Imlek

Aku nyaris buta total mengenai tradisi Tionghoa. Aku tak menguasai pengetahuan yang memadai tentang masyarakat dari wamsa tua ini, -berikut budayanya yang unik- yang bisa kubagikan di sini.

Yang bisa kuceritakan nih, waktu aku kecil dulu, di depan rumah engkongku, ada sebuah klenteng Cina yang berwarna merah menyala dengan sentuhan warna emas, atapnya dihiasi dengan ornamen sepasang naga kembar mengapit  bola api merah. Aku selalu mengagumi naga-naga bersisik yang meliuk itu. Gagah. Kerennn!!

Klenteng itu berpagar dan tertutup rapat dari dunia luar. Kebetulan aku bisa melihat atap klenteng megah itu dari jendela loteng rumah engkong. Aku selalu penasaran ada apa sih di dalam klenteng itu? Mengapa tertutup rapat seolah terasing dan menyendiri?

Baru kutahu bertahun-tahun kemudian, masyarakat dan budayanya ini dikucilkan, dibenci dan sedapat-mungkin-disingkirkan- oleh rezim yang berkuasa saat itu.

Aku juga heran, kenapa sih emak (nenek) menyimpan kembang api merah panjang? Harum pula. Kata emak, itu bukan kembang api. Itu hio, dupa merah, untuk sembahyang. Huh, aku semakin bingung. Apa-apaan nih?

Setiap aku mengunjungi rumah emak aku selalu menyempatkan diri mengamati atap klenteng itu. Penasaran betul aku pada kesunyiannya. Misterius.

Suatu ketika, aku mengunjungi emak dan engkong. Hari itu sibuk sekali. Emak memasak bermacam-macam masakan. Hhhmm..masih terlalu kecil, aku nggak mudeng!!

Aku pergi bermain. Lewat tengah hari,  aku pulang dari bermain dan langsung naik ke loteng untuk melihat si naga merah. Di situ, sebuah meja tertata rapi, bermangkuk-mangkuk makanan diatur. Ada tujuh mangkuk. Ada juga kue khas Imlek, kue keranjang,  apel merah dan jeruk mandarin. Dua pelita menyala mengapit sesajen itu, berikut berbatang-batang hio tertancap di wadah khusus. Wuih…pesta nih!! aku bergegas mendatangi meja itu….penasaran.

“Ssst…jangan ganggu, itu nggak boleh dipegang”, kata om-ku yang melihat polahku.

Aku mundur, terheran-heran. Lalu turun ke bawah.

Beberapa saat kemudian, om-ku memanggil dari atas tangga. Diisyaratkannya agar aku tak berisik

“Sst…Na, sini…!”

Kami duduk di tangga, mengintip ke loteng.

Emak telah berganti baju bagus. Kebaya encim yang lembut dan kain motif batik. Emak berdoa komat kamit, berlutut, berdiri. Mengangkat dupa dengan kedua tangannya. Diangkatnya di atas kepala, diayunnya tiga kali, lalu ke kiri dan kanan, masing-masing tiga kali.

Aku terbengong-bengong…

“Emak ngapain tuh?”, bisikku.

“Emak sedang berdoa”, jawab om sambil berbisik.

“Kenapa berdoa begitu? Kok nggak kayak di gereja?” protesku.

“Ssshh…ayo turun”, ajak om. Kulihat emak telah selesai dengan ritual anehnya itu.

Beribu pertanyaan berjejalan dalam kepalaku dan tak pernah terjawab. Pulang dari rumah emak, aku dapat uang….asyik….angpau! yiipiiie…nah, bolehlah penasaranku terlupa!! Dasar, kecil-kecil mata duitan!🙂

****

Dua-tiga kali menjelang Imlek, aku ke rumah Emak. Sudah menjadi kebiasaan, emak memasak tujuh rupa masakan. Aku membantu Emak memasak.

Aku hampir hafal kebiasaan emak ini. Selesai memasak, Emak mengatur semua hidangan di atas meja di loteng, dekat jendela. Emak berganti baju, lalu melakukan ritual doa dengan hio.

Lalu, asyiknya, saat aku pulang ke rumah, emak telah menyiapkan serantang makanan lezat itu, plus…ang pau hihi…

Sewaktu SMA, sehari sebelum  Imlek, aku pulang dari Jogja ke rumah emak. Aku pulang dari sekolah langsung, tanpa kembali ke asrama hingga tak sempat makan siang. Sialnya, sampai di rumah emak, aku kelaparan! Perutku berontak, melilit minta isi.

Waduh, emak kok nggak nawarin makan ya? Bolak-balik aku melirik-lirik makanan yang berlimpah dan menggiurkan itu. Harum aneka masakan itu, sumprit…menyiksa luar dalam!

Aku merasa pusing. Kepanasan dari Jogja dan kelaparan. Bagus! Paduan sempurna untuk pingsan.

Emak menyuruhku mengelap mangkuk-mangkuk koleksinya yang terbaik yang hanya dikeluarkan dari lemari saat Imlek. Disuruhnya aku mengatur makanan dalam mangkuk-mangkuk porselen itu.

Haduh, dalam keadaan kelaparan begitu, orang memang jadi pendek pikir! Diam-diam kuambil sedikit mie goreng dan hap! Masuk mulutku, cepat-cepat kukunyah. Korban berikutnya….sepotong, eh dua potong daging masak kecap. Cepat-cepat kutelan sebelum ketauan emak. Baru saja aku selesai menelan, emak masuk.

“Sana, bawa ke loteng mangkuk-mangkuk ini, semua makanan ini belum boleh dimakan….nanti, setelah sembahyang, baru boleh dimakan…”.

Hadezig!! Waduh, aku baru saja nyolong sesajen emak! mampus deh, alamat dikutuk leluhur nih…

****

Dengan was-was serabutan minta maaf -entah pada siapa-, aku membawa mangkuk-mangkuk itu ke loteng. Dua pelita telah menyala di atas meja.

Tak yakin, aku mulai mengatur mangkuk-mangkuk itu…ini posisinya bener nggak ya?

Setelah itu, aku menunggu sambil nonton TV. Lalu emak berganti baju, kemudian memanggilku dari atas loteng.

Aku duduk, bingung tak tahu harus berbuat apa. Jadi aku menonton saja emak berdoa. Setelah selesai, emak mengulurkan hio menyala ke arahku.

“Nih, giliranmu berdoa”.

Gubrak!!

I have no idea at all…

“Nnngg….Emak aja deh, aku nggak tau harus berdoa apa dan gimana”. Emak tesenyum maklum, sementara aku mengutuk diri. Pasti wajahku nyengir malu dan malu-maluin…

Aku tak pernah diajarin cara berdoa dengan hio ini, jadi super duper bingung saat disodori hio itu. Dezig!! Dikutuk leluhur kedua kali.

****

Untuk Imlek kali ini, tak ada acara spesial. Percaya deh, suamiku sama butanya dalam hal ini🙂

Aku hanya menyiapkan empat macam masakan. Tujuh macam terlalu banyak untuk kami berdua.. Blung!! Dikutuk leluhur ketiga kalinya.

Ini dia yang nggak boleh ketinggalan: mie panjang umur! Konon, dipercaya, orang yang makan mie ini menjelang Imlek, sama artinya dengan berdoa dan berharap agar orangtua dan keluarga yang kita cintai boleh berumur panjang. Ada yang bilang, mie ini jangan diputus, jadi sepanjang apapun harus diseruput dimakan sampai ujung. Sambil makan mie, kita mengucapkan “long life!” Percaya atau tidak, tak jadi soal. Melakukan tradisi dengan itikad yang baik tak ada salahnya kan?

long life!!

Ritual lain, kita juga harus terus berjaga hingga lewat tengah malam, saat api atau pelita di meja sesajen baru boleh dipadamkan. Kalau ada yang kurang mengenai info ini mohon diralat ya?

Nah, tradisi ini yang menurutku unik. Sehari menjelang Imlek, rumah harus dibersihkan. Di hari Imlek, disarankan agar rumah tak disapu. Dipercaya, debu-debu yang ada di hari istimewa itu, melambangkan rejeki di sepanjang tahun yang disambut ini. Semakin banyak debu, semakin banyak rejeki…

(hmm…1/2 ons debu di kantong vacuum cleaner kemarin masih ada, lupa belum kubuang…asyik…rejeki makin banyak tahun ini hihi! *wedewww…cukup satu ini deh keturunan kurangajar model begini, badung amat sih?)

****

Dapat angpau nggak? walah, angpau melulu…

Menurut kepercayaan, sebelum menikah, orang nggak boleh memberi angpau.

Setelah menikah, orang wajib memberi angpau untuk yang lebih muda. Nah, orang yang telah menikah tak lagi berhak menerima angpau.

Konon, ada larangan untuk memberi angpau pada yang lebih tua. Nah, loh…

****

...angpau...

Menurut kepercayaan, hujan yang jatuh pada malam Imlek merupakan petanda baik, kurang lebihnya, rejeki berlimpah di tahun ini. kebetulan malam Imlek kemarin sempat hujan gerimis…

hmmm….harapanku  semoga tahun ini berlimpah dengan rejeki dan kebahagiaan untuk semua orang….

Amin, Saudara? setuju?

capcay, mie, sayap goreng madu, sosis,jeruk shantang, apel, jus jeruk..HA!! pas tujuh kan? *maksa.com

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to Imlek

  1. yustha tt says:

    Hadezig..
    Sy datang….
    Bukan leluhur lho mb nan,hehe..
    Met tahun baru imlek ya mb.
    Sy lebih muda lho mb, angpaonya donk..😆

  2. ikkyu_san says:

    wah ngertian aku kali ya untuk berdoa pakai Hio. hihihi
    (Lain kok cara Buddha Jepang untuk pemakaman, dan cara Shinto/Buddha untuk berdoa)

    Tujuh memang angka bagus ya, untuk agama katolik juga kan. Soal bakmi dan hujan aku sudah tau sih dari pembicaraan teman-teman, tapi soal ngga boleh membersihkan rumah di hari Imlek aku baru tahu.

    Peraturan angpao sama dengan otoshidama di Jepang tuh. Jumlahnya harus 3, 5 atau 7. Ngga boleh genap.

    So I should say, Happy Imlek for you ya Na. (Ngiler bakmi gorengnya)

    EM

    • nanaharmanto says:

      Wah, masalah doa dengan hio ini aku bener-bener nol deh, Mbak…🙂

      Terima kasih ucapannya ya Mbak…
      ssst…bakmi goreng ini dijamin bersih dan lebih enak dari mie untuk anggota dewan ituh..hihi..
      long life for you, Mbak…

  3. Bro Neo says:

    mie long life… hmmm yummy.. yg jelas lebih enak dari mie-mie yg dijual di sini!!

    Apalagi sosisnya.. yummy!! hmm gak ada deh di sini..😀

  4. arman says:

    hehehe… dulu pas masih di sby juga di rumah kita ada meja sembahyang. jadi emang kalo imlek ada sesajen di meja sembahyang dan baru boleh kita makan setelah sembahyang…🙂

    trus sama juga, semua orang pada gantian dikasih hio untuk sembahyang.😀

    gong xi ya!! angpaonya mana… huahahaha

  5. septarius says:

    ..
    Gong xi..gong xi..
    Semoga rejekinya berlimpah dan jauh dari kemalangan..
    Tp kalo maen ke kota malang boleh kok mbak..
    He..he..
    Kenapa imlek selalu ada barong sai ya..?
    ..

  6. jeunglala says:

    Mbak Na…
    Selamat tahun baru, yaa..
    Total kutukannya ada tiga, ya, Mbak? Jangan ditambah2i deh..😀

    Suka banget baca cerita ini, manis renyah dan informatif.

    Malam minggu kemarin, hujan turun sangat deras di Surabaya. Mudah2an ini adalah pertanda rejeki yaa.. amin, amin..

    • nanaharmanto says:

      Thanks a lot ya La…
      semoga semua orang dapat banyak rejeki diberi kesehatan dan umur panjang…

      hujan deras di malam Imlek atau pas Imleknya memang dianggap melambangkan rejeki berlimpah…semoga ya?🙂

  7. Riris E says:

    Selamat merayakan Imlek, ya Na.
    Semoga tahun ini kita semua diberkati dengan kelimpahan kesehatan, kemakmuran, dan keberuntungan. Amin

  8. kawanlama95 says:

    sekarang udah pahamkan mbak, ya memang setiap adat budaya punya ke khasan masing-masing. disinilah letak toleransinya

    • nanaharmanto says:

      Hmmm…disebut paham banget nggak juga…hanya sedikit tahu dan meneruskan kebiasaan dalam keluarga saja.
      alangkah indahnya kalau semua orang apapun suku dan agamanya bisa saling toleransi ya…

      terima kasih sudah berkunjung ya….🙂

  9. lihat mie goreng long life, jadi inget kejadian mie goreng utk ibu pejabat waktu itu he he.😀😀
    enak mana dgn yg waktu itu, Mbak Nana?
    salam.

    • nanaharmanto says:

      Hahaha…bunda masih ingat mie untuk para anggota dewan itu ya?
      jelas enak mie yang ini dong, Bunda…lha wong dimasak dengan cinta (halah!) yang jelas sih nggak jorok hihi…🙂

  10. amin… semoga harapannya tercapai..
    berarti mbak harus bagi-bagi angpau dong kalo gitu…🙂

  11. zee says:

    Met tahun baru Imlek ya mbak…. semoga tahun ini bawa rejeki buat kita semua..

    Ceritanya selalu enak nih untuk dibaca….

  12. Ria says:

    weks masakanmu mbak…enak2 banget kayaknya😀
    kalau mie goreng itu adalah wajib kalau ada yang berulang tahun di keluargaku…dulu sih sekarang kayaknya mama udah gak begitu peduli.

    dan aku inget kue dodol yg besar itu loh yg bia diiris2 kemudian digoreng pake tepung…itu kan khas kue perayaan imlek di makassar.

    • nanaharmanto says:

      Haha…soalnya masak dengan cinta (halah..lebay!) hihihi…

      Mungkin mie ulang tahun itu dimaksudkan supaya panjang umur kali ya?

      Eh, yang kamu maksud itu kue keranjang ya? wah, aku nggak beli kue keranjang nih untuk Imlek ini…😦

      • Riris E says:

        Jan, bener2 gadungan kamu Na, sedang aku yang tak merayakan Imlek aja tersedia tuh kue keranjang di rumah :p.

        Nanti aku mo potong2 kecil2 trus dikukus, sebelumnya dialasi taburan kelapa yang sudah ditaburi garam..hm…yummy

  13. Met Tahun Baru Imlek, Mb. Nana. Semoga sukses dan lancar rejeki selama tahun yg baru ini, ya😉

  14. DV says:

    Selamat Imlek, Na!
    Semoga peruntungan kita semakin baik di tahun ini dan di tahun-tahun selanjutnya dibawah tuntunan Tuhan kita!

  15. edratna says:

    Nana, senang membaca ceritamu ini, jadi saya memahami kepercayaan yang selama ini saya hanya tahu dari luarnya saja.

    Nggak boleh memberi angpao pada yang lebih tua? Waduhh…padahal udah berharap dapat angpao dari Nana

  16. vizon says:

    wah… banyak amat kutukan dari leluhurnya Na. Jangan-jangan dengan menuliskan cerita ini, kutukannya nambah lagi, hehehe…😀

    Budaya Cina memang penuh dengan simbolisasi, Itu patut untuk dicermati dan dipahami maknanya secara lebih dalam dan bijaksana. Adalah perbuatan yang sangat salah bila sebuah kebudayaan dilarang untuk berkembang. Syukurnya, era itu telah runtuh, sehingga kekayaan budaya Cina dapat kita nikmati saat ini…

    Selamat Imlek Na…

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih, Uda…
      Ah, adem rasanya membaca komentar Uda ini…
      semoga saja, semua orang yang pernah terlibat dalam kelamnya era itu bisa belajar sesuatu, bahwa perbedaan tak seharusnya menjadi perpecahan…

  17. Pakde Cholik says:

    Saya tahu Imlek setelah jadi tentara karena banyak teman2 cina dan kalau Imlkek berkunjung kepada mereka. Lalu anak2 saya dapat angpao.
    Salam hangat dari Surabaya

    • nanaharmanto says:

      Wah, Pakde, saya senang membaca komentar Pakde ini, bahwa Pakde mengunjungi teman-teman Pakde yang merayakan Imlek….
      Semoga semakin banyak yang mau bersahabat dan berbaur dengan semua orang meskipun berbeda suku atau agama…

      salam hangat selalu, Pakde..

  18. krismariana says:

    Selamat tahun baru Na… Aku cuma seneng pas ikut makan2nya. Full daging B2 nih!🙂

  19. nh18 says:

    Amin ..
    Amin ..
    Amin Na …
    Semoga tahun ini …
    dan juga tahun-tahun kedepan …
    merupakan tahun-tahun yang penuh keberkahan untuk kita semua …

    Salam saya Na …

  20. marshmallow says:

    enak bangeeeeet!!! *ngeces sama sayap ayamnya*
    iya kok ada tujuh menu, delapan sama sebotol betadine. hihi.

    selamat imlek, mbak nana. may this be another prosperous year to all of us.

  21. sauskecap says:

    saya juga tidak mengerti tentang budaya imlek… tetapi selamat tahun baru….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s