Teknik Delapan

Ketika aku masih kelas 3 SD, papa mengajari aku dan kakakku naik sepeda. Di halaman sebuah SD Negeri di kampungku, setiap sore, kami giat berlatih.

Bergantian dengan kakak menggunakan sepeda mama, kami harus terlebih dulu belajar menuntun sepeda yang lumayan besar. Setelah lancar menuntun tanpa menjatuhkan sepeda itu, kami mulai berlatih mengayuh. Dengan gigih kami terus berusaha. Jatuh bangun hingga babak belur tak meruntuhkan semangat kami.

Awalnya, papa memegangi bagian belakang sepeda agar sepeda kami tak oleng. Lalu kami mulai berlatih sendiri tanpa bantuan papa.

Serdek…serdek…..serdek…begitu bunyi pedal yang kami kayuh pendek-pendek dengan kaki kanan, sementara kaki kiri masih menjejak tanah. Pelan-pelan, kaki kiri mulai berusaha menjejakkan kaki di pedal. Serabutan. Tak semudah melihat orang yang berlatih, -ternyata, melakukannya sendiri,  sulit!

GRUBYAK!!

Bunyi yang khas itu menandakan bahwa orang yang tengah giliran berlatih sepeda itu jatuh, entah menimpa sepeda atau tertimpa sepeda. OK, saatnya kami lari mendapatkan sang korban dan bergegas menolong.

Kami harus bergelut dengan luka-luka yang perih untuk menguasai kunci kesuksesan naik sepeda: keseimbangan. Butuh waktu agar kami bisa melakukannya.

Senang sekali lho, ketika berhasil naik sepeda sendiri. Kadang-kadang masih oleng ke kiri dan ke kanan. Tak jarang pula terlambat mengerem, sehingga sebelum menabrak pagar atau sesama pembelajar sepeda, kaki-lah yang menjadi rem darurat, terjun kalang kabut menggeresek-geresek di tanah menahan laju sepeda. Hihihi…

Lalu,  papa membelikan kami sebuah sepeda mini bekas berwarna biru. Aku dan kakakku senang sekali, sebab, kami dijanjikan boleh naik sepeda mini itu ke sekolah. Yippie!!!!

Tapi…eiits…tunggu dulu! Jangan harap papa akan mengijinkan kami naik sepeda ke sekolah begitu saja sebelum kami menguasai teknik delapan.

Apa itu ya?

Papa membuat angka 8 besar di tanah. Di atas angka delapan itu, kami harus berlatih mengikuti bentuknya. Bukti kesuksesan adalah mampu bersepeda di atas angka 8 itu tanpa jatuh, tanpa putus, tanpa rem kaki darurat.

Susaaah…..sekali mengikuti angka 8 sialan itu. Papa memberi contoh.

Aku mencoba. Aduh…Gagal!

Kakakku mencoba. Juga gagal.

Papa memberi contoh lagi. Oooh…ternyata kuncinya adalah: pada bulatan kepala dan bokong angka 8 itu, kami harus  mengayuh pedal setengah penuh, dan berkonsentrasi memainkan setang sepeda.

Awalnya, karena belum biasa, kami tetap saja mengayuh penuh, akibatnya, sepeda kami meluncur jauh meninggalkan bentuk 8. Seru sekali pengalaman itu. Kami berkawan akrab dengan luka goresan dan lebam karena terjatuh.  Tak jarang kami terkekeh-kekeh geli melihat betapa aneh dan konyolnya posisi jatuh kami.

Beberapa sore pun kami habiskan untuk berlatih teknik delapan itu. Akhirnya, pelan tapi pasti, kami bisa menguasainya. Hebat kan?

****

Kami sudah tak sabar untuk segera diijinkan naik sepeda ke sekolah. Kami sudah menunggu-nunggu saat itu. Harap-harap  cemas  seperti menunggu hasil sidang. Sudah boleh belum ya? Sudah diijinkan belum ya?

Apakah papa akan bilang “ya”?

Apakah papa akan mengangguk?

Atau mengangkat jempol?

Kenapa sih, papa nggak pulang-pulang?

Menunggu papa pulang kantor rasanya lamaaa sekali.

Akhirnya saat itu pun tiba.

Uuuff…finally! Jam tiga lewat sedikit, papa pulang dari kantor.

Kami menunggu di halaman SD, sebab pasti papa akan lewat situ. Siip….papa berhenti, turun dari sepedanya, lalu mendekati kami.

Terbayang-bayang asyiknya bersepeda ke sekolah. Pasti teman-temanku akan heboh.. aku dag dig dug…

Nah, sekarang vonisnya! Siap-siap…..

Tereeeeeng….!!

Papa  menggambar angka 8 di tanah, lebih kecil dari sebelumnya.

“…??…”

****

Biasanya, papa-lah yang turun tangan saat ban sepeda kami kempes atau bocor. Papa memompa ban sepeda kami, atau menambal sendiri ban yang bocor tertusuk paku.

Asyik sekali melihat papa bekerja merawat dan memperbaiki sepeda.

Ketika aku SMP, sepeda mini biru itu hilang dicuri orang. Tetanggaku sendiri. Betapa dongkolnya aku. Sepertinya, papa tahu persis siapa maling itu, tapi papa tak mau meributkannya.

Saat papa dan mama mampu membeli motor, sepeda yang sebelumnya setia menemani papa dipinjamkan pada salah seorang tetangga. Maksud papa biarlah sepeda itu tetap berguna dan dirawat si pemakai, dengan catatan: boleh dipakai, dijual jangan.

Ternyata oh ternyata…diam-diam sepeda itu dijual juga! Sekali lagi, papa diam. Aku betul-betul gregetan, betapa tak tahu terima kasih orang itu.

Papa hanya bilang,” Pokoknya papa nggak pernah punya niat menjual sepeda itu..”

Ngono thok. Sudah. Begitu saja. Tidak ada sumpah serapah. Tidak ada kutukan.

Ahh…..

****

Anda punya pengalaman unik saat belajar naik sepeda?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

32 Responses to Teknik Delapan

  1. nh18 says:

    Saya hanya ingin mengomentari …
    Teknik delapan … yang diperkecil …
    dan saya ngakak sodara – sodari …

    hahahaha

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      horee…….sukses bikin Om Trainer tertawa…!

      Dulu Om sepedaan pakai teknik ini nggak Om?

      • nh18 says:

        Noup …
        Parameter bisa atau tidaknya naik sepeda adalah …

        Jika kita sudah bisa berputar berbalik arah 180 derajat dengan hanya menggunakan lebar jalan …
        Tanpa atret …
        Tanpa kaki turun …

        Hahahaha
        (analitis sekali sodara)

  2. nh18 says:

    And Yes …
    I am the first

  3. tutinonka says:

    Waaa …. sama persis, Na. aku belajar naik sepeda waktu umur sekitar 7 tahun. Pakai sepeda gede juga, wong di rumah nggak punya sepeda mini. Sama juga, jatuh bangun. Tapi akhirnya aku bisa naik sepeda besar, dengan tubuh dan kakiku yang kecil. Jadi masih ‘ngawil’, kaki hanya bisa memutar pedal pada saat pedal ada di atas. Aku bahkan bisa naik sepeda laki-laki, yang ada ‘planthang’nya itu lho. Wooh, itu sulit lho … harus melompati ‘planthang’ untuk bisa duduk di sadel …

    Waktu teman-teman sekelasku di SD naik speda mini ke sekolah, aku jalan kaki atau sesekali mbonceng mereka, karena ibuku yang janda tak mampu membelikan sepeda mini untukku …

    • nanaharmanto says:

      Hehehe…sepeda yang ada planthangannya itu, saya pernah nyoba punya bapaknya teman. Karena susah, jadi bersepeda dari bawah planthangan, jadinya susah banget karena mlerot-mlerot hihi…

      Saya dulu juga suka bersepeda pakai speda onthel papa saya. asyik juga, karena rodanya besar, sekali kayuh langsung panjang ngglindhingnya..cepet sampai tujuan deh…hehehe..

      Saya dulu juga suka mbonceng teman Bu sebelum punya sepeda mini bekas itu..

  4. aurora says:

    ternyata ada juga toh, seni melatih sepeda… disini sih, kami belajar dari pengalaman….

    prakteknya langsung di jalan raya… kalau tabrakan, anggap itu cuma latihan…
    hahaha… sedikit brutal memang….

    NB: tapi sekarang udah bisa naik sepeda kan kak?? ehehe

    • nanaharmanto says:

      Itu syarat yang ditentukan, supaya terbukti kami lihai bersepeda, karena ke sekolah kami harus lewat jalan besar.

      Kami pasti nggak diijinkan bersepeda ke sekolah kalau belum terampil dan oleng sana sini..bisa bahaya…

      haih…latihan bersepedamu kok horor gitu sih? *geleng2

  5. Ha2…saya baru bisa naik sepeda kelas 5, itupun berkat sepeda bobo dik woho, wah jadi teringat masa lalu,ketika semua orang mengejek saya, isone kok dituntun wae, saya jadi ngiri melihat mereka bisa bersepeda keliling kampung, akhirnya berkat bantuan sepeda bobo, saya bisa sepedaan seperti teman2 lain…

  6. ikkyu_san says:

    wahhhhh teknik 8 kalau 8nya kecil ya susah atuh…

    Aku bisa naik sepeda umur berapa ya? Kayaknya sekitar 10 th-an. Tapi belajarnya pakai sepeda mini, karena mama/papa tidak punya sepeda. (Mama pernah belajar naik sepeda, dan jatuh sampai musti dijahit kakinya…. dan sejak itu tidak pernah belajar lagi. Dia bilang aku memang tidak dilahirkan utk naik sepeda…. naik sepur dan pesawat hahaha)

    Jadi aku dibelikan sepeda mini, dan dengan sepeda mini baru itu aku latihan. Tidak begitu payah juga sih belajarnya, tau-tau bisa (padahal mama yang ngajarin, dia sendiri ngga bisa loh…heran juga aku hihihi)

    Yang pasti kami semua anak-anak berempat bisa semua naik sepeda. Dan aku pernah tuh ikut pertandingan sepeda lambat di sekolah, dan menang hihihi. (sepeda lambat justru susah loh)

    EM

  7. Saya bisa naik sepeda di usia 6 tahun. Semula pakai roda 4, terus pelan-pelan dilepas satu sebelah kiri, selanjutnya dua-duanya dilepas, tinggal 2 roda utama. Dan seingat saya tidak terlalu babak belur, Na!! Sejujurnya gak terlalu inget sih jatuh bangun apa engga!! Dan baru diizinkan ke sekolah naik sepeda ketika saya kelas 3.

    Papamu itu, bener-bener mau menjadi teladan yang sangat baik ya? Sangat berhati-hati bertuturkata maupun bertindak. Salam ya?

  8. nakjaDimande says:

    bundo berkunjung ke rumah nana, dan lihat nana lagi belajar sepeda😀

    bundo sampe sekarang ga berani bawa sepeda ke jalan raya, waktu SD dulu pernah hampir ketabrak angkot, dan kena bentak sama sopir angkot.. jadinya trauma deh.. hehhhe, dasar bundo penakut😀

    • nanaharmanto says:

      Wah, padahal sepedaan itu asyik…tapi kalau memang takut ya susah ya…
      Meskipun nggak berani bawa sepeda ke jalan raya, tapi Bundo bisa naik sepeda kan?

      Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya Bundo?

  9. hihihi sumpriit susah bener mesti ngikutin angka 8

    selamet mbak bisa lulus tesnya🙂
    untung dulu gue gak pake gt2.

    pertama belajar pake sepeda roda 3 trus lama2 bisa, gak pake jatoh hahahaha
    udh bakat kali ya mbak
    sepedaan, nyetir mobil… yg begitu cepet belajarnya hahaha

    • nanaharmanto says:

      Sepeda roda 3? wah, aku dulu juga naik sepeda roda 3, tiap kali liat orang dewasa bisa naik roda 2, rasanya kepengeeeen…banget bisa naik sepeda roda 2.

      Jadilah kami berlatih pakai sepeda mamaku, sepeda jengki sebutannya.

      sepeda udah, nyetir udah, trus berikutnya apa nih, Eka? helikopter? hihi…

  10. vizon says:

    antik juga cara papamu ngajarin naik sepeda mbak… untungnya anak-anakku sudah bisa naik sepeda semua, coba kalau belum, bakal aku praktekan tuh teknik delapan, hehehe…😀

    • nanaharmanto says:

      hehe.iya Uda, dulu aku sempet mbatin, lha wong temen-temenku nggak ada yang pakai ujian angka delapan ituuu….
      Tapi ada bagusnya juga, hal itu jadi kenangan manis yang menjadi bahan tulisan bahkan setelah lewat bertahun-tahun…
      Anak-anaknya Uda itu siapa yang ngajarin naik sepeda?

  11. marshmallow says:

    mbak nana, ceritanya bagus banget.
    jadi minder, karena aku tak mahir bersepeda. jangankan teknik angka 8. hiks…

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih apresiasinya, Uni…
      Tak mahir bersepeda tapi bisa kan Uni? asyik kan bersepeda, sambil olahraga pula…

      Sst…aku juga nggak terlalu mahir menguasai angka 8 yang lebih kecil itu…hihi…

  12. DV says:

    Pengalamannya menarik!
    Boleh dibilang aku tak punya pengalaman khusus dalam belajar bersepeda.

    Semua berjalan seperti yang lainnya, mencoba, terjatuh, terjatuh, terjerembab lalu akhirnya bisa dan mulai ‘nggaya’ dengan sepedanya🙂

    Splendid ceritamu, Na!

  13. zee says:

    Dulu waktu saya belajar naik sepeda roda dua pake acara terjerembab jatuh ke depan gara2 ngerem mendadak. Hiks,

  14. grandchief says:

    hahaha blajar sepeda ya.klo aku sich bru bsa naik speda klas 3 SD tuh krna awalx gak pnya speda😦 and diajarin tmen jadi bsa deh :)…

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih udah berkunjung ke sini ya…
      wah, kalau cerita yg mirip tuh, dulu aku gak punya motor, trus diajarin temen jadi bisa.

      sayang aku pernah jatuh dan lumayan membuatku takut megang motor lagi..

  15. Afdhal says:

    wah cara yang aneh
    hiihihhi

    kalo saya sudah bisa naik sepeda, parameternya cuma satu”
    sudah bisa jatuh dan bangun sendiri n then melanjutkan nge’pit lageeee

  16. well, dulu aku juga 1/2 mati belajar naik sepeda. begitu bisa jalan lurus, bawaannya pengen ngebut. astaga, tahunya di depanku ada mobil yang sedang dibuka pintunya..gubraak, jatuh dech dengan suksees, hihii..

    waktu sudah bisa, aku seneng cari experience baru. suka balapan sama motor..kalau ortuku pergi ke mal, aku suka ngebut kenceng2 ngalahin mereka. suka menang juga, tapi pernah karena kurang perhitungan, jatuh ke dalam gundukan pasir (karena licin)
    ya, akhirnya luka sepanjang 30 cm di paha dan masih ada sisa peninggalan lukanya sampai sekarang, hiks!

    • nanaharmanto says:

      Ya ampyun..dulu lumayan tangguh juga dikau haha..
      Luka peninggalan kebadungan masa kecil pasti punya kenangan tersendiri ya..
      Bekas luka 30cm? hadohhh…panjang bgt tuh…ga kebayang deh..

  17. Ade says:

    Depan rumahku itu turunan, jadinya aku belajar sepedanya meluncur dari turunan itu, Na.. meluncur dari turunan trus baru dikayuh, lumayan sering jatoh juga sih hehehe😀

  18. Ly says:

    hihihi… lucu membayangkan masa-masa itu.
    Saya bisa naik sepeda berkat minjem sepeda teman…
    salam kenal, mbak nana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s