Antara Ada dan Tiada (part 2)

Sampai kini aku masih berkutat dengan diri sendiri. Aku masih mencoba terus merasionalisasi apa yang kulihat itu.. nyata meski tak terlihat orang lain, atau aku hanya bermimpi?


# Asrama SMA

Sewaktu aku masih di SMA, aku tinggal di asrama putri. Kadang-kadang, dari ekor mataku, aku seperti melihat sesosok manusia dewasa duduk mengawasiku yang tengah belajar. Tapi, saat kupalingkan wajah ke arah sosok itu duduk, aku tak melihat siapapun, – atau apa pun….

Saat aku kembali asyik dengan bukuku, lagi-lagi, dari ekor mataku, aku “lihat” sosok itu, duduk berdiam diri. Kembali aku mengetes kewarasanku dengan mencoba pelan-pelan berpaling menatapnya. Sosok misterius itu tak tampak. Awalnya, aku takut. Tapi lama kelamaan aku terbiasa juga. Toh, dia tak mengganggu. Tapi ada saat-saat di mana aku jiper juga, nah, kalau aku merinding, aku mulai kabur masuk kamar, di situ kan banyak temenhihihi….


# Hutan Balikpapan-Samarinda

Aku selalu berusaha terus terjaga saat keluar kota bersama suami. Kasihan kalau dia menyetir sendirian, sementara aku enak-enakan tidur. Aku berusaha untuk mengajak  suamiku ngobrol agar dia tak ngantuk.

Sayangnya, di titik-titik tertentu di dalam hutan sepanjang itu aku selalu tertidur. Baru setengah semenit yang lalu aku masih ngobrol, tiba-tiba saja aku sudah terlelap tanpa kusadari. Kalau kupaksakan juga untuk terbangun, aku malah melihat “orang-orang” di pinggir jalan, tapi anehnya, suamiku tak melihat mereka.

Apa sih yang kulihat?

Yang aku ingat persis, aku melihat dua anak laki-laki kecil bergandengan tangan. Salah satunya bercelana merah. Otakku masih bisa berpikir. Kedua anak itu terlihat di luar jendela mobil, agak di depanku. Secara nalar, seharusnya apapun yang berada di luar mobil pasti akan “berlari” ke belakang dan tertinggal jauh. Anak-anak itu tetap santai berjalan membelakangiku, seolah aku sedang berhenti, menonton, -dan bukannya berada dalam mobil yang melaju 80km/jam..

Saat aku melebarkan mata, anak-anak kecil itu menghilang, berganti dengan kelamnya hutan dan pohon-pohon yang berlari tertinggal di belakangku.

“Kasihan ya, anak-anak tadi, selarut ini masih berkeliaran di hutan seperti ini”, kataku. Suamiku heran, “Anak-anak yang mana?”

“Yang tadi kita lewatin, yang gandengan tangan, salah satunya pakai celana merah”.

Nggak ada siapapun, aku nggak liat tuh, aku nggak merasa ngelewatin tuh..”.

Aku terdiam. Oh, aku pasti bermimpi, kataku.

Kali kedua, saat aku berjuang untuk melek akibat kantuk, aku melihat gubug-gubug kecil dari bambu dan beratap daun kelapa, serupa pasar tradisional. Kudengar hiruk pikuk orang berceloteh seperti layaknya suasana pasar yang ramai oleh transaksi antara pembeli dan penjual. Otakku masih sempat berpikir. Secara logika, nggak mungkin aku bisa mendengar suara pasar di luar mobil saat mobil tertutup rapat itu melaju kencang.

Sambil lalu, apa yang kulihat itu diceritakan suamiku pada orang kantor. Nah, salah seorang rekan kantor suamiku yang bisa “melihat” dunia lain itu berkata,  adalah benar apa yang kulihat. Memang di kilometer 5* itu, terdapat kerajaan mahluk lain itu.

Rekan kantor itu,- Pak D** bertanya, “Apa yang Ibu lihat?”

Kujawab, aku melihat semacam pasar. Kata Pak D**, “Wah, berarti memang benar Ibu punya kelebihan untuk “melihat”. Jarang sekali orang bisa melihat kerajaan mahluk lain itu”.

“Tapi, Pak, saya nggak melihat kerajaan. Saya hanya lihat gubug-gubug kecil. Bahkan saya nggak yakin itu pasar, saya hanya sempat mendengar suara pasar…”, aku masih ngeyel.

“Memang lain-lain Bu, tapi kerajaan itu memang serupa pasar, dan ada di kilo itu…”.

Aku manggut-manggut, tak ingin berdebat lagi.

Di lain kesempatan, aku melihat seorang bapak tua, pendek, duduk bersandar di jembatan, tampaknya kelelahan, kepayahan sambil mengipas-ngipaskan pecinya.

Aku iba. Aku ingin menyuruh suamiku berhenti dan memberinya tumpangan. Tapi rasa kantukku tak bisa kulawan. Setelah beberapa puluh meter, aku segar kembali. Ada rasa menyesal tak berhenti untuk memberi bapak itu tumpangan.

“Kasihan ya Mas, bapak-bapak tadi, kayaknya kecapekan banget, kenapa kita nggak kasih tumpangan ya..”

“Bapak-bapak yang mana?”

“Tadi itu, yang duduk kecapekan, di jembatan yang terakhir kita lewatin”.

Kata suamiku,” Aku nggak liat ada bapak-bapak duduk di pinggir jalan. Nggak ada lagi jembatan yang kita lewatin barusan…”.

Aku terdiam. Bingung.

Setelah itu, aku melihat pohon tinggi yang baguuuus… sekali! Daunnya merah tembaga berkilauan sebesar telapak tangan pria dewasa. Indah sekali. Pohon itu membentuk kanopi, nyaris seperti gua. Aku masuk di dalamnya, lalu kulihat banyak sekali bunga-bunga berwarna merah bertebaran di tengah jalan. Bunga-bunga itu masih utuh segar, sepertinya belum pernah terinjak atau terlindas mobil.

Aku susah payah melek melawan kantuk, dan bunga-bunga itu menghilang.

“Bagus ya, bunga-bunga tadi, pohon kanopi itu juga bagus banget”, kataku.

“Bunga? Bunga apa?”, tanya suamiku.

“Bunga yang disebar di tengah jalan tadi, yang baru kita lewatin..”.

Setelah sesaat terdiam, suamiku bilang bahwa sepanjang jalan yang kami lewati, nggak ada bunga di jalan. Jalan itu bersih kok…

Tapi, suamiku sudah hafal. Setiap kali melewati kilo 5* itu aku pasti tertidur, dan terbangun setelah melewati titik itu, dengan cerita tentang apa yang kulihat, yang tak bisa dilihat suamiku.

Seorang pintar kenalan kami, Pak J*** mengatakan, bapak yang kulihat di jembatan itu bernama Pak R******. Manusia biasa tak bisa melihat Pak R****** ini. Dia ini memang sering mondar-mandir sepanjang jalan wilayah kekuasaannya itu. Konon, Pak J*** pernah berkenalan dengannya. Nah loh…jadi, aku mimpi nggak sih?

Saking getolnya ingin membuktikan sendiri, dan menunjukkan pada suami pohon dan bunga yang kulihat, suatu kali, aku ngotot ingin ikut ke Samarinda. Sepanjang jalan, aku tak juga menemukan pohon dan bunga itu. Jembatan yang kulihat itu juga tak ada…

Malahan, apesnya, di kamar hotel, antara sadar dan lelap, aku melihat sesosok perempuan berdiri di dekat tempat tidur…haduh…aduh…

****

# Toraja

Kupikir, pengalaman antara ada dan tiada itu hanya kualami di Kalimantan. Namun, saat melintas di jalan berbukit penghubung Rantepao (ibukota Tana Toraja,) dan Palopo di  Sulawesi Selatan, aku kembali mengalaminya. Saat itu hujan badai deras sekali, listrik padam sehingga tak ada penerangan apapun. Ancaman tanah dan tebing longsor ada di mana-mana. Kulihat sendiri, tanah dan bebatuan sebesar kepala manusia luruh di pinggir jalan. Itu belum cukup. Kabut tebal pekat menghadang. Jarak pandang terjauh kurang dari 5 meter. Aku ngeri. Mana lah aku tega tidur sementara suamiku berjuang sendirian di belakang kemudi.

Sayang, hal itu terjadi lagi. Rasa kantuk menyerangku seketika. Aku berusaha melawan kantuk. Tapi sia-sia. Sesaat aku terlelap. Saat aku berada da antara sadar dan tidak itu, aku melihat reruntuhan tebing dan tanah longsor. Pohon hijau yang ikut tercabut bersama longsoran menandakan, longsor itu baru saja terjadi. Diantara gundukan tanah dan batuan longsor itu, kulihat seekor sapi berwarna coklat bersih, besar sekali, dua kali ukuran sapi normal. Mata sapi itu bagus sekali, menatap lembut, cemerlang memantulkan lampu mobil kami. Sapi itu hendak mendaki longsoran tanah itu..

Aku sempat berpikir, sapi siapa ya kok malam-malam hujan begini dibiarkan berkeliaran?

“Wah, sapi tadi besar banget ya?”.

“Sapi? Mana ada sapi?”.

“Itu tadi, yang di longsoran”. Kugambarkan longsoran dengan pohon menggelimpang itu.

“Iya, tadi kulihat longsoran itu, tapi nggak ada sapi…”.

Aku bengong. Ingin rasanya meminta opini ketiga, adikku. Wah, rupanya adikku terlelap di belakangku.

Kami terus merayap pelahan. Sial, aku terkantuk-kantuk lagi entah berapa lama. Aku terkesiap saat seorang kakek berlari ke arah mobil kami, tepat di depan kursiku. Terlalu dekat…Dengan kecepatan mobil saat itu, aku yakin seyakin-yakinnya, kakek itu pasti tertabrak mobil kami. Tak mungkin meleset. Pasti tertabrak, minimal terserempet. Dengan gesit, kakek berikat kepala khas Toraja itu berkelit ke samping, tepat ke arah jendela mobil di samping kiriku.

Dadaku berdebur gemuruh. Seruanku tertahan di tenggorokan.

Ugh!!!

Suamiku rupanya sudah maklum, aku pasti “melihat sesuatu” lagi. Setelah debar jantungku normal lagi, aku baru bisa bercerita.

Kata suamiku, “Hmmm…nggak kok, kita nggak nabrak siapapun. Aku yakin nggak nabrak apapun…”.

Sampai kini, adegan itu masih tercetak jelas dalam kepalaku. Aku bahkan masih hafal wajah kakek yang membuatku kaget setengah mati itu.

****

#Jalan gunung poros Tator-Enrekang

Suatu malam, aku dan suami dalam perjalanan dari Tana Toraja menuju Pare-pare. Di suatu jalan sepi bertebing curam,-ngarai di sebelah kiri dan dinding di sebelah kanan kami-, aku melihat tongkonan,  (rumah adat masyarakat Toraja yang atapnya menyerupai perahu) bertengger di dinding tebing. Secara logika, tak mungkin mendirikan bangunan di atas cadas keras dengan sudut kemiringan hampir 90 derajat begitu…tapi yah, itulah yang kulihat. Sesaat setelah aku melihat tongkonan itu, aku segera bercerita pada suamiku. Rupanya, kira-kira di waktu yang sama saat kami melewati  tongkonan kuno itu, suamiku merinding tanpa sebab….

****

Aku sadar,  bagi beberapa orang, hal begini dianggap omong kosong, tak layak dipercaya…

Aku dibesarkan dalam keluarga yang taat…tak ada tempat untuk hal-hal begini, dan ini yang membuatku  jadi bingung…bener…enggak…bener…enggak…bener…enggak…*ngitung suara tokek.. 🙂

Aku masih bisa bersyukur, bahwa aku “hanya” melihat sosok manusia atau hewan biasa, nggak pernah melihat hal-hal yang mengerikan seperti gendruwo, pocong, kuntilanak, atau mahluk lainnya yang berdarah-darah atau terpotong-potong….nggak deeeh….amit-amit…

Aku masih sibuk dengan rasionalisasiku….belum juga kutemukan jawabannya…

Kepada siapa aku harus bertanya kini, benarkah yang kulihat, atau mimpiku saja? Atau mungkin sekarang saatnya aku berdamai dengan “kelebihan”  itu?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Antara Ada dan Tiada (part 2)

  1. elia|bintang says:

    kayaknya emang punya sixth sense ya.. temen saya jg ada yg bisa ngeliat. awalnya dia takut tapi lama2 biasa katanya.. yg dia liat malah ga cuma berbentuk orang tapi dalam wujud aslinya. ngeri banget yah..

    salam kenal yah mbak!:mrgreen:

  2. ikkyu_san says:

    ya, sekarang saatnya berdamai dengan kelebihan itu. Memang kekuatan itu ada, dan bukan isapan jempol, meskipun sulit dipahami orang lain.

    Saya rasa dengan menuliskan kejadian-kejadian atau bercerita pada yang bisa mengerti, bisa mengurangi kegalauan tentang pemandangan itu.

    Saya juga punya teman yang bisa melihat pasar di dalam hutan yang sedang didaki bergerombol. Dia melihat orang-orang itu merokok, berjualan jongkok dsb. Tapi orang biasa tidak melihat apa-apa. Ada yang hanya melihat nyala (api dari rokok) mengambang di udara. Ya spt yang dikatakan bu Enny saja, “kulonuwon” dan “berdamai” dengan mereka itu perlu.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Makasih ya Mbak…iya mungkin memang benar sekarang saatnya berdamai dgn semua itu…dan setidaknya aku yakin, ada beberapa orang yang juga mengalami hal yang sama, dan itu “nggak aneh” untuk mereka yang memahaminya..
      Seneng sekali ada yang bisa mengerti aku…
      Senengnya dari blogging begini, ketemu dengan temen-temen yang bisa mengerti kita dan memperkaya kita…minjem istilah Om NH: this is the beauty of blogging…
      Thanks be to God…I am not alone…

  3. edratna says:

    Saya sebetulnya merasa bersalah, setelah anak sulungku mahasiswa baru aku menyadari bahwa dia punya kelebihan dapat melihat yang lain, yang orang normal tak bisa. Awalnya si sulung tak pernah mau cerita dan dipendam sendiri…sampai suatu ketika dia keceplos..”Ibu kan enak, bisa konsentrasi, hanya melihat atau mendengar hal-hal yang diinginkan. Sedangkan aku, tak bisa menyaring, mendengar segala macam dan melihat hal-hal yang orang lain tak tahu.”

    Itu suatu kelebihan, jadi yang penting Nana berdamai dengan diri sendiri….si sulungpun sekarang bisa menerima dan hidup dengan kelebihan dan kekurangannya.
    Saya hanya merasakan…tapi tak melihat…syukurlah…

    • nanaharmanto says:

      Wah saya hampir sama dengan anak sulung Ibu Enny itu…dulu saya juga memendamnya sendiri, takut dianggap aneh, percaya hal-hal begitu…saya pertama kali terbuka hanya kepada suami…trus di blog ini hehehe…
      Saya masih bersyukur, saya nggak liat dan mendengar yang “mengerikan”
      Salam untuk anak sulung Ibu ya…rekan sejenis nih🙂

  4. septarius says:

    ..
    Di gunung lawu ada tempat yg dinamakan pasar setan..
    Buka’nya cuman malem jum’at kliwon..
    Penjual dan pembelinya jelas bukan manusia he..he..
    ..
    Coba mbak Nana ke bali waktu fullmoon,
    Seru loh..😉
    ..
    Menurutku lebih baik minta perlindungan sama yg diatas, daripada permisi atau kulonuwun..
    Menurutku itu termasuk undangan, yg sbelumnya gak ada bisa jadi ada lho..
    Trus kalaupun ada, mereka akan tertawa puas..
    karena diakui eksis..
    Semua jin setan iblis itu menyesatkan..
    No kompromi deh😀
    ..
    Beberapa kasus kepekaan bisa dihilangkan, coba mbak nanya pastur ato orang yg ngerti..
    ..

    • nanaharmanto says:

      Setuju, minta perlindungan sama yang di atas…
      selama ini sih, aku nggak pernah diganggu yang macem-macem, jadi aku juga nggak pernah berniat untuk “ngusir” mungkin malah aku jadi pihak pendatang yang nggak diundang. mereka lebih dulu ada di situ.
      Aku sih tetep madhep mantep marang Gusti…yakin aja nggak akan terjamah oleh “mereka”, jadi mengakui mereka ada nggak apa2, aku meng-amin-i mereka ada, tapi tidak mengimani mereka…
      Thank you ya Ata untuk sharing-mu…
      Btw, jadi pengen ke Bali hehe…

    • edratna says:

      Kulonuwun jangan diartikan menduakan Allah lho…ini sekedar ucapan bahwa kita hidup didunia masing-masing, jangan mengganggu. Dan kemudian, karena saya muslim, saya akan sholat dan berdzikir….Bahkan pernah di Banda Aceh (kami tidur di satu2nya hotel yang selamat dari tsunami), temanku yang bisa melihat, tapi penakut tak bisa tidur semalaman karena diajak ngobrol, saya tenang aja bisa tidur karena saya bilang jangan menganggu….sayapun sebetulnya tak melihat, tapi terkadang kan ada suara atau seperti ada bayangan lewat.

      Saya tak tahu apa kepekaan bisa dihilangkan, tapi saya tahu si sulung punya keistimewaan dalam hal ini, dan sesuai saran orang yang ahli (kebetulan saya pernah diminta jadi narasumber seminar untuk hal-hal anak yang punya kepekaan tertentu), bahwa yang penting mohon pada Tuhan, berdamai pada diri sendiri…lama-lama akan semakin matang. Saya sendiri punya kelebihan dalam hal feeling, tapi hanya untuk orang2 yang sangat dekat.

      • nanaharmanto says:

        ya setuju Bu Enny, saya paham kulonuwun yang Ibu maksud ini seperti layaknya kita bertamu ke rumah orang lain itu. selama ini saya malah kadang jadi nggak ketakutan lagi setelah ngomong “supaya tidak saling ganggu”. Saya sendiri belum pernah ada niat untuk memanggil dan minta bantuan “mereka” ini. Saya tetap percaya penuh pada Tuhan yang saya imani…

  5. aurora says:

    wah… serem.. sumprit!!! aahhh… padahal aku sering lho, kalau pulang kampung lewat lembah anai, jajaran hutan sematera….
    namun untungnya, aku selalu tidur ketika lewat situ dan terbangun ketika udah sampai di tujuan…

  6. DV says:

    Bener kata komentator pertama, Na.. kayaknya kamu punya sixth sense.

    Aku memang pernah dan bisa melihat ‘hantu’ tapi kayaknya nggak segarang kamu hehehe….

    Tapi kenapa Indonesia identik dengan begituan ya sementara di sini meski ada tapi tak terlalu diributkan..

    Eh tau nggak di sini ada banyak “Ghost Tour” lho… Tour wisata ke tempat serem-serem kuno pada tengah malam…

    • nanaharmanto says:

      Hmm…bule memang mengutamakan rasio setauku. Mungkin juga karena kamu tinggal di kota yg modern deh Don…barangkali akan lain ceritanya kalau kamu tinggal dekat pemukiman suku Aborigin hehe 🙂

      Setelah tinggal di luar Jawa, aku jadi semakin tau, ada hal-hal mistis yang masih kuat dipegang penduduk setempat. sepertinya, animisme dan dinamisme itu masih berlaku deh…

      Btw, pernah coba dolan ke Tator Sulawesi? jiann…ora ngapusi…kesan magis-nya kuat bgt…

  7. Emak Bawel says:

    Aku memang percaya bahwa ada ‘mereka’ yang di ‘dimensi’ lain (di luar nalar rasional manusia pada umumnya). Ada orang2 yang mempunyai kelebihan untuk ‘melihat’ dimensi itu (Kalau mau share ntar takkenalin temenku yang bisa ‘lihat’ juga).
    Mungkin aku bisa merasakan juga, tapi biasanya berusaha cuek (mungkin pernah melihat juga waktu kecil). Tapi untungnya, nggak ada kelebihan untuk melihat jelas, ya..Jangan2 bisa terbirit2 aku..
    (Dan nggak bisa tinggal lama di Mantup waktu itu..).
    Menurutku, kelebihan itu bisa diterima (termasuk belajar untuk hidup dengan kelebihan itu). Tapi kalau pas kejadiannya, jangan diceritain, ya..kalau udah lewat aja ceritain ke aku, hehehehe… (curang, ya?)

    • nanaharmanto says:

      memang banyak hal nggak bisa dijelaskan dengan akal sehat dan rasio..
      aku percaya mereka ada, tapi sempet nggak percaya aku bisa lihat mereka…
      tapi tetap kusyukuri aku melihat yang biasa-biasa, bukan mahluk2 mengerikan gitu..
      aku lagi belajar berdamai dengan kelebihan itu…tapi isih wedi-wedi juga hihi..

  8. soyjoy76 says:

    Wah…yakin deh…Mbak nana memang punya ‘kelebihan’ itu… Kalo saya mending nggak bisa ngeliat yang begitu2an deh… (sialnya beberapa kali pernah juga walaupun ngga seheboh dan sesering Mbak Nana)…

    Btw, kebetulan saya juga nulis masalah yang hampir sama dengan cerita Mba Nana lho… for your reference aja🙂

  9. nh18 says:

    Apapun itu …
    Bersyukurlah …
    Kamu sudah diberikan kemampuan “melihat” yang lebih daripada orang lain …

    Salam saya

    (segera blog walking …)

    Hahahaha
    Trainer penakut

  10. bee says:

    wah misteri neh…

  11. saya tahu ada juga salah seorang blogger yg punya six sense sama dgn Mbak Nana, dia pernah cerita bertemu anaknya yg punya rumah, padahal sudah meninggal 2 th yg lalu.
    Memang sebaiknya berdamai dgn gift yg telah diberikanNYA,Mbak.
    semoga selalu sehat dan salam hangat utk keluarga.
    Salam.

  12. Tidak masalah, Bu, selama mereka tidak mengganggu Bu Nana.

    Tapi saya ingin beri tahu Bu Nana bahwa ada jenis orang yang tidak bisa “melihat” hal itu, dan tidak mau percaya. Orang-orang jenis ini akan terganggu jika para “Penglihat” mengatakan hal-hal yang mereka “lihat” dan menasehati macam-macam kepada orang yang tidak mau “melihat”. Jadi kalau Bu Nana mau cerita-cerita apa yang Ibu “lihat”, sebaiknya Ibu lihat-lihat dulu siapa yang diajak bicara.

    • nanaharmanto says:

      bener iya…ada orang yang memang mentah-mentah menolak percaya hal ini…I was one of them🙂
      Aku sering menyimpannya sendirian, diem2..baru kepada suami aku terbuka…juga di blog ini hehe…🙂
      yeah, sekarang sih terserah orang percaya atau nggak, nggak ada aturan juga untuk percaya/nggak..
      Terima kasih yaaa..

  13. Kartiko says:

    Seyeem … tapi asik bacanya. Ada part 3 nya nggak Mbak Nana?

  14. Lani says:

    ya..ya…aku onget pas kita otw dari tator ke palopo..pas itu aq emang tidur..he8,maap..kalo dah kena bantal langsung mak leerrr…tp pas dirimu bilang ada sapi guedhem aq pas nglilir…dan aq tidak melihatnya…kmdian kulanjutkan tidurku,…*he8..adik kurang ajar….

  15. marshmallow says:

    membaca dua tulisan tentang alam lain ini membuat saya merinding, mbak. alhamdulillah, saya tidak pernah dan jangan sampai dapat berhubungan dengan makhluk dari dunia lain itu. duh, nggak kebayang deh. rasanya bisa pingsan.

    tapi saya punya pengalaman tentang ini. suatu kali sewaktu masih ko-as di rumah sakit, saya harus bermalam di asrama yang kebetulan dekat dengan kamar jenazah dan selama ini memang terkenal menyeramkan. waktu itu saking mengantuknya saya blas tidur sampai pagi. waktu bangun pagi harinya barulah saya tau bahwa ternyata semalaman penghuni asrama dua lantai itu hanya saya sendiri! padahal cerita teman-teman selama ini cukup bikin keder, lho, banyak yang diganggu. alhamdulillah memang saya bebal kali ya, nggak sensitif terhadap hal-hal kayak gitu. ada untungnya juga.

  16. Pingback: Pak Jono « the broneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s