Semacam Pak Unyil

Masih ingat Si Unyil?
Yap, salah satu dari sedikit sekali tontonan untuk anak-anak yang terkenal di era 80-an yang disiarkan tiap hari Minggu di TVRI ituuuhh…
Aku dulu suka sekali nonton Si Unyil produksi PPFN ini. Aku masih ingat, desa si Unyil bernama desa Sukamaju. Tokoh-tokohnya pun aku masih ingat, ada Usro, Ucrit, Cuplis, Kinoi, Meilani, Pak Raden, Pak Ogah dan Pak Ableh. Masih ada yang lain tentu, tapi tokoh-tokoh inilah yang paling sering muncul dalam cerita.

Nah, dulu aku heran, nama para orang tua di dalam serial itu kok sama dengan nama anak mereka yang pertama ya? Orang tua Si Unyil dipanggil dengan Pak dan Bu Unyil, orang tua Cuplis dipanggil Pak dan Bu Cuplis.

Aku pun bertanya-tanya, apakah Pak Raden itu punya anak bernama Raden?

Aku heran sekali saat itu. Sebab, menurutku, seharusnya orangtualah yang memberi nama anaknya, lah ini kok malah anak yang “memberi” nama pada orangtunya?

Misalnya, kalau seorang bapak bernama Ucrit, lalu memberi nama anak pertama mereka dengan nama Ucrit, kok nggak kreatif banget sih? kan kasian anak-anak berikutnya yang tak diberi nama seperti orangtuanya?

Yah, itu pikiran kanak-kanakku dulu.

Well, aku tak akan membahas lebih lanjut tentang nostalgia bersama Unyil era 80-an itu. Ini tentang rupa-rupa orang memperkenalkan diri.

Di tempat tinggalku di Muntilan, Jawa Tengah, anak-anak akan memperkenalkan diri dengan namanya sendiri,  malah, kadang-kadang menyebutkan nama ayah, ibu atau bahkan simbahnya (nenek atau kakek) sebagai info tambahan. Misalnya nih, “Nama saya Heru, (anaknya Pak Uki)”. “Saya Asih, (cucunya Mbah Amat)”.

Begitu juga, orang tua dan dewasa juga menyebutkan namanya sendiri meskipun kepada anak-anak.  Misalnya, ” Saya biasa dipanggil Mbah Mitro”, dan  “Saya Pakde Partomudji”.
Ya seperti itulah, nama punya peran penting dan dipakai untuk memperkenalkan diri sendiri, kepada orang dewasa atau kepada anak-anak, dan tidak mewakilkan siapapun selain dirinya pribadi.

Seingatku, para nyonya senior (baca: tua) dipanggil sesuai nama suami mereka, menjadi “Mbah Mitro Setri” (artinya perempuan, lawan dari kakung, – laki-laki) dan “Mbokdhe (Bude) Partomudji”

****

Saat aku dewasa, aku merantau di Jakarta. Di sana aku kos di suatu pemukiman padat penduduk. Hmmm…Jakarta mana sih yang nggak padat?

Nah, pertama kali aku berkenalan dengan para tetangga, aku menyebutkan namaku, berharap mereka berbuat sama agar aku mudah menyapa mereka saat berpapasan nanti.

Aku heran, boro-boro nyebut nama sendiri, mereka menyebut nama anak mereka.

“Saya mama(nya) Oji”.

“Saya mama(nya)  Dini. Nah, yang itu bapak(nya) Taufik”.

Yak! dengan suksesnya aku bingung. Oji, Dini dan Taufik itu nama anak-anak yang saat itu tengah ribut bermain bersama anak-anak lain sambil jejeritan. Aku tak tau siapa yang mana,  bernama apa. Mana mungkin juga aku ngapalin wajah anak-anak yang lumayan berjubel begitu untuk mengingat nama orang tua mereka.

Dalam hati aku menahan tawa. Hehehe…(maap) kok kayak di serial Si Unyil begeneh….

Seorang rekanku dari Sumatera Utara bahkan sempat mengatakan, ada semacam tradisi dalam etnis Batak tertentu di daerahnya itu, anak-anak tak boleh menyebut dan mengetahui nama ayah dan ibu mereka.  menurutku aneh sekali. Mosok nggak boleh tau sih?

Jadi, mereka akan “membahasakan” dengan bapak si Raja, ibu si Oskar bla.la..bla…

(Ada yang bisa menjelaskan mengapa begitu?)

****


Sekarang pun, di tempat tinggalku sekarang di sebuah kota kecil di propinsi Sulawesi Selatan, para tetanggaku pun seperti “enggan” menyebut nama mereka sendiri. Mereka pun menyebut nama anak-anak mereka. Mamak Rian, Bapak Akbar, Mamak Ali…

Suatu kali, aku sengaja memancing tetanggaku agar mereka meyebutkan nama mereka sendiri dengan dalih akan kucatat di HP berikut nomor telepon mereka.

Mereka menjawab,

” Tulis saja Mamak Amel”.

“Sebut saja Bapak Anwar”.

Ya sudahlah, aku mengalah, tak ingin memaksa mereka.

Tapi, ada pula tak enaknya tak mengetahui  nama para tetanggaku. Suatu kali, datang seorang utusan sebuah keluarga, untuk mengantarkan undangan resepsi pernikahan. Dua orang bersarung resmi ala Bugis, dan berpeci, mengetok pagar rumahku dan menanyakan di manakah rumah Pak Haji Bustamin.

Nah, looohhh….

Terpaksa kubilang”, Maaf, Pak, saya tidak tahu, saya orang baru di sini”.

Sebenarnya ini jawaban yang paling kubenci, sebab jawaban ini cepat sekali diberikan orang saat tak ingin menjawab pertanyaan orang lain yang menanyakan alamat atau jalan. Dan kali itu aku terpaksa menggunakannya dengan mulutku sendiri! huh!

Lain hari,  datang pula utusan pembawa undangan, menanyakan rumah Ibu Mastari. Kembali aku kebingungan. Tapi aku tak ingin menjawab “Saya orang baru  di sini” lagi.

Kujawab,” Maaf, Pak, saya belum mengenal semua tetangga di sini. Kalau boleh tau, alamatnya di mana ya?”

Ini pun jadi masalah tersendiri.  Alamat hanya tertulis nama daerah, RT dan RW, tanpa nomor rumah.  Ndilalah,  rumah-rumah di sekitarku pun tampak sepi. Dengan berat hati kukatakan maafku tak bisa membantu lebih lanjut.

Suatu kali, lagi-lagi, datang seorang pengantar undangan menanyakan rumah Pak Isnan Salasa. Aku bertekad tak akan mengucapkan kalimat yang kubenci itu.

Aku pun membantu kurir tersebut. Aku bertanya pada tetanggaku sebelah kiri.

“Maaf, nih, Bapak(nya) Wawan, rumah Pak Isnan Salasa di mana ya?”

“Oh, Iya, di sini, saya sendiri”.

Mateeeh…

Aku yang berniat membantu sang utusan jadi malu setengah idup. Wajahku hangat. *blushing…

Dalam hati, aku sempat ngedumel.

Makanyaaa…..sebut nama sendiri duooong kalau kenalan! Kalau begini kan aku yang malu banget, secara, aku lumayan sering ngobrol dengan Nyonya Isnan. Rumah kami pun saling menempel hanya berbatas dinding…doohh…..

****

Bagaimana dengan kebiasaan di daerah Anda? Memperkenalkan diri “ala Pak Unyil” atau menyebutkan nama sendiri? Yuk, berbagi….

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Semacam Pak Unyil

  1. di sini dikenalinnya pakai nama suami. jadi misalnya suaminya namanya Eko (bukan nama sebenarnya), kalau aku kenalan sama istrinya, dia minta dipanggil dengan Bu Eko.

    Terus terang aku jadi bingung. Soalnya pas salaman, aku sebut nama ku, dia sebut nama suaminya..

    trus selang beberapa lama, aku pernah pura-pura lupa. sambil bilang begini: “ibu namanya siapa yaa, aku lupa”.
    ibu itu tersenyum lebar sambil bilang “Ooh, panggil saja saya Ibu …..(nama suaminya)..gubraak! aku nyeraah d..(hiks!)

    belakangan dia kasih tahu namanya juga. karena jengah, setiap kali aku ketemu jadinya senyum, ngobrol, share informasi soal neighbourhood, tanpa sebut nama.
    it seems safer to have chit-chat in that way..:D

    • nanaharmanto says:

      Hehehe…aku pernah liburan ke Jatim tempat budeku. dan memang, mereka saling menyapa dan memanggil dengan nama suami. Bu Rumadi, Bu Agus, dll.
      lain daerah lain kebiasaan ya?

  2. ikkyu_san says:

    hahhaah emang tuh orang Indonesia aneh.

    Nah lucunya waktu aku masih single di sini, lalu pergi ke KBRI dibilang : “Salam untuk pak Coutrier ya”… loh itu kan nama bapak saya, dia tinggal di Jakarta hehehe.

    soal nama anak, di Jepang memang begitu. “Saya mamanya Riku Miyashita” bukan “Saya Imelda Miyashita”. Karena kami berkenalan dalam kerangka kegiatan SD jadi mau tidak mau begitu. Paling sedikit kita tahu nama family mereka. Orang Jepang jarang memberitahukan nama kecil mereka pada umum.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Waktu masih ngajar beberapa waktu yang lalu, wali murid yang datang ke sekolah juga mengenalkan diri seperti itu, Mbak..
      “Saya mama(nya) Andre”
      “Saya papa Willy”.
      Dan memang itu cukup membantu untuk mengenali mereka, mengingat jumlah murid yang buanyak begitu. Aku sih sangat terbantu dengan cara seperti itu karena mempermudah mencari file murid dan rapornya.
      Tapi kalau di sekitar tempat tinggal aku lebih berharap mengenal nama asli seseorang,karena dengan mereka lah aku berinterkasi. aku hampir nggak kenal anak-anak di sekitar tempat tinggalku di Jakarta.. hehehe..

  3. untungnya..di Condet, tempat aku tinggal meskipun panggilan kerennya Mamanya si ini atau Papanya si itu..tetap saja tahu Nama Aslinya, jadi tidak kejadian hal yang “memalukan” itu Na.
    Memang ada sekelompok orang yg semula enggan menyebutkan namanya, tapi ketika aku mencoba membiasakan memanggil nama mereka akhirnya jadi terbiasa dengan gayaku.

    • nanaharmanto says:

      Nah, itu yang aku harapkan Mbak, tau nama aslinya. untuk masalah memanggilnya dengan nama anak -menjadi mama Ray, Papa Dian dll,- sebenarnya juga OK aja buatku, asal aku tau nama aslinya. Jadi nggak perlu ada kejadian malu-maluin gitu..
      tapi nggak tau nih, kok sepertiya orang-orang sini enggan menyebut nama asli..

  4. ya, emang lain adatnya, kalau di desa tempat saya sih, mgkin hampir mirip2 yang di Muntilan, ditambahi dengan cucunya siapa, anaknya siapa, kalau selama ini mereka selalu menyebut nama, demikian juga saya ketika berkenalan di daerah baru…ada pengalaman unik waktu di Riau, ketika berkenalan mereka nyebut uwak,yang lain juga uwak, jadi saya namakan saja uwak satu, uwak dua…

    • nanaharmanto says:

      Wah, memang seru ya kalau kenalan di tempat baru, pasti ada yang lain dan unik.
      Oh ya, Di Riau itu Uwak tuh sapaan untuk pria saja ya? mungkin artinya paman? atau Pak?

  5. aurora says:

    waow… repot juga tuh.. tapi saya tidak. saya berjanji tidak akan memakai nama anak saya jika saya dewasa dan punya anak nanti.
    pengecut sekali dong, saya memakai nama anak sebagai tameng, seakan menyebut nama sendiri adalah dosa…..

  6. nanaharmanto says:

    Lain tempat lain caranya pasti ya? di Padang dan Bukit sendiri caranya gimana sih?

    • aurora says:

      ga gitu-gitu amat kak… disini semuanya memperkenalkan diri dengan nama sendiri-sendiri….

      dulu aku pernah tinggal di surabaya 2 tahun… dan kebanyakan memang mereka memperkenalkan dirinya dengan nama anak mereka…. “oh, saya mamanya si anu” .. begitu….

  7. p u a k™ says:

    Di Padang kayaknya sama deh mbak.. “mamanya Puak” atau “papanya Puak” hehehe…

    Aku pernah nanya gini sama mamaku, kenapa nama adek2ku nggak disebut?, mama cuma jawab, karena aku (Puak) anak paling tua. Well.. tradisikah?:mrgreen:

  8. nh18 says:

    Kalau saya …
    Nama-nama seperti itu saya dapat di sekolahan anak – anak saya …
    Waktu anak saya TK-SD-SMP-SMA
    saya selalu dipanggil …
    Ayah Tyo, atau Papa Bimo, atau Bapaknya Yoga

    • nanaharmanto says:

      Nah, kalau scope-nya jelas sih OK-OK aja, memang di sekolah yang buanyak nama dan orang gitu, memberi label nama sesuai nama anak/murid memang cara yang paling gampang. kalau di lingkungan tempat tinggal kok agak nggak pas ya kalau “hanya” pakai bapak(nya) Wawan, dll. contohnya ya kalau ada tamu dari luar wilayah/ pengantar undangan, kan mereka nggak tau juga nama anak-anak yang dipakai para orang tua untuk panggilan sapaan di tempat itu…

  9. albertobroneo says:

    kalo di tempat asalku, pakai nama asli deh.. cuma memang utk istri, biasa memakai nama suami untuk perkenalan… tapi kalo udah deket, biasanya akan memberikan nama aslinya juga

    cuma ada satu yang agak aneh.. ada seorang Bapak yang lebih terkenah sebagai Pak Dar**** sedangkan Dar**** adalah nama sang istri… ini terjadi karena sang istri konon kabarnya sangat dominan😦

  10. DV says:

    Hehehehe kalau di daerahku, Klaten, memang begitu. Bahkan, sampai sekarang, oleh tetanggaku, mamaku dipanggilnya ya, “Mamanya Donny” karena waktu kecil aku menghabiskan waktu di sana sedangkan adikku lahir ketika kami di perantauan.

    Kalau di Australia sini, nama ya nama… simply… “Nama saya Donny”🙂

    • nanaharmanto says:

      Lain daerah, memang lain kebiasaan ya? aku sebenarnya nggak keberatan juga utk menyapa para tetangga dengan nama anaknya setelah didahului “mama” atau “bapak”, tapi lebih sreg aja kalau juga tahu nama aslinya. Nama suami juga boleh lah, tapi kalau melulu nama anak, wah, repot kalau ditanya sama orang dari luar komplek.

      Btw, para bule memang lebih simple ya, bahkan nggak perlu embel-embel “mbak” atau “mas”..

  11. yessymuchtar says:

    Heheh, rata rata orang Jakarta dengan pemukiman padat memang begitu mbak. Mereka juga menyapa tetangganya dengan nama anaknya, lah sekarang aja kalo aku ketemu tetangga mereka akan sebut aku…

    “Mau kemana bundanya Tangguh?”

    Padahal sebelumnya mereka biasa panggil aku dengan nama saja. Mungkin ada kaitannya dengan kesopanan kali ya?

    Entahlah😛

    • nanaharmanto says:

      Halo bundanya Tangguh,

      Aku jadi bertanya-tanya deh, sejak kapan ya kebiasaan itu muncul?

      Mungkin juga kebiasaan ini muncul untuk memudahkan teman-teman si anak untuk menyapa kali ya?

  12. geRrilyawan says:

    kalo di SD dulu malah anak-anak suka manggil temennya pakai nama bapaknya atau ibunya, tujuannya sih jelas…ya buat nyela.

    Di sumatra Utara ada adat begitu ya? mungkin juga soalnya yang saya tau di nias juga orang yang sudah punya anak akan dipanggil dengan nama anaknya, misal anaknya bernama Rudi, si bapak dipanggilnya jadi Ama Rudi.

    • nanaharmanto says:

      Wah, di SD memang anak-anak suka memanggil dengan nama orangtua untuk ngeledek. Sampai sekarang juga lho…bahkan ada yang tersinggung sampai berantem segala…ampun deh…
      Tapi dulu waktu SD nggak ada yang berani ngeledek nama Bapak saya tuh…

      Sayang dulu saya nggak sempat tanya lebih lanjut ke teman saya itu…*masih penasaran jadinya.

      Terima kasih sudah mampir ke sini ya?

  13. Pakde Cholik says:

    Emak kalau mencari saya ” Mana papinya Eny ?”, Eny adalah anak sulungku. So, anak sulung selalu dipakai sebutan pada ortunya. Tapi sekarang sudah agak hilang model seperti itu. tetangga bilang ” Pak Cholik sudah datang bude ?”

    Lain suku lain gaya, lain meja lain jajannya tho mbak Nana.
    salam hangat dari Surabaya.

    • nanaharmanto says:

      Wah, setuju Pakde, lain suku lain kebiasaan, lain meja lain pula jajanan/makanannya…

      Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya, Pakde?

  14. tutinonka says:

    Hehehe …. repot juga menyebut diri dengan ‘mamanya Anu’ atau’papanya Ina’. Lha kalau nggak punya anak kayak saya, terus gimana dong? Mamanya kucing ‘kali ya … haha 😀

    Di masyarakat Jawa memang ada kebiasaan seperti itu. Isteri menyebut diri sebagai nyonya suaminya. Saya sendiri tidak selalu menyebut diri sebagai Bu MAM. Banyak juga yang memanggil saya dengan Bu Tuti. Suka-suka oranglah ….

    • nanaharmanto says:

      wah, sama Bu Tuti, saya juga belum bisa menyebut diri dengan nama anak…hehe..

      Sampai sekarang saya selalu menyebut nama sendiri kalau kenalan, seingat saya malah belum pernah mengenalkan diri dengan Bu+ nama suami hihi…bukannya malu atau nggak pede, hanya saja, saya memang lebih sreg dengan nama sendiri..

  15. ahahhahaha lain tempat lain tradisi ya mbak.

    btw soal penyebutan nama anak di dlm tradisi batak krn anak itu adl harta. jadi dipanggil nama anaknya krn itulah hartanya mereka🙂

    sorri bari bisa maen sini lagi, hadoooh koneksi gue sering dodol😛
    maafkan ya mbak🙂

    • nanaharmanto says:

      Ooww…begitu ya, baru tau…asyiknya punya sahabat dari segala pelosok negeri ya begini, bisa nambah pengetahuan…
      Btw, yang aku masih bingung itu, kok ada yg bilang anak nggak boleh tau nama orang tuanya ya? aneh menurutku…

      • Nah kalo soal itu gue juga bingung😛
        sampe kelas 6 SD gue gak tahu nama bokap gue siapa
        hahahha
        taunya ya Situmorang aja hihihi

        trus bisa tau karena di ijazah mesti tulis nama lengkap ortu, baruuu deh tau nama bokap hhehehe :p

        Ah tradisi anak gak boleh tau nama ortu mesti dikikis pelan2. Hari giniiiii gitu lho mbak… kalo ilang di mall kan susyeh mau cari ortunya, lha anaknya gak tahu nama mereka :p hehehe

  16. Afdhal says:

    hihihiih..
    bugis bangett
    ” anka yero attana afdhal, ammana afdhal”
    alias “itu loh bokapnya afdhal, emaknya afdhal”
    sering banget denger dikampung hihihihi

    btw sebelah rumahnya pak isnan salasa tuh rumahnya pak isnan rebo lho? coba gih mbak nanyain🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s