Petasan

Bulan puasa yang dinanti-nanti umat Muslim akhinya tiba.

Aku tidak berpuasa. Tapi jujur saja, kadang aku ikut merasakan asyiknya ngabuburit, lalu ikut juga membeli jajanan untuk berbuka.

Tapi, aku tak suka satu hal ini. Mercon. Petasan. Atau apapun namanya yang jedar jeder itu. Sangat menganggu ketenangan dan kenyamanan. Mengagetkan! Jangankan petasan, melihat balon yang tengah ditiup pun aku sudah ngeri duluan. Takut balon itu meletus, lalu aku akan kaget dan jantungku pun berdebar-debar tak karuan. Menyebalkan…

Minggu sore lalu, aku dan suami mencoba melihat suasana ngabuburit di kota tempat tinggal kami. Muda-mudi berboncengan naik motor,  keluarga membawa anak-anak membeli jajanan bukaan puasa. Banyak pula yang sekedar duduk-duduk di tepi pantai.

Kulihat seorang bapak meletakkan sebuah meja di pingir jalan. Lalu anak-anaknya berdatangan. Masing-masing membawa  toples plastik berisi jagung rebus, manisan nanas, manisan ceremai dan manisan kedondong. Yang terakhir datang adalah sang ibu, membawa keranjang kecil.

Ow..ow…rupanya keluarga ini berjualan. Aku sempat terharu. Meja sebesar itu tampak agak sepi dari barang dagangan. Empat toples itu saja dagangan mereka. Kuperkirakan tak sampai limapuluh ribu hasilnya. Sebenarnya, aku ingin membeli, barangkali aku bisa sedikit berbagi rejeki.

Dua tiga anak mulai membeli. Jagung rebus. Manisan nanas. Dicocol garam pedas. Asyiklah mereka menikmati jajanan itu.

Anak-anak lelaki yang lain mengerubungi meja itu tanpa membeli. Kulihat wajah-wajah mereka tak sabar.

Astagaahh….itulah yang mereka tunggu dari tadi! Si ibu mulai dengan keranjang kecilnya. Dibukanya plastik-plastik pembungkus benda dalam keranjang. Anak-anak semakin ribut….lembar demi lembar uang seribuan ditukar dengan benda kecil dari dalam keranjang. Pikirku, oh, permen lezat mungkin??

Sedetik korek api menyala. Lalu dueeer!!!  TZZAAR! …der…der….der!!

Anak-anak itu tertawa girang dan heboh berhamburan. Seketika aku pengen mengumpat. Mercon!

Dooohhhh…..,

kusangka ibu itu jualan permen, tiwas aku trenyuh betapa sederhana dagangan mereka…jebul…….dia jualan petasan!! Sirnalah iba-ku. Gregetan. Toples-toples itu hanya kamuflase?? Aku merasa tertipu dengan sangat konyol…….

Lalu datang seorang remaja tanggung. 14 tahunan mungkin. Dia membeli banyak petasan dari ibu itu, lalu tak henti menyulutnya.

Dar! Der! Dor! Lagi dan lagi….uh, sebelnya…

Tak jelas remaja ini sinting, bengal, tak normal atau sekedar cari perhatian. Dia melempar petasan itu pada gadis-gadis remaja yang lewat, hingga mereka terbirit-birit. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.

Taukah Sodara?

Dia melempar sebuah petasan ke kolong meja tempat jualan ibu itu. Sebelum petasan itu meledak, si ibu terpaksa buru-buru menyelamatkan diri.

Remaja itu, melempar segerombolan anak-anak dengan petasan.

Hasilnya?? Anak-anak berhamburan panik. Ke tengah jalan, Sodara…..tengah jalan raya….dengan motor, mobil dan truk-truk besar seliweran…..

Aku gemas. Getem-getem. Pengen rasanya njewer remaja itu. Tak sadarkah bahaya yang ia sulut? Tak cuma sekali. Dia mengulang lagi. Bertubi-tubi. Orang dewasa di sekitar diam saja, seolah sudahlah hal biasa. Makin membaralah aku. Kenapa mereka diam sajaaa?? Apa harus nunggu kejadian yang lebih mengerikan?

Tak habis pikir aku. Remaja ituuuhhhh

Kenapa tak bersiap-siap taraweh aja?

Kenapa merusak ketenangan bulan yang suci ini?

Kenapa mengganggu orang lain?

Kenapa ngabisin uang hanya untuk suara yang jelas tak indah jedar..jeder???!! mubazir….

Kalau yang terganggu sampai mengumpat mengotori puasanya, dia ikut dosa juga dong??

Remaja itu nggak konsisten. Tak sportif. Pengecut belaka!

Sebab setelah dia lempar petasan itu, dia menjauh, menutup telinganya. Dia tak mau mendengar suara yang dia “beli” tadi. Lalu dia tertawa puas melihat orang lain terbirit-birit.

Hey!! Bukankah ini yang namanya teroris?

Teroris kecil, kelas kampung, tak sudi  melihat ketentraman…

Barangkali teroris kelas kakap yang suka ngebom itu berawal dari sini..

Kegirangan main petasan dan menikmati jerit panik  ketakutan..

Tak ditegur, tak pernah diperingatkan…

Aku masih bisa mentolerir petasan dalam kondisi tertentu yang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam tradisi kawinan Betawi, selalu ada serentengan petasan. Tapi para undangan berdiri pada jarak yang aman…

Tidak dilemparkan langsung pada orang begini!

Aku sudah siap-siap. Sekali dia berani melempar petasan ke arahku, dia akan ngadepin singa betina yang murka.

Segera kuajak suamiku pergi dari situ, sebelum petasan dalam diriku meledak lebih dahsyat.

Maafkan……aku masih bersungut-sungut dan mengomel. Masih gemas juga, kenapa sih ibu itu jualan mercon? Pak RT-nya mana, Pak RW-nya kok cicing wae?

Suamiku lebih adem, dia hanya bilang begini.

“Apa sih untungnya main petasan? Apa enaknya?  Kalau dia memang suka bunyinya, beli aja mercon, taruh dalam kaleng, masuk kamar, tutup dan kunci pintunya, nyalakan mercon di dalamnya. Selamat menikmati!!”

Singa betina itu pun ngakak dan mulai menjinak……tapi tetap tak habis pikir……

***

Kalau Anda, terganggu bunyi mercon juga?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Petasan

  1. Ikkyu_san says:

    aku? terganggu banget!!!

    jadi ingat aku dulu pernah suka pada kakak kelas di SD (fuih SD udah pake naksir-naksiran).
    Orangnya memang keren, badannya gede…dan nakal. Nah, suatu hari dia datang ke sekolah dengan perban di tangan kiri. Jarinya tengahnya hilang! Rupanya dia main petasan di dalam mobil, maunya dia lempar dari mobil ke luar lewat jendela. Tapi petasan itu keburu meledak di tangannya. Sesudah kejadian itu aku ngga respect deh sama dia lagi. Untung tidak mecelakakan orang lain. Rasain diri sendiri menanggung akibatnya.

    Mending main kembang api Na… Indah deh kembang api di Jepang. Ada yang namanya senkou hanabi, sinarnya indah dan kalem.

    EM

    • nanaharmanto says:

      setuju Mbak Imel, suaranya mengganggu banget…
      aku nggak pernah respek sama orang yang suka main petasan. jujur aja, aku kadang berpikiran jahat. semoga sesuatu terjadi hingga membuatnya kapok, jera selama-lamanya…

      emang mendingankembang api ya? aku suka tuh…kembang api yang sinarnya indah dan kalem? belum pernah liat…ntar aku coba liat foto2nya om gugel ada atao nggak….-senkou hanabi…..ngapalin-

  2. nh18 says:

    Mercon …
    Aku sih bagaimana peruntukannya saja …
    Adat di Betawi ini selalu memulai perhelatan perkawinannya dengan petasan …
    And everybody menikmatinya … karena ini tradisi …

    Tetapi kalau seperti yang diceritakan diatas … itu sih … cemen sangat … konyol …

    Dan asal tau saja Na …
    Juga di Jakarta ini … dua kampung bisa saling tawuran hanya gara-gara perang mercon ini …

    Dan kalau sudah begini …
    Hakikat puasanya entah ada dimana … ???
    (prihatin …)

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      iya Om…waktu saya tinggal di mBetawi dulu, tiap ada kawinan, pasti pake petasan. memekakkan telinga sih, tapi nggak sampai 5 menit. abis itu a nggak dar der lagi. dan aku masih sanagt bisa menghargai tradisi itu.

      tapi kalau sengaja mengganggu dan mengancam keselamatan orang lain, wuhhh…bisa naik pitam saya…

  3. krismariana says:

    Ya, aku juga kesal dengan bunyi petasan yang dar der dor itu! Huuh! Aku tak tahu apakah orang2 yg menyalakan petasan itu tak tahu indahnya kesunyian, ya?

    Menurutku yang harus “dihajar” tuh bukan anak yang menyalakannya, bukan pula penjualnya. Tetapi pembuatnya! Dialah yang harus dihukum kurasa. Kenapa? Pengusaha yang membuat petasan itu pasti punya modal, punya kemampuan lebih dibandingkan orang2 sederhana yang mungkin kampungan dan bodoh. Tetapi apa yang dia lakukan dengan modal, uang segepok, dan kuasa yg dia miliki? Justru membuat barang yang tidak berguna. Menyebalkan betul melihat orang2 yang seperti itu. Pengen tak ceburin Sungai Babilon! *Pssst, yg tahu Sungai Babilon tuh kali cuma kita sama Bro Neo ya? Hihihi*

    • Ikkyu_san says:

      eits …aku juga termasuk ngga?

      By the rivers of babylon. Where he sat down. And there he went. When he remebered zion \:d/\:d/ joget ala Boney M

      EM

      • albertobroneo says:

        i don’t think so mbak EM,
        ayo.. yg menjiwai sungai babylon yg memberi penjelasan😀

      • nanaharmanto says:

        hehe…Babilon itu saksi para penghuni asrama yg tengah mabuk asmara yang nggak peduli dengan ledakan mercon asal bisa ketemu pujaan hati..hihi…

      • nh18 says:

        Boney M ??
        ikutan jogad aaaahhh …

        (ini jaman dulu sangat …)(1979 … aku lekas 3 SMP)
        hahaha …

        Satu lagi lagunya adalah …
        Brown Girl in the ring … sya la la la la …

    • nanaharmanto says:

      setuju Nik, pembuatan mercon harus diawasi dan dibatasi. penjualannya juga terbatas aja, misalnya hanya utk keperluan acara adat dan tradisi.

      eeh…jangan cemarin Babilon dgn pembuat, pengedar dan penyulut mercon dong…itu sungai yang sakral jeh…

  4. albertobroneo says:

    kmarin sempet ada berita, kebakaran besar terjadi gara-gara petasan!!!

    btw gw suka cetusan kris… indahnya kesunyian🙂

    • nanaharmanto says:

      miris ya Bro…pasar terbakar, pemukiman penduduk hangus…jutaan harta hilang, hanya gara-gara petasan…

      kenapa di bulan puasa selalu ada kejadian begini?
      *gumun, heran, geleng-geleng*

  5. krismariana says:

    @Mbak Imelda: Mbak, Sungai Babilon itu nama yg yg diberikan oleh anak2 Asrama Syantikara untuk sungai yang membelah asrama. Hehehe. Kalau pas musim hujan, kadang deraaas sekali. Aku sendiri kurang tahu apa sebetulnya nama sungai itu. Katanya masih nyambung dengan Kali Mambu… (Itu nama sungai yg ada di Jogja juga, Mbak)😀

  6. AFDHAL says:

    gak suka mercon
    ngagetin,..apalgi akyu kan rodo-rodo latah,…
    ganggu banget tuh:)

  7. ayh-kbr says:

    Dulu sebagai pengganti kembang api, Sang Merpati Tua buat ‘telelontongan’, tas kresek yang diisi kertas trus diikat kecil diuntai, digantung di dahan lalu dibakar. Tetesan api dari plastik yang terbakar cukup memukau dara-dara cilik. ha..ha… Kadangkala merpati jantan mengisi dengan serbuk besi bekas gergajian sehingga apa percikan layaknya kembang api.

    • nanaharmanto says:

      hahaha….papa masih ingat ya?
      dulu hiburan sangat murah meriah ya? sekalian bakar sampah…hihi…
      tlontongan versi besar, yang untaian mungil desebut ritiritido…semua awalnya karangan dara sulung. trus Bu Sum membantu wujudkannya. sedari siang sudah dijemur biar kering dan nggak mejen…

      pernah juga tlontongan dan ritiritido diarak keliling kampung dan ngumpulin anak-anak lainnya…ditambah garam juga tuh Pa, untuk efek suara “pretik-pretik…”

      hahaha…kapan yuk bikin lagi, kalo piyik-piyiknya (Suryo dan Ellen) ikut ngumpul…

      sweet memory, Papa…

  8. Ade says:

    ga suka mercon.. sukanya kembang api hehehe..

  9. albertobroneo says:

    kalo aku suka oseng-oseng mercon (*jd ngile nehhh!!!*)

    itu tuh, oseng-oseng yang cabenya lebih banyak dari dagingnya.. yummy.. (*meskipun megap-megap*)

  10. arief wibowo says:

    ha…3x dulu saya pernah bikin mercon ditambah garam loh…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s