Someone of Nowhere

Masa-masa yang indah kulewati di tahun-tahun awal kehidupanku. Tak ada gejolak, semua begitu damai….

Berpuluh  pertanyaan tak terjawab, saat teman-teman di kampungku bertanya, mengapa aku memanggil ayahku papa; dan ibuku mama. Lha wong ndeso, ngapain sih sok-sok memanggil dengan papa dan mama. Aku juga tak paham, mengapa aku harus memanggil engkong pada kakekku, dan emak pada nenekku, sementara teman-temanku memanggil kakek-nenek mereka dengan eyang, atau simbah. Sungguh, aku tak tahu bahwa aku “agak berbeda”.

Saat aku kelas 6 SD, begitu saja semua terjawab. Aku tak ingat persis. Tiba-tiba saja gamblang. Tahulah aku, mengapa papa punya nama alias dalam tiga suku kata yang aneh bunyinya. Terjawab sudah, kenapa aku memanggil papa dan mama, emak dan engkong.

Pahamlah aku, mengapa menjelang Imlek, Emak segitu hebohnya…dan ritual aneh di loteng itu…hohoho…terbuka mataku. Begitu saja, tak ada penjelasan dari siapapun.

Kenyataan itu toh tak mengubah apapun.

****

Well, aku ingat sebuah kejadian di SMP, saat wali kelas kami mendata  seisi kelas. Semua yang merasa tergolong dalam pertanyaan tertentu, harus mengangkat tangan.

“Siapa yang beragama A?”

“Siapa yang dari SD negeri? Swasta?”

“Siapa yang masih keturunan WNA?”

Empat kawanku mengangkat tangan. Seorang kawanku yang tahu persis keadaanku, memberi isyarat agar aku ikut mengangkat tangan. Jujur aku bingung. “Ayo! Kamu angkat tangan juga!” bisiknya saat aku masih berdiam diri. Ragu-ragu aku mengangkat tangan.

Pak wali kelas heran melihatku. Apa-apaan nih? Kulit hitam mengaku keturunan WNA?

Aku pun merasa salah tingkah.

“Sekali lagi, yang merasa keturunan Tionghoa, angkat tangan!”

Tanganku turun, tapi temanku mendelik gemas, menyuruhku kembali angkat tangan.

Pak wali kelas kembali menatapku tak percaya.

Ditegaskannya lagi pertanyaannya.

“Maksud saya, yang bapaknya masih punya nama Tionghoa..”. Kali ini tanganku tak turun, memang benar kok, bapakku punya nama alias…

Pak wali mencatat sesuatu di bukunya, aku tahu, di wajahnya menyimpan rasa tak percaya padaku.

Ternyata, kakakku yang bersekolah di sekolah yang sama, tak mengangkat tangan pada pertanyaan serupa. Wajarlah waliku bingung. Si kakak nggak ngaku, kok si adik ngaku-ngaku?

Ketika sampai di rumah, aku bercerita pada papa. Sambil tersenyum, papa hanya bilang, “Ya sudah, lain kali bilang saja kamu Jawa tulen”.

****

Di situlah awal ketidaknyaman yang kualami. Seorang kawan baru, dari SD yang lain, mulai nyinyir  mempertanyakan statusku. Aku ada di kelompok mana? C atau J? Belang? Tak jelas!!

“Huh! Ngaku-ngaku!” gumamnya.

Di lain hari, dia bilang “Dasar sok! Ngaku-ngaku! Ngaca dong!”

Begitu rupa kawan ini dengan gang-nya, merecoki aku hampir setiap hari

Bagi teman-teman dari SD-ku, hal itu tak menjadi soal berarti, karena memang mereka sudah tahu statusku. Tapi bagi temanku yang nyinyir itu, kejadian kurang dari 5 menit itu diributkannya setiap ada kesempatan. Dioloknya aku, ditertawakannya, bahkan meludah di depanku, tanda jijiknya ia padaku. Tak pernah dia berwajah manis padaku, hingga lulus SMP. Meski kami sekelas, dia memusuhiku. Tak pernah bertegur sapa.

Aku sempat merasa remuk. Bimbang. Sebenarnya di mana posisiku?

Mamaku Jawa tulen, dan aku dibesarkan dalam keluarga Jawa. Tapi aku tak bisa memungkiri fakta bahwa aku mewarisi darah Cina dari papa.

Tradisi Tionghoa tak pernah dikenalkan padaku. Aku juga tak mewarisi nama Cina. Hanya ada darah Cina dalam tubuhku. Lalu di mana salahku hingga teman-temanku mengolok-olokku sebagai kaum tak jelas?

Sejak saat itu aku tak pernah mengenalkan diri bahwa sebagian diriku berdarah Cina. Hanya jika ada yang bertanya, akan kujawab apa adanya.

Kesedihan masa remajaku, saat ucapan kawan atau lawan bisa sangat menusuk hingga sangat berpengaruh itu, menjadikan aku bersumpah (halah, lebay!) :aku nggak mau dapat pasangan orang Jawa!

(Waduh, edyaaan!! Ternyata, Aku ra payu-payu! :)  Lalu merengeklah aku pada Tuhan. Hihi..lalu diberinya aku seseorang yang, yeah, yang bernasib sama, mewarisi darah Cina dari sang ayah.

Papaku bermarga Tan, fam Chinese terbesar di negeri ini. Sedangkan suamiku dari fam Oey. Kalau menurut novel Ca Bau Kan (Remy Sylado), kedua fam ini berseteru…

lha dua anak manusia ini kok malah memutuskan untuk menikah? Ya iyalaaah…kan ini dunia nyata…)

****

Aku punya sahabat karib. Bahkan kepada sahabat sekarib itu aku tak pernah berterus terang. Apa pasal? Terlanjur dia mengatakan kepadaku, betapa dia membenci kaum Cina. Di bilang, kaum Cina itu pasti  begini, begono…begituh…begeteh….semua negatif.

Aku bisa bilang apa? Ya sudah aku diam saja.

Begitulah, sahabatku ini berkeluh kesah tentang kebenciannya itu tanpa mengetahui sedikitpun bahwa mahluk di depannya itu adalah mahluk jejadian.🙂

Mei 2008. 1998

Kerusuhan ada di mana-mana. Juga di kota sekecil Muntilan. Daerah Pecinan, di sekitar klenteng dihujani batu oleh massa. Di rumah emak, terpaksa jendela dipasang palang agar tak hancur terkena lemparan batu.

Sedih? Jelas…

Khawatir? Ya iyalahh….

Di asrama, suster selalu menguatkan hati teman-temanku (Cina) agar tetap tabah dan terus berdoa, semoga keluarga mereka selamat.

Entah darimana dan bagaimana, sahabatku akhirnya tahu tentang statusku. Tiba-tiba dia datang padaku.

“Maafkan aku, Na… selama ini aku nggak tahu…. kenapa nggak bilang padaku sejak awal? Aku malu, Na…aku udah ngata-ngatain orang Cina. Padahal aku juga tahu, tak semua orang Cina sejelek yang kuduga…semoga keluargamu nggak apa-apa ya…”

Waaah…..adem rasanya mendengar ungkapan tulus seperti ini…..

Kini, aku tinggal berharap, bahwa tak ada lagi perbedaan yang bisa dijadikan alasan untuk saling menyakiti dengan alasan apapun.

****

Setuju, sodara?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Someone of Nowhere

  1. arman says:

    gak abis pikir emang ama orang2 yang suka ngebedain suku bangsa. padahal kan sama2 manusia…🙂

    untungnya gua gak pernah ngalamin begitu. dulu pas masih di sby, kita sekolah di sekolah yang agamanya ada 5. jadi isinya campur. tionghoa, pribumi, segala macem suku ada disana. tapi gak ada yang ngelompok2 tuh. semua main bareng. berbaur. gak masalah turunan apa.

    gitu juga pas udah pindah jkt, pas smp juga sekolah gua campur. dan kita baik2 aja tuh main ama semuanya. dan juga pas kuliah, juga campur dan kita temenan juga baik2 aja ama semua orang. gak pernah ada yang masalahin perbedaan SARA.

    makanya gua heran di cerita lu, kok gurunya malah nanya siapa yang turunan sih? aneh… buat apaan begitu, malah jadi menekankan adanya perbedaan. harusnya sekolah gak boleh begitu. emangnya kenapa kalo keturunan? kenapa perlu ditandai?

    btw kerusuhan itu mei 1998 kan bukan 2008…🙂

    moga2 gak ada lagi dah orang2 yang suka membeda2kan suku dan keturunan.😀

    • nanaharmanto says:

      Thanks ya Arman…tahun udah diedit tuh…
      Wah, untung kamu nggak ngalamin hal itu🙂

      Dulu di sekolah-sekolah memang ditanyakan begitu tuh, mungkin untuk data aja kali ya…
      dan, memang hanya di kelas itu aja (waktu SMP) aku kebetulan ketemu teman yang begitu. Sebelumnya di SD nggak masalah, di SMA juga nggak tuh. Kuliah juga nggak bermasalah. sepertinya memang hanya beberapa gelintir teman di SMP aja yang begitu. (atau jangan-jangan dia naksir gua ya? *hadezig!)🙂

      iya bener, semoga nggak ada lagi yang membeda-bedakan agama dan suku. sama-sama manusia ini…
      Thanks sharingnya ya…

  2. wah aku bisa membayangkan “panik” nya kamu mengetahu hal itu di usia yang belia, tanpa tahu apa-apa. Mungkin lain halnya kalau kamu berkulit kuning dan sipit ya?

    Sebetulnya aku juga punya cerita tentang “shock” pada kenyataan tertentu. Karena aku tidak akan menuliskan di TE, aku tulis di sini aja ya Na.

    Waktu aku mendaftar ke Unpar dan menyerahkan akte kelahiranku, si penerima bertanya, “Kamu wna ya?”
    Loh??? Masak aku yang sudah 18 tahun hidup ngga tau apa-apa? Lalu aku bilang, “Saya WNI”.

    “Tapi kenapa di akte lahir kamu ada tulisan STBL xxxx (nomor th)?”
    “Wah ya saya tidak tahu lah pak”
    Dia krasak krusuk dengan teman-teman lainnya, dan dia berkata,
    “Gini ya, tanda ini adalah kamu keturunan eropa. Tapi tidak apa,terima kasih”

    Pulangnya aku tanya pada papa, “Kalau ditanya begitu lagi, bilang saja kamu WNI”
    Lalu aku cari tahu dan mengerti tentang “tanda-tanda” khusus yang ada di akte kelahiran. Dan mengerti kenapa banyak saudaraku tinggal di negeri Belanda.

    Kadang Sering, negara dan masyarakat yang membuat manusia yang sebetulnya sama-sama makhluk bumi itu menjadi berbeda.Padahal kita-kitanya biasa-biasa saja.

    Aku juga pernah mengatakan, “Aku benci chinese”. Karena aku pernah mengalami kejadian tidak enak dengan guru yang keturunan chinese di umur 13 tahun. Dan mengetahui hal itu, seorang lelaki yang kemudian menjadi pacarku berbohong mengenai statusnya yang chinese.😦

    Seandainya dia jujur? Tentu aku tidak akan pacaran dengan dia.: ) Tapi suatu hubungan yang dimulai dengan kebohongan? …..😦

    Semoga kita bisa melepaskan atribut-atribut yang mengganggu hubungan antar manusia. Kan kita manusia dewasa, bukan?

    Yang aku tahu aku bersahabat dengan “Nana Harmanto” bukan dengan “orang yang keturunan bla bla bla….”
    Setuju?

    EM
    EM

    • nanaharmanto says:

      Mbak Imel, jujur aku baru tahu nomor di akte lahir yang STBD XXXX tahun XXXX itu merupakan “tanda” si pemegang akte lahir dari perkawinan suku X dgn suku Y.

      dan aku baru tahu tanda itu, waktu mengurus dokumen untuk pernikahan🙂 hihi…lebih parah ya?

      Si mas Admin itu bilang, setelah melihat akte calon suami, wah, ini masih pegang SKBRI ya? ini harus menikah secara sipil tersendiri. jadi di gereja sendiri, lalu sipilnya setelah dari gereja.
      Jadi aku (pernah) menikah 2x Mbak hihihi… 🙂🙂

  3. nakjaDimande says:

    semua makhluk berasal dari Satu Pencipta, mengapa kita harus saling membenci. Seandainya semua ingat bahwa asal usul kita sama, tak perlu ada perang dimana-mana.

    satu iparku juga punya darah china, aku malah senang karena ponakanku jadi beraneka ragam dan punya keunikan masing masing.

    • nanaharmanto says:

      Setuju sekali Bundo…semoga tak ada lagi yang membenci sesamanya hanya karena perbedaan suku, agama dan warna kulit…

      Keponakan Bundo itu masih kecil atau udah dewasa sekarang?

  4. hm.. mbak nana.. rasanya kok gak adil ya, kalo orang dalam berkawan berdasar dari ras yang ini ato itu.

    padahal bukan ras yang menentukan baik dan buruknya seseorang. tapi dari perbuatan dan perkataannya.

    salut mbak kalo bisa bertahan di tengah situasi yang tidak mengenakkkan itu🙂

    • nanaharmanto says:

      Iya jeng…memang rasanya nggak adil banget, apalagi itu terjadi saat aku masih remaja dan gampang rapuh…dan aku bisa bertahan karena hanya teman satu itu dan geng-nya yg bersikap seperti itu, yang lain sih fine-fine aja…
      setuju, baik buruknya seseorang bukan dari ras, atau agama, atau suku, atau apapun juga…tapi dari dirinya sendiri, sikap, perbuatan dan perkataannya..

  5. edratna says:

    Nana, saya sedih baca ini, terus terang sejak kecil keluarga saya tak membedakan suku dan kebangsaan seseorang. Tapi terkadang anak-anak memang lebih suka jujur jika berkata-kata yang kesannya jadi sadis…tapi mungkin karena mereka dibesarkan oleh keluarga yang tidak menghargai perbedaan.

    Sahabatku malah orang Chinese, demikian juga anakku sulung, dia punya beberapa teman dekat yang dari Chinese, dia juga suka kebudayaannya. Saat ini kelihatannya kita tak bisa menjelaskan lagi asal usul kita, karena sudah makin banyaknya yang tercampur, dan ini yang diinginkan presiden pertama kita kan, dengan asimilasi kita menjadi mengenal budaya dan etnis orang lain.

    Tentang panggilan..temanku panggil kakeknya Engkong padahal agama Islam nya kuat..mungkin juga ada keturunan Chinese, namun panggilan ini umum di daerah Tangerang. Saya terbalik Na, anak-anak tetanggaku memanggil orangtuanya papa mama, saya membiasakan anak-anak memanggil saya dan ayahnya, adalah bapak dan ibu. Saat mereka usia SD ada kejadian lucu…kalau yang dimaksud bapak ibu ya ortu nya sendiri…kalau ayah, itu artinya tetangga depan rumah…dan kalau papa mama adalah orangtua temannya yang tinggal disebelah kiri rumahku. Anak-anak sebetulnya polos, kitalah sebagai orangdewasa yang suka menyebarkan kebencian.

    Semoga hal-hal seperti ini makin berkurang dan tak ada lagi…Sssst..karena mataku kecil, mungkin saya juga keturunan lho…

    • nanaharmanto says:

      Di keluarga saya juga diajarkan untuk tidak membeda-bedakan agama dan suku. makanya saya cukup “kaget” dan terganggu juga dgn sikap teman SMP itu..

      Saya tersentuh membaca komentar Ibu ini, anak-anak ikut memanggil orangtua teman-temannya sama seperti anak sendiri menyapa orangtuanya. di kampung saya, paling banter kami memanggil tetangga Bude, atau pakde, mbah atau Lik…

      Dalam keluarga kami juga bersahabat dengan banyak orang yang berlainan suku dan agama. Lebih-lebih setelah tinggal di asrama yang penghuninya datang dari Sabang hingga Merauke..hmmm…saya jadi semakin banyak mengenal budaya bangsa yang bernake ragam, dan semuanya berbaur akrab…

      Tentang panggilan, di Betawi memang kakek dipanggil engkong, konon, ini terpengaruh budaya Cina juga, seperti halnya orang Betawi bilang cepek, gopek,goceng dsb…saya tahu hal ini waktu saya tinggal di Jakarta (kos di rumah orang Betawi)

      hahaha…benar tuh, Ibu pasti keturunan juga…keturunan orangtua Bu Enny maksudnya….🙂🙂

  6. monda says:

    waktu sd teman2ku sekelas kombinasi segala suku,papua ambon menado dan lebih banyak lagi yg cina, semuanya kompak jadi aku nggak ngenal yg namanya diskriminasi

  7. jeunglala says:

    Mbak Na,

    Cerita yang sampai diludahi segala itu jelas bikin aku sedih, lho. Gimana nggak? Rasanya jahat sekali kalau harus meludahi seseorang karena darah yang mengalir di tubuhnya.. Apa salahnya? Toh dia tidak memilih dilahirkan dalam etnis apa.. dan lagipula, kenapa dengan etnis tertentu? Duh, duh… heran juga sama orang2 yang masih berpikiran sempit seperti itu..

    Alhamdulillah, aku dibesarkan oleh orangtua yang tidak membedakan suku, agama, ras. Sahabat-sahabatku berbeda keturunan — ada yang china totok, china campuran, Jawa tulen, Kalimantan… dan sampai sekarang, kami tetap akrab.

    Dulu ketika sekolah, juga nggak pernah ada cerita seperti MBak Na. Alhamdulillah sekolahku tidak seperti sekolah Mbak Na..

    Oh, ya.
    DI dalam tubuhku juga mengalir darah china lho, tapi sumprit.. dikit banget… hehehe.. dari Nenekku, ibunya Mami…🙂

    • nanaharmanto says:

      Iya La, peristiwa itu melukaiku. tapi nggak akan kubesar-besarkan sekarang.
      Sekolahku juga tidak mengajarkan diskriminasi. Ada Cina, ada Jawa, campur…justru karena sudah saling tahu bahwa sekolah ini campur etnis, guru-guru juga terbuka menanyakan siapa yang masih WNA a.k.a memegang SKBRI (jd tidak bermaksud utk diskriminatif, semata untuk keperluan administrasi)

      Hanya kebetulan ada 1 teman itu aja yang ajaib. kuduga dia begitu karena tidak diajari toleransi di keluarga/sekolahnya dulu.
      Nice share, La..

  8. nh18 says:

    Sudah saatnya yang “begini-begini”-an hilang dari negeri ini …

    Yang jelek ya jelek
    Yang jahat ya jahat
    Yang baik ya baik …

    Tidak perlu diembel-embeli dengan prototype cemen seperti jaman dulu …

    Yang jelas …
    SD SMP saya bersekolah di sekolah Swasta … (nama yayasan perguruannya sama dengan perguruan Imelda … hanya beda cabang saja kita …)
    Teman saya sangat beragam keturunan … (bahkan masih ada yang menyandang tiga nama ) tetapi Alhamdulillah … tiada satu pun aksi yang berkaitan dengan etnis disekolahku itu …

    Namun ketika saya meneruskan ke SMA negeri … aaaddduuuhhh …
    saya prihatin … kok begitu ya teman-teman saya itu … norak banget kelakuannya …

    Tapi sudah lah …
    Sekali lagi …
    Yang baik ya baik
    Yang jahat ya jahat …
    dan itu tidak kenal etnis …

    Salam saya Na …

    • nanaharmanto says:

      Sekolahku itu juga tidak mengajarkan diskriminasi, Om…hanya kok ya kebetulan apes, aku nemu teman yang begitu, entah apa sebabnya. mungkin dia memang tidak mengenal toleransi, dan dia berasal dari SD yang dikenal reputasinya payah…🙂

      ya sudahlah…
      Setuju sama Om…tanpa mengenal etnis atau agama, orang yang jahat ya jahat aja dari sononya…
      yang baik ya memang baik dari sononya…

      salam kembali ya Om…🙂

    • vizon says:

      aku komen di sini aja…
      aku sepenuhnya setuju dengan Om Nh.
      sudah tidak waktunya lagi bagi kita saat ini untuk mempersoalkan hal-hal cemen seperti ini…
      dunia sudah maju, cara berpikir manusia sudah berubah, pandangan tentang hidup juga sudah tidak kaku lagi…
      saatnya untuk mencari persamaan dalam segala perbedaan yang kita miliki…

      • nanaharmanto says:

        ah, senangnya punya sahabat Uda Vizon…adeeem…🙂

        terima kasih juga kepada Alm. Gus Dur yang sudah merintis persatuan dalam keberagaman yang sesungguhnya.

        Semoga semakin banyak orang-orang yang berpikiran modern seperti Uda dan Gus Dur ini ya…

    • krismariana says:

      aku numpang komentar di sini ya hehehe. seperti Om NH, waktu TK-SMP aku sekolah di sekolah swasta yang banyak keturunan tionghoa. rasanya saat itu aku merasa nggak ada perbedaan yg berarti di antara kami. biasa saja. nah, waktu SMA, aku sekolah di negeri. entah kenapa kok sptnya anak yg berkulit putih dan sipit kurang mendapat tempat ya? tp sepertinya hal ini banyak terjadi di jawa kata suamiku. kalau di kampungnya dia dulu nggak kaya gitu. padahal dia sangat kelihatan cinanya, tp temen2nya nggak ada rese tuh katanya, dan lagi dia sekolah di sekolah negeri terus yg banyak orang pribuminya….

      • nanaharmanto says:

        Aku sekolah di swasta terus dari TK- kuliah🙂
        teman-temanku juga beragam, dan nggak ada yang membeda-bedakan suku. Yang ajaib itu memang segelintir teman di SMP itu aja, dan yang kutahu, dia dari SD yang reputasinya ajaib juga hehehe..

  9. DV says:

    Na, aku bukan Cina tapi nyaris 70 persen orang disekitarku adalah Cina.
    Pembedaan suku dan agama adalah khas dan ideal untuk orang2 pedalaman🙂 Bagi kita orang2 maju, suku dan agama adalah tempelan, manusia yang nyata!

    Aku pernah ada cerita yang hampir mirip dganmu. Waktu kerusuhan 1998 dulu itu, aku dilarang pergi keluar rumah oleh Papa Mamaku (meski kami Jawa tapi aku memanggil ortuku demikian) karena mukaku yang mirip Cina takut nanti diapa-apain oleh orang2..

    Selamat Tahun Baru Imlek, Na!

    • nanaharmanto says:

      Aku suka komentarmu ini: Bagi kita orang-orang maju, suku dan agama adalah tempelan…. sip dah!

      Iya Don,melihat fotomu, awal-awal dulu kupikir kamu Tionghoa…🙂

      thanks ya Don…

  10. seandainya kita mau menyadari bahwa kita diciptakan utk bersaudara bukan berseteru.
    Adik sepupuku nikah dgn chinese dan kami senang2 saja, apalagi dia orangnya baik banget dan santun pula.
    lalu, satu lagi adik iparku juga chinese.
    keragaman seharusnya menciptakan keindahan ya Mbak Nana.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      Saya sepakat Bunda, dari keragaman seharusnya bisa tercipta kebersamaan dan keindahan.
      Meng-amin-i komentar Om NH di atas, orang yang baik ya baik aja, yang jahat ya memang jahat, tidak ada kaitan dengan suku dan agama yang melekat pada seseorang.
      Berarti keluarga besar Bunda termasuk bhinneka tunggal ika dong…hehehe…:)

      salam hangat…

  11. Rian says:

    dua kali baca postingannya, semuanya permintaan maaf.🙂 aku suka ketika manusia sadar dan mengakui kesalahannya. Yow Semangat !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s