Telat Seminggu

Aku benci menyapu. Aku tak suka pada benda satu itu. Dari sekian belas pekerjaan domestik rumah tangga, hanya menyapu-lah yang paling kubenci.

Aku bukan orang yang gila kebersihan dan kerapihan. Tapi bukan pula orang yang jorok. Yah, sedang-sedang saja lah. Kadang-kadang tergantung mood. Kalau sedang ingin b(u)ersih dan rapi, maka sepenuh hati akan kubersihkan dan kurapikan rumahku, bahkan sampai ke tiap sudut-sudutnya. .

Well…aku memang sedari dulu tak pernah menyukai pekerjaan yang satu ini.

Repot. Ribet.

Lho, lho, bukankah sepertinya sederhana sekali, kan?

Gampang banget, to?

Inilah yang kubilang ribet. Aku harus berkali-kali mengayunkan gagang sapu itu, menggiring kumpulan  debu di lantai. Lalu masih harus terbungkuk-bungkuk merogoh-rogoh kolong tempat tidur, lemari, meja dan kursi. Kadang-kadang harus menggeser kursi atau meja supaya debu dan kotoran di bagian bawahnya tersapu.

Belum lagi mengulang nyapu debu yang tertiup angin. Biuh! Masih ada lagi puluhan helai rambut yang rontok di lantai..dan, yang lebih menjengkelkan lagi,  kalau rambut itu nyangkut di karpet atau tertindih kaki meja.  ihhh…

Begitu pun masih mending, yang jauh lebih menyebalkan lagi, kalau di lantai kutemukan “jackpot” hari itu. Banyak kotoran cicak.  huh!

Itu belum selesai. Setelah itu, keset pintu masih harus diangkat, digebuk dengan sapu agar debu yang bersemayam di situ ikut terlepas. Debu pun berhamburan dengan brutalnya. Kadang-kadang keset ini harus dijemur pula. Setelah itu masih harus membersihkan rambut-rambut yang nyangkut di sapu. Hadohh

Kesimpulannya, sama sekali nggak asyik deh…. sumpah!

Di rumah orangtuaku, karena tidak ada pembantu, anggota keluarga berbagi tugas. Ada yang masak, mencuci atau setrika baju, cuci piring dan menyapu. Biasanya aku menghindari tugas menyapu rumah. Aku lebih memilih memasak atau mencuci.

Kakak dan adik-adikku heran, kenapa aku lebih memilih pekerjaan selain nyapu. Tapi lama kelamaan akhirnya mereka maklum juga. Memang sih, kalau kita sudah  “nggak ikhlas” sebelum melakukan sesuatu, maka pekerjaan itu jadi terasa lebih berat. Contohnya,  ya menyapu itu.

Ketika giliranku menyapu, aku mengerjakannya dengan setengah hati dan asal-asalan. Cepat saja. Sret.. sret..sret..

Kuabaikan saja kolong-kolong pendek yang ribet . Sengaja kulewatkan kolong-kolong meja dan kursi yang bikin repot itu supaya cepat selesai.

Kadang-kadang, aku urik, curang, kubujuk adikku agar mau bertukar tugas denganku. Biarlah aku yang cuci piring.

Aku tak pernah peduli kalau hasil sapuanku kurang bersih. Asal pantes aja dilihat.

Lain sekali dengan adikku. Dia telaten sekali menyapu. Dia ikhlas melakukannya, sambil nyanyi pula. Semua kolong pasti tak luput dari aksinya.

Hasilnya? Bersiiih banget.. Hihihi..pasti ketauan deh, hasil sapuan siapa hari itu.

***

Saat tinggal di asrama mahasiswi, di tahun ketiga-ku, aku menjadi ketua unit. Setiap unit beranggotakan 8 orang. Masing-masing anggota unit berkewajiban membersihkan unit sesuai jadwal atau hari yang telah disepakati bersama. 7 orang anggota pas dengan jumlah hari dalam seminggu. Nah, enaknya jadi ketua unit, bisa “bebas” nyapu dan ngepel unit selama setahun full..

Sumprit, aku sangat menikmati saat itu!

Sekarang, setelah berumah tangga, mau nggak mau aku harus melakukannya sendiri. Dan, masih saja aku benci menyapu.

Tapi, kalau lantai tidak disapu, walah, debunya banyak sekali. Apalagi saat musim kemarau, debu-debu menjadi sangat ringan bertaburan mengotori lantai. Sehari saja tidak disapu, telapak kaki segera terasa kotor dan menghitam.

Waktu ulang tahunku tahun lalu, suamiku menghadiahi aku sebuah penyedot debu untuk  “meringankan” tugasku. Tapi nggak tiap hari aku menggunakannya. Paling 2 minggu sekali. Sebab, si nona berisik satu itu lumayan rakus “makan listrik”.

Urusan ngepel mengepel, bagiku sedikit lebih menyenangkan daripada menyapu. Lebih cepat, (lebih baik!) tak perlu menghalau debu yang terbang. Tapi, yaah..sejujurnya, tetap saja aku jauh lebih menyukai pekerjaan yang lain.

Aku jadi ingat adikku. Kenapa aku tidak mencontoh dia aja ya? Nyanyi sambil nyapu, eh, atau nyapu sambil nyanyi ya? Mungkin dengan begitu aku jadi lebih semangat bekerja dengan benda bergagang langsing itu, dan lupa pada keenggananku yang satu itu.

Tapi…..

cobalah lihat sisi terangnya. Rumah jadi bersih dan terasa segar. Kalau tahan masuk angin, tinggal golar-goler dan glesotan saja di lantai yang dingin saat cuaca panas menyengat. Penak to? manteb to?

Suami yang baru pulang dari kantor juga akan memuji betapa bersihnya lantai rumah kami.

Kalau tiba-tiba ada tamu datang, aku tak perlu berbasa-basi, “ Monggo, silakan duduk, Jeng. Aduh, maaf ya, rumah saya berantakan, kotor lagi. Belum sempet nyapu…”.

Basi, kan?

***

Saat aku masih kecil, nenek dan budeku yang saat itu tinggal di rumah kami, suka menegurku kalau mereka melihatku menyapu dengan serampangan. Kadang-kadang, karena teledor, aku meninggalkan sepetak lantai yang masih tebal berdebu.

Sering kudengar kalimat mereka ini.

“Na, cah wedok ki kudu resik le nyapu. Ojo nganti gobres,  mengko entuk bojo brewok-en lho”.

(Anak cewek harus bersih menyapu. Jangan sampai berlepotan, daripada kelak dapat suami brewokan.)

Haiyahh…Aku cuek. Apa hubungannya sih nyapu sekarang dengan suamiku nanti? Ide yang konyol.  Masih lama lageeee! Halo?? Aku kan masih kecil?

Aku gemas, ada-ada saja sih, nenek dan budeku? Emangnya nggak ada teguran yang lebih bermutu?

Aku menertawakan mereka.

Suami budeku, pria bercambang lebat. Kami memanggilnya pakde Bre, singkatan dari brewok tentu saja. Nah, suatu ketika, dengan polosnya aku bertanya pada budeku.

“Bude, emangnya dulu waktu Bude masih kecil kalau nyapu nggak bersih ya? Kok Pakde brewokan?”

Nenekku terbahak, terpingkal-pingkal hingga nyaris menangis. Bude hanya lecam-lecem, senyum-senyum simpul.

***

Dua puluhan tahun kemudian…..

Aku menikah, setelah lima tahun pacaran.

Kupikir ini tak ada hubungannya dengan aku yang kualat pada bude bertahun-tahun lampau. Tak mungkin pula kolong-kolong meja dan kursi yang kukhianati itu mengumpulkan kutukan untukku.

Seminggu tak bercukur, wedeuhh….berewok suamiku lebaaaaat…..sekali.

***

Ada nggak yang punya tips agar nyapu jadi lebih fun?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Telat Seminggu

  1. Ikkyu_san says:

    hahahahah kapten Haddock…
    Nasib ya tidak suka menyapu ternyata punya suami BRE deh…

    Aku juga tidak suka menyapu… hmmm secara tepatnya, beberes rumah. Nyapu atau ngepel masih OK. Beberes rumah yang ngelap dan menyusun/mengatur kembali semua pada tempatnya itu yang aku benci. Aduuuh kalau musti beresin mainannya Riku dan Kai… rasanya pengen aku lempar semua ke tong sampah.

    Aku paling suka mencuci piring (dan memasak). Karena mencuci itu langsung kelihatan. Dari piring kotor langsung mengkilap. Mengepel juga begitu. Menyapu? well kalau di Jepang, tidak begitu kelihatan, karena debu jarang.

    Meskipun aku tidak suka menyapu, suamiku tidak brewok kok hihihi

    EM

    • nanaharmanto says:

      iya mbak, aku jg paling suka masak..
      di endonesah emg panen debu….apalagi saat puanassss……….
      suka gak suka tetep harus dijalanin hihi..sok bijak..
      hmm..si kapten Haddock..untung dia gak pemarah hehe..

  2. Ade says:

    Aku juga ga suka nyapu, Na.. tapi suamiku ga brewokan euy:mrgreen:

  3. yessymuchtar says:

    aku juga gak suka nyapu…..gak suka bersih-bersih, gak suka bebenah rumah, gak suka ngerjain kerjaan yang menyangkut rumah deh ….

    sukanya dandan, jalan-jalan, shopping ke mall…

    *di timpuk sapu*

    • Ikkyu_san says:

      Yess, lu jangan sampe dipindah ke jepang atau ke LN deh… ngga ada baby sitter dan pembantu. ntar rumah lu jadi sarang tikus hiiiiiii hahahha

      EM

      • nanaharmanto says:

        kayaknya kalo Mbak Yessy pindah ke LN, hobinya dandan, jalan-jalan, shopping ke mall gak bakal ketinggalan deeeehhh hihi…

        piisss………

    • nanaharmanto says:

      hadoohh….kalo gitu mah namanya suka nyapu dan bersih-bersih dompet hihi…

  4. yah…sapu…kenapa sih nggak suka?padahal enak lho megangnya…kiri…kanan…belok sini…belok sana…coba deh liat anak2 yang lagi belajar nyapu…rasanya hmmmm…mereka menikmatinya…nyapu sambil nyanyi…itu good idea!

    • nanaharmanto says:

      kalo liat orang lain nyapu, saya nggak terganggu. tapi kalo nyapu sendiri, itu amat mengganggu…
      yang asik sih, kalau nyapu trus di tiap kolong meja, kursi dan tempat tidur ada segepok uang…hmm…semangat deh……..kapan ya?

      *ngarep*

  5. nh18 says:

    Senyum-senyum …

    Tips untuk menyapu yang fun ?

    Gampang …
    Panggil anak-anak tetangga … barang 10 – 15 orang
    Terus kita kasih permainan ke mereka …
    judulnya … maen berenang-berenangan …
    Suruh mereka melata … berguling … ndelosor … ngelesot … tiarap …
    melumah sambil bergerak kesana kemarii …

    Ditanggung lantai mengkilap sodari …

    How’s that ??

  6. nanaharmanto says:

    hahahaha……ntar emak-emaknya pada heboh dong liat anak-anaknya jadi dekil…trus mereka menjerit histeris sambil nimpuk saya pake sapu…
    gantian!! cuciin baju anak-anak ini!!

  7. krismariana says:

    dulu pas kita satu unit, kamu bener2 nggak pernah nyapu dan ngepel ya? yaaaa ampyyyyuuuun! aku kok lali yo?

    aku jg gak suka nyapu. lbh milih ngepel. jd kalau ada suamiku, aku biasanya minta tolong dia menyapu, “kamu yang nyapu ya, nanti aku yg ngepel.” dan dia seringnya mau. tapi, kalau dia yg nyapu, biasanya “gobres”. doooh!

    • nanaharmanto says:

      haha…setaun full………..bebas nyapu. eh, tapi gak full2 amat ding, kan tetep nggantiin sing dho berhalangan ato pas bolong karena anak-anak unit lg pulang kampung…tapi lebih banyak bebas tugas sih….hihi…

  8. AFDHAL says:

    Baca judulnya, kirain om afdhal mau punya ponakan…jebulane…
    hihihihi penyedot debu itu aku tau qiqiqiqiqi n brewok sepakat tuh harus tiap hari dikerok, nek ora bahaya ntar bojomu disangka teroris lho🙂

    • nanaharmanto says:

      judul yang “menipu” yo?
      jebulane…….adoh……

      kamu tau juga ya riwayat penyedot debu itu? hehehe….

  9. p u a k™ says:

    Mbak Nana, kamu ternyata kakak kelasku di Paluse ya??..
    Aku liat fotomu di FBnya Alin.. dan Bro Neo itu… heheheh…
    Seneng deh aku.. add dong FB nya..

    • nanaharmanto says:

      hah? iya kah? aku kok mendadak autis ngene?
      sori aku lali jeng….
      dunia maya ternyata “sempit” juga ya?
      jauh2 dari Jogja ketemune di blog…halah…duniar yrang semprit bretul!!

  10. AFDHAL says:

    ikut senengggg
    *lho*

  11. narpen says:

    klo aku sih seneng efek sehabis nyapu mbak.. dari kotor ga jelas, bisa jadi kinclooongg…😀
    tapi karena itu nyapunya ga tiap hari, hehehehe. biar kerasa efeknya..
    ngomong2 klo ganteng, brewokan juga ga masalah kali..

  12. biar enteng nyapu?? ehm..cobalah bersyukur karena punya tempat tinggal yang mesti dibersihkan..

  13. Ho ho ho
    ternyata teori itu terbukti sama mbak nana😉

    hihihi
    aku ndak suka nyapu mending tidur !😉
    untuuung Adrian gak brewokan cuman rada kumis2an dikit :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s