Sarang Merpati

Apa yang ada di benakmu ketika membaca judul tulisan ini? Sebuah sarang merpati yang kumuh, penuh kotoran burung dan bulu-bulu yang rontok? Atau sarang dengan penuh lubang di mana setiap lubang hanya ada sepasang merpati?

Hmmmm….mungkin kau pun sudah tau, ini hanyalah kiasan belaka. Ya, sarang merpati ini julukan yang kuberikan pada rumah orangtuaku, dimana aku tumbuh dan berkembang di dalamnya. Aku sangat mencintai rumah ini. Bertahun-tahun ia melindungiku dari terik matahari, pekatnya malam, dinginnya angin dan derasnya hujan. Di rumah itu pula kusembunyikan cinta monyetku yang kandas, asamnya kasih tak sampai dan kisah asmara konyol. Rumah itu pula yang menjadi saksi saat aku pedih tercabik menenggelamkan segala rasa dan haru biru.

Rumah itu indah? Megah? Kinclong, begitu?

Hahah….jujur saja, jauh dari rumah gedong megah nan kinclong!

Rumah itu sangat sederhana. Bentuk awal dan utama sebenarnya adalah rumah tradisional Jawa.

Model rumah ini disebut “Dara Gepak” (baca: doro=merpati). Artinya kurang lebih burung merpati yang mengepak mengembangkan sayapnya. Ciri khas rumah model ini adalah atap limas dan teritisan di kedua sisi sayapnya. Ciri lainnya, terdapat empat pilar utama yang disebut “soko guru”, yang menyangga bubungan atap atau blandar. Di rumah kami, soko guru ini terbuat dari kayu nangka pilihan yang kokoh dan awet.

Sebetulnya, menurut tradisi, rumah model begini harus menghadap ke selatan. Pintu utamanya berada di “sayap” selatan. Tapi, rumahku itu mengalami banyak penambahan yang akhirnya agak melenceng dari dara gepak yang asli. Sayap selatan tertutup tembok, lalu bagian “kepala” yang menghadap ke timur ditambah sebuah pendopo. Pintu utama ada di sini, menghadap salah satu jalan utama desa.

Rumah tetangga yang masih asli perawan, dan menghadap arah yang benar

Rumah tetangga yang masih asli perawan, dan menghadap arah yang benar

Di bagian utara rumah kami, dibangun sebuah bangunan tambahan semacam “paviliun kecil” yang modelnya minimalis. Nah, kan, jadi deh, ” doro nyleneh”

Selayaknya rumah tradisional, rumah kami pun berbahan tradisional. Atapnya dari genteng tanah liat biasa, tanpa cat, dulu pastinya berwarna coklat tanah liat. Setelah puluhan tahun, warnanya menjadi kehitaman, berjamur dan berlumut.

Bagian depan rumah, (yang salah arah itu, hihi…) seluruh dinding dan pintunya terbuat dari kayu nangka pilihan berwarna serupa kayu. Orang Jawa menyebutnya “gebyog”.

Pernah, suatu ketika, seorang teman mamaku,-seorang kolektor barang antik- tertarik pada gebyog ini. Konon, dia berani menawar hampir 10 juta!

Mamaku tertawa geli. Gendheng!…lha terus rumahku jadi bolong begitu?

Saat rumah-rumah model baru dan minimalis bermunculan, si sarang merpati tetap tak berubah. Rumah kami berhalaman luas dan dikelilingi tembok setinggi hampir dua meter. Hanya bagian depan rumah yang berdinding rendah sekitar 1 meter.

Temanku pernah mengatakan rumah kami bagai keputren. Ada sebuah kolam ikan di halaman belakang rumah itu, kolam yang menjadi saksi saat riang masa kanak-kanakku, pun saat pedih ketika sebuah peristiwa membuatku hampir merasa tak berarti.

Kolam penuh kenangan

Kolam penuh kenangan

Waktu aku masih kecil dulu, bagian utama rumah ini disekat dengan papan yang dibuat papa. Sekat ini memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga sekaligus merangkap ruang makan. Sekat ini bisa dibuka saat kami memerlukan tempat yang lebih luas.

Beberapa kali, untuk keperluan tertentu, sekat ini dibuka. Senangnya! rumah jadi luas dan berpenampilan baru.

Aku ingin rumah selalu tak bersekat seperti  itu. Tapi kata papa, sekat itu harus dipasang lagi agar kami punya ruang keluarga tempat menonton TV dan bercengkerama saat makan bersama. “Saru” jika terlihat dari jalan. Aku pun belajar satu hal: privasi.

Tentunya tak enak saat kita makan dan terlihat oleh tamu yang sedang berkunjung.

Ada yang unik dari bagian dapur rumahku. Terbuka, tak mungkin merasa sumpek di dapur se-terbuka itu. Di salah satu bagian dinding, sengaja dibuat berlubang untuk dijadikan lemari makan. Lemari ini tertanam dalam dinding yang bisa dibuka dari kedua sisi: dari dapur dan dari ruang makan. Kalau pintu lemari ini terbuka semua dari kedua sisi, akan terlihat kalau lemari itu sebenarnya seperti bingkai pintu, bolong melompong…

***

Di rumah itu, empat dara muda belajar dan dibentuk oleh sepasang merpati dewasa, papa dan mamaku. Satu merpati tua bijaksana dan nyentrik ikut mewarnai hidup kami. Sarang itu selalu ramai dengan celoteh dan canda tawa kami.

Hingga akhirnya, tiba saatnya dara-dara muda itu harus terbang keluar sarang untuk memuaskan dahaga akan ilmu dan pengalaman. Mereka belajar mencari kehidupan. Terbanglah mereka ke Yogyakarta, belajar hidup mandiri di luar sarang. Tak cukup sampai di situ, mereka terbang lebih jauh, satu dara terbang hingga ke Jepang dan Jerman. Satu lagi terbang ke Jakarta, Kalimantan dan Sulawesi. Tak apalah dua dara lainnya memilih hinggap tak jauh dari sarangnya.

Merpati selalu pulang ke sarang. Itulah kami. Betapapun jauh kami merantau, kami selalu rindu untuk pulang.

Aku terharu mengingat masa-masa dimana atap rumah kami terlihat sangat memprihatinkan. Usuk dan reng-nya, yaitu “tulang” untuk menahan ratusan, bahkan mungkin mencapai bilangan ribu keping genteng mulai keropos. Serbuk dan butiran pertanda keroposnya kayu dan bambu jatuh ke lantai. Itulah yang harus kami sapu setiap hari. Semakin hari, atapnya terlihat semakin kuyu.

Well, sayap merpati itu telah menua, layu seakan tak sanggup lagi menahan beban. Untuk menggantinya saat itu, jelas tak mungkin. Kami berempat, sedang

getol-getolnya menguras biaya untuk pendidikan. Tak ada anggaran untuk mendandani atap rumah.

Ketika musim hujan tiba, segala macam ember, baskom dan panci dikerahkan untuk menampung air bocoran. Pernah, kami harus berjalan zig-zag untuk menghindari panci dan ember di lantai saking banyaknya atap yang bocor..hihi…

Kakakku sempat berseloroh”, Liat deh atap kita, tak lagi seperti dara gepak, tapi malah seperti dara minder..”.

Oh, Oke, saat itu kami tertawa. Tapi secuil rasa trenyuh menyelinap di dalam hatiku.

***

Genteng atap rumah kami sudah sangat tua. Kata papa sih, sejak rumah ini berdiri tahun 1950-an. Bertahun-tahun kami hidup di bawah naungan atapnya. Tahun 1979, papa mengganti seluruh reng dan usuknya.

Atap bocor adalah hal lumrah,mengingat usia genteng itu telah lebih dari puluhan tahun tanpa pernah diganti. Selama ini, penggantian hanya bersifat “tambal sulam”, satu genteng pecah, satu itu pula yang diganti.

Tahun 2008, atap pun diperbaiki.

Dalam tradisi Jawa, setiap kali merombak atap, membongkar total dan memasang kembali, harus didahului dengan selamatan. Mohon berkah agar selama pekerjaan dilakukan, tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Namun, demi praktisnya, tak ada selamatan. Kau tahu apa yang terjadi? Hujan deras,  Sodara!

Pembongkaran dilakukan dua kali. Bagian atap paviliun dibongkar. Cuaca cerah. Tapi malam harinya, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Basahlah semua benda di dalamnya. Lemari, meja dan tempat tidur terguyur air. Hebohlah penghuni rumah yang hampir terlelap berusaha menyelamatkan segala barang dari hujan.

Kali kedua, bagian utama rumah. Sengaja ditentukan saat musim kemarau. Selamatan juga tak dilakukan. Kejadian yang sama terulang lagi. Hujan deras sederas-derasnya!! Bayangkan saja bagaimana paniknya….

***

Kini, sarang merpati itu telah berdandan cantik dan genit. Gentengnya bercat merah. Tulang-tulangnya berganti muda, kuat dan gagah…

Setelah dicermati, total genteng tua itu terdiri dari 6 hingga 7 macam dan 7 ukuran, produksi tahun yang berbeda-beda pula…hampir lima puluh tahun  mereka bertahan…..

Rumah itu selalu kurindukan.

Akhir tahun ini, aku ingin pulang, menyapa si nyonya merpati yang telah bersolek itu..

Sarang merpati tampak depan dan samping

Sarang merpati tampak depan dan samping

Aku bermimpi suatu saat kelak, kalau ada rejeki, aku ingin punya rumah serupa ini, rumah dara gepak dengan bahan natural, dengan sedikit sentuhan modern dan tentu saja, berhalaman luas dengan kolam di bagian belakang rumah. Cetek saja, nggak perlu terlalu dalam.

Tentu saja, dengan banyak tanaman hias dan pohon buah-buahan. Aku selalu suka rumah yang asri dan teduh, yang di dalamnya, semua penghuninya selalu merasa nyaman terlindungi, guyup rukun dan hangat..

Bagaimana sarang, eh, rumahmu?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

34 Responses to Sarang Merpati

  1. Ikkyu_san says:

    apik sekali cerita mengenai rumah aja Na…. aku ngga bakal bisa cerita sebagus ini. Kolamnya bagus!

    Rumah memang menyimpan ribuan kenangan ya. Aku jadi pengen tulis ttg rumahku juga di jkt.

    Rumah di Tokyo? kecil banget Na. Apartement 2LDK (living, dining, kitchen) lantai 4 dari 5 tingkat. . Ngga bakal deh aku liput soalnya berantakan banget hehehe. Nanti kalau udah punya rumah sendiri deh🙂

    EM

    • nanaharmanto says:

      terimakasih ya Mbak atas pujian Mbak Imel…

      iya bener Mbak, rumah memang menyimpan banyak kenangan…ayo Mbak, nulis tentang rumah, aku pasti baca deh…

      semoga memiliki rumah impian segera terwujud ya..

      nana

  2. Ikkyu_san says:

    BTW kelihatannya luas sekali ya? belum halaman belakang tuh.

    EM

    • nanaharmanto says:

      iya Mbak, halaman rumah kami memang luas. aku jadi pengen betul punya rumah dan halaman seperti itu kelak..
      dulu waktu aku petama kali ke jkt bengong…rumah-rumahnya tak berhalaman..
      hihi…ndeso..

  3. tutinonka says:

    Selamat atas rumah merpatinya yang sudah kembali cantik bersolek. Dimana sih rumah merpati ini berada, Na?

    Rumah merpatiku (rumah orang tuaku) rusak waktu terjadi gempa besar di Yogya tahun 2006. Sebagian harus dirobohkan, sebagian hanya perlu diperbaiki rekahan temboknya. Akhirnya kami, anak-anak, gotong-royong merehab rumah itu, dan rumah merpatiku malahan jadi lebih cantik dari sebelum terjadi gempa …😀

    • nanaharmanto says:

      rumah itu ada di dusun Kembaran, Muntilan Bu…
      (Kawula punika lare ereng-ereng redi Merapi, Bu…)

      Selamat juga telah mempercantik rumah Orang tua ya Bu Tuti…

      salam,
      nana

  4. kikis says:

    Bagus banget diskripsi rumahnya…sama dengan angan2 kami tentang sebuah rumah yang akan kami miliki.Sip.

  5. albertobroneo says:

    smoga mimpinya dapat terwujud… amien

    wah rumahnya kelihatan asri banget ya? banyak tanaman, pasti segar banget kalo pagi hari

    • nanaharmanto says:

      Amiiin….

      asri atau rungkut? atau rungkut yang asri? hihi…
      iya banyak babget tanamannya…bikin suejuk…suejuk…

  6. vizon says:

    itu di muntilan ya mbak nana? wah, bisa nih dikunjungi, hehehe…😀

    kalau mbak nana menyebut rumah itu dengan sarang merpati, maka rumahku berarti bisa disebut sebagai sarang rajawali dong, soalnya di dalamnya dibesarkan 7 lelaki, hehehe…

    orangtuaku selalu berharap para rajawali itu dapat sesekali pulang dan berkumpul bersama, tapi sayang, selalu saja tidak lengkap… duh…

    • nanaharmanto says:

      iya Uda, rumah itu di Muntilan. monggo mampir kesana…atau akhir tahun yuk, kopdar disana? hehe..
      wah, 7 cowok? bisa jadi team bulutangkis tuh….2 ganda dan 3 tunggal hihi…jadi, 8 dengan ayah dong? serrruu……ayah jadi managernya…

      iya bener Uda, kalau mudik tapi nggak lengkap memang agak bikin “gelo” ya…
      lebaran ini mudik?

  7. rety says:

    sarang merpati yang pernah aku kunjungi..dan mbak nana sangatlah beruntung memilikinya dengan segala yang ada..
    semoga mimpinya tercapai, mbak! :))

    • nanaharmanto says:

      Amin…..trimakasih ya…..
      memang beruntungnya kami semua…
      yooo…main lagi…sambil mancing kan asyik….

  8. Cik Lan says:

    M’na ni respon dari Mama:
    bukan sarang anak dara tapi anak dara di sarang penyamun…atau penyamun di sarang anak dara ya?
    Penyamunnya siapa ya??? hehehehe…..penyamun hatiku…hahahaha…..
    Kata Mama:
    Wah pas ganti genteng trus ujan dueres…cuma Mama doang yg di rumah..Papa lg layat….heboh sndiri deh….trus stiap orang lewat diuring2 kon melu ngewangi..hahahaha……
    Terus warna merah genteng kita itu kata Mama merah sethel..hahaha….( sing milih warnane sopo yo??)
    Cik Lan:
    Ra sinkron dgn warna tembok depan sing ijo royo2..hahaha..sing penting heboh….
    Inget ga..sarang kita juga dulu pernah disebut padepokan..coz tiap malem minggu pendekar2 THS/THM pada ngumpul di pendopo….( karo ono siji sing apel..hehehe..)

    Nice posting sista!

    • nanaharmanto says:

      @mama: hahaha…jadi kangen pengen pulang lalu ketawa heboh bareng mama…

      iya ya dara kan halus…kalau ketawanya ngakak kayak kita emang lebih tepat jadi penyamun aja hahaha…

      @lani: padepokan pendekar…..emang kayaknya temen2 kita krasan di rumah ya?

  9. ayh-kbr says:

    Untung masih ada satu dara yang masih tinggal di sarang. Kalau terbang semua sarang merpatinya akan menjadi sarang nyamuk.
    Sarang memang tempat yang hangat, menenteramkan dan membahagiakan.

    • nanaharmanto says:

      tunggu akhir tahun ya Pa…aku mabur pulang, kita ramaikan sarang kita lagi…

      *ngitung: september…oktober…november…desember…*

      waaaaahhh, masih lama…..

  10. nh18 says:

    Very Nice Na …
    Ada kerinduan yang kental dalam tulisan kamu itu …
    Semoga Natalan nanti kamu bisa pulang ke Muntilan Ya ….

    Dan sekarang saya tau …
    OOooo itu toh kolam penuh kenangan itu …

    hehehe

    Salam saya Na …

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih Om…

      ya aku pengen mudik Natalan nanti…
      menjenguk sarang merpati dan kolam itu.. dan yang penting ketemu papa dan mama serta penghuni lainnya *termasuk cecak, nyamuk, tokek* hihi…

  11. ayh-kbr says:

    Jadi ingat waktu ganti reng-usuk era 70an. Waktu itu ”sambatan” (gotong royong) dikerjakan banyak orang pada hari ke-3 lebaran, jadi gak perlu pakai selamatan. Karena orang banyak maka disediakan tembakau, cengkeh, klembak dan menyan untuk buat rokok ‘tingwé’ (nglinting dhéwé).
    Malamnya waktu mau ngrokok ternyata cengkehnya abis. Jadi ya akhirnya nglinting rokok klembak-menyan yang baunya… top banget. Itu pertama kali aku udut klembak-menyan. Eh ternyata enak juga … dan ternyata bagi yang menghisap sendiri gak bau menyengat.

    • nanaharmanto says:

      hahaha…klembak menyan baunya memang top banget hihihi….*tobattt…tobaaat…*
      orang masih jauh udah tercium duluan klembak menyan-nya…

  12. krismariana says:

    Na, aku inget, pernah ke rumahmu rame2 dg anak2 UBB yg lain. Heboh ya! Dan aku masih ingat, kita masak bakmoi rame2 (yg rasanya jauh lebih enak dibandingkan bakmoi asrama hahaha!)

    Na, rumahmu itu “hangat” karena dalamnya penuh cinta.

    Sekarang rumahmu sudah lebih cantik ya? Syukur deh. Aku ikut senang.

    Baca tulisan ini aku jadi semakin pengen pulang. Tapi kok tiket lebaran ini makin mahal aja ya? Hehehe.

    • nanaharmanto says:

      hoho…waktu kalian main ke rumahku itu masih “minder” tuh…hihi…
      yuk, kapan main ke rumahku lagi? ajak Oni deh…akhir tahun kopdar disana? masak bakmoy lagi? hehehe…

      pulangnya pas Natalan aja, Nik…sekarang emang harga tiket semua jadi gila-gilaan…

  13. AFDHAL says:

    mbak nana buangettttthh🙂

    salam
    saya
    *ikutan om nh*
    :p

  14. Ade says:

    wah Na, jadi makin ga sabar untuk pulang ke kampung halaman nih.. gi menghitung hari🙂

    • albertobroneo says:

      wow.. uni mo pul kam yach?? duh senengnya …

    • nanaharmanto says:

      Lebaran mudik ya, Uni? wah asyik tuh….semoga puasa terus lancar ya…semoga bisa mudik sesuai rencana dan bertemu lagi dengan keluarga di tanah air.
      untuk sekarang…selamat menghitung hari yaaa…

  15. Ikkyu_san says:

    aduuuuh na…aku seneng banget bolak balik ke postingan ini, apalagi ada komentar dari papa-mamamu….. bahagianya.

    aku ijin nge link ya Na

    EM

  16. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » “Desaku” nya Jepang

  17. eeeh mbak Nana mudik juga yah ?😉

    btw itu toh kolan yg sempet disebut2 di postingan sebelumnya…

  18. Pingback: “Desaku” nya Jepang « Twilight Express

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s