Langkah di Bukit Kembang Tebu

Bertahun-tahun yang lalu, saat aku masih kanak-kanak, mama membawa pulang sebuah lagu baru dan terdengar asing buatku. Tanpa teks, tanpa partitur. Mama bersenandung lagu bernada ceria itu. Mendendangkannya setiap waktu, di kamar mandi, memasak di dapur atau di setiap waktu senggang. Mama bercerita, lagu itu diajarkan di kebaktian gereja dan di sekolah Kristen tempatnya mengajar.

Lama- kelamaan, aku terbiasa mendengar mama menyanyikan lagu itu, bahkan ikut-ikutan menyanyikannya. Hingga, tanpa pernah melihat dan membaca teksnya, aku hafal lagu sederhana itu, hanya dari mendengarkan setiap kata yang dinyanyikan mama hingga melekat kuat, hafal luar kepala. Aku benar-benar menyukai lagu itu. Sampai sekarang pun aku masih hafal….

Tak kuduga, lagu itu kembali kudendangkan dalam suasana yang betul-betul berbeda.

****

Minggu kedua April 2010, kami mendapat kabar, bahwa budhe suamiku, masuk rumah sakit di Solo. Kami hanya bisa mendoakan semoga budhe cepat sembuh.

Kami cukup berlega hati saat mendengar bahwa budhe sudah pulang dari rumah sakit.

Malam berikutnya, aku sempat bermimpi melihat rumah budhe penuh dengan orang yang duduk-duduk di halaman rumah. Waktu aku terjaga, aku hanya berpikir, kok bisa? Lha wong rumah budhe tak punya halaman….

Tak sampai seminggu, kami mendapat kabar, budhe kembali masuk rumah sakit. Bahkan Minggu, tanggal 18 April, budhe harus masuk ICU.

Aku dan suami berunding, merencanakan pulang menjenguk budhe.

Lalu kami putuskan, untuk pulang hari Selasa. Segera kami mencari tiket.

Senin sore itu, tanpa peringatan apapun, dan tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba mataku basah, airmata mengalir terus menerus. Aku tak pernah tahu apa sebabnya.

Selasa sore, kami tiba di Jogja. Setelah berbasa-basi dengan kerabat di depan rumah ibu mertuaku, kami pun masuk rumah. Di depan rumah, rasanya aku melihat sekelebat sosok seseorang. Hanya sedetik. Aku terlalu kaget saat itu. Ketika aku mencoba untuk mengamati di tempat sosok itu berada, hanya kesunyian dan keremangan yang kutemui. Mungkinkah itu …..??

Aku tak pernah yakin.

Dengan agak masgyul kuceritakan apa yang kulihat itu pada suamiku.  Bertiga dengan ibu, kami berdoa khusus untuk budhe. Kami pasrah menyerahkan yang terbaik untuk beliau.

****

Rabu pagi, kami bertolak ke Solo, langsung menuju rumah sakit. Satu persatu kami menjenguk budhe yang terbaring tak berdaya. Budhe bahkan sudah tak sanggup untuk melihat kedatangan kami.

Nit…nit…nit….

Nut…nut…nut…

Suara monitor pendeteksi detak jantung benar-benar membuatku miris. Bunyinya yang tak beraturan, kadang tinggi, kadang rendah, seakan berdentam-dentam. Monitor digital penunjuk tekanan darah budhe juga naik turun.

Aku tak tahan melihat penderitaan budhe. Seluruh tubuhnya penuh dengan selang. Tak ada yang bisa kami lakukan selain berdoa dalam hati.

Lalu kami berbagi tugas. Siang hingga sore hari, aku, suamiku dan ibu berjaga di rumah sakit. Sore itu juga suamiku mencari hotel dan  beristirahat di sana, untuk kemudian berjaga malam harinya di rumah sakit. Pembantu sekaligus sahabat terdekat budhe, sengaja kami suruh agar beristirahat di rumah, untuk sekedar memulihkan ternaganya yang terkuras selama berhari-hari berjaga sendirian di rumah sakit.

Aku dan ibu sempat tertidur di ruang tunggu keluarga pasien, saat aku terjaga jam 21.00, mendapati airmata kembali mengalir tanpa sebab.

Pukul 21.35.

Kami dipanggil perawat masuk ke ruang budhe. Perawat menjelaskan, bahwa kesadaran dan oksigen budhe sangat menurun. Kutelepon suamiku agar segera kembali ke rumah sakit.

Aku dan ibu melihat perawat memberikan pertolongan semampu mereka. CPR dan respirasi buatan dilakukan. Kami hanya bisa berdoa dan berdoa.

Tuhan, berikan yang terbaik…

Dokter dipanggil. Hitungan dan tindakan medis masih terus dilakukan. Dokter memeriksa budhe dan melihat jam tangannya.

Suara profesional dokter   terdengar.

”Ya…plus…dua puluh satu-lima puluh…”

Sebodoh-bodohnya aku, dan seawam-awamnya aku, aku paham, dokter telah menyatakan secara medis, budhe telah pergi….

Aku tak ingin percaya, tapi sudah jelas, budhe sudah memilih jalannya. CPR dan respirasi buatan dihentikan. Budhe terbaring diam.

Dokter mengangguk dengan penuh simpati pada kami. Entah apa yang diucapkannya. Aku dan ibu saling berpelukan dan menangis dalam diam. Para perawat menyentuh bahu kami dan menyatakan simpati mereka.

Kucium pipi budhe untuk terakhir kalinya.

Ketika suamiku tiba di rumah sakit, kupeluk dia. Lalu dia memeluk ibu. Bertiga kami berpelukan dan menangis tanpa suara.

Budhe telah pergi dalam kesunyian, biarlah kami melepasnya dalam kesunyian pula. Tak ada tangis dan jeritan histeris yang menghebohkan bangsal rumah sakit itu. Kami merelakannya pergi menghadap Bapanya.

Mungkin benar, budhe menunggu kepulangan suamiku untuk kemudian pergi dengan damai.

****


Jumat, 23 April 2010.

Kami mengantarkan budhe beristirahat di tengah bukit, dikelilingi ladang tebu yang tengah berbunga di sebelah Utara dan alas jati yang masih remaja di Selatan.

Ibadah penghiburan dan doa mengantar kepergian budhe dibawakan penuh makna. Rupanya, budhe telah menyampaikan pesan kepada salah seorang majelis gereja, bahwa beliau telah memilih semua lagu-lagu yang akan dinyanyikan selama ibadah penghiburan dan penghantaran jenazah.

Salah satunya, adalah lagu kesukaanku dan mama. Baru kali inilah aku melihat teksnya. Dan menyanyikannya di samping peti budhe tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dahulu, kunyanyikan dengan gembira.

Tersendat, tercekat, aku ikut menyanyikannya untuk budhe.

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan

dan tangan kasih-Nya membimbingku.

Di tengah g’lombang hidup menakutkan

hatiku tetap tenang teguh.

Tiap langkahku ‘ku tahu Tuhan yang pimpin.

Ke tempat tinggi ku dihantarNya.

Hingga sekali nanti aku tiba

di rumah Bapa sorga yang baka.


bukit kembang tebu

padang jati

Selamat jalan Budhe,

di tanah tinggi ini kami mengantarmu beristirahat.

Kami percaya, kau telah damai bahagia di rumah Bapamu….

..beristirahatlah dalam damai..



About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati, Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

31 Responses to Langkah di Bukit Kembang Tebu

  1. arman says:

    ikut berduka cita ya…

  2. ikkyu_san says:

    Na…
    Turut berduka cita.
    aku ikut menitikkan air mata.
    Semoga Bude beroleh hidup kekal di kerajaan abadi.Fotonya bagus…tersenyum selalu.

    Lagu “Tiap langkahku” itu selalu kunyanyikan saat gundah… Jika tak ada lagi kata-kata yang mampu keluar dalam doa.Dan pasti sambil menangis…

    Lagu itu kutahu dari Opa yang Bala Keselamatan. Dan aku tidak akan pernah lupa lagu itu. Kalau tidak salah dari Kidung Jemaat.

    Dan ada satu lagu lagi, yang selalu dinyanyikan Oma kala dia dimarah-marahi atau keluarga bertengkar. Dia hanya bernyayi:

    Reff:
    Sabar, dalam susah sukarmu
    Sabar, Tuhan ada sertamu
    Sabar, sabar b’ri kuat padamu

    Dan bila jiwaku lelah
    Didalam susah sukarNya
    kurindu rumah Bapa t’rang
    dimana aku dapat s’nang

    Dua lagu dari agama Kristen Protestant, tapi aku selalu ingat dan nyanyikan. Betapa lagu dapat menguatkan hidup kita.

    (Itulah gunanya kegiatan oikumene, kita dapat tahu lagu dari berbagai gereja loh)

    EM

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih ya Mbak Imel…
      ya, kami percaya beliau pasti telah bahagia di surga.

      Lagu “Tiap Langkahku” itu sepertinya nggak akan pernah terlupa deh. hanya lagu yang kedua yang Mbak tulis itu aku belum pernah dengar…tapi kata-katanya bagus dan mendalam…kapan-kapan cari CD-nya deh…🙂

      Aku banyak mendengar lagu-lagu Kristen dari mama yang mengajar di sekolah Kristen, lalu waktu aku ngajar di sekolah Kristen di Jakarta, aku semakin sering mendengar lagu-lagu mereka. beberapa aku suka banget…
      Aku baru beberapa kali ikut oikumene di Balikpapan, dan rasanya menyenangkan! ah, sayang kami harus pindah dari sana..😦

  3. edratna says:

    Nana, saya ikut berduka cita…
    Semoga bude damai di alam sana….

    Dan saya perhatikan, dari beberapa tulisan Nana, kelihatannya intuisi Nana sangat tajam…ini nanti sangat penting jika telah punya anak Na…karena bisa berhubungan langsung dengan anak-anak yang dilahirkan Nana..hanya harus diasah terus menerus.

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih, Bu Enny atas simpati dan doa Ibu…
      kami percaya, budhe telah bahagia di surga.

      Wah, Bu Enny sangat memperhatikan tulisan-tulisan saya ya, matur nuwun sanget, Bu, ini suatu pujian unutk saya. rasanya saya jadi ingin belajar prana lagi, mengasah dan terus mengasah…

      Salam hangat selalu, Bu…

  4. Bang Iwan says:

    Moga Bude bahagia di alam sana, Amin.

    mampir pertama salam kenal.

  5. DV says:

    Turut berduka cita, Na…
    Semoga Budhe-mu itu sudah berada di surga dipeluk para malaikat dan diperhatikan Bapa, Yesus dan slalu bersama Bunda Maria.

  6. Bro Neo says:

    bohong aku kalo gk nangis baca tulisan ini…

  7. bunda ikut berduka cita atas kepergian Budhe , Mbak Nana.
    salam

  8. Rubiyanto says:

    turut berduka cita mba’ ….

  9. septarius says:


    Turut berbelasungkawa mbak Na..😦
    Maaf saya baru tau hari ini..
    ..

  10. Bung Eko says:

    Judulnya puitis sekali, Mbak. Syahdu. Dan ternyata memang menceritakan tentang sebuah kesedihan, sebuah kehilangan. Turut berduka cita, Mbak…

  11. zee says:

    Tulisan yang penuh cinta mbak nana. Mungkin memang sudah waktunya alm pergi, mungkin itulah jalan terbaik untuknya.
    Salam buat keluarga, mbak.

  12. blue terlambat mengucap ….maaf y
    salam hangat dari blue
    sabar
    mendoakan beliau

  13. riris e says:

    ikut berdua Na
    BuDhe mengimani, bahwa tiap langkahnya sudah diatur. Beliau juga mengimani..langkahnya akan sampai ke rumah Bapa yang terang.

    Semua akan terjadi..sebagaimana beliau mengimani.🙂

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih ya Mbak…
      mendengar beberapa cerita dari orang-orang terdekat Budhe, memang terlihat beliau percaya benar pada Tuhan yang mengatur jalan hidupnya, bahkan hingga saat-saat terakhir..

  14. semangat
    sabar ok,jeung
    salam hangat dari blue

  15. krismariana says:

    Na, sekali lagi ikut berduka cita ya. Wah, aku terharu je moco tulisanmu iki. Aku juga tersentuh dg lagu itu. Dulu aku pernah bekerja di institusi kristiani, dan kadang lagu itu dinyanyikan. Rasane piyeeee ngono nek krungu. Opo meneh nek nyanyi lagu kui… Terutama pas lagi gundah gulana ngono kae …

    • nanaharmanto says:

      Matur nuwun ya Nik…
      wah, bener Nik…lagu itu memang menyentuh banget, terutama setelah peristiwa kemarin itu.
      Dulu waktu kecil hanya mengenalnya sebagai lagu sukacita… setelah gede dan bisa merasakan makna setiap katanya, hmmm…. rasane mak jress!

  16. nh18 says:

    Maaf Na …
    Ini yang seperti diceritakan Bro bukan ya ?

    eniwei …
    Ikut berduka …
    semoga Bu De bahagia disana

    Salam saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s