Sandal Jepit

Sekali waktu, aku pernah punya sepasang sandal jepit berwarna hijau. Sandal itu masih baru, bahkan bau plastik dan karetnya pun masih tercium..

Aku suka sekali memakainya. Kupakai sandal itu ke manapun aku pergi. Kubawa bermain dengan teman-teman sekampungku.

Sandal jepit adalah salah satu barang yang “wajib” kupakai saat berada di rumah menjelang sore maupun saat bermain keluar rumah. Walaupun sejujurnya sih, aku merasa, bermain tanpa sandal jepit alias cekeran, -atau berkaki ayam istilah Betawinya-, jauh lebih asyik!

****

Nah, suatu ketika teman-temanku mengajakku bermain ke sawah.

Wuah,…asyik nih…. siapa sih yang nggak tertarik nyemplung ke sawah? Coba baca di posting Uda ini di sini

Biasanya, orang-orang dewasa di rumahku akan melarangku bermain di sawah. Terutama simbah buyutku. Beliaulah yang sehari-hari merawat dan momong aku, kakak dan adikku, sehingga beliau juga lah yang paling ribut mencari kami saat tak ditemukannya kami di sekitar rumah.

Sesampai di sawah, teman-temanku segera menceburkan diri ke petak sawah yang berlumpur. Mereka berguling-guling dengan gembira, saling melemparkan lumpur satu sama lain. Perang lumpur! Asyik!!

Aku sendiri tak berani turun ke kubangan lumpur, sebab aku takut ketahuan orang rumah hihihi..

Aku tergelak-gelak melihat kekonyolan ulah teman-temanku. Aku dan teman-teman perempuanku cukup menonton di pinggir sawah, berdiri di pematang sambil bermain-main dengan daun semanggi.

Kami membenamkan daun berkelopak empat itu ke dalam air, hingga permukaan daun itu berkilau keperakan. Wuih! Aku takjub pada keanehan itu.

****

Lama-kelamaan, aku bosan. Aku tergelitik untuk ikut bermain-main di lumpur. Awalnya, teman-teman melarangku masuk ke sawah. Tapi aku berkeras.

Mereka tak lupa mengingatkanku untuk berdiri saja di pinggir, di mana lumpur tak terlalu dalam.

Hmmm…kalau kuingat lagi, wow…so sweet…mereka menjagaku agar bajuku tak kotor, sehingga nanti takkan ketahuan kalau aku bermain lumpur🙂

Pelan-pelan aku menurunkan kaki ke dalam genangan lumpur. Hmmm…..rasanya pekat, dingin dan sejuk… rasanya lebih asyik daripada hanya sekedar menceburkan kaki di air kali! Kakiku terbenam semata kaki, lalu aku mulai mencoba berjalan di dalam lumpur. Agak sempoyongan aku berjalan pelahan, masih takjub dengan sensasi berjalan di dalam lumpur kehitaman itu. Rasanya kakiku berat sekali dengan lumpur yang menggayuti kedua kakiku.

Aku tak puas hanya berdiri di pinggir, aku ingin bergabung dengan teman-teman yang berlarian di tengah sawah dengan enteng dan riang.

Asyiknya melihat mereka berlarian dan berkejaran di tengah-tengah lumpur dingin.

Aku terhenti. Kakiku semakin dalam terbenam. Mula-mula setengah betis, lalu betisku terbenam hingga ke lutut…kakiku semakin berat, rasanya tak ada dasar di bawah kakiku. Aku bingung sekali, lho…lho?? rasanya kakiku tersedot ke dalam lumpur!

Membayangkan aku akan tersedot, dan terbenam ke dalam sawah dan hilang tertelan lumpur membuatku panik dan mulai menangis.

Beramai-ramai temanku menolongku, mereka menarikku keluar dari lumpur, lalu menggandengku ke pinggir sawah. Aku semakin keras menangis. Panik. Sebelah sandalku hilang tertinggal di dalam lumpur pekat itu. Wah, sandal baruku! Aku takut dimarahi kalau ketahuan telah bermain di tengah lumpur sawah.

Hmm…teman-temanku memang baik…mereka beramai-ramai mencari sandalku di bekas lubang kakiku terperosok. Mereka sibuk merogoh-rogoh dan menjejak-jejak lumpur. Mereka mengira-ngira letak sandalku di sekitar tempatku terperosok.

Akhirnya seorang temanku bersorak sambil mengangkat sandalku yang kini jadi kotor.

Aku masih terisak-isak hingga temanku yang lain membujukku agar diam, dan dia mencucikan sandalku di selokan air. Aih….mereka benar-benar teman yang menyenangkan dan baik hati…

****

Di lain waktu, aku punya sandal berwarna pink. Nah, sandal ini pun punya kisah tersendiri.

Waktu itu, aku dan teman-teman pulang dari bermain di sawah. Untuk menghilangkan lumpur yang melekat di kaki dan tangan, kami nyebur ke sungai di pinggir desa. Di sana kami mencuci kaki dan tangan hingga bersih.

Ups! Tak sengaja, sandalku hanyut terbawa arus kali. Aku mengejar sandalku. Sayangnya, aku terlepeset hingga terceburlah seluruh badanku ke dalam sungai.

Huaaa!!!

dan aku hanya bisa nangis. Sandalku hilang lagi huhuhu…teman-temanku mencoba mengejar sandalku. Sayang, di depan kami terdapat jeram yang cukup curam dan dalam. Teman-temanku segera naik ke pinggir sungai, lalu mengejar sandalku dari pinggir.

Perasaanku tak karuan melihat sandalku timbul tenggelam dipermainkan air terjun kecil. Meskipun terbilang kecil, tapi arusnya deras sekali dan dalam. Tak ada yang berani berenang di situ. Tiba-tiba temanku bersorak. Sandalku mulai terbebas dari jebakan pusaran air dan mulai mengapung hanyut mengikuti arus air. Mereka segera berlari mengikuti sandalku. Mereka mencoba mengait sandalku dengan ranting panjang dan bambu kecil yang mereka temukan. Tak berhasil.

Mereka riuh memberi instruksi agar mereka menunggu di hilir yang lebih tenang dan dangkal. Di sana, beberapa anak cowok sudah menunggu sandalku. Akhirnya, sandalku berhasil tertangkap.

Wah, heroik sekali aksi teman-teman kecilku itu… aku jadi malu telah menyusahkan mereka semua…

Masih ada satu masalah. Badanku yang basah kuyup…gimana aku bisa pulang dalam keadaan begini?

Aku kebingungan. Sekali lagi, teman-temanku menjadi malaikat penolong. Aku diantarkan pulang beramai-ramai.

Mereka yang akan menjelaskan kepada nenekku. Hihi…memalukan, aku yang basah kuyub diarak beramai-ramai…saking malunya dan bingung, aku mewek lagi. Huh, dasar cengeng!

Sampai di rumah, teman-temanku riuh menceritakan apa yang terjadi.

Nenekku pun segera memandikan aku dan mengganti bajuku. Aku tak dimarahi sama sekali. Nenekku hanya berpesan agar aku berhati-hati lain kali, dan sebaiknya aku tak usah bermain lagi di kali. Larangan itu kulanggar lagi, berkali-kali…hihihi…🙂

****

Punya kisah seru dengan sandal jepit?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments, Intermezo and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Sandal Jepit

  1. monda says:

    mbak nana ingetannya kuat banget ya,
    aku nggak inget apa2 nih soal sendal jepit

    • nanaharmanto says:

      Saya pikir kenangan tentang sandal jepit ini sudah hilang dari ingatan saya Kak Monda… ternyata, waktu jalan-jalan melihat hamparan sawah luas, saya coba mengingat-ingat kenangan tentang sawah, dan saya ingat dulu saya punya kenangan dengan sawah dan sandal jepit…🙂

  2. arman says:

    waaaaaaa kenangan yang sangat manis ya. temen2 lu baik2 banget na!!! demi sendal jepit aja sampe bela2in banget ngebantunya ya… hebat!! masih tetep temenan sampe sekarang gak tuh? kompak banget ya…

    gua gak punya pengalaman gimana sih ama sendal jepit. walaupun gua adalah penggemar sendal jepit. dari kecil sampe sekarang gua selalu suka pake sendal jepit. bahkan dulu pas kecil, gua gak bisa lho pake sendal yang bukan jepit. berasanya kayak mau lepas terus. hahaha.

  3. arman says:

    oh ada ding 1 cerita tentang sendal jepit. jadi gua kalo pergi2 kemana2 kan selalu pake sendal jepit terus. jadi gua selalu punya sendal jepit yang bagusan (kulit) buat pergi2 jalan2. nah waktu itu gua punya 1 yang favorit dah. bagus soalnya. dan udah direncanakan tentu akan pake sendal jepit ini untuk pergi honeymoon.

    eh sehari sebelum berangkat, sendal jepitnya putus! jadilah sehari sebelum honeymoon tuh kita berburu sendal jepit! hahaha. soalnya gua lumayan picky dalam mencari sendal jepit.😛

    tapi dipikir2 untung juga putusnya pas sebelum pergi ya. kalo udah pergi tau2 putus2 kan malah bete ya…😀

    • nanaharmanto says:

      Iya temen-temen masa kecilku kompak banget! Hanya demi sebelah sandal yang terbenam dan hanyut… hehehe…heroik banget deh…
      Sekarang aku jarang ketemu temen-temen semasa kecil. soalnya sejak masuk SMA aku udah pergi dari kampung halaman. Mereka udah berumah tangga mengikuti suami mereka, atau pindah ke tempat lain…

      Cerita soal sendal jepit yang putus sebelum honeymoon itu lucu bgt dah pastinya hahaha…ayo tulis!🙂

  4. ikkyu_san says:

    mamaku selalu pakai sandal jepit, dan tidak suka kalau beli baru. Soalnya sandal jepit yang baru karetnya masih keras dan membuat luka di kaki. Kalau sudah lama empuk…
    katanya

    karena aku sendiri selalu cekeran kemana-mana. Ngga punya sandal jepit. lebih enak, dingin. Di sini pun kadang aku cekeran sambil ngajar (kalau musim panas ya) hahaha

    EM

    • nanaharmanto says:

      Wah, bener…sandal jepit yang udah agak lama emang lebih enak dipakai tuh….

      Di rumah sekarang aku juga lebih sering cekeran..lebih adem hihihi…
      ngajar samabil nyeker? seru juga tuh… trus mahasiswanya juga ikut nyeker nggak?
      Kalau aku liat di serial Oshin dulu, orang Jepang selalu berkaos kaki ya, Mbak?

  5. DV says:

    Punya!
    Aku sangat suka sendal jepit, dan kebetulan di Australia sini, yang namanya sendal jepit itu macem-macem dan bagus2…

    Nah, April taon lalu, menjelang summer aku beli sendal jepit dengan harga lumayan mahal (sekitar 50 an dollar).. wes tak eman-eman jhe, eh lha kok waktu kubawa main sandboard (surfing di atas pasir) aku terjerembab, kakiku masuk pasir dan sendalku ilang.

    Kucari-cari nyaris 2 jam nggak ketemu, direlakan lah akhirnya..:)

  6. Bro Neo says:

    pernah!!

    Plak!!! kena lempar sandal jepit tepat di pipi!!

    waktu itu masih kecil, lg nakal-nakalnya… nyuri jambu di tetangga.. lg tengadah siap menerima jambu dari temenku yg memanjat pohon… tiba tiba bruk.. temanku meloncat dr pohon dan lari terbirit birit
    aku masih bengong ketika plak… sebuah sandal jepit mengenai pipi ini!!
    langsung saja, sambil mengelus pipi aku pun ngipritt… untung yg punya pohon jambu lagi pakai sarung kekekekeke

    salam,

    • nanaharmanto says:

      Sumprit aku ngakak abis baca komen ini…ya ampun….
      orang sepertimu pernah nyuri jambu? hadohh…. hahahahaha….

      Kalau yang punya pohon nggak pakai sarung what happen next? hihihi…

  7. Ded says:

    Wah, ternyata asyik juga ya walaupun ceritanya hanya tentang sendal jepit.

  8. septarius says:

    ..
    Saya sih dari dulu emang sandal jepiter..
    Kemana-mana bawa dua jenis sandal, satu sandal slop satunya jepit yg udah tipis..
    Sandal jepitnya di pake waktu nyetir, soalnya jd enak ngerasain pas nginjak kopling..
    Kalo ke masjid pun gak takut ilang..😀
    ..

  9. julianusginting says:

    skr ini banyak sekali type sandal jepit..modelnya sudah berubah dan byk juga orng yang bwa kemana2..jd ngetrendlah..

    • nanaharmanto says:

      Iya ya…banyak banget jenis dan model sandal jepit yang udah trendy. yang bahannya karet, plastik, kulit, kain perca…wah, banyak banget deh…

      Tapi sepertinya idola sandal jepit karet dan plastik masih tetep paling digemari deh…🙂

  10. Sahat says:

    kalo saya mah ga punya cerita soal sandal jepit..
    karena waktu kecil kalo make sandal jepit tahu hilang aja di lapangan bola..😀

  11. edratna says:

    Wahh kenangan yang manis bersama teman-teman ya Nana…
    Saya pernah juga bermain lumpur, pulangnya mengendap-endap, takut dimarahi..tapi ayah cuma tersenyum dan hanya berpesan lain kali agar berhati-hati.

    Sandal jepit? Wahh ini sandal yang multi fungsi…dan kadang karena suka, walau udah putus, diganti dengan karet gelang, dan jalannya mesti pelan-pelan hehehe

    • nanaharmanto says:

      Hehehe…main lumpur emang mengasyikkan ya Bu…

      Kalau sandal jepit saya putus, tapi alasnya masih bagus, biasanya saya hanya ganti talinya “aja”..🙂

  12. tutinonka says:

    Sandal jepit? Dulu, waktu masih kecil sampai remaja, saya sering pake sandal jepit. Main ke luar rumah ya pasti pake sandal jepit, nggak ada sandal lain yang lebih cocok. Tapi sekarang saya gak pernah lagi pake sandal jepit, soalnya kulit di antara ibu jari dan jari kedua suka iritasi. Di rumah pun pakainya selop kain …

    Tapi memang, rasanya nggak ada dari kita yang nggak kenal sandal jepit🙂

    • nanaharmanto says:

      Sandal jepit emang multifungsi ya Bu…

      Saya belum pernah iritasi kulit gara-gara sandal jepit… mungkin karena kaki saya berkulit badak hihihi…🙂

  13. suzana septi says:

    Na..masih inget ga? dulu di asrama sandal jepitku warna apa??? he…he..

    • nanaharmanto says:

      Wah, gak inget warna sandal jepitmu di asrama tuh… lha wong semua orang pakai merk yg rata-rata hampir sama, warnanya ya gitu2 aja kan?
      hasil beli di warung sebelah asrama hahaha…
      Udah gitu, saling pinjam lagi…hehehe…🙂

  14. Karma Suta says:

    * Ada kenangan dgn sandal jepit, wkt saya Smp dulu (73-75) sandal jepitpun masih suka dicuri di masjid kalau sedang Jumatan…alih2 untk pengamanan maka kedua ujung sandal jepit barupun dipotong rata (bentuk ujung sandal menjadi tumpul, tidak elips lagi), dan sisa potongan sandalnya untk penghapus (maklum jaman itu mah semuanya masih serba susah). Jadi memang betul bhw Sandal jepit adlh MULTI FUNGSI (aman dari pencuri, dan berfungsi sbg penghapus juga)…

    • nanaharmanto says:

      Hahaha… saya pernah denger tuh sandal yg dijadikan karet penghapus dan katanya sih nggak terlalu bersih…

      Macam-macam cara orang supaya sandalnya nggak dilirik/dicuri orang lain. ada yg dipotong, ada yg dibolongin, ditulisin dgn spidol, bahkan ada yg dibakar dengan obat nyammuk bakar…hihi…:)

  15. krismariana says:

    Na, aku pecinta sandal jepit. Sandal jepit yg kupunya sekarang adalah yg paling enak… hitam, dan empuk, enak buat jalan. Tapi waktu itu sempat juga aku kelupaan pakai sepatu sandal pas mau misa… huuu, nggak pede deh sepanjang misa!

    • nanaharmanto says:

      Wah, misa pakai sepatu sandal nggak apa-apa kali ya?

      Sandal jepit favoritku sekarang sandal jepit kemayu, oleh-oleh dari Bali yang penuh manik-manik itu…hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s