Keluarga Padang

Di tahun keduaku tinggal di Jakarta beberapa tahun yang lalu, aku sempat indekost di sebuah keluarga Minang. Mereka berasal dari kota Padang. Si empunya rumah, aku memanggilnya Bu Haji, sangat ramah dan baik. Begitu pula dengan Kak Lin, anaknya yang tinggal di situ juga, dengan keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Semua akrab. Yang tak kukenal baik adalah suami Kak Lin, biasa dipanggil Uda T*****. Bukan apa-apa, aku merasa tak nyaman terlalu lama berada dalam satu ruangan bersama Uda T*****.

Mungkin banyak yang heran, mengapa aku memilih tinggal di sebuah keluarga, dan bukan tinggal di kamar kos yang memang khusus untuk kos para lajang.

Well, aku telah berusaha mencari kamar kos. Tapi di daerah yang dekat sekolah tempat aku mengajar memang rata-rata biaya kos sangat mahal untuk ukuran kantongku. Jadi aku harus pintar-pintar memilih agar aku bisa bertahan hidup dan gajiku tak habis hanya untuk biaya kamar kos perbulannya.

Bersama kawanku, aku mencari kamar di daerah yang tak terlalu jauh dari sekolahku. Menurut kawanku yang pernah tinggal bersama sebuah keluarga Bali, lebih enak tinggal di sebuah keluarga karena pasti aman dan bisa pula membayar lebih untuk ikut makan malam di dalam rumah tersebut. Jadi keuntungannya, tak perlu repot-repot mencari makan malam sendiri.

Setelah sekian lama mencari, dan mepetnya waktu, aku menemukan kos yang paling  (sesuai) aman saat itu, di sebuah keluarga Minang.

Jadi, tinggallah aku di situ.

Segera aku berbaur dengan keluarga yang menyenangkan ini.

Bu Haji sangat rajin beribadah. Setiap waktu sholat, Bu Haji selalu pergi ke mushola dekat rumah. Setahuku, tak pernah absen, deh..

Di waktu malam, selalu kudengar Bu Haji mengaji di dalam kamarnya. Aku tak paham artinya, tapi suaranya terdengar khusyuk mendayu. Sepertinya memang Bu Haji sangat menjiwai ayat-ayat yang dilantunkannya.

****

Aku selalu membeli makan malam sendiri. Aku pulang dari memberi les di atas  jam 6 sore, lalu sekalian makan, baru pulang ke kos.

Setiap kali pulang dari mushola bagda Isya, Bu Haji pasti mengetok kamarku, lalu menawariku makan. Bahkan tak jarang memaksa. Jadi, untuk menghormati Bu Haji, aku “menemani” Bu Haji makan dengan sepiring nasi dan lauk hihihi….

Aku selalu mengambil nasi sedikit. Biasanya Bu Haji menegurku. Kok makanku sedikit sekali, lalu byuk….Bu Haji menuang nasi secentong penuh ke piringku…wuahh….perjuangan tersendiri untuk bisa menghabiskannya karena aku sudah makan beberapa saat sebelumnya.

(Menurut Bu Haji, tawaran orang Minang pantang ditolak. Aku tak tahu pasti hal ini, dan sepertnya harus bertanya pada Uda Vizon, nih. Benar nggak hal ini Uda?. Atau ini hanya siasat Bu Haji agar aku mau menerima tawarannya?).


Nah, namanya orang Minang, pasti pula menu yang terhidang adalah menu masakan Padang yang pedas dan bersantan kental. Rendang daging buatan Bu Haji enaaakkk sekali, sampai kini pun, tak ada yang bisa menandingi kelezatannya.

Menu yang tak boleh absen di meja makan adalah sambal cabe hijau yang khas rasanya atau sambal cabe merah yang pedas minta ampun. Kadang pula, tersedia di meja makan balado pindang, gulai udang, kering teri dan sambal pete.

Bu Haji sering menerima pesanan rendang kering paru sapi. Ini juga keuntungan bagi penghuni rumah. Sebab serpihan paru yang kaya bumbu itu boleh dinikmati penghuni rumah lainnya. Bu Haji sendiri tak tertarik untuk membuka usaha katering, Bu Haji hanya melayani pesanan masakan rumahan yang dipesan pribadi oleh sang pelanggan.

Aku sering kali tak enak hati pada Bu Haji, sebab berdasar perjanjian, aku hanya membayar sewa kamar kos tanpa makan.

Sayangnya, perutku yang sensitif terhadap pedas dan santan pun akhirnya berontak. Maag-ku kambuh.

Sejak saat itu, aku hati-hati sekali menerima tawaran Bu Haji. Lama-lama tak enak juga makan gratis hampir setiap hari. Kadang-kadang, aku sengaja tak menjawab saat Bu Haji mengetok pintu kamarku. Pura-pura tidur..*maaf Bu Haji…

Di keluarga itu tinggal pula seorang gadis dari Padang. Jadi kalau kami tengah berkumpul di ruang keluarga, mereka seru sekali ngobrol dalam bahasa Padang. Aku satu-satunya orang yang tak paham. Kak Lin kadang menerjemahkan guyonan mereka kepadaku.

Lebih sering sih, aku memilih yang lebih nyaman untukku; menemani belajar cucu Bu Haji, -Akbar, yang duduk di kelas 5 SD. Kebetulan, Akbar ini suka sekali Bahasa Inggris.

****

Mobilitasku lumayan tinggi, apalagi Sabtu dan Minggu, saat aku pergi seharian dan pulang jam 10 malam. Memang sih, aku memegang kunci sendiri, -kunci gembok gerbang, pintu depan dan pintu kamarku. Tapi, Bu Haji sering menggerendel pintu depan dari dalam, sehingga aku tak bisa masuk. Bu Haji terpaksa bangun untuk membukakan pintu. Pernah juga, sesuai kesepakatan, pintu tak digerendel, hanya dikunci saja. Tapi, Bu Haji lupa mencabut anak kuncinya, jadi tetap aja, pintu tak bisa dibuka dari luar.

Kami menggunakan kamar mandi yang sama. Sebenarnya, ada satu kamar mandi khusus di dalam rumah. Sedangkan satu lagi di belakang. Kamar mandi inilah yang dipakai anak-anak kost. Tapi rupanya, cucu-cucu Bu Haji lebih suka menggunakan kamar mandi ini. Begitu juga dengan uda T*****. Pernah, aku berpapasan dengannya di depan kamar mandi. Dia hanya memakai selembar handuk. Dooohhh….


Sering pula dia berkeliaran di dalam rumah hanya bercelana pendek dan bertelanjang dada. Di saat-saat kudengar dia ada di rumah, aku memilih untuk ngumpet di kamar.

Aku berpikir, bahwa aku lebih baik mencari kamar kos di mana aku akan merasa lebih nyaman. Pastilah lebih mahal, tapi memang itulah harga yang harus kubeli demi privasiku.

Aku tinggal bersama keluarga ini hanya 1 bulan. Baru sesaat kami dekat, tapi aku terpaksa pindah, demi kebaikan bersama. Dengan agak berat Bu Haji melepasku, sebab selain sudah merasa dekat, hmmm, penghasilan tambahannya pun akan berkurang.

Aku bersyukur boleh tinggal di keluarga tersebut yang mengijinkan aku masuk menjadi bagian dari mereka di Jakarta. Sungguh suatu pengalaman yang berharga.

****

(Beberapa hari lalu, gempa besar melanda Padang dan sekitarmya. Kulihat tayangan di TV, betapa mengerikan akibat gempa itu. Miris aku melihatnya. Aku jadi teringat akan keluarga Bu Haji di Jakarta. Pastilah mereka cemas akan nasib kerabat mereka di Padang sana.

Aku hanya bisa berharap dan mendoakan semua kerabat mereka selamat, sehat tak kurang suatu apa pun. Begitu juga, dengan kerabat dan famili para sahabatku yang berasal dari Ranah Minang: Uda Vizon, Arif, Uni Marshmallow, Puak dan Uni Dede. Semoga semua orang yang mereka cintai  selamat dan selalu dalam lindungan Tuhan…Amin).

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Keluarga Padang

  1. aurora says:

    puji syukur, aku nggak apa-apa mbak…. keluargaku juga tidak kurang satu apapun…..

    dan aku masih punya cukup nyawa untuk blogwalking dan posting alakdarnya…..

    NB: aku penasaran deh, sama uda T***** itu….. mencemari nama orang minang saja….

    hehehe… trims mbak…

  2. albertobroneo says:

    wah untung aku tdk kos d tmp itu.. bisa bisa bu haji bangkrut, lha wong aku makannya banyak he..he..he…

  3. nh18 says:

    Iya Na …
    Semoga saudara-saudara kita diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa

    Salam saya

  4. teman-temanku yang dari Padang aku kontak satu per satu Na. Waktu mereka bilang semua baik-baik saja kecuali rumah…tak urung aku pun ikut menangis bersama mereka.

    Mudah-mudahan semua segera pulih ya, Na?!

  5. Mudah-mudahan keluarga mantan induk semangnya dalam keadaan sehat wal afiat ya..

  6. tutinonka says:

    Pengalaman saya dengan orang Minang?
    Waktu kuliah dulu, pernah ‘dekat’ dengan teman yang berasal dari suku itu. Whoa, dia gencar sekali ‘nguber’ saya. Sebenernya sayapun ‘ada hati’, tapi belum-belum sudah takut duluan membayangkan berhadapan dengan adat istiadatnya yang sangat kuat, juga ninik mamaknya di kampung. Jadi, mundur deh saya …🙂

    Saya juga mendoakan semoga teman-teman bloger yang ada di Sumbar, atau yang memiliki keluarga di Sumbar, semua diberi keselamatan. Amin.

  7. p u a k™ says:

    Puji Tuhan, semua keluargaku di Padang selamat mbak..
    Tapi tetep.. kejadian seperti ini harus menjadi renungan buat kita semua.

  8. Lhaaa mbak
    perasaan minggu lalu gue udh komen disini
    koq gak ada?

    aneeeh😦

    anw bersyukur sahabat2 blogger kita selamat ya mbak🙂

    TC di pare2 ya mbak….
    semoga kita semua dlm lindungan Tuhan

    EKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s