Nasi yang Menangis

Bebek dan Ayam

Dari kecilku dulu, kami terbiasa makan malam bersama. Saat kami sudah bisa makan sendiri, maka kami harus berusaha makan sendiri, tak lagi disuapin. Tapi tentu saja, papa atau mama masih membantu memotong daging yang agak liat dengan sendok, karena kami belum bisa melakukannya sendiri. Urusan mengantarkannya ke mulut, naaaah..itu urusan masing-masing!

Kami dibiasakan untuk mengambil nasi secukupnya. Kalau kurang, boleh nambah lagi, dengan syarat, nasi yang ada di piring harus habis.

Namanya anak kecil, wajarlah bila nasi berceceran di luar piring. Hmm…lumayan banyak juga…

OK, nasi yang sudah tercecer tak boleh lagi dimakan, karena sudah kotor. Aku ingat, orang-orang dewasa di rumahku saat itu, tak ada yang mencela kami. Uniknya, nasi yang berceceran itu dianggap sebagai β€œbebek”. Nah, bebek-bebek yang keluar kandang itu dihitung, dikumpulkan jadi satu, untuk dijadikan makanan ayam besok pagi.

Setiap kali makan bersama, bebek-bebek bandel itu dihitung, apakah berkurang atau justru bertambah dari malam sebelumnya. Nenekku, papa atau mama memuji kami kalau bebek kami berkurang. Kalau bertambah, mereka tidak mencela, mereka menyemangati supaya besok malam, semakin sedikit bebek yang kabur dari kandang. Hhhmm..Permainan yang asyik kan…

Aku dan kakakku jadi berusaha seserius mungkin agar tak sebutirpun nasi tercecer. Senangnya saat mendapat pujian….

Pernah, aku mencuri-curi ambil sebutir nasi yang tercecer di luar piring, hanya agar aku menang bersaing dengan kakak. Hoho…aku dinasehati untuk tidak berbuat curang, sekecil apapun…

Seingatku, kakakku lah yang pertama kali lulus. Mejanya bersih tanpa sebutirpun nasi tercecer di luar piring. Dia bahagia sekali mendapat pujian. Wah, aku jadi terpacu supaya bisa sama dengan kakakku…

Akhirnya, setelah beberapa minggu, aku pun lulus…horeeeeyyy….

****

Nasi dan Si Unyil

Nana kecil dulu, keranjingan pada serial Si Unyil yang ditayangkan setiap hari Minggu di satu-satunya program TV yang ada saat itu.

Salah satu episode yang kuingat adalah cerita tentang nasi yang dibuang dengan sangat semena-mena oleh satu tokoh boneka tangan itu. Kalau tak salah ingat, si tokoh yang membuang nasi masih sempat membantah ketika dinasehati. Malamnya, ia lalu bermimpi bertemu dengan sebutir nasi yang telah dibuangnya. Dikisahkan, si butiran nasi yang mewakili segumpal nasi terbuang itu menjadi hidup; punya mata dan mulut. Ia menangis sedih sekali, karena terpisah dari butiran nasi yang lain. Sementara saudara-saudaranya bersuka cita karena dimakan manusia, dia terbuang ke tanah, kotor, nyaris terinjak manusia, lalu hampir dimakan ayam. Nasi itu sangat ketakutan!

Si tokoh yang membuang nasi itu akhirnya menyesal dan berjanji tak akan membuang nasi lagi.

Bagiku saat itu, cerita tentang nasi itu sangat menyentuh, membekas, mendalam…hingga kini pun aku masih ingat…

****

Alergi yang Aneh

Sewaktu SMA, aku pernah alergi nasi. Lambungku menolak nasi. Setiap kali kemasukan nasi, pasti tumpah lagi. Enaknya tinggal di asrama, periksa dokter gratis… saat itu dokter mengatakan, mungkin maag-ku yang cukup serius menjadi penyebabnya. Untuk kasus sepertiku, biasanya ada semacam lendir yang mengganggu di dalam lambung. Sebaiknya, sih, untuk penanganan yang lebih tepat, cairan dalam lambung itu harus diteliti lebih lanjut. Terbayang nggak cara mengambil cairan itu? Huhu… jiper duluan deh…😦

Beberapa kali hal itu terjadi lagi, dan kuganti nasi dengan roti tawar dan susu. Saat itu, pilihan yang ada tinggal mie instan. Pernah satu minggu full aku tak makan nasi/ bubur, jadi aku hanya makan lauk dan sayur, setelah itu, roti tawar atau kue jadi pengganjal lapar. Rasanya lemesss….😦

Sejak saat itu, setiap kali melihat nasi yang terlalu banyak, aku jadi tak berselera makan. Mbleneg. Mendadak kenyang. (??) Aneeehh…

Rasanya menyesal deh, setiap kali kulihat nasi dalam di piringku tak sanggup kuhabiskan….hiks..

Banyak teman yang mengira aku makan sedikit nasi karena diet, takut gemuk danΒ  sebagainya. Aku malas menjelaskannya…hehe..

****

Gudang beras

Sekarang, aku tinggal di sebuah kota bertetangga dengan daerah sentra penghasil beras unggul di Sulawesi Selatan. Nah, mentang-mentang beras berlimpah ruah, setiap rumah makan di sini menghidangkan nasi yang membukit. Jelas deh, tak sanggup kuhabiskan. Biasanya, aku akan minta pada si mas atau si mbak pramusaji untuk menyediakan nasi setengah porsi saja. Kalau pun masih terlalu banyak, aku akan minta piring kosong untuk memisahkan nasi yang tidak akan kumakan supaya tetap bersih. Kadang pula, aku transfer ke piring suamiku hihihi….(hayo…ketauan pembaca pada mbatin: pantessss….!!!)πŸ™‚

Sedapat mungkin, aku tak menyia-nyiakan nasi di dalam piringku. Sayang kan? Setiap kali kulihat beberapa butir nasi yang tertinggal di piringku, segera aku ingat pada nasi si Unyil yang menangis itu…lalu kuhabiskan hingga tuntas, supaya butiran nasi itu bisa bergembira saat berjumpa dengan saudara-saudaranya.

Bagaimana nasib nasi di piring Anda?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration, Dari Hati and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

51 Responses to Nasi yang Menangis

  1. arman says:

    hmm cerita tentang nasi ya…
    namanya juga orang indo ya, saya juga suka banget ama nasi. lebih suka makan nasi daripada roti atau mie.

    tapi dulu pas kecil ya suka gak abis pikir kalo ngeliat orang bisa makan nasinya lebih banyak dari lauk nya. dulu saya pas kecil, kalo makan harus seimbang antara jumlah nasi dan lauk. kalo nasinya lebih banyak dari lauk dan lauknya udah abis duluan, gak bisa kemakan tuh sisa nasinya. hehehe. tapi orang tua saya sih gak sampe strict banget ama makanan. kalo emang gak abis ya gpp. biasa malah kalo udah kenyang, yang ditekankan yang penting lauknya abis. nasi gak abis gpp. hehehe.

    eh setelah gede2 dan napsu makan semakin tak terkendali, jadi semakin suka makan nasi. dan ternyata bisa lho makan nasi banyak padahal lauknya dikit. huahahahaha.

    tapi sekarang mengingat berat badan dan perut semakin besar, jadinya mengontrol diri untuk gak makan nasi terlalu banyak.πŸ™‚

    • nanaharmanto says:

      Pecinta nasi ya?
      dulu waktu kuliah, banyak temen-temenku yang kayak gini nih, beli lauk satu, sambelnya banyakin, nasinya 2 piring hahaha…

      Btw, kalau nggak makan nasi terlalu banyak jadi cepet laper nggak tuh? atau ada makanan pengganjal lainnya?

      • dian says:

        ada jeng. umbi2an, kayak singkong, ubi, talas, dll
        dijamin menahan karbo di perut jugaπŸ˜€

      • arman says:

        kalo menurut saya sih sebenernya masalah gampang laper atau gak itu habit juga ya. kalo dibiasain porsi makannya banyak, begitu porsi makanan didikitin jadi gampang laper. tapi kalo diturutin terus jadinya porsi makannya membanyak terus.

        jadi biasanya awalnya porsi makanan dikurangi tahap demi tahap. kalo laper paling diganjel buah atau yogurt. ntar lama2 bisa lebih terbiasa dengan porsi makan yang gak terlalu banyak.

        kalo diganjelnya ama carb juga (roti/mie/kentan) ya sama juga boong dong ya. hahaha.

  2. ikkyu_san says:

    hehehhe bahwa nasi itu tidak boleh dibuang, pasti diajarkan oleh orang tua jaman kita ya Na.Sayangnya sekarang banyak anak-anak yang disuapi oleh baby sitternya. Dan aku suka heran si babay sitter menyendokkan nasi yang cukup banyak (kadang kalau dilihat akupun belum tentu bisa makan). Jadi nasib sisa nasinya? …ya tergantung si baby sitter deh.

    segini dulu komentar dr aku (kai sudah memanggil utk tidur bersama hihihi)

    EM

    • nanaharmanto says:

      Bener Mbak, kayaknya kebanyakan anak-anak sekarang diurus semuanya sama baby sitter, bahkan ada yang udah kelas 5 SD (murid lesku) masih disuapin baby sitternya, dan yang kulihat makannya nasi sama nugget. sama sekali nggak mau makan sayur. menurutku kok makan sayur harus dibiasakan sejak kecil ya?

      Anak-anak yang diurus baby sitter itu mungkin nggak sempet diajarin orangtuanya sendiri untuk menghargai makanan/nasi. bisa jadi, mereka juga nggak peka pada mereka yang susah dapat makanan…

  3. edratna says:

    Nana…herannya kita mendapat pendidikan yang sama tentang makan harus habis. Kayaknya orangtua kita dulu sangat hemat dan memperhatikan sekeliling ya….

    Karena piara ayam, dulu nasi yang terjatuh untuk makanan ayam…dan kalau makan nasinya tak dihabiskan, ayamnya akan sakit..dan rasanya sedih sekali. Dan juga, jika kita mengambil nasi banyak…disebut seperti kuli yang seminggu tak makan…sebaiknya makan sedikit tapi berulang-ulang…..

    Saat ini, yang menyedihkan, tayangan di TV tak memperlihatkan lagi segi2 pendidikannya, hanya mengejar rating. Malah anak-anak diajarkan contoh saling berteriak pada sinetron di TV. Padahal, usia anak-anak, sangat penting memberi ajaran dan contoh yang baik..yang berhasil diberi pujian,, sehingga anak akan berusaha sebaik mungkin.

    • nanaharmanto says:

      Ya betul, Bu…para orangtuan jaman dulu memang selalu menekankan agar tak menyia-nyiakan makanan.

      nasi tak habis> ayam sakit/mati
      hehehe..kok sama ta Bu? saya dulu juga dibilangin begitu, saya dulu sempet mikir, lha kalau nasi saya habis, ayamnya nggak dapat jatah dong? bukannya si ayam malah cepet mati kelaparan? hihi..:)

      Pernah juga saya menganggap omongan itu nggak masuk akal. seperti waktu Bude saya bilang, kalau nasi nggak habis, ayam saya bisa mati..padahal…waktu itu saya pas nggak punya ayam seekorpun..haha..

  4. dedi says:

    sebisa mungkin jangan sampe membuang nasi yaπŸ˜€

  5. nh18 says:

    Sama Persis Na …
    Ibuku dulu juga suka uring-uringan jika kami (saya dan adik saya0 menyisakan banyak nasi di piring makan kami …

    Beliau Bilang …
    Hayo dihabiskan …
    Kasihan Upo yang tertinggal itu …
    temen-temennya udah pada masuk ke perut kamu
    tapi upo itu tertinggal di piring
    apa ndak kasihan kamu …

    lalu akhirnya …
    begitulah … karena rasa kasihan dengan Upo yang tertinggal … kami selalu berusaha melicinkan piring kami

    However …
    Yen dipikir-pikir
    Sesungguhnya dibalik nasehat tersebut … terkanduk makna yang sangat dalam …
    ada rasa syukur didalamnya … ada peringatan untuk tak berlaku semena-mena … ada pelajaran untuk tidak membuang-buang makanan …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Maaf, Om…sedikit beda nih..orangtuaku nggak pernah uring-uringanπŸ™‚ *tsah! sombong…hihi..

      iya Om, setelah dewasa baru deh kita ngerti makna nasehat itu: untuk selalu bersyukur, untuk menghargai jerih payah para petani, dan untuk nggak menyia-nyiakan makanan…

      dulu waktu kecil aku masih suka ngeyelan, setelah gede baru deh sadar…

  6. kalau dulu saya makannya paling lama, kakak dan adik2 sudah kelar, nasi dipiringku masih membukit, pingin nangis rasanya, tapi ayah selalu menemani sambil membujuk, kalau nasinya bisa habis , nanti disurga nasinya berdoa utk ku.
    lalu, pernah juga mengalami gak bisa makan nasi sama sekali, krn maag yg akut, akhirnya selama berbulan2 ibu tiap hari bikin bihun atau mie goreng utk makanku.
    akh, kalau ingat itu semua, betapa yg ortu ajarkan pd kita semuanya adalah utk memicu semangat dan menjadikan kita orang yg bertanggung jawab.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      wah…Bunda punya ayah yang hebat ya, sabar banget nemenin putrinya makan…banyak tuh orang tua yang maksa anaknya ngabisin makanan, tapi si anak malah jadi ngambek…

      Ternyata kita punya kesamaan ya Bunda, pernah nggak bisa makan nasi…ohya, ada obatnya kah, Bunda?

      • selain teratur makan obatnya juga dicoba sedikit sedikit makan nasi, kalau rasanya mau muntah, berhenti dulu.
        eh, sekarang malah kalau belum makan nasi rasanya belum makan he he, jadi deh gembul dan gendut he he.
        salam.

  7. aurora says:

    hah…. kalau aku sih kak, aku adalah anak yang paling jarang menyisakan remah nasi…. ada perasaan risih, ketika nasi itu beberapa buah berceceran… walaupun aku belum pernah nonton si unyil yang episode nasi itu….

    • nanaharmanto says:

      baguuuuusss… dua jempol!
      bener Rif, kita memang harus menghabiskan nasi di piring kita. Sebab, siapa lagi kalau bukan kita yang mau menghabiskannya? nggak mungkin orang lain ngabisin sisa-sisa kita…

      si Unyil sempet “menghilang” beberapa tahun tuh. jangan-jangan waktu aku masih nonton si Unyil itu kamu masih bayi Rif…πŸ™‚

  8. septarius says:

    ..
    Kalo makan nasi ingat beras..
    Kalo bicara beras inget petani..
    Nasehat Ibu ku
    Demi menghargai pak petani yg bekerja keras,
    Nggak boleh membuang nasi..
    Dan mewajibkan berdoa sebelum makan untuk bersyukur..
    ..
    Wew.. jaman mbak Nana kecil udah ada Unyil..πŸ™‚
    ..

    • nanaharmanto says:

      aku setuju sama ibumu, Ta…dulu aku juga dinasehatin, jangan suka membuang nasi, itu salah satu bentuk menghargai usaha pak dan bu tani. coba kalau nggak ada mereka, dari mana asal padi dan beras? masak kita mau menanam padi sendiri? ngebayangin aku harus nanam padi dan berbecek-becek di sawah…hmmm…aku nggak mau jadi petani. makanya aku memilih “manut” pada nasehat orang tua utk tidak menyia-nyiakan nasi/makanan lain. πŸ™‚

  9. Yang orang tua lebih bijak …

    • nanaharmanto says:

      Benar, Pak…yang tua lebih bijak. dulu saya ngeyelan…sekarang setelah dewasa semakin sadar pentingnya nasehat dari jaman dulu itu.

      Salam kenal Pak, terima kasih sudah mampir ke sini ya…

  10. DV says:

    Aku dari kecil slalu dipaksa untuk habisin nasi yang ada di piring tapi aku slalu tak bisa bahkan hingga sekarang.

    Aku tak terbiasa makan nasi yang tinggal sebutir dua butir, bagiku rasanya aneh…

  11. yustha tt says:

    Ahahaha…sama mb.. Ibu dulu jg blg gt, kalo maem harus dihabisin kalo gk nti nasinya nangis. Nah, karna gk percaya, nasiku yg gk hbs kusimpan di lemari makan. Bsk paginya kuliat nasinya ‘jemek’/berair.. Lhaaaa…si kecil tt jadi percaya kalo nasinya nangis.. Hahaha…

  12. sauskecap says:

    wah senangnya, seandainya semua orang tua mengajarkan anaknya seperti di dalam keluarga anda…

  13. nakjaDimande says:

    Mba Nana, aku termasuk yang jago makan. Nasi jarang yang nyisa.. cuman giliran minum susu diam-diam aku kasihin ke anjing buruannya bapak.

  14. vany says:

    alergi nasi?
    gimana tuh rasanya, mbak?
    hehehe
    kalo kita makan, memang seharusnya nasinya dihabiskan ya, mbak…πŸ™‚

    • nanaharmanto says:

      hmm…rasanya nggak enak deh, tiap kali nasi masuk sedikit, maaf…tumpah lagi. Kayaknya kalau lag kumat emang nggak bisa dipaksa juga sih..
      Kalau cuma dua tiga hari aku masih biasa aja, tapi kalau lewat 3 hari nggak makan nasi ya, lemes….hehe…

  15. vizon says:

    soal nasi menangis dan lain sebagainya itu, sepertinya jaman dulu memang sering dilontarkan para orangtua untuk “memaksa” anak menghabiskan nasi, termasuk aku juga begitu dulunya.

    namun, jujur kukatakan kalau anak-anakku sekarang tidak bisa “digertak” dengan kalimat itu. bahkan ketika kubilang “nanti nasinya nangis”, dia akan jawab “emang nasi punya sayap pho?” :))

    so, haruslah memberi pengertian dengan sejujur-jujurnya pada anak-anak sekarang.
    *kalau dipikir-pikir, kita dulu kok mau aja diboongin ya?*, hehehe…πŸ™‚

    .-= vizon´s last blog ..jamur & zupa =-.

  16. zee says:

    Kalo saya mbak, selalu makan sampai habis. Soalnya kalo lama makan, digetok ama papi hehehe…. akhirnya ya jadi keterusan terbiasa makan cepat dan bersihπŸ˜€

  17. krismariana says:

    aku suka berpikir begini: menghabiskan makanan (dlm hal ini nasi) sama halnya dengan berdoa. hanya saja kali ini doanya adalah dengan tindakan, tidak hanya kata2.

  18. tutinonka says:

    Kisah yang menarik sekali, Nana. Aku dulu juga selalu dimarahi ibu kalau makan tidak dihabiskan. Sampai sekarang, aku selalu makan sampai habis kalau di rumah. Tapi di rumah makan, sering sekali tidak habis, karena porsinya selalu besar, bahkan meskipun aku sudah minta separuh porsi.

    Tapi nasehat ibuku dulu bukan ‘nanti nasinya nangis’, melainkan ‘nanti ayam kita mati’. Kok beda ya … hehehe …

    • nanaharmanto says:

      Wah, “penyakit” kita kok sama ya Bu, kalau di rumah makan porsi buto gitu pasti nggak bisa habis…😦

      Kalau dulu bude saya yang sempat tinggal bersama kami yang suka bilang begitu, nanti ayamnya mati kalau nasi nggak habis…

      Saya dulu sempet mikir, “Lho, bukannya kalau nasiku nggak habis, sisanya diberikan ayam ya? Kan ayamnya malah sehat bisa makan, nggak jadi mati dong..” hehe…
      *dasar saya memang ngeyelan…*

  19. jeunglala says:

    Mbak Na,

    Aku pecinta nasi, tapi atas nama diet dan pingin kurus, nasi sudah aku anggap sebagai musuh yang keji! Haha. Kasian banget, ya?

    Aku sudah lamaaa banget nggak makan nasi, sampai-sampai sering kangen dan penasaran kayak apa sih rasanya nasi.. hihi, lebay banget kan, Mbak..

    Oh ya.
    Cerita soal nasi yang menangis pun menjadi cerita pengantar tidurku. Sekaligus, bahan buat nakut2in aku yang sering menyisakan makanan. Seperti yang diajarkan Ayahnya Mbak Na, aku diajarin untuk nggak boleh membuang makanan, sekalipun prakteknya, sekarang, kayaknya lebih mentingin tubuh kurus deh… Oh my God.. kemunduran prestasi nih.. huhuhu

    • nanaharmanto says:

      Wah, La…
      musuhan sama nasi ya?
      Menurut teori yang kubaca tentang diet sehat, *tsah! ternyata gandum (roti dan mie kuning) lebih jahat daripada nasi…

      Semoga dietnya berhasil ya…aku bikin program diet untuk suami belum berhasil…hiks..😦

  20. Tas Sekolah says:

    emang alergi yg aneh ….
    tp mungkin ususnya suah berbeda dgn manusia kebnnyakan πŸ˜€
    salam,

    • nanaharmanto says:

      Hmm…gara-gara maag dicuekin dan terlanjur akut… nyesel juga dulu nggak langsung ditanganin secara serius..

      Salam kenal ya, terima kasih udah berkunjung ke sini…πŸ™‚

  21. 69.69FM says:

    meskipun di rumah sendiri saya tetap ambil nasi sedikit dulu. kalo kurang baru nambah dikit sekitar 3 sendok, kalo masih kurang trus nambah lagi. kalo makan, piring saya bersih.

  22. marshmallow says:

    bagus banget cara orang tua memancing kompetisi agar nasinya tidak terbuang. saya ingat, dulu ibu juga sering menyebut istilah nasi menangis untuk nasi yang tidak dimakan. haha…

    beragam juga kisah mbak nana mengenai nasi. kalau saya mah nggak ada istilah alergi nasi, secara perut katrok. kalau gak diisi nasi berasa belum makan! uhuhuhuuuu…

  23. Ria says:

    dari kecil aku bersaudara gak pernah di ajarkan untuk nyisain makan, kalau udah kenyang mama akan nungguin sampe anaknya itu berhasil menghabiskan nasi walaupun nunggunya bisa sejam…hihihihihi..

    tapi ternyata setelah besar akhirnya aku tau kenapa gak boleh nyisain makanan.

    ohhhh pantesan si bro bisa sebesar itu yaπŸ˜› hihihih peace mbak naπŸ˜€

  24. Alergi nasi? Baru denger mbak… tapi syukurlah skr udh enggak lagi hehehe.

    Btw, pantes suaminya mbak dadi subur dpt transferan tohπŸ˜‰ hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s