Terrible Cooking

Saat perpisahan dengan murid kelas 3 SMP beberapa tahun yang lalu, kami mengadakan acara gathering di Puncak. Untuk menghemat  biaya, disepakati bahwa kami akan memasak sendiri tanpa mengandalkan juru masak dari pihak pengelola villa tempat kami menginap selama 3 hari 2 malam.

 

Jadilah kami, para ibu guru, bertindak sebagai koki.

Sebetulnya, aku suka memasak. Tapi pengalaman memasak kali ini sungguh tak enak.

 

Bu Mar yang jago masak dan sangat amat bangga pada hasil masakannya, mengukuhkan dirinya sebagai koki kepala merangkap logistik perbelanjaan.

 

Sampai di Puncak, anak-anak berkegiatan sendiri, sementara ibu-ibu guru mulai sibuk di dapur. Tiga siswi ikut membantu.

Duuuh…anak-anak kaya ni tak pernah memegang pisau rupanya. Kaku dan lucu sekali gaya mereka. Baru mengupas tiga butir bawang, mereka sudah “nangis” dan kapok.

 

Salah satu menu yang kami siapkan adalah sup ayam. Titi membantu memotong-motong kentang sesuai contoh dari Bu Mar,  potong dadu. Kentang sebaskom sedang itu pun dipotongnya. Karena sangat mudah dan sederhana, dia mengerjakannya sendiri.

 

Ternyata, kentang itu dipotongnya  lebih kecil dari contoh semula, kurang dari 1cm x 1 cm.

 

Begini reaksi Bu Mar.

Aduuuh…..ya ampuuuun, kamu ini gimana sih? Ini sih kekecilan! Nggak bisa  ini dijadikan sup! Wong tadi udah dikasih contoh, gitu lho! Aduh… sayang kan kentang sebanyak ini! Bisa terbuang percuma! Kamu potongin kayak gini, ini ancur namanya!!

Udah…udah!! Sana kamu…jangan masuk dapur lagi deh!”

 

Dengan nada tinggi nyaris melengking, Bu Mar masih terus ngomel.

“Jadi perempuan itu harus pinter masak! Gimana nanti kalau kamu punya suami?”

 

Aku tak ingin menuliskan segala omelan nggak karuan itu. Kulihat, betapa terlukanya Titi atas omelan Bu Mar. Dengan sedih ia menjauh.

Aku ingin memeluknya dan mengatakan bahwa everything’s OK. Aku menghargai usahanya.

Bu  Mar masih saja menggerutu.

 “ Liat nih, gara-gara Titi, nggak bisa dimasak ini. Pasti ancur ini! Buang aja deh!”

Tak tahukah dia, berapa banyak emosi yang terusik melihat reaksinya itu?

 

 

Kuambil baskom itu.

“OK, kita ancurin sekalian”, kataku.

“Kita goreng, lumatkan, jadi perkedel, beres….”.

 

Entah apa yang ada di benak Bu Mar. Kentang itu akhirnya dimasak jadi sup juga.

 

Saat makan malam bersama, masih sempat-sempatnya Bu Mar berujar,” Ini seharusnya nggak begini lho, gara-gara Titi nih…”.

Diucapkannya di depan umum, teman-teman Titi, dan bapak- ibu gurunya. Terbayang kan, bagaimana perasaan remaja itu direndahkan begitu?

Sekali lagi aku ingin memeluk Titi.

Peristiwa itu benar-benar membuatku patah selera.

 

***

 

Hari berikutnya, kami memasak cap cay. Cap= sepuluh, cay=sayuran. Benar-benar ada sepuluh macam sayuran disitu, berikut bahan campuran: daging ayam, udang, cumi dan bakso. Kayaknya enak kan?

 

Tugasku, dibantu seorang siswi, memotong-motong sawi hijau. Kulakukan sebagaimana diajarkan mamaku sejak pertama kali aku diijinkan memegang pisau di dapur: memotong bonggolnya.

Mama yang ahli di bidang tata boga mengajariku untuk memotong sawi 5cm dari bonggolnya. Buanglah bonggolnya.

I did it.

 

Bu Mar menjerit”, Jangan begitu, Miiiss…!! Bonggolnya itu enak!! Ata doyan  banget tuh!”.

Ata adalah putri Bu Mar yang kebetulan juga murid peserta gathering itu.

 

Lho, bonggol kan kotor, Bu?”, jawabku.

“Woooh…Miss Nana nggak tau toh, ini enak, tau, Miss? Makanya jangan dibuang! Harus pinter nyucinya. Sini biar aku yang nyuci!

 

Aku tersinggung, Sodara! Caranya menjerit padaku, seolah aku anak kecil yang bisa diperlakukannya sedemikian rupa. Dilakukannya di depan murid-muridku!

Orang model begini, tak pernah menghargai orang lain.

 

Well, menu ini pun “mengorbankan” sebuah perasaan.

Aku membantu memasaknya, meskipun aku  tak betah terlalu lama di dekat sang koki.

 

Byuk…byuk..byuk…byuk

dimasukkannya vetsin sedemikian banyak. Aku melongo. Jadiiii…ini nih yang membuat masakannya enak? Ini toh resep yang selalu dibanggakannya? Wackss!!

 

Aku benar-benar tak berselera. Aku tak menyentuh cap cay itu. “Gilo” oleh penampakan bonggol-bonggol sawi beserta ribuan telur cacing yang bersemayam di setiap ketiak batangnya. Mohon maaf, aku melihatnya sebagai sampah bonggol yang tak pantas terhidang di atas meja makan. Hanya demi kesukaan seorang anak, -anaknya sendiri-, kepentingan puluhan orang lain dikalahkan. Bahkan tukang mie ayam tingkat kampung pun tak menggunakan bonggolnya gitu loh….

 

Terbayang pula betapa banyak racun vetsin yang dibubuhkan dalam masakan itu.

 

Aku benar-benar tak ingin memakannya.

 

Anda tahu reaksi anak-anak?

“Eeeh…, ada bonggol nih, ikut termasak”.

“Iya nih, ada lagi nih”.

“Hii….jijay….”.

 

Ah, mereka masih anak-anak…

 

Kulihat, Bu Mar sengaja memanjakan anaknya, diambilkannya sayur untuk Ata (bonggol-bonggol ituh…)

Dan setelah selesai makan, Ata menyingkirkan bonggol tercintanya itu di piringnya. Ditinggalkannya tak termakan.

 

Kutegur Ata”, Nggak dimakan, Ta?”

Hmmm…ih, nggak suka Miss…”. Bahunya mengedik, bibirnya naik sedikit sinis menunjukkan rasa jijik pada bonggol itu.

 

Gengsinya anak ini. Tengil. Betapa sebalnya aku. Demi kesukaannya pada bonggol sawi, seluruh masakan dikorbankan. Melihat reaksi teman-temannya yang tak berkenan pada bonggol, Ata pun ikut-ikutan. S*mprul!!!

 

***

Bu Mar bercerita padaku, bahwa dia membiasakan Ata untuk masuk ke dapur dan belajar memasak. Bangganya ia pada Ata yang suka memasak, dan mulai bisa memasak sendiri meskipun masakan yang simpel.

 

Tak sedikit teman-teman Ata yang tak suka memasak. Bahkan membenci masak. Mereka mengungkapkannya terang-terangan, dan aku tetap bisa menghargai keterus terangan mereka.

 

Suatu sore, aku tengah mengupas bawang merah. (Ibu-ibu guru ini masak terus, 3x sehari, bo’)

Ata datang.

Hey, suka masak ya? Ayo bantuin”, kataku.

Nggak suka, Miss…aduh, bau bawang”, katanya sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya, kemudian berlalu.

Aku bengong. Gayanya itu, ampun deh,  “hanya” agar terlihat sama dengan teman-temannya yang tak suka memasak itu. Dia tak tahu, gengsi dan sok-nya yang ditunjukkannya itu, sekaligus meluruhkan semua respekku pada ibu dan anak itu, blas tak bersisa. Walah….ibu anak yang nggak kompak!

 

***

 

Suatu siang hari panas menyengat. Rekan kerjaku, Pak Ofi, berinisiatif membuat es jeruk nipis. Dilihatnya jeruk nipis hasil belanjaan Bu Mar sekantong plastik, terlihat masih banyak. Tak mungkin sekali habis untuk memasak.

“Bu Mar, minta jeruk nipisnya, ya?” kataku.

“Ya, Miss..

 

Lalu, sepuluh biji jeruk kubelah-belah. Pak Ofi memerasnya dengan perasan jeruk.

 

Hampir terpotong tanganku saat Bu Mar menjerit lagi.

“Aduh, Miss!! Jangan semua!! Ini masih mau dipake!!” dia bergegas mendatangiku, dan mengambil kantong jeruk nipis itu.

“Buat apa sih banyak-banyak?” omelnya.

 

Aku hampir meledak saat itu juga. Dalam 3 hari itu, Bu Mar telah memperlakukanku tak selayaknya rekan kerjanya. Belum lagi omelan-omelannya berendengan sepanjang hari yang juga melukai dan merendahkan guru-guru yang lain. Tiga hari yang hampir mengantarku ke puncak tertinggi kemarahan yang terpendam selama aku bekerja bersamanya.

 

Nyaris kubanting pisau di tanganku dan kutegur dia di depan umum bahwa ini adalah gathering terparah yang pernah kualami.

Betapa “hari-hari terakhir bersama anak-anak ini” hancur karena sikap dan mulutnya.

 

Untunglah, aku cepat menguasai diri. Aku mau main cantik. Aku harus bisa menunjukkan pada semua orang, pada murid-muridku, bahwa aku bukan orang kampungan, norak dan lebay.

 

Pak Ofi yang merasa tak enak hati, segera mengajakku keluar. Akhirnya kami berjalan-jalan di luar villa, sekedar mendinginkan diri. Di situ kuungkapkan kekesalanku yang bertumpuk-tumpuk.

 

Kemudian, kami membeli lebih banyak jeruk nipis dan limau, es batu dan gula pasir. Sekembalinya kami ke villa, kami melanjutkan membuat es jeruk nipis resep pak Ofi. Suegerr lhoo…!!  Mujarab betul untuk mendinginkan kepalaku.

 

Es jeruk itu laris manis. Anak-anak menyukainya. Namanya juga anak-anak, nggak seru kalau tak rebutan.

Bu Mar menjerit lagi”, Ini, lhooo….antri dooongg!!”.

 

Idih, please dehh….

 

Bonggol Sawi
Bonggol Sawi

Pernahkah Anda makan bonggol seperti ini? Menurut Anda, layak nggak sih untuk dikonsumsi?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Terrible Cooking

  1. Ikkyu_san says:

    Hiihihi… kalau musim paceklik, dan ngga ada makanan lain ya boleh lah. Dimasak tumis sama jangkrik sekalian, enak kali ya? ;))

    Hmm Ibu Mar bossy sekali ya. Kalau aku udah pergi dari situ deh😀
    Dengan sikapnya itu malah membuat anak2 tambah ngga suka masak atuh ;))

    EM

    • nanaharmanto says:

      hahahaha….aku ngakak baca komen Mbak ini… kasian jangkriknya dong….

      Yah, begitulah, Mbak…anak-anak pada curhat juga…

      Sayangnya, yang bersangkutan nggak pernah sadar kalau sifatnya itu membuatnya nggak disukai.

  2. krismariana says:

    Kalau aku pasti juga udah ngacir kalau ada orang kaya Bu Mar itu. Hihihi. Btw, kalau cap cay sudah ada daging ayam, udang, cumi, dan bakso, mestinya sudah cukup kaldunya. Tak perlu pakai penyedap makanan. Apalagi kalau pakai daging ayam kampung. Wah, enak tuh Na🙂

    Kalau bonggol2 kaya gitu, pasti kubuang lah.

    • nanaharmanto says:

      Iya, bener Nik…aku sebenernya pengen ngacir….
      dan vetsin itu, doooh….aku nggak suka masak pake vetsin…nggak sehat sih..

      Nah, kan, emang bonggol itu seharusnya dibuang…

  3. vizon says:

    Bu Mar itu nama lengkapnya MARAH ya? hehehe…😀

    Sepertinya beliau perlu diberi pembelajaran soal pendidikan dan psikologi. Kasian dia, akan semakin banyak orang membencinya dan semakin sempit dunianya…😀

    Bongol ya? hmmm… kayaknya kambing lebih suka deh, huahaha…😀

    • nanaharmanto says:

      Setuju, Uda…

      Memang dengan caranya seperti itu, hampir semua orang nggak suka padanya.

      Banyak yang memendam kemarahan tapi memilih lebih baik “mengguyur bara dengan air”. Kalau diladenin, malah jadi katrok hehehe.

      asyiik…satu lagi bukan penikmat bonggol…yipiiii…

  4. aku ga suka makan bonggolnya, aku suka maem daunnya..tapi suka khawatir kalau bolong2, takut bekas digigitin ulat. tapi kalau ga ada bolong sama sekali, jadi piktor d, jangan2 sayurannya disiram pestisida terlalu banyak..jadi serba salah..akhirnya aku maem aja tanpa ngeliatin..by the way, kalau maem nya ga lihat gitu, ada ulat yang ketelen ga yaa? ^_^

    • nanaharmanto says:

      Memang kalau daunnya mulus, bebas serangga dan pasti pake pestisida. Aku juga suka sawi, Han…

      Dan keuntungan dari masak sendiri, kita yakin udah memilih, membersihkan, dan mencucinya dgn baik dan benar..

      Ya, mungkin tetep aja ada adek ulil yang pinter ngumpet. Kalau tertelan pun, (ih, amit-amit sih) paling cuma satu. anggap aja tambahan vitamin U hehehe..Uenakkk….

  5. senangnya bertemu teman yang penuh belas kasihan !!
    Bonggol ?? Hiyyy… engga ah !!

    • nanaharmanto says:

      huwwwa…GR….se-GR-GR-nya! hihi…thanks Mbak Ris…

      padahal, kalau kelamaan, aku juga bisa penuh kemarahan hahaha…cuma aku nggak mau sampai out of control…rugi…buang energi…

      Ada untungnya aku ‘sedang’ gak bisa jerit ya, coba kalo aku hobi jerit, gathering itu bisa berubah jadi arena tanding jejeritan. hihi..

      horreee….satu lagi non bonggoler!!

  6. nh18 says:

    Nana …
    Kalau saya wanita …
    Kalau saya ada disana …

    Saya akan jambak itu Ibu …
    Belagu byanget … menyebalkan …

    (membayangkan …
    badan yang gemuk, muka berminyak, bibir bergincu merah, tebal, tambun … dan berkonde cepol …)

    Gyahahahaha … (kek sinetron jadinya …)

    Salam saya

    Bonggol ??? … no thanks … !!!
    MAsakan siapa ??? … Bu Mar ??? … No thanks lebih baik aku nongkrong di warung depan …

    (tulisan ini sukses membuat saya geregetan … sebel bener sama oknumita yang satu itu …)

    Salam saya Na …

  7. aurora says:

    wah.. semua yang mau kubilang udah diserobot tuh, sama komeners di atas….
    cuma aku ga bisa bayangin, gimana kalo si “bu mar” itu lihat ne postingan buk??? hihi…. kalap dia kali yah…..

    salam kenal buk…

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih ya, sudah mampir, baca dan komen…

      Yah, kalau dia baca ini, semoga aja dia belajar sesuatu dari posting ini,- meski peristiwa itu udah bertahun lalu, – tapi bahwa luka hati orang lain (nggak hanya aku aja, masih banyak yang lain)tak mudah hilang begitu saja. ibarat paku yang ditanam ke kayu, kalau paku tajam itu dicabut dari kayunya, toh tetap akan berbekas.

      Kalau dia baca dan marah? silakan aja, aku hanya menulis apa yang kulihat, kudengar dan kualami. Seharusnya dia berterima kasih, karena udah ‘kuperhalus’.

      Aku akan dengan senang hati memasang komentarnya di sini. akan terlihat dia belajar atau tidak hehehe..

      Salam kenal juga ya?

  8. kawanlama95 says:

    tulisannya mengalir deras , mudah di cerna. dan ini pelajaran buat kita semua untuk lebih menghargai orang lain

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih atas apresiasinya ya, terima kasih juga sudah baca dan komen…
      ya, bener…orang lain akan menghargai kita jika kita menghargai orang lain.

      salam,
      nana

  9. dyah suminar says:

    he..he…kok anak anak…lha wong Bunda kalau ikut masak aja,malah salah salah melulu je..
    Lha kalau nggak biasa masak…salah salah yaaah…lumrah.
    Bu Mar…jangan duka duka ya….

    • nanaharmanto says:

      Wah, Bunda, bener tuh, salah-salah itu lumrah..apalagi untuk anak-anak yang sedang mulai belajar masak. Harus didukung terus, disemangatin, bukannya dicela (di depan umum pula)..

      Saya suka masak juga karena nggak pernah dicela begitu…(bukan karena saya masaknya uenak, hihi…)
      tapi ya memang orang rumah mendukung dan nggak pernah “nyacat” kekurangan saya.

  10. Cik Lan says:

    huum…Mama n Papa ga pernah nyacat masakan kita…(walo masakane remuk, tp diberi komen yg nyeleneh, lucu2 n ga nyakitin hati)…

    Kalo aku ada di sana….aku juga pgn memeluk anak itu….nek perlu di depan kepala koki itu….biar tau rasa dia…

    • nanaharmanto says:

      waaaa….jadi kangen masak bareng lagi…

      Iya ya, seingatku masakan kita gak pernah dicacat begitu. Dikritik kurang asin ato keasinan mah biasa, tapi nggak sampai nyakitin ati…

      How lucky we are, Sist!

  11. sabaaae mbak sabaaaaar

    eh udh kelewat sabar sebenernya yah😉
    ibu anak yg gak kompak deh.

    Ibu Mar itu udh sepuh ya mbak?
    dituakan gitu?
    Koq semua pada diem pdhl sikapnya annoying gitu ?

  12. marshmallow says:

    mbak nana, saya sukaaaa banget cerita ini! sambil ngepal-ngepalkan tangan karena kesal juga sih sama si ibu mar yang bossy banget. bonggol sawi buat dimakan? ya ampun, bener juga kata mbak imel. kalau lagi musim paceklik mungkin oke aja dioseng-oseng sama jangkrik. hihi.

    biasanya nih ya, mbak. orang yang pinter banget masak memang males dicampuri dapurnya. tapi kalau modal vetsin doang mah, nggak keren dong. lagian wong namanya acara bersama, yang punya dapur juga bersama tho?

    terrible gathering indeed. tapi ada hikmahnya juga, mbak nana jadi lebih mengenal rekan-rekan sekerja dan tabiatnya.

  13. AFDHAL says:

    wah no way
    daripada bonggol, mending goreng indomie
    beresss🙂

  14. Jack says:

    Bu Mar…Ibu MARai Muangkel ae yo Na…
    bener2 “GATHERING” yg “ANEH”
    dgn “HEAD COOK” bener2 MARai mangkel
    yg “BANGGA” pd anaknya
    yg “TIDAK BISA” dibanggakan

  15. Iklan Gratis says:

    buseettt .. gak mau rugi amat ya .. sampe ke bonggol2 dimasak ..
    saya sukaaaaaaaaaaa banget dengan sayur2an .. bahkan di keluarga sering diledek kambing, tapi teteeepp gak makan bonggol .. lagian bener banget .. bonggol tuh harusnya juga dibuang, kotor ..
    hebat ya .. bisa sabar menghadapi rekan yang seperti itu .. kl saya mungkin kepala udah ngebul tuh .. hehhehe…

    Iklan Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s