Kenangan Suatu Senja Jumat Agung

Aku heran. Hari itu papa tidak masuk kerja. Tak seperti biasanya. Eh, lho, kok mama juga prei? Aneh rasanya hari Jumat pagi mereka di rumah. Lalu papa pergi ke gereja. Satu jam kemudian sudah pulang lagi.

Lho, ini kan hari Jumat? Kok papa ke gereja?

Aku makin  bingung. Yah, bisa dimaklumi, aku kan belum sekolah waktu itu.

Ooo….rupanya tanggal merah! Hari itu adalah Hari Jumat Agung-saat umat Katolik di seluruh dunia memperingati wafatnya Isa Almasih.

Sorenya, papa mengajakku ke gereja. Aku makin tak mengerti. Kok sore ya? Jumat lagi! Aneh…

Sebelumnya, Mama dan kakakku telah mengikuti perayaan pada sesi pertama, jam 3 sore.

Aku iri sekali pada kakakku yang bisa ikut mama. Soalnya, dengan mama lebih asyik, masih boleh keluar dari gereja sebentar kalau aku bosan. Dengan papa? Uh, boro-boro….🙂

****


Karena perayaan kedua dimulai pukul enam sore, paginya papa telah menyuruhku untuk tidur siang supaya aku tidak ngantuk di gereja. Tapi betapa bandelnya aku. Aku tidak menuruti nasehat papa. Aku terus saja bermain.

Akibatnya, aku ngantuk di gereja. Berkali-kali mataku terpejam dan badanku limbung. Ah, papa tentulah kecewa padaku. Aku berusaha sekuat tenaga melawan kantuk sialan itu. Astaga, susaaaah….sekali.

Setelah kepalaku terayun-ayun beberapa kali,  Papa menggandeng tanganku, lalu diajaknya aku keluar. Tumben, pikirku. Biasanya papa tidak pernah mengijinkan aku keluar selama misa berlangsung. Tapi aku malu sekali. Ketauan kan, aku tidak tidur siang.. Papa membasuh wajahku dengan air  di toilet gereja, lalu dikeringkannya wajahku dengan saputangannya.

Papa menyisir rambutku dengan sisir kecil yang selalu dibawanya di saku belakang celananya. Nah, lumayanlah, melek dikit. Setelah aku segar kembali, diajaknya  aku masuk kembali ke dalam gereja.

****

Pada perayaan Jumat Agung, diadakan upacara penghormatan salib.

Saat itu, cara yang diadakan di gereja kami cukup unik, yaitu dengan mengarak sebuah salib besar yang dipanggul oleh seorang petugas mengelilingi  gereja sehingga semua umat dapat melihatnya.

Petugas berhenti sebanyak tiga kali pada tempat-tempat yang telah ditentukan, kemudian semua umat berlutut, tunduk hening dan berdoa dalam hati mengenang Yesus yang terjatuh hingga tiga kali di bawah salib.

(Catatan: bukan penyembahan seperti yang disangka penganut agama non Katolik. Kami berdoa di depan patung untuk membantu agar lebih konsentrasi berdoa, lebih kontemplatif, dan tidak sampai melamun ke mana-mana. Sekali lagi, kami tidak menyembah patung).

Celakanya, petugas saat itu tidak kuat memanggul salib sebesar pintu itu. Papa yang tinggi dan tegap, maju menjadi sukarelawan menggantikan petugas tersebut. Dimintanya aku duduk tenang di tempat dudukku. Papa akan kembali, katanya.

Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang kulihat. Papa memanggul salib besar itu sendirian. Aku terbengong-bengong.

Lho, kenapa papa harus memanggul salib? Aku ketakutan.

Kenapa sih nggak ada yang nolong papa? Salib sebesar itu kan pasti beraaat, tauuuk?

Kasian papa dong!

Aku gemas sekali. Uh, orang-orang sebanyak itu, kenapa cuma bengong aja ngeliatin papa? Bantu kek! Aku sewot.

Tiba-tiba, DUKKK!!

Bagian atas salib itu menabrak ambang pintu gereja. Gumam kekagetan terdengar. Wooo…Papa terlalu tinggi! Papa harus merendahkan tubuhnya agar salib itu bisa melewati pintu. Aku semakin ketakutan, panik sekali.

Jangan-jangan papa akan disalib seperti Yesus? Atau ini hukuman yang harus ditanggung papa karena aku nakal? Karena aku tidak menurut? Karena aku mengantuk?

Tuhan, aku menyesal! Tapi jangan salibkan papaku!

Sendirian dan kebingungan, aku mulai menangis diam-diam. Aku takut sekali kehilangan papa.

Tapi….bukankah papa tidak suka anaknya  nangis cengeng? Jadi, dengan susah payah, sedapat mungkin aku menghentikan tangisku. Aku terus menunduk menyembunyikan airmata. Tapi…karena nangis, hidungku jadi meler. Bajuku kuyup.

Hhhh…..untung tak seorang pun memperhatikan aku.

Lamaaa..sekali aku menunduk tanpa berani mengangkat kepala hingga leherku sakit. Pegeeelll..

Tiba-tiba papa telah kembali duduk di sampingku. Menyentuhku. Nafasnya masih tersengal.

Aku lega sekali. Papa memenuhi janjinya, kembali padaku.

Asyikk..Terima kasih Tuhan…papa nggak jadi disalib!

Papa tentu tahu aku habis menangis. Aku merasa, aku mungkin telah mengecewakan papa untuk kedua kalinya sore itu.

Terima kasih Papa, telah mengajakku mengalami perayaan agung itu. Setiap kali perayaan Jumat Agung, aku selalu terkenang pada sore istimewa itu, dan selalu mataku bergenang dan berkaca….menyadari bahwa aku sungguh beruntung, bisa menikmati waktu berdua dengan Papa, tanpa kata pun aku tahu, Papa sangat sayang padaku.

Senja yang indah bagiku,  saat  aku berbagi seorang superhero dengan gereja…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati, Golden Moments and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

22 Responses to Kenangan Suatu Senja Jumat Agung

  1. aurora says:

    kebayang deh… kak nana kecil, pake gaun, gaunnya basah kena meler ingus… hehe… lucuuu *guling-guling* ….
    selamat mengenang hari itu kembali kak… hari itu kembali, tepat di saat ini…

  2. ikkyu_san says:

    pengalaman waktu kecil seperti itu pasti tidak pernah bisa dilupakan ya Na.

    Aku di jakarta biasanya mencium kaki salib Yesus wkt jumat agung. Nah waktu di Jepang, ternyata mereka hanya membungkuk saja. Agak kaget, tapi itu ternyata baru awal dari beberapa perbedaan tata cara dalam beragama (katolik) beda negara.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Iya Mbak…setiap kali Jumat Agung, pas perarakan salib aku pasti terharu…campur-campur…ingat papaku, juga ingat penderitaan Yesus yang jauh lebih berat, juga ingat Maria…
      (Aku nggak bisa membayangkan, gimana remuk redam perasaan Maria ibu-Nya..hiks..)

      Aku pernah ngalamin perarakan salib besar itu (seperti yang dipanggul papaku) dan juga tabur bunga di peti yang ada patung Yesus, maksudnya sepeti kita melayat gitu…tapi mungkin karena kurang praktis, lalu cara menghormati salib berubah menjadi mencium kaki Yesus..

  3. oglek says:

    Kenangan dengan orang tercinta tentu tak akan bisa dilupakan seumur hidup. Selamat mengenang masa kecil, selamat paskah.

  4. arman says:

    wow.. kenangan yang indah ya…🙂

  5. septarius says:


    Wah gaya nyelipin sisir disaku celana emang top banget dijaman itu ya mbak..🙂
    ..
    Lho udah gede gini masih juga mewek, semoga udah enggak mbeler..😉
    ..
    Maaf becanda..
    ..
    Sungguh beruntung mbak Nana punya Papa hebat kayak gitu..😉
    ..

    • nanaharmanto says:

      Hehehe…kayaknya sekarang juga masih nyimpen sisir kecil di saku belakang deh…

      Sekarang sih meweknya nggak heboh kayak dulu, paling berkaca-kaca aja, kalau meweknya heboh, malu atuh..hihi…

  6. edratna says:

    Nana,
    Saya membayangkan Nana kecil…..begitu ketakutan, dan keingintahuan yang besar..tanpa mengerti makna nya.
    Dan pelajaran yang dapat di petik adalah, sebagai orangtua kita harus mengajak anak-anak memahami sedari kecil, karena kenangan masa kecil yang indah bersama Papa-Mama ini akan selalu dikenang dihati.
    Bersyukurlah Nana, mempunyai Papa Mama yang sayang pada anak-anaknya.

    • nanaharmanto says:

      Ya, waktu itu saya masih terlalu kecil untuk mengerti semua makna semua itu..
      ini pembelajaran dan pengalaman yang penting untuk saya nanti kalau punya anak, akan mencoba memberikan kenangan masa kecil yang indah…

      Benar, Bu Enny…saya bersyukur sekali, punya orang tua yang sangat sayang pada kami…

  7. elmoudy says:

    memang terasa menyenangkan ya kalau bisa beribadah bareng keluarga. justru saat itulah, kehangatan di dalam keluarga tercipta. salam Paskah yaa…🙂

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya…. setuju nih, kebersamaan dengan keluarga dalam merayakan hari besar memang menyenangkan… pantas banyak orang yang mudik untuk merayakan hari besar dengan keluarga ya…🙂

  8. zee says:

    Pengalaman masa kecil yang mengharukan ya mbak. Saat sudah tua-tua begini baru, ketika teringat waktu kecil dulu pasti deh rasanya terharuuu sekali.

  9. nh18 says:

    Saya masih ingat urutannya …
    Correct me if I am wrong ya …
    Rabu Abu
    Kamis Putih
    Jumat Agung
    Sabtu Suci
    Minggu Paskah
    betul nggak ya ???

    Eniwei …
    Ini cerita kenangan yang sangat menyentuh Na …
    Salam saya

  10. DV says:

    Kamu beruntung pernah mengalami Paskah dengan Papamu…
    Aku sampai sekarang belum pernah karena Papaku bukan Katolik🙂

    Selamat Paskah!

  11. krismariana says:

    Na, upacara penyembahan salib itu selalu membuat mataku berkaca-kaca… rasane piyeee ngono. tapi yang membuatku bisa menahan air mata adalah: malu kalau ketahuan nangis oleh misdinar yg bawa salib itu hihihi…

  12. Clara says:

    Wah.. papanya mba Nana benar-benar aktif di gereja ya, sampai bantu pikul salib juga?

    Saya seorang Protestan, tapi pernah juga ikut acara Jumat Agung bareng teman.. seru sekali, kami jalan mengiringi Yesus yang diperankan oleh salah satu mudika.. di kompleks paroki yang punya halaman luasssss banget.. ga terlupakan deh..

    Mama saya bilang, kalo pas Jumat Agung kadang suka hujan gerimis, langit ikut sedih karena kehilangan putra yang tunggal, gitu..🙂

    Maaf mba Nana, saya jadi baca-baca file lama nih, abis asik bacanya..

    • nanaharmanto says:

      Hmmm…pengalaman beberapa kali (banyak ding) mengalami sore/senja Jumat Agung memang rasanya gimanaaa…gitu…
      yang paling berkesan sih, sepertinya matahari dan awan di sekitarnya berubah warna menjadi merah tembaga… dan suasananya jadi khas yang tak terjelaskan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s