Ketupat, Lontong dan Opor

Kami tak merayakan Idul Fitri. Tapi, waktu aku kecil dulu, di rumahku tak kalah heboh dengan mereka yang berpuasa dan merayakan Lebaran.

Sehari sebelum lebaran, mama pasti sudah membuat hidangan khas Lebaran. Ketupat atau lontong berikut opor ayam. Tak ketinggalan sambal goreng ati dan krecek. Kami selalu antusias membantu mama mengisi selongsong ketupat. Sayangnya, kami tak pernah membuat selongsong ketupat sendiri, karena tak seorangpun di rumah kami yang bisa membuatnya hihihi…

Kadang mama titip membelinya di pasar. Lebih seringnya sih, ketupat diganti dengan lontong yang lebih mudah dan prakatis.

Heits…tunggu! praktis?? Wah, jangan salah!

Ternyata, membuat lontong itu gampang-gampang susah! Bungkus lontong dari daun pisang harus dibentuk terlebih dahulu, baru diisi beras yang telah dicuci sebanyak sepertiga kapasitas selongsong lontong itu. Hmm…tampaknya, ilmu kira-kira berlaku pula disini. Sebab, kalau terlalu sedikit, lontong menjadi lembek tak bisa terisi penuh. Kalau terlalu banyak, bisa-bisa lontong itu njebrot! Kalau daun pembungkusnya -yang minimal dua lapis itu- masih sanggup menahan, lontong itu akan menjadi terlalu padat dan akibatnya, susah pula waktu dipotong-potong.

Nah, setelah bungkus itu disemat dengan lidi, lontong itu pun harus direbus selama kurang lebih dua jam dengan api sedang. Api yang terlalu besar akan membuatnya cepat masak, tapi belum tentu bagian dalamnya pun masak dengan sempurna. Para lontong ini, harus terendam air selama proses perebusan. Setelah matang, lontong harus diangkat. Lontong tak boleh direndam terlalu lama jika sudah matang.

Dag dig dug rasanya saat lontong itu diangkat dari panci. Sukses nggak ya? Gagal kah?

Mendebarkan……

****

Memasak opor ayam juga seru lho…. Kadang-kadang, papa menyembelih ayam peliharaan kami. Kadang pula mama membeli. Ayam itu dipotong-potong. Dalam hali ini, papa jagonya! Potongan ayam itu pasti bagus dan rapi. Tak sembarangan asal potong.

Kemudian, papa meracik bumbu opor itu. Papa memang pandai memasak. Papa mewarisi bakat memasak dari mamanya.

Ada yang unik pula untuk memasak opor ini menurut tips dari nenekku. Di dasar panci, dilapisi dengan besek (anyaman bambu tipis untuk keperluan kenduri dan lain-lain). Atau juga keranjang anyaman bambu tipis. Besek atau keranjang itu dipotong sesuai ukuran dasar panci, dicuci hingga bersih, lalu diletakkan di dasar panci. Potongan ayam disusun di atasnya, berikut bumbu dan air secukupnya. Lalu panci itu diletakkan di atas anglo berbahan bakar arang.

Arang yang membara di anglo itu menimbulkan panas yang tak terlalu besar, tapi akan membuat opor itu bergolak “blekuthuk…blekuthuk…” dan menimbulkan wangi yang khas, paduan aroma daun salam, lengkuas, sereh dan bumbu opor.  Hidung siapa sih yang tak akan kembang kempis?

Hmmmm….yummy……


Setelah opor itu matang, tinggal menambahkan santan. Menambahkan santan pun tak boleh sembarangan. Pertama, masukkan dulu santan yang paling encer, kemudian, perasan santan yang  lebih kental. Terakhir, santan yang paling gurih, yaitu santan paling kental yang dihasilkan dari perasan pertama. Santan jenis ini yang paling rewel. Setelah santan ini masuk, santan itu harus terus diaduk agar tidak “pecah”.

****

Aku dan saudari-saudariku selalu heboh dalam membuat opor dan lontong ini. Kami akan bergantian, bahkan rebutan  mengipasi arang yang membara itu agar menimbulkan api yang besar. Mama dan papa kadang-kadang mengingatkan, supaya menjaga agar api tak terlalu besar, sebab, bara arang tanpa “jilatan” api itu pun sudah cukup panas.

Biasanya kami memasak lontong dan opor itu di halaman belakang. Di udara terbuka. Anglo dan opor itu akan terus di situ sampai bara api padam dan arang itu lenyap meninggalkan abu di pagi hari.

Sekarang Anda tau kan, guna besek dan keranjang bambu itu? Ia menghalangi opor menjadi gosong dan lengket di panci karena dipanasi sekian lama.

Memasak opor yang benar itu memang ribet. Bahkan untuk memanaskannya tak bisa sembarangan pula. Malam hari, panaskan dengan api sedang, setelah mendidih, matikan apinya, lalu opor itu tak boleh “diobok-obok” lagi hingga pagi, saat opor itu harus dipanaskan lagi. Kalau opor itu diusik, opor yang ada di panci pasti menjadi “kecut” atau masam. (Ada yang bisa menjelaskan mengapa bisa begitu?)

Lebaran kali ini, aku tak mudik. Untuk mengobati kerinduan pada kampung halaman dan nostalgia opor masa kecilku, aku pun membuat opor dan lontong sendiri. Lontong yang kubuat lumayan sukses. Tak ada yang  njebrot atau “kurus”.

Opor ayam buatanku ini kalah juauuh dibandingkan opor buatan papa. Yeah, sebut aja opor jadi-jadian hihi…

Untungnya, suamiku lahap menikmati opor itu, meskipun selama dua hari kami makan itu-itu terus…

****

Satu hal yang membuatku selalu bernostalgia dengan lontong, ketupat dan opor ini. Mama dan papa tak pernah memarahi kami saat mengisikan beras ke dalam selongsong ketupat dan lontong.

Meskipun berantakan dan tumpah…

Meskipun isinya terlalu sedikit, atau terlalu banyak….

Meskipun hasilnya tak sempurna, terlalu lembek atau njebrot….

Meskipun kadang ada beberapa butir beras yang masih keras….

Kami tetap bisa menertawakan ketupat dan lontong malang itu…

Kami tetap bangga pada hasil buatan kami sendiri

Kami tetap memakannya…….


Dan kami pun belajar banyak hal…

Bahwa memasak pun boleh salah dan tak sempurna.

Bahwa masih ada banyak Lebaran-lebaran mendatang saat kami bisa belajar menyempurnakanlontong dan ketupat kami…

Papa dan mama tak penah mencela lontong dan ketupat kami.

Tak lupa memuji hasil yang sempurna bentuk dan isinya.

Mereka selalu menghargai usaha dan proses yang kami alami,

dan kami bahagia karenanya.


****

Nah, bagaimana dengan Anda? Apa masakan khas Lebaran yang paling berkesan?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Ketupat, Lontong dan Opor

  1. vizon says:

    kenapa ya ketupat atau lontong itu identik dengan lebaran? mbak nana tahu gak jawabannya? dari dulu saya selalu menanyakan ini…😀

    mantap tuh tradisi di keluarga mbak nana; membuat lontong opor, meski tidak merayakannya… salut banget saya…

    masakan khas kami ya pastilah rendang, hehe…😀

    • Bro Neo says:

      Uda, dalam bahasa jawa Ketupat, disebut juga KUPAT, dg “kearifan jawa” kupat, adalah singkatan dari KUla lePAT (saya bersalah), so dengan kupat, orang jawa mengakui bersalah dan meminta maaf..

      kata kupat dalam bahasa jawa disebut keratabasa, contoh keratabasa yang lain adalah:
      batur – pangembating tutur (melakukan apa yang diucapkan)
      guru – digugu lan ditiru (diikuti perkataannya dan diteladani tingkah lakunya)

      etc..

  2. Bro Neo says:

    hmmm… kayaknya yummy banget tuh..
    dan yg menurutku lebih yummy adalah proses memasaknya, mungkin sama gayengnya dengan sosis di sini: http://albertobroneo.wordpress.com/2009/06/09/sosis/

    salam saya,

  3. krismariana says:

    selama ini soal opor, lontong, ketupat, dan teman2nya itu, aku tahunya cuma makan hihihi. terus terang aku kurang suka masak makanan bersantan. soalnya ribet banget. enak sih kalau sampai di mulut, tapi kalau udah makan sekali rasanya malas kalau harus makan untuk kedua kalinya. jadi pas lebaran kemarin, aku sebenarnya agak kurang suka karena ke mana2 ketemu opor dan makanan bersantan. kan males mesti makan opor berkali2. untung pas hari kedua tanteku masak sayur asem. nyam…nyam…

    • nanaharmanto says:

      Aku sebenarnya juga nggak terlalu suka santan karena aku punya penyakit maag. Nggak suka juga dengan prosesnya yang ribet. Tapi sekarang lumayan terbantu dengan adanya santan dalam kemasan itu. paling 2 minggu sekali masak bersantan, itupun harus encer, bukan santan yang super kental, itu yang bikin agak “eneg”.

      Kalau bertamu ke rumah orang memang resikonya kita mau nggak mau ya makan yang dihidangkan tuan rumah ya.. nggak bisa “ngarani” macem-macem..hihi..

  4. nh18 says:

    Hah …
    ini namanya Lontongology
    dan Oporology …

    Terus terang saya baru tau ini … kalau masak opor mesti dialasi anyaman “gedek” bambu …

    Yang jelas …
    Betul kata Nana … hasil masakan itu nomer dua … yang penting adalah kebersamaan dalam melakukan ritual masak itu yang penting …

    Salam saya
    (jadi pengin opor nih..)

    • nanaharmanto says:

      hahaha…Om Trainer paling bisa deh bikin istilah lucu-lucu begeneh…

      Iya bener Om, kebersamaan itulah yang bikin rame dan “hidup”. Mungkin kalau dulu aku nggak pernah mau ikut terlibat bikin lontong dan opor itu, sekarang aku nggak bisa menuliskan hal itu.

      Mungkin aku akan melihat lontong, ketupat dan opor “hanya sekedar” makanan yang sudah jadi, dan tak peduli siapa yang telah berjasa menyediakannya.

      Mungkin juga aku nggak akan pernah sudi berepot-repot membuat lontong opor, sendirian pula…
      Aku bersyukur banget, Om…aku mengalami indahnya lontongology dan oporology itu..(minjem istilah Om hihi…)

  5. nh18 says:

    Yang jelas …
    menjawab pertanyaan kamu mengenai masakan khas rumah …
    kalau di rumah saya sekarang yang harus selalu ada adalah … Gulai Tauco … !!!
    (yang bumbunya saya beli di superngampret ituh)

    Salam saya lagi

  6. aurora says:

    nah, ini dia, toleransi tingkat tinggi…. salut mbak! salut banget….

    kalau kami di padang, jarang ada yang masak opor ayam…. biasanya kalau di kota padangnya, biasanya ibu2 masak gulai tauco, atau gulaicubadak(nangka).
    kalau di daerah-daerah, itu biasanya ada yang menyembelih sapi dan memasak rendang, dan gulai tunjang… soal karbohidrat, semuanya kompak: katupek(ketupat) hihihi
    salam kenal mbak

    • nanaharmanto says:

      Aku jadi penasaran deh, sama gulai tauco…semua teman-temanku yang dari Padang dan Bukit pasti menyebut-nyebut Gulai tauco…

      Hmmmm…kayaknya wajib dicoba neh….

  7. Ikkyu_san says:

    keluarga kami bukan asli indonesia sehingga jarang menguasai masak-memasak “real” indonesia. Dan yang pasti karena papa dan mama punya penyakit jantung, kami amat sangat mengurangi lemak/makanan bersantan. Tapi kami juga sering memasak ketupat sendiri waktu lebaran. Dan benar kata Nana, masak ketupat dan lontong susah susah gampang.

    Filosofi memasak yang Nana tulis hebat! Seharusnya setiap keluarga begitu. Memasak itu memang harus dinikmati.Kalau dinikmati pasti deh semua enak! Dan saya merindukan kegiatan memasak bersama-sama waktu mau membuat pesta di rumah Jakarta.

    EM

  8. edylaw says:

    lebaran udah lewat masih ada ketupat gak nih ?😀

  9. dyah suminar says:

    hi mbak Nana…
    kok lontongnya nggak sampai tempat Bunda ??
    he..he…bunda berkunjung di 5 tempat pada hari H idul fitri,semua masakannya lontong,ketupat dan opor….

  10. tutinonka says:

    Wah, ilmu lontong dan opor Nana ternyata hebat banget! Saya di rumah nggak pernah masak lontong maupun ketupat. Beli aja, atau pesan di tempat orang yang sudah biasa bikin. Kalau opor mah sering bikin, tapi nggak pakai dialasi besek … hihihi …

    Hmm …. kapan-kapan pengin membuktikan masakan lontong opor Nana nih … Kapan ya Nana ngundang teman-teman bloger?

  11. AFDHAL says:

    buatin donk …
    request yah kalo aku mampir kerumahnya mbak nana

  12. edratna says:

    Wahh senang membaca ceritamu. Saat anak-anak kecil, mereka rajin membantu, dan hasil ketupatnya bermacam-macam, ada yang terlalu keras (kebanyakan beras), ada yang terlalu lembek (beras nya terlalu sedikit). Namun semua gembira.

    Sayang, karena kesibukan kerja, kue Lebaran saya pesan pada adiknya teman yang pintar masak, padahal dulu alm ibu selalu bikin sendiri, dan kami, anak2nya membantu dan hasil kuenya memang jadi konyol…namun kebersamaan ini yang sulit dilupakan. Dulu bisa seperti itu, karena ibu pekerjaan nya guru, dan saat liburan puasa, liburnya 40 hari….ibupun ikut libur seperti murid2nya. Sedangkan saya? Sehari sebelum liburan Lebaran masih ke kantor, bersyukur sekarang ada libur bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s