Antara Bakul Es, Koki dan Anggota Dewan

Kemarin, salah seorang tetanggaku mengadakan syukuran akekah atas kelahiran anak pertamanya. Jadi, aku datang ke acara itu. Rupanya, kebersamaan di sini masih sangat kental. Para tetangga yang lain pun ikut sibuk “rewang” –Bahasa Jawa, dari kata “ngrewangi” a.k.a membantu.

Setelah melihat si bayi dan ibunya, lalu makan hidangan yang tersedia, aku pindah ke rumah tetanggaku yang merelakan rumahnya menjadi dapur umum cadangan.

Di rumah ini, ibu-ibu membuat es buah. Di situ juga tersedia beberapa bahan calon masakan cadangan untuk antisipasi jika hidangan kurang. Aku pun bergabung bersama para ibu.

Es buah di masukkan dalam gelas-gelas plastik, lalu diletakkan di dekat meja prasmanan. Si empunya acara, -keduanya bekerja di kantor DP*D-, mengundang rekan-rekan kantor mereka.

Saat para anggota dewan ini datang, makin sibuklah keluarga yang punya hajat, ingin memberikan sambutan yang terbaik. Order pun mengalir ke dapur cadangan.

“Es buah.,es buah…eeeh, cepat dihidangkan, itu anggota dewan sudah datang…”

“…..anggota dewan itu, itu yang pakai anu…eee, mana es buahnya?”

“…heee…semakin banyak ini yang datang, es buahnya kasih keluar, itu untuk rombongan anggota dewan yang duduk di sana itu…”.

Karena semua orang sibuk, tak ada lagi yang bisa membawa es buah itu keluar. Aku berinisiatif membawa sebuah baki keluar, untuk kuletakkan dekat meja prasmanan.

Saat aku melintas….

Plok..plok..”Es! Es!” Ibu-ibu anggota dewan itu melambaikan tangannya. Aku tertegun. Hgggh…

Saat aku mendekati mereka dengan tersenyum seramah dan sesopan mungkin, para ibu berbedak tebal itu mengambil es buah dari baki yang kubawa, tanpa memandangku, sambil ngoceh dengan teman-temannya, tanpa berterimakasih. Dari delapan gelas yang kubawa, semua diambil tanpa kudengar secuil pun terima kasih.

…!!!….

@$@??#$$%&@!!!

Dongkolnya aku. HAH?? mereka kira gue tukang es!!? Hadoh, please deh….aku udah berdandan pantes, pake lipstik, pake parfum pula… Lha dengan bakul es yang cuantik jeliteng harum semerbak mewangi begini mereka cuek, nggak nganggep, gimana pula perlakuan mereka terhadap bakul es beneran yang hanya bersandal jepit, berbaju seadanya, jelas tak pakai wangi-wangian…Endonesaah…ini to, wakil begini yang kalian pilih?!

GGgrrhh….sambil ngedumel aku masuk dapur umum lagi. Nggak akan lagi aku mau bawa es keluar. Emoh

“…ini, eee…es buahnya…dikasih keluar…” kata seorang kerabat yang punya hajat. Aku menata gelas es di baki,  tanpa bergerak lebih lanjut untuk membawanya keluar. Aku nggak peduli, baki es itu mau dicuekin kek, mau ditendang kek, mau melayang sendiri kek, bodo amat…gue gak akan mau lagi ditepokin kayak tukang es oleh anggota dewan yang lupa cara berterima kasih itu! Uuh…*ngelus dada, dadaku sendiri…mosok ngelus dada orang lain?

****

Di dalam dapur umum, terjadi kehebohan lain. Si empunya rumah, berinisiatif menyiapkan masakan cadangan, setelah melihat tamu yang terus berdatangan. Jadi, diputuskan, memasak mie goreng.

Bahan-bahannya sudah disiapkan, sawi potong, mie kering, udang, dan bumbu ulek. Tinggal masaknya saja. Jadi, siapa nih yang masak? Nggak ada yang ngacung.

Lha piye to iki? Koordinasinya kurang nih…kok nggak ada yang diserahin tanggungjawab gitu lho…aku heran sendiri.

Tak ada yang bergerak memasak mie itu. Aku agak nyesel cerewet tanya-tanya.

“Mie ini rencananya untuk kapan sih, Bu?”.

“Ya, sekarang, Mbak…”.

“Kok belum mulai diproses?”.

“Ya sudah, kita masak aja”, kata tetanggaku.

OK. Siap menyingsingkan lengan baju. Kupikir aku bisa membantu jadi asisten koki.

Jreng…jrengg!!

Siapa yang akhirnya jadi koki? Hayaaa…apes deh, ketiban pulung..mendadak aku diserahin masak mie goreng untuk banyak orang, untuk anggota dewan ituuh…

Setelah susah payah menelan ludah, aku nekat. Ayo dah, kepalang basah!

Aku harus mengolah sebaskom mie, dua kali masak. Aku bingung, bumbu mie goreng di sini lain sekali.

……

Ya sudah, mari nekat…

Aku memasak mie dengan caraku, seperti diajarkan mama dulu. Well, mie goreng tahap pertama jadi, menurut seleraku, lumayan..

Rencana si empunya dapur umum, mie ini akan disimpan dulu, benar-benar cadangan saat hidangan yang lain mulai menipis. Baru saja mie itu diangkat untuk “diamankan”, seorang kerabat yang punya hajat melihat mie itu.

“Eee…ada mie goreng sudah jadi,  kasih keluar sudah…”. Aku dan si empu dapur umum saling pandang..akhirnya mengalah. Mie pun dihidangkan.

****

Tengah aku membuat mie goreng tahap kedua, si kerabat tergopoh datang.

“Hee…mana mie gorengnya lagi? Eee..itu mie goreng sudah habis, beh, langsung habis itu, ..enak sekali itu..”.

Semua orang melihatku memasak mie itu. Asem, aku jadi grogi hihi..

Walah, kok ya nggak ada yang tergerak untuk membantuku to? gantiin ngaduk kek…pegel betul tanganku mengaduk mie sewajan besar begitu. Dua kali pulak!

Mereka bicara dengan bahasa lokal, tapi kutahu, artinya, begini. “Wah, kecapnya banyak sekali…”. Ada lagi yang berkomentar “Eee..memang lain, bumbunya…”.

Karena agak buru-buru dan grogi hihi..mie tahap dua ini menurutku tak selumayan mie tahap 1 deh..

Waktu si kerabat keluar, si empunya dapur umum buru-buru mengambil 3 piring.

“Kasih simpan tiga piring di sini, mbak Nana…, kalau semua dikasih keluar, kita orang di sini tidak kebagian, kasihan mbak Nana sudah capek-capek, tapi tidak dapat…”.

Dengan gerakan serba kilat, 3 piring mie berhasil diselundupkan hoho…konspirasi tingkat tinggi…

****

Aku sendiri nggak makan mie buatanku. Hihi…ini iseng analisa kuliner ngawurku. Komposisi mie yang tersedia dengan bahan sama sekali tak proporsional. Mie sebaskom, udang seggenggam (tampaknya tak dicuci bersih, hiiiy…), kecap manis enam  sachet kecil thok…dooh…mana cukup? dan sawinya, –glek…air yang masih tersisa di dasar baskom tempat sawi potong itu masih kotooorrr…banget….

Tadinya aku sempat terpikir untuk menyumbangkan sebungkus bakso ikan di kulkasku sebagai tambahan pelengkap. Bisa dibayangkan, dengan udang seuprit begitu, yahh…udangnya nggak kliataann…namanya jadi mie goreng keberuntungan deh. Hanya yang beruntunglah yang akan menemukan udang dalam mie itu…

Jadi, yeah, aku sekedar masak, ngicip dikit doang untuk mengukur enak atau tidaknya.

Mie goreng  tahap 2 yang menurutku kurang enak (dan agak jorok  ) itu  pun dihidangkan.  Aku tak peduli lagi mie itu enak atau nggak, hah, bukan gue ini yang makan..

Silakan makan mie goreng, para anggota dewan yang terhormat…

*sst..mie ituh jor…hihi…

 

Setelah kupikir-pikir, mie goreng yang biasa dijual disini memang kurang berasa, hambar seperti kurang bumbu. Warnanya pun masih terlihat kuning, bukan kemerahan karena kecap..

Kalau mie goreng buatanku itu jadi bahan omongan, karena rasanya lain dengan selera masyarakat, yah, udah terlanjur jadi kemarin hihi..lagian, aku bisanya ya masak ala Nana dong…

Siapa suruh aku  mantan bakul es buah jadi koki?

Waktu aku cerita sambil misuh-misuh, suami dan adikku via telpon  malah ketawa ngakak…asemmm….

****

Kalau Anda lihat bahan mie yang jor.. begitu, masih mau makan? hihi…





About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

37 Responses to Antara Bakul Es, Koki dan Anggota Dewan

  1. arman says:

    orang2 yang merasa ‘pejabat’ itu emang karena terlalu sering diagung2kan sampe jadi terlalu sombong dan gak mandang orang lain. jadinya ya gitu deh.. ngomong terima kasih aja gak bisa…

    • nanaharmanto says:

      Ya gitu deh, Mas…aku juga heran..secara, di keluargaku, dari kecil udah diajarin berterima kasih.
      waktu tinggal di asrama, pasti deh, tiada hari tanpa mengucapkan atau mendengar ucapan terimakasih, meski gayanya bisa sangat santai seperti “tenkyu”. bahkan di Jawa, orang bisa mengucapkan terima kasih hingga 2 atau 3 kali…

  2. ikkyu_san says:

    hahahhaa
    bisa ngebayangin asem nya mukamu Na hihihi
    Makanya aku lebih seneng masak dan “berjorok-jorok” di dapur, dan jadi “tukang cuci piring utk 400 org” daripada jadi “tukang es” yang disuruh-suruh hihihi.

    Eh tapi kalau aku yang bawa, biasanya semua bilang terima kasih kok… dan dibilang… loh kok mbak Imelda yang bawa? Suruh yang lain aja:D. (Dan dengan seenaknya kamu bisa suruh-suruh orang itu kan? …dasar! ) Kalo udah gitu biasanya aku malah terus-terusan bawa ke depan, karena biasanya ibu-ibu penggede — sometimes bu dubes— akan turun tangan paling tidak ambil dari baki😉 siiip kan?
    Dan kalau bu dubes turun tangan, bawahannya akan berebut bantu hahaha.

    EM

  3. DV says:

    Heheheh aku jadi kangen simbokku.
    Dulu kalau dia rewang seharian aku paling sebel soalnya rumah jadi terbengkalai dan aku sendirin (papa kerja dan adik belum lahir waktu itu).

    Tapi enaknya, pulang2 bawa makanan banyak :))

    Ngomong-ngomong soal mie atau makanan lainnya yang jorok, kalau memang hasil masakannya terkenal enak, aku cenderung tutup mata nggak mau ngeliat bahan mentahnya pokoknya keluar2 udah huenak hehehe..:))

    • nanaharmanto says:

      Wah, dulu kalau mamaku rewang, aku juga ikut nyariin..nggak tenang sebelum mama pulang ke rumah.

      Kalau masalah makanan yang udah jadi, kayak hidangan prasmanan gitu, aku doyan juga tuh, mungkin karena nggak lihat sendiri prosesnya ya hehe..

      Tapi kalau lihat bahan mentahnya kotor ya aku males untuk makan..hehehe..

  4. septarius says:


    Disepelein anggota dewan mbak hihi..
    Ya gitu deh nasib jongos..
    Itu sih belum seberapa mbak, kalo jd jongos di hotel lebih parah..
    Apalagi ngelayanin nenek2 dr inggris ato perancis yg cerewetnya gak ketulungan..
    Udah di injek2 tapi tetep wajib ramah, bisa makan ati mbak..

    Mbak Nana emang lebih cocok jd koki daripada waitris..😉

    • nanaharmanto says:

      oh ya, kamu pernah kerja di hotel ya…
      hmm…salut loh, untuk orang-orang yang kerja di hotel itu..

      iya nih, kapok dah, tampil ke muka…lain kali mending di dapur umum aja hehehe…

  5. Riris E says:

    hm..jadi pengen nyicipi masakan Nana *ngeces.com*

  6. aurora says:

    tuh.. makanya aku paling malas bantu-bantu kalau ada tetangga atau saudara yang lagi hajatan(ngeles aja… hihihi)

    tapi kasihan juga yah.. bagusnya kakak pisahin tuh, masaknya… masak yang bersih dan lezat sekitar 2 piring, ya khusus buat kakak aja(tapi inget! jangan ketahuan yang lain!)

    PS: buat anggota dewan, jangan pernah sekali-kali merendahkan orang lain! karena anda saya kutuk setiap kali anda melakukannya…

    • nanaharmanto says:

      hahaha…udah ilfil duluan Rif, udah patah selera ngeliat bahannya hihi…

      anngota dewan yg model begitu ada di banyak tempat kali ya Rif?

  7. nh18 says:

    Saya tidak ingin komentar masalah Mie …

    Saya ingin komentar masalah tepuk tangan dan arogansi anggota dewan …

    hhmmm … masih baru mungkin Na …
    jadi masih agak norak begitu deh …

    Dan saya yakin …
    Kalaupun ybs bukan anggota dewan … katakanlah orang biasa … sepertinya dia akan berbuat serupa … (Yang beginian ini biasanya udah bawaan …)

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      hmmm…berari mentalitas “bossy” itu memang udah dari sononya kali ya Om..apalagi ditambah embel-embel anggota dewan yang terhormat ituhh..

  8. meidy says:

    tp salah kita juga sih, kadang berlebihan cara menghormatinya.. jdnya gitu deh..

    • nanaharmanto says:

      hmm..bener juga..
      aku sendiri ogah menghormati orang secara berlebihan, terlebih hanya karena seragamnya, atau titelnya, atau jabatannya..

  9. krismariana says:

    hahaha! Kowe mesti misuh2 pol! hahaha… (membayangkan Nana sedang misuh dan ngomel2…)

    Itu namanya rakyat melayani anggota dewan.😉

    • nanaharmanto says:

      haha..iya aku misuh-misuh…ampun deh….ntar kalau aku jadi anggota dewan, aku nggak akan bossy gitu ah…
      *halah….kapan coba?? ngimpi..

  10. itulah Mbak Nana, kadang orang yg merasa jadi orang penting, merasa nggak perlu menghargai orang lain, walau hanya dgn ucapan terima kasih dan senyuman.
    kasihan sekali orang2 seperti ini, jadi nyesel kan kemarin kok ya kita pilih mereka yg tdk punya etiket begitu.
    semoga saja apa yg Mbak Nana kerjakan disana utk membantu tetangga bisa dihitung jadi kebajikan olehNYA, amin.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      Sepertinya ucapan terima kasih itu simpel sekali ya Bunda? apalagi senyuman, kan jauh lebih sederhana, dan nggak buang energi, tapi heran deh, kok orang-orang itu pelit banget untuk tersenyum…

      Menurut saya nih, memandang dengan ramah pada orang lain, (tanpa perlu basa-basi) kayaknya juga bisa mencegah orang berpikian buruk, tapi ya begitulah, tampaknya masih banyak deh orang-orang yang susah berbuat hal sesederhana ini..

      terima kasih doanya ya Bunda..

  11. albertobroneo says:

    dooohhhh sgitunya sih itu anggota dewan yang terhormat..

    oh aku tahu.. soalnya mbak nana tdk memilih dia waktu itu :-p

  12. kawanlama95 says:

    mbak terima kasih ya mbak posting ini, ya enak loh mie bikinan si mbak. boleh nyicip ga. aku baca ini jadi laper banget dah. suer. lagi hujan disini jadi laper beneran.

    lain kali aku bilangin dah agar anggota dewan itu berterima kasih

  13. vizon says:

    aku baru ngerti dengan kata “rewang” itu ya sejak tinggal di jogja. dan tradisi itu sampai sekarang masih berlangsung, setidaknya di kweni. kalau di kampung asalku, tradisi itu sudah mulai meluntur, rewang-nya lebih sering diserahkan ke restoran atau katering, hehehe…😀

    soal anggota dewan itu… yah, memang menyebalkan. tapi itu sepertinya tipikal seseorang mbak. mungkin si ibu berbedak tebal itu tidak terbiasa berterima kasih. karena, menurutku, kepada tukang es beneran pun kita juga harus berterima kasih… ya udah, didoakan saja agar si ibu itu segera menipiskan bedaknya… lho, kok gak nyambung?😀

    • nanaharmanto says:

      Bener Uda, sekarang lebih modern dan lebih banyak alternatif utk memilih jasa katering.
      di kampung-kampung sih rewang masih berlaku, terutama karena lebih irit, jasa mereka kan nggak dibayar..

      Soal anggota dewan itu, hanya seorang yg nepokin, teman2nya tinggal ikut ambil saja; total delapan orang tidak berterimakasih, dan nggak memandang siapa yang membawakan es itu…mgkn kalau cuma seorang saja yang tidak menyenangkan begitu, barangkali aku nggak segitu sewotnya…
      jadi saya harus mendoakan delapan orang agar bedaknya menipis hihi….

  14. ini seandainya saja, kalo saat ini ada yang baca tentang blog nana ini dan salah satunya adalah mereka, apa yang bakal diungkapkan?ini seandainya lho…

    • nanaharmanto says:

      Paling begini: oh, jadi Mbak yang bawa es dulu itu misuh-misuh to? ngadu to di blog? tapi lumayan juga Mbak itu…
      lho, kok aku waktu itu jadi sakit perut ya? wah, pantesaaaan…

  15. edratna says:

    hahaha…saya ngakak, membayangkan wajah Nana.Berarti Nana ada bakat masak nihh….perlu juga dipelihara, cuma lain kali mesti punya tenaga kerja yang disuruh-suruh, jadi bukan tangan Nana yang pegal. Pasti deh tetangga Nana akan ingat kebaikan Nana….

    Dan budaya Indonesia, memang harus sinten dulu…baru pinten. Jadi, mungkin lain kali kalau jadi tukang es, dan dikeploki pura2 aja tak dengar. Mudah2an mereka membaca blogmu ini…..hehehe, tapi tak ada artinya juga sih, kalau memang tak sensitif

    • nanaharmanto says:

      hehehe…sampai sekarang sih, tetangga yang punya hajat nggak ngcapin terima kasih, mungkin mereka nggak tau kalau saya sempat turun ke dapur sebentar. tapi nggak penting sih itu hehe…

      Semoga para angwan itu baca tulisan ini hihi…

  16. tutinonka says:

    Kalau di lingkungan tempat tinggal saya, budaya rewang itu sudah nggak ada lagi. Dulu waktu saya masih kecil memang iya, tapi sekarang orang sudah pesan ke katering. Pada masa transisi dulu, di undangan (manten misalnya), dicantumkan tulisan “tidak menerima rewangan”.

    Pada awalnya, banyak orang merasa tersinggung, “wong mau dibantu kok nggak mau, seperti nggak butuh tetangga aja”. Tapi lama-lama orang bisa menerima. Lagian, bagi si empunya hajat, masak sendiri dengan cara rewangan itu nggak praktis, merepotkan, dan seringkali biayanya justru lebih besar karena pemakaian bahan yang nggak efisien …

    • nanaharmanto says:

      Di kampung saya kayaknya “rewang” masih berlaku sampai sekarang..tapi memang benar, kalau punya hajat dan masak sendiri di rumah, memang nggak praktis, karena bahan yang dipakai nggak efisien. masakan jadi terlalu banyak dan repot manasinnya. Tapi kadang itu juga yang ditunggu lho, supaya bisa dibungkus bawa pulang hihi…

  17. JR says:

    ya begitulah kalo orang yang suka lupa, mirip buanget dengan pepatah kacang lupa kulitnya

  18. dyah suminar says:

    Mbak Nana….
    Walaah…kasihan amat ,sudah susah susah di cuekin…Mereka itu ketonto..( eh..pa ya bahasa indonesianya ),kalau di kantor…dimanapun disebut…yang terhormat…bapak /ibu anggota dewan…Hiks..bunda miris dengarnya.
    Jarene…wakil rakyat…lha kok koyo ngono ?/rakyat sing endi sing diwakili ?/ kudune malah ngajeni yang diwakili ya ?.Hmm…salah kaprah…

  19. Mbak sini… kirimin ke Jakarta.
    Dijamin deh, bakalan ucap beribu terima kasih hehehe

  20. san says:

    Melayani lebih mulia mbak daripada dilayani.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s