Tuo tuo

Tulisan ini masih senada dengan tulisan sebelumnya tentang Sarampa.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah kabar beredar, seorang tetanggaku, sebut saja Bu R***, sempat “menghilang” selama beberapa hari.

Ternyata, dia dikarantina karena penyakit yang tengah dideritanya. Dia tak boleh ditengok oleh siapapun, karena penyakitnya sangat menular.

Tuo-tuo, itulah penyakit yang yang dideritanya. Hmmm…istlilah baru bagiku. Lalu, aku pun rajin bertanya pada tetanggaku apa sih Tuo tuo ini, dan seberapa bahaya ya?

Nah, berikut ini kutulis ulang apa yang kudapat dari tetanggaku.

Tuo tuo adalah istilah Bugis, nama lain dari cacar.

Macam-macam tuo-tuo/cacar:

1. Tuo tuo dapureng: panas, pedih, gelembung-gelembung berisi air bertumpuk/ bergeromol selebar telapak tangan dan berada di satu tempat saja, tidak menyebar di seluruh badan.

2. Tuo tuo air/cacar air: cacar yang biasa kita kenal (Varicella) timbul gelembung-gelembung berisi air dan gatal.

3. Tuo tuo tanah: serupa cacar air,  penderita biasanya tenang, tidak rewel.

4.  Tuo tuo api/ cacar api: (Latin: Impetigo) badan panas demam, bintik cacar berair, dan bernanah kuning, mudah pecah/meletus. Bila meletus akan  lecet, berwarna keabuan, panas perih seperti kena sundut rokok.. Biasanya penderita berteriak-teriak kesakitan. Biasa meninggalkan luka bopeng yang parah. Di Jawa, cacar api ini dikenal dengan cacar monyet.

Cacar api atau Impetigo

Keterangan lebih lengkap berikut foto yang kupinjam ada di sini.

****

Sama halnya dengan sarampa, tuo tuo ini pun tak boleh dioles dengan minyak gosok/ minyak kayu putih, karena akan berakibat fatal, meninggalkan bekas atau bopeng yang tak enak dipandang.

Nah, Bu R*** menderita tuo tuo  api. Beberapa kali, dokter yang menerima pasien cacar api yang terlanjur parah akan menyarankan kepada keluarga untuk “mengembalikan” pasien pada orang Bugis yaitu kembali pada pengobatan tradisional orang Bugis, selain tetap berobat secara medis.

Dalam hal ini, orang Bugis yang dimaksud bukan sembarang orang, melainkan orang pintar yang terkenal punya kelebihan bisa menyembuhkan penyakit ini. Pengobatannya tak pula bisa sembarangan supaya tidak salah susuk (salah merapal mantra, karena bisa berakibat bopeng parah)

Untuk  cacar api yang sangat parah, penderita akan dimandikan dengan campuran air kelapa, kemiri, kunyit dan bawang merah.  Penderita juga akan diobati  dengan kesumba Bugis atau teratai. Nah, campuran yang pas dari ramuan tradisional ini hanya bisa dibuat oleh yang ahli di bidangnya.

****

Konon, tertulis dalam kisah purba di daun lontar Bugis kuno, yang disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi, kira-kira seperti berikut.

Penyakit cacar adalah akibat kutukan dari leluhur. Para bangsawan yang terkena penyakit ini harus diasingkan jauh ke dalam hutan, supaya tidak menular, supaya tidak diketahui khalayak bahwa keluarga mereka kena kutukan, juga bersembunyi dari masyarakat supaya luka-luka yang menjijikkan dan berbopeng tidak terlihat.

Di dalam hutan itu, dia berobat dari tumbuhan yang ada, berbaju dan tidur beralas daun pupus pisang, daun yang masih sangat dingin dan halus.

Sampai sekarang pun, penderita cacar api di sini masih meneruskan “tradisi”  tidur beralaskan daun pupus pisang ini, dan menutup tubuh dengan lembaran daun dingin ini,   karena hanya bahan alami inilah yang tidak lengket di luka-luka cacar api.

Setiap hari, daun pupus pisang sebagai alas dan penutup tubuh pasien ini harus diganti dan konon, pupus ini harus dibakar supaya “penyakitnya” (virus) musnah dilalap api. Mungkin hal ini jugalah yang semakin menguatkan istilah cacar api.

Selain itu, karena toh tak mungkin telanjang bulat, satu-satunya kain peradaban yang masih sanggup dikenakan penderita adalah kain sarung dari sutra alam. Kain atau baju biasa, justru akan lengket pada luka, menyatu dan sangat menyakitkan bersentuhan dengan kain-kain ini, apalagi jika terlanjut lengket pada luka….aduh, nggak terbayangkan deh…

Syukurlah, Bu R*** sudah kembali sehat  dan tak berbekas bopeng. Harus kuakui, obat Bugis dan manteranya memang hebat!

****

Anda pernah mendengar istilah Tuo-tuo ini? Ada istilah lokal di daerah Anda mungkin?

berbagi yuuk….

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Tuo tuo

  1. zaq says:

    kalau di sumbar istilahnya tu campak
    itu karna kalau orang yang terkena penyakit itu di asingkan atau di”campak”kan

    Nb: semoga tetangga mbak cepat sehat

  2. ikkyu_san says:

    wah sampai segitunya ya
    kadang kita pikir kok ada-ada saja cara pengobatan tradisional itu.
    Tapi setelah dipikir-pikir, justru mereka itu “bersahabat” dengan alam + pengalaman berabad-abad sehingga sudah tahu “cara” penanganan yang tepat. Hebat ya!

    EM

    • nanaharmanto says:

      Bener, Mbak…cara pengobatan tradisional itu kadang memang aneh, unik, dan barangkali bagi orang modern, “tak masuk akal”.
      Aku sendiri sangat menghargai apa yang menjadi kepercayaan setempat, Mbak… seperti yang Mbak Imel bilang mereka bersahabat dengan alam dengan pengetahuan yang dijaga turun temurun selama beratus tahun…dan memang aku membuktikan sendiri, “orang pintar” Bugis memang hebat!🙂

  3. aurora says:

    setuju sama si zaq… cuma sekarang udah ga dicampakkan sih… seiring juga dengan majunya teknologi pengobatan…. namun tentunya itu untuk cacar biasa…. namun untuk cacar api?? weleh.. mungkin memang harus dicampakkan buat sementara… hihihi…

    • nanaharmanto says:

      wah, dicampakkan kok kesannya sadis ya? hihi…
      dikarantina lebih halus deh…🙂
      yang jelas sih, penyakit ini mudah tertular, apalagi kalau udah kontak kulit… makanya penderita biasanya di karantina agar tidak menulari yang lain..🙂

      • aurora says:

        tapi kalau dipikir-pikir, kalau tak di karantina, lumayan sensasional juga tuh efeknya…. satu kampung isinya pada kena cacar semua… hihihi

  4. arman says:

    haduh kok serem amat sih na…
    mesti ati2 kalo gitu ya, jangan sampe tertular…

    • nanaharmanto says:

      Iya, bener, aku diceritain bahwa Bu R*** itu teriak-teriak kesakitan kayak digebukin maling…
      Kabarnya hampir 3 minggu dia nggak boleh ketemu anak-anaknya. padahal dia dikarantina di rumahnya sendiri. Dia nangis2 karena pilu mendengar anak-anaknya nangis dan dia nggak bisa berbuat apa-apa… untunglah udah sehat sekarang..

  5. edratna says:

    Na, ceritamu kok serem sih…jadi semacam kayak teluh gitu ya…
    Padahal mestinya kan cacar berobat ke dokter ya. Jadi pengin tahu, kenapa dokternya kok menyarankan begitu…..kan biasanya dokter tak percaya hal-hal yang tak nyata, dan selalu kukuh dengan obat kedokteran.

    • nanaharmanto says:

      hmmm… menurut kepercayaan orang-orang tua dulu sih, terkena kutukan, tapi generasi yang lebih muda sekarang memahami bahwa penyakit tersebut pasti ada penyebabnya, semacam virus. Mereka juga berobat ke dokter, selain berobat juga secara tradisional.

      Menurut penjelasan dokter yang saya baca, ini penyakit yang sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya tergantung pada kekebalan tubuh penderita. jadi yang ditangani lebih dahulu adalah demamnya dan kebersihan penderita harus terjaga..

      Nah, masalah saran dokter mengembalikan ke orang Bugis, bisa jadi memang medis belum menemukan obat untuk mencegah/menghilangkan bopeng, dan sudah terbukti selama ratusan tahun obat tradisional Bugis yang bisa menghilangkan bopeng.

      • Ceritanya…

        Aku mau menanyakan hal yg sama, ternyata udh ditanyakan duluan sama Bu Edratna😀

        Tapi penyakit ini kok akhir-akhir ini rada sering kedengaran lg ya. Jangankan di pedalaman, di kota jg ada bbrp teman yg terkena ini. Hmmm… Pertanda apa ini?:mrgreen:

  6. septarius says:


    Wah cacar api..
    Itu yg saya ceritakan di postingan sebelumnya..
    Obatnya juga hampir sama..
    Kalo disitu minyak kelapa..
    Dukun saya dulu kelapan dikunyah lalu disemburin deh..
    *Mak bruss..!*😀
    ..
    Kayaknya penyakit itu adanya di daerah2 yg masih angker dan wingit saja..
    ..

  7. DV says:

    Fotone nggilani🙂
    Namanya aneh ya… Aku masih nggak habis pikir gimana bisa ya di daerah tertentu ‘terkesan’ timbul penyakit tertentu pula yang di tempat lain tidak ada🙂

    • nanaharmanto says:

      mungkin di tempat lain juga ada, hanya namanya berbeda dan obat tradisionalnya pun berbeda-beda juga…

      Tuo tuo api di Jawa disebut cacar monyet, konon karena bekas luka-lukanya yang menghitam mirip kulit monyet…hiiiiy….

  8. apa kabar Mbak Nana?
    semoga selalu sehat ya.
    maaf ,bunda dah lama gak berkunjung kesini krn sempat opname di rmh sakit,jadi gak OL, sekarang baru deh mulai BW lagi.
    senang rasanya bisa menyapa Mbak Nana lagi😀

    walaupun kayaknya kepercayaan masyarakat setempat agak2 serem, tp sebenarnya pengobatan mereka bagus jg ya Mbak, mereka mencoba bersahabat kembali ke alam.
    salam

    • nanaharmanto says:

      Puji Tuhan saya sehat, Bunda..
      aduh, sakit apa Bunda? pantas saya beberapa kali berkunjung ke blog Bunda kok lagi agak sepi, ternyata Bunda di rumah sakit. semoga lekas pulih ya Bunda…

      hmmm….betapa kaya raya negara kita ini sebenarnya ya, ribuan ramuan tradisional dari berbagai wilayah tanah air diturunkan dari generasi ke generasi dan terbukti masih tetap manjur…

      salam hangat, selalu Bunda…

  9. adelays says:

    Saya tidak pernah mendengarnya.. baru kali ini saya melihatnya di blog mba dan linknya.

    Mengerikan dan cukup menyiksa ya mbak… pake baju aja susaaaah… banget karana lengket…

    Hmm.. mudah2an kita dilindungi..

    • nanaharmanto says:

      wah…saya dicritain juga ngeri…ngebayangin luka kena sundut rokok satu saja kan sakitnya bukan main, apalagi kalo sampai seluruh tubuh…hadoh….mules aku….😦

  10. zee says:

    Aduh serem amat mbak cacar api itu. Saya baru kena cacar air 6 tahun lalu, dan itu saja rasanya menyiks sekali, karena seluruh badan gatal, dan bentolnya sampai ke muka pula. Huaaahhh… jgn sampai kena lagi deh.

    • nanaharmanto says:

      Amin….
      aku dicritain juga mules huwaa….serem banget…wah, aku kena cacar air waktu masih SD..beberapa bekasnya masih keliatan sampai sekarang.
      Semoga nggak terkena lagi deh ya…

  11. nh18 says:

    Saya belum pernah tau penyakit cacar yang seperti ini …

    yang jelas …
    sekali lagi …
    tanpa bosan
    Saya hanya berdoa agar kita semua sehat-sehat selalu

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Temenku dari Serang pernah kena cacar ini Om, waktu itu ada tiga orang di daerahnya yang kena cacar ini. di Serang dan sekitarnya disebut cacar monyet, Om…

      amin untuk doanya Om, salam hangat selalu…

  12. Ria says:

    pernah banget mbak denger ini!
    bahkan sampai sekarang kalau dari makassar masih suka di bawain minuman untuk panas dalam itu katanya, kalau di sedih air panas kayak teh berwarna merah.

    Aku pun pernah ikutan diotan begini karena aku bentol2 merah seluruh badan dan pengobatannya di asapin…hohohohoh…sembuh dalam sehari mbak! hebat ya orang2 lama itu😀

  13. yayan says:

    obat tradisional cacar monyet apa ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s