Klothekan Sahur

Ada banyak cara untuk bangun tidur menjelang sahur. Temanku pernah bercerita, beberapa tahun ini, selain memakai alarm weker, dia memanfaatkan televisi guna membangunkannya untuk sahur. Disetelnya TV pada posisi ON otomatis pada jam yang ia inginkan untuk bangun sahur. Pas pada acara TV hiburan untuk program sahur.

Saat bulan puasa begini, orang-orang di kampungku punya kebiasaan klothekan. Para pemuda keluar rumah menjelang sahur, membawa segala alat yang dapat dipukul dan ditabuh. Kentongan, ember, panci, centong dan sendok. Tujuannya? Membuat suara gaduh untuk membangunkan mereka yang hendak sahur.

Seru lho….

Begini kira-kira bunyinya.

Bruk….koneng…abruk koneng….


Atau,

Thek….thek……klothek…klothek…

Thek…thek…gabrung..gabrung….


Para pemuda ini berkeliling kampung, klothekan dengan alat seadanya sambil berseru”, Sahur!! Sahuuuur!!!

Hebatnya, mereka tak pakai latihan, tak pakai kiat-kiat  percussion, tapi bisa kompak!

Jujur saja, kadang suara ini ribut sekali di waktu kita sedang enak-enaknya tidur. Kadang mengganggu bahkan, karena mereka memukul sejadi-jadinya, dan berlama-lama di depan rumah. Aku pernah merasa ketakutan waktu kecil dulu, lalu buru-buru memeluk mama.. hihi…

Ketika aku sekolah dan kuliah di Yogya, aku tak pernah mendengar klothekan begini, yang kudengar hanya suara orang di masjid berseru-seru membangunkan. Sewaktu di Jakarta, aku sama sekali tak merasakan suasana sahur. Sebab penanda sahur “hanya” suara sirene yang dipancarkan lewat pengeras suara.

Di Balikpapan lain lagi. Para satpam komplek berkeliling sambil berseru-seru, tak lupa memukul tiang listrik. Thengg….theng..theng!!

Di tempat tinggalku sekarang, tak ada yang terlalu istimewa — seorang petugas mengumumkan saat sahur dari pengeras masjid.

Meskipun aku tidak berpuasa, tapi kadang aku kangen pada klothekan di kampungku. Terasa kental suasana bulan puasa. Ada kebersamaan di situ, karena beberapa orang yang dengan rela hati menawarkan diri menjadi klothekers…bangun lebih awal, melawan kantuk membawa properti masing-masing dan keluar rumah di tengah dinginnya udara lereng gunung demi membangunkan sesamanya.

Kata mama, klothekan tak ada lagi. Sejak bulan puasa tahun ini, semua telah digantikan sirene.

Entah ya, kok aku merasa sayang….memang sih, sirene lebih modern dan praktis. Tapi kok rasanya ada yang hilang…

Meskipun aku jauh dari kampung halaman, tapi dari SMS papa dan mama kok aku merasa mereka “kehilangan roh” suasana sahur ini ya…

Aku sangat menyayangkan hilangnya klothekan ini dari kampung kami. Puluhan tahun kebiasaan unik ini berlangsung, dan dalam sekejab, lenyap digantikan sirene..sepertinya, hilang pula kebersamaan dan “rasa tanggung jawab” untuk membangunkan penghuni kampung untuk ibadah sahur…

Sayang…sungguh amat sayang….

***

Adakah cara unik di tempat tinggal Anda sebagai penanda waktu sahur? Ayo berbagi….

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Klothekan Sahur

  1. Ikkyu_san says:

    wah di jakarta, setidaknya di kebayoran mah ngga ada tanda apa-apa….. apalagi di Jepang hihihi.

    Tapi memang mendengar suara tradisional di luar rumah waktu dini hari menghangatkan hati ya… Siskamling di tempatku (Jkt) selalu mengetuk tiang listrik di depan rumah kami setiap jam. Mungkin semacam laporan juga, karena papa ketua RT.

    Di Jepang pada hari pencegahan kebakaran ada arak-arakan waktu malam dengan memukul dua bambu, dan meneriakkan “Hati-hati api”. Dulu semalaman sampai pagi, tapi sekarang paling cuma sampai jam 10 malam.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Bener tuh, Mbak…di Jakarta nggak ada yang istimewa…
      Btw, di Jepang kayaknya banyak banget perayaan hari-hari khusus ya…hari laut, hari sumpit, hari pencegahan kebakaran…benar-benar “kaya” ya?

  2. vizon says:

    kalau di kweni masih ada mbak nana, tapi pakai drum band, hehehe…😀

    iya, drum band beneran. cuma formasinya gak selengkap drum band yang biasanya buat pagelaran itu. hanya ada dua snar drum dan satu bass drum. yang jalan adalah para pemuda, mereka keliling kampung dengan komposisi yang menarik. oya, mereka juga nambahkan dengan kentongan dan botol…

    • nanaharmanto says:

      Wah, seru tuh…Uda ikut megang kentongan nggak? hehe…
      semoga aja “tradisi” itu nggak hilang seperti di kampung saya, ya…
      ayo, Uda, pastikan tahun depan drumband-nya nggak diganti sirene…sayang banget tuh…..critain di postingan Uda dong….

  3. hmm, jadi inget dulu waktu kecil rumahku di Tanah Abang, ramai sekali kalau bulan puasa..missing those moments now..

    • nanaharmanto says:

      bener…jauh dari kampung halaman begini, jadi kangen segala hal yang manis di sana (meski dulu tak pernah menyadarinya).

      kini….terasa sungguh ….

  4. nh18 says:

    Klotekers ??? ouuuwww yeah …

    Yang jelas …
    Kalau di rumah saya dulu … Tiang Listrik lah yang jadi sasaran bebunyian …

    Kalo di kompleks saya sekarang …
    mmm… mmm … ndak ada …

    berganti dengan suara agak berbisik di kuping saya … yang berbunyi … :
    “yyaaahhh … yaaahhh … bangun … “

    • nanaharmanto says:

      wah, dimana-mana tiang listrik jadi sasaran ya? kayaknya cuma ada di Indonesia deh…tiang listrik gak salah digebukin..hehe..

      Dan yang berbisik itu adalah…..bunda, si sulung, si tengah, si bungsu…hah? semua berbisik barengan? *du…du..du…..*

    • nanaharmanto says:

      satu lagi…bisikan itu bernada “Ayah…..” *sol mi sol*

  5. dyah suminar says:

    di kampung Bunda di daerah Umbulharjo,Jogja….tidak ada klothekan mbak.Hanya 3 masjid,utara ,selatan dan barat rumah membangunkan kami dengan Ngaji AlQuran melalui pengeras suara dan setelah itu panggilan…Sahuur…sahuur.

  6. p u a k™ says:

    Di Jakarta, masih ada kok mbak…
    Tiap malam saat bulan puasa gini, anak-anak berkeliling membunyikan klotekan membangunkan yang berpuasa untuk sahur.
    Tapi kadang2 aku nggak kebangun juga.. tidurku terlalu pules emang.. hehehe..

    • nanaharmanto says:

      wah, di Jakarta? masih ada klothekan? *takjub*
      kalau tidur yang terlalu pules, hihi…bahkan di hutan pun kamu pules hihihi…

  7. aurora says:

    aku juga… disini para penghuni masjid akan bangunin kita pake mikrofon… ga ada lagi pake kentongan kaya’ dulu.. sekarang, hanya tukang pangsit yang pake kentongan…. hehehe
    salam kenal

    • nanaharmanto says:

      salam kenal juga,
      terimakasih ya, sudah mampir dan baca…memang ya, yang tradisional semakin “tergeser”…barangkali suatu hari nanti, tukang pangsit pun nggak mau kalah dan akan beralih menggunakan sirene..hehehe…

  8. Mbak Nana…
    yaaaaaaaaaaaaa keknya sih ada cara sahur di daerah gue.
    Cumaaaaaaaaaa gue selalu terlelap tidur jadi gak merhatiin :p
    ketahuan deh tukang molor hahaha

  9. di Condet masih ada klothekan lho!! Anakku sering terjaga kalau lagi rame gitu, sambil nanya, “Apaan tuh Ma? Yuuk liat yuuk..!”

    Ya Mama-ne sing serem kalau pagi-pagi buta mesti keluar rumah cuma untuk ngeliatin orang “klothekan”

    • nanaharmanto says:

      Dulu waktu aku kecil juga sering penasaran pengen liat para klothekers itu…tapi kadang mengkeret juga karena takut. Setelah gede nggak penasaran lagi, dan ogah keluar rumah hanya untuk ngeliat orang klothekan.
      sekarang setelah jauh dari kampung halaman, suer kangen dengan klothekan itu…

  10. AFDHAL says:

    balikpapan piye yo??
    wah ramadhan kali ini jarang banget sahur di kos🙂

  11. Cik Lan says:

    huum ki….wis diganti sirene..klothekan cuma pas hari pertama…lebih tepatnya bukan klothekan sih…tapi ngamen rame2…suara merdu nan khas Mas Tongek(saking khasnya jd ga perlu repot2 nengok utk tau siapa yg nyanyi)..dan genjrengan yg lumayan entah dari siapa menyambut datangnya bulan Ramadhan…lebih senonoh sih ketimbang suara kedombryangan itu..tp sayang cuma 1 kali itu saja….huum kangen ma klothekan yg khas itu…skrang cuma suara sirene plus “sak menika tabuh tiga langkung gangsal welas….tiiiiuuuuuunnngggg (thok2 men suara sirene)….”

  12. nanaharmanto says:

    Sekarang aku kangen sama klothekan itu, yang salawatan plus genjreng itu malah nggak ngalamin..

    wah, diganti sirene ketoke kurang asyik deh…

  13. DV says:

    Di kampung asal saya, di Klaten dulu, membangunkan orang untuk sahur sangat bagus, pake ronda dan lagu-lagu yang dinyanyikan secara unen-unen… Tapi akhir-akhir sebelum saya pindah ke Sydney, saya mulai tak menyukai cara orang membangunkan sahur karena tanpa “seni” langsung teriak “Sahurrr” dari corong speaker🙂

    Sementara di Sydney? Ndak ada… sepi🙂

    • nanaharmanto says:

      Kayaknya memang tradisi udah banyak yang luntur ya….

      Mungkin kalau di Sydney ada yg berani teriak di corong, bakal ditangkep polisi kali ya? bikin ribut…

  14. Jack says:

    di abu dhabi pun gak pernah aku dengar suara tabuh beduk & klothekan keliling kampung sebagai penanda sahur Na…
    ngangeni juga ya “suasana” itu🙂

  15. hermawan setyo says:

    kalau ditempatsaya ditulungagung….,, kentongan masih ada tapi sedikit….,, paling di desa2 yg kecil tempatku tepatnya di daerah ngunut… di sini udah berganti dngan menggunakan cungkir…. rondho yg alat2 yg dimainkan terdiri dari cungkir/angklung, gong bimbung, kenong bumbung masih banyak sekali… ini banyak dilombakan lombak..,, tapi sebenernya aq sngat kangen ama rondho mnggnakan kentongan lebih rame sih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s