Flying Superhero

Kolam itu…………

Banyak sekali kenangan di kolam ikan berukuran 3×8 meter itu. Dengan kedalaman 1m hingga hampir 2 meter, kolam itu sanggup menyihir anak-anak sekecil kami agar menjauh dari kolam. Kami tahu bahaya apa yang menunggu jika kami mendekati kolam tanpa pengawasan orang dewasa.

Aku pernah bertanya, sedalam apa sih kolam itu?  Papa membuat garis di batas lehernya dengan tangan. Di bagian terdalam, mungkin lebih tinggi dari kepala papa. Hiii….aku takut membayangkan terbenam di kolam itu. Jadi, mendingan jauh-jauh deh …

Namanya juga kolam ikan, pasti banyak sekali ikan di kolam itu. Ada ikan mujahir, nila, gurame, dan beberapa ikan lele. Masih banyak lagi yang lain yang bahkan tak kuingat apa namanya. “Ember raksasa” itu pun sepertinya ikut nyumbang kesejukan di halaman belakang rumah kami.

Ketika masih kecil dulu, setiap sore,  aku dan kakakku suka sekali memberi makan ikan di kolam itu.  Kami menebar dedak segenggam demi segenggam dengan tangan-tangan mungil kami.

Betapa asyiknya melihat dedak itu pelan-pelan menyebar semakin melebar lalu akhirnya memenuhi permukaan kolam. Ikan-ikan yang kelaparan berebutan melahap dedak itu, membuat suara kecipak air dan gelembung-gelembung kecil. Polah ikan-ikan itu menimbulkan lingkaran gelombang demi gelombang yang berlomba-lomba  merambat ke tepi lalu membentur dinding kolam, berbalik arah, akhirnya hilang karena nabrak gelombang yang lain..

Aku dan kakakku suka sekali melonjak tiba-tiba dan berteriak, mengagetkan ikan-ikan malang itu. “Hiyyaaa!!”

Bleeep!!

Sekejap ikan-ikan itu menghilang ketakutan. Lalu pelan-pelan sekali, ikan-ikan itu muncul lagi, ragu-ragu, namun sepertinya, dedak itu terlalu menggiurkan untuk dibiarkan begitu saja. Langsung saja mereka kembali lahap menyerbu serbuk kekuningan itu.

Kadang-kadang kami melempar gerombolan ikan dengan kerikil sehingga ikan-ikan itu cepat-cepat kabur dengan panik. Aku dan kakakku tergelak-gelak. Uh, nakal sekali….

Tapi, suatu sore, kami terkena batunya. Seperti biasa, setelah mandi, aku, kakakku dan papa berjongkok di tepi kolam untuk memberi makan ikan. Papa memang selalu menemani dan mengawasi kami selama kami memberi makan ikan-ikan itu.

Tiba-tiba, sreett! Aku terpeleset. Refleks aku menyambar kakakku yang terdekat denganku guna mencari pegangan. Hampir berbarengan kami kehilangan keseimbangan. Tak kuingat siapa mendahului siapa.

Byur! Aku sukses terjungkal ke kolam.

Byur! Kakakku kecemplung.

BYUR!! Papa juga tercebur.

Rupanya, papa yang hendak meraih tangan kakakku, terpeleset dan ikut tercebur tanpa ampun.

Entah bagaimana persisnya, yang aku ingat, papa telah meraih kami berdua, membawa kami di tangan kiri dan kanannya.

Bertiga kami basah kuyup. Megap-megap. Papa sempoyongan mencoba berdiri ditengah kolam sambil menggendong kami, pelan-pelan menuju ke tepi. Mama datang tergopoh-gopoh. Diterimanya kami berdua dari tangan papa.

Huuaaaa….!!

Aku nangis, kaget dan ketakutan. Perih menusuk-nusuk hidungku karena kemasukan air. Sudah pasti menelan air dan sedikit serbuk dedak. Terpaksa mama memandikan kami lagi.

Barangkali, ikan-ikan itu gantian terbahak puas melihat kami, “Rasain luu….”.

***


Kami semua empat bersaudari, pernah merasakan kecemplung di kolam itu. Adikku si nomer tiga, pernah terpeleset, terbentur dinding kolam dan nyemplung di kolam mengakibatkan luka goresan berdarah di lutut dan kakinya.

Saat aku kelas 5 SD, suatu sore, aku tengah asyik membaca buku. Seperti biasa, aku terbius bacaanku, tak lagi peduli hal lain di luar bukuku. Aku tak mengerti, tiba-tiba saja aku kangen sekali pada adik bungsuku. Maka kucari si kecil berumur tiga tahun itu di kamar mama. Tak kulihat adikku di situ. Aku pun mencarinya  di belakang rumah.

Kulihat adikku tengah bermain di dekat kolam. Rupanya, dia kabur dari kelonan mama dan memilih bermain sendiri. Aku ingat persis, sore itu dia memakai sweater berwarna hijau cerah.

Aku mengenal dengan baik sweater rajutan itu, sebab aku pun pernah memakainya ketika masih berumur tiga tahunan. Bagian dada sweater itu bersulamkan kuda-kuda putih kecil berlatar belakang merah. Sweater itu dilungsurkan kakakku padaku, kemudian kuwariskan pada adikku. Dari adikku, diturunkan lagi pada si bungsu. Aku pernah sangat menyayangi benda itu saat menjadi milikku dulu, karena aku suka pada kuda-kuda kecil itu.

Ooo…..Rupanya adikku sedang asyik bermain dengan sebuah panci aluminiun bekas, jadi kubiarkan saja dia terus bermain. Aku tak ingin mengganggunya. Jadi kutinggalkan adikku hendak melanjutkan membaca.

Di bengkel kerjanya, papa tengah sibuk berkreasi. Entah apa yang dibuatnya. Ribut sekali suara martil papa.

Dak! Dok! Dak! Dok!

DOK! DOK!

Bising tak terkira.

Klang! Kleng! Klang! Duengg!!!


Suara gerinda penghalus logam ikut menimpali.

Tringgg….riiieeeett…..rieeeeeetttt……………

Suaranya melengking tinggi menyiksa gendang telinga.

Deuhhh…..

Aku bergegas  masuk rumah, ingin sesegera mungkin mencari tempat yang lebih tenang, sebab benar-benar nggak nyaman membaca di dekat sumber suara yang memekakkan begitu. Serasa jantungku ikut meloncat dan berontak mendengar hantaman martil papa.

Sesaat kemudian, diantara segala kebisingan suara alat-alat pertukangan yang sangat heboh itu, sepintas rasanya aku mendengar bunyi “pyuk!”

Halus sekali. Tipis. Tak meyakinkan. Nyaris tak terdengar. Terbayang olehku, pastilah itu suara panci aluminium yang dilempar  adikku ke permukaan kolam.

Namun begitu, entahlah, aku tergerak kembali menuju kolam. Adikku tak terlihat.

Serr….dadaku berdesir.

Cepat-cepat aku berjalan. Dan

YA TUHAN!!

…sweater hijau itu….

……mengambang di tengah kolam……

Adikku tertelungkup. Kepalanya setengah terbenam. Kaki dan tangannya menjuntai di dalam air,  diam tak bergerak. Tubuhnya mengapung seperti boneka, dan rambutnya mengembang menari-nari dipermainkan riak air. Aku tercekat.

Sudah berapa lama dia terapung begitu?!??

Jangan-jangan….. adikku…..

Aku ingin menghambur masuk kolam dan menyelamatkan adikku. Terlalu kaget, aku mengejang tak mampu bergerak. Tanpa sadar, aku histeris memanggil-manggil adikku. Keras sekali teriakanku, melengking mengalahkan loud speaker masjid kampung.

Dentam martil terhenti.

Kulihat papa berlari kencang sekali, tanpa berhenti. Tanpa ancang-ancang dan tanpa perhitungan, papa langsung melompat, terbang di atas kolam…

GUABYUUUUURRR!!!!

Dahsyat sekali suara air dihempas badan papa. Papa meraih adikku, lalu dibawanya ke tepi kolam.

Dijungkirkannya adikku agar air mengalir keluar. Mama yang terbangun mendengar teriakanku, lari tergopoh-gopoh lalu menerima adikku dari tangan papa dengan penuh kekhawatiran.

Hhhh…..memilukan…

Tak tahan aku melihat kondisi adikku. Air menetes-netes dari tubuhnya. Rambutnya kuyup layu menempel di wajahnya, matanya merah pekat, megap-megap, terbatuk-batuk, tersengal, tersedak dan terisak kepayahan berebutan mengambil udara dan sekaligus menangis, tangannya memeluk mama dengan gemetar…

Aku berharap aku bisa menggantikannya saat itu.  Biarlah aku yang merasakan semua. Tuhan!! Jangan adikku! Tunjuklah aku!!

Aku sangat lemas. Lega. Adikku masih hidup. Aku gemetaran luar biasa.

Beberapa tetangga yang mendengar teriakanku bela-belain memanjat pohon di luar tembok halaman belakang, melihat apa yang terjadi.

Mama memarahiku karena teriakanku menggegerkan seluruh penjuru kampung hingga ke sudut-sudutnya. Aku sangat kaget atas reaksi mama, sedih dan marah. Tapi aku tahu, sebenarnya mama tak bermaksud demikian. Mama tentu amat panik dan terlalu kaget terbangun mendadak dari tidur siangnya. Kebetulan saja sasarannya adalah aku.

Papa hanya memandangku tanpa bicara. Aku tahu persis, ada penyesalan di mata papa: mengapa aku tak dapat menguasai kepanikanku?

Aku geram sekali pada belasan kepala yang nongol di atas tembok halaman belakang. Aku ingin teriak tapi tak berdaya. Pergiii!!! Ini bukan tontonan, tauuk?!

Sialnya, mereka justru nangkring di atas tembok, berdiskusi tentang apa yang baru saja terjadi. Uuurgh!!

Bingung, marah, malu, lega, sedih sekaligus kecewa, aku pergi, sekuat tenaga menahan tangis di kamar mandi. Terlambat sedikiiit saja, tak tahu lah apa yang akan terjadi.

Jika kuabaikan instingku, barangkali si bungsu jenaka berlesung pipit itu telah tenggelam dan pasti akan kusesali kejadian itu selama sisa hidupku. Tapi apa yang kudapat?

Haloo?? Tidakkah ada sedikiiiiit saja terima kasih untukku?

Ketika aku keluar dari kamar mandi, mama di sana, hendak memastikan bahwa aku baik-baik saja. Mungkin mama hendak minta maaf telah membentakku. Pasti mama melihat sisa tangisku.

Tapi, aku menghindari mama.

Aku bergegas masuk rumah, bersembunyi dari tatapan kepala-kepala yang masih juga penasaran di atas tembok itu.

Aku menolak membahas peristiwa itu. Dan itu luka untuk batinku.

Yang teringat olehku sepanjang malam itu aku masih terus berdebar-debar. Sepertinya, mataku lama-kelamaan melotot dan terus menerus berpendar-pendar. Mungkin itulah yang disebut nanar. Telapak tanganku selalu basah berkeringat. Aku terus diam bila tak ditanya. Aku begitu terguncang.

Tak ada yang menghiburku. Tak ada yang mengerti perasaanku.

Nada keras mama dan tatapan tajam papa benderang jelas dalam otakku. Belasan pasang mata yang memandangku benar-benar meremukkanku dalam rasa malu amat sangat.

Rasa sedihku terlalu dalam untuk kurasakan sebelia itu, sendirian. Aku telah membuat papa dan mama malu di hadapan tetangga dengan teriakanku.

Namun begitu, egoku yang hancur terluka, menolak meminta maaf pada papa dan mama. Aku menyesal. Sangat amat menyesal telah bertindak “bodoh” begitu.

Beberapa tetangga yang datang menanyakan hal tersebut dengan bermaksud baik memberi perhatian dan simpati, justru menambah rasa bersalahku semakin dalam…

Anak-anak kampung sialan itu, mengolokku, menirukan teriakanku dengan seringai nakal yang berlebihan. Lebay….

Aku sangat ingin lenyap. Dan tak ingin kembali.

***

Itu adalah teriakan paling dahsyat yang pernah kulakukan. Untuk pertama kali. Dan hingga kini, itu pula yang terakhir. Sebab, aku tak bisa lagi spontan berteriak keras. Setiap kali aku ingin teriak, selalu ada yang menyumpal kerongkonganku, melemparkanku dengan bengisnya pada sore kelabu itu, menenggelamkanku dalam ingatan akan kubangan rasa malu yang hampir tak sanggup kulewati.

Sejak sore itu, aku belajar mengubur perasaan terdalamku…

Tapi kusadari betul dengan segenap kewarasanku yang masih tersisa, papa sanggup mengorbankan apa saja, rela melakukan apa pun, bahkan mengorbankan nyawa untuk keselamatan anak-anaknya.

Tuhan benar berkarya!

Meskipun cara-Nya sangat aneh. Dengan tiba-tiba, DIA meniupkan kerinduanku pada adikku, lalu DIA berbisik seperti panci aluminium penyok mencium air. Kenapa  ya, Tuhan tak mengirim firasat dengan pertanda  pecahnya gelas atau jatuhnya pigura hingga berkeping? (ih, dasar Nana konyol. Masih sempat-sempatnya ingin mencela sinetron payah itu!)

Ah, ya….Gadis cilik penerima estafet sweater hijau yang terakhir itu, kini menjelma menjadi dara jelita penuh pesona. Hmmm..siapa sangka?

Mungkin, dia tak lagi ingat kejadian sore itu. Atau barangkali, sore itu berlalu dengan kesan istimewa dalam kenangannya. Entah…..

Sebenarnya, aku tak ingin menangis. Tapi sial, airmataku sedang tak bersahabat. Ia bergulir begitu saja mengancam akan jebol. Aku tak bisa mengungkapkannya dengan lebih indah lagi. Jemariku bergetar ketika menuliskannya.

Sesungguhnya, superhero yang melayang di atas kolam itu, tak bisa berenang….

***

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Special Ones and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Flying Superhero

  1. albertobroneo says:

    i think you were the real “screaming hero”!!
    be proud of it!!

    so nice post

    • nanaharmanto says:

      Thx Bro…

      it’s hard to forget the accident…
      somehow, it reminds me that I have so many blessings in my life…

  2. krismariana says:

    Na, pas aku ke rumahmu di Muntilan, apakah kolam itu masih ada? Aku kok lupa ya?

    Kejadian itu pasti mengguncang Nana kecil ya?

    • nanaharmanto says:

      ada kok, di belakang rumah. sampai sekarang juga masih ada. yang aku ingat si Singkong dan Era yang nyemplung di pinggiran, abis itu kita maen ke kali. dan mereka heran ngeliat air yang masih sangat jernih..hoho..anak kota…

      iya, Nik, setelah aku SMP akhir, aku baca suatu artikel. saat itu baru tau, gejala-gejala yang kualami itu yang disebut shock. wah, aku malah heran…kupikir “shock” hanya dialami oleh orang-orang dewasa..hehe..

  3. Emak Bawel says:

    Sesungguhnya, aku bersyukur bahwa kau berteriak sekencang2nya saat itu. Puji Tuhan..
    Meskipun reaksi orang2 di sekitar saat itu sepertinya tak sepaham denganmu.
    Aku juga pernah panik mencari Mama sore2, saat biasanya dia ada di rumah. Tahu tempat yang kutuju? Kolam itu.
    Kayaknya, kita semua pernah ‘dibabtis’ di kolam itu, ya…
    Tapi kolam itu juga pernah menjadi blumbang terindah di kampung, dengan bakung2 putih di tepi2nya, dan bebek2 putih yang diseleksi ketat oleh Bu Sum-hanya yang putih yang boleh berenang2 di sana!
    Mungkin ‘pembabtisan’ itu memang untuk mengingatkan emak2 (emak Ellen dan Suryo): jangan lengah kalau anakmu main2 dekat kolam!

    With Love,
    MC

    • nanaharmanto says:

      ah ya…..bebek-bebek putih itu…dan bakung tentu saja…sudah tertulis di (calon) posting yang lain…

      kayaknya memang harus waspada terus ya kalau ada anak-anak kecil yang belum ngerti bahaya..

      korban terakhir yang kecemplung adalah…Mbah Siti…
      untung gak apa-apa..

  4. eL. says:

    Co cit bgt to km mb?pst ciklan snang pny mb ky km!hi3(sakjanè ak meh h0wek2,tp ben mdramatisir.ha3)ak pnh dgr crt ni dr ciklan,tu asl muasal dia jd tkt renang to mb?
    Mo blg ma mbNa2,NWUN da nl0ng ciklan:) cb klo mb na g triak lebay pst ak g akn pnh ktmu ciklan.ha3,lebayna ak.
    U’re superher0 sisT!

    • Cik Lan says:

      Kak Elleng…..hahahaha..ternyata kau begitu mensyukuri kehadiranku di hidupmu ya….hahahaha..(pedhe bgt gw Browh….) Thx bwt comment-mu di atas…co cwiiit….hahahaha…

  5. nh18 says:

    Nana … !!!

    Ini tulisan bagus sangat …
    Saya suka …

    Ada banyak perasaan campur aduk didalamnya …

    You are a talented writter Na …
    Talenta menulis kamu luar biasa
    (I mean it …)

    Salam saya …
    NH18

    • nanaharmanto says:

      waaaa…….
      sekali lagi saya tersanjung…terimakasih ya Om…

      aduh, kepala saya berrratt….ow..ow..ow…

  6. perasaanku teraduk-aduk membaca ini. sempat pas ditengah-tengah aku tanya Kris dulu (Kris, akhirnya selamat ga adiknya? hehehe)

    Na, you are realy hero. Kalau kamu ga teriak waktu itu, mungkin ceritanya bakal jadi lain. Aku paham dengan rasa malumu..gak terimanya perasaanmu atas perlakuan yang “tidak senonoh” hehehe..
    tapi aku bener-bener salut dengan cara Tuhan yang unik dalam menyelamatkan adikmu.

    Baguslah kalo kamu jadi sulit teriak, jadi nanti pas ngajari anak2mu kamu bisa kalem habis..

    • nanaharmanto says:

      thanks ya Mbak…akhirnya ada yg ngerti perasaaanku hehe..mbak Riris dimana sih waktu itu? kan aku bisa langsung curhat hihi…

      Tuhan emang ajaib ya?

  7. Kartiko says:

    Terima kasih untuk tulisannya Mbak Nana, dan saya sepakat dengan Om NH18.

  8. vizon says:

    waw.. banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini Na…
    pertama, berhati-hati dengan kolam belakang rumah, kudu dikasi pagar, biar anak2 gak nyemplung tanpa diketahui,
    kedua, hargai setiap yang dilakukan seorang anak, meski itu akan memalukan si orangtua
    ketiga, jangan pernah segan untuk mengulurkan tangan, meminta maaf, kepada siapapun…
    keempat, belajar berenang… *yg ini terkhusus untuk saya*😉

    • nanaharmanto says:

      wah, Uda…terima kasih utk pelajaran2 dari Uda…
      anyway, pelajaran nomor empat ituh…saya juga gak bisa…hehe..

  9. yessymuchtar says:

    saya cuma mau bilang…saya selalu menikmati semua tulisanmu, mbak🙂

    runut dan detail.

  10. Bagus mbak !🙂
    walaupun agak panjang..
    but nice….
    jujur banget.
    Kalo gue, beuuuh kayaknya gak bisa sejujur ini hehehe

    • nanaharmanto says:

      thanks mbak atas pujiannya. iya emang agak panjang. tadinya mau kubikin 2 bagian. tp setelah kupikir2 kok “jiwa”-nya jadi ilang…ya udah, ter-posting-lah sedemikian seperti awal kutuliskan kisah ini..

      sekali lagi terima kasih ya sudah mau membaca postingan yg panjang ini hihi…

      nana

  11. Ikkyu_san says:

    Na, aku paling takut air, tapi juga memimpikan punya rumah di atas kolam cetek. Mungkin karena obsesi air itu, dulu aku sering bermimpi berenang sampai terengah-engah di kolam yang dalam sekali.

    Dan aku tahu di bawah sadarku, aku takut jika anak-anak nyemplung ke kolam dan …. mati…seperti isi film “Banyu Biru”. Padahal aku tidak pernah mengalami peristiwa mencekam ttg kolam seperti Nana. Dan aku bisa membayangkan betapa traumanya Nana…mungkin sampai sekarang. Itu sebabnya juga aku sulit untuk menuliskan komentar di postingan ini, meskipun sudah kubaca berkali-kali.

    Aku cuma bisa berharap, Nana bisa berteriak lagi pada saat dibutuhkan, dan seribu rasa di bawah sadar Nana bisa berangsur hilang.

    Ini juga sebuah pelajaran bagi orang tua, untuk tidak memarahi anak yang takut, berteriak, menangis atau berbuat salah…. peluk dia… dan nyatakan bahwa kamu mengerti perasaannya. Kebanyakan orang tua tidak mau mengucapkan maaf, tidak mau mengakui kesalahan, tidak mudah mengucapkan terima kasih dan tidak terbuka pada anak-anaknya. Entahlah mana yang baik, tapi aku tahu aku lebih senang menjadi teman untuk anakku, daripada menjadi mentor/guru.

    EM

  12. nanaharmanto says:

    mbak, sampai sekarang aku nggak bisa berenang. dan mungkin itu juga bagian dari “trauma’ ku pada kolam…

    pernah aku tinggal di mess guru di sekolah, di belakang mess itu ada kolam renang. entah kenapa, aku tak tahan melihat anak2 TK dan murid-murid SD-SMA menjerit-jerit girang di kolam renang itu. aku hanya tahan tinggal di mess itu selama 2 minggu. setelah itu aku memutuskan untuk pindah, kost di rumah yang jauh dari kolam..

    terima kasih untuk sharing-nya ya mbak, jadi tambah ilmu kalau kelak dipercaya jadi orang tua.

    tau nggak mbak Imel, aku tetap mencintai kolam di belakang rumahku itu..
    ini bakal jadi postingan baru hihi…

    salam,
    nana

  13. Melania Setyorini says:

    Dear M’Na:
    Bergetar rasanya membaca setiap kata dari tulisanmu…kadang ada beberapa tetes air mengalir…tapi lesung pipit ini juga ga mau kalah unjuk gigi..hehehehe…
    waaahh…baru hari ini aku sadar yen ternyata peristiwa beberapa menit itu membekas dalam buatmu….
    Pertama: terimakasih buat teriakan heroicmu sore itu…kalau kamu gak berteriak mungkin adik bungsumu yang sekarang menjelma jadi gadis cantik jeliteng dan mempesona ini, tidak akan pernah sempat memamerkan pesonanya…(hahahaha…semoga kamu ga nyesel pernah menyelamatkan aku…hehehehehe…)
    Kedua: berteriaklah…tidak harus dengan suara melengking dari pita suaramu itu, tapi dengan hati lembutmu, kepekaan dan kecerdasan otakmu….berteriaklah untuk menyelamatkan bungsu2 lain bangsa ini….negri ini butuh kakak2 sepertimu…biarlah tetangga mencuri tari pendhet dari kita (ora nyambung…. hahahahaha)….biarlah orang mau berkata apa…maju terus pantang mundur….
    Ketiga: ini kali pertama aku membaca tulisanmu (adik ra berbakti..telat banget yo?) hehehe…maap2…tapi salut…kalo aku bukan bagian dari cerita ini mungkin aku akan mengira sang penulis adalah Fira Basuki, Ayu Utami, atau si Jenar…serius…
    Keempat: mungkin kita sekeluarga harus belajar renang…or bwtku: cari suami yg bisa renang..hehehehe..ben yen aku kecemplung meneh kowe rasah bengok2 seko Pare2 ( kayal deh aku..) moga2 sih ga lagi deh….paling tidak aku wis tau tenggelam 4x seumur hidupku..ga mau lagi deh….
    Kelima: Sang kolam itu juga pernah berbagi kebahagiaan utk anak2 PIA sak lingkungan di acara Paskah…iwake dipancingi sak kayange..untung gak ada yg kecemplung….
    Keenam: Thx 4 being a very nice sister 4 me….whuaaa..gak tau mau mbales gimana…..God bless you always….
    Ketujuh: Papa is a real hero…..

  14. albertobroneo says:

    ini comment apa postingan yach.. panjang amat he..he.. piss cik lan

  15. sister_3rd says:

    such a touching story…. I wish I knew your feeling…
    actually, there were two superheroes, flying superhero and screaming superhero….
    Thanks sis, to be our superhero…. we’re here for you…

    oya, kayaknya kolam itu emang jadi mgnet bagi tah-tah (versi omdhe), atau emang ada yang mbaurekso? the king cat fish alias lele segedhe gaban? don’ forget anake mbak iin jg ikut merasakn nikmatnya “mandi” at the mbaran pool….

  16. Ade says:

    setuju ma sister_3rd.. you’re a creaming superhero indeed

  17. Pingback: Sarang Merpati « sejutakatanana

  18. oon says:

    mbk Nana…
    terimakasih udah teriak sekuat2nya…
    kalo nggak, aku mungkin gag kak ketemu sama sahabat baikku…
    tentu aja sahabat baikku itu msh inget kejadiannya…
    bahkan sampai saat ini di toh msh takut berenang…
    baru 1x aku liat lani berenang… waktu di salatiga… senangnya aku bs bw dia turun ke kolam!!!
    selain Om Harmanto, kamu juga pahlawannya…
    two heroes… that supported each other to save my best friend!

    btw, tulisanmu bagus lho mbk…
    bs menggambarkan keadaa se”REAL” mungkin…
    mungkin bs dijadikan hobbie dan sumber pendapatan? lumayan lho…
    sayang kalo bakat spt ini cman dipendem… mungkin ini bisa jd salah satu kendela dan pintu hati untuk mengungkapkan isi hati mbk…

    5 jempol bwt mbk!
    hee…..

  19. Ndax says:

    Waa….oon…km dah baca juga….he8…thx on…
    thx for everyone esp. mbk na2 n papa who enabled me to meet, get closed and have such a best friend like you….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s