Tongseeng..!!

Waktu SMP, aku punya seorang kawan. Ri***** namanya. Jujur kukatakan, wajah remaja itu tak tampan. Dia seorang pembalap, nnngg….maksudku, pemuda berbadan gelap..πŸ™‚

Dan, maaf, maaf, giginya agak maju. Kuku-kukunya hitam….

Oh..oh..Nana….stop discussing his physical appearance, please!

Yeah, sudah wajahnya tak menarik, apalagi mulutnya. Nyinyir. Hampir semua kelakar dan guyonannya bernada negatif. Olok-olok dan celetukannya kampungan. Seragamnya selalu lusuh. Prestasi akademisnya pun tak terlalu menonjol. Ah, pokoknya semua yang melekat padanya, membuat orang malas memandangnya, bahkan-untuk-sekedar-menoleh- untuk kedua kali.

Kalau dia tertawa norak, teman-teman akan lebih keras tertawa, ( menertawakan giginya?).

****

Seng…!! tongseeeeng!!

Geeerrrr……tertawalah seisi kelas. Termasuk aku.

Aku tak ingat bagaimana mulanya. Di kelas kami, kata tongseng menjadi kata menggelikan yang akan ditertawakan. Menurut cerita beberapa teman, Ri***** membantu kakaknya berjualan gule dan tongseng kambing di sebuah warung, pada sore hingga malam hari. Setiap hari.

Dan sebagaimana ada ungkapan kambing hitam, nah, mungkin tepat gulipat semua yang ada pada Ri*****.

Kambing? Dia memang jualan tongseng kambing!

Hitam!! Kulitnya memang legam!

Kambing hitam? Semua hal konyol akan dialamatkan padanya. Hal yang tak berhubungan dengannya pun, dipaksa-hubung-hubungkan- dengannya!

Ri***** memang jadi kambing hitam di kelas kami. Semua cewek akan cuih amit-amit jika diolok-olok dengannya.

Ri sangat benci padaku, sebab aku sedikit berdarah Cina. Masih ingat kawanku yang meludah di depanku? Ya, itulah dia.

Itulah Ri, yang setiap hari menabuh genderang peperangan dengan nyinyirnya. Masih Ri yang sama, yang setiap kali melengos membuang muka melihatku. Juga masih tetap Ri yang sama, yang sering tertawa tertahan penuh ejekan padaku.

Oh, sudah jelas aku membencinya setengah hidup. Begitu rupa perlakuannya padaku, siapa yang akan bersimpati padanya? Aku sakit hati. Begitu tak nyaman dipandang kombinasi raga dan sikapnya. Aduh, Tuhan, aku begitu membencinya….

****

Suatu sore, nenekku menyuruhku membeli lauk untuk makan malam.

β€œNa, belilah tongseng kambing, atau sate, terserah kamu mau apa…”

Aku pergi ke warung sate terdekat. Ternyata tutup. Aku berjalan agak jauh ke warung Β di ujung jalan.

β€œMas, beli tongseng dua porsi,Β  dibungkus ya?”, kataku pada si Mas penjaga warung yang tengah sibuk memasak.

β€œNggih, Mbak…lenggah rumiyin...”, dia mempersilakan aku duduk.

Hmm….aku suka memperhatikan kegiatan orang memasak. Begitu cekatan orang itu memasukkan bumbu dan bahan masakan, mengaduknya, wah…asyik sekali…

Si Mas tiba-tiba bersuara keras, membentak-bentak asistennya karena si asisten kurang cekatan memotong-motong kol. Si asisten tak bersuara. Si mas berteriak lagi agar asistennya segera mencuci wajan. Tergopoh-gopoh si asisten mencuci wajan. Gerak-geriknya aneh sekali. Seolah ingin bersembunyi.

Aku tak menyangka sama sekali. Aku menatapnya, dia semakin mengkeret. Aku terpana. Terkejut.

Ri.

Dia mengenaliku lebih dulu saat aku masuk ke warungnya. Dia hendak bersembunyi, tapi tak ada sekat baginya.

Ri. Aku terlambat mengenalinya. Aku mencoba tersenyum, tapi Ri melengos. Mungkin di matanya, senyumku begitu palsu. Entah.

Aku merasa serba salah. Aneh sekali situasi itu. Aku seperti nona besar yang duduk dengan pongahnya di bangku warung, sementara Ri seperti kacung cacing kepanasan…

Rasanya ada yang terpilin dalam dadaku. Anak sekecil itu…

Hey, besok kan ulangan Biologi? Lalu kapan Ri sempat belajar?

Aku ingin menyapanya, tapi aku takut pada abangnya yang galak itu. Gimana kalau Ri justru didampratnya?

Aku pulang tanpa sempat menyapa Ri.

****

Paginya, Ri tak lagi setengil dulu. Dia lebih sering menunduk ketika melihatku. Wajahnya masih tetap tak bersahabat, tapi, dia tak lagi senyinyir dulu. Aku tak mau munafik, aku masih sebal padanya, tapi, kebencian itupun rasanya tak meruncing seperti dulu.

Kami tak pernah bercakap. Bahkan ketika lulus SMP pun rasanya kami tak juga bersalaman.

Aku tak tahu di mana Ri sekarang.

****

// Ri, maafkan aku ya….

Aku tak pernah tau mengapa kamu begitu membenciku.

Mungkin aku pernah berbuat salah yang tak kusadari melukaimu.

Atau karena aku mengaku Cina?


Ah, Ri….seandainya waktu bisa kuputar ulang,

Aku ingin memperbaiki pertemanan kita yang aneh itu.

Kamu temanku, tapi juga bukan temanku, bahkan seperti musuh…aneh kan?

Ri, hanya karena aku sudah dewasa kini, aku memahami sikapmu dulu.

Ketika kamu nyengir, ketika kamu berkelakar norak, ketika kamu sinis, nyinyir, dan segala kata yang tak indah itu….

Semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan semua rasa mindermu (maafkan aku sok tau ya?)

……kamu nggak kenal cara-cara yang lebih pantas untuk mendapat perhatian……..



Ri, kalau saja kita bisa kembali ke seragam putih biru kita,

Dengan meminjam secuil pendewasaanku di masa sekarang,

aku akan mencoba memahamimu

Betapa berat hidup yang kau jalani.

Betapa kasih sayang yang lembut mungkin tak pernah kaualami.

(hey, masmu masih galak kah?)



Ri, aku memang belum lupa saat kamu meludah di depanku.

Desismu, β€œhuh, b*bi putih!” masih tertancap di sini, Ri…

Uh, kadang masih sakit, tau, Ri?

Menuliskannya pun butuh berlembar-lembar tissue untuk menyumpal air yang mengalir dari mata dan hidung pesekku…

Tapi sudahlah, tak perlu lagi kubawa luka itu.

aku memaafkanmu kini, aku belajar mengampunimu.

Kuanggap dulu hanyalah emosi remajamu yang belum paham…



Ri, kowe saiki nangndi? Sehat kan?

Aku kepengen salaman, meskipun dulu aku pernah jijik melihat kuku hitammu.

Tenan, Ri…aku berhutang jabat tangan, yang tak pernah kita lakukan dulu.


Ri, aku kepengen minta maaf….

Karena dulu aku ikut tertawa, saat teman-teman teriak

β€œSengg…tongseeenng!!”

Ya, ampun, keterlaluan sekali ya….

Kusadari kini dengan waras, sewaras-warasnya, hal itu bahkan tak lucu sama sekali.

Dan itu kulakukan hanya karena ikut-ikutan, untuk membuatmu tak nyaman,

Untuk balas menyakitimu.


Aku seharusnya malu.

Teman-teman mengolok-olok penyambung nyawamu

Padahal kami tak lebih dari anak-anak manja

Yang tinggal minta uang pada orang tua.

Pasti pedih sekali saat itu ya?


Ri, seingatku dulu kamu nggak pernah jajan ya?

Nnnggg….uang hasil jualan itu, untuk bayar sekolah ya Ri?


Ri, tongsengmu itu enak lho…nenekku juga bilang gitu, kok…

Meski malam itu, lidahku kelu saat menikmati tongsengmu…

Abiss….suer! sungguh…, aku kaget banget melihat ternyata itu kamu yang berkaos bolong,

mlungkret, Β dan tergopoh-gopoh membantu masmu….

Pasti nggak enak ya, dibentak-bentak begitu?

Lha wong aku aja gemetar je….

Kupikir teman-teman hanya bercanda, mengolok-olok β€œsengg…tongseeeng!!”

Ternyata, tenanan, aku melihat sendiri, kamu kerja….tiap hari….

Dan aduh duh…under pressure lagi….


Ri, warung tongseng di ujung jalan itu masih punya masmu kah? Atau kamu yang masak sekarang di situ?

Kapan-kapan aku mampir deh, boleh ya?

Salaman yo, Ri? //

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration, Dari Hati and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

45 Responses to Tongseeng..!!

  1. aurora says:

    coba pulang kampung deh kak… beli tongseng, kali aja si ridwan(kali aja itu namanya :D) lagi cuci piring atau mungkin aja jadi juragan tongseng… siapa tau??

    coba berjabat tangan dengannya kak, aku yakin dia akan mengingat kakak, dan mulai berbincang. namun aku yakin tatapannya tak seperti dulu, sekarang adalah masa dimana diskriminasi mulai mencair.. apalagi masing-masing telah dewasa… hmm.. coba deh kak…

    • nanaharmanto says:

      Waktu pulang kampung kemarin, nggak kepikir unutk mampir ke sana.
      jujur aja, aku beli sendiri ke warung itu ya cuma sekali itu aja. tiap kali mau beli beli tongseng atau gule, aku nggak tega akan melihatnya mlungkret dibentak-bentak abangnya.

      Semoga dia udah sukses kini, mungkin jadi juragan tongseng seperti katamu?
      kalau udah sukses nggak perlu dia minder lagi hehe…
      kalau aku pulka lagi, coba aku mampir ke sana…
      thanks ya Rif…πŸ™‚

  2. arman says:

    emang begitu lho na. gua perhatiin ya dari semua temen2 gua yang nyebelin, yang suka ngomong gak enak, yang suka menghina orang, pokoknya yang bener2 ngeselin dah tingkah lakunya.. itu karena sebenernya mereka minder. karena mereka merasa punya banyak kekurangan yang harus ditutupi. jadi sebelum mereka dihina/diserang orang lain, mereka menghina/ menyerang orang duluan. rata2 emang begitu…

    emang pas masih kecil kita gak kepikir begitu ya. tapi setelah rada gedean (gua baru ngeh tentang ini tuh pas kuliah) baru gua ngerti. kalo ketemu orang begitu tuh kita gak perlu kesel, malah harus kasian ama dia…

    • nanaharmanto says:

      Iya bener Man…
      aku sadarnya juga udah gede. dulu mah…marah-marah melulu dah. kepancing emosi gitu deh…
      memang bener ya, sebenernya orang-orang seperti mereka itu kasihan…mereka melindungi diri dengan cara yang paling primitif.
      Sekarang kalau melihat orang-orang seperti itu, yeah, udah maklum…kalau kebangetan emang bikin kesel, tapi karena kita udah ngerti, ya udahlah..nggak usah diladenin…
      *Nana likes this comment, pake jempol…πŸ™‚

      • anna says:

        mbak nana… bener juga kata arman..
        gak usah waktu kecil deh mbak.. sekarang ini aja saya punya temen senengnya nyelaaaaa terus..
        ternyata kehidupannya gak ‘segede’ omongannya.. hehe

        makanya temen2 di sekitarnya kalo dia nyela (untung kita udah dewasa) gak ngegubris… males bgt..

        hehe.. curhat neh mbak…

  3. Bro Neo says:

    Na.. aku berkaca kaca baca ini…

    suerrr!!!

  4. DV says:

    Haduh… tulisanmu ini lho…. trenyuh aku mbacanya…
    Jangan-jangan si Ri sudah … sudah ditongseng? Hahahahaha….

  5. Riris E says:

    Hiks..hiks…aku gak bisa ngomong apa2..selain trenyuh dan terharu.

    Senang, punya kesempatan mengenal Nana yang penuh welas asih dan tidak pendendam.

    Na..na..sini tak bisiki (Ri -nya bukan Riris kan?)

    • nanaharmanto says:

      Thanks udah baca dan komen ya Mbak…(nih, takkasih tissue)

      *bisik-bisik juga: sshh…bukan Mbak, itu bukan Riris…soalnya mbak Riris itu kalau nggak salah, pecinta tongseng juga yg lagi toleran sama suaminya… :)*

      yang laen nggak denger kok…ya kan? kan?

  6. nh18 says:

    (Komen Bijak)

    Na …
    Saya setuju dengan kamu …
    kelakuannya justru mungkin merupakan suatu pelarian dari perasaan mindernya …
    so maafkanlah …
    maklumilah …

    Salam saya …

    • nanaharmanto says:

      (duduk terpekur. kur…kur..kur…)

      Iya Om…setelah dewasa *tsahh…aku bisa memahami, dan belajar mengampuni.
      Dulu sih, susaaahh….tapi, sekarang udah berlalu. yang ada kepengen ketemu dan salaman…

      Salam hangat, Om…

  7. nh18 says:

    (Komen Down To Earth )

    Hah …
    Muke dibawah standar
    Gigi maju …
    Item …
    Lusuh …

    Pake Meludah pula …

    Gua Gampar Side A … Side B juga itu anak …
    Belagu bener …

    Gimana kalo dia anak orang kaya ya …

    Salam saya

  8. online says:

    Ya, mungkin kerana itu

  9. yos says:

    jan tenan ceritane mengharukan banget…
    hehehe

  10. nakjaDimande says:

    Na [aku panggil Nana aja boleh ya NaπŸ™‚ ] aku tau rasa itu. Semoga Nana masih sempat bertemu sama Ri.

  11. Mamah Aline says:

    saya terharu membaca tuntas tulisan mba nana, kok jadi ingat masa lalu saat keegoisan masa keci membuat kita bisa saling mengejek, semoga Ri*** punya kehidupan yang lebih baik ya, salam hangat

    • nanaharmanto says:

      Kalau dipikir-pikir, anak-anak memang mudah banget saling ejek dan mengolok-olok ya…
      Jadi inget dulu sering dinasehati guru dan orang tua supaya tidak saling mengejek.
      Semoga Ri punya kehidupan yang jauh lebih baik. mungkin saja sudah jaadi juragan tongseng..πŸ™‚
      Salam kenal ya, Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya..

  12. edratna says:

    Jika dilihat dari kondisi saat ini, saat Nana sudah dewasa, bisa dipahami bahwa ada rasa rendah diri pada Ri…..dan itu yang membuat dia norak. Sayangnya anak-anak dan juga temannya tak memahami hal ini.

    Saya juga memperlajari, jika ada anak buah yang aneh, pendekatannta adalah kita ajak mengobrol, menghargai dia, kemudian barulah dia akan berubah baik…dan ini bertahap.

    Semoga suatu ketika Ri membaca artikelmu ini…dan bisa menjadi teman Nana, atau paling tidak memahami.

    • nanaharmanto says:

      Iya Bu Enny, saya memahami sikapnya setelah saya kuliah. Dulu waktu masih SMP yang ada hanya benci yang nggak jelas juntrungannya dan menghabiskan energi saja…
      sebenarnya kasihan ya orang-orang seperti Ri itu..

      Saya beberapa kali menghadapi murid yang sikapnya selalu negatif hingga dibendi teman-temannya. ternyata kuncinya memang cuma diajak ngobrol, diberi perhatian cukup dan seperti kata Ibu, dihargai. biasanya sih memang berubah, meski tidak langsung dan butuh waktu yang tidak sebentar.

      Saya pribadi tidak berharap dia akan membaca posting ini. Semoga setelah dia dewasa ini, dia tidak menularkan pada anak-anaknya kebencian yang sama terhadap siapapun juga.

  13. adelays says:

    Wah.. aku kok sedih ya mbaca tulisan mu ini mbak nana…

    Ntah kenapa tulisanmu bisa menyentuh perasaaan….

    Salam kenal..
    Adelays…

    PS. Semoga kalian bisa saling berjabat tangan (Nana dan Ri)

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga ya…
      terima kasih sudah berkunjung ya…
      mungkin karena nyata terjadi yaπŸ™‚
      suatu saat aku bakal nyari dia di warung itu… semoga ketemu diaπŸ™‚

  14. krismariana says:

    wah bingung meh komentar opo… mengharukan. sampai aku cepet bacanya, keburu air mataku menetes. isin je, neng warnet soale… hihihi. jangan2 Ri itu skrg udah jadi pemilik warung tongseng yg laris?

    • nanaharmanto says:

      Nek cedhak tak kasih tissue deh, Nik…πŸ™‚

      mungkin aja Ri udah jadi juragan tongseng tuh…kalau bener udah jadi juragan tongseng, semoga nggak bentak-bentak anak buahnya…:)
      Kapan-kapan kalau mudik, mampir dulu ke warung itu, mungkin masih ada jejaknya di sana *tsah…bahasaku…πŸ™‚

  15. hiks bunda sampai nangis baca tulisan yg biru diatas.
    Sungguh kasihan ya si Ri itu ternyata Mbak .
    Mbak Nana, hatimu baik sekali , mampu memaafkan krn rasa ibamu pada Ri.
    bunda ikut mendoakan semoga Mbak Nana bisa bersalaman dgn Ri.
    salam.

    • nanaharmanto says:

      Wah, Bunda….
      maaf..maaf… udah bikin Bunda nangis…

      Benar Bunda, sebenarnya kasihan sekali Ri itu, karena minder itu dia jadi norak.
      Aduh, saya jadi tersanjung dan GR dipuji Bunda…terima kasih ya.
      Semoga kelak saya bisa ketemu Ri dan salaman dengannya.

      Sekarang salaman dengan bunda dulu deh…:)

  16. septarius says:


    ikut mengambil pelajaran dari pengalaman mbak Nana..
    terimajasih mbak..
    hiks..hiks..
    bagi tisue pliss..
    ..

  17. soyjoy76 says:

    Mengharukan… siapa tau sekarang si tongseng itu *halah, ikutan sarkas* adalah salah satu pembaca blog mbak Nana…πŸ™‚

    Eniwey…jangan terlalu menyesali tertawa kerasmu kepada si Tongseng dimasa kanak-kanak… Namanya juga anak-anak. Eh…tapi dah make putih biru berarti dah esempe donk? Hmmm… keterlaluan Nana… *kabur*

    • nanaharmanto says:

      Hmmm…kayaknya (semoga ding) Ri nggak ikut baca posting ini, kasian, ntar dia mlungkret lagi diancam bakal digampar side A side B, dipanggil si Tongseng lagi hehehe…
      wah, tapi emang rada kebangetan juga sih waktu itu ngetawainnya… *telat nyadarnya…

  18. vizon says:

    Semoga suatu saat dirimu bisa bertemu dengannya Na. Kalaupun tidak, sesungguhnya maaf itu sudah ada antara kalian. Melalui tulisan ini, semuanya sudah jelas. Tak perlu dengan kata-kata yang terucap, cukup hati yang bicara…

    eh, si Om kok bisa side A side B gitu ya? side A bijak banget, side B sadis sangat, hahaha… kabuuuurrr….πŸ˜€

    • nanaharmanto says:

      Iya, Uda…aku ngebayangin nanti kalau ketemu dia, nggak akan ngomongin masa lalu. kepengen salaman aja dan nanyain kabarnya sekarang..
      Aku ingin memaafkan sekaligus mengampuninya, Uda…

      Wah, aku nggak tau juga tuh kok Om bisa gitu ya? padahal di 10 point di punggung Om itu nggak ada tertulis “sadis” deh…
      ahaa…jangan-jangan nggak ada yang berani nulis begitu tuh…
      Om sadar nggak ya kita omongin gini? kabur bareng yuk…sebelum ketauan…hihi..πŸ™‚

  19. Rian says:

    menyesal tak terjadi di awal kisah

  20. monda says:

    anak2 pra remaja emang sepertinya suka ngeledek nyakitin, mungkin itu cara komunikasi juga ya, spt sering kucuri dengar mrk ngobrol di angkot, nggak ada risihnya nyebut temannya hewan a****g,atau go***g,

    • nanaharmanto says:

      Hmmm…iya Mbak…memang parah banget cara remaja ngatain teman-temannya, dan itu juga jadi penyebab pertengkaran mereka. Dulu masa remajaku nggak segitu parahnya deh…πŸ™‚

  21. anna says:

    dalem sekali mbak …
    terasa sekali penyesalan-nya…
    iya sih, kadang waktu ABG, sering seenak udel sendiri ngetawain orang.. tapi gak tau.. sebenernya sakit buat orang lain…

    wah, saya kok ikutan nyesel ya mbak…
    *plus ikutan pengen makan tongseng..hehe*

    • nanaharmanto says:

      yup bener…
      sekarang setelah besar, rasanya “gatel” kalau ngeliat remaja/anak-anak yang saling nyela temen2nya..

      thanks udah berkunjung ke sini ya?
      salam kenal ya…

  22. nelemima says:

    temenku jg bantu liknya jualan tongseng itu. mgkn msh sodaraan ma R kl y?

    mgkn setelah dewasa R jg menyesal knp mesti py pertemanan yg “aneh” itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s