinya tak menitis padaku?

Poor Nana

Bahkan aku tak perlu menunggu empat belas tahun untuk mendapatkan “teguran” melalui Oprah dan Mr. Miyagi! Ajaran bening itu ada padaku, melekat seumur hidupku. Tapi aku dibutakan oleh kedengkian dan dibekukan kesumat.

Aku tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya, aku merasa tak pantas menyandang nama papaku. Ah, aku rindu sekali pada papaku…

Bukankah membuka pintu maaf terlebih dulu lebih “gentle” yah? Bukankah meleburkan amarah dan mengulurkan persahabatan justru membuktikan bahwa kita berjiwa besar ya? Bahkan lebih elegan daripada ngadepin preman kampung….

Dan, kupikir-pikir, kini, aku sungguh sangat beruntung.

Seharusnya aku berterima kasih pada HR telah meninggalkanku dulu. Sebab dengan begitu, aku diberi kesempatan untuk lebih selektif memilih pacar yang tepat. Coret mereka yang payah!

Hingga akhirnya kutemukan anugrah yang luar biasa, seseorang yang jauh lebih baik; pria pendamping hidupku kini. Kau tahu, dia berjiwa besar mengijinkan aku untuk bertemu HR suatu saat nanti, dan membiarkanku membereskan semua urusan yang belum tuntas itu. Mungkin suami-suami yang lain bakal blingsatan mengetahui istrinya hendak menemui mantan pacarnya dulu… tapi tidak demikian halnya dengan suamiku. Senantiasa didukungnya aku untuk menyembuhkan jiwaku agar terus berseri.

What a gentle man!


Ya..ya..ya….!! Aku sangaaaat beruntung!

***

Writing is releasing.

Well, aku tak lagi menangisi hal itu. Tapi, menuliskannya kembali memang agak menyakitkan. Itu berarti aku harus mengorek luka lama hingga ke akar-akarnya, hingga ke bagian terkecil yang ingin kulupakan dan  kusembunyikan bertahun-tahun. Aku tak pernah menceritakannya detil semua itu pada teman-temanku. Aku jago menyembunyikan perasaan terdalamku. Aku tak peduli ketika teman-temanku mengatakan aku njlimet, ruwet dan munafik. Kalau memang diamku menyelamatkanku dari mulut besar teman sendiri, maka hanya akan kupercaya hati dan otakku untuk menyimpan semuanya. Tutup mulut dan berpikirlah.

Aku tak ingin menuliskan kebohongan apapun dalam tulisan ini. Aku juga tak bermaksud menghakimi siapapun nama yang terlibat disini. Aku tak pernah punya keinginan muluk untuk memberi pencerahan (halah!) atau menceramahi siapapun yang membacanya. Kalau ada yang tersentuh membaca tulisan ini, yeah, your heart works, then, not me…

Aku sungguh-sungguh mengalami “tamparan-tamparan” itu dan bukan  sekedar “nggathuk-nggathuk-ke” (sengaja mencari-cari kalimat indah bijaksana agar nyambung dengan kisahku). Itulah proses yang kualami.

Dan…….

menguraikannya dalam kalimat-kalimat ini, meskipun nggak enak  pada awalnya, tapi surprisingly, meringankan dan mulai menyembuhkanku.

Thanks be to God. I am in my way to be healed…

Hmmmm…

Jadi…..menurut kalian, ”klik” nggak nih? Tinggal di ujung jariiii…..

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

19 Responses to Minyak dan Air!!

  1. bro neo says:

    i’m two steps behind u

  2. bro neo says:

    wuih.. ternyata td pertamax

  3. Emak Bawel says:

    Put the past in its place (Salah satu bagian paling mengesankan dari kuliah ‘Ingatan’). Menurutku aku pelupa, tapi bagian2 tertentu tetap ‘tinggal#-meskipun bagian dari kuliah jaman jebott..
    See my next comment in your FB.

    Luv.

  4. Emak Bawel says:

    Jadi, kalau klik ‘OK’ makes u feel better, ya klik ajaahh…Kalau males, ya ‘ignore’ (mereka juga gak tahu kan kalau di-ignore). Kalau aku kadang cuek, misal nek ora (patiyo) kenal, daripada kesannya cuma basa-basi. Irit energi juga….

  5. Benar mbak Nana, pengampunan itu mempercepat penyembuhan peristiwa traumatis.
    Menyusuri setiap anyaman kata (pinjam istilah DM) aku sempat menangis..kenapa? karena aku pun dulu mengalami hal yang sama.
    Tulisan yang menarik.

  6. nh18 says:

    Jujur nih Na …
    Kalau saya … Tidak !!!

    Bukan apa-apa …
    Bukan karena masa lalu yang telah dia porak-porandakan …
    Bukan karena segala kesulitan yang telah diciptakannya
    Tetapi karena … It’s just not worthed …

    Ada banyak hal berguna lain yang bisa kamu kerjakan
    Ada banyak teman lain yang bisa kamu klik
    Ada banyak sahabat lain yang bisa kamu jadikan pelajaran …

    (Ya … It might sound “masih dendam” … but … kita punya hak untuk memilih siapa teman kita bukan …).

    Seraya berujar sopan …
    “No Thanks, … I am not going to click you … May God Bless You … Terima kasih telah berniat meng-add saya”

    eng ing eng … elegan kan ???
    hehehe
    Salam saya Na …

    Salam saya …

  7. p u a k™ says:

    Kalau benar2 dalem.. cielah.. nggak usah diklik saja..
    Soale.. kalau udah diklik.. dia bakalan tahu aktifitasmu atau informasi apapun tentangmu..

  8. yessymuchtar says:

    Saranku mbak..KLIK aja!!! ..hihihii

  9. AFDHAL says:

    kalau saya KLIK saja…
    toh niat kita jg untuk silaturahmi…

    apalagi sudah ada gentle man disampingmu kan..
    n saya percaya yang two step behind u is real gentle man…suerrrrrr

    *ngelirik bro*

  10. Ade says:

    let your heart heal first.. takutnya ntar klo diklik sekarang dan membuat hatimu porak poranda lagi.

  11. Ikkyu_san says:

    mbak e….

    ngga nyangka dengan saran om trainer …..

    klik atau tidak terserah kamu, meskipun aku memang membaca ada unsur “kriminal” yang tidak biasa di balik pemutusan dgn HR. Yang jika aku menjadi kamu, tidak akan add. I dont want anybody mess up my ‘stable’ LIFE.

    BUT yang aku juga mau kasih tahu, selain ada tombol klik OK as a friend

    ada pula defriending , yaitu klik tombol DELETE as a FRIEND. (dengan resiko menyakiti hati teman kita itu)

    Saya sering klik “ADD” dan pernah klik “DELETE”. Karena yang bisa membuat kita nyaman adalah diri kita sendiri….

    BTW, saya kagum Nana bisa menuliskan kejadian yang tidak mengenakkan dengan gamblang begitu. Dan benar, dengan menuliskannya PASTI bisa terasa lebih ringan, meskipun seakan “mengumbar aib”.

    Biasanya yang dikhawatirkan jika berhubungan lagi dengan mantan pacar adalah CLBK, cinta lama bersemi kembali. Tapi….. saya SEKARANG justru menganggap itu sebagai UJIAN, apakah kita bener-benar mencintai pasangan kita. Dan YES, saya telah meng-add salah dua dari mantan-mantan pacar saya di FB (wuiiih gaya amat ya pakai “plural” gitu) ….meskipun itu semua butuh waktu…..

    Memang kita sering “Ditampar” dengan acara-acara yang kita tonton, atau mungkin dengan perjumpaan dengan orang/orang lain melalui, ucapan/tindakan/pemikiran mereka. Beruntunglah kita masih diberi kesempatan untuk menjadi dewasa. Jadi…. dewasalah kita (sayangnya tidak ada standar yang dewasa itu spt apa)

    sorry komentarnya jadi panjang ya Na…

    EM

  12. Budaya Pop says:

    Tulisan Anda inspiratif dan menolong saya.

  13. Kartiko says:

    Opsi lain: bisa juga menggunakan fitur message untuk bisa kontak tanpa harus menjadi teman.

    Dah tinggal dipilih yang sesuai dengan kebutuhan Bu.

    ~ Terkadang untuk melepaskan memang kita harus berani untuk menerima. Semoga cepat selesai ya.

  14. narpen says:

    Wah ya itu tergantung mbak Nana, klo masih sakit hati, ga usah memaksakan diri..
    Toh klo udah di add, emang mau diapain?
    Kecuali klo mbak udah punya rencana ke depan sih ya ga masalah..
    (misal mau tanya2 kabar atau cari dana/sponsor buat acara apa gtu? :D)

    Memaafkan juga bukan berarti harus berbaik2an lagi kan? Ya dimaafkan saja, dendam emang cuma bikin capek.. Habis itu ya lanjutkan hidup🙂

  15. krismariana says:

    Na, aku nggak tahu apa yg akan aku lakukan jk aku ada di posisimu. Malas juga sih kalau setelah kita klik OK, si HR itu malah memorak-porandakan hidup kita. Tapi di satu sisi mungkin itu tantangan utk apakah kita bener2 memaafkan dia apa nggak. Aku sendiri malas meng-add orang2 dr masa lalu yang rasanya kurang menyenangkan. Tetep berusaha memaafkan sih. Tapi aku juga nggak mau tahu urusan dia sekarang. Mungkin aku bukan contoh yg baik. Tapi aku sendiri merasa lebih nyaman begini. Jadi, aku setuju dg komentarnya “Emak Bawel” itu.

  16. Mbak’e…
    aku ketinggalan ini…

    soooo…. apakah jadi di add ?

    aku no comment soal add meng add mantan pacar
    apalagi yg udh nyakitin begitu…

    jadi aku pengamat setia aja😀 tdk mampu memberikan saran hehehe

  17. Angel Li says:

    klik atau gak klik itu masalah pilihan. Bukan lagi masalah memaafkan atau tidak. Tetap bisa memafkan tapi memilih untuk gak meng-klik-kan? Kalau memang hidup selanjutnya telah memilih tak ingin orang tersebut menjadi bagian darinya. Nothing’s wrong about it. So, make your decision n be happy of it🙂

  18. suzana septi says:

    He…he…jadi keterusan baca ceritamu…
    jadi teringat masa SMA.
    Ga usah di add non, dia telah hilang dengan elegan.alias menon-aktifkan fbnya.

    Lanjutkan hidupmu.dan kutunggu kisahmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s