Dreamland

Ketika Bu Sum,-nenekku yang nyentrik- belajar di New Zealand, dia tinggal di rumah penduduk lokal (homestay). Keluarga dari suku Maori itu hidup dari pertanian dan peternakan. Dikisahkannya dengan begitu rinci pertanian itu. Keluarga itu memelihara sapi perah, kuda, babi, anjing, ayam, bebek dan angsa. Mereka makan telur, susu, keju, mentega, dan daging  produksi peternakan  mereka sendiri.

Kehidupan keluarga tersebut yang tenang dan bersahaja dengan keindahan alamnya menginspirasi nenekku untuk mempunyai peternakan sendiri.

Aku pernah melihat foto nenekku di peternakan itu, persis seperti di dalam film-film barat deh…

****

Ketika pensiun, nenekku kembali ke Muntilan. Dia telah membeli sebidang tanah. Di tanah yang berada di desa inilah ia ingin menghabiskan masa tuanya.

Setelah papa dan mama menikah, mereka tinggal bersama nenekku. Makin ramailah rumah itu ketika anak-anak lahir. Kami menikmati masa-masa kami bertumbuh dalam perhatian nenekku.

Nenekku terus berusaha mewujudkan impiannya.

Dipeliharanya anjing, ayam, dan bebek. Dibangunnya sebuah kolam besar di halaman belakang rumah. Nenekku rajin menanam pohon buah-buahan dan tanaman hias. Nggak  heran, halaman seluas itu selalu sejuk menghijau.

Pohon-pohon itu selalu menghasilkan buah yang tak perlu dibeli. Pepaya, sirsak, dan pisang hampir selalu ada sepanjang tahun. Alpukat melimpah menjelang akhir tahun, berikut ribuan ulatnya.

Kami bisa memetik bayam kapan pun kami suka. Telur ayam dan bebek selalu tersedia setiap hari.

Nenekku juga rajin menanam bunga-bungaan. Meskipun bukan bunga mahal, tapi bunga kebun yang biasa-biasa saja pun sanggup membuat halaman kami asri dan berwarna-warni. Bunga favoritnya adalah bakung putih yang harum sekali.

Hampir setiap pagi, nenekku pergi ke kebun dan memetik bunga, lalu merangkainya dalam vas dan memajangnya di ruang tamu dan di atas meja makan. Menurutnya, bunga menjadikan ruangan semakin indah.

Hihi…jujur saja, aku yang masih kecil waktu itu tak berpikiran sama dengannya…

****

Di rumah berhalaman luas yang kami tempati itu, aku dan saudari-saudariku tumbuh dan belajar banyak hal.

Begitu pisang mulai berbunga, nenekku memanggil kami, lalu diperlihatkannya betapa uniknya bunga pisang berwarna merah menggantung, disebut juga dengan jantung pisang, kelopaknya satu persatu membuka keluar dan didalamnya, bunga-bunga yang sesungguhnya,  berderet dua lapis dan berwarna kuning pucat, mulai menampakkan diri. Beberapa hari berikutnya, kelopak yang membuka itu telah gugur, bergelung tergeletak di tanah. Semakin banyak kelopak yang berjatuhan, semakin banyak bunga yang muncul.

Setelah tandannya memanjang penuh dengan bakal buah, lama kelamaan, bunganya semakin kecil dan memburuk. Saat itulah, jantung pisang itu harus dipotong, supaya bakal pisang diatasnya berkembang menjadi pisang yang gemuk dan sehat.

Nah,  jantung pisang itu akhirnya jadi korban mainan kami. Dia dipotong-potong, diiris-iris sebagai bahan mainan pasar-pasaran… mengasyikkan betul!

(Belasan tahun kemudian, baru kutahu, jantung pisang bisa dimasak dan dimakan.)

Nenekku menantang kami untuk balapan siapa yang lebih dulu melihat  pisang mulai masak menguning. Sebab, kami pun harus cepat bertindak sebelum pisang terlalu masak dan mengundang codot atau kelelawar untuk menggerogotinya.

Nenekku akan meminta papa untuk menebang pohon pisang yang buahnya telah mulai masak.

Dari nenekku dan papa kutahu, bahwa pohon pisang hanya berbuah sekali saja, maka pohonnya harus ditebang. Dari bonggol yang tersisa, akan tumbuh tunas menjadi pohon yang baru.

Aku belajar pula, bahwa getah pohon pisang tidak akan pernah bisa hilang dan meninggalkan noda pada kain. Kami harus berhati-hati jika tak ingin baju kami kotor ternoda coklat getah pisang.

Aku juga ingat, ada pohon sirsak di halaman depan dan belakang rumah. Kami memungut kelopak bunga sirsak yang berjatuhan sebagai mainan. Dari pengalaman, kami belajar juga, untuk tidak mengirisnya, sebab baunya langu menyengat dan membuat pusing.

Orang tua dan nenekku selalu berpesan agar kami menghindari pohon kecubung.

Aku pernah menginginkan bunganya dipajang dalam vas.

Nenek menjelaskan padaku, meskipun  berbunga ungu cantik, bunga tipis serupa terompet itu yang mudah layu, dan kecubung sangat beracun.

Jadi kami tak pernah sekalipun berani menyentuhnya, apalagi buahnya yang berduri itu…

Aku hanya ingat, beberapa kali tetanggaku minta daun kecubung untuk obat.

Ada pula pohon mlandingan (petai cina) dan kelor. Dua-duanya berdaun kecil-kecil dan banyak sekali. Repot nyapu-nya…hihihi.

Suatu ketika, seorang tetanggaku meminta daun kelor. Ketika kutanyakan untuk obat apa, dia menjelaskan, daun kelor itu untuk nyabet.

Terbengong-bengong aku ketika kudengar, -menurut kepercayaan, nyabet dilakukan dengan cara memukul-mukul/ menyabet orang yang tengah sekarat tapi tak juga cepat meninggal, -entah karena ilmu, entah karena sebab lain. Horotoyoh….hiiiy…

ada yang bisa menjelaskan?

Ada juga beberapa pohon murbei tumbuh di halaman. Buahnya berupa butiran kecil-kecil  bergerombol, buah yang masak berwarna ungu kehitaman dan sangat manis. Kami suka berpura-pura tengah melahap anggur yang ranum. Hmmmm… buah anggur saat itu adalah buah mahal dan mewah yang jarang bisa kami nikmati.

Jadi kami memakan “anggur ndeso” itu, menghancurkannya dalam mulut, lalu kami saling menyeringai dengan lidah dan gigi keunguan. Kami terbahak-bahak karenanya.

Teman-temanku juga menyukai murbei. Kalau mereka kuajak untuk memetik murbei, mereka akan menghabiskan semuanya, bahkan murbei yang masih berwarna pucat dan kehijauan pun mereka sikat juga! Padahal rasanya nggak karuan! Weleh..weleh….

Pupus daun murbei juga enak lho dijadikan bahan sayuran untuk pecel…

Yeah, di halaman ini kami banyak belajar dan bermain. Kelak, aku ingin punya rumah berhalaman luas seperti ini. Ah, semoga…

****

Tanah impian seperti apa yang Anda inginkan?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Dreamland

  1. ikkyu_san says:

    wah aku suka makan jantung pisang rebus pakai saus kacang/ bumbu pecel!

    keluargaku tidak ada yang bisa berkebun. tanah impianku?
    Ya, aku ingin punya rumah putih di samping danau. munkin akan tetap menjadi mimpi saja.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Jantung pisang rebus dimakan pakai bumbu urap uenak lho Mbak… atau dimasak bumbu kare…hmm…mak nyus deh…

      Wah, tanah dan rumah impian Imel boleh juga nih… di pinggir danau kayaknya romantis juga ya… hihi… bisa berenang gratis tuh…🙂

  2. Ata says:

    ..
    Tanah impian kurang lebih sama kayak Mbak Nana..
    Ditambah greenhouse buat nanem sayur hidroponik..😉
    ..

  3. Arman says:

    gua juga pengen punya rumah yang berhalaman luas. malah biasa kalo lagi ngelamun tuh ngelamuninnya selalu halaman rumahnya tuh langsung nyambung ke danau yang latar belakangnya pegunungan… wuiii pasti asik sekali ya.. hahaha.

    • nanaharmanto says:

      Wah…..aku pernah liat rumah seperti rumah impianmu itu di TV.. itu rumah artis Hollywood deh, aku lupa, tapi sumprit, keren banget….

      Kamu jadi artis aja Man…. kali aja bisa langsung beli rumah di pinggir danau dan berhalaman luas… ntar aku nginep deh ya? hihi… *khayalan tingkat tinggi* 🙂

  4. wah, postingan yang unik, mbak nana. hmm … tentang daun kelor untuk nyabet? hmm … mungkin ndak ilmiah. tapi memang banyak masyarakat yang masih meyakini tuah itu. selebihnya, tergantung pada keyakinannya masing2.

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya Pak?

      Ternyata di jaman modern begini masih ada ya yang nyabet? Tapi apakah benar orang yang disabet daun kelor jadi cepet berpulang?

  5. Clara says:

    Wihh.. senangnya punya nenek kaya neneknya Mba Nana.. saya besar tanpa pernah kenal nenek saya😦

    salam kenal ya mba Nana.. kalo saya pengen punya rumah yang halaman depan standar, tapi halaman belakangnya luas.. didesain sendiri sesuka hati, dan ada kolam ikannya, karena ayah saya suka pelihara ikan.. hehe..

  6. riris e says:

    Nenek yang seru dan kaya pengalaman ya Na?! Senang membaca ceritamu.

  7. Adi says:

    Wah bnr2 dwujudkan itU impiannya😀 neneknya keren ntU,

  8. edratna says:

    Nana,
    Sebelum menikah impianku punya rumah bertingkat dua, berpintu dan jendela putih…rumahnya kecil, tapi dikelilingi kebun. Di halaman depan untuk ditanami bunga, sedang halaman belakang untuk tanaman yang bisa dimakan, seperti bayem, kangkung, labu dll.

    Tapi..semua hanya impian, tinggal di Jakarta, harga tanah selangit…bahkan punya rumah di Cilandak ini setelah 28 tahun kerja…..busyet, rumah pertama saya di daerah pinggiran….syukurlah saya mendapat rumah dinas di kota, sehingga anak-anak bisa dekat dengan sekolah. Semakin bertambah usia, melihat realitas hidup, impian berubah..punya rumah kecil (100 m2) asalkan di Jakarta, agar bisa naik angkot, dekat rumah sakit, dokter, pasar dll. Alhamdulillah, akhirnya impianku terwujud, punya rumah di daerah Jakarta Selatan (walau sampai sekarang belum selesai semua)

    • nanaharmanto says:

      Wah, Bu Enny…
      di kota besar seperti Jakarta sepertinya memang agak mustahil ya punya halaman bertanah subur untuk bisa ditanami sayuran… paling-paling mengandalkan tanaman dalam pot…
      Harga tanah pun mahal sekali di Jakarta dengan ukuran yg relatif kecil..
      Saya sekarang masih “boleh” memimpikan tanah dan rumah impian saya hihi..:)

  9. DV says:

    Nek ra salah anggur deso itu bukan murbei tapi duwet tho?
    Konon, daun kelor memang bisa dipakai untuk membebaskan orang dari segala macam ‘elmu’…

    Papaku dulu cerita, waktu pembantaian PKI, konon mereka digiring keluar rumah lalu sebelum disembelih disabet kelor dulu untuk menetralisir ilmu2 yang barangkali ada…

    Kasian juga ya…

    Tanah impianku? Tanah yang lapang ber acre-acre trus memelihara sapi perah dan kuda🙂

    • nanaharmanto says:

      Eh..yo…anggur ndeso itu duwet… murbei disebut “anggur-angguran” halah…

      Wah aku mrinding mbayangke cerita papamu itu…. ngeri ah…

      Tanah impianmu mantap tenan! arep diwujudkan di mana? Indonesia atau Australia?🙂

  10. nh18 says:

    Tanah Impian seperti apa ?
    hhmmm …
    yang ada kolam renangnya …
    dan halam tersebut dilewati sebuah sungai

    apakah tercapai ?
    Belum !

    hehehe …

    salam saya

    • nanaharmanto says:

      Semoga segera terwujud ya Om…
      sik..sik…halaman dilewati sungai? kayak apa ya?
      jangan-jangan tetangga ada yang iseng ikut numpang nongkrong Om…hihihi… *pikiran yang liar, Nana!* 🙂

  11. Ceritaeka says:

    Mbaaaaaaaaaaaak
    aku pengen tinggal di rumah dgn kebun luas begituui
    weeh kayaknyasyik banget yah
    mbak beruntung bgt!

    eh gak ada potonyakah mbak?

  12. krismariana says:

    aku dan suamiku pengen punya rumah di atas tanah yang cukup luas. di situ kami akan menanam beberapa pohon yg cukup besar, misalnya pohon mangga atau rambutan. sayuran juga kalau bisa. trus… aku pengen banget bisa punya hewan peliharaan. kalau sekarang sih lagi pengen punya kelinci yang banyak… hihihi. dan yang jelas, rumah impian kami itu tidak di Jakarta… (sing jelas, lemah neng Jkt luarang bianget!)

  13. adelays says:

    Homestay yang menginspirasi nenek untuk memilikinya sendiri.

    Dengan gambaran tersebut, sayapun terinspirasi untuk seperti itu. Sebuah gambaran hidup tenang kalau bisa sampai akhir hayat…

  14. tutinonka says:

    Nana, cerita masa kecil Nana cocok banget dengan masa kecilku …🙂 ada jantung pisang (iya bener, itu bisa dimasak, waktu aku kecil, ibuku sering memasak jantung pisang dari kebun … ), pohon mlandingan (kami nyebutnya mandingan, nggak pakai ‘l’). Buah mandingan itu bisa dibuat bothok. Kalau buah murbei, kami menyebutnya ‘besaran’. Kayaknya daun murbei itu untuk makanan ulat sutera ya …

    Tanah impianku? Luas pastinya, ada kolam ikan, trus di atas kolam ada gazebo. Ada halaman rumput yang luas, halamannya berteras-teras. Rumah dengan pintu dan jendela, serta pagar kayu bercat putih …
    Sudah tercapai? belummm …🙂

    • nanaharmanto says:

      Saya udah lama banget nggak makan bothok… masih ada yang suka bikin nggak ya? hihi…

      Ya, daun murbei untuk makanan ulat sutra… tapi daunnya yg masih muda enak kok direbus dan dimakan dengan sambel pecel…

      Wah, tanah impian yang dahsyat nih… semoga lekas terwujud ya Bu…

  15. tanah impian seperti apa ya?
    mungkin ini, rumah yg mungil namun asri dgn berbagai macam pohon buha2an dan ternak.
    lho kok, jadi mirip dgn rumah yg Mbak Nana tuliskan disini ya😀😀
    salam

  16. Miss Fenny says:

    Belum bisa mewujudkan impian punya kebun dirumah sendiri karena masih kos, hihi … “dreamland” mb Nana sudah terwujud?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s