Dokter Gigi

Aku benci dokter gigi. Uh. Beneran…sumprit…

Sebabnya, dulu waktu aku masih kecil, aku punya pengalaman buruk dengan dokter gigi.

Waktu awal kelas satu SD, suatu pagi, aku merasakan lidahku menyentuh sesuatu yang aneh di dasar mulut, di dekat gigi seri bawah.

Nah, saat aku mencoba lihat ada apa di dalam mulutku, ternyata kutemukan sebentuk warna putih samar menyembul dari dalam gusi. Kuraba dengan lidahku, dan kusadari itu adalah gigi baru yang mulai tumbuh. Sementara itu..gigi lamaku masih utuh, tak berniat untuk goyah sedikit pun.

Kulaporkan hal ini pada mama. Mama memeriksa gigiku, manggut-manggut.

Lalu giliran nenekku yang memeriksa gigiku.

“Hmmm…sepertinya harus dicabut”.

WHAT??? DICABUT??  D-I-C-A-B-U-T!

Gubrak!….aku ketakutan. Kubayangkan gigi dicabut itu pasti sakit setengah mati. Terbayang pula cerita seorang teman yang pernah cabut gigi, katanya, sakit banget!

Aku jadi takut ke dokter gigi.

****

Oh, well, aku pernah mengunjungi dokter gigi, tapi bukan aku yang berurusan dengan para dokter gigi itu. Aku pernah ikut mama yang mengantarkan kakakku periksa pada dokter gigi. Di sana kulihat berbagai alat asing di meja, juga kursi besar aneh yang  bisa dinaik-turunkan.

Kebetulan kakakku itu lumayan sering harus berlangganan pada dokter gigi. Aku sendiri sedari kecil tak begitu suka permen atau sesuatu yang terlalu manis. Jadi aku tak bermasalah dengan gigi berlubang atau geripis.

Gigi baru yang nggak sopan itulah yang jadi masalah. Dikhawatirkan, gigi baru akan tumbuh tak sempurna jika harus berebut tempat dengan gigi lama. Mungkin bisa bertumpuk-tumpuk deh… Aku menolak pergi ke dokter gigi. Dibujuk-bujuk pun aku tetap berkeras nggak mau pergi ke dokter gigi.

Sampai suatu pagi, sebelum berangkat sekolah, mama mengatakan padaku, bahwa nanti aku dan kakakku akan dijemput mama di sekolah lebih awal, jadi ijin setengah hari.

Mau kemana? Ke dokter gigi. Duuhhh……..

Aku dag dig dug di sekolah. Setengah berharap mama tak jadi datang menjemput. Tapi ternyata mama datang juga. Aku dan kakakku diantar ke rumah sakit. Menemui dokter gigi.

Di ruang tunggu, kulihat banyak pasien bermuka kesakitan, pipi bengkak, bahkan ada pula yang dagunya diikat dengan saputangan…beberapa mengaduh-aduh kesakitan….pemandangan itu membuatku semakin gelisah tak nyaman….

Akhirnya, nama kami dipanggil. Kakakku diperiksa lebih dulu, dengan serangkaian treatment berikut alat-alat kedokteran gigi yang entah apa namanya itu..

Berkali-kali aku melirik ke arah pintu. Rasanya ingin banget kabur keluar pintu itu…

OK. Kakakku selesai.

Tiba giliranku. Aku berdebar-debar. Aku ketakutan hingga hampir mewek. Huh! Cengeng!

Dokter perempuan itu mengatakan padaku, bahwa gigiku hanya perlu diperiksa, tak akan dicabut, tak akan sakit….

Aku didudukkan di kursi aneh itu. Dokter membujukku agar aku mau membuka mulut.

Setelah dijanjikan bahwa aku tak akan disakiti,  aku mau membuka mulut sesuai perintah dokter.

Dengan polosnya aku membuka mulut…Haaaaa…..

Dokter memeriksa mulutku dengan cermin kecil bergagang, lalu manggut-manggut.

“Ya..ya..ya…”, gumamnya.

Aku lega, ternyata nggak sakit kok…

Eh, ternyata itu belum selesai. Dokter itu membungkuk ke arahku, kedua tangannya berada di belakang tubuhnya. Seorang asisten dokter mendekati dokter dari belakang. Sepertinya menyerahkan sesuatu ke dalam tangan dokter itu.

Dalam hitungan sangat singkat…..zzzt…zrrt…tangan kiri dokter itu dengan cekatan menyemprot gigiku. Rasa dingin terasa. Belum sempat kusadari yang terjadi, tangan kanan sang dokter telah beraksi mencabut gigi seri lamaku..dhel…dhel…langsung dicabutnya dua gigiku. Aku ternganga. Tak percaya. Aku merasa ditipu mentah-mentah. Dibohongi.

Ini konspirasi!!

Sesaat kemudian, aku mengamuk sejadi-jadinya. Aku meraung-raung. Darah memerah di seragam putihku. Dokter menyumpalkan gumpalan kapas putih yang tak enak baunya ke bekas gigiku yang tercabut. Aku heboh menendang dan menyembur. Jas dokter itu kena sedikit darah yang kusemburkan. Wah, singa kecil itu benar-benar murka!

Aku benar-benar marah. Semua orang kena amukanku. Aku ngambek. Mama terpaksa menggendongku sambil kerepotan membawa segala tas dan kantong obat. Mama membawa kami ke rumah nenekku yang kebetulan dekat rumah sakit itu. Sepanjang jalan aku masih  menangis, hingga tak mungkin orang tak menoleh ke arah kami.

Sepertinya rasa sakit akibat dicabut itu tak seberapa. Tapi sakitnya dibohongi itu yang sungguh terasa.

Dan aku ompong!! Dua lagi!! Huah…aku pasti jadi jeleeeeekkk…hiuhuhu…terbayang besok pagi, aku akan jadi bahan tertawaan teman-teman di kelas. Ompong satu sudah cukup memalukan, apalagi dua!

Uhhg…marah betul aku pada dokter gigi kurang ajar itu!!

Sejak itu, aku tak pernah mau lagi ke dokter gigi. Aku benci dokter gigi. Sampai detik ini hihi…aku paling malas ke dokter gigi.

Tapi, karena pengalaman itu, aku malah jadi rajin merawat gigi supaya nggak sakit atau bermasalah hingga harus bertemu dokter gigi. Aku rajin gosok gigi, berkumur dengan obat kumur atau dengan rebusan daun sirih. Gigiku tak berlubang, jadi aku hampir tak pernah sakit gigi yang konon sangat menjengkelkan dan mengganggu seperti ditulis Om Trainer di sini

Hingga kini, aku tak begitu suka minuman dan makanan yang terlalu manis. Seperti permen dan kue tart..apapun yang terlalu manis… I don’t want to try the second piece…satu potong bisa habis aja udah suatu keajaiban tuh hihi….

****

Sewaktu kuliah…seorang temanku beniat mengenalkan seorang mahasisiwa Fakultas Kedokteran Gigi. Katanya, cowok ini sopan, penyabar dan pinter…oh, OK…aku mau –mau saja dikenalkan. Ketika kami berkenalan…yeah…ganteng sih, tapi…embel-embel “calon dokter gigi” itu yang bikin males dan mules…🙂 entah..aku merasa jangan-jangan si cowok ini juga tukang kibul! (hihi..ya nggak segitunya kali Na! Lebay deh lu, Na!)

Ah, ogah!

Dan hanya karena alasan konyol kekanakan itu aku enggan berhubungan lebih akrab dengan cowok itu hihi… blo*n!!

Ah, ya sudahlah….

Lebih dari seperempat abad aku nggak pernah ketemu memeriksakan diri ke dokter gigi hihi…males! padahal menurut anjuran, disarankan memeriksakan kesehatan gigi dan mulut setidaknya 6 bulan sekali. Sebab, meskipun tak kelihatan berlubang, sebenarnya setitik noda coklat atau hitam pada gigi itu pun sebenarnya lubang gigi yang sangat kecil (lubang mikro). Hehe…aku benar-benar tak mengikuti anjuran itu…

****

Bagaimana dengan Anda?

Rutinkah ke dokter gigi?

Atau punya pengalaman unik dengan dokter gigi?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Dokter Gigi

  1. nh18 says:

    Rutinkah ke dokter gigi?
    Elu ngeledek gua Na … Hahahaha !!!
    Ya jelas tidak jeh …
    Mangkanya aku suka sakit gigi ..
    (sakit gigi kok bangga ..)

    BTW
    Yup … Ini konspirasi !!!
    Ini pembohongan publik
    ini mesti diusut tuntas
    ini mesti dituntut ..
    (halah lebay … kayak NGO saja layaknya …)

    Toss dengan Nana !

    • nanaharmanto says:

      hahaha….toss dengan Om NH!
      aku hampir nggak pernah sakit gigi Om…tapi bisa ikut prihatin pada mereka yang sakit gigi…nggak Om, nggak ngeledek kok…mana berani Om…hehe…konon orang lagi sakit gigi bisa lebih galak🙂
      hii…takuuut…

      Toss lagi Om….

  2. nh18 says:

    And Yes Pertamax !!!

    (anggota INBTDG)(ikatan nara blog takut dokter gigi)

  3. aurora says:

    ahhh.. aku nggak suka banget ke dokter gigi kak…. walaupun begitu, kakak temanku itu dokter gigi.. orangnya ramah, baik.. mungkin kalau lagi di klinik aja jadi tukang ngibul yak.. hehehe….

    @om trainer: om, aku ikut klubnya yah… INBTDG

  4. sama dgn Mbak Nana, punya pengalaman waktu kecil dgn dokter gigi yg nggak enak krn dicabut gigiku yg nggak goyang.
    tapi, krn dokter giginya baik hati, jadi gak segitu ”dendam” nya he…..he……..
    sekarang kedokter gigi paling setahun sekali, utk bersihin karang gigi dan nambel yg bolong saja.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      wah, Bunda rajin banget nih merawat gigi ke dokter gigi…
      sampai sekarang saya masih mules setiap kali membayangkan ruang praktek dokter gigi. hihi..
      jadi perawatan gigi hanya alami saja, pakai rebusan daun sirih, atau yang agak modern dengan obat kumur dan rajin gosok gigi.
      Untungnya saya nggak punya gigi bolong…🙂

  5. septarius says:

    ..
    Wah kalo ini namanya trauma dokter gigi..😀
    ..

  6. vizon says:

    aku tidak trauma dengan dokter gigi. hanya saja, aku pernah punya pengalaman menjengkelkan dengan dokter gigi di rs sardjito. ketika itu aku harus operasi gigi karena ada sedikit persoalan dengan gigiku yang paling ujung (entah apa namanya). sehingga itu sangat mengganggu dan disarankan untuk dioperasi. jadilah aku operasi gigi oleh dokter spesialis gigi.

    dalam proses itulah terjadi kejadian yang tidak enak. ketika aku lagi “digarap”, tiba2 muncul empat orang dokter muda. mereka menggerubutiku. dokter yang menanganiku tadi, tiba-tiba berhenti dan memberikan beberapa penjelasan kepada dokter2 muda tadi.

    sejenak aku pun sadar, ternyata aku telah menjadi “alat peraga” mereka… alamaaak… kesal sekali rasanya, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. lha wong mulutku lagi disumpal dengan sebuah alat yang membuat mulutku terus menganga…

    asli, aku benar-benar kesal setelah itu. tapi mau bagaimana lagi, lha wong rs itu adalah rs pendidikan, ya kudu ikhlas dijadikan “alat peraga”, hahaha…😀

    • nh18 says:

      Hahahahaha …
      Perkenankan saya untuk ngakak disini …
      Maap ya Uda …

      Tapi sungguh pengalaman Uda ini kocak bener …
      Uda jadi alat peraga … alias kelinci percobaan …
      Hihihihi mestinya ada Fee nya tu Da …

      Salam saya

    • Riris E says:

      mengapa uda tidak komplain? pasien kan berhak mendapatkan privasi. sewaktu saya periksa ke ginekolog dan para KOAS itu datang bergerombol, saya bilang ke dokter yg bersangkutan kalau saya keberatan. Dan Dokter mengabulkan permintaan saya yang hanya mau diperiksa oleh beliau dan asistennya (bidan/perawat)

  7. tutinonka says:

    Saya bukan pecinta dokter gigi, tapi juga bukan pembenci mereka. Biasa aja. Kalau sakit mata ya ke dokter mata, sakit gigi ya ke dokter gigi (ya iyalah … mosok sakit gigi ke bengkel las … hehehe)

    Beberapa bulan yang lalu saya cabut gigi. Waktu diperiksa tensi saya, ternyata agak tinggi. Bu Dokter yang akan mencabut gigi saya tersenyum. “Takut ya Bu?” katanya. Ealaaah … gara-gara tensi naik, Bu Dokter jadi tahu kalau saya agak gemeter … qiqiqi

    Tapi profesi dokter gigi sekarang sedang naik daun lho (hayah, daun apa bisa dinaiki dokter?) soalnya pasang kawat gigi sedang jadi mode …

  8. kikis says:

    aku tidak pernah ke dokter gigi.yang lucu malah jadi pengantar saja, entah istri, saudara, kedengarannya lebih MENGERIKAN dibandingkan antara ada dan tiada…ha2

  9. JR says:

    wakh sama aku juga paling alergi ama DRG

  10. zee says:

    Saya termasuk yang takut ke dokter gigi. Karena meskipun sudah dibius tetap aja terasa sakit…. haduh stress mikir ada yg masuk ke mulut kita.

  11. edratna says:

    Dokter gigi sekarang selayaknya memberikan pendekatan yang berbeda terutama kepada anak-anak kecil.
    Saat anakku kecil dan pertama kalinya ke dkter gigi, hanya diajak ngobrol, diajari menyikat gigi boneka…terus ditanya, mau nggak giginya dibersihkan, biar bersih seperti boneka. Si kecil manggut-manggut…jadilah sejak umur 4 tahun dia tak takut dengan dokter gigi. Dan dokter menjelaskan dulu, apa yang akan dilakukan…”Nggak sakit kok, dan buka mulutnya tak lebih dari hitungan 10 kali. Coba tante hitung….satu…dua…dst nya dan setiap sepuluh balik lagi ke satu,….hahaha” Tapi si kecil menyenangi acara ke doker gigi, apalagi si mbak membekali makanan, malah saat dipanggil dia masih asyik bermain di teras praktek dokter gigi.

  12. DV says:

    Sewaktu kecil aku paling takut ke dokter gigi, pengalamanku kurang lebih sama denganmu, Na…

    Tapi yang menarik justru terjadi sekitar tiga tahun silam ketika aku harus berurusan lagi dengan dokter gigi karena harus operasi cabut gigi geraham bungsu.

    Saking takutnya, tensiku bisa naik jadi 170 dan dokter memutuskan untuk memberi obat penenang dan membiarkanku 1 jam di luar.
    Setelah masuk lagi dan tensiku normal ke 110, dokter itu mencabut..

    Dan, aku berhasil mengalahkan rasa takutku meski dengan bantuan obat penenang🙂

  13. Riris E says:

    Aku pikir cuma aku yang takut berurusan dengan dokter gigi. Ternyata ada juga yang sampai harus minum obat penenang untuk menurunkan tensinya (ngelirik Donny!sambil nyengir bajing)..

    Aku tidak pernah punya pengalaman dikibulin. Waktu kecil dulu Dokter Gigiku cantik sekali, dan dia piawai membujukku untuk tidak terlalu takut waktu gigi gigisku dicabut oleh beliau.

    Tapi entah mengapa, aku tetap saja tidak nyaman mendengar desingan alat pengebor gigi berlubang. Atau kalau harus membayangkan proses pembersihan karang gigi..hiy…kruk..keruuk..aaarrrggah..ngilu..

  14. Waks!! Kok bisa sih sampe pake acara ngebohongin gitu? Emang kode etiknya gmn sih?

    Walaupun (untungnya) gak punya pengalaman buruk dengan dokter gigi, tetap aja saya sampe umur dua puluh sekian ini keder kalo berurusan sama dokter gigi. Bukannya ada yg bilang di tangan Dokter Gigi-lah bahkan seorang President harus turut dan manut?

    Yang terakhir saya berurusan dengan dokter gigi adalah dua tahun lalu, pas dua gigi belakang yang bolong divonis harus dicabut. And guess what, selama pencabutan, tangan saya erat mencengkeram jas putih si dokter yang masih muda. Yah, apa salahnya menyelam sekalian mencari mutiara😀

  15. soyjoy76 says:

    Hmm… saya jarang sekali ke dokter gigi. Bukan karna punya pengalaman nggak enak sama dokter gigi… cuma suka ngilu aja ngebayangin waktu bor-nyamelubangi gigiku…

    Btw… istri tetanggaku sekarang seorang dokter gigi dan orangnya RESE banget… kasian istriku ngadepin tetangga rese gituh *curcol*

  16. Pingback: trauma sama bencong.. « senyum Septa

  17. Selamat Hari Ibu ,Mbak Nana.
    Semoga DIA selalu memberikan kasih sayangNYA utk seluruh ibu di nusantara ini, amin.
    salam.

  18. Mbak🙂
    dokter gigi itu langgananku waktu kuliah krn aku pake kawat gigi hahahha.

    Berhubung dulu visit dentist itu wajib.. skr malah uddh male ke dentist krn bosen bukan krn takut lho hhehehe

  19. elia|bintang says:

    cabut gigi mah sakit.. lebih sakit drpd dibohongin. hehe.. pengalaman unik sama dokter gigi ada sih tapi agak2 memalukan. mau bayar tapi duitnya kurang.. haha😆

  20. marshmallow says:

    rutin ke dokter gigi?
    yah, lumayanlah, mbak.
    kan aku satu klinik dengan dokter gigi, jadi aku berkesempatan konsultasi setiap diperlukan. sekalian scaling setiap 6 bulan. begitupun, gigiku tetap nggak oke-oke amat. hhh… *pasrah*

  21. krismariana says:

    Aku kok nggak pernah merasa takut dg dokter gigi ya. Dulu dicabut ya biasa saja tuh. Nggak takut. Emang sakit, tapi bagiku biasa saja. Dan yg penting, dulu waktu kecil, dokter gigiku ganteng sekali hahahaha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s