Ujung dan Ziarah

Dulu, sewaktu aku masih kecil, Lebaran di kampung selalu punya suasana khas. Malam Lebaran, gema takbir berkumandang hingga pagi. Tanpa putus. Lalu pagi-pagi betul, mama sibuk menyapu rumah dan jalan di depan rumah. Mama selalu bilang, jalan harus dibersihkan sebelum orang-orang di kampung berlalu lalang untuk sholat Ied dan bersilaturahmi satu sama lain.

Aku juga ikut memakai baju bagus seperti halnya teman-temanku yang merayakan Lebaran. Seru lhooo…..Aku ingat gembiranya aku saat pernah ikut rombongan teman-temanku mengunjungi rumah para tetangga, bersalaman,  mengucapkan maaf, lalu si pemilik rumah memberi semacam kata-kata bijak dan tak lupa pula minta maaf (sebab orang dewasa, orang tua pun bisa melakukan kesalahan).

Nah, di daerah asalku, silaturahmi ini disebut “ujung”.

Mama membolehkan kami ikut ujung, tapi mama melarang kami menerima uang dari penghuni rumah yang kami kunjungi, sebab, itu bukan hak kami. Pemahamanku waktu kecil, uang yang diterima teman-temanku itu memang layak mereka dapatkan sebagai hadiah karena telah berpuasa sebulan penuh. Aku tak berhak mendapatkan uang karena aku tak berpuasa.

****

Silaturahmi memang harus terus dipertahankan karena kehangatan dan keakraban kental terasa tak hanya bagi keluarga dan kerabat tapi juga para tetangga yang seolah telah menjadi saudara bagi kita. Sempat aku terharu saat kusadari hal ini setelah dewasa, apalagi kegembiraan silaturahmi semasa kecil tak mungkin kembali seperti telah diceritakan Uda Vizon di sini.

Lebaran kali ini, aku dan suamiku tak mudik. Kami mencoba menikmati suasana Lebaran di tempat tinggal kami sekarang. Kami berencana “ziarah” ke rumah-rumah tetangga. FYI, ziarah adalah istilah setempat untuk silaturahmi. Sayang, hanya dua keluarga yang tetap tinggal dan  bisa kami kunjungi, lainnya, mudik ke kampung halaman masing-masing.

Hari Lebaran pertama, kami kedatangan tamu. Sekelompok anak-anak tetangga ramai-ramai datang ke rumah. Saat kutanya, mereka ini  duduk di kelas satu dan dua SD.

Lucunya, mereka masuk lewat pintu belakang! Tetap kupersilakan mereka masuk ke ruang tamu. Wuah….aku bingung setengah idup.

Matiiiiih…..gue gak punya uang untuk salam tempel!!

Dalam hati kuhitung,”satu…dua…tiga…ada tujuh orang!” Kutanya suamiku. Walah, sama aja, dia juga tak punya uang pecahan kecil.

Anak-anak itu begitu ceria, mereka duduk, ngobrol, hampir selalu berebutan menjawab pertanyaan-pertanyan kami. Hmmm…mereka tertawa dan akrab! Seolah mereka telah lama mengenal kami. Coklat yang kuhidangkan, segera ludes. Mereka juga tampak menikmati wafer kalengan, mereka mengambil berkali-kali dengan sopan. Aku merasa, mereka ini benar-benar bertamu.

Mereka  juga melihat-lihat koleksi buku kami. (Sayang aku tak punya koleksi buku anak-anak).

Lalu kuingat aku masih punya beberapa pecahan seribuan. Wah, selamat deh…hihi.

Kemudian, anak-anak ini berpamitan. Selembar uang seribuan masuk ke kantong masing -masing.

****

Tak berapa lama, datang empat anak yang lebih besar, dua cowok dan dua cewek. Saat kutanya, mereka ini duduk di kelas 6 SD.

Tak seperti kelompok anak sebelumnya, empat anak ini “mahal” senyum dan tawa. Dua anak cewek itu saling berbisik-bisik. Keempatnya tampak agak enggan untuk makan wafer kalengan itu. Belum lama mereka duduk, mereka segera berpamitan. Masing-masing pun mendapat uang. Ahh…jujur saja, aku lebih suka pada kelompok anak yang pertama.

Setelah itu, dengan sangat terpaksa, kami menutup gerbang dan pintu. Kami tak menerima tamu anak-anak lagi, karena uang kecil telah habis. Jadi pengalaman nih, Lebaran mendatang, siapkan uang kecil lebih banyak!

Anak-anak berikutnya yang datang, tak sungkan-sungkan untuk berseru-seru dan mengetok pagar, meskipun jelas-jelas pintu dan pagar terkunci.

(Beberapa hari kemudian, tetanggaku, bercerita bahwa anak-anak yang lebih besar itu, yang tak sungkan mengetok pintu pagar itu, bukan berasal dari wilayah komplek kami. Biasanya mereka eggan makan kue, dan hanya mengharapkan uang. Sedangkan anak-anak dari komplek kami,yang berkeliling ziarah memang hanya tinggal tujuh kurcaci itu, hihihhi…..).

Lebaran hari kedua, kami memutuskan untuk sekedar jalan-jalan, agar tak bosan di rumah. Dan banyak kami temui “kegigihan” orang-orang yang hendak bersilaturahmi, “ziarah” pada kerabat yang jauh, “ujung” pada orang tua, dan bersama-sama merasakan sukacita hari yang suci.

Bermacam alat transportasi dipakai untuk kembali bertemu dengan mereka yang tercinta.

Inilah beberapa gambar yang sempat terekam.

Bertudung tutup panci pun rela.....lho..lho....mas-nya mau loncat nggak mau difoto!

Bertudung tutup panci pun rela.....lho..lho....mas-nya mau loncat nggak mau difoto!

Menunggu anggota rombongan, Bejo...Gogor...Ipul...yak! Lengkap!!

Menunggu anggota rombongan, Bejo...Gogor...Ipul...yak! Lengkap!!

Full AC....Angin Cemilir....

Full AC....Angin Cemilir....

Emaaakk.....aku kegencet!

Bocah: Emaaakk.....aku kegencet! Emak: Sabar, Nak, ini udah ukuran Jumbo!

Ayo tebak...di atas mobil box begitu, mereka berdiri, jongkok atau "ndlosor"....??

Ayo tebak...di atas mobil box begitu, mereka berdiri, jongkok atau "ndlosor"....??

Tenda biru

Tenda biru, pelindung dari hujan

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Ujung dan Ziarah

  1. Ikkyu_san says:

    hihihi seru ya
    aku bisa ngebayangin muka Nana menghadapi tujuh anak yang pertama.

    Pasti pengen kuyel-kuyel mereka hihihi (atau obyek kuyel-kuyel sudah tertentu saja?)

    silaturahmi emang perlu sih ya, dan sebaiknya tidak hanya waktu Idul Fitri aja kan? (Asal jangan tidak hari sih) hihihi

    EM

    • nanaharmanto says:

      hihihi…bener Mbak, ada satu anak cowok yang lucuuu..banget..giginya geripis nyaris abis, tapi tawa dan senyumnya ngegemesin banget, trus matanya berbinar-binar lucu…celana panjangnya agak kedodoran dikit.
      Jadi pengen nguyel-uyel anak itu dehh…

      Kalau yang tiap hari diuyel-uyel sih udah pasrah deh🙂 udah tau tabiatku kalau lagi kumat hihihi…

  2. DV says:

    Nganu…. saya merasakan ada hal yang berubah dari yang tadinya “di…” menjadi “me…” dari yang semula pasif menjadi aktif… dari yang semula “diberi uang lebaran” menjadi “memberi uang lebarna” :))

    Maka lebaran kemarin, akupun nggak mikir “berapa uang yang diberi oleh Om ini atau Om itu” tapi justru sebaliknya, mengirim uang untuk diberikan pada ponakan A, B dan C🙂

    Isyarat kita tambah tua hahahah🙂

  3. vizon says:

    kalau di kampung asal saya, kunjungan pada hari lebaran itu disebut “BARAYO”, diambil dari kata rayo (raya, hari raya).

    yang saya tak pernah temukan jawabannya adalah tradisi salam tempel itu. siapa dan kapan dimulainya tradisi itu ya?

    karena kami berlebaran bukan di kampung sendiri, sehingga tidak banyak salam tempel yang kami berikan. padahal, beberapa hari jelang lebaran kami sudah tukar uang pecahan dua ribuan yang baru itu. masih ada tuh sisanya, mbak nana mau? hehehe…😀

    • nanaharmanto says:

      Aku juga nggak tau Uda, kapan mulai tradisi salam tempel itu dan siapa yg memulainya.

      Dan, siapa pula yang menjadikan momen Lebaran “hanya” untuk mengejar uang salam tempel sebanyak-banyaknya ya?

      Jujur nih, Uda, aku belum pernah liat uang pecahan dua ribuan yang asli, apalagi memegang. baru liat sekilas di TV.(Udik nian…)

      Uda mau ngasih aku? asyikkk..mauuu…..
      *dijewer Uda, belum ujung kok ngarep duitnya hehe…

  4. nh18 says:

    Ada Tiga Hal Na …

    #1 :
    “…. Mama selalu bilang, jalan harus dibersihkan sebelum orang-orang di kampung berlalu lalang untuk sholat Ied dan bersilaturahmi satu sama lain…”

    Ini indah sekali …
    Ini dalam sekali makna nya Na …
    Adem bener hati saya membaca kata-kata itu …

    #2 :
    Salam tempel …
    Rombongan tamu anak-anak tanggung yang kedua …
    bukan daerah situ ? wow … ini istilah distribusinya … Enlarging the Coverage … untuk mengejar target

    #3 :
    AC = Angin Cemilir …
    HUahahaha … sumprit gua ngakak …
    Kamu ini ada-ada aja sih

    Eniwei … this is nice Na …
    Salam saya

  5. nanaharmanto says:

    #1:
    Sepertinya, mama saya sampai sekarang masih tetap menyapu jalan depan rumah pagi-pagi sebelum para tetangga sholat Ied..

    #2:
    Entahlah, Om…apakah kelompok yang kedua itu benar-benar “ziarah” karena keinginan sendiri, atau ada yang mengkoordinir…

    #3:
    Hihihi…
    Angin Cepoi-cepoi…
    Angin Cejuk…

  6. tutinonka says:

    Sama seperti Om NH, aku terharu membaca mama Nana menyapu jalan sebelum orang-orang lewat untuk merayakan Idul Fitri. Ah, indahnya …

    Tentang anak-anak kecil yang mendatangi rumah-rumah untuk minta angpaw … wah, di lingkungan tempat tinggalku nggak ada yang seperti itu. Emang Nana tinggal di mana sih?

    • nanaharmanto says:

      Saya dulu tinggal di Muntilan, Bu Tuti…sampai sekarang orang tuan saya masih tinggal di sana. Jadi saya kalau mudik ya ke sana.

      Sekarang saya tinggal di Sulawesi Selatan, Bu..rencana akhir tahun ini mudik.. kopdar yuuk……..

  7. p u a k™ says:

    Kalau dulu masih kecil,..aku malah ikutan2 pake baju baru trus ikutan keliling dapet salam tempel dan makan kue2nya..
    Udah bakat emang kayaknya nih, dari kecil suka makan.. hehehe..

  8. AFDHAL says:

    sepakat dengan om NH dan ibu tuti
    menyapu jalanan sebelum orang lewat sholat ied
    *ademmmm bangettttttttt*

    harusnya anak2 kampung situ dikasih ID, bahwa mereka anak2 wilayah situ
    hehehhee

  9. edratna says:

    Nana, saat Lebaran di kampungku (Madiun) kami tak menyiapkan uang recehan. Justru setelah Lebaran di Jakarta, tiap habis sholat serombongan anak datang…jadi kami selalu menyiapkan recehan, maklum kami tinggal di kompleks rumah dinas, yang berbatasan dengan penduduk yang sebagian besar dari kaum urban.

    Setelah pensiun saya pindah ke daerah Cilandak, kami menyiapkan uang recehan…namun selesai sholat malah ada pengumuman kalau pak RW open house dan menyiapkan ketupat. Wahh kami ramai2 ke sana, anak kecil dapat angpau…dan ternyata tak ada anak yang datang seperti di rumah tinggal lama. Jadi kayaknya kebiasaan itu mungkin jika lingkungan kita berdekatan dengan para warga Betawi asli, atau kampung para pendatang.

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih sudah mampir dan komentar di sini ya Bu…

      Kalau begitu cerita Ibu, benar juga kata pepatah ya, Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya..

  10. albertobroneo says:

    aku ngikik lihat anak2 berdempetan di angkot dg stiker jumbo… he…he…

    udah jumbo aja uyel2an gitu yach… apalagi kalo standar saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s