Rumah, Cinta Pada Pandangan Pertama

Saat awal menikah dulu, impianku tak muluk-muluk. Jalani saja kehidupan di Jakarta. Belum terpikirkan untuk memilki rumah sendiri di ibukota. Lha wong semrawut begituh…pula, harga rumah pastilah gila-gilaan melangit. Mana sanggup kami membeli rumah sendiri. Belum lagi kami harus menentukan jarak dan kemacetan yang harus kami tempuh untuk berangkat dan pulang kerja. Pilihan area yang paling memungkinkan -dan bebas banjir tentunya- pasti di luar Jakarta. Tapi itupun kami harus punya kendaraan sendiri. Oke, lupakan memiliki rumah sendiri.

Maret 2007, suamiku pindah tugas di tempat yang baru, di Balikpapan. Aku terpaksa tinggal sendiri di Jakarta untuk menyelesaikan tanggungjawabku hingga akhir masa kerjaku.

Sebulan kemudian, suamiku menelponku. Katanya, dia ditawarin sebuah rumah di Balikpapan dengan harga lumayan miring. Kalau bisa, sempatkanlah datang dan melihat. Sudah tersedia dua rumah untuk dipilih:  rumah untuk dikontrak, atau sebuah rumah lagi untuk dibeli.

Hah?!? Beli?? Yang beneeeerrrr………Pake apa? Cash jelas tak mungkin. Utang? Mana ada orang yang mau ngutangin dalam jumlah jut-jut begitu?? Mimpi kaleee….

Ah, sudahlah, biar kontrak saja, toh nggak akan selamanya kami akan tinggal di Balikpapan.

Yang jelas sih, aku memang ingin melihat rumah yang kelak akan kami tinggali. Rumah itu harus senyaman mungkin untukku, sebab aku lah yang akan lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di situ.

Setelah mengutak-atik jadwal mengajar dan mengganti jadwalku memberi les privat, aku berangkat. Jumat siang aku pun terbang ke Balikpapan. Aku penasaran, seperti apa ya kota itu? Kerasankah aku kelak?

***

Menjejakkan kaki di kota itu, memasuki kotanya, aku terpaku. Betapa bersihnya kota ini. Suangat juauh…dibandingkan Jakarta. Tak heran kota ini meraih Adipura.

Malam itu aku diajak berkeliling kota. Well, aku jatuh hati pada kota ini.

Hari Sabtu, setelah jam kerja, mulailah kami hunting calon rumah tempat tinggal kami. Tujuan pertama, rumah calon kontrakan. Terletak di tengah pemukiman kampung.

Sedikitpun aku tak tertarik pada rumah itu. Terlalu besar, suasananya tak jelas, singup, dan entah, aku merasa tak nyaman di rumah itu, terutama di bagian belakang rumah. Hhhhuuufff…..Baru beberapa menit, aku sudah merasa tak betah ingin segera angkat kaki dari situ.

Kami segera menuju ke tujuan berikutnya, rumah yang akan dijual itu. Aku tak tahu harus bagaimana. Jika hari ini aku tak bisa memutuskan rumah mana yang akan kami tinggali nanti, berarti PR tambahan untuk suamiku untuk mencari rumah lain lagi. Dan itu artinya, aku tak bisa ikut memutuskan. Besok, aku sudah harus kembali ke Jakarta.

Aku bingung, gamang, dan ragu-ragu. Rumah yang kami tuju ini mungkin satu-satunya kesempatan tanpa ada pilihan lain. Suamiku tak memaksaku. Dibebaskannya aku untuk memilih: rumah pertama, rumah kedua, atau rumah lain yang belum sempat disurvey. Dalam satu setengah hari, kami sudah harus menentukan pilihan. Mana mungkin??

Tak lama, kami memasuki sebuah komplek perumahan. Wah, tak pernah sedikitpun terlintas akan tinggal di perumahan begini.

Kami masuk semakin ke dalam. Jalan-jalan dan taman komplek tertata rapi, bersih dan terawat. Aku terkesima.

Terpaksa kami berkeliling karena suamiku agak lupa lokasi rumah itu, maklum, di perumahan begitu kan semua rumah tampak sama semua…

Kompleks perumahan itu sengaja didesign tak berpagar. Rapi berjajar, dengan cat berwarna-warni. Dengan taman-taman mungil di depannya, sekaligus pohon peneduh di depan setiap rumah. Seperti di luar negeri!

Awal cinta pertama

Awal cinta pertama

Belum puas aku menikmati perumahan itu, berhentilah kami di sebuah rumah. Si pemilik rumah sudah menunggu. Disambutnya kami dengan ramah. Seketika aku jatuh cinta pada rumah ini. Cinta pada pandangan pertama!! Kecil mungil, minimalis, terang benderang. Tipe rumah “terbuka” yang kuinginkan. Bagian belakang masih berupa lahan kosong dibatasi tembok berbatasan dengan rumah tetangga.

Ngobrol ngalor ngidul dengan si pemilik rumah, hihi…sebenarnya tak sepenuhnya aku terlibat disitu. Aku terlalu asyik menikmati betapa pandainya pemilik rumah ini menata rumah semungil itu, memilih perabotan supaya tak terkesan berat dan sumpek. Dan, pikiranku berkeliaran. Andai aku tinggal disini, aku akan menata seperti ini, itu, anu, ono, enu….

“Jadi gimana, Mbak? Tertarik?”, tanya pemilik rumah.

“Tentuuuuu…..!!”, batinku.

Ketika pulang dari situ, kami membahas segala sesuatunya. Bagaimana membayarnya, kapan harus lunas, kapan dan berapa uang muka yang harus kami bayar. Aku bersemangat sekali, selayaknya remaja yang tengah kasmaran. Bahkan, aku sudah berencana merancang sendiri tata ruangnya. Deal: kami beli rumah itu.

***

Sayang, hari Minggu sore aku harus kembali ke Jakarta. Jadi segala kesepakatan dan diskusi mengenai pembelian rumah kami lakukan lewat telepon dan SMS.

Akhirnya, kami memilih KPR dari sebuah bank swasta. Aplikasi diajukan, lengkap dengan semua syaratnya. Ketika perjanjian akta jual beli akan ditandatangani, muncul satu masalah. Suamiku tak bisa melakukan transaksi dan penandatanganan di hadapan notaris sendirian, sebab istri harus turut pula menandatangani kesepakatan perjanjian, demi kejelasan status hukum rumah tersebut.

Itu artinya, aku harus pergi lagi ke Balikpapan “hanya” untuk tandatangan. Hoho….padahal, aku belum sembuh benar dari ketakutanku terbang terakhir dari Balikpapan. Pesawat terguncang hebat karena cuaca buruk. Membayangkan akan mengulang terbang se-horor itu lagi sudah membuatku mulas. Belum lagi, aku tak bisa begitu mudahnya meninggalkan tanggungjawabku mengajar pada hari kerja, apalagi saat itu tengah ketatnya persiapan ujian akhir.

Setelah konsultasi pada pihak bank dan notaris, diputuskan bahwa suamiku bisa menandatangani akta jual beli tanpa pihak istri, asalkan disertai surat kuasa dari istri yang disahkan oleh notaris.

Waduhhh…aku belum pernah berurusan dengan notaris! Apa pula yang harus kulakukan?

Kebetulan, rekanku di sekolah punya abang seorang notaris ternama. Dengan bantuan rekanku itu, maka aku menelepon beliau untuk berkonsultasi. Please deh, sombong nian notaris ini. Dari suaranya, jelas dia meremehkanku yang “bukan siapa-siapa”. Betapa alotnya membuat janji temu dengannya.

Mana mungkin calon klien sepertiku bisa memberinya rupiah segunung?

Dia berjanji untuk menghubungiku dua hari lagi. Kelamaan kaleee…jadi, knowing nothing, aku mulai berinisiatif membuat surat kuasa dengan draft sendiri, mengetik sendiri, mengira-ngira, dengan segala kebutaanku pada masalah hukum satu ini. Takutnya aku…salah sedikit, draft itu bisa menjadi senjata di mata ahli hukum perdata itu. Intinya, aku memberi kuasa kepada suamiku untuk menandatangani akta perjanjian jual beli.

Aku baru tahu saat itu, ternyata notaris punya wilayah “kekuasaan” sendiri. Seorang notaris tak bisa melanggar wilayah kerja atau teritori rekannya.

Kebetulan, aku melihat papan nama seorang notaris di jalan raya dekat rumahku. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke situ. Aku bertemu langsung dengan seorang ibu notaris. Dengan ramah, dia melayaniku (meskipun aku tak membuat janji temu sebelumnya). Kuutarakan maksudku. Kusodorkan draft yang telah kuketik. Lalu dia memberiku masukan. Istilah surat kuasa dalam kasusku sebenarnya tidak tepat. Surat persetujuan lebih pas. Intinya, bahwa aku, menyetujui suamiku menandatangani akta jual beli, menjaminkan aset rumah kepada pihak bank, serta memberi persetujuan rumah tersebut dibaliknamakan atas nama suamiku.

Hari berikutnya, kudatangi kantor notaris itu lagi. Ternyata, ibu notaris yang baik itu sedang keluar kota dan akan kembali tiga hari lagi. Lama! Dokumen ini harus segera kukirim ke Balikpapan. Ndilalah, di salah satu gang sempit dekat rumahku, ada pula kantor notaris! (kemana aja kamu Na, baru lihat sekarang??)

Langsung aku ke situ. Pak notaris sedang rapat. Staf disitu dengan ramah memintaku mengisi buku tamu dan maksud kedatanganku. Dimintanya agar aku meninggalkan draftku dan copy akta rumah untuk dipelajari. Besok aku harus kembali. Kusangka urusan dengan notaris ini bakal lama. Tenyata, puji Tuhan. Surat persetujuan itu langsung ditandatangani berikut stempel resminya. Aku baru tahu pula, dokumen yang disetujui dan disahkan pejabat notaris berwenang di cap stempel bolak balik di kedua sisi.

Aku membayar *00 ribu rupiah. Selesai. Tarrraaa!!

(Bapak notaris sombong itu tak pernah menghubungiku seperti janjinya)

***

Akhirnya, permohonan KPR disetujui. Meskipun tagihan tiap bulannya lumayan bikin kami mengencangkan ikat pinggang, tapi demi cita-cita memiliki rumah sendiri sekaligus memaksa kami untuk menabung, tak apalah kami punya hutang hingga beberapa tahun ke depan.

Dokumen

Dokumen

Agustus 2007, kami masuk rumah baru (yang seken).

Dua malam pertama, kami tidur beralaskan kardus dan coverbed, sebab kasur yang kami pesan belum datang…hihi..

Kami mulai mendandani rumah. Kupesan gorden yang nekat kudesign sendiri. Lalu pelan-pelan, sedikit demi sedikit mengisi rumah. Kami beli cermin besar untuk menyiasati rumah yang kecil itu agar terlihat luas. Dengan modal pengawuran, kami berusaha membuat “home” yang nyaman untuk ditinggali.

Pada lahan kosong di belakang rumah, kami membuat taman. Kami beli dan pasang rumput Jepang sendiri. Lalu suamiku membuat rak tanaman tempat aku meletakkan pot-pot tanaman. Kadang-kadang, kami sarapan sambil duduk-duduk di dekat taman itu.

Kuisi hari-hariku dengan mengurus rumah dan tanaman. Rumahku jadi hijau dan segar. Lama kelamaan, kenalanku pun bertambah banyak. Aku kerasan sekali di lingkungan itu.

Kebetulan, komplek rumah disitu belum didukung listrik PL*. Pasokan listrik mengandalkan genset komplek. Pahitnya, jam 12 siang hingga jam 3, genset dimatikan, setiap hari. Untungnya, rumah yang kami beli sudah mendapat pasokan listrik PL*, sehingga tak seberapa parah zonder listrik seperti rumah-rumah yang lain.

Pasokan air pun masih sangat tergantung dari komplek. Beberapa kali, genset komplek terbakar hingga air tak mengalir sampai berhari-hari.

Untungnya, blok rumah kami segera mendapat pasokan PD*M. Lengkap sudah kenyamanan fasilitas utama di rumah kami.

***

Januari 2009, turun SP dari kantor. Suamiku akan tetap di Balikpapan hingga dua tahun mendatang. Senangnyaaaa…..hurrrra!!!

Sayang seribu sayang, awal Maret 2009 turun SP baru: suamiku dipindah lagi, ke Sulawesi. Huhu…sediiih…. aku harus meninggalkan rumah itu dan kawan-kawanku.

Untuk tetap mendapat, suasana “home” kami putuskan untuk membawa isi rumah kami ke tempat yang baru. Memang cukup membantu sih, tapi jujur saja, tak bisa seperti ketika di Balikpapan.

Ketika ada kesempatan libur selama 2 hari, aku memilih Balikpapan untuk berlibur, sekedar melepas kangen. Tak lupa kami menyempatkan diri mengunjungi rumah kami. Kini, rumah itu kami sewakan. Yeah, bagiku pribadi, rumah itu memang mendatangkan keberuntungan tersendiri. Sampai sekarang belum terpikirkan untuk menjualnya, meskipun kami belum tahu kapan bisa menempatinya lagi. Terlalu banyak kenangan dan pengalaman indah tersimpan di sana, rumah pertama kami.

Takkan kugadaikan cintaku….(weleh)

Aku ingin kembali ke kota minyak itu suatu saat, jika Tuhan mengijinkan. Terlanjur  kutinggalkan sepenggal hati di sana…

Belum lunas ...

Belum lunas ...

***

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

31 Responses to Rumah, Cinta Pada Pandangan Pertama

  1. vizon says:

    membeli rumah sebetulnya bukanlah perkara sulit. yang lebih sulit adalah memilki lingkungan yang membuat kita nyaman dan betah. btw, di sulawesi sudah mendapatkan lingkungan yang nyaman bukan?😀

    • nanaharmanto says:

      Yang pasti sih, Uda, kami mesti ngencengin ikat pinggang hehehe…
      Puji Tuhan, lingkungan rumah kontrakan yang sekarang lumayan nyaman..hanya memang belum nemu kawan yang bener-bener “nyambung”

      Uda sendiri kayaknya udah krasan dan nyaman di Kweni ya?

      • vizon says:

        Kayaknya memang saya sudah betah sekali di Kweni. Doain deh, semoga saya bisa beli rumah di Kweni, gak jadi kontraktor melulu, hehehe…😀

  2. DV says:

    Rumahnya bagus, Mbak!
    Saya percaya, ketika orang membeli rumah dengan apapun caranya, adalah sesuatu yang luar biasa karena ia bisa membeli apa yang bumi berikan pada kita.

    Aku masih bercita-cita untuk punya rumah sendiri… Doakan saya ya🙂

  3. ayh-kbr says:

    Sarang yang cantik!!!
    Rasanya nyaman untuk dihuni.
    Yang paling penting siapa yang tinggal di dalamnya.
    Burung hantu….
    Alap-alap ….
    Emprit ….
    atau …
    MERPATI.

  4. kalau aku, BBM (Baru Bisa Mimpi) untuk punya “sarang” yang cantik kaya bgini.

  5. Ikkyu_san says:

    wow apik sekali…
    Tapi memang susah ya kalau suami mempunyai kemungkinan dipindahtugaskan ya.
    Aku sendiri tidak punya atau belum punya keinginan untuk beli rumah sendiri, karena Gen anak sulung dia yang harus tinggal di rumah “leluhur”nya. Yang pasti rumah orangtuaku di Jakarta adalah rumahku juga, jadi aku “pulang”nya ya ke situ. hehehe

    EM

    • nanaharmanto says:

      trimakasih ya Mbak, emang ke manapun suami ditugaskan, aku ikut (nginthil) hihi…
      pasti rumah Jakarta suasananya ngangenin ya Mbak…

      nana

  6. AFDHAL says:

    waktu masih ada mbak nana, main ke rumah ini aku gak berani pecicilan…abis mbak’e wonge ruapiii buanget,
    nahh, kalo dengan penghuni baru ini aku iso pencilatan..hihihi
    piss lho mbakyu…rumahnya aman, aku bantuin jaga kok🙂

    • nanaharmanto says:

      haha…rapi kalo mau ada tamu kok…
      sebenernya mau pecicilan juga ga apa2, paling kusuruh kamu beberes lagi hihi…

      hmmm…mau bilang sendiri atau dibilangin ke peghuni yang sekarang nih? hehe..asyikk…ada yang tukang ronda tambahan…pissss…..

  7. Ade says:

    ‘home is where your heart is’

    seneng liat rumahnya Na, rapi dan asri ya

  8. nh18 says:

    Ah keren sekali …

    Tapi yang jelas memang pengalaman Nana ini tipikal pengalaman orang marketing …

    Kalau boleh cerita pribadi …
    Aku mimpi punya rumah waktu aku ditempatkan di Surabaya …
    dan akhirnya kebeli … deket kantor lagi …
    Baru … jadi masih perlu rehab sana-sini … jadi belum bisa di tempati …

    Akad kredit sudah …
    Rehab toh …
    Cicilan pertama aman
    Cicilan kedua ok
    Rehab hampir selesai …
    Dan …
    Bulan ketiga … ada memo bahwa Saya harus pindah ke Jakarta …
    Wwwaaaa …
    Rumah belum sempet di “apa-apain” belum ditempati …
    sudah ditinggal ke Jakarta …

    Ya nasib …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      waaahhh…
      trus rumah itu disewakan atau dijual lagi? memang kayak tentara ya Om…harus siap dipindah kemana pun dan kapan pun..hehehe…

      • nh18 says:

        Rumah itu dikontrakin Mbak …
        (walaupun bayarnya rada “aras-arasen” … tapi ya lumayan lah ada yang nungguin …)

  9. nh18 says:

    en satu lagi …
    Saya doakan menang ya Mbak …

    Salam saya

  10. krismariana says:

    Aku juga tak berani bermimpi punya rumah yang asri di Jkt, Na. Dan lagi, rasanya Jkt bukan tempat yg nyaman utk “pulang” bagi orang udik kaya aku ini. Aku lebih suka tinggal di desa atau kota kecil–yang hawanya lebih bersih dan segar. Entah kenapa sejak di Jkt ini aku lebih sering batuk-batuk.

    Hmmm rumahmu di Balikpapan cantik, Na… 🙂

    • nanaharmanto says:

      iya Nik…aku sendiri susah untuk bisa betul-betul kerasan di Jkt..aku juga lebih suka tinggal di kota kecil atau desa yang masih sejuk. kamu pernah ke rumahku di Muntilan kan? ya seperti itulah tempat yang sreg untukku.

      Jkt udah kakean polusi, Nik…
      kalau aku dulu jerawatan waktu tinggal di belakang bengkel bajaj. setelah merit, pindah kontrakan yang lebih bersih, nggak jerawatan lagi.

      thanks untuk pujianmu. Nik…

    • nh18 says:

      @ mbak Kris …
      Hmmm kalo gitu cari yang di pinggiran Jakarta saja mbak … (kayak saya )
      banyak kok yang masih asri …
      walaupun … yes indeed … jauh dari kota jakarta …
      but … ya gitu deh mau gimana lagi coba … hawong kantong punya batasnya toh

      Salam saya

  11. Rumah yang cantik sekali, non…I love it! Warnanya yang lembut, dekor yang minimalis dan sangat bersih..Excellent choice..

  12. p u a k™ says:

    Wah.. feminin sekali rumahnya..
    Semoga yang nyewa rumah mbak itu, pinter merawatnya seperti mbak sendiri..

    (bilangin bos suami dong.. jangan pindah2 mulu. Kalau bisa balik ke sana lagi.. hihihi..maksa.com)

  13. Semoga dapat kawan baru ya mbak di lingkungan yg sekarang🙂
    GUe juga lom punya rumah niy… yg skr masih minjem dikasih pake sama ortu hehehe
    haduuuuuh jadi malu.

    Salut lho udh bisa punya rumah sendiri🙂

    • nanaharmanto says:

      Thanks ya mbak…
      Rejeki emang nggak akan kemana..

      emang jadinya harus berhemat, nggak bisa sembarangan ngeluarin uang hihi…

      suatu saat nanti, pasti bisa punya rumah sendiri, aku yakin itu…ayo semangat!!

  14. BLoG kiTa says:

    Dua malam pertama, kami tidur beralaskan kardus dan coverbed, sebab kasur yang kami pesan belum datang…hihi..

    WooW.. so sweeeeeeeeeeeeeeeet😉
    Salam kenal..

  15. Jack says:

    dekorasinya…
    ehmmm…look nice🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s