Si Anak Bawang dan Bedah Bumi

Anak Bawang

Sedikitnya aku telah 5 kali mengalami saat-saat kedukaan ketika anggota keluargaku meninggal. Semuanya kakek dan nenek dari pihak mama dan papa. Dari semua peristiwa itu, tak sedikitpun aku terlibat dalam segala urusan dan segala hal tentang administrasi dalam bentuk apapun terkait dengan meninggalnya para almarhum.

Tugasku hanyalah berdiri sebagai anggota keluarga yang berduka, menyalami para tamu, dan jadi tuan rumah saat diadakan doa untuk para arwah di rumah.

Papa dan mamalah yang bertanggung jawab mengurus segala surat pengantar dan administrasinya. Aku tak tahu menahu sedikitpun, bahkan melihat semua kertas itupun tak pernah!

Bisa dikatakan, aku tak punya pengalaman bertindak sebagai orang dewasa dalam semua peristiwa duka itu. Semua urusan telah diambil alih oleh anggota keluarga yang lebih tua.

Ketika budhe suamiku meninggal bulan lalu, -kutulis di posting sebelum ini,– dengan tiba-tiba saja aku ikut menjadi orang penting dan bertindak sebagai orang dewasa. Aku diminta menandatangani surat pernyataan medis dari rumah sakit, sekaligus mewakili keluarga untuk menerima jenazah budhe.

Kenapa bukan ibu? Ibu beralasan tak membawa kacamata.

Kenapa bukan suamiku? Sebab akulah yang ikut menyaksikan saat-saat terahkir budhe, dan waktu dokter menyatakan budhe telah berpulang.

Di rumah duka, aku juga ikut menerima kiriman karangan bunga dari para pelayat, juga mengurus semua amplop sumbangan dari para pelayat. Semua ini baru bagiku!

Bedah Bumi

Untuk urusan pemakaman, kami harus mendapat ijin dari kelurahan dengan menyertakan surat pengantar dari RT/RW setempat.

Kebetulan, budhe tidak berputera, sehingga segala urusan di rumah sakit hingga ke pemakaman diurus oleh para keponakan beliau.

Sayangnya, suamiku tak bisa cuti lebih lama dan harus segera kembali ke Sulawesi. Lalu, aku tinggal lebih lama untuk membantu mengurus segala administrasinya.

Nah, dari Pak RT, kami mendapat surat pengantar ke kelurahan dengan berita kurang lebih sebagai berikut: …mohon ijin bedah bumi bagi almarhum…

Aku tak ingat persisnya ketika pertama kali aku mendengar istilah bedah bumi. Yang jelas sih, istilah ini memang jarang kudengar.

Bedah bumi kira-kira diartikan sebagai melakukan sesuatu pada bumi/tanah, berkaitan dengan menggali atau membuat lubang untuk tujuan khusus, misalnya untuk membuat lubang pondasi rumah, membuat sumur, atau menggali lubang makam. Dalam masyarakat Jawa, kegiatan tersebut biasanya didahului dengan selamatan atau kenduri,- memohon izin kepada yang empunya bumi di atas (Tuhan) dan yang di bawah (yang dipercaya sebagai penunggu dan penjaga keseimbangan bumi).

Dipercaya sih, semoga dalam kegiatan ”melukai” kulitnya, bumi takkan menjadi sakit atau murka.

Sejujurnya aku tak paham apa saja yang dijadikan ritual dan kenduri dalam kegiatan ini. Silakan baca info di sini.

Ada yang bisa membantu menjelaskan?

****

Well, dari RT, aku menemui Pak RW, untuk kemudian menuju kelurahan dengan membawa surat pengantar, KTP dan Kartu Keluarga budhe. KTP dan KTP budhe ditahan di kelurahan, sebab ketentuan memang begitu, -yang telah meninggal, akan dicoret namanya-.

Ternyata, diperlukan 3 syarat yang mutlak harus dipenuhi untuk memakamkan seseorang:

  1. Surat keterangan kematian secara medis dari dokter/ rumah sakit.
  2. Surat pengantar kematian dari kelurahan
  3. Surat ijin pemakaman.

Di kelurahan, selain minta surat pengantar, aku juga minta surat ijin pemakaman kepada petugas di sana. Sayangnya, untuk ijin pemakaman hanya bisa diminta oleh mereka yang ber-Kartu Keluarga Solo. Jadi aku harus mencari keluarga budhe untuk meminjam KTP dan Kartu Keluarga.

Setelah cukup ribet ke sana kemari, dengan dibantu oleh petugas kelurahan yang baik hati, surat ijin pemakaman itupun akhirnya kudapat juga.

Kuserahkan kedua surat pengantar dari kelurahan itu ke Thiong Ting, rumah duka yang mengurus segala sesuatunya tentang pemakaman.

Dari pengalaman itulah, aku mengetahui hal baru. Ternyata, untuk memakamkan jenazah seseorang, perlu ijin khusus! -Meskipun tanah dan lokasi makam sudah dibayar lunas dan  menjadi ”hak guna/milik sah” keluarga almarhum. Dan, dalam hal ini, bahkan budhe sudah terlebih dahulu dimakamkan. Jadi pihak Thiong Ting telah sangat membantu memberi kelonggaran dengan mengutamakan pemakaman dan perijinan bisa diurus belakangan.

Terima kasih, Thiong Ting…

****

Kupikir, semua telah beres. Ternyata, masih ada hal lain yang harus diurus. Yaitu akta kematian.

Wah, apa pula ini?

Well, seperti halnya awal keberadaan seseorang disahkan dan dibuktikan dengan dibuatnya akta lahir, demikian pula, selembar akta kematian juga dibuat sebagai bukti hukum secara resmi, bahwa seseorang telah benar-benar menjadi tiada.

Hari berikutnya, aku kembali ke Solo, untuk mengurus akta kematian budhe di Yayasan PMS (Persatuan Masyarakat Surakarta). Sayang, aku tak bisa melangkah lebih jauh. Peraturan PMS menyebutkan, hanya keluarga terdekatlah, yang masih punya hubungan darah, yang bisa mengajukan permohonan pembuatan akta kematian. Aku dianggap sebagai orang luar, sehingga aku tak bisa mengurus akta kematian budhe. Aku hanya bisa mewakili keluarga menyerahkan fotocopy segala dokumen yang diperlukan. Sementara, untuk pemohon, haruslah salah satu di antara keponakan budhe, -suamiku, atau kakak iparku- yang menghadap langsung ke yayasan.

Lalu kuputuskan untuk segera kembali ke Sulawesi, setelah yakin tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membantu mengurus segala sesuatu mengenai administrasi yang diperlukan.

Ah, terima kasih Budhe, kepergianmu bahkan telah menjadikan  anak bawang ini belajar banyak hal…

****

Ada istilah lain untuk bedah bumi di daerah Anda? Punya pengalaman serupa mungkin?  Yuk, berbagi…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Si Anak Bawang dan Bedah Bumi

  1. ikkyu_san says:

    hmmm ternyata sulit juga ya mengurus macam-macam dokumen untuk kematian.
    Selalu ada pertama untuk segalanya.

    bedah bumi aku sama sekali tidak pernah dengar. Mungkin untuk jawa saja?

    EM

    • nanaharmanto says:

      Iya Mbak…ternyata kemarin itu cukup pontang panting juga mengurus macam-macam dokumen itu, sampai nggak sempat ngeblog hehehe…

      Memang istilah bedah bumi jarang terdengar Mbak, aku terpikir untuk posting hal ini juga karena pengantar dari Pak RT itu. Bisa jadi istilah ini hanya ada di Jawa, Mbak…

  2. nakjaDimande says:

    Dengan musibah ini si anak bawang belajar banyak ya Na.. Luar biasa.

    Ikut berduka dengan kepergian Budhe.

  3. arman says:

    wuii ribet banget ya urusannya…

  4. edratna says:

    Ahh saya baru tahu istilah bedah bumi ini

    @Arman..
    Memang ribet kok urusannya, makanya sering ada jasa pihak ketiga….karena biasanya yang berduka udah nggak bisa mikir

    • nanaharmanto says:

      Sepertinya istilah ini memang agak jarang terdengar dan dibahas ya Bu…

      Tapi saya salut sama orang-orang (Jawa) yang masih punya tujuan baik dengan berdoa /selamatan lebih dahlu sebelum mulai menggali untuk keperluan tertentu, supaya selamat dan tak menemui halangan.

      Kami kemarin juga amat sangat terbantu jasa dari pihak rumah duka. Nggak terbayang deh kalau harus mengurus semuanya sendiri…

  5. DV says:

    Kalau di Australia, kematian, lahir dan pernikahan diatur dalam satu lembaga BDM, Birth Death dan Marriage.. tapi aku lebih memilih menyebutnya BMD karena kita kan menikah dulu, bukan mati duluan :))

  6. Ceritaeka says:

    Ribet ya mbak…
    aku lom pernah dengar istilah Bedah Bumi sih…
    Skr mbak Na.. istirahat dulu ya di Sulawesi, biar gak kecapean.. kan habis ribet2…

  7. nh18 says:

    Terus terang …
    saya baru tau ada istilah Bedah Bumi …

    Mungkin aturan disuatu wilayah dengan wilayah yang lain berbeda-beda Na …

    Salam Saya

    • nanaharmanto says:

      Memang sepertinya istilah ini jarang terdengar, Om…

      Tentang aturan di suatu wilayah dengan wilayah lainnya yang berbeda-beda mungkin benar juga ya Om…

      Salam hangat selalu, Om…

  8. bunda juga baru dengar istilah bedah bumi, orang2 jawa benar2 sangat menghormati bumi kita ya Mbak Nana,
    seandainya pembalak hutan tau, mungkin mereka gak akan sembarangan menggundulkan bumi kita ini.
    Dibalik kedukaan Mbak Nana, ternyata ada hikmah yg didapat.
    Semoga Budhe telah bahagia disana ya Mbak.
    salam

    • nanaharmanto says:

      Sepertinya tak hanya orang Jawa saja, Bunda, yang sangat menghargai bumi kita. Menurut saya sih, generasi sekarang jauh lebih cuek terhadap isu bumi dan alam…
      Semoga saja, semua orang tergerak untuk lebih peduli pada bumi ya Bunda..

      Terima kasih untuk doa Bunda ya…
      salam hangat selalu..

  9. darahbiroe says:

    bedah bumi
    istilah yang asing di telingaku
    wah ternyata prosesnya panjang juga yaw
    beda kalau dikmungku
    singkat sepertinya😀

    • nanaharmanto says:

      Dulu kupikir, di kampungku juga sederhana saja urusannya. Begitu ada warga yang meninggal, semua orang datang bergotong-royong, ada yang ke makam membantu menggali makam, pasang tenda, ibu-ibu datang memasak dan sebagainya.
      Nah, urusan segala perijinannya luput dari perhatianku, Mas… karena sudah diurus oleh orangtuaku.

  10. mikekono says:

    wahhh……di keluargaku
    tak ada istilah anak bawang…
    kendati dianggap anak bawang,
    pastinya nana adalah anak bawang
    yang sudah matang dan semakin berkembang….
    dan punya pemikiran matang🙂

    • nanaharmanto says:

      Hehe…mungkin orang-orang dewasa di rumah saya juga sebenarnya tak bermaksud menganggap saya sebagai anak bawang, hanya saja, karena tidak dilibatkan dalam segala urusan itu, membuat saya merasa “tak tahu apa-apa” dan meng-anak-bawangkan diri sendiri…🙂

  11. adelays says:

    Luar biasa.. ternyata susah juga sih ya.. mengurus segala sesuatunya…

    Pastinya almarhum berbangga atas peran mbak.

  12. monda says:

    masih ada lagi musti ngurus fatwa waris mbak

  13. anna says:

    saya belum pernah mbak nana..

    ternyata nggak gampang juga ya, mengurusi administrasi kematian seseorang.

    soal ngurus-mengurus administrasi, terus terang saya agak kurang telaten. bahkan dari yang paling ringan aja.. bayar listrik misalnya, ada suami yang urus. sampe terpikir, jika nantinya suami pas lagi gak bisa.. bisa nggak saya urus hal2 administrasi sendirian?

    dan saya salut buat mbak nana.. biarpun baru pertama kali, tapi bisa menyelesaikan dengan baik. saatnya anak bawang jadi bawang kan mbak.. hehe

  14. septarius says:

    ..
    Setahu saya memang nggak sederhana sih mbak..
    Dan yang mengurus biasanya keluarga yg di tuakan..
    Kayaknya suatu saat kita juga bakal di tuakan deh..:-)
    ..

    • nanaharmanto says:

      yup…memang nggak sederhana….
      dan aku nggak punya bekal pengalaman sebelumnya..🙂

      Sebenarnya anggota keluarga yang lebih muda dilibatkan juga nggak ada salahnya ya?🙂

  15. tutinonka says:

    Saya juga tidak punya pengalaman mengurus pemakaman. Ketika ibu saya berpulang kemarin, semua yang mengurus adalah kakak lelaki saya. Dan kelihatannya kok nggak ribet ya. Petugas yang mengurusi pemakaman hanya menanyakan ibunda saya tinggal dimana. Karena ayah saya sudah dimakamkan di pemakaman tersebut, dan ibu akan dimakamkan menjadi satu dengan bapak, maka izin langsung diberikan. Tentu tetap dengan membayar berbagai biaya. Kalau yang akan dimakamkan berasal dari luar wilayah, memang urusan agak panjang sedikit …

    Jadi mengingatkan kita, bahwa suatu saat kitapun akan dimakamkan ….

    • nanaharmanto says:

      Dari pengalaman saya, urusan semacam ini biasanya diambil alih oleh bapak-bapak… sepertinya hanya sedikit ibu-ibu yang terlibat.

      Ribet tidaknya sebuah urusan pemakaman sepertinya juga tergantung kebijakan masing-masing daerah ya Bu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s