Genosida

Wah….judulnya kok serem banget ya?

Hmm…ini bukan cerita menyeramkan tentang pembantaian besar-besaran untuk melenyapkan sebuah negara kok….

Pohon alpulat kesayangan kami itu memang hanya satu-satunya yang ada di kampung kami saat itu. Nah, beberapa kali,  muncul ratusan bahkan mungkin ribuan ulat berbulu. Sebesar-besar jari tangan. Kepalanya oranye, bermata besar. Gerakannya ngruget (istilah Indonesianya apa ya? Ada yang tau?)

Dulu, aku berani memegang ulat dengan jari-jariku. Sumprit, enggak gatal kok, selama kulit telapak tangan yang menyentuh bulunya. Nah, kalau sampai kulit punggung tangan yang menyentuhnya…hmmm rasakan akibatnya, gatal sekali hingga bentol-bentol!

Suatu ketika, pohon alpulat itu penuuuh….sekali dengan ulat. Daun-daunnya gundul dimakan hingga tampak merana. Di bawah pohon, butiran-butiran kotoran ulat juga berserakan..hiiy…

Sayangnya, ulat-ulat itu rupanya merambah ke area lain. Mungkin tertiup angin, mungkin terjatuh begitu saja. yang jelas, mereka bertebaran di mana-mana!

Bahkan suatu siang, saat aku hendak tidur siang…., seekor ulat gendut lebih dahulu telah bersemayam di bantalku! Hih…aku jadi malas tidur! Di dalam rumah, setiap kali menyapu, pasti satu atau dua ulat yang tadinya bersembunyi di sudut tersembunyi, ikut tersapu menggeriat-geriat…

Pokoknya, ulat-ulat itu menyebalkan sekali.

Seringkali kami tanpa sengaja menginjak ulat di tanah. Tubuhnya yang hancur berlendir kehijauan jiayy….

Atas ide nenekku, kami mengumpulkan ulat-ulat itu. Dengan sebuah ember dan capit arang, kami pungut satu-persatu ulat-ulat menjijikkan itu, dimasukkan dalam ember kaleng. Kata nenekku, ayam nggak doyan ulat berbulu begini. Lalu, kami menggali lubang. Di lubang itulah seember penuh ulat dimasukkan, disiram minyak tanah, lalu dibakar. Kejam ya?

Saat itu yang teringat olehku, adalah bau hangus dan bunyi kritip-kritip…bunyi bulu yang terbakar. Di lubang itu, ratusan ulat menggeliat-geliat dengan panik, lalu diam musnah.

Mendadak…aku bergidik…bulu-bulu halus di tanganku berdiri dan pori-poriku bertonjolan….aku mulai merasa mual..

Aku segera pergi dari situ, mencuci tangan dan kakiku hingga bersih, lalu berdiam di dalam rumah. Perutku masih agak bergolak..

Aku tak mau lagi ikut dalam eksekusi kejam itu.

Tau nggak, sejak saat itu, aku takut pada ulat…semua jenis ulat; kecil, atau sedang, besar apalagi. Berbulu atau mulus, sama aja judulnya ulat! Hiii….

Setiap kali melihat mahluk ini, aku pasti merinding, dengan pori-pori kulit bertonjolan…setelah itu aku jumpalitan nggak jelas…istilah Jawa sih, girapen..

****

Ulat-ulat yang selamat dari pembantaian itu, berhari-hari kemudian, bergerak dengan sangat lamban. Lalu berhenti di satu tempat untuk tidur di situ. Benang-benang halus mulai membungkus tubuhnya, semakin hari semakin tebal dan tampak mengeras, melindungi dirinya selama ia tidur kekenyangan.

Lalu pohon alpukat itu, dalam beberapa hari, penuh dengan kepompong keemasan yang menempel atau menggantung pada sisa-sisa tulang daun atau ranting.

Aku penasaran, apa yang akan terjadi ya? Kira-kira, dua minggu kemudian…muncul banyak sekali kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya.

Haih…kusangka kupu-kupu yang terbentuk itu bersayap cantik….ternyata…mahluk itu hanya bersayap coklat, seingatku, tak ada bintik-bintik aneka rupa yang cantik sedikitpun. Kepalanya terlihat bengis dengan antena yang berbulu tebal. Huh…aku kecewa. Aneh deh, aku suka kupu-kupu, tapi benci calon kupu-kupu.

Well, beratus-ratus  kupu besar itu, disebut kupu-kupu gajah. Menurutku sih, jeleekkk sekali…Sama sekali tak ada sisa keemasan dari benang emas kepompongnya. Bahkan warna saat ia berujud ulat lebih cerah, oranye…

Selama beberapa waktu, kupu-kupu gajah itu beterbangan di sekitar pohon alpukat, lalu mereka pun terbang entah kemana.

Tinggallah si pohon alpukat yang merana. Kusangka, pohon alpukat itu akan mati…

Tapi setelah kupu-kupu itu pergi meninggalkan sampah kepompongnya, tunas-tunas muda segera tumbuh dan menghijaukan si pohon….

****

Sampai sekarang, aku masih “gilo” pada ulat. Aku sering melemparkan brokoli atau sayuran lain yang ada si ulil itu…setelah bisa menguasai diri..halah! aku melanjutkan menyiapkan bahan masakan, masih dengan gilo dan bergidik hihi…

Anda “gilo” a.k.a geli pada sesuatu juga?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Genosida

  1. nh18 says:

    Aku begiding mak njenggirat …
    mak krugetan …

    Haiyah … ekspresi khas ngayogjokarto …

    hehehe

  2. nh18 says:

    Hah ?
    Pertama kah ?

    Yay !!!

  3. ini si pohon alpukat yg buahnya super itukah Mbak Nana?
    ternyata si ulat dan kepompongnya, malah membuat si pohon bersemi lagi ya Mbak Nana.🙂
    duh, kalau bunda paling gilo itu sama cacing dan keong(bekicot).
    hiiiiiii….rasanya seluruh tubuh langsung merinding, jijik banget ………. 😥
    ini termasuk fobia juga gak ya?
    salam

    • nanaharmanto says:

      Iya Bunda, ini pohon alpukat yang sudah almarhum itu🙂
      wah, sama Bunda, saya juga girapen kalau melihat cacing. *next-posting-to-be nih..hihi…

      sebenarnya yang termasuk phobia itu yang gimana ya Bunda? yang saya alami mungkin termasuk ketakutan yang rada akut nih…

  4. deq says:

    emang kadang-kadang ada juga koloni ulat yg nyebelin kaya gitu. kasian ma pohonnya, biasa berbuah jadi gag di tahun ini. alhasil, pohonnya dibakar deh. betewe salam kenal n vMb

  5. nakjaDimande says:

    hehheehh aku tau tebaran ulat dgn kepala oranye itu, pohon Alpukat disamping rumah pun akhirnya ditebang karena ulatnya benar-benar mengganggu.

    selain ulat aku geli cicak dan katak, bisa nangis klo ada yang iseng pake dua hewan itu.

  6. nakjaDimande says:

    hehheehh aku tau tebaran ulat dg kepala oranye itu, pohon Alpukat disamping rumah pun akhirnya ditebang karena ulatnya benar-benar mengganggu.

    selain ulat aku geli cicak dan katak, bisa nangis klo ada yang iseng pake dua hewan itu.

  7. aurora says:

    gilo itu bahasa padang dari gila kak…

    hmmm… ulat.. aku belu punya pengalaman atau hubungan khusus dengan ulat sih, tapi aku lumayan suka melototi ulat. menggeliat.. lambat… dan gatal-gatal..

  8. DV says:

    Kamu kayak Mamaku.. kalau ngeliat ulat (apalagi nyenggol/kesenggol) paling anti!

    Aku ada phobia terhadap sesuatu dan dulu sempat terapi ke psikiater tapi nggak/belom sembuh… tapi aku nggak akan menyebutkannya karena cenderung memalukan hehehe🙂

    • nanaharmanto says:

      Waktu SMP aku pernah nggak sengaja menyentuh ulat bulu. rasanya mak sengkring!
      wah, kebayang nggak reaksiku gimana? aku nangis…hihi…
      lalu bentol2 gatal itu sih nggak apa2…tapi ingatan bahwa aku MENYENTUH ulil itu lebih mengerikan!!
      Terapi ke psikiater? tapi sekarang udah mendingan kan?
      hmm…aku perlu nggak ya?🙂

  9. nh18 says:

    Balik lagi …

    Apakah saya punya Phobia … ???

    Punya …!!!

    Saya ini … Phobia Miskin …
    (hahahaha)

    (heran kalo long week end begini jadi rada ngaco saya …)

  10. arman says:

    ngebayangin banyak ulat gitu aja udah gilo rasanya… hahaha.

    rasanya saya seumur2 belum pernah liat kepompong lho…

  11. kalo ulat aku masih gpp deh Na
    tapi aku gilo gitu kalau liat kecoak
    karena si kecoak pernah kurang ajar malah lari ke arahku dan naik dasterku tuh…gimana ngga teriak-teriak (pasti kecoak jantan hahaha)

    pernah perhatikan kaki kecoak? Nah kumbang kelapa juga sama tuh kakinya. Jadi aku ngga suka kumbang kelapa, padahal Gen dan Riku suka ngumpulin hiiiii

    pernah lari dalam rumah kan?
    http://imelda.coutrier.com/2009/09/19/tolooooong/

    huh, sambil nulis ini aja begidik terus (dan kemarin si Riku ketemu bangkai kumbang itu guedeeee banget huhhhhh)

    EM

    NB: aku pernah pegang kodok loh…(kodok gede hijau bahan pratikum mau kabur) jijay berlendir gitu, hampir dia aku cekik dan aku menjadi pembunuh berdarah panas hahaha

    • nanaharmanto says:

      Aku nggak takut sama kecoa atau kumbang Mbak…
      dengan tikus dan kodok aku jijik, tapi nggak sampai gilo…

      Jadi ingat dulu pratikum biologi di SMP, mempelajari kodok juga. Tapi pas pratikum, aku malah dipanggil untuk latihan persiapan lomba, jadi selamat deh dari urusan kodok itu hihi..

  12. septarius says:


    Pohon alpukat memang selalu diserbu ulat, tp biasanya setelah daunnya habis cepet berbuah lho..
    ..
    Aku gak suka plus jijik sama tikus, tp hamster&marmut suka..
    Jd phobianya gak parah2 amat, gak sampek histeris..🙂
    ..

    • nanaharmanto says:

      beneerrr…
      dulu aku sebel banget kalau pas musim ulat… aduh, ingat ulat gitu jadi merinding nih…

      ya aku ingat, kalau daunnya habis, malah muncul tunas baru dan bunga-bunga. Trus…buahnya emang banyak…

      aku juga jijik banget sama tikus. tapi ya sekedar jijik aja, nggak sampai gilo banget…

  13. edratna says:

    Hihihi…membayangkan aja sudah gilo…
    Pohon alpukat memang disukai ulat, demikian juga pohon belimbing…..

    Karena kuliah di bidang pertanian, mau tak mau sering bergulat dengan ulat…lha kalau gilo penelitiannya nggak kelar…tapi kalau udah ribuan ya ngeri juga. Ssssttt…makanya kerjaku tak dibidang pertanian….

    • nanaharmanto says:

      Di rumah saya, pohon yang disukai ulat dan daun-daunnya habis dieksekusi ada dua, pohon alpukat dan daun ungu untuk obat w*sir. yang ini, ulatnya addduh…berwarna-warni, berpuluh-puluh, dan jauh lebih bikin gilo..hii…waduh, merinding lagi nih…
      owh..Ternyata itu salah satu alasan untuk bekerja di luar bidang pertanian ya Bu?🙂

  14. zee says:

    Mbak,
    Maafkan daku gak baca sampai habis, giloooooooo baca ulat2… huek…
    Geli soalnya……

  15. Gilaaaaaaaaaaaak!
    Gue baca ini pagi2 sendirian pula.
    begidik tau mbak.. Astagah kenapa pake gue bayangin seeeh itu proses pembakaran and bunyi kriyot..kriyiit
    Hadoooh

    *balik badan mau tidur aja deh..😛 na nite mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s