Hitung Kursi

Tulisan ini bukan untuk meributkan kursi dewan yang selalu diperebutkan itu, bukan pula tentang suap-menyuap para pejabat demi meraih kedudukan yang diincarnya.

Ini sebuah cerita di dalam bandara.

Setahun  yang lalu, tepat di hari ini, 23 Maret, pukul 22.00 WITA. Aku mendarat untuk pertama kalinya di bandara SH di ibukota Sulawesi Selatan ini.

Belum lagi usai meretas haru biru meninggalkan pulau Borneo, belum tuntas pula rasa kagum pada kemegahan bandara yang konon merupakan  adikarya anak bangsa ini.. pelan aku berjalan di samping suamiku yang mendorong troli, celingukan mencari penjemput kami.

Mendadak….belasan lelaki mengerubungi kami….aku sempat ciut nyali melihat mereka yang sangat getol menawarkan taksi, nyaris mendesak, berebut sembarang rejeki dari calon penumpang.

Meski kami sudah menggeleng, berkata tidak, menggoyang tangan sebagai isyarat “tidak” tetap saja mereka berjalan menjejeri langkah kami. Kalau aku sendirian, tengah perasaanku kacau dan masgyul selepas berpisah dari kawan-kawan baikku, mungkin aku sudah mengkeret ketakutan dikeroyok begitu oleh wajah-wajah keras separuh letih oleh persaingan sepanjang hari itu…

Untunglah ada suamiku, aku bisa berlindung di balik badannya yang sehat hihi…🙂

****

Minggu lalu, untuk kedua kalinya aku mendarat sendirian di bandara terbesar di Indonesia Timur itu, dan harus menggunakan taksi bandara untuk menuju jantung kota Makassar.

Seperti telah kuduga, begitu aku keluar dari tempat pengambilan bagasi, belasan pria merubungiku, menawarkan taksi. Aku memasang tampang super jutek dan maha galak untuk menolak mereka. Melangkah terus sok cuek, menolak, menggeleng, berkali-kali mengatakan tidak… begitu terus sepanjang jalanku.

Aku berhenti di sebuah loket taksi resmi bandara. Mengatakan tujuanku, lalu membayar harga taksi untuk Zona II yang kutuju, “cukup” seharga Rp 87.000,00. Dari petugas loket tersebut, aku mendapat tiket berstempel resmi tanda bukti aku telah membayar jasa taksi. Di dalam tiket itu dibubuhkan pula tulisan tangan nomor identitas taksi yang akan membawaku.

Tiket Taksi Bandara

Pak sopir segera mengambil alih troliku, lalu kami menuju areal penjemputan. Pak sopir bergegas mengambil taksinya. Lalu dengan sigap memasukkan bagasiku.

Pertama kalinya dulu, ketika aku bersiap mengangkat koperku ke dalam bagasi, dua pemuda tanggung buru-buru mengangkut koper dan barang bawannku lainnya. Mereka memasukkan koperku ke dalam bagasi taksi. Tanpa diberitahu pun aku maklum, mereka pasti meminta uang jasa. Rp 5000,- kuberikan pada mereka. Jumlah yang kurasa sebetulnya terlalu berlebih untuk sekedar memasukkan bagasiku. Apa boleh buat, hanya itu pecahan terkecil dalam dompetku saat itu.

Hhhmm…yah….aku merasa kurang nyaman….

****

Dari pak sopir yang baik dan ramah, aku mendapat hal penting. Berhati-hatilah memilih taksi. Sebab, banyak berkeliaran supir taksi gelap di bandara. Mereka ini lah yang getol “mengeroyok” calon penumpang.

Kenapa di sebut taksi gelap?

Well, di sini sudah biasa mobil pribadi model minivan, yang dijadikan angkutan umum. Di bandara, mobil berplat hitam itu beroperasi sebagai taksi gelap, tentu tanpa argo.

Mereka menawarkan taksi mereka hanya seharga Rp 50.000,00  sampai tujuan di kota. Hmmm…murah kan? Bandingkan taksi resmi yang Rp 87.000,00….

Heits……tunggu! jangan mudah terpengaruh oleh iming-iming murah. Murah model begini ini bisa dibilang “jebakan”.

Taksi gelap biasa ”menodong” penumpangnya di tujuan. Mereka ini beroperasi dengan dalih hitung kursi.

Maksudnya??

Misalnya begini, satu unit mobil A****a sebagai taksi gelap, bisa menampung 5 hingga 6 penumpang. Nah, satu kursi dihargai Rp 50.000,00. Kalau kebetulan hanya seseorang sendirian saja menumpang taksi gelap ini, well, bisa jadi sopir tak menunggu hingga mobilnya berisi 5 orang lagi. Segera penumpang ini akan diantarkan ke tujuan. Nah, ditempat tujuan, si penumpang akan disuruh bayar Rp 250.000,00.

Kalau penumpang protes, sopir akan menjawab bahwa satu kursi Rp 50.000,00. Karena mobil ini hanya dipakai sendiri, padahal sebenarnya cukup untuk 5 orang, si penumpang juga harus membayar empat kursi yang takdigunakannya itu. Penumpang tak berdaya dan terpaksa harus membayar meski dengan dongkol hati.

Mau protes pun tak ada guna. Mau protes pada siapa? Pada pihak bandara? Tak ada bukti di tangan….

Kudengar, banyak kasus penunpang tertipu semacam ini.

Nah, ini sekedar tips bagi Anda  para pengguna jasa taksi bandara SH, terlebih bagi mereka yang baru pertama kali datang ke bandara ini.

1. Pilih sopir taksi yang berseragam resmi. Mereka berbaur dengan para sopir taksi gelap, bersaing berebut penumpang. Ingat ya, sopir berbaju/berkaos biasa bukan jaminan yang bersangkutan itu sopir taksi resmi bandara.

2. Langsunglah menuju loket taksi resmi bandara. Ada beberapa perusahaan taksi, tapi semua menerapkan tarif yang sama untuk masing-masing zona: I, II dan III.

3. Pasang wajah galak. Tegaslah dengan sopan menolak sopir taksi tak resmi.

4. Pilihlah loket taksi bandara di dalam, dekat tempat pengambilan bagasi. Lebih aman untuk penumpang yang sendirian dan membawa banyak bagasi. Sopir  taksi resmi akan mengambil alih troli Anda, dan mendampingi Anda sampai di tempat penumpang naik taksi. Dengan begitu, Anda tak akan dikerubungi para sopir gelap. Anda tinggal melenggang. Nggak sibuk menolak juga bukan?

5. Simpan tiket bukti pembayaran taksi. Secarik kertas ini punya kekuatan untuk dijadikan bukti saat Anda komplain mengenai jasa taksi yang mengangkut Anda.

6. Anda berhak menolak jasa portir liar saat Anda hendak memasukkan bagasi ke dalam taksi. Cukup katakan “tidak” dengan sopan dan tegas.

7. Beri uang tip sepantasnya untuk pak sopir. Ini sih, tidak wajib, tapi nggak ada salahnya berbagi rejeki untuk jasanya mengantar Anda ke tempat tujuan dengan selamat… setuju?

****

Nana pernah mengalami sendiri kah menggunakan dan akhirnya ditodong taksi gelap?

Oh, tidak…nggak pernah…Semoga tak akan pernah. Aku merasakan sendiri betapa tak nyaman dikeroyok para sopir di bandara, dan rasanya bukan mustahil cerita tentang taksi hitung kursi itu benar adanya.

Semoga saja Bapak dan Ibu penanggungjawab bandara, memperhatikan kenyamanan para penumpang dan pengunjung bandara ini

Yeah, semoga tulisan ini bermanfaat ya, juga untuk Anda semua yang acap menggunakan jasa taksi. Gunakanlah selalu taksi resmi dan terpercaya.

****

Anda pernah mendengar modus taksi hitung kursi di tempat lain? Yuuuk…berbagi…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo, Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Hitung Kursi

  1. JR says:

    wakh postingan yang hebat mas…..
    lama juga aku gag main kemari mas, gimana nih kabarnya

  2. arman says:

    wah sama persis ama di cengkareng dong. di cengkareng kan juga suka ada yang mau ngangkatin barang ke mobil dan ujung2nya minta duit. ngeselin banget orang2 begini.

    emang kalo taxi kudu nyari yang resmi aja. daripada ujung2nya ditodong tuh kalo pake taxi yang gak jelas. dulu pas gua kerjaannya masih sering keluar kota, kalo balik jkt selalu ngantri silver bird. mahal gpp daripada naik taxi abal2 kalo ditodong jatohnya malah lebih mahal. temen gua pernah lho kena. dari cengkareng ke citra yang deket gitu diminta 200rb pas udah sampe rumah!

    • nanaharmanto says:

      Iya bener, ngeselin banget portir2 liar begitu. Di Cengkareng aku juga harus pasang tampang galak deh hihi…
      Biasanya aku ngantri di poll BB, agak lama kalau lagi rame, tapi mending antri lamaan dikit daripada cepet naik taksi tapi nggak terjamin kwalitas keamanan dan kenyamanannya.

      Temenmu itu cewek atau cowok? gile…deket gitu 200rb? ck..ck…ck..
      tapi pasti temenmu itu paling nggak bisa belajar dari pengalaman lah ya…

  3. septarius says:


    Indonesia banget ya mbak..
    Hi..hi..
    ..
    Pengalaman seru naik taksi bandara, pas aku di hang nadim batam..
    Eh tiba2 sopirnya nawarin cewek2 pake’ ngelihatin photo2nya..
    Dalam hati aku mikir ini sopir apa mucikari ya..
    Hi..hi..😀
    ..

    • nanaharmanto says:

      wacks!! nawarin cewek? pros terselubung gitu maksudnya? *hadezig!!

      Hmm…kesimpulannya musti hati-hati pilih taksi di manapun ya…

      Btw, kalau penumpangnya cewek, ditawarin cowok-cowok cakep nggak ya? hihi…

  4. ikkyu_san says:

    ya betul indonesia banget. Untungnya aku selalu minta dijemput kalau pergi ke daerah, jadi sudah pasti.
    sampai sekarang aku ngga tau tuh berapa sih sebenernya ongkos portir per koper di bandara? hihihi

    EM

    • nanaharmanto says:

      Wah, aku nggak pernah pakai jasa portir Mbak…selalu cari troli sendiri, angkat koper sendiri. Tapi beda sih ya kalau bawa anak-anak dan pasti bagasi juga banyak…
      Aku juga nggak tahu apakah jasa portir itu diitung per koper? kayaknya musti tanya-tanya orang yang sering pakai jasa portir deh Mbak…🙂

  5. duh, sayang banget ya Mbak Nana , airport yg sudah indah dan hasil karya anak bangsa pula, ternyata tak seindah wujudnya dalam memanjakan para pengguna.
    hal seperti ini seharusnya menjadi perhatian yg berwenang, agar kenyamanan tetap terjaga.
    Duh, gak kebayang , kalau turis asing yg mengalami hal2 buruk seperti diatas, pasti akan berpengaruh pd pariwisata kita ya.
    semoga saja , mereka2 yg berwenang, bisa segera membereskan, sehingga para penumpang tetap merasa aman dan nyaman
    salam

  6. kalax says:

    kayaknya itu orang2 bandara perlu main ke http://akbarsofa.co.cc

  7. nanaharmanto says:

    Ya, Bunda sayang banget tuh…
    saya pernah dengar, konon, bandara lama yang lebih kecil justru lebih teratur dan lebih bersih. Benar atau tidaknya saya tidak tahu..

    Semoga pihak yang berwenang segera turun tangan deh, supaya semua pengguna bandara merasa nyaman dan aman. 🙂

  8. DV says:

    Soal taksi hitung kursi pernah tapi aku udah tahu modusnya trus kutolak.

    Tapi aku pernah ketipu naik taksi di Jakarta. Critanya aku naik DAMRI dari bandara ke Kampung Rambutan, dari sana aku nyegat taksi untuk lanjut ke Cibubur.

    Maklum anak daerah, kupikir taksi warna biru itu pasti Blue Bird makanya akupun langsung memilih yang warna biru.. eh jebulnya, aku kena ‘pajak’!

    Jakarta emang kedjam!

  9. nh18 says:

    Nggak usah jauh-jauh Na …
    Di Bandara Terbesar saja ada kok taksi seperti itu …
    Tetapi herannya mereka semua memakai paneng nama yang dikaitkan di saku mereka …

    entah ini gelap atau setengah gelap saya tidak tau ..

    yang jelas … semoga semua terhindar dari perbuatan yang tidak semestinya …

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      Sepertinya paneng nama mudah didapatkan di mana saja ya Om…bisa jadi paneng yang sama dipakai oleh dua tiga orang…lebih aman sih cari taksi yang terpercaya ya Om…
      […]Semoga semua terhindar dari perbuatan yang tidak semestinya. Amin…amin!!

  10. Aulia says:

    wah saya malah belum tahu, paling cuma taksi gelap…

    nice info mba🙂

  11. vany says:

    wah, aku br tau ada penipuan semacam ini, mbak…
    nyeremin bgt ya…
    kalo aku siyh biasanya dari bandara milih naik bus atau minta jemput saudaraku yg tinggal disana….hehehe
    thanks atas infonya….🙂

    • nanaharmanto says:

      Enak bagi yang punya saudara yang mau jemput ya…aku di rantau begini kadang-kadang harus kemana-mana sendiri nih…
      semoga nggak ada lagi deh yang tertipu ya…

  12. monda says:

    bandara = terminal dong
    selalu memanfaatkan bis bandara, baru disambung taksi, lebih nyaman mbak, tentu aja kalo bawaan nggak banyak

    • nanaharmanto says:

      kalau cuma bawa badan doang lebih enak dan irit pakai bis bandara dulu baru nyambung taksi ya…kayaknya ini di bandara Cengkareng deh 🙂
      tapi kl bawaan banyak repot banget ya kalau harus pindah2 kendaraan….

  13. edratna says:

    Biasanya sebelum pergi ke suatu daerah sudah rajin tanya dulu, bagaimana cari taksi, supaya aman.
    Zaman dulu, rasanya hitung kursi….seperti naik delman dari Gedong Kuning ke pasar Beringharjo…(ngaco ya..ini kan naik delman…)

    Membayangkan seremnya,baru keluar dikerubuti calo taksi…di Jakarta juga seperti ini…lha beberapa minggu ini taksi BB kan dikeroyok taksi lain di Gambir. Tapi taksi lain itu tak sadar kenapa penumpang nggak mau pilih dia….itu susahnya di negara kita Nana…rasanya dinegara lain, taksi ya cuma satu sehingga bisa di monitor.

    • nanaharmanto says:

      wah, bener juga ya Bu…tanya-tanya dulu sebelum datang ke suatu tempat untuk antisipasi segala kemungkinan.

      Taksi BB dikeroyok taksi lain? waduh…padahal taksi itu dipilih dan dipercaya penumpang karena keamanan dan kenyamanannya…sopirnya sopan dan jujur lagi. Selama di Jakarta saya juga selalu pakai BB Bu, apalagi kalau saya sendirian. Saya sih belum pernah ngalamin kejadian tak mengenakkan dengan taksi BB.
      Taksi lain yang mengeroyok itu pasti sirik tuh…

  14. Cunn says:

    wah.wah.wah…
    makasaar,,thats my land…
    hihihi..
    emang suka kayak gitu tuh di bandaranya…
    banyak daeng2 taksi yang suka grasak grusuk gak jelas..
    tukang2 angkat barangnya juga kadang narik2in troli maksa2 gak jelas gitu…
    gak nyaman memang,,tapi ini faktanya…
    dalih mereka juga pasti nyari duit…
    mungkin pengelola bandaranya yang harus mempertegas aturan2 dan kebijakan2 yg mereka buat…
    sayang kan yaa…
    bandara udah keren2 kayak bandara san fransisco [kalo gak salah nie…],mesti cacat gara2 kita para konsumen tidak nyaman…

    but, believe…
    you could find many sweet things in this spot of sulawesi island…

    • nanaharmanto says:

      Wah, dari Makassar? aku sedang di Makassar nih…🙂 salam kenal ya…

      Sayang ya, bandara yang megah begitu tapi dicemari keruwetan yang membuat pengunjung nggak nyaman….

      Ah ya…I enjoy some beautiful places here in Celebes…🙂

      • Cunn says:

        iya mbaa…

        saya orang bugis, kalo di sana sempat denger kota kecil yang namanya sengkang.. itulah asal saya,,hehehe

        salam kenal juga,, n_n

  15. AFDHAL says:

    podo wae mbak….
    nang balikpapan yo ngono
    n aku wes tau !!! huuhhhhh

  16. tutinonka says:

    Pengalaman saya yang agak mendebarkan adalah waktu pergi sendirian ke Ambon. Di bandara, saya pesan taksi resmi, tapi agak deg-degan juga lihat petugasnya yang nggak pakai seragam, rambutnya panjang pula (laki-laki lho!). Sudah gitu, habis saya pesan, dia pergi dulu, bilang mau nyari taksinya. Lho, memangnya taksi bandara nggak ready di tempat tertentu? Ini nyari taksi, mobil siapa? Jangan-jangan komplotannya? Kuitansi pembayaran yang dia kasih pun (taripnya sudah pasti, waktu itu Rp. 50.000,-) cuma kuitansi biasa.

    Sesudah dia kembali, jemput saya dan ngantar saya ke taksi, lho … taksinya nggak pakai nama, sopirnya nggak pakai seragam. Waduh, tambah deg-degan. Tapi mau gimana? Lha wong itu taksi resmi yang saya pesan dari dalam bandara je. Ya sudah, saya bismillah saja naik taksi itu ke Ambon. Ngerinya, karena Ambon adalah daerah konflik yang kadang masih kurang aman.

    Alhamdulillah, saya selamat tiba di kota Ambon, dan langsung ‘membayar’ tidur di hotel, karena berangkat dari Jakarta jam 01.30 malam, jadi masih ‘jet lag’ (halah!)

    • nanaharmanto says:

      waahhh…saya ikut berdebar-debar membaca komentar Bu Tuti di sini…hfff….untung nggak terjadi sesuatu yang merugikan Bu Tuti ya….

      Sepertinya di beberapa bandara, memang taksi diberi tempat parkir sendiri, dan nggak “ngetem” di dekat tempat penjemputan penumpang.
      Bisa dimengerti Bu Tuti deg-degan begitu rupa, lha wong sendirian, di daerah konflik lagi…byuh…

  17. krismariana says:

    na, sepertinya bandara di luar jawa memang seperti itu ya? di tanjung pandan, juga mirip seperti itu. untung kalau ke sana aku dg oni. kalau enggak, wah nggak tahu mesti gimana deh. soalnya “taksi”nya di sana juga model omprengan gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s